Ajari Anak Berdagang Sejak Kecil

Post ini gak berisi tips-tips menjadikan anak seorang pengusaha. Sekedar menanamkan salah satu aspeknya saja, yaitu berjualan.

Post ini tidak muluk-muluk. Bukan tentang kaya dalam sekejap. Bukan juga soal membandingkan profesi karyawan, self-employee, dengan pengusaha. As simply as, mengajarkan kepada anak-anak (atau diri sendiri) tentang caranya berjualan.

As you know, usaha mikro, kecil, menengah hingga besar tidak bisa lepas dari jualan (selling). Pembeli tidak datang dengan sendirinya. Yang sudah datang pun, tidak juga ujug-ujug membeli. Kalau usaha mikro macam nasi goreng, mie ayam, warung tegal mungkin pembeli sudah jelas intensi belanjanya ya. Tinggal pelayanan (service) aja yang harus dijaga terus.

Namun bisnis skala korporat tetap butuh penjaja (salesman). Apalagi tipe proyek yang barang/layanannya belum jadi (made-by-order). Mencari dan “menangkap” calon pembeli (tentu dengan kedalaman dompet / daya beli tertentu) yang sesuai dengan produk/layanan kita — adalah seni tersendiri.

Tanpa basa-basi lebih lanjut, yuk kita coba ulas satu per satu.

  1. .Libatkan anak ketemu calon pembeli. Minimal, mereka melihat kita berinteraksi dengan si calon. Syukur kalo kita punya toko ritel. Bisa dimulai dari store keeper dulu. Yaitu yang berjaga di sekitar etalase. Tugasnya menanyakan kebutuhan orang yang datang, dan melakukan tindak lanjut (follow-up).
  2. Jadi aktifis kampus. Actually, mahasiswa itu gak punya produk/layanan. Secara inventori, tidak punya barang. Secara keahlian (skill) belum ada yang layak dijual — statusnya masih belajar. Namun, organisasi mahasiswa adalah kesempatan bagi yang bersangkutan untuk menjual ide. Iya, ‘kan? Sebelum semua jadi barang, layanan, atau acara, semuanya adalah ide. Dan di era ekonomi kreatif seperti sekarang, ide yang brilian bisa mendatangkan marjin laba yang lebih besar, lho. Nah, selama jadi mahasiswa yang aktif di kampus, sesungguhnya kita adalah pedagang ide: merancang dan menjual acara supaya acara tersebut ramai dihadiri oleh peserta, ataupun supaya acara tersebut memiliki dukungan sponsor. All-in-all, dagangannya mahasiswa secara umum adalah acara. Sederhananya, mahasiswa sebenarnya adalah event-organiser.
  3. Belajar soal product-knowledge. Kita sih gak akan bisa menguasai seluruh produk, ya. Tapi penting untuk kita memiliki penguasaan atas kategori tertentu. Misalkan, untuk remaja perempuan, paham kualitas suatu kosmetik. Persamaan dan perbedaan dengan antara merek yang satu dengan merek yang lain. Untuk remaja pria, misalnya spesifikasi smartphone atau komputer. Bila dikaitkan dengan dunia kuliah, maka sesungguhnya kuliah (terutama kuliah teknik, tanpa menyepelekan jurusan-jurusan sosial) adalah cara kita untuk memahami product-knowledge. Di antaranya: aspek-aspek fungsional paling dasar yang bisa diberikan oleh produk/layanan tersebut, material yang digunakan sebagai bahan baku, teknik yang digunakan untuk produksi, dan lain sebagainya. Yang bisa jadi konten kita dalam menjajakan produk/layanan kita kepada calon pembeli/pengguna.
  4. Belajar psikis orang lain. Di sinilah pentingnya empati, kemampuan mendengarkan, dan kemampuan berkomunikasi. Konon, salesman yang lebih bisa mendengarkan itu lebih disukai lho daripada salesman yang banyak bicara saja. Pada dasarnya kan kita menjual kepada orang juga. Jadi yang paling utama adalah kita bisa jadi teman bagi dia. Kalau kita sudah asyik dijadikan teman, sebenarnya produk apa saja bisa kita jual kepada kawan kita tersebut. Sekali lagi, di sinilah pentingnya bagi anak untuk bergaul dengan anggota keluarga besar (om, tante, ponakan, sepupu, kakek, nenek, dan lain sebagainya), terlibat dengan lingkungan (tempat tinggal / sekolah / kampus). Aktif di kampus bukan segalanya, tapi kalau terlambat memulai, setidaknya bisa memilih untuk aktif di kemahasiswaan.
  5. Belajar menulis penawaran. Menjual berarti menawarkan tetapi secara lisan. Ada kalanya jualan kita harus bisa tetap berlangsung tanpa keberadaan kita. Di sinilah pentingnya penawaran tertulis. Bentuknya macam-macam. Mulai dari brosur produk/layanan untuk yang sudah jelas penawarannya sampai yang berwujud proposal. Mulai dari proposal kegiatan (ingat mahasiswa as event organiser), proposal investasi (business plan), sampai general proposal (belum spesifik layanannya, tapi mirip portfolio atau company profile, lha). Kalau ada proposal, biasanya diikuti dengan laporan perkembangan (progress report) atau laporan akhir (final report). Jadi, bisa bikin penawaran tertulis juga penting. Dan di sinilah pentingnya copywriting.
  6. Ajarkan anak-anak pentingnya berteman (dan networking). Dulu, saya kira sekolah untuk pintar saja. Ternyata sekolah lebih penting untuk berteman. Lebih lanjut, adalah networking. Bukan sekadar teman untuk genk-genk bermain atau belajar semata, melainkan juga membangun pertemanan yang prospektif. Meski demikian, penting untuk bersikap baik kepada semua orang dan mempertahankan silaturahmi. Sambil tetap menumbuhkan jejaring (network) yang baru.
  7. Terakhir, tapi tidak bisa diabaikan betapa krusialnya yang satu ini. Adalah seni menjual diri sendiri. Bagaimana menjadi pribadi yang ramah, punya keahlian, bisa direkomendasikan oleh orang lain, punya kredibilitas, dan seterusnya. Ingat, kita manusia tidak sempurna. Pasti ada saja kelemahan kita. Sesungguhnya kita berlindung kepada Allah (subhanahu wa ta’ala) agar keburukan-keburukan kita tidak ditampakkan dan hanya kita sendiri yang mengetahui. Supaya, bukan keburukan personal tersebut yang menghalangi orang lain untuk bertransaksi dengan kita.

Bisnis itu tidak semudah dan sesederhana yang bisa diimajinasikan. Tapi kalau boleh dibikin klasifikasi lebih kecil, ada aspek pemasaran, aspek rantai suplai, dan penjualan. Semua usaha butuh peran penjualan; sekecil apapun perannya. Bahkan kita sebagai karyawan di perusahaan pun, kita perlu skill menjual. Minimal menjual ide kepada atasan untuk diimplementasikan di perusahaan. As simple as that the importance of selling skill.

Bacaan lain:

Menjawab Pertanyaan dari Email

Ada pertanyaan yang datang dari email. Bagaimana pindah ke bagian branding, setelah lama di fungsi sales? Jawaban saya ada 6 poin. Silakan disimak di post ini.

Ada pertanyaan yang datang via email:

Jakarta 13 Desember 2017

Dear Pak Ikhwan Alim ,

Salam kenal Pak Ikhwan Alim , saya ****, pria kelahiran maret 19**.
Saya lulusan S1 Teknik. S2 saya Management Marketing.

Saya tahu Pak Ikhwan Alim dari blog / website Pak Ikhwan Alim , tentang Marketing.

Riwayat pekerjaan saya: 
Dua tahun sebagai Area Sales Supervisor PT ****** Indonesia (Susu, dll) , karyawan principle nya.
Tiga tahun sebagai Area Sales Supervisor PT ******** Indonesia (Sabun, dll), karyawan principle nya.

Saya punya permasalahan “pribadi”. Sebetulnya saya minat sekali mencari posisi “Brand Manager” , atau setidaknya diawali dari Brand Executive , ataupun Assistant Brand Manager..
Namun Sejak 2012 sampai 2017 , saya coba lamar di beberapa perusahaan untuk posisi tersebut hasilnya saya gagal..
Gagal di interview user. Alasannya :  belum punya pengalaman mengembangkan brand.

Padahal saya “merasa” sudah paham tentang bagaimana mengembangkan brand khususnya consumer goods.
Mulai dari Segmentasi, strategi pricing , ATL-BTL , Brand funnel , Brand equity , consumer centricity, budgeting, dsb.

Pertanyaan saya :

  1. Apa yang harus saya lakukan ???
  2. Bagaimana dengan CV dan lamaran saya ? apa yg harus saya sampaikan saat interview user ?

Jawaban/Pendapat saya:

  1. Melihat experience dan lama kerja Bapak, tentunya Bapak (mohon maaf) dianggap belum berpengalaman untuk mengisi posisi-posisi semisal Assistant Brand Manager, apalagi Brand Manager itu sendiri. Bukan tidak mungkin memang bergabung dengan tim brand, namun harus memulai dari brand executive. Which is, secara remunerasi (gaji+bonus+dll) hampir tidak mungkin untuk memulai dari nol.
  2. Tim brand management jumlahnya sangat kecil dibanding tim sales. Sehingga kompetisi untuk bergabung ke tim brand management itu berat.
  3. Saya kira, managing the brand is about optimising the branding and distribution medium. Di mana kita sudah tahu, bahwa hampir di setiap medium selalu ada merek lain dari kompetitor. Mudah-mudahan link ini bisa membantu: https://ikhwanalim.wordpress.com/2016/06/24/kreatif-mengoptimalkan-medium-pemasaran/
  4. Kalau tim sales and distribution itu eksekusinya di distribution channel, maka tim brand management itu eksekusinya di medium-medium pemasaran (meskipun bukan tidak mungkin menggunakan perangkat-perangkat merchandise juga).
  5. Ukuran optimal/maksimal dalam mengukur kinerja brand adalah: apakah brand tersebut sudah berada di hatinya konsumen. Di sinilah tim brand management harus kreatif dengan program-program komunikasi pemasarannya serta bekerja sama dengan tim sales guna mencapai target tersebut. Tentu saja harus diukur dengan riset yang proper. Biasanya menggunakan jasa riset semacam AC Nielsen.
  6. Karena yg perlu diketahui adalah: berapa banyak konsumen yang aware? Berapa banyak konsumen yang sedang membandingkan dan mengevaluasi merek kita terhadap merek-merek kompetitor? Berapa banyak lagi konsumen yang membeli? Berapa banyak yang berlangganan?

Tugas brand management (BM), adalah meningkatkan porsi dan persentase dari masing-masing jenis konsumen tersebut. Berikut ini gambar yang bagus untuk mendeskripsikan tugas BM.  

Gambar sisip 1

  Intinya, eksekusi di medium pemasaran, sangat melibatkan konten dan konteks. ada konten untuk awareness, konten utk evaluation, dan konten utk purchase. tiap-tiap konten, kadang-kadang perlu mediumnya masing-masing.   Gambar di atas berasal dari link berikut. http://panduanim.com/konten-untuk-meningkatkan-penjualan/   2) Cobalah menjual “visi brand” Anda terhadap brand tempat anda bergabung. Nyatakan bahwa Anda sudah melakukan analisis pendahuluan terhadap brand tersebut dan industri yang dinaunginya. Nyatakan pendapat anda tentang kompetior-kompetitor dari brand tersebut. Tunjukkan “celah” atau “lubang” yang anda lihat belum dilakukan oleh brand tersebut. Tawarkan rencana aktivitas-aktivitas (branding plan) yang kira-kira akan Anda programkan sehubungan dengan menutup celah atau lubang yang ada.   Tujuannya adalah Anda menawarkan visi brand yang outstanding, yaitu visi yang menghantarkan merek memiliki positioning yang tiada duanya di benak dan hati para pelanggan.   Hanya dua itu saja yang bisa saya sampaikan. Terima kasih atas perhatiannya.   Salam,

Cara Menulis Proposal Proyek

Bikin proposal proyek itu gampang-gampang susah. Ada dua faktor yang harus diantisipasi: customisation factor dan customer intimacy factor yang perlu kita ukur dan nilai sebelum memutuskan mau mengejar proyek tersebut atau tidak.

Yang tidak saya bahas dalam artikel ini adalah proposal untuk mendatangkan investasi. Artikel ini juga tidak membahas rencana bisnis (business plan).

Alhamdulillah, selama 7 (tujuh) tahun berkarir, selalu kebagian yang namanya membuat proposal proyek. Saya coba tuangkan dalam post ini, bukan berarti saya dan tim selalu sukses memenangkan proyek. Setidaknya, saya bisa berbagi di mana saja “lubang-lubang” yang harus diwaspadai. Meskipun, setelah semua ranjau-ranjau darat berhasil dihindari dan kita sampai di tujuan (baca: semua usaha sudah dilakukan), mungkin saja proyek tersebut bukan rejeki kita. Hehe.

Namanya takdir kan gak bisa dilawan, ya. Kita fokus saja dengan apa yang berada dalam kendali kita.

Ok, kita mulai. Premis awalnya adalah proposal yang mendatangkan bisnis itu gampang-gampang susah.

Gampang karena, ada saja contoh proposal yang bisa ditiru. Dan semakin kita bergelut di suatu bidang produk atau jasa, maka wujudnya proposal akan semakin begitu-gitu saja. Misalnya, proyek kontraktor bangunan, struktur proposalnya cenderung kaku. Atau proyek sistem informasi. Isinya kurang lebih akan sama dari waktu ke waktu.

Namun demikian, proposal yang menjual tidak mudah juga. Namanya proyek ya, cenderung customized ‘kan. Alias, proyek yang satu tidak benar-benar sama dengan proyek-proyek sebelumnya. Ada saja spesifikasi produk yang tidak sama, menyebabkan harga yang ditawarkan menjadi berbeda. Atau produk yang persis sama, namun karena calon klien yang meminta ternyata berbeda industri dengan yang sebelumnya, maka produk dan harganya menjadi tidak sama lagi.

Singkat cerita, di awal penyusunan proposal proyek akan terasa gampang. Mendekati deadline penyerahan proposal, semakin terasa kesulitan dalam detil-detil yang perlu kita konfirmasikan kembali ke calon klien, atau harus kita pikirkan masak-masak. Baik spesifikasi maupun harga. Belum termasuk skenario-skenario yang perlu kita perjelas dan deskripsikan lebih lanjut. Sehingga transparan bagi kedua pihak.

Customisation

Kustomisasi ini terbagi dalam tiga hal. Product/Service Management, Delivery Management dan Cash Management. Yang pertama meliputi produk/layanan itu sendiri. Terutama adalah kesesuaian/ketepatan dengan kebutuhan (requirement) dari klien. Ini teknis banget lha ya, sesuai bidang bisnis masing-masing. Tentu anda lebih memahami daripada saya.

Yang kedua menyangkut ekspektasi dan keterpenuhan dari apa yang kita janjikan. Yaitu, how to deliver the product/service and related documentation. Kerapihan dan keteraturan administrasi (termasuk dokumentasi) yang menjadi kunci di sini. Kapan presentasi, apa yang dipresentasikan, dokumen teknis apa yang harus dilengkapi, bagaimana dengan laporan kemajuan (progress report), meeting apa yang harus ada, dan seterusnya.

Ketiga, soal keuangan. Ini ada kaitannya dengan pertama dan kedua. Mana keuangan yang kita harus mendanainya terlebih dahulu, apa yang bisa dilakukan dengan uang muka dari klien, bagaimana cara menekan biaya material/teknologi/proses tanpa mengurangi kualitas yang sudah ditetapkan di requirement, dan lain sebagainya. Mengapa demikian? Simply karena project-based business (terutama yang di-tender-kan) itu omzetnya sudah ketahuan di depan (dan tidak ada invoice tambahan). Kalau proyek non tender, kita sendiri harus pintar pasang harga karena (bisa jadi) cost-nya tidak fleksibel-fleksibel banget.

Seni main proyek adalah merancang biaya produksi serendah-rendahnya sejak awal.

Tidak mahir main proyek bisa menyebabkan rugi, nombok, bahkan bangkrut.

Jam terbang tentu mempengaruhi kemampuan tersebut, ya. Penguasaan proses/teknologi/material ikut menentukan “how low can you go with the cost“.

Customer Intimacy

Kesuksesan proyek kita akan ditentukan oleh hubungan kita dengan klien/pelanggan. Kenali dulu pelanggan kita ini: hard/easy customer? Seberapa dalam “kantong”-nya? Kalau kita sukses di proyek ini, seberapa mungkin kita dapat proyek lain dari mereka (langsung maupun tidak langsung)? Kerjasama tim kita dengan tim mereka akan “semanis” apa?

Meskipun kita sedang membahas bisnis berbasis proyek, namun tetap saja keberhasilannya tergantung dari manusianya juga. Karena manusia yang membelinya, dan manusia juga yang akan menggunakannya. Jadi hubungan antar manusia ini harus bisa kita berikan observasi/penilaian sejak awal.

Conclusion

All in all, kesimpulan core of the core-nya adalah tetapkan di “medan juang” mana kita ingin bertarung. How worth it or profit a project seharusnya sudah bisa diprediksi dan ketahuan bahkan sejak proposalnya ditulis.

Setengah bercanda: cara meningkatkan persentase kemenangan proposal yang diserahkan kepada klien adalah dengan mengurangi pengumpulan proposal itu sendiri. Dark jokes for me, but it is really true.

Bagaimana caranya? Sudah dibahas di atas: Customization and Customer Intimacy.

Beda Marketing di Banking vs FMCG



Dalam 7 hari terakhir ternyata ada yang mampir ke blog ini karena mencari tahu tentang “perbedaan marketing perbankan dan FMCG”. Fast Moving Consumer Goods. Kita coba ulas sedikit ya πŸ™‚

62bstrategi2bmarketing2busaha

Marketing Perbankan

Di perbankan, pelanggan (nasabah) dibagi menjadi nasabah perorangan/ritel dan nasabah bisnis (UMKM, Commercial, dan Corporate). Nasabah ritel sendiri ada yang masuk kategori biasa, ada juga yang masuk kelompok “Luar Biasa”. Yang luar biasa tabungannya ini, punya sebutan macam-macam tergantung bank itu sendiri. Ada yang kasih nama Affluent, ada juga High-End Worth, atau lainnya. Intinya yang minimal saldo tabungannya di kisaran ratusan juta atau miliar. Jangan heran juga kalau bank bikin kategori nasabah dengan kekayaan di atas angka tersebut.

Nah, untuk nasabah perorangan kategori biasa, dilayani dengan berbagai produk di kantor cabang. Which is, hampir setiap produk tersebut ada product owner / product manager-nya di kantor pusat. Kalau di kantor cabang utama (KCU) / kantor cabang pembantu (KCP) / kantor wilayah (kanwil) biasanya hanya sebagai penyaluran/penjualan produk tabungan (tabungan biasa, kartu debit, tabungan anak, dll), pinjaman (kredit tanpa agunan, KPR, KKB), atau lainnya (internet banking, dll).

Untuk nasabah UMKM, Commercial, dan Corporate, tentu saja ada produk-produk lain yang ditawarkan. Tugas product owner/manager nya adalah:

  • melakukan riset needs and wants-nya si nasabah,
  • mengembangkan fitur-fitur sesuai kebutuhan/keinginan nasabah,
  • membuat dan melaksanakan program untuk menambah nasabah baru, atau menambah penggunaan oleh nasabah lama.

Tupoksinya relatif sama dengan product owner di nasabah ritel. Pengelompokan produknya juga sama: simpanan, pinjaman, atau lainnya yang tidak termasuk keduanya (ada yang menyebut dengan istilah FBI, Fee-Based Income). Dalam pendekatan penjualannya, hanya satu perbedaanya dengan nasabah ritel (terutama kepada nasabah korporat), yaitu bisa dilakukan kustomisasi khusus. Misalnya bunga yang lebih rendah, rentang pinjaman lebih panjang, kartu debit khusus karyawan korporat tersebut, dlsb.

Di mana produk-produk UMKM, Commercial, dan Corporate tersebut dijual? Tentu saja di kantor cabang – kantor cabang. Which is, kita tahu sendiri di Indonesia, pusat bisnis adalah di Jakarta. Sehingga produk korporat mostly “berkantor” di kantor pusat. Dengan salesman-nya harus mendatangi calon nasabah satu demi satu. Kalau commercial atau UMKM bisa “nebeng” di kantor cabang. Misalnya, produk pinjaman perbankan untuk industri shipping maka dijualnya di kantor cabang yang beroperasi di kota-kota pelabuhan: Makassar, Surabaya, Balikpapan, dlsb.

Kalau UMKM kan jelas ada di setiap kota kan ya. PR-nya bank adalah mendesain sistem distribusi produk tersebut yang paling efisien:

  • apakah harus ada kantor cabang khusus UMKM, atau
  • bisa “nebeng” buka kantor juga di KCU, atau
  • cukup menempatkan salesman khusus produk tersebut di KCU, atau
  • ternyata produk tersebut harus dititip ke general salesman yang jualannya palugada, dst.

Marketing FMCG

Tupoksi Product manager / product owner / brand manager di FMCG relatif sama dengan di perbankan. Mungkin tambahannya adalah harus pintar-pintar melakukan kerja sama. Tujuan kerja samanya ada dua. Secara umum adalah menurunkan biaya promosi atau supaya konsumen akhir (end consumer) tidak bosan. Misalnya lewat product bundling, atau co-branding product, atau co-promotion product.

Selain itu adalah bekerja sama dengan agensi periklanan (TVC, Radio, koran, online, event organiser, dlsb) dan perusahaan riset komunikasi (paling besar di Indonesia itu AC Nielsen).

Jadi di kantor pusat FMCG, selain yang sudah disebut di bagian perbankan di atas, adalah juga mengurusi komunikasi, promosi, dan branding merek-merek yang dikelola. Tentu saja berurusan dengan uang: membuat rencana kerja berikut anggarannya, dan mengevaluasi pelaksanaan di lapangan. Dinamika kompetitor dan consumer behavior (terdiri dari media behavior dan buying habit) turut mempengaruhi dan menentukan bagaimana seharusnya anggaran dihabiskan. Omzet ideal yang ditarget adalah 20 kali lipat dari biaya komunikasi yang dikeluarkan. Insight lain yang saya dapat di tahun 2015 adalah bahwa tingkat keberhasilan produk baru untuk bertahan di pasar hanya 16%.

Lalu, siapa yang menjual? Ada bagian penjualan tersendiri di FMCG. Untuk diketahui, target market di FMCG bukanlah konsumen akhir. Melainkan toko-toko di mana end consumer tersebut berbelanja. Berikut distributornya. Oleh sebab itu, perusahaan harus berkomunikasi langsung dengan end consumer. Baik lewat ATL, BTL, Online, bahkan via packaging!. Sehingga ada demand dari consumer untuk berbelanja produk/merek tersebut di channel langganan: minimarket, toko kelontong, supermarket, hypermarket, dlsb.

Jadi bagian penjualan ini menjual kepada perusahaan distributor. Tidak boleh menjadi distributor langsung. Minimal dengan badan hukum PT yang berbeda (meskipun mungkin dari grup usaha yang sama). Brand owner biasa memberi diskon kepada distributor. Distributor pun ada diskon tersendiri kepada channel.

Penjualan di minimarket franchise seperti si biru atau si merah, mungkin saja dilakukan langsung oleh si PT FMCG ini. Usaha ritel si merah dan biru punya warehouse (semacam gudang raksasa) sendiri. Jadi tinggal deal dan kirim barang ke gudang mereka.

Sementara demikian dulu. Mudah-mudahan bermanfaat, ya. Pertanyan bisa ke ihwanul.alim@gmail.com

Surabaya, 2 Juni 2018.



From Marketer to UX Designer

Produk yang bagus itu, salah satu kriterianya adalah tidak perlu dipasarkan. Tidak perlu di-branding oleh tim marketer, enggak perlu di-push sedemikian rupa oleh orang-orang sales. Gak butuh diskon yang sedemikian rupa juga, supaya calon pembeli mau mengambil, membayar lalu menggunakannya.

Simpel saja, karena produk yang bagus itu “menjual” dirinya sendiri. Tokoh yang paling berjasa adalah perancangnya. Bagaimana si desainer (atau tim desainer) merancang fisik maupun fitur tersebut, sehingga berhasil memenuhi kebutuhan atau keinginan si calon pemakai yang ditargetkan.

Tentunya gagasan soal fitur tidak turun dari langit. Perancang produk wajib hukumnya memahami lingkup urusan/masalah yang dihadapi, mengobservasi user lalu berdasar dua sumber informasi tersebut, melakukan analisis lanjutan.

Namanya juga merancang solusi dari suatu masalah, maka ukuran “sukses” dari solusi tersebut harus benar-benar nyata/kongkrit. Dari sisi pengguna, “pain point”-nya harus dirasakan banget oleh si perancang. Makanya, desainer itu harus empatik dan “mampu untuk ikut mengalami apa yang dirasakan oleh pengguna”.

Fase eksplorasi adalah soal mengidentifikasi kebutuhan (identifying needs). Pada dasarnya, ada dua kelompok kebutuhan. Dari penyedia produk/fitur, dan dari penggunanya. Pertanyaan pertama yang harus dijawab dalam fase perdana ini adalah “Bagaimana ukuran sukses dari solusi ini?”. Wawancara mendalam (in-depth interview) terhadap product/brand manager/owner saja akan cukup menjawab pertanyaan tersebut.

Fase kedua adalah momen kolaborasi menciptakan solusi dengan berbagai wawasan dan referensi yang berhasil dikumpulkan. Sederhananya, produk/fitur/layanan dibuatkan beberapa sketsa yang dipresentasikan bersama, lalu “dihajar” dengan berbagai kritik dan masukan, sehingga berbagai masukan tersebut bisa dielaborasi menghasilkan produk/fitur/layanan yang komprehensif.

Inilah yang kemudian divalidasi (fase ketiga) dengan metodologi dan mekanisme riset yang lebih tepat. Satu yang cukup sering digunakan adalah focus group discussion (FGD), yaitu diskusi dalam grup membahas suatu produk/fitur secara spesifik. Peserta FGD diutamakan mereka yang benar-benar menjadi pengguna produknya. Wawasan (insight) dari pengguna pastinya lebih tajam daripada mereka yang hanya mengobservasi alias pengamat.

Ada juga A/B Testing, yang membandingkan respon pengguna antara perlakuan A dengan perlakuan B.

Jadi, marketer jaman now tidak hanya harus menguasai branding, melainkan juga menjadi perancang atas produk/fitur/layanan yang dia tawarkan. Sehingga, rancangannya dapat memberikan UX alias pengalaman pengguna yang solutif sekaligus melegakan (relieving).

Tidak hanya membutuhkan UX Designer, yang meriset respon dan interaksi pengguna terhadap elemen-elemen visual seperti bentuk maupun warna. Lama-kelamaan dibutuhkan pula posisi pekerjaan (terutama di industri teknologi digital) yang lebih fokus pada pengalaman pengguna (user experience) tatkala berinteraksi dengan kata atau kalimat. Label ini yang semakin umum dipakai pula adalah UX Writer.

Demand Executive

Image result for demand planning

Posisi Demand Executive ini ada di perusahaan Grab. Posisi ini bukan di kantor pusat. Artinya, tiap daerah/wilayah/kantor cabang mengelola “demand” nya masing-masing. Berarti bekerja sama untuk memasarkan aplikasi mobile Grab agar permintaan (demand) penggunannya semakin meningkat. Berarti juga mengumpulkan, mengelola, mengkategorisasikan, menganalisis lalu mengirim insight-nya ke kantor pusat. Kalau ada di wilayah, tentu saja juga ada di HQ.

Di industri IT (karena kasus Demand Executive di sebuah IT company), produk tidak hanya berfungsi sebagai product/service. Tetapi juga medium pemasaran itu sendiri. That’s why ilmu UX semakin berkembang. Karena produk tersebut harus bisa menjalankan peran self-marketing. Alias “menawarkan dirinya sendiri”.

Tidak hanya Demand Executive.

Tapi secara tim ada juga yang seperti “Demand Planning & Marketing Strategy”. Terutama di perusahaan manufaktur yang B2C (terutama FMCG atau pharmaceutical). Di tim ini, selain ada para staff atau operation atau executive-nya, tentu ada Manager/Lead, Assistant Manager/Lead.

Demand Planning.

Melakukan forecasting dari sisi pasar (alias pelanggan) dan sisi internal (product/service). Yang dianalisis dan diprediksi dari sisi pelanggan misalnya, tingkat pertumbuhan permintaan (demand) dari pasar, eksposur brand kepada pelanggan (ini datanya sudah ada dari tim marketing tetapi memerlukan analisis lebih lanjut), tingkat penjualan, inventory atau penagihan dari tim sales. Termasuk data-data yang diperoleh dari eksternal, semisal BPS (Biro Pusat Statistik) atau konsultan riset (AC Nielsen, contohnya).

Keterampilan yang paling utama adalah pemodelan forecasting. Punya keahlian statistik akan sangat mendukung di bidang pekerjaan ini. Tidak hanya itu saja. Kreatifitas dalam memberikan perspektif baru atau berbeda terhadap berbagai data dan analisis yang ada akan membuat kamu tampil beda di pekerjaan.

Analysis.

Hasil analisis seharusnya bisa dijadikan pancingan (lead) untuk memulai diskusi antara orang-orang Product Management dengan teman-teman dari Marketing and Sales. Salah satu analisis yang penting untuk terus ditekuni, direnungkan, dikembangkan terus-menerus adalah driver of demand.

Apa yang kira-kira menjadi pengendali/penentu naik atau turunnya demand tersebut?

Forecast

Forecast sebagai deliverables dari posisi/pekerjaan Demand Planner ini bisa sangat beragam.

  • Karena forecast bisa dikembangkan berdasar produk atau kategori produk tertentu.
  • Bisa pula di-cross-tab dengan time horizon yang diinginkan: 3 bulan (quarterly), 6 bulan (per semester), tahunan, maupun 3 tahunan, atau bahkan lebih dari itu.

Tentu saja pemodelan forecast tidak boleh begitu-begitu saja. Sekedar mengikuti apa yang dilakukan di tahun-tahun sebelumnya. Tetapi harus dikembangkan terus. Indikator-indikatornya semakin diperbanyak. Pemurnian metode juga perlu dilakukan supaya forecast-nya semakin mendekati realisasi yang dilakukan.

Bicara realisasi, menggunakan harga x kuantitas bisa jadi tidak merepresentasikan nilai penjualan yang sebenarnya. Nilai riil penjualan baru benar-benar nyata berdasar realisasi penagihan piutang. AFAIK, company Danone di Indonesia sudah menghitung penjualan berdasar realisasi penagihan piutang.

Forecast menyediakan insight (wawasan) yang bisa diberikan kepada teman-teman di tim Supply Planning. Kalau di perusahaan farmasi, lazim diberikan kepada tim Production Planning and Inventory Control (PPIC).

Omong-omong soal supply ke pasar, ada company yang tidak lagi berada pada level availability (ketersediaan). Alias, barang tersedia di rak ketika konsumen membutuhkan. Mereka sudah mengangkat strategi dan brand-nya sampai pada level visibility (bisa terlihat). Artinya, suplai produk di rak sudah lebih besar daripada demand itu sendiri. Ini supaya konsumen merasa secure (aman) bahwa kebutuhannya akan selalu terpenuhi.

Ilustrasinya begini, misal ada 10 orang konsumen yang membutuhkan 1 pcs produk, maka harus disediakan (be available) 10 pcs produk kan? Berbeda dengan visibility. Even hanya ada 10 pcs produk yang jelas akan dibeli, namun supaya terlihat bahwa produk tersebut tidak hanya brand-nya saja yang ada, tetapi juga produknya benar-benar nyata terlihat (be visible) dan tersedia banyak atau lebih dari cukup di mata konsumen. Satu company yang sudah melakukan ini di antaranya adalah Mayora dan Indofood.

Sebenarnya forecast ini tidak lagi menggunakan software statistik biasa (semisal SPSS). Software khusus untuk demand planning sudah tersedia di pasar dan siap digunakan.

Membuat forecast:

  • Mengumpulkan, menganalisis dan memvalidasi data-data yang telah diperoleh
  • Mengoperasikan perangkat lunak demand planning
  • Mengevaluasi hasil pemodelan forecas
  • Menyelesaikan error, positif palsu, atau negatif palsu yang terjadi sehingga dapat memperbaiki forecast
  • Mengagregasikan berbagai forecast, baik yang product-based, maupun time-based

In the longer period, keberadaan Demand Planning & Strategy akan mengembangkan budaya perusahaan knowledge sharing dan konsensus forecast yang semakin optimal. Mengapa? Simply karena dan tim dan organisasi ini menjembatani Sales and Marketing dengan Product Management.

Di perusahaan yang supply produknya sudah lebih besar daripada demand –tentu ini jarang sekali kasusnya– timnya bisa saja ditutup. Seperti misalnya rasio elektrifikasi yang sudah di atas 95% di Indonesia, alias jaringan PLN sudah hampir mencakup seluruh wilayah nusantara, maka bisa saja divisi tersebut ditutup dan SDM di dalamnya didistribusikan ke tim-tim yang lain.

Strategi Marketing Instagram 2019

Instagram (IG) makin mantap menempati posisinya sebagai social media yang paling engaging, menurut saya. Hootsuite menyatakan 1 milyar orang di dunia memiliki akun IG. Lima ratus juta di antaranya menggunakan IG setiap hari. Bagaimana dengan Indonesia? Pengguna aktifnya ada 59 juta orang, per Oktober 2018. 72%Β dari pengguna menyatakan pernah membeli produk yang mereka lihat di IG. No more statistics ya. Too much analysis only give brain paralysis.

Istri saya, disamping main di IG pribadinya, juga mengelola akun bisnis. Makanya tidak bisa lepas dari IG. Mulai dari riset, strategi dan perencanaan detil konten, sampai eksekusi posting.

Saya juga melakukan hal yang sama, actually. Di kantor dan untuk beberapa klien. As you may guess, gak semua orang sanggup pegang akun social media — di luar akun personal dia. Salah satunya adalah, beda jenis social media, maka treatment-nya juga berbeda. Gak mengejutkan, because social media is social. It is really human things.

Salah satu contohnya, teknik mendapat likes-nya jadi bermacam-macam. Di kantor, makin banyak wajah yang nongol di post IG kantor, maka likes-nya juga akan makin tinggi.

Tantangan lainnya adalah mengelola konten. Ada banyak aspek. Perencanaan, pengorganisasian (termasuk penyimpanan), riset terus-menerus, sampai dengan penerbitan (publishing), dan pasca-penerbitan. Tidak semua orang bisa menekuni ini. Kuncinya adalah harus selalu bisa come up with new insight(s).

Bijak Menggunakan Hashtag

Banyak pakai hashtag kurang tepat, sih. Seperlunya saja. Yang penting asli relevan dan “kena” sama konteksnya. Bila perlu, lakukan riset tentang hashtag baru apa saja yang bisa ditambahkan. Simply karena selalu ada orang yang search dari kolom explore. Dan dia cari berdasar hashtag.

Hanya memakai hashtag yang follower-nya tinggi? Benar saja. Tapi, tentu saja kompetisinya juga tinggi. Beda dengan hashtag follower rendah. Kita ibarat berenang di Blue Ocean. Positifnya adalah, kompetitornya masih minim.

Seorang rekan di kantor sekarang sempat cerita bahwa misinya perusahaan IG adalah membuat kita user agar tidak tidur. Daripada tidur, mereka berkehendak kita main IG terus.

Alasan pertama dan paling utama menggunakan IG adalah: sekarang hampir semua orang menggunakan IG. Jadi, bisnis dan brand kita juga harus masuk ke sana.

Alasan kedua, IG sebagai part of facebook, memiliki keunggulan dalam hal beriklan. Dengan melakukan pengaturan facebook ads, iklan kita juga bisa ditampilkan di IG. Baik dalam bentuk post, maupun story.

Konsisten Posting

Makin banyak follower, makin wajib berbagi update. Lewat story atau post. Follower kamu masih sedikit? Ayo lebih sering posting. Intinya apa? The point is keep posting consistently.

Biar apa? Membangun ekspektasi dari para follower. Branding is building and deliver expectation (or promise).

Timing posting juga penting. Makin kontekstual si timing ini dengan follower, makin oke. Ada yang oke di jam 12-13 Senin sampai Jumat. Ada juga yang akan optimal di antara jam 6-7 malam.

Filter IG yang paling banyak digunakan adalah Clarendon.

Bisa dicek di sini untuk statistik lebih lengkap mengenai IG yang telah dihimpun dan diringkas oleh SproutSocial.

A note to myself.

Saya membatasi main personal IG.

Yang biasanya saya lakukan: mengecek apa-apa yang dilakukan oleh orang-orang yang saya follow. Konten siapa yang di-like, siapa yang mereka follow. Kategori baru yang belakangan jadi interest saya adalah seputar bullet journal. Saya perhatikan juga tuh, ada post apa perihal BuJo yang baru di-like atau siapa yang baru di-follow, sehingga saya bisa lihat feed-nya. Apakah worth untuk saya follow atau tidak.

Kemudian, saya cek explore. Biasanya mendatangi akun yang bagi saya paling penting: Chelsea FC. Ada post baru apa, ada story baru apa. Intensitasnya cenderung meningkat di hari pertandingan sih. Sabtu/Minggu untuk Premier League, atau Selasa/Rabu di Champions/Europe League. Itu yang resmi dari klub. Informasinya sebatas yang resmi saja. Kalau gosip soal transfer, pemain muda dalam tim, pemain senior yang akan pensiun, banyaknya di akun-akun (tidak resmi) terkait Chelsea.

Habis itu, baru lihat story dari teman-teman yang di-follow. Dilanjutkan dengan post-post di feed. Simpulannya, selalu penasaran, tapi dari story atau post yang dilihat, ternyata tidak juga mengobati rasa penasaran. Daripada menghabiskan sepanjang malam dengan begadang bersama IG –dan tentu saja 5 hari dalam 7 besok adalah hari kerja — lebih baik saya beranjak saja menuju “pulau impian”.

10 Bulan Sejak Rilis AADC?2

Sudah 10 bulan sejak AADC 2 dirilis. Dan saya masih terlalu takut untuk menonton AADC?2. Sebab saya terlalu takut untuk kecewa. Karena segala tentang film ini sudah melekat di benak dan perasaan saya. Mulai dari karakter Rangga yang cuek, introvert, tapi tetap cool. Owh jadi cowok keren di mata cewek-cewek itu begitu tho. Sampai dengan dialog-dialog yang tidak terlupakan.

β€œBasi! madingnya udah siap terbit!”

atau,

β€œBarusan saya ngelempar pulpen ke orang gara-gara ada yang berisik di ruangan ini. Saya gak mau itu pulpen balik ke muka saya gara-gara saya berisik sama kamu.”

atau,

Salah gw? Salah temen-temen gw?

Yang saya rasakan, adalah brand AADC? itu seperti itu, dan sudah seharusnya tetap seperti itu. Saya tidak mau brand ini berubah menjadi sesuatu yang berbeda, atau tidak sesuai dengan ekspektasi saya. Jadi, saya sangat berkeberatan untuk menonton film ini, apalagi sampai menerima ajakan teman-teman. Lebih baik saya menutup mata dan telinga dari segala pembicaraan tentang AADC? Apalagi review-review tentang film AADC 2.

Oke, mungkin saya berlebihan. Lebih baik kita lanjutkan saja tulisannya.

Arti AADC? yang Sesungguhnya

Ada Apa Dengan Cinta? (AADC?) adalah salah satu peristiwa bersejarah dalam hidup saya dan remaja-remaja generasi saya. Dulu, kami kelas 3 SMP sewaktu film tersebut rilis perdana di bioskop. Emosi kami betul-betul teraduk-aduk akibat film tersebut. Produser dan Sutradaranya betul-betul memahami gejolak perasaan anak-anak muda Indonesia saat itu.

Masalah yang seberat-beratnya masa SMA saat itu mungkin adalah pilihan antara teman atau pacar, atau persaingan si populer dengan si penyendiri (seperti Cinta vs Rangga sebelum saling mengenal), atau mungkin kompetisi untuk menjadi yang paling eksis di sekolah –salah satunya melalui status sangat terhormat sebagai anak paskibraka, misalnya–, dst.

Mudahnya, film ini adalah “kita” banget. Namun demikian, mari lompat sedikit tentang situasi dan kondisi di seputar rilisnya brand film ini.

Lingkungan industri perfilman Indonesia saat itu memang sedang lesu pula. Film yang dirilis lebih banyak bertemakan horor yang (anehnya?) malah menyerempet paha-dada paha-dada (ini bukan tentang ayam goreng tepung dengan sekian belas bumbu rahasia ya) perempuan demi kelarisan film itu sendiri. Which is the problem is, film-film tersebut miskin dengan alur cerita dan karakteristik para tokoh-tokoh di dalamnya. Bahkan peran yang diberikan tidak sulit dan rumit hingga tidak menantang aktor dan aktris kita untuk memainkan film-film horor yang tidak menyeramkan tersebut.

Pendek kata, film-film tersebut hanya mengejar laba dan marjin keuntungan, namun lupa untuk memberikan kesan yang mendalam. Alih-alih pesan yang bermanfaat.

Bersama dengan Petualangan Sherina (1999), AADC menjadi tonggak sejarah perfilman Indonesia yang mulai bangkit kembali lewat alur cerita yang berkualitas dan tokoh-tokoh yang berkarakter kuat. Apa yang akan terjadi apabila si mantan datang kembali ke kehidupan kita salah satu film bersejarah seperti AADC dirilis kembali?

Yang dihadapi oleh Sekuel AADC2

Tantangan besar dihadapi oleh duet maut Riri Riza dan Mira Lesmana. As a product (and as a business, too) sekuel AADC pastinya harus memuaskan existing customer. Ya itu tadi, remaja-remaja tanggung sekitar tahun 2002-an. Para “pencinta” AADC ini tentu sudah punya experience terhadap tokoh-tokoh AADC: Rangga yang pendiam tetapi tajam di setiap dialognya, Cinta yang memiliki kepribadian penuh percaya diri, serta grup remaja perempuan dengan Cinta sebagai center of attention-nya.

Pastinya, menggarap sekuel penuh dengan tantangan dari penonton yang menuntut kepuasan lebih. Kudu lebih memuaskan dari prekuel-nya. Kalau lebih jelek? Ya yang jelek itu yang lebih akan diingat sama penonton.

Nah, sebagaimana seharusnya, persoalan yang diangkat di AADC 2 jadi lebih mendalam, yaitu pilihan antara berkutat di masa lalu atau melangkah ke apa yang disebut kehidupan mapan. Wajar, setelah 14 tahun, dengan para karakter yang sekarang diperkirakan berusia 30-32 tahun. Bukan masanya lagi untuk menye-menye, atau mempertimbangkan sekolah maupun pekerjaan. Melainkan menjalani kehidupan yang mapan lewat karir bersama dengan partner hidup.

AADC 2, harus diakui, adalah film nostalgia. Deskripsi, narasi, dan musik yang dikemas sedemikian rupa untuk mengingatkan kita kembali tentang AADC itu sendiri. Mira Lesmana dan Riri Riza sadar betul bahwa mereka ingin mempersembahkan film AADC 2 ini kepada penonton AADC 1. Musik yang konsisten bersama Melly dan Anto Hoed, serta pemain inti yang nyaris tidak berganti adalah penanda itu. Eksplorasi kedekatan brand dengan existing customer ini yang menjadi amunisi utama Miles Film dalam mengolah sekuel ini.

Btw, pernah dengar Galih & Ratna?

Rangga & Cinta ini analog dengan Galih & Ratna. Filmnya berjudul Gita Cinta dari SMA yang dirilis pada tahun 1979. Pemain utamanya adalah Rano Karno, (cagub Banten 2017) dan Yessi Gusman. Kedua karakter ini analog banget dengan Rangga & Cinta: (1)mewakili aspirasi remaja saat itu mengenai kehidupan romansa yang mereka idam-idamkan, sekaligus (2)menjadi ikon yang tersimpan erat di memori masing-masing generasi.

Soft Promotion

Sponsorship ini komponen penting untuk menambah omzet. Berat kalau hanya mengandalkan jumlah penonton di bioskop. Berikut beberapa adegan yang (menurut saya) berhasil mempromosikan brand-nya tidak secara hard selling.

  • Hape kebanting.
  • Minum air putih yang banyak.
  • Bingung dandan dengan kosmetik apa.

Yang (Masih) Mengganjal dari AADC?2

However, saya yang tidak ingin kehilangan sosok Rangga dan Cinta dalam benak dan kalbu (halah!) pada akhirnya ‘memaksakan’ diri saya untuk tetap menyaksikan film tersebut. Meski bukan di layar lebar, melainkan di layar televisi. Dan saya sangat mengagumi eksekusi pembuatan film ini. Namun, bagaimana pun juga ada jiwa sastrawan abal-abal yang menggelora dan menggelegak ingin mengkritik film ini.

Karakter Trian, kurang kuat diceritakan dalam film ini. Siapa sih Trian itu, yang berhasil ‘masuk’ ke dalam kehidupan Cinta, menjalin hubungan dengan Cinta, bahkan telah bertunangan dengan Cinta? Apa perbedaan sekaligus kelebihan karakter ini sehingga bisa membuat Cinta ‘melupakan’ Rangga? Si Trian ini kurang banyak dieksplorasinya.

Memang sih, pada akhirnya, semua sesuai dengan ekspektasi existing customer: Cinta kembali pada Rangga.

Tentu saja Cinta mengernyitkan dahi kita semua (mungkin saya aja, sih) dong bila dia meninggalkan Trian yang mapan, sang pengusaha muda dengan masa depan cerah. Trian yang tajir, gak suka seni, dan enggak puitis seperti Rangga. Memangnya puisi bisa dimakan? Makan tuh puisi! πŸ˜€ 

Di sisi Cinta, tentulah karakter ini seharusnya mengalami konflik wanita modern. Cinta bukan lagi anak SMA. Dia adalah wanita dewasa usia 30-an awal yang sudah mempunyai pekerjaan tetap. Aspirasinya adalah berkontribusi terhadap bidang yang digelutinya, yaitu seni. Apalagi pekerjaannya selaku pemilik galeri seni udah menunjang banget. Duit dapat, passion juga dapat kalau kata anak sekarang.

Dalam dimensi lain kehidupannya, dia juga sudah bertunangan. Bayangkan kalau sudah bayar uang muka ke beberapa vendor pernikahan? Udah icip-icip menu prasmanan di beberapa pernikahan yang ditunjuk sama vendor? Apalagi kalau sudah kirim-mengirim undangan ke banyak teman, kolega, dan sanak-saudara? Terus pertunangannya batal? Anak-anak (dan orang tuanya) zaman sekarang mungkin akan berpikir seperti,

“Apa kata dunia?”

Ini yang saya gak suka dari jadi mantan. Harus mengirim undangan ke mantan. Daripada jadi mantan, lebih baik kita jadi alumni aja deh. Siapa yang tahu kalau kita bisa reuni.

Sebagai sebuah brand (yang seharusnya memang memprioritaskan existing customer, instead of new customers), saya kira AADC2 tidak mengkhianati kedekatan yang sudah terbangun dengan para penontonnya, mungkin malah justru makin merekatkannya. Di poin ini, produser dan sutradara sudah sangat berhasil. Apalagi brand ini berhasil mendatangkan banyak sponsor dari brand-brand ternama.

Bagaimana dengan new customer?

Ternyata, film ini juga berhasil menggaet para penggemar AADC yang baru.

Customer yang menyaksikan film ini tidak sepenuhnya yang 14 tahun lalu adalah remaja-remaja tanggung. Tidak sedikit para penonton yang baru. Ada juga yang saat ini sudah menjadi bapak-bapak dan ibu-ibu, kira-kira usia pertengahan 40-an, yang turut menjadi saksi sejarah romantisme Cinta dan Rangga.

======

related post:

referensi:

Cek 4 Elemen Berikut Untuk Memeriksa Kualitas Brand Story Kamu

We’ll love story. Especially story about hero inside us whom be brave enough overcome his/her challenge to pursue his/her dreams.

Lihat bagaimana serial gotham membangun koneksi lalu mengaduk-aduk emosi penontonnya melalui cerita-cerita yang mereka sampaikan dalam setiap episode.

Gotham yang sekarang sudah masuk ke season 2. Ada karakter Theo Galavan yang jadi antagonis sentral di season terbaru ini. Nyaris semua antagonis di semua episode yang sudah berlangsung, pasti terkait dengan Galavan yang satu ini. Dugaan saya, Galavan adalah musuh terberat dari Jim Gordon di season 2.

Ups, too much information, jadi tidak fokus ke creme de la creme-nya ya πŸ˜€

Nah, cerita mengenai Batman, dan segala yang dikait-kaitkan dengan second identity-nya Bruce Wayne tersebut, selalu tampak bagus. Apa yang membuat sebuah cerita –seperti Batman– selalu bagus? Apa saja yang menjadi kesamaan di antara semua cerita tersebut?

Sebagaimana headline di atas, ternyata ada empat elemen yang membuat sebuah cerita menjadi bagus.

(1) Setting. Where is this story happening? Di mana cerita ini mengambil latar belakang? Waktu, tempat, dan seterusnya.

(2) Character. Who’s the story about. Apakah tentang kelompok/komunitas/perusahaan/institusi tertentu? Siapa yang menjadi frontman-nya? Atau cerita ini berkisar seputar seorang protagonis saja?

(3) Plot: Action. How character respond the setting? What are your characters doing? Atau bagaimana karakter mewujudkan tujuan/misi besarnya?

Sebab akan selalu ada penghalang (bencana alam, ketidakberuntungan, tokoh antagonis) yang menentang tokoh utama dalam mengejar tujuan/misi tersebut.

Biasanya, semakin kuat penghalangnya, dan semakin protagonis berusaha mengatasinya, maka semakin bagus ceritanya. Kita bedah satu kasus yang bagus.

globe

Anita Roddick jadi kisah superhero yang luar biasa. Bagaimana dia bersama Body Shop menggalang misi untuk menciptakan lingkungan hidup yang lebih baik.

Core values seperti against animal testing adalah idenya yang dia eksekusi dengan sangat baik. Jadi pembeda yang signifikan di saat kompetitor belum mampu melakukan inisiatif tersebut.

Jadi semua elemen brand Body Shop dikonsep, digagas, dan dieksekusi hingga menghasilkan citra yang begitu positif, tapi tetap engaged dengan pelanggannya lewat satu fokus tema: lingkungan.

Dengan demikian, Body Shop sukses being different to standout from the crowds. Hal ini tidak pernah mudah. Sebab tantangan industri telah dan akan selalu menghalangi.

Luar biasa apa yang dilakukan oleh beliau, mengingat Body Shop adalah perusahaan kosmetik. 

Jadi, rumusnya adalah semakin lakon “mengalami apes, tapi bersikap ngeyel” maka akan semakin bagus ceritanya.

Keyword tersebut saya dapat dari Mas Yusuf, seorang strategist and executor di www.smuufy.com

(4) Detail: which specific things should your audience notice. Monolog, dialog, deskripsi (dari apa yang dia dengar, lihat, sentuh, rasakan), narasi, backstory (apa yang sebelumnya terjadi), dan lain-lain.

Tiga elemen yang pertama sebenarnya sudah cukup untuk menghasilkan brand story yang bagus. Tapi tanpa pendetilan (yakni elemen ke-4) yang luar biasa, maka storytelling-nya bisa jadi hambar. Eksekusi konsep adalah titik kritis dalam implementasi strategi pemasaran ini.

Kesimpulan:
(1) Saya kira storytelling adalah salah satu skill yang harus dimiliki para pemasar saat ini. Terlebih profesi PR (Public Relation). Cek apakah kamu sudah punya 7 skill praktisi PR masa kini.

(2) Brand story dapat dirancang melalui konsep dan implementasi dari 4 elemen yang telah kita bahas di atas.

Semestinya dia bisa membantu kamu, seperti dia sudah membantu saya πŸ™‚

Related Post(s):

Gotham and Storytelling

Belakangan ini saya rajin mengunduh dan menonton serial “Gotham“. Sekarang sudah 9 episodes. Ratingnya lumayan lho, 8.2 dari total 10. Artinya, banyak yang suka. Terkait hal ini, saya punya duga-dugaan yang belum terkonfirmasi ke para pemirsa yang sebenarnya. Yah, tapi minimal udah terkonfirmasi ke saya gitulah, hehe πŸ˜€

http://teniesonline.ucoz.com/_ld/100/33384397.jpg

Jadi serial ini berlatar belakang kota Gotham (ya, Gotham yang Batman itu lho) sebelum Batman lahir, hadir, dan “menjaga” kota tersebut. Di serial ini, Bruce Wayne kecil selalu curious alias kepo banget mengenai bagaimana kota tersebut “bekerja”. Terlebih banyak peristiwa-peristiwa janggal (sekaligus menarik) yang menjadi lakon utama di tiap episodenya pasca kematian pasangan Wayne di hadapan Bruce kecil.

Protagonisnya adalah James (Jim) Gordon, alias pak komisaris polisi di film-film Batman. Di sini diceritakan bahwa karakter ini masih rookie di GCPD. Baru gabung di kepolisian, tapi masih punya idealisme tinggi. Sehingga sisi idealisme-nya (dan itu yang selalu menjadi bawaan khas di perannya) dapat dieksplorasi besar-besaran oleh produser dan sutradara yang bersangkutan di serial ini.

Di samping ketokohan protagonis, masing-masing antagonis juga dideskripsikan detil. Lihat bagaimana Oswald “Penguin” Cobblepot mampu tampil cengengesan dan lemah, tapi di saat lain pandai menipu, bahkan menjadi sadis. Ada juga Selina Kyle, tokoh yang mestinya jadi Cat Woman di versi film. Tindak-tanduk dan kelakuannya udah sama cem Cat Woman yang asli. Gerakan lincah, badan lentur, dengan mata yang bisa melihat dalam kegelapan malam.

Jadi, ternyata.. –eh, kasi tau gak ya; kasi tau gak ya; spoiler dikit nih soale πŸ˜€ — warga kota Gotham itu menaruh harapan pada “pahlawan terselubung” yang “beraksi” membasmi orang-orang jahat –semisal letnan yang korup atau pengusaha yang filantropi-nya cuma pura-pura. Tidak lain karena GCPD tidak selalu bisa diharapkan. Sebab itu ada sebagian warga yang main hakim sendiri. Pola seperti ini yang kemudian dilakukan secara persis oleh The Dark Knight seperti Batman.

Lewat serial Gotham ini, produser dan sutradara jadi mampu mengeksplorasi dan mengeksploitasi ruang-ruang cerita di kehidupan pra-Batman. Which is, selama ini hanya era-nya Batman yang kita tahu. Pola ini mirip dengan trilogi “Lord of The Ring” yang diikuti dengan prekuel trilogi “The Hobbits“. Trilogi kedua (yang berkisah mengenai para hobbit) adalah pemberi penjelasan behind the story why there was “Lord of The Ring“. Ada story, ada demand. kalau demand berlanjut? Baru kita teruskan story-nya πŸ™‚

The storytelling part
Sengaja atau tidak sengaja, selalu ada cerita yang tersirat di balik setiap word of mouth (WOM) yang tersaji. Demikian pula di setial “Gotham” ini. Batman sebagai sebuah legenda yang menemani kisah-kisah generasi saya di masa kecil dulu, adalah salah satu di antaranya. Dan kini, ketika “potret” kehidupan di kota Gotham disajikan secara epik melalui rangkaian episode ke episode, nostalgia tersebut terulang kembali.

Dan dalam setiap nostalgia tersebut, selalu ada cerita-cerita tertentu di dalamnya. Inilah yang biasa kita sebut “storytelling” alias story to be told. Cerita-cerita yang menjadi konten dalam setiap getok tular yang kita sebarluaskan. Di sini saya juga menjadi salah satu storyteller alias customer-marketer atas serial Gotham ini. Yang membuat anda penasaran, turut men-download, hingga ikut menyaksikan.

Storytelling juga yang mendasari tersebarnya Mini Drama AADC yang menjadi konten dari promo fitur “Find Alumni” yang lalu dari brand Line. Jadi bukan asal “film laris tentang hubungan asmara”. Melainkan ada headline “Rangga dan Cinta yang sudah 12 tahun gak ketemu” diikuti story “CLBK-nya Rangga ma Cinta”. Keduanya membuat videonya jadi ditonton, meme-nya di-retweet and di-share kemana-mana. Ini enelan lho, ada riset yang menyatakan bahwa di Indonesia, social media itu dipakai untuk CLBK-an. Hehe.. πŸ˜€ Jadi ngerti kan, kenapa mini drama tersebut tersebut dan meluas dalam waktu singkat? Hehe.. There is always story to be told, that’s why we call it storytelling πŸ™‚