Segmentasi Masjid di Indonesia

Pahami segmennya. Analisis targetnya. Petakan strateginya. Demi kemakmuran masjid bersama.

Sudah lama ingin berutak-atik-gathuk soal analisis STP terhadap masjid-masjid di negeri ini. Selama ini, sok sibuk kejar tenggat waktu (deadline) pekerjaan. Nge-blog seadanya seminggu sekali.

Nah, Mumpung lagi Ramadhan 1441 Hijriyah, lagi ingin menindaklanjuti konten lama di blog lama juga: https://ikhwanalim.wordpress.com/2015/07/16/masjidpreneurship/

Dilihat dari perspektif strategic marketing, ada beberapa segmen bangunan ibadah tersebut di Indonesia. Pendekatan primer dalam kategorisasi berikut ini adalah berdasar demografi dan perilaku (behaviour) para jama’ahnya.

Masjid Perumahan

Tentu saja jamaah utamanya warga setempat. Demografinya mengikuti usia perumahan tersebut. Saya lihat, ada dua subkategori. Masing-masing subkategori membutuhkan pendekatan yang berbeda.

Perumahan Baru.

Isinya keluarga-keluarga muda. Dengan anak-anak yang masih kecil.

Materi Islamic Parenting cocok untuk lingkungan tersebut.

Perumahan Lama

Perumahan yang sudah berusia 3-4 dekade. Penghuni utamanya didominasi pensiunan. Banyak kakek-nenek. Anak-anak kecil adalah cucu-cucu mereka. Sedikit sekali keluarga muda.

Masjid Perkantoran

Menurut JK, kantor-kantor boleh membangunnya sendiri. Karena ibadah Jumat masih dilakukan di hari kerja. Untuk mempersingkat jarak dan waktu, kantor boleh menyediakan masjid dan menyelenggarakan shalat Jumat.

Jama’ah segmen kantor nyaris tidak ada anak kecil. Paling tua di usia sekitar pensiun (sebelum maupun sesudahnya, karena masih ada yang dikontrak kerja pasca pensiun). Pemuda-pemudi yang baru bergabung di perusahaan, bisa ditarget dengan materi seputar persiapan pernikahan. Contoh materinya: memilih dan mendidik pasangan menuju keluarga sakinah, mawaddah, dan warahmah.

Masjid Perkantoran
An-Nuur, Masjid Kantor Bio Farma di Kota Bandung

Masjid Pusat Perbelanjaan

Pusat belanja, baik modern atau semi modern, buka di empat (4) waktu sholat. Dhuhur sampai Isya. Tidak heran ‘kan pusat perbelanjaan harus ada tempat ibadah yang cukup secara kapasitas, nyaman digunakan oleh banyak orang secara bergantian, dan buka di rentang waktu yang panjang.

Masjid Pusat Perbelanjaan
Masjid Nurul Iman, di lantai 7 Blok M Square, Jakarta Selatan

Masjid Kampus

Diramaikan oleh mahasiswa, civitas akademika, hingga pedagang-pedagang di sekitar.

Sebelum kehadiran Masjid Salman (1972), warga ITB memanfaatkan Aula Barat untuk melaksanakan Shalat Jumat. Masjid Salman ITB kini memosisikan diri (“positioning“) sebagai “pembina” bagi masjid-masjid lainnya. Infografis berikut menyajikan pembinaan tersebut dalam angka.

Masjid Agung

Selain kapasitasnya yang memang besar, yang biasanya masuk ke dalam klasifikasi ini juga menjadi simbol suatu kota/kabupaten.

Terletak di pusat keramaian dan belanja kota Bandung: Jalan Asia Afrika. http://humas.bandung.go.id/humas/profil/riwayat-denyut-kota-bandung

Pemberian Nama

Nama adalah do’a. Jadi berikanlah nama sesuai dengan kebaikan yang dikehendaki akan terwujud oleh do’a. Selain itu, nama adalah identitas yang menjadikan pemilik nama (termasuk bangunan ibadah umat muslim) menjadi berbeda dari lainnya.

Tidak apa memberi nama dengan nama orang. Maksudnya bukan untuk mengkultuskan orang tersebut. Termasuk ketika dibangun dari wakafnya seseorang. Cek link ini untuk lebih paham https://konsultasisyariah.com/33421-memberi-nama-masjid-dengan-nama-orang.html

Atau beri nama sesuai data-fakta/karakter masjid tersebut. Misalnya, Al-Muhajirin, karena memang menjadi persinggahan sementara oleh orang-orang yang tidak tinggal atau bekerja di wilayah tersebut. Kebetulan, di perumahan saya maupun perumahan ortu saya, nama masjidnya sama-sama Al-Muhajirin.

Cara ketiga adalah memberi nama sesuai dengan nama daerah,seperti misalnya Masjid Jogokariyan. Jogokariyan adalah nama kampung. Bukan ofisial nama kelurahan atau kecamatan. CMIIW.

Yang disebut terakhir ini unik, karena selalu berupaya agar pada tiap pengumuman, saldo infaq hanya setara nol rupiah. Alasannya sederhana, saldo yang sangat besar akan menyakiti saat ada sebagian warga yang sakit namun tak bisa ke rumah sakit karena tak punya biaya, atau ada warga miskin yang tidak bisa bersekolah, dan dan sebagainya.

Ramah Anak

Reposisi dari “masjid yang menganggap anak-anak sebagai pengganggu kekhusyukan beribadah” menjadi “masjid sayang anak”

Selain itu, anggapan bahwa anak-anak tidak boleh berada di shaf depan. Padahal hak ada di shaf depan adalah yang datang duluan, bukan berdasarkan usia.

Pusat Ekonomi

Pencipta keramaian (crowd). Di mana ada crowd, saya yakin di sana ada pasar. Dengan sendirinya, masjid yang ramai adalah pusat perputaran ekonomi. Manajemen wajib berbuat adil dengan tidak mengusahakan suatu kegiatan ekonomi yang sudah dilakukan oleh salah satu jama’ahnya. Contohnya adalah warung makan, minimarket, printing/photocopy, konter HP dan pulsa, busana muslim, percetakan, penerbit, atau kios buku merupakan salah satu usaha riil yang bisa ditempuh dalam rangka membangun kewirausahaan.

Menuju Kemakmuran

Yang utama bukanlah kemegahan bangunan fisiknya. Melainkan kemakmuran di dalam dan luarnya. Segmentasi yang sudah disusun di atas, hanyalah salah satu strategi “pemasaran” menuju kemakmuran masjid yang lebih baik dari waktu ke waktu.

Strategi Omnilytics selama Pandemi Covid-19

Omnilytics adalah platform data ritel, yang menggerakkan bisnis pengambilan keputusan dengan wawasan yang mendalam dan dapat ditindaklanjuti.

Introduksi

Omnilytics: Peritel busana di seluruh dunia sedang berebut bertahan.  Perdana Menteri Italia Giuseppe Conte mengumumkan pada 21 Maret bahwa manufaktur untuk barang mewah harus dihentikan, sehingga mengganggu industri senilai $ 107,9 miliar dolar ini. Pada saat laporan ini dibuat oleh Omnilytics, pandemi ini telah menyebar di 167 negara, dengan kasus yang dilaporkan meningkat secara eksponensial di negara-negara seperti Italia, Iran dan Amerika Serikat (termasuk Cina, negara di mana pekerjaan alih daya –outsourcing—banyak diterima). Merek-merek seperti seperti Prada dan Ferragamo menurunkan skala produksi untuk mengurangi risiko. Di sisi sebaliknya, penjualan digital Nike mengalahkan prediksi, yaitu terjadi peningkatan sebesar 36%.

Dengan cepat, Zara -pemilik Inditex- mengumumkan turunnya penjualan sebesar 24%. Dikhawatirkan, ini baru puncak gunung es. Dengan pembatalan Musim NBA, penundaan Copa Amerika, dan toko-toko yang dipaksa-tutup di Kanada dan AS, para ahli memprediksi penjualan Under Armor dan Adidas akan suram. Karena kekurangan bahan baku bahan dari Cina, pabrik garmen di Bangladesh, Kamboja dan Vietnam telah ditutup – secara efektif menyisakan jutaan pekerja tanpa sumber penghasilan.

Menurut sebuah survei oleh komite desain Altagamma, perusahaan konsultan BCG dan firma manajemen aset Bernstein, merek-merek mewah akan kehilangan laba sebesar € 10 miliar. Dalam beberapa minggu terakhir, pasar produk-produk mewah telah merasakan dampak dari terlalu mengandalkan konsumen Cina. Rumah mode mewah Prada baru-baru ini mengumumkan bahwa wabah telah “menghentikan lintasan pertumbuhannya”.

Secara global, Cina mewakili 33% konsumen untuk pembelian barang mewah, dan menurut laporan Bain & Company,  proyek pertumbuhan 20% untuk barang-barang mewah di tahun 2018 dan 2019 di Cina. “Orang Cina telah menjadi pembalap tunggal terbesar dalam kemewahan dan mode dalam 10 tahun terakhir, ”kata Pauline Brown, mantan ketua LVMH regional Amerika Utara.

Pasar barang mewah kini harus memikirkan ulang strateginya. Layanan sangat personal –yang menjadi ciri khas– sekarang menjadi lapuk. Dalam pandemi, prioritas berubah. Pauline Brown menambahkan bahwa para konsumen kini semakin fokus pada kesehatan, dan mengurangi belanja barang mewah.

Untuk saat ini, pemain barang mewah mengambil tindakan pencegahan dalam rantai pasokan mereka. Louis Vuitton, Prada dan Ferragamo dilaporkan telah mengurangi produksi guna mengurangi dampak.

Ada 5 (lima) strategi besar dari Omnilytics dalam rangka menyelamatkan usaha, staf, dan pelanggan melewati pandemi Covid-19 yang berat ini:

  • Penstabilan Penjualan dan Pengurangan Inventori
  • Mitigasi Kejutan Suplai
  • Penguatan Operasional
  • Navigasi Pergeseran Pelanggan
  • Peninjuan Kembali Pemasaran

Penstabilan Penjualan dan Penurunan Inventori

Omnilytics:

  • Memaksimalkan peningkatan pengeluaran untuk aktifitas online. Karena toko ditutup atau boleh beroperasi untuk jam yang terbatas, sebagian besar konsumen beralih ke belanja online. Pengecer harus memanfaatkan peluang online ini untuk mengimbangi kemerosotan ritel fisik.
  • Uji distribusi omnichannel secara maksimal. Gunakan periode percobaan ini pada berbagai distribusi saluran. Tetap gesit, memastikan visibilitas penuh pada kinerja penjualan dan secara konstan memonitor penjualan. Tambah atau kurangi biaya pemasaran berdasarkan penjualan yang dihasilkan.
  • Stabilkan inventaris yang mudah berubah level. Banyak pengecer berisiko kekurangan stok karena gangguan rantai pasokan. Dalam situasi ini, pengecer harus menerapkan perlindungan terhadap persediaan yang semakin menipis.
  • Bersikap fleksibel dengan margin keuntungan. Penurunan harga mungkin diperlukan untuk mendorong selera konsumen dan belanja awal.
  • Amankan stok tambahan atau stok strategis melalui pemasok yang baru. Mempertahankan arus kas sangat penting saat ini. Tingkatkan persediaan pada produk-produk inti –seperti t-shirt dan jeans– yang dapat dengan mudah direproduksi bersama pemasok lain.

Mitigasi Kejutan Suplai

Di sisi sebaliknya, baju santai (loungewear) akan menjadi kategori yang potensial sejak mayoritas populasi diperintahkan untuk tinggal rumah. Hal yang sama berlaku untuk pakaian olahraga (active wear). Merek yang bermain di kategori ini, kemungkinan besar invetarisnya akan rendah karena orang akan cenderung berolahraga di rumah.

  • Analisis implikasi jangka pendek dan panjang. Kemungkinan jangka pendek implikasinya termasuk tenggat waktu yang terlewat, tingkat produk yang tidak memadai untuk meluncurkan tantangan baru atau logistik. Implikasi jangka panjang bisa berdampak pada biaya atau masalah dalam perencanaan permintaan. Nilai semua pro dan kontra sebelum mengambil keputusan.
  • Nilai polis asuransi untuk memastikan perlindungan keterlambatan produksi. Ini dapat menghilangkan biaya tambahan terjadi karena logistik dan tarif yang dialihkan.
  • Jelajahi peluang pemasok atau manufaktur yang berlokasi dekat pantai. Meskipun strategi ini dapat berisiko peningkatan HPP, produksi lokal memungkinkan respon yang lebih cepat.

Penguatan Operasional

Dengan masalah saat ini, pengecer akan menghadapi masalah understocking dan overstocking. “Penguatan Operasional” berupaya mengejar posisi di tengah-tengah kedua ekstrim tersebut.

  • Mempersiapkan rantai pasok dan merencanakan “Plan B” yang tepat.
  • Perluas saluran e-commerce segera. Pada saat ini, sumber daya harus diarahkan memperluas kemampuan e-commerce, memastikan platform e-commerce berfungsi penuh, stabil dan dilengkapi dengan alat dan pelacakan yang diperlukan untuk pemantauan kinerja.
  • Mengurangi jam operasi dan menutup toko di daerah pejalan kaki yang kurang ramai.

Navigasi Pergeseran Pelanggan

Pengecer, tergantung pada level mereka melakukan digitalisasi, masing-masing akan memiliki satu set tantangan untuk dipecahkan. Untuk toko pinggir-jalan tradisional, mereka akan memasuki pasar online; untuk pengecer omnichannel, berupaya untuk tetap kompetitif secara online. Merek-merek E-commerce, di sisi lain, akan menghadapi masuknya pesaing lama di lanskap digital.

Acara-acara Run Way banyak yang dibatalkan atau ditunda, sehingga para pemain kehilangan peluang penjualan. Di Asia Tenggara dan Timur Tengah, penyebaran Virus mengganggu Idul Fitri, sebuah pesta yang meriah dirayakan oleh umat Islam di wilayah tersebut. Di Indonesia, para pemain mempersiapkan idul Fitri bahkan sejak setahun sebelumnya.

  • Antisipasi bagaimana konsumen akan bereaksi selama dan sesudah krisis ini. Krisis ini kemungkinan akan menyebabkan resesi global. Sehingga para pemain harus melakukan penilaian ulang terhadap motivasi pelanggan, menyelaraskan diri dengan nilai-nilai pelanggan yang baru, serta membangun ulang loyalitas pelanggan.
  • Antisipasi perubahan nilai. Penelitian dari pemulihan di Cina menunjukkan kesehatan sekarang menjadi prioritas utama. Ini menunjukkan penjualan kelas atas (barang mewah) akan menurun. Sebagaimana fokus akan bergeser ke kesehatan dan kebugaran, maka  kategori active wear adalah peluang paling cemerlang.

Pertimbangkan Ulang Pemasaran

Perubahan yang paling jelas adalah konsentrasi pada digitalisasi, karena semua orang ada di dunia kini bekerja, berbelanja, beraktifitas seputar kesehatan dan kebugaran dengan bantuan online.

Masalah yang lebih besar lagi adalah terbaharuinya selera konsumen. Jika situasi ini bertambah buruk, maka ritel fesyen mungkin tidak lagi menjadi yang paling penting. Terutama untuk individu dan keluarga yang kekurangan uang; mereka akan lebih memprioritaskan pada barang-barang yang lebih esensial untuk bertahan hidup.

Bertahun-tahun ini, kategori barang mewah telah menjadi yang paling lambat mengadopsi e-commerce. Masalah paling mudah ditemukan di dunia online adalah barang palsu dari merek-merek mewah tersebut. Pemain barang mewah kini dilema; sebab berjualan secara online malah menginspirasi peniruan dan produksi barang palsu.

  • Menemukan cara baru untuk terhubung dengan audiens. Bukan hanya harus mereka memperhatikan pergeseran pelanggan dalam cara mereka berbelanja, tetapi juga bagaimana mereka mengkonsumsi konten. Sebagaimana kita ketahui, Run Way sedang minim sekali diselenggarakan.
  • Tampil berbeda di dunia online. Karena mayoritas populasi –dan kompetitor– akan menjadi online, maka tampil dan memberikan penglaman berbeda menjadi sangat penting saat ini.
  • Mengevaluasi anggaran pemasaran dan pengeluaran media. Hentikan pemasaran yang belum mendesak di saat pandemi ini, seperti kampanye dan acara offline.
  • Aktifkan strategi media sosial. Karena sosial distancing dan remote working “mengunci” orang-orang di rumah, maka meningkatkan aktifitas di media sosial menjadi penting. Investasikan kembali anggaran pemasaran offline ke upaya-upaya pemasaran digital.

Mengelola tenaga kerja

  • Kunci untuk selamat dari krisis ini adalah kelincahan dan fleksibilitas dalam organisasi perusahaan
  • Menerapkan kerja jarak jauh dan menghentikan perjalanan bisnis sesuai dengan kaidah-kidah physical distancing.
  • Tunjuk penanggung jawab untuk memberikan informasi dan menjawab pertanyaan staf. Salah satunya dengan membangun komunikasi dua arah langsung antara manajemen dan staf untuk menghindari kepanikan dan kebingungan di antara staf.
  • Temukan cara untuk meningkatkan moral staf. Pastikan kepentingan dan kesehatan karyawan adalah prioritas utama.

Demikian 5 (lima) strategi dari Omnilytics guna menghadapi dan melalui pandemi dan krisis global ini. Omnilytics adalah platform data ritel, yang menggerakkan bisnis pengambilan keputusan dengan wawasan yang mendalam dan dapat ditindaklanjuti.

Marketing to Gen Z

Milennial (atau disebut Generasi Y) lahir di antara tahun 1980 – 1994. Sedangkan, Generasi Z lahir di antara tahun 1995 – 2012. Milennial sudah memiliki anak; bahkan anak-anaknya sudah belajar di SD. Sedangkan Gen Z baru memasuki dunia kerja. Tulisan kali ini membahas tidak hanya bagaimana memasarkan kepada Gen Z yang kantongnya mulai tebal. Tetapi juga bagaimana bekerja bersama mereka di dunia kerja.

Generasi Milennial saat ini banyak yang sudah berusia lebih dari 30 tahun. Banyak di antaranya yang sudah menikah dan dikaruniai putra-putri. Secara umum, tentu saja mereka sudah lebih matang (bijaksana) dalam menjalani hidup. Punya lebih banyak dimensi dalam kehidupannya ketimbang Generasi Z: dimensi karir dan pekerjaan, keluarga dan rumah tangga, hobi dan hiburan, serta lain sebagainya.

Sedangkan Generasi Z paling tua, baru saja memasuki dunia kerja. Ada juga yang masih SMP-SMA. Tergantung dari mana anda mengambil referensi. Tentu saja, kebanyakan di antara mereka belum menikah. Jadi, kebanyakan masih memikirkan diri masing-masing saja. Sekalipun sudah memiliki calon pasangan resmi.

Generasi Milennial seperti saya masih mengenal kaset pita, walkman, dan mendengarkan musik via radio tape. Jadi kami adalah pendatang di dunia digital (digital immigrant). Berbeda dengan generasi yang lebih muda dari kami, mereka sejak SD bahkan sudah bersentuhan dengan dunia digital. Tidak heran mereka seakan-akan adalah penduduk asli digital (digital native).

Karena kami adalah pendatang, sementara mereka adalah penghuni asli, tentu saja mereka lebih lama menghabiskan waktu harian di dunia digital. Kami mungkin hanya 7,5 jam per hari. Mereka bisa sampai dengan 10 jam per hari.

Generasi Milennial bersikap optimis terhadap masa depan. Tidak heran banyak yang memilih berwirausaha atau berjuang di startup, ‘kan? Secara umum, karena kami (karena saya termasuk di dalamnya) dibesarkan dengan “hanya” krisis tahun 1998. Sisanya, ekonomi bertumbuh stabil.

Gen Z

Beda dengan Generasi Z yang lahir di sekitar krisis yang sama, dan 10 tahun kemudian mengalami lagi krisis tahun 2008. Beberapa di antara mereka bahkan lulus dari perguruan tinggi tanpa mengalami yang disebut wisuda. Corona hurts everything, including graduation. Mereka kemudian cenderung pragmatis dalam menyikapi kehidupan. Yang realistis-realistis sajalah.

Karena hidup sudah sulit untuk diapa-apakan, alias tinggal dijalani dengan prinsip “let it flow”, maka Gen Z lebih memilih konten hiburan di dunia digitalnya. Aplikasi yang membantu adalah Instagram, Youtube dan TikTok. Beda dengan Milennial yang optimis dan mau berusaha lebih (go extra mile) demi masa depan, maka aplikasi yang rutin digunakan adalah Facebook, Linkedin, dan Twitter. Kami Milennial siap “bertempur” dengan gagah berani di TwitWar.

Pada dasarnya, kedua generasi memiliki banyak kesamaan. Anda bisa saja melakukan satu stategi pemasaran yang ditujukan untuk kedua generasi. Akan tetapi, kalau Anda bersedia meluangkan lebih banyak waktu, pemasaran yang lebih spesifik untuk masing-masing generasi akan menghasilkan output yang lebih optimal.

Khusus untuk Gen Z, berikut adalah beberapa karakteristik mereka:

Phygital

Physical and Digital. Artinya, melakukan pendekatan terhadap generasi ini wajib secara fisik maupun digital. Karena bagi mereka yang lahir ketika internet sudah ada, digital adalah bagian dari realitas fisik. Awareness kekinian dibangkitkan via website, app, dan social media. Sedangkan pertemuan fisik memperdalam engagement. Kombinasi keduanya pasti powerful.

Hyper-Customisation

Melakukan penyesuaian (to customise) identitas dalam setiap bentuk komunikasi. Karena Z adalah generasi yang memiliki banyak identitas. Dan cenderung untuk  mengekspresikan beragam identitas tersebut.

Menurut buku Generation Z, oleh David and Jonah Stillman, Gen Z adalah generasi terbaru yang bisa diajak diskusi dan bekerja sama guna merumuskan nama jabatan dan uraian pekerjaan (job description). Okay, tentu dari company ada arahan stratejik dulu tentang analisis kebutuhan SDM. Nah, bersama Gen Z yang melamar pekerjaan dan mengisi posisi tersebut, keduanya bisa didiskusikan dan dikembangkan lebih lanjut.

Kedua pihak, perusahaan dan individu yang bersangkutan akan menerima manfaat masing-masing. Bagi perusahaan, kepemilikan (ownership)  atas pekerjaan dan perusahaan akan muncul dari sang pekerja. Ini membantu meningkatkan retention rate. Di samping itu, ini merupakan bottom-up approach dalam mengembangkan organisasi perusahaan (ilmunya adalah organization development). Dari sisi karyawan, hal ini merupakan bagian dari pengembangan karir mereka sendiri.

Realistic

Pragmatis dalam mengeksekusi idealismenya; realistis terhadap kelemahan (weakness) maupun ancaman (threat) yang ada. Ingat, tahun 1998, 2008, dan 2020 adalah tahun-tahun yang berat. Bersikap realistis adalah cara yang paling waras dalam menjalani hidup.

Fear of Missing Out (FOMO)

Hidup cuma sekali. Banyak kesempatan hadir di hadapan. Kalau tidak FOMO, semua yang menggiurkan tersebut bisa terlewatkan. Contoh lain: memiliki usaha atau pekerjaan sampingan di luar pekerjaan kantor. Double, or even triple role, are okay.

Self-Encouraged

Hidup semakin berat; generasi ini mengambil sikap menjadi lebih kompetitif. Oleh sebab itu, mereka terbuka terhadap perubahan. More competitive and open to change. Supaya bisa keduanya, harus bisa meng-encourage diri sendiri.

Do-It-Yourself

Jejak tradisional (traditional path) yang ditinggalkan oleh generasi yang lebih lawas tidak wajib diikuti. Toh, panduan atau tutorial sudah banyak tersedia. Salah satunya dari YouTube. Lakukan semuanya sendiri atau bersama sahabat terdekat.

We-Economist

To contribute to society/environment. Jika institusi/brand kamu turut berkontribusi untuk sosial-kemasyarakatan atau lingkungan hidup, maka mereka lebih berminat untuk membangun relasi dengan kalian. Di samping itu, generasi ini lebih suka berbagi dalam berbelanja dan menggunakan. Alias ekonomi berbagi (sharing economy).

Demikian beberapa ciri khas Gen Z. Awalan ini bisa jadi panduan dalam memahami mereka lalu menyusun strategi. Sangat-sangat berminat untuk mengetahui pendapat kamu. Mohon dibagikan di kolom komentar, ya.

Referensi:

Artisan Brand. Leisure Economy.

Kembali ke khittah dulu ya. Kembali ke topik marketing.

Blog ini tajuknya “Authentic Marketing”, tapi sudah lama tidak bahas marketing, ya 😀 Tentang Marketing, terakhir mengulas soal pindah profesi dari Sales ke Marketing. Soal Sales, terakhir menganalisis bagaimana mengajari anak berdagang.

Sejak setengah tahun yang lalu, malah membahas yang lain-lain, semisal topik tentang blogging/writing, fathering, marriage, dan personal journal.

So, let’s start it.

Dari topik branding, yang kekinian adalah lahirnya brand-brand artisan. Paling menonjol adalah branding tidak lagi ranahnya pemain-pemain bermodal besar. Hanya dengan modal finansial yang kecil sekalipun, sudah bisa memulai branding. Tapi cara bermainnya sangat jauh berbeda. Tidak jorjoran membayar media televisi, media cetak, billboard, dan media-media lainnya.

Yang khas sekarang itu adalah menawarkan misi-misi problem solving lewat storytelling guna mengumpulkan fans—bukan lagi pelanggan (customer), apalagi pembeli (buyer). Jadi si co-founder –atau si orang branding–kudu sharing (berbagi) tentang problem apa yang mereka temui di masyarakat, dan usaha-usaha apa yang mereka sedang lakukan guna menyelesaikan masalah tersebut. Sharing is Branding. Namanya juga fans ya, mereka bukan lagi sekedar menikmati hasil saja, melainkan ingin terlibat banyak dalam usaha-usaha tersebut.

That’s why Mas Handoko Hendroyono lewat bukunya “Brand Artisan” merekomendasikan untuk membangun public spaces (ruang-ruang publik). Tidak harus ada fisik bangunan atau lokasi tertentu, namun bisa dimulai dengan mengembangkan komunitas. Jadi, fans di sini identik juga dengan komunitas. Bersama fans –dan institusi atau komunitas lain—si brand berkolaborasi membangun story. Narasi-narasi yang dibangun bersama ini yang kemudian dibagikan ke khalayak lain. Istilah kekiniannya adalah di-viral-keun. So, nowadayas, branding is done through sharing.

Berhubung social media juga sudah menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari, maka semuanya bisa dimulai dari kecil. Bahkan dari personal story kita sendiri. Ya, personal branding is matter now. Saling menguatkan juga dengan brand itu sendiri. Brand-nya “dijual” oleh si personnel. Di sisi lain, personal brand-nya juga ikut dikenal seiring meluasnya si brand tadi.

Bicara Start-Up, co-founder macam Fajrin Rasyid bersama Bukalapak berkampanye ke mana-mana seputar misi membangkitkan ekonomi para UMKM melalui teknologi digital.

Leontinus Alpha Edison, co-founder Tokopedia berkisah tentang minimnya kesempatan berusaha di kota asalnya dahulu, Pontianak, sehingga corporate mission Tokopedia adalah memberikan kesempatan “berdaya” bagi pemuda-pemudi di kota-kota, terutama di luar Pulau Jawa.

Marchella FP, biasa berdiskusi dan berbagi dalam tajuk Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (NKCTHI). Bukunya ada dan laku sampai 150ribu eksmplar. Filmnya juga belum lama ini dirilis di bioskop. Komunitas fans NKCTHI dibangun lewat dialog intens di akun instagram. Kemasannya itu lho yang mengena banget bagi generasi milennial.

Startup AirBnB membantu fans-nya menemukan penginapan di seluruh penjuru dunia. Semangat berbagi dan memberdayakan para pemilik rumah maupun apartemen. Kemajuannya memberi dampak ekonomi dan kesejahteraan.

Dalam bukunya, Mas Handoko juga menyebut KlinikKopi. Personnel-nya adalah Pepeng. Namanya klinik, tiap pengunjung adalah “pasien” yang wajib di-“diagnosa” secara personal, satu-persatu. Lewat percakapan intens, Pepeng menceritakan dan menawarkan kopi racikannya. Sesuai hasil diagnosa.

Kalau PasarPapringan adalah event pasar dua-mingguan dari founder RadioMagno, Singgih Kartono. Awalnya pasar, namun kini telah menjadi public space juga. Bahkan tujuan pariwisata yang ramai dikunjungi wisatawan lokal maupun mancanegara. Oiya, beliau si founder ini juga membesut brand Spedagi—sebuah sepeda bambu. Memang, di pinggiran daerah Temanggung ini ada banyak sekali kebun bambu sebagai material dominan radio dan sepeda.

Kalau saya pribadi, saya adalah fans-nya Upnormal. Bukan komunitas tertentu, memang. Namun mereka menyajikan “spaces” yang lokasinya dekat dari mana-mana. Dan dengan brand-nya, saya meyakini ada standard yang sama di setiap titiknya. Semangat yang diusung, menurut saya, adalah semangat freelancer yang “bisa bekerja di mana saja dan kapan saja”. Suatu titik Upnormal bahkan mengkampanyekan ketersediaan “100 colokan” alias stop kontak. Supaya betah berlama-lama dan selalu menyesap es-kopi-susu-gulmer itu.

Selain mengamati dan memformulasikan semua ide dan konsep di atas, Mas Handoko sendiri mengeksekusi gagasan Filosofi Kopi. Yang kini bukan sekedar coffee shop. Melainkan sudah jadi intellectual property (IP) dalam wujud film, merchandise, dan bentuk-bentuk lainnya.

Setidaknya ada tiga coffee shop saya sebut di atas ya. Belakangan, kategori coffee shop ini juga menyasar para milennial “galau”. Brand-brand seperti Janji Jiwa, Kopi Kenangan, dan beberapa lainnya berbagi cerita tentang kegalauan masing-masing.

Selain lahirnya brand-brand artisan, ekonomi dari leisure juga sedang tumbuh berkembang.

Leisure Disruption

Meningkatnya kemakmuran dan kualitas hidup konsumen Indonesia mendorong mereka untuk mulai mengonsumsi produk dan layanan yang menciptakan kesejahteraan (well-being) dan kebahagiaan (happiness) untuk mewujudkan kualitas hidup yang lebih baik.

Itu sebabnya konsumsi leiser seperti berlibur, nongkrong dan berkulineran, menonton konser musik, berolahraga, hingga kegiatan mindfulness seperti yoga tumbuh pesat.

Leisure disruption adalah perubahan pola konsumsi konsumen dari konsumsi berbasis barang (goods-based consumption) menjadi pengalaman (experience-based consumption).

Di sektor ritel, department store, hypermarket/supermarket hingga trade center mulai berguguran. Namun di sisi lain minimarket, online shopping, artisan shop/store, digital POS, hingga leisure retail justru tumbuh pesat.

Sementara di sektor pariwisata perilaku millennial travellers juga mulai bergeser. Biro perjalanan konvensional, tour guide tradisional, losmen, hingga group tour mulai ditinggalkan. Sebaliknya staycation, instagramable destination, hotel butik, nomad tourism, hingga akomodasi berbasis apps seperti Airy atau OYO kian menjamur.

(yang berwarna merah dari blog Mas Siwo). Saya lihatnya ya, tidak hanya milennial yang suka travelling. Bahkan generasi ortu saya pun juga semakin rajin travelling.

Demikian fenomena dan strategi marketing dari praktisi dan pengamat kita. Bagaimana menurut kamu? Silakan ikut berkomentar di bawah, ya!

Referensi:

Ajari Anak Berdagang Sejak Kecil

Post ini gak berisi tips-tips menjadikan anak seorang pengusaha. Sekedar menanamkan salah satu aspeknya saja, yaitu berjualan.

Post ini tidak muluk-muluk. Bukan tentang kaya dalam sekejap. Bukan juga soal membandingkan profesi karyawan, self-employee, dengan pengusaha. As simply as, mengajarkan kepada anak-anak (atau diri sendiri) tentang caranya berjualan.

As you know, usaha mikro, kecil, menengah hingga besar tidak bisa lepas dari jualan (selling). Pembeli tidak datang dengan sendirinya. Yang sudah datang pun, tidak juga ujug-ujug membeli. Kalau usaha mikro macam nasi goreng, mie ayam, warung tegal mungkin pembeli sudah jelas intensi belanjanya ya. Tinggal pelayanan (service) aja yang harus dijaga terus.

Namun bisnis skala korporat tetap butuh penjaja (salesman). Apalagi tipe proyek yang barang/layanannya belum jadi (made-by-order). Mencari dan “menangkap” calon pembeli (tentu dengan kedalaman dompet / daya beli tertentu) yang sesuai dengan produk/layanan kita — adalah seni tersendiri.

Tanpa basa-basi lebih lanjut, yuk kita coba ulas satu per satu.

  1. .Libatkan anak ketemu calon pembeli. Minimal, mereka melihat kita berinteraksi dengan si calon. Syukur kalo kita punya toko ritel. Bisa dimulai dari store keeper dulu. Yaitu yang berjaga di sekitar etalase. Tugasnya menanyakan kebutuhan orang yang datang, dan melakukan tindak lanjut (follow-up).
  2. Jadi aktifis kampus. Actually, mahasiswa itu gak punya produk/layanan. Secara inventori, tidak punya barang. Secara keahlian (skill) belum ada yang layak dijual — statusnya masih belajar. Namun, organisasi mahasiswa adalah kesempatan bagi yang bersangkutan untuk menjual ide. Iya, ‘kan? Sebelum semua jadi barang, layanan, atau acara, semuanya adalah ide. Dan di era ekonomi kreatif seperti sekarang, ide yang brilian bisa mendatangkan marjin laba yang lebih besar, lho. Nah, selama jadi mahasiswa yang aktif di kampus, sesungguhnya kita adalah pedagang ide: merancang dan menjual acara supaya acara tersebut ramai dihadiri oleh peserta, ataupun supaya acara tersebut memiliki dukungan sponsor. All-in-all, dagangannya mahasiswa secara umum adalah acara. Sederhananya, mahasiswa sebenarnya adalah event-organiser.
  3. Belajar soal product-knowledge. Kita sih gak akan bisa menguasai seluruh produk, ya. Tapi penting untuk kita memiliki penguasaan atas kategori tertentu. Misalkan, untuk remaja perempuan, paham kualitas suatu kosmetik. Persamaan dan perbedaan dengan antara merek yang satu dengan merek yang lain. Untuk remaja pria, misalnya spesifikasi smartphone atau komputer. Bila dikaitkan dengan dunia kuliah, maka sesungguhnya kuliah (terutama kuliah teknik, tanpa menyepelekan jurusan-jurusan sosial) adalah cara kita untuk memahami product-knowledge. Di antaranya: aspek-aspek fungsional paling dasar yang bisa diberikan oleh produk/layanan tersebut, material yang digunakan sebagai bahan baku, teknik yang digunakan untuk produksi, dan lain sebagainya. Yang bisa jadi konten kita dalam menjajakan produk/layanan kita kepada calon pembeli/pengguna.
  4. Belajar psikis orang lain. Di sinilah pentingnya empati, kemampuan mendengarkan, dan kemampuan berkomunikasi. Konon, salesman yang lebih bisa mendengarkan itu lebih disukai lho daripada salesman yang banyak bicara saja. Pada dasarnya kan kita menjual kepada orang juga. Jadi yang paling utama adalah kita bisa jadi teman bagi dia. Kalau kita sudah asyik dijadikan teman, sebenarnya produk apa saja bisa kita jual kepada kawan kita tersebut. Sekali lagi, di sinilah pentingnya bagi anak untuk bergaul dengan anggota keluarga besar (om, tante, ponakan, sepupu, kakek, nenek, dan lain sebagainya), terlibat dengan lingkungan (tempat tinggal / sekolah / kampus). Aktif di kampus bukan segalanya, tapi kalau terlambat memulai, setidaknya bisa memilih untuk aktif di kemahasiswaan.
  5. Belajar menulis penawaran. Menjual berarti menawarkan tetapi secara lisan. Ada kalanya jualan kita harus bisa tetap berlangsung tanpa keberadaan kita. Di sinilah pentingnya penawaran tertulis. Bentuknya macam-macam. Mulai dari brosur produk/layanan untuk yang sudah jelas penawarannya sampai yang berwujud proposal. Mulai dari proposal kegiatan (ingat mahasiswa as event organiser), proposal investasi (business plan), sampai general proposal (belum spesifik layanannya, tapi mirip portfolio atau company profile, lha). Kalau ada proposal, biasanya diikuti dengan laporan perkembangan (progress report) atau laporan akhir (final report). Jadi, bisa bikin penawaran tertulis juga penting. Dan di sinilah pentingnya copywriting.
  6. Ajarkan anak-anak pentingnya berteman (dan networking). Dulu, saya kira sekolah untuk pintar saja. Ternyata sekolah lebih penting untuk berteman. Lebih lanjut, adalah networking. Bukan sekadar teman untuk genk-genk bermain atau belajar semata, melainkan juga membangun pertemanan yang prospektif. Meski demikian, penting untuk bersikap baik kepada semua orang dan mempertahankan silaturahmi. Sambil tetap menumbuhkan jejaring (network) yang baru.
  7. Terakhir, tapi tidak bisa diabaikan betapa krusialnya yang satu ini. Adalah seni menjual diri sendiri. Bagaimana menjadi pribadi yang ramah, punya keahlian, bisa direkomendasikan oleh orang lain, punya kredibilitas, dan seterusnya. Ingat, kita manusia tidak sempurna. Pasti ada saja kelemahan kita. Sesungguhnya kita berlindung kepada Allah (subhanahu wa ta’ala) agar keburukan-keburukan kita tidak ditampakkan dan hanya kita sendiri yang mengetahui. Supaya, bukan keburukan personal tersebut yang menghalangi orang lain untuk bertransaksi dengan kita.

Bisnis itu tidak semudah dan sesederhana yang bisa diimajinasikan. Tapi kalau boleh dibikin klasifikasi lebih kecil, ada aspek pemasaran, aspek rantai suplai, dan penjualan. Semua usaha butuh peran penjualan; sekecil apapun perannya. Bahkan kita sebagai karyawan di perusahaan pun, kita perlu skill menjual. Minimal menjual ide kepada atasan untuk diimplementasikan di perusahaan. As simple as that the importance of selling skill.

Bacaan lain:

Menjawab Pertanyaan dari Email

Ada pertanyaan yang datang dari email. Bagaimana pindah ke bagian branding, setelah lama di fungsi sales? Jawaban saya ada 6 poin. Silakan disimak di post ini.

Ada pertanyaan yang datang via email:

Jakarta 13 Desember 2017

Dear Pak Ikhwan Alim ,

Salam kenal Pak Ikhwan Alim , saya ****, pria kelahiran maret 19**.
Saya lulusan S1 Teknik. S2 saya Management Marketing.

Saya tahu Pak Ikhwan Alim dari blog / website Pak Ikhwan Alim , tentang Marketing.

Riwayat pekerjaan saya: 
Dua tahun sebagai Area Sales Supervisor PT ****** Indonesia (Susu, dll) , karyawan principle nya.
Tiga tahun sebagai Area Sales Supervisor PT ******** Indonesia (Sabun, dll), karyawan principle nya.

Saya punya permasalahan “pribadi”. Sebetulnya saya minat sekali mencari posisi “Brand Manager” , atau setidaknya diawali dari Brand Executive , ataupun Assistant Brand Manager..
Namun Sejak 2012 sampai 2017 , saya coba lamar di beberapa perusahaan untuk posisi tersebut hasilnya saya gagal..
Gagal di interview user. Alasannya :  belum punya pengalaman mengembangkan brand.

Padahal saya “merasa” sudah paham tentang bagaimana mengembangkan brand khususnya consumer goods.
Mulai dari Segmentasi, strategi pricing , ATL-BTL , Brand funnel , Brand equity , consumer centricity, budgeting, dsb.

Pertanyaan saya :

  1. Apa yang harus saya lakukan ???
  2. Bagaimana dengan CV dan lamaran saya ? apa yg harus saya sampaikan saat interview user ?

Jawaban/Pendapat saya:

  1. Melihat experience dan lama kerja Bapak, tentunya Bapak (mohon maaf) dianggap belum berpengalaman untuk mengisi posisi-posisi semisal Assistant Brand Manager, apalagi Brand Manager itu sendiri. Bukan tidak mungkin memang bergabung dengan tim brand, namun harus memulai dari brand executive. Which is, secara remunerasi (gaji+bonus+dll) hampir tidak mungkin untuk memulai dari nol.
  2. Tim brand management jumlahnya sangat kecil dibanding tim sales. Sehingga kompetisi untuk bergabung ke tim brand management itu berat.
  3. Saya kira, managing the brand is about optimising the branding and distribution medium. Di mana kita sudah tahu, bahwa hampir di setiap medium selalu ada merek lain dari kompetitor. Mudah-mudahan link ini bisa membantu: https://ikhwanalim.wordpress.com/2016/06/24/kreatif-mengoptimalkan-medium-pemasaran/
  4. Kalau tim sales and distribution itu eksekusinya di distribution channel, maka tim brand management itu eksekusinya di medium-medium pemasaran (meskipun bukan tidak mungkin menggunakan perangkat-perangkat merchandise juga).
  5. Ukuran optimal/maksimal dalam mengukur kinerja brand adalah: apakah brand tersebut sudah berada di hatinya konsumen. Di sinilah tim brand management harus kreatif dengan program-program komunikasi pemasarannya serta bekerja sama dengan tim sales guna mencapai target tersebut. Tentu saja harus diukur dengan riset yang proper. Biasanya menggunakan jasa riset semacam AC Nielsen.
  6. Karena yg perlu diketahui adalah: berapa banyak konsumen yang aware? Berapa banyak konsumen yang sedang membandingkan dan mengevaluasi merek kita terhadap merek-merek kompetitor? Berapa banyak lagi konsumen yang membeli? Berapa banyak yang berlangganan?

Tugas brand management (BM), adalah meningkatkan porsi dan persentase dari masing-masing jenis konsumen tersebut. Berikut ini gambar yang bagus untuk mendeskripsikan tugas BM.  

Gambar sisip 1

  Intinya, eksekusi di medium pemasaran, sangat melibatkan konten dan konteks. ada konten untuk awareness, konten utk evaluation, dan konten utk purchase. tiap-tiap konten, kadang-kadang perlu mediumnya masing-masing.   Gambar di atas berasal dari link berikut. http://panduanim.com/konten-untuk-meningkatkan-penjualan/   2) Cobalah menjual “visi brand” Anda terhadap brand tempat anda bergabung. Nyatakan bahwa Anda sudah melakukan analisis pendahuluan terhadap brand tersebut dan industri yang dinaunginya. Nyatakan pendapat anda tentang kompetior-kompetitor dari brand tersebut. Tunjukkan “celah” atau “lubang” yang anda lihat belum dilakukan oleh brand tersebut. Tawarkan rencana aktivitas-aktivitas (branding plan) yang kira-kira akan Anda programkan sehubungan dengan menutup celah atau lubang yang ada.   Tujuannya adalah Anda menawarkan visi brand yang outstanding, yaitu visi yang menghantarkan merek memiliki positioning yang tiada duanya di benak dan hati para pelanggan.   Hanya dua itu saja yang bisa saya sampaikan. Terima kasih atas perhatiannya.   Salam,

Cara Mengoptimalkan Hashtag di Instagram

Masih banyak yang asal-asalan dalam menggunakan hashtag. Di post kali ini, saya coba elaborasi bagaimana seharusnya hashtag digunakan untuk branding dan targeting.

Hashtag berawal dari Twitter. Kurang mantul di facebook. Namun di Instagram (IG), menurut saya penggunaan hashtag jadi lebih powerful. Hanya dengan menambahkan tagar (#) kita bisa membuat sebuah kata menjadi topik yang bisa diklik (dan ditelusuri) lebih lanjut.

Kita butuh hashtag dengan reach yang tinggi, untuk menjangkau pemirsa yang lebih luas. Namun, kita juga butuh hashtag dengan reach yang rendah –bahkan hashtag yang kita buat sendiri– untuk membedakan diri dengan kompetitor.

Salah satu perilaku user di Instagram adalah mencari dan mengikuti (follow) suatu topik berdasarkan hashtag. Selain merekomendasikan user lain untuk di-follow, IG juga merekomendasikan hashtag untuk kita follow.

Bagi pelaku bisnis, ini adalah salah satu cara untuk mengekspansi konten-konten bisnis mereka agar menjangkau lebih banyak pengguna IG.

Sejauh ini, saya kira ada empat (4) macam hashtag yang bisa kita implementasikan ke dalam post IG kita guna meningkatkan reach dan engagement yang ujung-ujungnya bisa menaikkan jumlah followers kita juga. Yaitu:

  • Branded hashtag
  • Contest hashtag,
  • Niche-specific hashtag,
  • General appeal hashtag, dan
  • Timely hashtag

Branded Hashtag

Branded hashtag ini dipasang di profil dan di setiap post IG. Bisa meliputi nama brand, bisa juga berupa value proposition yang ditawarkan oleh brand anda. Karena hashtag ini dikembangkan oleh kita sendiri, tentu hashtag ini tidak populer. Dan, pada masa awal pengembangan brand, penggunaannya bisa jadi baru hanya oleh kita sendiri.

Contest hashtag.

Sesuai namanya, ini adalah tipe-tipe hashtag yang digunakan tatkala mengadakan kontes. Contohnya adalah #instacontest dan #giveaway.

General appeal hashtag

Ini adalah tag-tag yang populer digunakan; saking populernya, penggunaannya sudah sangat familiar oleh pemirsa (audiens) yang beragam. Hashtag jenis inilah yang akan memberikan kita reach yang signifikan. Hashtag ini dicirikan dengan penggunaannya yang setidaknya mencapai ratusan ribu kali. Bisa terlihat kok ketika kita mencari hashtag.

Niche-specific hashtag

Tiap industri memiliki frase dan kata kunci khas yang relevan dengan pemirsa yang ditargetkan. Nilai reach-nya tentu saja berbeda dengan general-appeal hashtags, tapi traffic yang hadir akan relevan dengan niche yang dibidik. Sebagai contoh, tagar #harrypotter bisa digunakan bila kita menjual merchandise yang diinspirasi dari serial Harry Potter.

Timely hashtag

Peristiwa (event) atau liburan tertentu dapat digunakan juga hashtag-nya. Semisal #indonesiamemilih seperti pada 17 April lalu. Atau, untuk ramadhan dan lebaran nanti, bisa pakai hashtag #ramadhan #tarawih #lebaran #idulfitri.

Yang Perlu Dilakukan:

Untuk hasil terbaik, selalu sediakan waktu dan kesempatan untuk melakukan riset terhadap hashtag. Dan gunakan kombinasi terbaik dari kelima jenis hashtag tersebut untuk meraih jangkauan (reach) terbanyak, relevansi dengan pemirsa yang ditargetkan (targeted audience/niche), dan konteks yang paling tepat (secara waktu dan momentum peristiwa). Ini semua akan mengoptimalkan proses branding dan targeting.

Tidak setiap hashtag bisa diukur efektifitasnya. Namun, itu bukan alasan untuk berhenti mencoba-coba kombinasi hashtag demi hashtag.

Saya melihat, penggunaan hashtag ini penting banget. Signifikan hasil yang diberikan, kalau dioptimalkan. Kalau tidak diapa-apakan, malah gak dapat hasil apa-apa. Jadi, ya optimasi hashtag harus terus dilakukan.

  • Pasang branded hashtag di profil IG.
  • Pastikan tiap post nya ada branded hashtag tersebut.
  • Tiga puluh (30) hashtag bisa dipakai untuk setiap post. Namun, riset menemukan bahwa antara 8-11 hashtag saja yang optimal untuk dilihat oleh pemirsa.
  • Sirkulasi hashtag secara bergantian. Selain mengekspos ke pemirsa yang lebih luas, juga mencegah akun IG kita dinilai sebagai spam oleh IG.
  • Sediakan waktu untuk meriset hashtag. Minimal, seminggu sekali untuk menemukan hashtag-hashtag baru yang bisa digunakan. Artinya, hashtag tersebut kontekstual dengan pesan yang dibawa di post IG anda. Bukan sekedar menggunakan tanpa mengetahui konteksnya.

Semoga sukses diimplementasikan, ya. Dan kalau kamu merasa post ini bermanfaat, mohon berikan komentar. Terima kasih 🙂

Referensi:

Cara Menulis Proposal Proyek

Bikin proposal proyek itu gampang-gampang susah. Ada dua faktor yang harus diantisipasi: customisation factor dan customer intimacy factor yang perlu kita ukur dan nilai sebelum memutuskan mau mengejar proyek tersebut atau tidak.

Yang tidak saya bahas dalam artikel ini adalah proposal untuk mendatangkan investasi. Artikel ini juga tidak membahas rencana bisnis (business plan).

Alhamdulillah, selama 7 (tujuh) tahun berkarir, selalu kebagian yang namanya membuat proposal proyek. Saya coba tuangkan dalam post ini, bukan berarti saya dan tim selalu sukses memenangkan proyek. Setidaknya, saya bisa berbagi di mana saja “lubang-lubang” yang harus diwaspadai. Meskipun, setelah semua ranjau-ranjau darat berhasil dihindari dan kita sampai di tujuan (baca: semua usaha sudah dilakukan), mungkin saja proyek tersebut bukan rejeki kita. Hehe.

Namanya takdir kan gak bisa dilawan, ya. Kita fokus saja dengan apa yang berada dalam kendali kita.

Ok, kita mulai. Premis awalnya adalah proposal yang mendatangkan bisnis itu gampang-gampang susah.

Gampang karena, ada saja contoh proposal yang bisa ditiru. Dan semakin kita bergelut di suatu bidang produk atau jasa, maka wujudnya proposal akan semakin begitu-gitu saja. Misalnya, proyek kontraktor bangunan, struktur proposalnya cenderung kaku. Atau proyek sistem informasi. Isinya kurang lebih akan sama dari waktu ke waktu.

Namun demikian, proposal yang menjual tidak mudah juga. Namanya proyek ya, cenderung customized ‘kan. Alias, proyek yang satu tidak benar-benar sama dengan proyek-proyek sebelumnya. Ada saja spesifikasi produk yang tidak sama, menyebabkan harga yang ditawarkan menjadi berbeda. Atau produk yang persis sama, namun karena calon klien yang meminta ternyata berbeda industri dengan yang sebelumnya, maka produk dan harganya menjadi tidak sama lagi.

Singkat cerita, di awal penyusunan proposal proyek akan terasa gampang. Mendekati deadline penyerahan proposal, semakin terasa kesulitan dalam detil-detil yang perlu kita konfirmasikan kembali ke calon klien, atau harus kita pikirkan masak-masak. Baik spesifikasi maupun harga. Belum termasuk skenario-skenario yang perlu kita perjelas dan deskripsikan lebih lanjut. Sehingga transparan bagi kedua pihak.

Customisation

Kustomisasi ini terbagi dalam tiga hal. Product/Service Management, Delivery Management dan Cash Management. Yang pertama meliputi produk/layanan itu sendiri. Terutama adalah kesesuaian/ketepatan dengan kebutuhan (requirement) dari klien. Ini teknis banget lha ya, sesuai bidang bisnis masing-masing. Tentu anda lebih memahami daripada saya.

Yang kedua menyangkut ekspektasi dan keterpenuhan dari apa yang kita janjikan. Yaitu, how to deliver the product/service and related documentation. Kerapihan dan keteraturan administrasi (termasuk dokumentasi) yang menjadi kunci di sini. Kapan presentasi, apa yang dipresentasikan, dokumen teknis apa yang harus dilengkapi, bagaimana dengan laporan kemajuan (progress report), meeting apa yang harus ada, dan seterusnya.

Ketiga, soal keuangan. Ini ada kaitannya dengan pertama dan kedua. Mana keuangan yang kita harus mendanainya terlebih dahulu, apa yang bisa dilakukan dengan uang muka dari klien, bagaimana cara menekan biaya material/teknologi/proses tanpa mengurangi kualitas yang sudah ditetapkan di requirement, dan lain sebagainya. Mengapa demikian? Simply karena project-based business (terutama yang di-tender-kan) itu omzetnya sudah ketahuan di depan (dan tidak ada invoice tambahan). Kalau proyek non tender, kita sendiri harus pintar pasang harga karena (bisa jadi) cost-nya tidak fleksibel-fleksibel banget.

Seni main proyek adalah merancang biaya produksi serendah-rendahnya sejak awal.

Tidak mahir main proyek bisa menyebabkan rugi, nombok, bahkan bangkrut.

Jam terbang tentu mempengaruhi kemampuan tersebut, ya. Penguasaan proses/teknologi/material ikut menentukan “how low can you go with the cost“.

Customer Intimacy

Kesuksesan proyek kita akan ditentukan oleh hubungan kita dengan klien/pelanggan. Kenali dulu pelanggan kita ini: hard/easy customer? Seberapa dalam “kantong”-nya? Kalau kita sukses di proyek ini, seberapa mungkin kita dapat proyek lain dari mereka (langsung maupun tidak langsung)? Kerjasama tim kita dengan tim mereka akan “semanis” apa?

Meskipun kita sedang membahas bisnis berbasis proyek, namun tetap saja keberhasilannya tergantung dari manusianya juga. Karena manusia yang membelinya, dan manusia juga yang akan menggunakannya. Jadi hubungan antar manusia ini harus bisa kita berikan observasi/penilaian sejak awal.

Conclusion

All in all, kesimpulan core of the core-nya adalah tetapkan di “medan juang” mana kita ingin bertarung. How worth it or profit a project seharusnya sudah bisa diprediksi dan ketahuan bahkan sejak proposalnya ditulis.

Setengah bercanda: cara meningkatkan persentase kemenangan proposal yang diserahkan kepada klien adalah dengan mengurangi pengumpulan proposal itu sendiri. Dark jokes for me, but it is really true.

Bagaimana caranya? Sudah dibahas di atas: Customization and Customer Intimacy.

Beda Marketing di Banking vs FMCG



Dalam 7 hari terakhir ternyata ada yang mampir ke blog ini karena mencari tahu tentang “perbedaan marketing perbankan dan FMCG”. Fast Moving Consumer Goods. Kita coba ulas sedikit ya 🙂

62bstrategi2bmarketing2busaha

Marketing Perbankan

Di perbankan, pelanggan (nasabah) dibagi menjadi nasabah perorangan/ritel dan nasabah bisnis (UMKM, Commercial, dan Corporate). Nasabah ritel sendiri ada yang masuk kategori biasa, ada juga yang masuk kelompok “Luar Biasa”. Yang luar biasa tabungannya ini, punya sebutan macam-macam tergantung bank itu sendiri. Ada yang kasih nama Affluent, ada juga High-End Worth, atau lainnya. Intinya yang minimal saldo tabungannya di kisaran ratusan juta atau miliar. Jangan heran juga kalau bank bikin kategori nasabah dengan kekayaan di atas angka tersebut.

Nah, untuk nasabah perorangan kategori biasa, dilayani dengan berbagai produk di kantor cabang. Which is, hampir setiap produk tersebut ada product owner / product manager-nya di kantor pusat. Kalau di kantor cabang utama (KCU) / kantor cabang pembantu (KCP) / kantor wilayah (kanwil) biasanya hanya sebagai penyaluran/penjualan produk tabungan (tabungan biasa, kartu debit, tabungan anak, dll), pinjaman (kredit tanpa agunan, KPR, KKB), atau lainnya (internet banking, dll).

Untuk nasabah UMKM, Commercial, dan Corporate, tentu saja ada produk-produk lain yang ditawarkan. Tugas product owner/manager nya adalah:

  • melakukan riset needs and wants-nya si nasabah,
  • mengembangkan fitur-fitur sesuai kebutuhan/keinginan nasabah,
  • membuat dan melaksanakan program untuk menambah nasabah baru, atau menambah penggunaan oleh nasabah lama.

Tupoksinya relatif sama dengan product owner di nasabah ritel. Pengelompokan produknya juga sama: simpanan, pinjaman, atau lainnya yang tidak termasuk keduanya (ada yang menyebut dengan istilah FBI, Fee-Based Income). Dalam pendekatan penjualannya, hanya satu perbedaanya dengan nasabah ritel (terutama kepada nasabah korporat), yaitu bisa dilakukan kustomisasi khusus. Misalnya bunga yang lebih rendah, rentang pinjaman lebih panjang, kartu debit khusus karyawan korporat tersebut, dlsb.

Di mana produk-produk UMKM, Commercial, dan Corporate tersebut dijual? Tentu saja di kantor cabang – kantor cabang. Which is, kita tahu sendiri di Indonesia, pusat bisnis adalah di Jakarta. Sehingga produk korporat mostly “berkantor” di kantor pusat. Dengan salesman-nya harus mendatangi calon nasabah satu demi satu. Kalau commercial atau UMKM bisa “nebeng” di kantor cabang. Misalnya, produk pinjaman perbankan untuk industri shipping maka dijualnya di kantor cabang yang beroperasi di kota-kota pelabuhan: Makassar, Surabaya, Balikpapan, dlsb.

Kalau UMKM kan jelas ada di setiap kota kan ya. PR-nya bank adalah mendesain sistem distribusi produk tersebut yang paling efisien:

  • apakah harus ada kantor cabang khusus UMKM, atau
  • bisa “nebeng” buka kantor juga di KCU, atau
  • cukup menempatkan salesman khusus produk tersebut di KCU, atau
  • ternyata produk tersebut harus dititip ke general salesman yang jualannya palugada, dst.

Marketing FMCG

Tupoksi Product manager / product owner / brand manager di FMCG relatif sama dengan di perbankan. Mungkin tambahannya adalah harus pintar-pintar melakukan kerja sama. Tujuan kerja samanya ada dua. Secara umum adalah menurunkan biaya promosi atau supaya konsumen akhir (end consumer) tidak bosan. Misalnya lewat product bundling, atau co-branding product, atau co-promotion product.

Selain itu adalah bekerja sama dengan agensi periklanan (TVC, Radio, koran, online, event organiser, dlsb) dan perusahaan riset komunikasi (paling besar di Indonesia itu AC Nielsen).

Jadi di kantor pusat FMCG, selain yang sudah disebut di bagian perbankan di atas, adalah juga mengurusi komunikasi, promosi, dan branding merek-merek yang dikelola. Tentu saja berurusan dengan uang: membuat rencana kerja berikut anggarannya, dan mengevaluasi pelaksanaan di lapangan. Dinamika kompetitor dan consumer behavior (terdiri dari media behavior dan buying habit) turut mempengaruhi dan menentukan bagaimana seharusnya anggaran dihabiskan. Omzet ideal yang ditarget adalah 20 kali lipat dari biaya komunikasi yang dikeluarkan. Insight lain yang saya dapat di tahun 2015 adalah bahwa tingkat keberhasilan produk baru untuk bertahan di pasar hanya 16%.

Lalu, siapa yang menjual? Ada bagian penjualan tersendiri di FMCG. Untuk diketahui, target market di FMCG bukanlah konsumen akhir. Melainkan toko-toko di mana end consumer tersebut berbelanja. Berikut distributornya. Oleh sebab itu, perusahaan harus berkomunikasi langsung dengan end consumer. Baik lewat ATL, BTL, Online, bahkan via packaging!. Sehingga ada demand dari consumer untuk berbelanja produk/merek tersebut di channel langganan: minimarket, toko kelontong, supermarket, hypermarket, dlsb.

Jadi bagian penjualan ini menjual kepada perusahaan distributor. Tidak boleh menjadi distributor langsung. Minimal dengan badan hukum PT yang berbeda (meskipun mungkin dari grup usaha yang sama). Brand owner biasa memberi diskon kepada distributor. Distributor pun ada diskon tersendiri kepada channel.

Penjualan di minimarket franchise seperti si biru atau si merah, mungkin saja dilakukan langsung oleh si PT FMCG ini. Usaha ritel si merah dan biru punya warehouse (semacam gudang raksasa) sendiri. Jadi tinggal deal dan kirim barang ke gudang mereka.

Sementara demikian dulu. Mudah-mudahan bermanfaat, ya. Pertanyan bisa ke ihwanul.alim@gmail.com

Surabaya, 2 Juni 2018.



From Marketer to UX Designer

Produk yang bagus itu, salah satu kriterianya adalah tidak perlu dipasarkan. Tidak perlu di-branding oleh tim marketer, enggak perlu di-push sedemikian rupa oleh orang-orang sales. Gak butuh diskon yang sedemikian rupa juga, supaya calon pembeli mau mengambil, membayar lalu menggunakannya.

Simpel saja, karena produk yang bagus itu “menjual” dirinya sendiri. Tokoh yang paling berjasa adalah perancangnya. Bagaimana si desainer (atau tim desainer) merancang fisik maupun fitur tersebut, sehingga berhasil memenuhi kebutuhan atau keinginan si calon pemakai yang ditargetkan.

Tentunya gagasan soal fitur tidak turun dari langit. Perancang produk wajib hukumnya memahami lingkup urusan/masalah yang dihadapi, mengobservasi user lalu berdasar dua sumber informasi tersebut, melakukan analisis lanjutan.

Namanya juga merancang solusi dari suatu masalah, maka ukuran “sukses” dari solusi tersebut harus benar-benar nyata/kongkrit. Dari sisi pengguna, “pain point”-nya harus dirasakan banget oleh si perancang. Makanya, desainer itu harus empatik dan “mampu untuk ikut mengalami apa yang dirasakan oleh pengguna”.

Fase eksplorasi adalah soal mengidentifikasi kebutuhan (identifying needs). Pada dasarnya, ada dua kelompok kebutuhan. Dari penyedia produk/fitur, dan dari penggunanya. Pertanyaan pertama yang harus dijawab dalam fase perdana ini adalah “Bagaimana ukuran sukses dari solusi ini?”. Wawancara mendalam (in-depth interview) terhadap product/brand manager/owner saja akan cukup menjawab pertanyaan tersebut.

Fase kedua adalah momen kolaborasi menciptakan solusi dengan berbagai wawasan dan referensi yang berhasil dikumpulkan. Sederhananya, produk/fitur/layanan dibuatkan beberapa sketsa yang dipresentasikan bersama, lalu “dihajar” dengan berbagai kritik dan masukan, sehingga berbagai masukan tersebut bisa dielaborasi menghasilkan produk/fitur/layanan yang komprehensif.

Inilah yang kemudian divalidasi (fase ketiga) dengan metodologi dan mekanisme riset yang lebih tepat. Satu yang cukup sering digunakan adalah focus group discussion (FGD), yaitu diskusi dalam grup membahas suatu produk/fitur secara spesifik. Peserta FGD diutamakan mereka yang benar-benar menjadi pengguna produknya. Wawasan (insight) dari pengguna pastinya lebih tajam daripada mereka yang hanya mengobservasi alias pengamat.

Ada juga A/B Testing, yang membandingkan respon pengguna antara perlakuan A dengan perlakuan B.

Jadi, marketer jaman now tidak hanya harus menguasai branding, melainkan juga menjadi perancang atas produk/fitur/layanan yang dia tawarkan. Sehingga, rancangannya dapat memberikan UX alias pengalaman pengguna yang solutif sekaligus melegakan (relieving).

Tidak hanya membutuhkan UX Designer, yang meriset respon dan interaksi pengguna terhadap elemen-elemen visual seperti bentuk maupun warna. Lama-kelamaan dibutuhkan pula posisi pekerjaan (terutama di industri teknologi digital) yang lebih fokus pada pengalaman pengguna (user experience) tatkala berinteraksi dengan kata atau kalimat. Label ini yang semakin umum dipakai pula adalah UX Writer.