Segmentasi Masjid di Indonesia

Pahami segmennya. Analisis targetnya. Petakan strateginya. Demi kemakmuran masjid bersama.

Sudah lama ingin berutak-atik-gathuk soal analisis STP terhadap masjid-masjid di negeri ini. Selama ini, sok sibuk kejar tenggat waktu (deadline) pekerjaan. Nge-blog seadanya seminggu sekali.

Nah, Mumpung lagi Ramadhan 1441 Hijriyah, lagi ingin menindaklanjuti konten lama di blog lama juga: https://ikhwanalim.wordpress.com/2015/07/16/masjidpreneurship/

Dilihat dari perspektif strategic marketing, ada beberapa segmen bangunan ibadah tersebut di Indonesia. Pendekatan primer dalam kategorisasi berikut ini adalah berdasar demografi dan perilaku (behaviour) para jama’ahnya.

Masjid Perumahan

Tentu saja jamaah utamanya warga setempat. Demografinya mengikuti usia perumahan tersebut. Saya lihat, ada dua subkategori. Masing-masing subkategori membutuhkan pendekatan yang berbeda.

Perumahan Baru.

Isinya keluarga-keluarga muda. Dengan anak-anak yang masih kecil.

Materi Islamic Parenting cocok untuk lingkungan tersebut.

Perumahan Lama

Perumahan yang sudah berusia 3-4 dekade. Penghuni utamanya didominasi pensiunan. Banyak kakek-nenek. Anak-anak kecil adalah cucu-cucu mereka. Sedikit sekali keluarga muda.

Masjid Perkantoran

Menurut JK, kantor-kantor boleh membangunnya sendiri. Karena ibadah Jumat masih dilakukan di hari kerja. Untuk mempersingkat jarak dan waktu, kantor boleh menyediakan masjid dan menyelenggarakan shalat Jumat.

Jama’ah segmen kantor nyaris tidak ada anak kecil. Paling tua di usia sekitar pensiun (sebelum maupun sesudahnya, karena masih ada yang dikontrak kerja pasca pensiun). Pemuda-pemudi yang baru bergabung di perusahaan, bisa ditarget dengan materi seputar persiapan pernikahan. Contoh materinya: memilih dan mendidik pasangan menuju keluarga sakinah, mawaddah, dan warahmah.

BACA JUGA:  7 skill yang diperlukan profesi PR sejak sekarang
Masjid Perkantoran
An-Nuur, Masjid Kantor Bio Farma di Kota Bandung

Masjid Pusat Perbelanjaan

Pusat belanja, baik modern atau semi modern, buka di empat (4) waktu sholat. Dhuhur sampai Isya. Tidak heran ‘kan pusat perbelanjaan harus ada tempat ibadah yang cukup secara kapasitas, nyaman digunakan oleh banyak orang secara bergantian, dan buka di rentang waktu yang panjang.

Masjid Pusat Perbelanjaan
Masjid Nurul Iman, di lantai 7 Blok M Square, Jakarta Selatan

Masjid Kampus

Diramaikan oleh mahasiswa, civitas akademika, hingga pedagang-pedagang di sekitar.

Sebelum kehadiran Masjid Salman (1972), warga ITB memanfaatkan Aula Barat untuk melaksanakan Shalat Jumat. Masjid Salman ITB kini memosisikan diri (“positioning“) sebagai “pembina” bagi masjid-masjid lainnya. Infografis berikut menyajikan pembinaan tersebut dalam angka.

Masjid Agung

Selain kapasitasnya yang memang besar, yang biasanya masuk ke dalam klasifikasi ini juga menjadi simbol suatu kota/kabupaten.

Terletak di pusat keramaian dan belanja kota Bandung: Jalan Asia Afrika. http://humas.bandung.go.id/humas/profil/riwayat-denyut-kota-bandung

Pemberian Nama

Nama adalah do’a. Jadi berikanlah nama sesuai dengan kebaikan yang dikehendaki akan terwujud oleh do’a. Selain itu, nama adalah identitas yang menjadikan pemilik nama (termasuk bangunan ibadah umat muslim) menjadi berbeda dari lainnya.

Tidak apa memberi nama dengan nama orang. Maksudnya bukan untuk mengkultuskan orang tersebut. Termasuk ketika dibangun dari wakafnya seseorang. Cek link ini untuk lebih paham https://konsultasisyariah.com/33421-memberi-nama-masjid-dengan-nama-orang.html

Atau beri nama sesuai data-fakta/karakter masjid tersebut. Misalnya, Al-Muhajirin, karena memang menjadi persinggahan sementara oleh orang-orang yang tidak tinggal atau bekerja di wilayah tersebut. Kebetulan, di perumahan saya maupun perumahan ortu saya, nama masjidnya sama-sama Al-Muhajirin.

BACA JUGA:  Positioning-Differentiation-Branding

Cara ketiga adalah memberi nama sesuai dengan nama daerah,seperti misalnya Masjid Jogokariyan. Jogokariyan adalah nama kampung. Bukan ofisial nama kelurahan atau kecamatan. CMIIW.

Yang disebut terakhir ini unik, karena selalu berupaya agar pada tiap pengumuman, saldo infaq hanya setara nol rupiah. Alasannya sederhana, saldo yang sangat besar akan menyakiti saat ada sebagian warga yang sakit namun tak bisa ke rumah sakit karena tak punya biaya, atau ada warga miskin yang tidak bisa bersekolah, dan dan sebagainya.

Ramah Anak

Reposisi dari “masjid yang menganggap anak-anak sebagai pengganggu kekhusyukan beribadah” menjadi “masjid sayang anak”

Selain itu, anggapan bahwa anak-anak tidak boleh berada di shaf depan. Padahal hak ada di shaf depan adalah yang datang duluan, bukan berdasarkan usia.

Pusat Ekonomi

Pencipta keramaian (crowd). Di mana ada crowd, saya yakin di sana ada pasar. Dengan sendirinya, masjid yang ramai adalah pusat perputaran ekonomi. Manajemen wajib berbuat adil dengan tidak mengusahakan suatu kegiatan ekonomi yang sudah dilakukan oleh salah satu jama’ahnya. Contohnya adalah warung makan, minimarket, printing/photocopy, konter HP dan pulsa, busana muslim, percetakan, penerbit, atau kios buku merupakan salah satu usaha riil yang bisa ditempuh dalam rangka membangun kewirausahaan.

Menuju Kemakmuran

Yang utama bukanlah kemegahan bangunan fisiknya. Melainkan kemakmuran di dalam dan luarnya. Segmentasi yang sudah disusun di atas, hanyalah salah satu strategi “pemasaran” menuju kemakmuran masjid yang lebih baik dari waktu ke waktu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *