Work From Anywhere

Kantor yang officially memberlakukan WFA ini memang masih punya headquarter dan tentu saja para karyawannya bisa datang dan bekerja di sana. Asumsi yang dipakai adalah yang datang bekerja tidak akan seluruh karyawan.

Setelah WFH dan WFB (Work From Bali), kini terbit lagi istilah baru: WFA. Work From Anywhere ini literally bisa memilih bekerja di mana saja. Kantor yang officially memberlakukan WFA ini memang masih punya headquarter dan tentu saja para karyawannya bisa datang dan bekerja di sana. Asumsi yang dipakai adalah yang datang bekerja tidak akan seluruh karyawan.

Dengan demikian, banyak cost bisa ditekan. Mulai dari sewa gedung (karena bisa menyewa gedung kecil saja), makan siang atau snack (karena bukan seluruh perut karyawan yang harus diisi, melainkan sesuai kuota maksimal saja), dan tentu saja perintilan-perintilan yang kalau dikali jumlah karyawan akan lumayan juga nilai rupiahnya (misalnya air mineral merek premium).

Saya sendiri masih WFH, tapi saya sudah merasakan enaknya WFA. Karena dengan WFA maka saya tidak hanya berperan lebih baik sebagai suami maupun ayah. Namun juga saya bisa membantu lebih banyak, baik di keluarga besar sendiri maupun keluarga mertua yang notabene saat ini berbeda kota dengan kami.

Ketika kantor memanggil untuk WFO lagi, saya wajib untuk memenuhi panggilan tersebut. Kecuali ada ajakan dari perusahaan lain untuk WFA, maka mungkin saya akan bergeser ke new company tersebut, hehehe.

Dari sisi company yang memberlakukan WFA, tentu ada challenges-nya juga ya. Tidak hanya soal cost yang ditekan dan mungkin menebalkan profit-nya perusahaan. Misalkan soal corporate culture, yang lebih sulit dibangun karena minimnya tatap muka — dan akhirnya harus dieksekusi via online, misalnya. Kemudian soal desain posisi pekerjaan berikut dengan job description-nya; supaya beban kerja, deliverables, kualifikasi kandidat, dan knowledge transfer tidak menciptakan masalah baru ketika ada yang resign dan rekrutan anyar sedang beradaptasi.

Dari saya pribadi, at this moment, berpendapat bahwa setidaknya karyawan baru tersebut perlu hadir di 3 bulan pertama di perusahaan tempat dia bekerja. Bukan ujug-ujug langsung merasakan mekanisme WFA. Tapi saya kan bukan HR ya, jadi mungkin yang HR punya pendapat yang lebih valid.

Perusahaan mana saja yang sudah menerapkan mekanisme WFA. Berikut ini adalah beberapa di antaranya:

Selain yang sudah disebutkan di atas, tentu saja masih banyak perusahaan lain yang menyediakan posisi pekerjaan dengan mekanisme WFA.

Saya kira tren WFO, WFH, WFB, maupun WFA ini tidak ada yang mati. Masing-masing akan selalu ada peminatnya dan juga selalu ada perusahaan yang berusaha menyediakannya. Tinggal kembali ke masing-masing employer dan employee untuk menerapkan berbagai mekanisme bekerja tersebut.

Digital Wellness

Digital Wellness alias ‘kesehatan’ digital.

Boleh ke Digital Citizenship untuk zooming out dan lebih paham konteksnya secara helicopter view. Digital Wellness adalah salah satu di antara Digital Citizenship tersebut.

Yes, teknologi digital dan sekaligus internet memberikan banyak sekali keuntungan. Mulai dari mencari dan mendapatkan informasi, membandingkan antar produk atau layanan, sampai dengan melakukan pembelian.

Namun, teknologi yang telah mengubah kehidupan kita sehari-hari tersebut juga punya sisi lain yang bisa mencegah kita mendapatkan pengalaman terbaik dalam berinternet dan berdigital.

Makin banyak waktu yang dihabiskan untuk ber-daring, maka semakin besar juga risiko atas paparan terhadap masalah kesehatan fisik (mata, misalnya), peretasan (hacking), perundungan (bullying), atau bahkan lebih buruk lagi.

Saya menggunakan social media (socmed) untuk bertemu, berteman dan berbagi informasi dengan banyak orang. Juga dalam mengekspresikan diri serta belajar dari pengalaman yang dibagikan orang lain di akun-akun digitalnya.

Namun, dari socmed yang sama juga kita mendapatkan rasa kecemburuan yang mungkin berlebihan. Eksposur yang berlebihan tersebut juga memungkinkan kita mengalami depresi, rendahnya kepercayaan diri (low self-esteem), maupun masalah mental lainnya.

Perihal masalah mental, kita pengguna internet, khususnya Gen Z, banyak menggunakan istilah-istilah kesehatan mental yang sebenarnya baru layak digunakan pasca berkonsultasi dengan ahlinya.

Dalam survei terhadap 1.500 orang dewasa muda tentang dampak socmed pada masalah-masalah seperti kecemasan, depresi, identitas diri, dan citra tubuh, ditemukan bahwa YouTube memiliki dampak paling positif bila dibandingkan dengan Instagram, Facebook, Twitter yang menunjukkan efek lebih negatif secara keseluruhan.

Menanggapi semua diskursus tersebut, ini ada beberapa strategi sederhana yang bisa kita lakukan dalam mengurangi emosi negatif dan perilaku kompulsif (menurut definisi, kompulsif adalah ide yang menetap di pikiran kita dan selalu mendorong kita melakukan ‘sesuatu’):

  • Pastikan niat-tujuan kita sebelum nge-posting sesuatu di socmed. Sekedar posting-an menitip sejarah di socmed kah, pamer isi etalase kah, dsb. Jika kita ingin divalidasi oleh orang lain, tanyakan pada diri kita sendiri, “Apakah ada sesuatu yang lebih konstruktif yang dapat saya lakukan untuk memenuhi kebutuhan tersebut?”
  • Batasi waktu yang kita habiskan di socmed setiap hari. Penelitian menunjukkan bahwa orang yang menghabiskan lebih dari dua jam per hari di socmed memiliki self-esteem yang lebih rendah daripada mereka yang tidak.
  • Memang ada orang-orang yang hidup dari socmed, seperti selebgram atau YouTuber. Kamu bisa jadi salah satunya, bisa juga tidak. Apabila tidak, maka tidak usah bersedih. Socmed is not for everybody, lah.

Jadi, cakupan Digital Wellness yang saya bicarakan di atas, lebih pada aspek kesehatan mental. Secara fisik, ada pula kesehatan dan kebugaran yang perlu kita jaga. Di antaranya adalah:

  • Posisi duduk yang ergonomis ketika bekerja dengan meja dan komputer, sehingga tidak menyebabkan pegal, sakit tulang belakang, skoliosis, dan lain sebagainya.
  • Screen time untuk semua gawai, termasuk TV. Sehingga mata kita terjaga kesehatannya dan bisa dipakai dalam jangka panjang.

Digital Minimalism Versi Saya

Digital itu ibarat pisau. Bermanfaat atau membahayakan kembali pada penggunanya. Demi manfaat maksimal, kita eksekusi “Digital Minimalism”

Sebagai imigran di dunia digital -yang baru mengenal digital ketika remaja- saya merasakan betul “keterhisapan” diri saya ke dunia digital lewat “jendela” smartphone. Mungkin sejak socmed mungkin diinstal di smartphone ya.

Sempat tuh saya instal mobile app-nya Twitter. Tapi karena terlalu mendistraksi kehidupan, uninstall-lah itu barang. Meskipun, karena “kejujuran” adalah karakter Twitter, maka saya tidak bisa lepas dari Twitter yang “apa-adanya” itu. Alhasil saya tetap rutin membukanya, namun kali ini lewat mobile browser.

Digital Minimalism, sebuah buku oleh Cal Newport
Beli buku yang asli ya. Demi menghargai penulis, penerbit, distributor dan toko buku.

Alhamdulillah saya belum pernah benar-benar buruk dalam ber-socmed. Masih bijak lah, hahaha.

Adik saya tuh, pada suatu masa, sangat hobi bersambat-ria secara masif lewat Twitter. Sudah dua puluhan ribu twit lah ketika dia stop memakai socmed yg satu itu.

Saya tidak bisa protes banyak-banyak ke adik. Karena faktanya digital kini sudah menjadi dunia kita. Saya menginsyafi bahwa digital sebagai dunia kita tidak berarti meninggalkan realitas yang ada di dunia nyata.

Digital tuh sudah seharusnya support dunia riil kita. Bukan sebaliknya kita “menyerahkan” waktu dan perhatian kita sepenuhnya ke dunia digital.

Iya, presence di socmed perlu dan semakin menjadi kebutuhan kan ya. Misalnya, bikin profil LinkedIn demi bisa ditemukan oleh recruiter. Di sisi lain, over-presence jangan sampai menjauhkan kita dari keluarga dan bestie(s) kita.

Sudah jamak terjadi kan ya komunikasi yang kelewat intens via socmed atau chat app, tapi lupa meminta pendapat dari mereka yang fisiknya ada di sekitar kita.

Jadinya kita judging bahwa yang secara fisik dekat sama kita malah tidak peduli. Sepengetahuan saya, hal-hal semacam ini di tahun 2022 adakalanya berujung pada “spilling the tea” di Twitter. Maksud saya, semacam membuka aib keluarga atau pertemanan ke socmed yang notabene berisi lebih banyak orang asing yang tidak paham konteks keluarga kita.

Soal following other accounts di Instagram, saya baru follow kalau posts-nya sudah lebih dari 100. Haha. Itu adalah cara saya memfilter siapa saja yg berhak “mengganggu” kehidupan saya ketika scrolling the timeline.

Pernah juga tuh saya komitmen tidak install chatting app-nya kantor di smartphone saya. As simple as agar tidak mengikuti perkembangan pekerjaan di luar jam kerja. Kemudian saya berubah. Saya sadari bahwa hal tersebut penting juga dan akhirnya saya install juga app tersebut lalu membukanya secara reguler di luar jam kantor.

Saya mengamati, sekali dalam beberapa hari ibu saya pun biasa wondering (alias bertanya-tanya) tentang apa yang sedang dirasakan seseorang tatkala beliau menyimak WA stories dari yang bersangkutan (ybs). Maksud saya, ndak perlu lah kita kepo lebih lanjut dengan curhatnya seseorang di WA/IG story. Kepo tetap perlu, apalagi jika ybs secara tersurat menyatakan ingin bunuh diri, misalnya. Itu kan ke-kepo-an yg perlu demi mencegah hal lebih buruk jangan sampai terjadi.

Poin saya adalah, do filtering aja. How much do we want ourselves to be sucked in into that digital things? While we have so many things to do right here and right now?

Yeah, tidak bisa dibantah juga sih godaan-godaan syaithon semacam flexing or expressing emotion through stories. Hahaha.

Beda Part Time dan Freelance

Part time dan freelance memang beda. Perbedaannya terletak pada apa yang bisa kamu lakukan di luar part time dan freelance tersebut.

Dalam hal kita mengambil/memberi pekerjaan dari/kepada orang lain, kita bisa mengukurnya berdasarkan total pekerjaan itu sendiri, yang terdiri dari tugas-tugas yang lebih kecil. Bisa seperti itu, bisa juga kita mengukurnya berdasar pada berapa lama kita mengerjakan pekerjaan atau tugas-tugas tersebut.

Untuk yang pertama, kita bisa menggunakan ukuran lumpsum atau istilah lapangannya adalah borongan. Untuk yang kedua, ukurannya adalah jangka waktu.

Asumsi-asumsi yang umum dipakai untuk yang kedua, antara lain adalah: satu bulan ada 20 hari kerja, satu pekan terdiri dari 40 jam kerja (alias satu hari 8 jam kerja). Orang bergaji bulanan itu biasanya dihitung man-month; apapun tugas yang harus diselesaikan, bayarannya sekian dan dibayarkan hanya sekali dalam satu bulan. Kalau pesepakbola profesional di Inggris Raya sana, gajinya per pekan. Tidak ada bedanya, yang satu per pekan, satunya per bulan.

Nah, part-time sesungguhnya adalah separuh waktu kerja. Kalau di kantor tersebut 40 jam kerja untuk full-time, maka part-time-nya 20 jam. Kalau satu bulan untuk full time adalah 20 hari, maka part-timer-nya 10 hari. Intinya, dan untuk mudahnya, biasanya dihitung 50% saja dari full-nya.

Bagaimana dengan freelancer? Nah, freelancer itu dihitung per pekerjaan. Misalnya, handle Instagram account, posting 8x sebulan, harga Rp1,5 juta. Ini bukan berarti gajinya Rp1,5 juta per bulan, tetapi kliennya membutuhkan 8 post per bulan, dan itu nilainya adalah Rp1,5 juta. Apakah dia mengerjakan dalam 2-3 hari saja, ya hargaya akan sama.

Bagaimana supaya harga tersebut bisa naik? Ya dia harus menambah klien baru.

Kelebihan freelancer adalah dia bisa menambah klien baru dengan mengambil waktu bekerja dia sendiri. Katakanlah dia bisa menggulung proyek 8 post tersebut dalam 2 hari saja, maka dalam sebulan masih sisa 18 hari kerja, donk?!

Jadi dia harus memasarkan layanan tersebut untuk mendapat klien-klien baru. Jika berhasil dan waktu bekerjanya dalam sebulan penuh dapat terokupansi, maka dia bisa dapat hingga Rp15juta. Yaitu, 1,5 juta x 10 klien.

Persoalan dengan part-timer adalah, misal full-timer untuk posisi yang sama, dengan level experience dan senioritas yang sama bergaji Rp8juta (20 hari kerja, 8 jam sehari). Maka part-timer tersebut “hanya” mendapat Rp4juta (20 hari kerja, 4 jam sehari).

Tentu, dengan sisa waktu kerja 4 jam sehari (8 jam – 4 jam), si part-timer tersebut punya pilihan untuk menambah pekerjaan berbasis waktu lagi, atau dia bisa memasarkan portfolionya, layanannya, atau dirinya untuk mendapat proyek-proyek sejenis yang dia kerjakan di kantor.

Apakah part-timer atau freelancer layak mendapatkan apa yang didapat oleh full-timer? Semisal Tunjangan Hari Raya (THR).

Menurut Direktur Pengupahan di Kementerian Tenaga Kerja (Kemenaker), semua jenis pekerja wajib mendapat THR. Baik itu alih daya (outsource), tenaga lepas (freelance), maupun paruh waktu (part-time). Semuanya berhak mendapat THR.

Bagaimana dengan fasilitas-fasilitas dari perusahaan, di luar THR? Semisal asuransi kesehatan.

Pendapat saya, yang demikian perlu dikembalikan kepada pekerja yang bersangkutan. Tentunya banyak faktor harus dipertimbangkan, ya. Artinya si pekerja sendiri membutuhkan atau tidak. Kemudian berapa banyak manusia yang ditanggung oleh si pekerja itu sendiri (misal, orang tua, istri, anak, dst.). Lalu ada faktor keterdesakan dalam menerima tawaran kerja tersebut. Apakah harus diambil saat itu juga karena membutuhkan uang, atau masih bisa ditunda demi mendapat penawaran pekerjaan yang lebih menarik.

Sales Motoris Freelance

Teman-teman pembaca pasti sering melihat seseorang yang mengendarai motor, di belakangnya ada saddle bag kanan dan kiri, entah apa itu isinya yang pasti ia menjual barang ke warung warung itulah sales motoris secara freelance. bagaimana sih cara kerjanya? terus keuntungan-nya berapa kok mau rela berpanas-panasan di jalan bahkan kadang kehujanan.

Sales motoris freelance.

Singkatnya, sales motoris adalah tenaga penjual yang tugasnya mengkaver outlet-outlet kecil, warung-warung pengecer dan sejenisnya.

Nah, bekerjanya bisa di perusahaan distributor, bisa juga bekerja sendiri sebagai freelance (lepas dari perusahaan). Sebagaimana macam-macam tulisan saya soal freelance, kita fokuskan pembahasan hanya di ke-tenagalepas-annya saja ya.

Motoris Freelance

Secara penampilan umum, biasanya sales motoris bakal membawa barang pada bagian belakang jok motor. Mereka mengangkut banyak barang menggunakan saddle bag. Itu lho kantong yang berada di bagian samping kiri-kanan jok motor.

sales motoris freelance
ilustrasi sales motoris freelance yang membawa banyak barang di samping dan belakang sepeda motornya.

Sebagaimana pekerjaan atau usaha freelance pada umumnya, ada fleksibilitas waktu yang didapatkan bagi pelakunya karena tidak ada aturan jam kerja dari perusahaan.

Sistem Kerja Sales Motoris Freelance

Cari harga beli yang paling murah untuk dijual kembali, sistem keuntungan-nya diambil dari selisih harga pasar dan grosir kalau harga pasarannya 1 pack Rp10.000; biasanya dari grosir itu Rp9000; nah yang Rp1000; ini adalah keuntungan sales motoris yang berhasil di jual ke warung untuk dijual secara eceran.

Mungkin teman-teman bertanya, Lalu warung untungnya berapa? hmm… begini;

  • 1 Pack itu isinya 24 bungkus
  • 1 bungkus dijual kepada konsumen Rp500;
  • Jadi Rp500; x 24 = Rp12.000;
  • Dengan harga beli Rp10.000; tadi maka warung akan mendaptkan untung Rp2.000; hmm.. sedikit ya untungnya? iya memang tapi kali berapa bungkus, kalau dia sanggup menjual berbungkus-bungkus tinggal mengalikan saja.

Modal Kerja Sales Motoris Freelance

  • Sepeda motor + bensin
  • Tas atau Saddle bag kanan kiri
  • Modal awal untuk belanja sekitar Rp300.000 – Rp1000.000; jika sudah berkembang bisa ditingkatkan

Risiko Kerja & Kerugian

Setiap pekerjaan memang ada risikonya, entah itu risiko di jalan ataupun kemungkinan megalami kerugian. Sales motoris harus siap dengan cuaca panas dan hujan, kalau hujan sebaiknya istirahat saja, pastikan hati hati di jalan karena kalau nggak ditabrak orang kadang kita yang menabrak.

  • Untuk risiko kerugian jika yang dijual adalah makanan pasti ada masa kadalursanya, maka usahakan terjual secara langsung karena nanti masih dijual secara eceran oleh warung. Pastikan jangan sampai dagangan anda jatuh di jalan, rata rata para sales motoris pernah kehilangan barang ketika di jalan karena muatan penuh.
  • Risiko modal uang tertahan dalam bentuk barang. Ketika yang dijual adalah produk slow-moving (lambat laku).
  • Harus siap mental. Karena akan banyak penolakan oleh warung dan toko. Tidak perlu malu ketika ditolak. Karena kita pun maklum kalau toko masih lengkap barangnya sehingga tidak mungkin beli barang baru. Segera saja berpindah ke warung yang lain.

Jika modal teman-teman kuat bolehlah menyimpan barang 1 – 3 hari di warung itu, nanti sambil mengambil uang, teman-teman masuk-kan barang lagi dan begitu seterusnya, ingat hanya warung yang dipercaya saja dan ramai pengunjungnya.

Ini cocok sekali jika anda terapkan di kantin sekolahan atau pesantren karena tidak sampai 2 hari barang sudah habis, sehingga perputarannya cepat.

Itulah cara kerja, sistem keuntungan yang didapat, modal kerja dan risiko kerja sebagai seorang sales motoris secara freelance. Yang pastinya kerjanya tidak terikat oleh waktu dan atasan, teman-teman pembaca bisa atur sendiri waktunya.

Kalau sudah punya langganan, bekerja dalam sehari bisa jadi hanya 4-5 jam saja. Tidak perlu 8-9 jam seperti di perusahaan.

Tantangan Motoris Freelance

Masalahnya tidak semua freelance mampu bertahan. Banyak juga freelance (khususnya motoris) yang akhirnya putus asa, gagal, dan berhenti dari profesinya sebagai motoris freelance.

Kenapa bisa begitu?

Penghasilan yang lumayan dari pekerjaan motoris tentu tidak datang dengan sendirinya.

Datangnya jelas dari kerja keras, pengalaman dan pengetahuan.

Berikut ini adalah tips dan trick dalam perencanaan dan pemilihan kategori produk yang sebaiknya dijual oleh sales motoris freelance. Sebenarnya, tips dan trick berlaku tidak hanya ke motoris saja tetapi juga canvasser roda 4 yang membawa barang.

Memilih Produk untuk Usaha Motoris Freelance

Dari sekian banyak produk yang beredar, tidak semuanya berpotensi untuk mendatangkan keuntungan yang bagus bagi sales freelance. Sebelum memulai, teman-teman harus tahu dulu apa saja produk yang akan dijual. Sebab menjadi sales bukan hanya soal jual tampang, tetapi soal produk yang dijual dan layanan (service) yang diberikan.

Berikut ini adalah beberapa jenis produk yang bagus untuk dijual lewat jalur sales motoris freelance.

Sandal / Sepatu / Pakaian Produk Home Industry

Potensi Keuntungan

Produk semacam ini memiliki potensi keuntungan 100% bahkan lebih. Potensi itu timbul karena barang-barang home industry jarang beredar melalui supermarket atau toko fashion.

Dengan jarangnya peredaran melalui pasar modern, maka kita jadi lebih leluasa untuk menentukan sendiri harga jualnya. Konsumen kita tidak akan tahu berapa harga modal kita sebenarnya.

Kalau kita mengincar pasar (alias lingkungan rumah tangga) yang tidak dikunjungi oleh sales motoris seperti kita, maka ke-tidaktahu-an konsumen akan produk home industry tersebut memudahkan kita untuk menentukan harga jual yang enak dan nyaman untuk kita.

Tentu saja harus memantau terus kisaran harga jual dari produk sejenis atau produk substitusinya.

Cara Memasarkan Produk Home Industry

Produk semacam ini termasuk dalam golongan slow moving product, yaitu barang-barang yang lambat terjual. Tidak seperti produk makanan dan barang-barang kebutuhan sehari-hari yang harus terjual cepat karena cepat pula rusaknya.

Artinya untuk dapat mengolah pemasaran produk-produk seperti itu, teman-teman pembaca setidaknya harus punya 600 outlet langganan.

Dari mana asalnya? Yaitu 25 outlet perhari dengan asumsi 6 hari kerja setiap minggunya.

Artinya, tiap-tiap outlet kita kunjungi 4 minggu sekali atau kurang lebih sebulan sekali.

Kenapa harus seperti itu? Karena produk-produk seperti ini bukanlah barang konsumsi sehari-hari sehingga membutuhkan waktu lama (ya itu tadi, sekitar 4 pekan sekali) untuk terjual.

Alat Tulis Kantor (ATK) dan Alat-alat Listrik

ATK dan alat-alat listrik juga memiliki potensi keuntungan tinggi. Tapi seperti pula produk home industry, ATK dan alat listrik juga membutuhkan banyak rute dan outlet langganan.

Hal lain yang juga harus teman-teman perhatikan adalah jangan memilih produk-produk branded alias merk terkenal. Karena untuk merk terkenal, potensi keuntungannya justru malah tipis.

Barang yang punya potensi keuntungan tinggi adalah merk non-branded alias produk-produk yang tidak populer.

Contohnya:

  • Lampu motion
  • Lampu RDY
  • Baterai Dynamax
  • Korek gas M2000

Dan lain-lain.

Jajanan Anak

Misalnya permen, cokelat, wafer dan lain-lain. Berdasarkan jenisnya, produk-produk jajanan seperti inilah yang paling cepat terjual karena mereka merupakan barang konsumsi sehari-hari.

Untuk menjual produk-produk konsumsi seperti ini, teman-teman hanya membutuhkan 6 rute dengan 25-30 outlet kunjungan per hari. Artinya, kunjungan ke outlet langganan dilakukan cukup seminggu sekali.

Tapi ini bukan berarti mudah dan lancar begitu saja ya. Setiap kategori produk, pasti ada saja kendala dan tantangannya.

Memasarkan Produk non-Branded

Tantangan tertinggi dari menjual produk-produk ini adalah ketatnya persaingan dengan produk-produk branded. Namanya produk sudah dikenali oleh pelanggan, maka tugas kita menjadi ganda untuk memperkenalkan produk tersebut ke outlet-outlet.

Selain bersaing dengan produk branded, teman-teman juga akan bersaing dengan sesama sales motoris freelance yang menjual produk sejenis.

Tapi teman-teman tidak perlu gentar. Percayalah pada dua hal:

  1. Bahwa rezeki setiap orang tidak akan tertukar
  2. Bahwa akan banyak outlet yang berbeda antara kita dan pesaing sesama sales motoris

Yup. Asal kita mau berusaha, Tuhan kita pasti akan memberikan jalan. Meskipun kita bersaing dengan sesama motoris freelance, tapi percayalah bahwa akan lebih banyak outlet yang berbeda ketimbang outlet yang sama antara kita dengan sales motoris lain yang produknya serupa meskipun dalam satu rute yang sama, lho.

Kembali lagi ke perkara produk. Bagian dari ikhtiar adalah mengoptimasi kombinasi produk apa yang paling tepat untuk menjadi ‘portfolio’ teman-teman.

Kombinasi Produk

Kombinasikan antara produk yang fast-moving (cepat laku) dengan produk bermarjin tebal. Perhatikan juga mana saja kategori yang tidak dijual oleh kompetitor sales motoris teman-teman.

Contoh komposisinya sebagai berikut.

  • Jajanan sekira 60% dari total nilai barang yang saya bawa
  • Alat tulis kantor dan lain-lain (termasuk pulpen, buku, tissue, peniti, korek gas) sebanyak kira-kira 25% dari total nilai barang yang saya bawa
  • Alat-alat listrik (lampu LED, bohlam, neon, baterai remote dan lain-lain) sekira senilai 15% dari total barang

Komposisi produk seperti itulah yang bisa menjadi patokan bagi teman-teman.

Tips Menjadi Sales Motoris yang Handal

Tentukan Rute yang Tepat

Bagi motoris freelance, menentukan rute yang bagus adalah wajib. Biasanya perusahaan sudah menentukan area kanvas motoris. Tapi ada kondisi kedua, yaitu pengembangan wilayah.

Berikut ini rute terbaik bagi motoris.

Gang sempit dan jalanan rusak

Salesman canvas mobil dan Taking Order (TO) tidak bisa mengkaver area dengan jalanan sempit atau rusak. Maka sales motoris yang harus mengkavernya.

Pegunungan atau wilayah yang jauh dari pasar dan toko grosir

Pada wilayah seperti itu, pemilik warung selalu menantikan kehadiran motoris. Karena sulitnya akses dan mahalnya ongkos jika mereka harus belanja ke pasar atau toko grosir terdekat.

Cover Hanya Outlet Kecil Saja

Karena pada umumnya, perusahaan menetapkan harga jual produk motoris lebih mahal dari harga jual salesman TO.

Tujuan perusahaan mengadakan armada motoris adalah untuk distribusi produk-produk baru. Jadi, pengenalan harganya pun dengan harga semi-retail.

Aktif Menawarkan Produk, tapi Sopan dan Tidak Memaksa

Kalau memaksa, malah hubungan salesman dengan pemilik outlet akan memburuk. Penjualan malah bertambah sulit.

Tepat Memilih Hari dan Konsisten pada Hari Kunjungan

Memilih hari kunjungan harus kalian lakukan dengan tepat pada awal kalian masuk ke rute tersebut.

Contohnya begini. Teman-teman sudah menentukan rute A untuk hari Senin. Tapi ternyata hari Senin rute A padat salesman dari produk lain, maka sebaiknya kalian ganti hari kunjungan.

Berangkat Lebih Awal

Kenali kapan outlet punya uang untuk membayar. Apakah setelah hari agak siang (karena pagi belum ada yang belanja). Atau justru outlet sudah menyiapkan modal untuk belanja di pagi hari.

Mengajak Bercanda Pemilik Warung

Bercanda bagian dari membangung hubungan, namun bercanda juga tetap ada batasannya. Tidak semua pemilik warung suka bercanda.

Untuk pemilik warung yang suka bercanda, tentu candaan kita akan menambah keakraban.

Perbanyak Kunjungan

Kunjungi minimal 25 outlet, lebih bagus 30 outlet perhari. Jangan pulang sebelum tercapai 30 kunjungan.

Ingat! Aktif menawarkan tapi tidak memaksa. Cari warung sebanyak-banyaknya. Cara itu lebih baik daripada memaksa.

Jangan Milih-milih Pelanggan

Secara tidak sadar, kadang kita bersikap meremehkan outlet-outlet yang biasanya hanya membeli dalam nominal kecil.

Kecil memang. Tapi kalau ada 10 warung seperti itu? Berarti jadi besar jumlahnya.

Eliminasi Outlet yang Benar-benar Tidak Aktif

Katanya tidak boleh milih-milih pelanggan, tapi harus mengeliminir outlet lainnya?

Walaupun kita tidak boleh mengabaikan outlet-outlet kecil, tapi kita tetap harus selektif.

Ketika ada outlet yang sebelumnya pernah bertransaksi dengan kita, tapi pada 4 kali kunjungan berikutnya tidak pernah terjadi transaksi sama sekali, itu artinya outlet tersebut tidak aktif.

Jika outlet semacam ini tetap kita pertahankan, maka kita telah membuang banyak waktu.

Solusi untuk outlet yang seperti itu adalah menghapusnya dari daftar kunjungan.

Tapi ingat! Cari outlet pengganti yang lebih baik. Jangan berhenti mencari sebelum kalian mendapatkan gantinya.

Jalin Hubungan Baik dengan Salesman Produk Lain

Pada aktifitas kita sebagai motoris, di lapangan pasti kita akan bertemu salesman lain dari berbagai perusahaan. Ajaklah komunikasi mereka, karena dari mereka kita bisa sharing berbagai hal bermanfaat, misalnya:

Rute canvas yang bagus

Biasanya yang lokasinya agak menjorok ke dalam dari jalan umum.

Info produk baru yang dijual oleh salesman tersebut

Informasi seperti ini sangat berguna bagi teman-teman yang statusnya freelance, karena produk baru seperti itu berpotensi menghasilkan keuntungan yang “lumayan.”

Tentukan Langkah Selanjutnya

Poin ke-11 ini bukan tips menjadi sales motoris yang handal, tapi lanjutannya. Jika kalian telah berhasil menjalankan hal-hal di atas, tibalah saatnya kalian mengambil kesimpulan dan menentukan keputusan yang akan kalian ambil.

Ada 3 pilihan yang bisa kalian pilih:

Tetap bekerja di perusahaan tempat kalian bekerja sekarang

Jika pilihan ini yang kalian ambil, maka teruslah tingkatkan prestasi kalian. Lakukan riset langkah-langkah yang dapat lebih meningkatkan prestasi kalian di perusahaan.

Tetap sabar dan jangan patah semangat jika kalian belum mendapat promosi jabatan.

Yakinlah bahwa kerja keras kalian tidak akan sia-sia. Ingat juga! Semakin tinggi jabatan kalian, maka semakin besar pula tanggung jawab dan tekanannya.

Resign (keluar) dari perusahaan dan mulai merintis usaha sendiri

Sekecil apapun usaha kalian, kalian adalah boss. Sebaliknya, setinggi apapun jabatan kalian di perusahaan milik orang lain, kalian tetaplah karyawan.

Manfaatkan waktu kita kerja pada perusahaan lain untuk menimba ilmu dan menabung modal usaha.

Pindah Kerja

Jika kalian belum mampu untuk menjalankan dua hal di atas, maka kalian punya pilihan ketiga, yaitu pindah kerja.

Tapi ada hal yang harus kalian perhatikan, yaitu:

  • Pindah ke perusahaan lain jika kalian yakin akan lebih maju di tempat baru
  • Jangan keluar dari perusahaan jika alasannya adalah karena tekanan yang terlalu tinggi

Justru dengan tekanan yang tinggi itulah kita ditempa untuk menjadi pribadi yang hebat! Ingat juga bahwa akan selalu ada tekanan di setiap perusahaan.

  • Jangan keluar kerja sebelum mendapatkan pekerjaan baru

Remote Working, Agree or Disagree?

Berandai-andai tidak pandemi lagi rasanya mewah banget ya. Karena masih entah kapan pandemi ini berakhir. Sebelum ke sana, travelling pikiran dulu yuk: setuju atau tidak setuju dengan remote working?

Esensi kerja kan mengirim deliverable pada target waktu yang dikehendaki dan kepada pribadi yg ingin menerima deliverable tsb.

Yang di era digital sekaligus internet ini, bisa dikerjakan dari jauh (remote). Maka muncul istilah bekerja dari jauh (remote working).

Bagi saya, ada beberapa alasan untuk setuju atau tidak setuju dengan penyelenggaraan remote working.

Saya setuju karena bekerja on-site di kantor itu menuntut perjalanan (commuting) yang tidak sekedar 2-3 langkah dan pakaian (outfit) tertentu. However, preparation harus ada untuk keduanya, ‘kan. It takes certain process and time.

Capek fisik dan lapar ketika pulang dari bekerja di kantor juga ‘masalah’ lain bagi saya. Kalau bekerja di rumah, in shaa Allah tidak merasa lapar yg bagaimanapun pada jam berapapun. Capek secara fisik pun tidak, karena dalam pengalaman saya, lelah fisik itu karena commuting-nya itu sendiri. Capeknya di pikiran saja.

Banyak hal yang bisa saya lakukan di rumah. Khususnya terkait rumah tangga (RT) ya. Beli makanan, memasak, ikut mencuci piring dan pakaian (including menjemur dan melipatnya, tentu saja). Untuk keluarga dengan tiga anak, pastinya pekerjaan RT tersebut tidak sedikit dan memang komitmen kami untuk mengerjakannya sendiri tanpa bantuan asisten.

Termasuk di antara hal-hal yang kami kerjakan sendiri adalah mengantar dan menjemput anak di sekolah.

Membersamai anak belajar, bermain (kami main catur, lho!), dan mengantar-jemput mereka di usia mereka yang sekarang ini adalah rezeki yang saya syukuri ya. I mean, kesempatannya memang ada sekarang ini dan belum tentu terulang lagi. Kan gitu kalau belajar dari yang senior ya, “Jangan terlalu sibuk commuting dan) bekerja, nanti anak-anak tiba-tiba sudah besar aja, lho.”

Saya gak jujur kalau saya remote working sepenuhnya memenuhi harapan saya akan ‘bagaimana bekerja’. Ada sisi yang saya kurang setuju (disagree) terhadap remote working.

Pertama, ruang bekerja saya belum sepenuhnya nyaman untuk membuat saya produktif. Punya ruang kerja yang nyaman dan hening itu kemewahan menurut saya. Karena sebelum pandemi ini kan, rumah bukanlah tempat bekerja. Rumah, selain berisi dapur, kamar mandi dan ruang keluarga/tamu, adalah ruang tidur. Jadi punya ruangan yang hening dalam rumah berisi anak kecil adalah priviledge (meminjam bahasa anak Jaksel).

However, belum ada yang bisa menggantikan pertemanan dengan para bestie di kantor. Kalau ketemu circle yang cocok maka itu anugerah tersendiri untuk kita sebenarnya sebagai bagian dari bersosialisasi dengan rekan-rekan seprofesi. Ada healing part juga kan bersama mereka tuh.

Bagi saya pribadi, cost-benefit remote working masih lebih baik daripada work from office (WFO). Ada benarnya ya survey BBC beberapa bulan lalu. Bahwa Work from home (WFH) itu lebih dikehendaki daripada WFO. Meskipun tidak bisa full WFH juga. Responden menghendaki tetap ada bangunan kantor untuk dituju dan menjadi tempat bekerja.

So, I choose to both agree and disagree ya soal remote working.

BACA JUGA: Remote Working from Coffee Shop.

Customer Service Toko Online

Apa saja yang menjadi tugas customer service di toko online?

Customer Service Toko Online.

Salah satu yang wajib ada dalam bisnis adalah kepuasan pelanggan (customer satisfaction). Ini adalah indikator (metric) yang dimiliki oleh bisnis, bukan terbatas pada orang atau divisi tertentu.

Singkatnya, tugas customer service toko online tidak hanya menjawab pertanyaan calon pembeli yang datang dari traffic berbayar. Tetapi juga memastikan barang diterima oleh konsumen.

Customer Satisfaction ini bisa terwujud dalam berbagai bentuk:

  • Konsumen merasa nyaman dalam berbelanja karena mendapat informasi yang lengkap soal produk (biasa disebut product knowledge)
  • Pengalaman berbelanja yang terasa lebih efektif dan efisien
  • Ketenangan bertransaksi karena toko online tersebut merupakan toko yang terpercaya
  • Lewat channel apapun menghubungi toko online tersebut, selalu ada petugas yang fast response dan solutif atas keluhan pelanggan

Salah satu ujung tombak dalam tercapainya customer satisfaction dengan skor yang tinggi adalah tim customer service (CS).

Kalau di toko online, CS identik dengan petugas yang membalas chat via whatsapp (WA). Tentunya tidak hanya di WA saja ya. Karena mungkin saja toko tersebut juga membuka channel lain di e-commerce, misalnya. Jadi CS juga yang bertugas membalas chat di sana.

Jadi, tergantung bisnis tersebut membuka omnichannel di mana saja, maka di tiap-tiap channel tersebut ada CS-nya. Bisa orang yang sama atau masing-masing channel ada dedicated CS-nya. Tergantung keramaian (traffic) di tiap-tiap channel tersebut.

CS tidak terbatas pada whatsapp, tetapi juga membalas chat di e-commerce.

Keterampilan yang harus dimiliki oleh seorang CS:

  • Paham product knowledge. Baik secara fungsional maupun teknis. Bahkan bisa memberikan rekomendasi produk kepada calon customer.
  • Fast response. Supaya bisa fast response, harus fokus. Tidak nonton YouTube, tidak buka-buka browser, dan hal-hal lain yang mengganggu pelayanan kepada konsumen.
  • Komunikatif. Meminta maaf bila melakukan kesalahan, mengucapkan terima kasih pasca bertransaksi, mengkonfirmasi rekapitulasi pesanan sehingga tidak keliru/lebih/kurang.

Keberhasilan seorang CS juga ditunjang oleh bagian-bagian lainnya di perusahaan. Misalnya, bagian produk/visual desain yang telaten dalam menyiapkan product knowledge. Lalu ada bagian marketing yang “mendatangkan” traffic calon pembeli ke channel-channel milik toko — seringkali pakai paid traffic lewat FB/IG Ads. Dan bagian packaging yang teliti dan rapi dalam mengemas produk-produk yang dipesan.

Tugas CS Toko Online

Berikut ini adalah tugas customer service toko online yang saya peroleh dari scaleup.club suatu situs pelatihan paid traffic. Saya kutip karena saya memang setuju dengan deskripsi di dalamnya.

So, job description CS toko online atau sales online ini adalah:

1. Melakukan greetings kepada leads (calon pembeli) yang datang

2. Menghampiri leads yang sudah mengisi formulir rencana pembelian

3. Mengajukan pertanyaan yang tepat kepada calon pembeli

4. Memberikan penjelasan yang tepat kepada calon pembeli sesuai dengan permasalahannya

5. Menghitung total pembelian calon pembeli

6. Memastikan calon pembeli melakukan transfer

7. Memastikan barang terkirim di waktu yang telah dijanjikan

8. Menginformasikan kepada pembeli bahwa barang telah dikirim disertai dengan nomor resi

9. Mengawal barang yang dikirim agar tiba di tangan pembeli

10. Membantu menyelesaikan permasalahan yang timbul pada saat pengiriman barang

11. Meminta feedback dari pembeli mengenai produk dan pelayanan

12. Menjawab pertanyaan dan komplain yang muncul dari pembeli mengenai produk

13. Membantu menyelesaikan komplain tersebut untuk menjaga standar kepuasan pelanggan

https://www.scaleup.club/job-description-cs-toko-online/

Gaji Customer Service Toko Online.

Gaji seorang CS relatif lebih tinggi daripada divisi lain karena CS adalah ujung tombak menghasilkan penjualan. Ada tipe-tipe tertentu dari seorang CS yang penjualannya tinggi, baik karena bakatnya maupun kerja kerasnya.

Sebagai insight, tidak semua orang yang ditempatkan sebagai CS akan berhasil, lho. Meskipun suatu produk sedang trending, atau product knowledge yang sudah lengkap, atau traffic yang diberikan sudah tinggi, belum tentu orang yang bersangkutan pasti sukses mencetak penjualan yang tinggi.

Baca juga tulisan saya soal Bisnis Online yang lain.

Daftar Pekerjaan Part-Time untuk Mahasiswa

Dalam artikel ini saya menganalisis pros dan cons dari beberapa jenis part time mahasiswa. Pilih part time yang paling cocok dengan kamu.

Part Time Mahasiswa.

Mengapa Ambil Pekerjaan Part Time?

Ada banyak alasan ya bagi mahasiswa untuk menambah uang jajan.

Pertama, pastinya karena gak semua dari kita punya priviledge sebagai anak dari crazy rich.

Kedua, kalau kita tidak tinggal bersama orang tua atau keluarga besar, maka pastinya kita akan nge-kost, ‘kan. Tempat tinggal ada biayanya, makan pun ada biaya (karena tidak menumpang di rumah orang tua atau keluarga besar).

Ketiga, uang bulanan yang dikirim orang tua pastinya terbatas ya. Sudah ditakar oleh beliau berdua itu lah. Cukup untuk internet, buku, dan modal belajar yang lainnya.

Tidak heran, sebagian di antara kita sebagai mahasiswa butuh uang tambahan. Baik untuk kebutuhan utama di tanah rantau (kost, makan, transport, dll) maupun sebagai tambahan uang jajan demi mengikuti gaya hidup mahasiswa kebanyakan.

Part time mahasiswa di depan laptop memang paling tidak melelahkan secara fisik. Namun, ada kontranya juga.

Jenis-Jenis Pekerjaan Part Time Mahasiswa

Berikut ini adalah beberapa pekerjaan part-time (paruh waktu) yang cocok untuk mahasiswa:

(Oiya, saya tuliskan juga analisis pros dan cons-nya ya. Biar sesuai dengan keadaan kamu sebagai mahasiswa.)

Part Time Mahasiswa: Guru Les/Bimbel

Pros: Mudah dapat murid kalau kamu adalah mahasiswa/alumni dari kampus ternama di kota tersebut.

Cons: Karena jemput bola paling bagus, maka terasa “rugi” kalau tempat tinggal murid jauh dari kost kamu.

Penulis Lepas alias freelance writer

Pros: Modal laptop (doank) dan gak perlu keluar kamar. Sesekali keluar ketemu klien.

Cons: Harus belajar terus. Baik secara konten maupun metode writing-nya. Karena beda medium kan beda juga metodenya. Dan kalau menulis di website, SEO tuh berkembang terus.

BACA JUGA: Content Writer, Content Strategist, Copy Writer, UX Writer.

Designer

Pros: Modal laptop (doank) dan gak perlu keluar kamar. Sesekali keluar ketemu klien.

Cons: Semua orang “bisa” design sekarang. Berkat app Canva. Pakai app yang lebih advanced seperti Adobe Illustrator (bayaran bisa lebih mahal) belum tentu rame klien juga.

Illustrator

Pros: Modal laptop (doank) dan gak perlu keluar kamar. Sesekali keluar ketemu klien.

Cons: Butuh bakat atau punya selera (taste) desain. Soal selera ini sama dengan designer, sih.

Translator

Pros: Modal laptop (doank) dan gak perlu keluar kamar. Sesekali keluar ketemu klien.

Cons: Musuhmu adalah mesin penerjemah seperti Google Translate. Kuncinya harus bisa bikin hasil terjemahan yang enak dibaca. Jadinya ya harus bisa menulis juga.

Barista

Pros: Kalau punya keahlian atau sertifikasi, tentu lebih mudah dapat kerjaan.

Cons: Lebih mirip jadi karyawan daripada pengusaha. Ada jam kerja yang cenderung gak bisa diatur. Kecuali bisa tukar shift dengan rekan kerja.

Coffee Shop juga menjamur. Sangat mungkin tutup dalam 6 bulan sejak dibuka. Belum lagi tutup karena persaingan. Padahal pengunjung mungkin hanya 1-2 kali ke kafe yang sama.

Fotografer/Videographer

Pros: Pemainnya relatif lebih sedikit dibanding part-timer lainnya.

Cons: Jelas harus dikerjakan di luar kost. Kudu modal kamera.

Waiter

Pros: Pendapatannya jelas. Habis bulan dapat gaji. Kalau ramai, mungkin dikasih bonus.

Cons: Mirip Barista, tapi lebih buruk.

Video Editor

Pros: Modal laptop (doank) dan gak perlu keluar kamar. Sesekali keluar ketemu klien.

Cons: Butuh bakat atau pengalaman. Potong-memotong video yang baik, berikan bridge antar pergantian konteks, dll.

Web Developer

Pros: Modal laptop (doank) dan gak perlu keluar kamar. Sesekali keluar ketemu klien.

Cons: Ada jenis language, framework, atau CMS yang populer digunakan sehingga kompetisinya ketat. Yang kurang populer bisa jadi bayarannya mahal tetapi pasarnya juga kecil. Serupa dengan designer, kira-kira.

Socmed Admin

Pros: Cukup dengan smartphone. Advanced sedikit pake laptop. Tidak perlu keluar kamar. Sesekali keluar ketemu klien.

Cons: Ini demand-nya tinggi, tapi supply-nya lebih besar lagi. Jadi, pasarnya agak ketat. Kalau skill-nya average, portfolio-nya average, dapatnya juga average.

Ojek Online

Pros: Konsumen sudah dicarikan oleh perusahaan aplikasi. Waktu kerja bisa menyesuaikan.

Cons: Butuh modal, yaitu mobil atau motor. Ada target jumlah trip minimal untuk dapat bonus (karena baru worth it dikerjakan sampai dengan dapat bonus).

SPG/SPB

Pros: Tinggal bawa badan saja. Bayaran lumayan.

Cons: Waktu gak bisa diatur sesuka kita. Biasanya good looking jadi syarat.

Kesimpulan Part Time Mahasiswa

Pilih pekerjaan part time mahasiswa yang cocok dengan keadaan kamu. Baik kesediaan dan fleksibilitas waktunya, kemampuan kamu untuk men-deliver pekerjaan, apakah ada skill yang berkembang dari menekuni pekerjaan part time tersebut, dan seterusnya.

LIHAT JUGA: Situs Freelance Mahasiswa.

Beda Content Writer, Copy Writer, Content Strategist dan UX Writer

Bagaimana Content Writer sebagai posisi yang relatif baru di dunia digital dan sangat menarik untuk dipelajari, dieksplorasi, dan digeluti.

Mari bahas persamaan dan perbedaan tiga jenis sebutan di atas. Yang pada akhirnya akan merefleksikan perbedaan peran, posisi, dan fungsi dari Content Writer, Copywriter, dan Content Strategist.

Content Writer

Konten disebut berkualitas kalau sukses membuat user rajin mengunjungi website tersebut dan betah berlama-lama di dalamnya. Saya betah dengan website niagahoster.co.id karena kontennya lengkap dan mencerdaskan. Mojok dengan imajinasinya yang nakal juga menghibur. Baca informasi di Tirto juga bikin kita menelusuri pranala lain yang disediakan.

Untuk aspek kuantitas, ukurannya tidak hanya panjang tulisan. Minimum disarankan 300 kata yah. Ada blogger yang sharing standardnya di kisaran 2500 kata. Selain panjang tulisan, banyak tulisan dalam media online tersebut juga ikut menentukan.

Belajar dari Mojok. Weblog ini “menghamba” pada Alexa. Sesuai tagline-nya yang Sedikit Nakal Banyak Akal, pembaca senang membaca beberapa tulisan setiap kali berkunjung, termasuk saya. Panjang tulisannya “hanya” 700-1000 kata. Cukup pendek, namun plotnya tetap ada. Alias tulisan-tulisan di Mojok tuh bernas, padat berisi.

SEO paling berperan di konten artikel tipe ini. Sebagai pengguna WordPress, laksanakan saja saran-saran dari Yoast supaya kontenmu lebih findable di jagat internet raya. Selamat mencoba jadi Content Writer 🙂

Copy Writer

Menulis untuk iklan. Tujuannya mulai dari memperkenalkan, mengingatkan konsumen kembali akan merek tersebut, hingga mendorong terjadinya penjualan lewat promosi diskon, atau saluran (biasa disebut channel) tertentu.

Medium iklan yang berbeda-beda ruangnya, menuntut copywriting harus koheren meski tidak wajib sama. Di sinilah kejelian copywriter dalam menyusun kata dan menyiasati ruang teks yang serba terbatas.

Di dunia digital, ada namanya Landing Page. Sebuah page di mana user mendarat (to land). Landing Page dengan komponen yang komplit akan meyakinkan user untuk membeli. Komponen tersebut di antaranya adalah:

  • Masalah yang dihadapi oleh calon konsumen
  • Solusi apa yang Anda berikan
  • Bagaimana solusi tersebut bekerja
  • Testimoni dari pembeli/pelanggan
  • Tombol Add to Chart (ATC)

Content Strategist

Eksekusi tanpa strategi ibarat berjalan tanpa mata dan tujuan. Sedangkan strategi tanpa eksekusi, analog dengan mengkhayal ke mana-mana tanpa berpindah tempat.

Jadi, sembari crafting konten, strategi tetap harus diperhatikan. Mulai dari tujuan (objektif), minimum target, alat pengukuran ketercapaian target, dan pengembangan konten itu sendiri. Yang terakhir ini meliputi beberapa langkah eksekusi ke depan. Termasuk perubahan jadwal rilis apabila ada kebutuhan untuk segera merilis suatu konten lebih cepat daripada jadwal.

UX Writer


Lagi ingin membahas soal profesi UX Writer.

Bagaimana Content Writer sebagai posisi yang relatif baru di dunia digital dan sangat menarik untuk dipelajari, dieksplorasi, dan digeluti.
Bagaimana Content Writer sebagai posisi yang relatif baru di dunia digital dan sangat menarik untuk dipelajari, dieksplorasi, dan digeluti.

Saya menjalani profesi ini tidak sepenuhnya ya. Ini salah satu peran (role) saya di dalam title ‘Technical Writer’. Namun, jika kamu ingin tahu, ada sedikit yang bisa saya bagikan soal ini.

Pertama, ini tidak ubahnya dengan desainer ya. Kalau desainer merancang flow, experience, journey atau apapun namanya itu, nah posisi yang sedang kita bahas ini setidaknya harus menyelami hal yang sama.

Sebab, pekerjaan men-desain itu dekat dengan subyektifitas; that’s why kita perlu mendekatinya secara objektif dengan metode-metode riset maupun desain tertentu.

Dalam konteks penulisan, seorang penulis UX harus menjalani perannya se-objektif mungkin. Mulai dari membaca dan membawa referensi ke dalam ruang diskusi, sampai dengan menyediakan beberapa alternatif teks untuk dipilih anggota tim Product Management.

Dari konteks user flow, user experience (UX), user journey dan berbagai istilah lain untuk maksud yang sama, seorang UX Writer berfungsi menyediakan teks-teks pemandu atas visual yang sudah lebih dulu ada.

Sekilas, apa-apa yang dikerjakan oleh UX Writer tampak sedikit. Padahal, kalau kita zoom out dengan sebuah produk digital, maka UX Writer harus melakukan suatu upaya ‘penyeragaman’ terhadap semua kata-kata yang dia rilis.

Tujuannya supaya konsisten dan seakan-akan diucapkan oleh persona yang sama. Ini membawa kita ke tugas-tugas lain dari seorang UX Writer: terlibat dalam pengembangan brand persona dan melakukan ‘penurunan’ lebih lanjut dari brand persona tersebut dalam implementasi yang lebih luas ke halaman-halaman (pages) produk digital tempat dia bekerja.

In short, ada 4 tugas yang dilakukan oleh seorang UX Writer:

  • Terlibat dalam pengembangan brand persona
  • Melakukan ‘penurunan’ berupa apa dan bagaimana brand tersebut mengkomunikasikan sesuatu
  • Terlibat dalam pengembangan user journey
  • Merancang kata-kata pemandu agar user dapat menggunakan produk dengan lebih mudah

Pasar untuk profesi ini sebenarnya tidak terlalu luas ya. Masih lebih besar pasar untuk programmer (developer) ataupun desainer.

Perangkat digital sebagai alat bantunya juga tidak banyak, dengan fitur-fitur yang sedikit. Bahkan cenderung sama dengan yang digunakan oleh para desainer.

Jadi, variasi pekerjaan maupun dinamika karirnya akan begitu-gitu saja. Kali lain, saya bisa sharing soal bagaimana membuat karir kita sebagai penulis menjadi lebih bervariasi.

Nah, kalau kamu ada pertanyaan soal profesi ini, atau mungkin sudah tahu tentang profesi ini, silakan share di kolom komentar, ya 🙂

BACA JUGA: Perbedaan Content Writing, Copywriting, dan Content Strategy.

LIHAT JUGA: UX Writer di Era Digital

Kesehatan Mental Anak-Anak dan Remaja di Masa Pandemi

Topik kesehatan mental rupanya semakin dicari. Di samping yang bergejala bertambah banyak, kesadaran akan kesehatan mental terus meningkat.

Definisi

Mental yang sehat. Sehat secara mental adalah keadaan ketika seorang individu merasa sejahtera, baik secara psikologis, emosional, ataupun secara sosial.

Menurut WHO, mental yang sehat adalah kondisi dari kesejahteraan yang disadari individu, yang di dalamnya terdapat kemampuan-kemampuan untuk mengelola stres kehidupan yang wajar. Sederhananya, individu dapat bekerja secara produktif dan menghasilkan serta berperan di lingkungannya.

Kesehatan Mental di Masa Pandemi

UNICEF memperingatkan bahwa anak-anak dan remaja berpotensi mengalami dampak jangka panjang dari COVID-19 terhadap kesehatan mental mereka.

Membaca press release tersebut, saya kira hal tersebut diakibatkan oleh satu atau beberapa sebab berikut:

  • Sekolah online. Jadi jarang berinteraksi secara riil dengan teman-teman sekolah.
  • Kurangnya rasa kasih sayang. Yang mungkin di antaranya disebabkan oleh menurunnya kemampuan orang tua dalam memenuhi kebutuhan kasih sayang si anak. Secara fisik maupun non-fisik.

Pandemi, selain membuat sebagian besar kita jadi lebih memperhatikan kesehatan fisik, juga membuat kita lebih memperhatikan sisi mental.

Ada beragam cara sering dibagikan untuk membantu mengatasi masalah kesehatan mental secara individual, berikut beberapa di antaranya:

  • meditasi,
  • yoga,
  • afirmasi positif (pernyataan positif bagi diri sendiri maupun orang lain), 
  • self-compassion (sikap untuk memberikan kebaikan pada diri dan memahami diri sendiri), hingga
  • terapi dengan bantuan hewan (peliharaan) atau pet therapy.

BACA JUGA: Review Buku Filosofi Teras

Kesehatan Mental Remaja

Berdasarkan data terbaru, diperkirakan terdapat lebih dari 1 dari 7 remaja berusia 10-19 tahun di dunia yang hidup dengan diagnosis gangguan mental. Setiap tahun, tindakan bunuh diri merenggut nyawa hampir 46.000 anak muda – tindakan ini adalah satu dari lima penyebab utama kematian pada kelompok usia itu.

Gangguan terhadap rutinitas, pendidikan, rekreasi, serta kecemasan seputar keuangan keluarga dan kesehatan membuat banyak anak muda merasa takut, marah, sekaligus khawatir akan masa depan mereka.

Sementara itu, ada pula faktor-faktor yang berpengaruh positif seperti lingkungan pengasuhan yang penuh kasih sayang, sekolah yang aman, dan interaksi positif dengan teman sebaya.

Berikut sejumlah temuan data tentang anak muda di Indonesia yang tercakup dalam laporan State of the World Children:

  • Hampir satu dari tiga anak muda di Indonesia (29 persen) dilaporkan sering merasa tertekan atau memiliki sedikit minat dalam melakukan sesuatu, menurut survei yang dilakukan oleh UNICEF dan Gallup di 21 negara pada paruh pertama tahun 2021.
  • Penelitian terbaru menunjukkan bahwa program bantuan tunai bersyarat telah mengurangi angka bunuh diri sebesar 18 persen di Indonesia.

Bagaimana Cara Tes Kesehatan Mental

Perhatikan bahwa ada jarak atau rentang tertentu dari yang namanya mengalami gejala dengan sudah terdiagnosis mengalami penyakit kejiwaan. Jadi harus berhati-hati dalam melakukan asesmen. Dan hasilnya harus dikonsultasikan dengan ahlinya.

Jangan self-diagnose sendiri seperti yang dilakukan beberapa orang pasca menonton film Joker, hehehe.

Ada beberapa tes yang bisa dilakukan:

  • https://pijarpsikologi.org/tes-kesehatan-mental
  • https://satupersen.net/quiz/tes-sehat-mental
  • https://www.ibunda.id/tespsikologi/tes-kesehatan-mental-online

BACA JUGA: Quarter Life Crisis

Referensi: