Bisnis yang cocok menggunakan SEO

Lima kriteria produk/usaha yang cocok dipasarkan dengan teknik-teknik SEO

SEO (Search Engine Optimisation) adalah salah satu tools dalam digital marketing. Sebagaimana tools lainnya, tidak semua produk atau bisnis, cocok dengan metode pemasaran ini. Sebab, tidak ada satu peluru (atau senjata) marketing yang sukses di semua pasar, produk/jasa, atau tipe usaha.

Berikut ini, saya sarikan 5 (lima) kriteria dari produk atau usaha yang cocok menggunakan teknik-teknik SEO.

Ada yang mencari di mesin pencari.

Bukan sekedar mencari untuk lebih tahu, sebenarnya. Tapi cenderung untuk membeli.

Kalau untuk tahu, ada yang mencari di internet untuk mendapatkan letak toko terdekat, menemukan kelebihan-kekurangan produknya (mencari konten review produk), membuat produknya sendiri (DIY – Do It Yourself), dan lain sebagainya.

Yang perlu kita temukan adalah pembeli-pembeli yang sudah melalui fase di atas, ingin merasakan solusi, serta bersedia membayar.

Jadi, yang mencari pasti ada. Namun, validasi adalah aktifitas lanjutan yang wajib kita lakukan untuk menyaring para pencari sehingga kita mendapatkan para calon pembeli.

Ada dua tools yang saya gunakan. Yaitu perangkat yang bisa merekomendasikan kata kunci (keyword) untuk dibidik, serta perangkat trends.google.com untuk memahami tren penggunaan keyword tersebut oleh para calon pembeli.

BACA JUGA:  6 Saluran Internet Marketing yang Harus Anda Ketahui

Produknya tidak identik dengan marketplace.

Apa saja produk yang bisa dijual di marketplace seperti Tokopedia, Lazada, Bukalapak, Shopee, Blibli, dan sejenisnya?

Makanan, pakaian, perlengkapan, dan sebagainya yang pembeli dan penggunaanya adalah orang yang sama. Kemungkinan besar, dia yang membeli, dia yang membayar, dan dia juga yang menggunakan.

Ada cara kedua untuk mengidentifikasi. Yaitu, bagaimana pengiriman produk akan dilakukan. Apa mungkin produk tersebut dikirim melalui jasa kurir seperti JNE, JNT, Paxel, SiCepat, dan sejenisnya?

Bila ya, itu artinya produk tersebut cukup kecil atau ringkas untuk dikirim menggunakan sepeda motor, dan bisa sampai ke pengguna dalam waktu singkat (2-3 hari). Bukan barang yang berat, sehingga harus kurir dengan volume besar (mobil box antar kota, kapal antar pulau).

Produk/layanan masih baru

Karena kalau sudah agak lama, dia akan berada di marketplace. Mengapa?

Kalau market sudah memahami spesifikasi dan harga produk tersebut, maka akan ada produsen yang membuatnya secara massal. Ini berjalan dua arah, sebenarnya. Market paham, permintaan meningkat. Suplier paham, penawaran produk ikut meningkat. Jadi sama-sama mempengaruhi, sebenarnya.

Produk atau jasa yang bisa di-SEO-kan adalah produk dengan pengguna relatif terbatas (belum tentu nilai market-nya kecil, ya) atau produk yang sulit disediakan karena kerumitan spesifikasinya. “Terbatas” juga bisa berarti produk tersebut sulit/mahal untuk dikirim jarak jauh.

BACA JUGA:  Beberapa Tips Marketing Lewat Instagram Yang Dapat Anda Terapkan Di Bisnis Anda

Siap menunggu 6-12 bulan

SEO tidak menghasilkan secara instant. Harus bersedia keluar uang dulu untuk “mengedukasi” pasar. Hasil berupa leads, apalagi omzet tidak datang dalam seminggu, apalagi sehari. Kita wajib menunggu 6-12 bulan hingga calon pembeli yang bertanya, atau bahkan hingga benar-benar mengeksekusi pembelian. Paling cepat pun sekitar 4 bulan.

Marjin laba (profit margin) lebih dari cukup

Karena harus investasi dulu 4-6 bulan sebelum menemukan pembeli, maka keuntungan dari lini produk tersebut harus cukup untuk membiayai jasa SEO.

Kalau di marketplace, harga sudah terbentuk. Persaingan bukan lagi sekedar harga terendah. Yes, laba dan marjinnya tergerus tajam. Melainkan di layanan (service) apa yang diberikan oleh toko (termasuk diskon atau bentuk potongan harga yang lain), dan efisiensi rantai suplai (supply chain).


Lima kriteria di atas mulai menunjukkan titik terang menuju jalan yang lurus dalam menggunakan teknik SEO.

Yaitu, produk atau usaha Anda merupakan usaha bisnis yang sifatnya business-to-business (B2B). Atau, merupakan jasa yang dicari dalam radius tertentu (skala kecamata, kota, atau jarak tertentu).

Anda sudah paham apa itu B2B. Seringkali, pengguna produk/jasanya tidak sama dengan yang membayar (alias bagian keuangan). Demikian pula yang menghendaki/memutuskan pembelian; dia bukan technical user, bukan pula finance. Minimum, kita harus mengedukasi ketiga pihak tersebut lewat konten-konten kita.

BACA JUGA:  6 Cara Riset Content Marketing yang Akan Membuat Pengunjung Betah Berlama-lama di Web Anda

Terima kasih. Semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *