Parenting Islami

Saya tidak ingin memberikan batasan yang kaku banget. Selama parenting dan pengasuhan yang dilakukan berdasar pada kaidah maupun petunjuk yang bila ditelusuri sampai ke hulunya ternyata berasal dari Al-Qur’an dan hadits, maka itulah ‘ruang’ itulah yang saya sebut sebagai ‘parenting islami’.

Tentunya koridor parenting islami ini hanya ditujukan untuk orang tua yang muslim saja. Namun demikian, bila ada hal-hal yang dirasa baik untuk diikuti oleh non-muslim, maka silakan diikuti. Toh, tidak ada paksaan untuk mengikuti karena yang termaktub dalam tulisan ini bukanlah kebenaran mutlak bagi yang tidak meyakini.

islamic parenting
Potret keluarga islami

Sembari mengingatkan diri saya sendiri, saya memahfumi bahwa segala perilaku anak selama di dunia adalah tanggung jawab orang tuanya. Selama masih anak dan belum akil baligh ya.

Secara bahasa, akil memiliki arti berakal, memahami, atau mengetahui. Sementara itu, baligh didefinisikan sebagai seseorang yang sudah mencapai usia tertentu dan dianggap sudah dewasa, atau sudah mengalami perubahan biologis yang menjadi tanda-tanda kedewasaannya (Rasjid, 2010: 83).

Termasuk mendidik, dan mengasihi seorang anak itu adalah tanggung jawab orang tuanya. Pengetahuan agama termasuk ke dalam domain pendidikan yang wajib diberikan oleh orang tua kepada anak. Berikut adalah cara-cara mendidik anak:


15 Cara Mendidik Anak Menurut Ajaran Islam

  1. Memperdengarkan Alquran secara rutin.
  2. Mengajarkan bacaan dan gerakan shalat dan rukun islam lainnya
    1. Dua kalimat syahadat (belasan kali dibaca dalam sehari)
    2. Puasa Ramadhan (wajib bisa sehari penuh selama 30 hari)
    3. Zakat (tambahannya adalah infak, sedekah, dan wakaf)
    4. Naik haji bila mampu)
  3. Mengajarkan tauhid pada anak (sebagaimana tertuang dalam surat al-ikhlas) dan rukun iman lainnya
    1. Iman kepada para malaikat
    2. Iman kepada kitab-kitab (Islam mengakui kitab-kitab terdahulu, termasuk yang terakhir dan terlengkap: Al-Qur’an)
    3. Iman kepada para rasul (jumlah rasul ada 25, masing-masing punya kisah dan lokasi perjuangannya. Yang utama adalah nabi umat terakhir: Muhammad SAW).
    4. Iman kepada hari akhir (bahwa kiamat pasti terjadi, beserta konsekuensi yang mengikutinya)
    5. Qada’ qadar (qada adalah ketetapan, ketentuan, ukuran, atau takaran dari Allah SWT. Sementara qadar adalah perwujudan dari qada)
  4. Membacakan kisah nabi sebagai konsep akhlak yang baik. Namun, konsep ini harus diikuti dengan praktik yang menjadi kebiasaan sehari-hari. Saat ini sudah banyak komik-komik islami yang memberikan pelajaran tentang akhlak dan perilaku.
  5. Membiasakan untuk berdoa dalam aktifitas sehari-hari serta ucapan Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh dan wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.

Hak anak dalam islam

  • Memperoleh nasab (identitas diri) yang lengkap. Siapa ayah-ibu, kakek-nenek, saudara-saudara kandung, sepupu, dll.
  • Diberikan nama yang baik. Nama yang baik adalah nama yang di dalamnya berisi doa dan harapan yang baik kepada sang pemilik nama. Seiring dengan berulangnya panggilan kepada nama tersebut, harapannya adalah kebaikan juga datang kepadanya.
  • Menutup aurat (pakaian yang menutup aurat dan mengajarkan apa itu malu dan dalam keadaan apa harus malu).
  • Istinja (bersuci). Bahwa dirinya bersih dan harus membersihkan diri tatkala mengalami suatu keadaan yang kotor.
  • Mendapat pendidikan dan pengasuhan sesuai dengan gender yang diterimanya. Yaitu sebagai berikut:

Psikologi Mendidik Anak Cara Islam

Yang Wajib Diajarkan Kepada Anak Laki-Laki dan Perempuan

Mandiri dan Bertanggung Jawab

Anak-anak wajib diajarkan untuk mandiri dan bertanggung jawab, karena tidak selamanya anak-anak bersama para orang tua. Ada masanya mereka akan menjalani kehidupan mereka sendiri sebagai manusia dewasa.

Bersyukur

Merasa kekurangan itu tidak ada habisnya. Jadi harus diimbangi dengan rasa bersyukur atas apa yang diterima dari Allah subhanahu wa ta’ala.

Rezeki itu seperti pohon mangga.

Ada yang buahnya tinggal kita petik tanpa usaha sedikit pun. Cukup mengangkat tangan.

Ada yang harus dengan peralatan tertentu yang panjang seperti galah dengan “penangkap” yang terbuat dari bambu. (Rupanya alat seperti ini sudah ready dan bisa di-checkout dari e-commerce kesayangan kamu).

Ada yang effort-nya cukup berat karena pohonnya pun harus dipanjat. Dalam hal ini, keterampilan memanjat sangat diperlukan.

Ada pula yang harus bekerja sama dengan orang lain demi memperoleh rezeki/mangga yang lebih banyak. Sebelum “menaiki pohon”, harus bikin “kontrak” dulu dengan rekan yang diajak bekerja sama.

Perlu diingat bahwa konteks rezeki tentu tidak berupa uang saja ya.

Intinya adalah rezeki itu selalu bisa kita usahakan. Sebagai upaya lebih lanjut dari rezeki yang “tinggal dipetik”.

Cara Mendidik Anak Laki-Laki

Sebagai pemimpin dalam shalat

Apabila ada laki-laki dan perempuan dalam satu jamaah shalat, maka diajarkan bahwa laki-laki sebagai imam, sementara perempuan sebagai makmum.

Di antara laki-laki yang akan menjadi imam, sebaik-baiknya adalah yang bacaan al-qur’an-nya paling baik.

Ajarkan pula, bahwa anak laki-laki kelak akan menjadi pemimpin dan menjadi seorang imam yang baik pula untuk keluarganya.

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita).” QS. An-Nisaa’: 34.

Membaca Al-Qur’an

Rutin membaca, menghafalkan, dan melafalkan Al-Quran adalah modal besar bagi anak laki-laki untuk berkeluarga. Minimal, modal tersebut dapat digunakan untuk memimpin shalat tarawih di rumah.

Al qur’an adalah modal memimpin shalat

Menundukkan Pandangan

Sebab lelaki adalah makhluk visual (sekaligus pemburu), maka dia akan fokus ‘mengejar’ apa yang dapat dilihat oleh matanya. Untuk hal-hal yang baik semisal nafkah, tentu wajib hukumnya ‘dikejar’. Kecuali terhadap hal-hal buruk, maka anak-anak lelaku harus diajarkan untuk menundukkan pandangannya.

Cara Mendidik Anak Perempuan

Menutup Aurat

Kalau anak lelaki menundukkan pandangan, maka anak perempuan diajarkan untuk sedini mungkin mengenali mana aurat yang harus ditutup di ruang publik. Jadi, inti dari berhijab adalah menutupi aurat, bukan sekedar menutup kepala. Kata hijab sendiri berasal dari bahasa arab yang artinya kira-kira menghalangi atau menutupi.


Baca juga tulisan lain saya seputar Parenting ya.

Kalkulator Biaya Pendidikan Anak dari Prudential membuat rencana pendidikan menjadi lebih SMART

SMART adalah Specific, Measurable, Achievable, Relevant and Time-bounded. Dalam bahasa Indonesia, artinya adalah spesifik, terukur, bisa dicapai, relevan, dan terikat-waktu.

Orang tua yang baik itu memberikan dukungan dan dorongan kepada anak-anak yang dititipkan kepada mereka dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Bagi para orang tua, tentu saja akan sangat membahagiakan melihat anak-anak bertumbuh untuk meraih cita-citanya.

Pendidikan hari ini adalah investasi bagi masa depan anak-anak kita. Mencapai edukasi yang baik hari ini hendaknya wajib dimulai sejak dini. Tidak hanya persiapan dari rumah yang perlu kita lakukan, melainkan juga biaya pendidikan perlu kita alokasikan sejak dini.

Bahkan idealnya, sudah sejak anak tersebut lahir ke dunia, sudah waktunya kita mengambil ancang-ancang investasi pendidikan.

Karena 4 tahun sejak lahir saja, anak tersebut sudah TK. Dua tahun kemudian SD, 6 tahun berikutnya SMP, 3 tahun selanjutnya SMA, tidak terasa 3 tahun kemudian tiba saatnya datang masa-masa berkuliah.

Kita sebagai orang tua pastinya akan lebih lega sekaligus bangga jika memiliki kesiapan finansial yang baik untuk mendukung potensi dan minat anak. Tiga langkah berikut ini adalah persiapan-persiapan yang harus dilakukan demi masa depan yang lebih cerah untuk si anak:

(1) Persiapan Biaya Pendidikan Anak

Persiapan pertama adalah visi atau tujuan pendidikan anak. Apakah divisikan sebagai seniman (artist) yang notebene sekolahnya di bidang seni, atau menjadi dokter yang setidaknya harus menempuh 4 tahun pendidikan sarjana, 2 tahun co-as, dan 1 tahun magang (internship). Atau kuliah di fakultas teknik untuk menjadi seorang tukang insinyur (engineer).

Untuk jangka yang lebih pendek, berikut adalah beberapa karakteristik dari lembaga pendidikan hal yang kita sebagai orang tua, harus pertimbangkan dan pilih, di antaranya adalah:

  • Pilih pendidikan formal di sekolah atau homeschooling,
  • Bila pendidikan formal, menghendaki sekolah negeri atau sekolah swasta, –sebagaimana kita tahu, sekolah negeri relatif terjangkau biayanya. Jaraknya juga relatif dekat dengan rumah.
  • Terkait pendidikan agama, ingin sekolah dengan kurikulum agama yang kental dalam lingkungan asrama, atau mengambil pelajaran agama di luar sekolah formal, misalnya TPA (Taman Pendidikan Al-qur’an)
  • Jika sekolah swasta, mengikuti standard kurikulum nasional atau internasional (semisal: International Baacalaureate (IB), Cambridge International, atau lainnya)

(2) Mengenali Arah Pendidikan yang akan Ditempuh oleh Anak

Dari karakteristik lembaga-lembaga pendidikan yang telah disebut di atas, kita dapat mengenali bahwa masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Tidak hanya soal strength dan weakness, tiap-tiap jenis pendidikan juga memiliki struktur biayanya masing-masing. Ada pembayaran yang hanya sekali di awal berupa uang pangkal dan uang pembangunan. Ada yang rutin setiap bulan/semester yaitu uang SPP, uang ekstrakurikuler, dan sebagainya. Demikian pula dengan besaran biaya dari masing-masing sekolah yang angkanya sangat mungkin bervariasi satu sama lain.

Orang tua bisa mulai menyusun perkiraan biaya sekolah dari TK sampai kuliah. Bisa juga memasukkan kursus-kursus tambahan seperti kursus bahasa asing, kursus matematika, bimbingan belajar, kursus musik, kursus olahraga, dan lain sebagainya.

Namun, perlu diketahui bahwa biaya pendidikan terus naik setiap tahunnya. Inflasi biaya pendidikan menyebabkan biaya pendidikan cenderung naik 10% – 15% per tahun. Yang lebih ekstrim bahkan menggunakan inflasi pendidikan sebesar 20%.

Saat ini uang pangkal SD swasta favorit di kota-kota besar di Indonesia berkisar pada angka 30 juta rupiah. Jika anak akan masuk SD tersebut 2 tahun lagi, maka uang pangkalnya sudah di kisaran 36 juta.

Perguruan tinggi negeri seperti ITB (Institut Teknologi Bandung) tahun 2020 saja, per semester sudah Rp12,5 juta.

(3) Menyusun Perencanaan Keuangan dan Estimasi Biaya yang akan Dikeluarkan

Langkah ketiga, yaitu dari target biaya pendidikan yang sudah diperoleh, baru disusun langkah mencapainya. Perlu distrategikan dengan baik, karena pendidikan anak adalah perjalanan yang cukup panjang. Semakin awal orang tua mempersiapkan maka akan semakin baik.

Berikut ini adalah karakteristik produk keuangan dalam membantu kita mencapai biaya pendidikan anak:

  • Produk tabungan tentu saja bisa membantu. Akan tetapi, tidak mampu mengejar inflasi yang berkisar 10%-20% tersebut.
  • Adanya asuransi akan menjamin pencairan dana ketika anak sudah masuk ke jenjang pendidikan tertentu. Asuransi pendidikan bisa menjadi alternatif, meskipun belum terlalu populer.
  • Produk investasi seperti reksadana atau saham bisa juga untuk mewujudkan rencana pendidikan anak. Namun, keduanya baru berkinerja optimal bila dilakukan dalam jangka panjang (>5 tahun).

Kesamaan di antara ketiganya adalah para orang tua wajib mengetahui berapa banyak uang yang harus disimpan setiap bulan untuk mengejar kesiapan biaya pendidikan anak.

Opsi terakhir manakala target biaya pendidikan anak belum tercapai adalah dengan mengandalkan produk jasa finansial seperti pinjaman pendidikan. Namanya juga pinjaman, pengembaliannya bisa dimulai secepat mungkin, bisa juga ketika siswa/mahasiswa yang bersangkutan sudah menyelesaikan pendidikannya dan telah bekerja.

Kalkulator Biaya Pendidikan Anak

Kini sudah ada kalkulator biaya pendidikan anak dari Prudential. Dengan kalkulator digital ini, para orang tua tidak perlu kebingungan atau kerepotan dalam menghitung biaya pendidikan anak di masa depan.

Yang membuat kalkulator ini lebih powerful dibanding alat sejenis adalah sudah memasukkan faktor negara dalam menghitung biaya pendidikan anak. Ada beberapa negara yang bisa dipilih, yaitu: Amerika Serikat, Inggris, Australia, Malaysia, Singapura, dan tidak terkecuali Indonesia.

Kalkulator dari Prudential ini tidak hanya menghitung biaya pendidikannya saja. Namun juga sekaligus biaya hidupnya.

Demikian tulisan ini kami akhiri, mudah-mudahan kita semua dimampukan menjadi orang tua yang mampu membiayai pendidikan anak-anak hingga mereka menjadi sarjana.

kalkulator pendidikan anak dari prudential

Ayah: Jumlah Sembilan

Ayah saya suka dengan angka yang bila semua bagiannya dijumlah hingga menjadi satu digit, menghasilkan angka sembilan. Tulisan ini, adalah rangkuman hal-hal baik dari beliau yang saya teladani.

Bagi beliau, sembilan itu angka keberuntungan.

Selama bisa diusahakan, maka carilah kombinasi angka yang menghasilkan sembilan. Misalnya, plat nomor mobil. Lalu, nomor rumah.

Tentu tidak semua bisa diusahakan seperti itu. Beliau pernah punya rumah makan dan usaha ritel yang tempatnya berupa kios di pasar tradisional. Brand-nya adalah “78”. Angka tersebut, kebetulan adalah tahun yang sama beliau pertama kali merantau. Beliau juga bekerja sama dengan sebuah koperasi yang ada nama “78”-nya.

Yang menarik, nomor nisan beliau di pemakaman, ternyata juga berjumlah sembilan 😊

“Angka keberuntungan” itu hanya satu di antara beberapa hal yang menjadi karakteristik beliau. Izinkan saya berbagi hal-hal baik tentang beliau di post ini.

Ad Dien

Beliau menekankan dan mengingatkan pentingnya shalat berjamaah khususnya bagi laki-laki di masjid.

Selain pahala 27 derajat, yang membedakan antara lelaki yang shalat di rumah dan di luar rumah adalah, dia lebih “eksis”. Terlihat gitu lho, dia berasal dari dan kembali ke rumah yang mana. Di sisi lain, shalat berjamaah di masjid juga berarti membangun silaturahmi dengan warga setempat.

Beliau itu rajin mengaji. As simple as “mengundang malaikat” dan “mendatangkan kebaikan” di tempat kita berada. Baik itu rumah, kios, maupun di dalam mobil sekalipun.

Bangun dan menjaga silaturahmi. Sama saya, beliau suka tanya gimana kabarnya teman-teman saya. Meskipun sedikit yang diingat oleh beliau, tapi setidaknya beliau mau berusaha. Jadinya saya juga biasa menyebut nama teman saya kepada para saudara-saudara kandung. Supaya saling mengenal. Minimal tahu.

Di tanah rantau, beliau juga menjalin silaturahmi dengan orang-orang satu suku – baik yang ada hubungan darah maupun bukan keluarga. Terakhir, beliau banyak aktif di komunitas pensiunan.

Believe. Beliau itu sering bilang, “memang sudah begitu jalannya”. Artinya, memang sudah begitu ketetapan/takdir-nya. Ya beliau meyakini itu.

Di sisi lain, beliau percaya dengan luck. Tapi keberuntungan bukan syirik ya. Hanya sekadar intuisi bahwa yang ada di hadapan ini –misalnya si jumlah sembilan tadi– akan mendatangkan keberuntungan.

Financial Management

  • Berbelanja konsumtif yang lebih kecil nilainya daripada pendapatan yang diperoleh.
  • Tidak berhutang. Tentu beliau pernah berhutang. Pada satu titik, semua hutangnya sudah lunas.
  • Menabung. Simpan uang di bank.
  • Membeli aset. Aset adalah sesuatu yang (kita yakini) harganya akan naik di kemudian hari.
  • Berdagang. Sesuatu barang sudah untung bahkan sejak dibeli. Artinya, kita sudah tahu/memprediksi bisa dijual di harga berapa barang tersebut. Berapa untung (berupa marjin atau rupiah) yang diperoleh.
  • Double, triple, atau lebih sumber pendapatan. Bekerja di kantor/perusahaan iya, punya sampingan juga iya.
  • Mengeluarkan uang di jalannya Allah subhanahu wa ta’ala. Bayar zakat, infak, dan sedekah. Ikut berqurban. Sumbang aqiqah untuk cucu yang baru lahir. Pergi haji, lalu umroh. Karena menjadi muslim itu pengeluarannya memang besar.

Selanjutnya,

Orang yang sudah meninggal itu, ya sudah berpulang ke tempat paling hakiki, meninggalkan kita yang masih berada di dunia fana ini.

Bahkan katanya, tidak ada lagi pahala yang bisa mengalir kepada almarhum/almarhumah kecuali 3 hal:

Karena “kontrak”-nya yang sudah habis itu, maka peristiwa sudah berpulang-nya seseorang ke rahmatullah itu mengingatkan kita bahwa kita pun punya “janji” yang sama. Dan hendaknya, kita menghabiskan waktu kita untuk hal-hal yang mendatangkan pahala saja.

Sembari berdo’a dan berharap agar kita mendapat syafa’at di hari akhir nanti.

Perihal almarhum/almarhumah, janganlah kita teringat akan keburukannya. Melainkan, ingatlah dan tirulah hal-hal baik darinya. Ya prinsipnya, caranya dia hidup, amal ibadahnya, dan kebaikan-kebaikan lainnya.

Saya menuangkan ke dalam blogpost ini, supaya bisa saya tengok-tengok lagi. Mencari sedikit semangat, karena beliau itu semangat sekali dalam hidupnya. Ya semangat mencari nafkah, ya semangat dalam beribadah.

Dan berdo’a lah untuknya, agar dilapangkan kuburnya, diampuni dosa-dosanya dan diterima pahalanya.

Alfatihah untuk almarhum H. Burhanuddin Saleh.

Anak Ketiga

Kami baru saja melahirkan anak ketiga – di persalinan yang baru kedua kalinya ini.

Saya anak ketiga dari 4 bersaudara. Namanya juga sudah anak ke-sekian, jarak usia dengan orang tua saya tidak lagi di kisaran 20-an pertengahan tahun. Waktu saya dilahirkan, ayah saya berusia 31 tahun dan ibu saya 29 tahun.

Dalam membesarkan saya, tentu orang tua saya tidak belajar otodidak dari nol. Sudah ada dua kakak sebelum saya. Tapi bukan berarti tinggal mereplikasi apa-apa yang udah terbukti ‘it works’.

Ada bakat atau karakter bawaan orok dari saya yang tentu saja tidak sama dengan kakak-kakak saya. Dan itulah yang membuat parenting selalu menarik ya. Treatment yang sama belum tentu memberikan hasil yang sama pada anak berbeda.

Sekarang, saya juga sudah ada anak ketiga. Dari lahiran yang kedua kali.

Praktis, kami “baru” membesarkan seorang anak. Si nomor 1 dan 2 ‘kan kembar ya. Ibaratnya, sekali mengasuh, jadilah dua anak yang tumbuh besar. Baik fisik maupun mentalnya.

Baca juga: Mitos dan Fakta Anak Kembar.

Si baby newborn ini dengan kakaknya berjarak usia setidaknya 6 tahun. Dengan jarak sesignifikan itu, tentu kami pun berharap agar kakak-kakak ini dapat terberdayakan guna turut mengasuh si anak bungsu ini.

Saya sendiri berjarak 34 tahun dengan yang nomor tiga ini. Artinya, pada usia yang sama antara saya dengan dia, pasti ada perbedaan yang signifikan dan dia tidak mungkin memberikan tanggapan yang sama seperti saya.

Baca juga: Dunia Terasa Berbeda Setiap 30 Tahun Sekali.

Di satu sisi, beban sebagai orang tua terasa berat. Bagaimana kita menjelaskan dan menunjukkan dunia kepada mereka. Karena dunia itu selalu berubah. Dengan kata-kata semisal:

“Ini lho dunia. Dunia itu bekerja dengan mekanisme seperti ini lho. Untuk bisa survive bahkan menang, ini lho beberapa hal yang harus kamu lakukan. Bla bla bla.”

Jadi itu adalah keresahan (anxiety) seorang ayah seperti saya.

Dari awalnya sebagai anak yang kemudian menjadi orang dewasa, lalu menjadi orang tua, ada kalanya (tidak selalu) saya merasakan ketiadaan bimbingan dari ayah saya.

Saya pun mengkhawatirkan hal yang sama. Either tidak bisa membimbing (memberikan arah) kepada anak, ataupun tidak bisa menjadi rekan diskusi yang sepadan –karena gagap membaca perubahan dunia yang terjadi.

Sisi yang Menguntungkan

Di sisi lain, kita sebagai orang tua tidak bisa memilih ingin anak yang seperti apa. Instead of memilih, kita hanya bisa berdoa agar diberikan yang terbaik.

Untuk bayi yang baru lahir, sehat wal ‘afiat dengan organ-organ yang lengkap adalah suatu nikmat yang tak terukur — karena kita tidak bisa mengukur segala waktu dan usaha andaikata lahir tidak normal ‘kan.

Kita pun tidak bisa menjamin hidupnya 1000% persen. Sesederhana sudah ada Dzat Maha Kuasa yang mengatur berbagai rezekinya pasca lahir ke dunia. Orang tua hanya bisa mengusahakan dan mudah-mudahan dipertemukan dengan kesempatan tersebut. Supaya bisa menjadi jalan rezeki si anak.

Meskipun demikian, kami sebagai orang tua sudah memberikan suatu cap (english: brand), yaitu nama lengkap kepada si anak ketiga ini yang mudah-mudahan memberikan kebaikan baginya, bertahan hingga akhir hayatnya, serta tidak rumit dalam penulisan maupun pengucapannya: Akmal Insan Salim.

Pengalaman Melahirkan di RSIA Grha Bunda Tahun 2021

Pengalaman personal seperti ini jarang saya bagikan. Namun, demi memperkaya varisi konten di blog ini dan membangun kedekatan dengan para pembaca, akhirnya saya tuangkan juga.

Istri saya memilih RSIA ini setelah riset dan komparasi dengan setidaknya 2 RS ternama di Kota Bandung. Yaitu, RS Borromeus dan RS Melinda 2. Soal biaya persalinan secara Sectio Caesarea (SC) berada di kisaran 36-38 juta. Ini biaya tahun 2021 ya.

RSIA Grha Bunda

Untuk RSIA Grha Bunda sendiri di kisaran 26-28 juta. Kami sendiri bayarnya 28+ juta.

Harga detail dan aktual (updated) ada di brosur harga dari RS yang secara periodik mereka perbaharui. Bukan dari blog ini atau blog yang lain. Haha.

Tentu saja, price-nya SC lebih mahal ya daripada lahiran biasa. Ono rego ono rupo. Ada harga ada rupa.

Secara jarak, tidak terlampau masalah untuk kami. Baik RS Melinda 2, maupun Grha Bunda keduanya sama-sama berjarak sekitar 4 km. Relatif dekat ya. Keduanya dan RS Borromeus terletak di jantung Kota Bandung.

Berkali-kali pemeriksaan, kami memang lebih banyak di RS Melinda 2. Dengan dokter Oky Haribudiman. Beliau bagus, kok. Ramah dan mampu menjelaskan dengan bahasa yang sederhana.

Sementara pemeriksaan kehamilan di Grha Bunda praktis hanya 3 kali sebelum lahiran. Sekali di bulan Mei, sekali Juni, dan sekali lagi di bulan Juli. Yang terakhir ini hanya berselang 2 minggu dari pemeriksaan sebelumnya, dan berjarak 1 minggu dari hari melahirkan. FYI, SC ini dilakukan di usia kehamilan 38 weeks.

Satu dan lain hal membuat kami memutuskan untuk lahiran di RSIA Grha Bunda saja. Kami mendaftar untuk proses persalinan pada dua hari sebelum tanggal yang disepakati dengan si dokter kandungan, dr. Leri Septiani. Beliau ini juga oke, kok. Ramah dan mampu menjelaskan dengan sederhana.

Sebaiknya memang begitu, karena registrasi ini memakan waktu yang relatif lama. Sekitar 2-3 jam. Kasus ini tentu saja banyak di lahiran spontan ya.

Rupanya SC pun termasuk normal, lho. Ini saya baru tahu. Jadi persalinan normal itu ada normal SC dan normal spontan.

Alhamdulillah proses berjalan lancar. Pasca menitipkan Anak Dua di rumah tantenya, esok harinya kita menuju Grha Bunda. Registrasi ulang dulu sebentar saja, lalu “dititipkan” di UGD untuk pemeriksaan awal oleh para perawat, sebelum dimasukkan ke kamar inap.

Yes, sempat masuk kamar inap sebelum proses persalinan.

Pertanyaan yang berulang dari beberapa ‘lapis’ perawat tersebut di antaranya adalah

  • Ada alergi obat apa saja?
  • Ini lahiran ke berapa?

Dari jadwal yang ditetapkan, proses dimulai lebih cepat 45 menit. Pindah dari kamar inap ke kamar operasi, pemberian anestesi dan lain sebagainya. Sehingga, adek bayi bahkan lahir hanya 15 menit terhitung dari jam-J yang telah disepakati sebelumnya.

Observasi kepada ibu yang melahirkan berlangsung kurang lebih 2 jam. Sebelum “dikembalikan” ke kamar inap. Sementara adek bayi sendiri, setelah observasi kurang lebih 2 jam juga, akhirnya masuk ke kamar perawatan intensif. Yang biasa disebut “perinatologi” juga.

Nah, “pemisahakan” tersebut ada backstory-nya juga.

Hanya 7 hari sebelum persalinan, rupanya ketahuan bahwa istri terinfeksi varicella-zoster. Alias cacar air. Kondisi ini berbahaya bagi si bayi. Dokter dan kami terpaksa menempuh proses SC. Padahal, tadinya kami ingin normal-spontan saja. ‘Kan lahiran sebelumnya sudah SC juga.

SC ternyata hanya satu fase saja demi menghindarkan adek bayi dari infeksi cacar air. Pasca persalinan pun, ibu dan bayi harus dipisahkan. Ibu di kamar inap, sementara adek bayi dirawat intensif di ruang perina di bawah pengawasan dokter anak, yaitu dr.Vidi Permatagalih.

Kami rasa, dokter anak yang satu ini sama ramah dan komunikatifnya dengan dua dokter yang kami sebutkan sebelumnya. Honestly, Ini memang kriteria yang kami tetapkan dalam pemilihan dokter.

In total, ibu dirawat selama 3 hari 2 malam. Sementara adek bayi yang terpisah ini, dirawat 4 hari 3 malam.

Hingga hari ke-7 ini pun, adek bayi masih “diisolasi” dari kakak-kakaknya. Karena salah satu kakak masih punya kemungkinan menularkan cacar tersebut kepada adek bayi.

Biaya Persalinan

Pemisahan yang tidak terelakkan ini berimbas pada biaya yang tidak bisa di-reimburse ke asuransi kantor. Si adek kan dirawat dengan bill (tagihan) yang terpisah dari ibunya. Jadi tidak bisa ke dalam tagihan melahirkan.

Untuk 4 hari 3 malam saja di ruang perina, total cost yang harus kami bayarkan (berikut dengan ucapan terima kasih kepada RS) adalah sekitar Rp 6 juta.

Secara umum, kami terkesan dengan pelayanan RS Grha Bunda. Meski baru berdiri sejak 2015, namun pengalaman dan profesionalitasnya terasa banget.

Demikian informasi dan cerita dari kami. Mudah-mudahan bermanfaat, ya.

Mengatasi Anak Kecanduan Gadget

Di zaman saya sebagai anak-anak, tantangan tersulit mungkin TV ya. Tetapi, di zaman now, tantangan dalam parenting datang setidaknya dari empat hal: TV, komputer, smartphone dan internet.

Bagaimana menumbuhkan minat baca pada anak?

Pertanyaannya mungkin kurang tepat kali ya. Menurut saya, pertanyaan yang tepat adalah, “Topik apa yang diminati oleh anak untuk dieksplorasi lebih lanjut?”

Pada dasarnya anak sudah punya rasa ingin tahu (curiosity) secara alami. Salah satu cara memenuhi keingintahuan tersebut bisa dengan membaca. Nah, orang tua perlu menyelami si anak, untuk mengetahui topik apa yang ingin didalami. Cara yang selalu berhasil adalah dengan bertanya terlebih dahulu kepada yang bersangkutan.

Pengalaman pribadi saya, topik-topik yang pernah melintasi pikiran dan kemudian dieksplorasi oleh Anak Dua di antaranya adalah: dinosaurus (berikut perkembangan zaman), tata surya (planet, satelit, dll), negara (bendera, bahasa, dll)). Tentu ini contoh saja. Karena ‘pancingan’ dari orang tua berbeda-beda, dan apa yang terpapar kepada masing-masing anak juga tidak sama.

Jadi yang bisa orang tua lakukan adalah memberikan sumber atau referensi yang bisa mereka eksplorasi lebih lanjut — di antaranya buku yang bisa dibaca. Kita perlu mengingat juga bahwasanya buku bukanlah satu-satunya sumber. Di era internet ini, banyak sekali sumber pengetahuan. Kenyataan bahwa kita harus bisa melakukan penapisan (filtering) itu adalah sebuah keahlian yang akan saya bahas di pertanyaan lainnya.

Bagaimana membatasi waktu anak untuk menonton TV?

Televisi (TV) bukan lagi satu-satunya alat informasi dan hiburan. Sekarang semua konten tersebut bisa terakses lewat komputer maupun handphone. Yang notebene, ketiganya sudah dimiliki oleh sebagian besar di antara kita, khususnya kelas menengah kita di Indonesia.

Nah, Bagaimana membatasi waktu anak dalam mengakses satu atau ketiga macam perangkat tersebut?

Namun, kuncinya adalah dengan menyampaikan pengantar (brief) kepada anak bahwa mengakses perangkat tersebut bukan satu-satunya hal yang bisa mereka lakukan.

Masih banyak aktifitas lain yang bisa dieksplor. Untuk anak balita, mengasah motorik halus dan kasar merupakan kewajiban orang tua. Anak-anak yang lebih besar bisa kita arahkan untuk mengeksplorasi kegiatan ekstrakurikuler yang memancing minat mereka, semisal musik, olahraga, bela diri, dan sebagainya.

Adakah batasan waktu bagi anak untuk bermain game di komputer atau internet?

Bermain adalah satu bentuk rekreasi. Tujuan rekreasi adalah menghilangkan kepenatan. Cara lain menghilangkan kelelahan/kejenuhan adalah memaparkan diri pada hiburan (entertainment).

Lagi-lagi, TV, komputer, internet, smartphone adalah alat hiburan (selain alat informasi). Seyogyanya, tidak perlu berlama-lama. Antara 2-4 jam saja per hari seharusnya sudah cukup.

Anak-anak yang menghabiskan waktu di luar kewajaran, karena merasa engaged dengan gamifikasi oleh game, lalu mencapai prestasi tertentu yang ditargetkan oleh permainan tersebut, perlu kita berikan tantangan lebih sulit untuk mereka capai.

Bagaimana mengawasi perilaku anak di rumah agar tidak tergantung pada TV, internet, ataupun handphone?

Semua bentuk hiburan rekreatif tujuannya adalah menghilangkan kepenatan. Selama penatnya sudah hilang, maka anak tidak perlu lagi bergantung pada TV, internet, maupun handphone.

Nah, yang perlu kita sadari, produktifitas pun bisa dilakukan dari barang sekecil smartphone. Merekam video, menyunting gambar, mendesain visual sudah bisa dilakukan dari handphone dengan ribuan aplikasi digital yang tersedia.

Yang perlu kita tekankan kepada anak-anak kita di rumah adalah pencarian hiburan dari ketiga perangkat di atas sifatnya sementara saja. Kalau sudah tidak lelah secara psikis, anak-anak harus didukung untuk sibuk menghabiskan waktu dan produktif membuat sesuatu karya.

Untuk beberapa hal, internet juga diperlukan. Bagaimana pendapat Ayah dan Ibu?

Internet adalah ‘pisau’. Tergantung penggunanya dan untuk apa alat tersebut digunakan. Digunakan untuk mencari dan menggunakan informasi jelas bisa. Seperti banyak video-video DIY (Do It Yourself) di YouTube. Ulasan (review) produk atau jasa. Namun keburukan, kejahatan, pornografi ya juga ada di internet.

Baca juga: 9 Elemen Kewargaan Digital

Salah satu cara mengatasi pornografi adalah dengan mengarahkan diskusi pornografi ke ranah yang lebih ilmiah dan pendidikan gender (sex education). Di antaranya adalah topik reproduksi, mengapa manusia berkembang biak, pembagian peran dan kewajiban di antara lelaki dan perempuan, dst.

Saya kira, hal serupa juga berlaku untuk anak-anak yang terlanjur keranjingan main game online.

Kapan waktu yang tepat untuk memberikan handphone kepada anak?

Dalam konteks orang tua memberikan handphone kepada anak, fungsi handphone adalah alat berkomunikasi antara anak dan orang tua. Fungsi utama ini yang harus dijalankan. Misalnya, mengabari orang tua bahwa sekolah sudah usai dan minta dijemput atau menginformasikan si anak mau berangkat ke tempat les sehingga terlambat pulang ke rumah.

Di sisi lain, handphone bisa memberikan hiburan lewat media sosial seperti YouTube, Instagram, Tiktok itu adalah fungsi sekunder yang tentu saja tidak boleh menyalahi fungsi utamanya.

Nah, seiring dengan akses anak kepada media sosial, kita juga perlu mengingatkan bahwa identitas kita dengan sendirinya terekspos ke dunia luar. Oleh sebab itu, kita wajib menekankan secara berkala bahwasanya identitas kita harus dijaga kerahasiaannya. Mulai dari password, informasi pribadi dan keluarga yang tidak perlu diungkap ke publik, dan lain sebagainya.

Anak dan Interaksi Sosial

Beberapa lapis orang di luar keluarga inti, menuntut interaksi sosial yang berbeda dengan anak-anak. Kita perlu mengajarkan dan mencontohkan bagaimana kita bisa membangun hubungan dengan lapisan-lapisan keluarga besar maupun anggota masyarakat tersebut.

Sejak bayi, anak itu mengenali orang-orang mana yang dekat dengannya. Mana yang dia temui sejak membuka mata (bangun tidur), sering berada di sekitarnya, hingga dia menutup mata (tidur) kembali.

Karena ‘terlalu’ sering bertemu, maka nyaris tiada batas dalam berhubungan/berkomunikasi. Namanya juga orang tua dengan anak ‘kan. Apa saja bisa dilakukan oleh anak dengan orang tuanya; apa saja bisa disampaikan oleh si anak kepada orang tuanya.

Seiring dengan semua interaksi tersebut, kewajiban orang tua malah meningkat –sebagaimana seharusnya– yaitu menjadi madrasah (guru) pertama bagi si anak.

Tetangga

Di lingkaran yang lebih luas dari rumah, ada tetangga kanan-kiri dan depan-belakang. Mereka ini adalah orang terdekat yang berada di sekitar kita di tempat kita biasa tinggal. Yang karena kedekatannya secara fisik, memungkinkan kita bisa saling menolong satu sama lain.

Yang biasa saya dan istri lakukan, adalah berbagi makanan –yang biasa kami makan– dengan para tetangga tersebut. Sooner or later, pasti akan ada bantuan yang sangat mungkin kami request dari mereka. Sebelum kebutuhan tersebut ada, kami memastikan bahwa kami sudah membangun hubungan terlebih dulu.

Saudara / Keluarga

Secara ikatan darah, ada namanya om-tante dan pakdhe-budhe yang kami perkenalkan kepada Anak Dua. Namun, secara fisik belum tentu mereka ini dekat dan bisa dijangkau dengan mudah. Takdir rezeki menuntun kami untuk berjauhan satu sama lain.

Yang biasa kami lakukan, apalagi pandemi begini, adalah rutin video call dengan mereka. Supaya ‘pertemanan’-nya tetap terasa. Kalau sebelum pandemi, masih ada kesempatan untuk saling berkunjung –tidak lupa membawa panganan. Yang paling utama di antara Anak Dua dengan para sepupunya adalah berinteraksi atau bermain bersama.

Sekolah

Di sekolah, ada guru dan teman-teman. Yakni pengajar dan rekan-rekan satu institusi yang sebenarnya, mungkin tidak akan benar-benar lama dan panjang. TK 2 tahun, SMP-SMA masing-masing 3 tahun. Yang benar-benar panjang adalah SD: 6 tahun. Tapi perasaan saya, tidak banyak memori dengan rekan-rekan dari SD yang sama.

Meskipun masih pandemi dan jarang bertemu langsung dengan Bu Guru, kami tetap menekankan untuk menghormati para guru. Ucapkan salam ketika bertemu di sekolah. Izin untuk pamit ke WC ketika sedang pertemuan video call. Dan lain sebagainya. Tentang teman-teman mereka, pesan kami supaya mengingat wajah dan panggilannya.

Observasi kami ya, karena masih pandemi, jadi belum bisa berteman dan bermain dengan rekan-rekannya yang lain. Ketika bertemu langsung pun, mereka masih saling melihat dan menilai situasinya dulu. Bisa dikatakan, mereka masih bermain sendiri-sendiri di tempat yang sama; belum bermain bersama-sama. Catatan: Anak Dua masih TK saat ini.

Ada berlapis-lapis hubungan dengan orang-orang di luar rumah. Sehingga wujud interaksi sosialnya pun beragam. Tipe-tipenya ditentukan oleh kedekatan fisik, hubungan darah, dan kesamaan institusi. Klasifikasi demikian memudahkan kita untuk mengenali dan berinteraksi secara sosial dengan tepat dan sewajarnya.

Evolusi Minat Anak

Kesukaan anak-anak pada sesuatu itu berevolusi terus. Kita orang dewasa melihatnya kok enggak fokus ya. Apakah anak-anak memang alamiah seperti itu, ataukah kita orang dewasa yang terlampau serius menyikapi fenomena tersebut?

Sejauh ingatan saya, Anak Dua itu awalnya berminat pada Ultraman. Iya, Ultraman yang produksinya relatif lebih murah tetapi lebih populer daripada Kamen Rider itu. Dari mereka, aktifitasnya seputar ‘menirukan pertarungan’ dan menonton serialnya di YouTube.

Baca juga : Mitos dan Fakta Anak Kembar.

Lebih lanjut, ibunya pernah membelikan satu set kartu Ultraman. Yang abal-abal tentu saja, karena yang asli harganya tidak worth it untuk yang bukan pehobi seperti kami.

FYI, kartu-kartu ini rupanya diperuntukkan bermain game di console yang ada di mal-mal. Console tersebut juga ikut mengeluarkan kartu kalau berhasil menang. Pertanyaannya, ‘modal’ kartu untuk main di mal itu, dapatnya darimana? Ternyata produsernya Ultraman sudah punya ritel khusus yang menjual kartu tersebut juga. Hehehe. Jadi kita sudah tahu cara main bisnisnya ya 😀

Minat dan kesukaan pada Ultraman ini, seingat saya bukan yang terbaru. Setelah Ultraman, ada lagi kok yang mereka sukai. Yang baru bisa kami lakukan hanyalah sebatas ‘memfasilitasi’. Sekilas, terlihat ‘konsumtif’ dan belum jelas arah produktifnya ke mana. Namun, kami masih trial dan observasi terus.

Pada suatu titik, yang diminati tersebut memang tidak lagi bisa memberikan apa-apa lagi. Anak Dua jenuh dengan hobi tersebut – mereka gak pernah mengekspresikannya – dan kami baru menyadari kemudian ketika mereka sudah berpindah ke minat yang lain.

Timbul pertanyaan, “Apakah mereka tidak fokus? Mau jadi apa kalau berpindah-pindah terus?”

Ada masa di mana mereka ‘rajin’ menonton Sisi Terang atau Bright Side di YouTube. Suatu channel yang secara saintifik berusaha menjelaskan fenomena alam berikut dengan data faktanya. Pasca menonton, atau kapanpun mereka tiba-tiba teringat dengan data fakta yang disajikan sebelumnya, mereka menyampaikan ulang kepada kami. Berlanjut menjadi diskusi yang durasinya bisa sebentar atau lama. Berlaku sama dengan channel lain yang mereka tonton, semisal Dunia Binatang Liar.

Di antara hobi yang terus berevolusi tersebut, satu yang konsisten selama ini adalah mereka merefleksikan dan mengekspresikan di atas kertas gambar. Jumat adalah hari di mana masing-masing dari mereka mendapat satu eksmplar baru yang lembar demi lembarnya masih kosong: bersiap memulai petualangan imajiner yang baru.

Kenapa tiap Jumat? Karena kami cinta lingkungan. Menggunakan kertas berarti menebang pohon dan itu merusak daya dukung lingkungan. Bukan, itu alasan idealisnya saja. Hehehehe. Alasan pragmatisnya hanyalah high cost kalau frekuensinya lebih tinggi daripada itu.

Sekarang ini, mereka sedang getol menggeluti olahraga sepak bola dan catur. Main catur iya – kami membelikan papannya – tendang-tendang bola di halaman depan juga iya. Nonton pertandingan catur di YouTube juga dilakukan. Soal sepakbola, biasanya nonton highlight bareng saya. Mereka mulai tahu yang namanya Chelsea, Manchester City, N’golo Kante, dan lain sebagainya tentang sepakbola. Sebagaimana mereka mulai tahu Daniil Dubov, Ali Reza, dan para pecatur dunia lainnya.

minat anak
Catur: olahraga yang sedang diminati Anak Dua saat ini.

Sooner or later, ini mungkin akan berakhir ya. Evolusi minat melanjutkan tugasnya.

Dari saya selaku orang tua, saya masih belum tahu ini akan membawa kami ke mana. Apakah yang kami lakukan ini benar, dari perspektif teori maupun filosofi parenting?

Sebagai sebuah ‘petualangan’, pastinya kami akan melanjutkan dulu perjalanan ini. Sambil terus mengobservasi dan menemukan sesuatu yang baru untuk dipelajari. Ada kalanya kami akan berhenti untuk sejenak menikmati ‘hidangan’ yang disediakan. Bila sudah waktunya, kami akan bersiap-siap memulai petualangan yang baru.

Mudah-mudahan kami akan sampai juga di tujuan. Pada saatnya Anak Dua sudah dewasa, mereka sudah menemukan minat yang akan mereka tekuni dan menjadi produktif atas hobinya tersebut.

Demikian cerita saya. Barangkali kamu ada pengalaman serupa? Boleh dibagikan di kolom komentar, ya.

Mitos dan Fakta Anak Kembar

Sejak mereka bayi, seiring waktu berjalan, kami mendengar dan dikonfirmasi beberapa mitos seputar anak kembar.

Anak Dua sekarang sudah sekolah TK. Sudah bertahun-tahun bertumbuh bersama kami. Sejak mereka bayi, seiring waktu berjalan, kami mendengar dan dikonfirmasi oleh kolega kami, mengenai beberapa mitos seputar anak kembar.

Berikut adalah beberapa tanggapan ‘fakta-fakta’ dari kami, perihal mitos-mitos tersebut.

Mitos 1: Anak Kembar Bisa Lahir Beda Waktu

Fakta 1: Tentu tidak ‘rilis’ bersamaan ke dunia ya. Anak Dua, sebagaimana kami biasa menyebutnya, berjarak 5 menit antara satu dengan yang lain.

Mitos 2: Lahir Duluan Berarti Jadi Kakak.

Fakta 2: Itulah yang kami lakukan. Kami panggilnya ‘Mas’ dan ‘Adek’. Kebiasaan Jawa yang menyatakan, lahir belakangan disebut ‘kakak’ karena mempersilakan ‘adek’-nya duluan rilis. Kami tidak sependapat dengan kebiasaan tersebut.

Mitos 3: Jika yang satu sakit, maka lainnya akan sakit.

Fakta 3: Iya. Dan kata yang lebih tepat adalah ‘menyusul sakit’. Tapi bukan karena kembar. Melainkan karena makan, tidur, mandi, dan bermain nyaris selalu bersama-sama. Jadi karena intensitas dan frekuensi ke-bersamaan-nya sangat tinggi. Bagaimana dengan kakak-adik selisih kurang dari satu tahun, yang segala aktifitasnya selalu ber-barengan? Peluangnya kira-kira akan mirip.

Mitos 4: Anak kembar punya sidik jari yang sama.

Fakta 4: Tentu saja tidak. Bukan hanya sidik jari yang tidak sama. Seluruh manusia pun, menurut info dari salah satu dokter anak yang kami dengar langsung, tidak ada telinga yang sama.

Mitos 5: Harus memakai pakaian yang sama.

Fakta 5: Kenyataannya, kami sebagai orang tua dan berbagai kerabat atau keluarga yang lain, selalu membelikan model atau warna yang sama. Bukan karena preferensi si anak. Melainkan preferensi dari pembelinya. Sebenarnya, lebih sering satu model daripada satu model-satu warna ya.

Mitos 6: Lahiran harus operasi sesar.

Fakta 6: Yang kami dengar dari dokter anak, dua dari tiga kelahiran kembar adalah lewat operasi sesar.

Mitos 7: Punya anak kembar itu orang tuanya akan double effort.

Fakta 7: Berlaku selama awal kelahiran saja ya. Selanjutnya, anak akan punya ‘teman’ belajar dan bermain. Sehingga ortunya ‘relatif lebih ringan’ dalam meluangkan waktu untuk menemani anak-anak belajar dan bermain.

Fakta-fakta dari kami ini juga diinspirasi oleh mitos-mitos yang terdapat dalam: https://www.klikdokter.com/info-sehat/read/3648719/mitos-seputar-anak-kembar-yang-tak-perlu-dipercaya

Call Your Parents

Sudah merantau, jangan sampai lupa Call Your Parents, ya. Minimal bertanya kabar dan kesibukan. Apalagi teknologi sudah sangat mendukung.

Terinspirasi dari blogger sebelah yang tulisannya bisa dinikmati di sini.


call your parents

Dulu, saya biasa tuh merasa kesal sendiri kalau orang tua menelepon. Terutama telepon dari ayah saya.

Kesalnya ini, tatkala saya masih belum menikah dan dititipkan anak oleh Yang Punya.

Seringkali, saya merasa terganggu. Karena isi percakapannya “kurang penting”. Bukan sesuatu yang membutuhkan campur tangan saya, misalnya. Atau, bukan pula merencanakan (dan melakukan) sesuatu bersama saya.

Sebagai aktifis kampus dan jomblo kantor, saya memilih tenggelam dalam kesibukan.

Namun, semua berubah ketika negara api menyerang.

Pasca menikah dan dititipkan anak, saya jadi paham maksud dari Call from Parents tersebut.

Kan katanya, semua nasihat/pelajaran dari ayah kita baru terasa ketika kita sudah menjadi ayah, ya.

Jadi, bagaimana ayah saya ke saya tuh, paralel dengan hubungan saya ke Anak Dua.

Selama masih satu rumah kan, kita bisa lihat sendiri ya. Sudah makan atau belum, sudah mandi atau belum, mengerjakan tugas/pekerjaan apa, dst.

Saya pernah tinggal di Magelang, Jakarta, Surabaya, dan Bandung. Jelas sudah tidak terlihat lagi oleh orang tua, apa yang sedang saya lakukan.

Rupanya, segala pertanyaan tersebut memang basa-basi saja. Sebagai orang tua, kayaknya lega deh kalo sudah mendengar suara anaknya. Artinya kan, oh anaknya sehat-sehat saja.

Misalkan kita dalam perjalanan, menuju atau meninggalkan kotanya ortu, yang dikehendaki beliau berdua adalah kabar terbaru perihal posisi kita. Sedang menunggu di stasiun/bandara kah, dalam perjalanan kereta, atau sebentar lagi lepas landas, dan sebagainya.

Semuanya baru masuk akal di pikiran saya, dan terasa di hati saya, hanya setelah menjadi orang tua.

Dukungan Teknologi

Kakak-kakak saya kan sudah merantau sejak SMA ya. Jadi telepon belum secanggih sekarang. Saya pun masih mengalami.

Polanya begini. Ortu telepon dulu ke rumah kost. Kepada penjaga kost, dipesankan bahwa akan menelepon lagi 5 menit kemudian. Yang mau diajak bicara, diharapkan untuk bersiap-siap (stand by) di dekat telepon.

Empat tahun kemudian, pun masih sama polanya. Bedanya, karena sekolah saya meliputi perumahan guru juga, jadi terima teleponnya di rumah guru. Yang mana, terasa gak enak mengganggu yang punya rumah.

Lagipula, kitanya harus berpakaian rapi ala mau sekolah (padahal sudah malam hari). Itu lebih baik, daripada memakai pakaian training.

Akhirnya berlanjut pakai wartel di dalam kompleks sekolah. Tapi, masalahnya di harga siy. Interlokal itu mahal; kita gak bisa sering-sering telepon ke rumah. Saya lupa ya. Wartel bisa terima telepon atau tidak. Tolong dikoreksi.

Alhamdulillah, tahun 2004 sudah pegang handphone (HP). Masih monophonic alias satu macam nada suara saja. Namun, karena masih anak sekolah, gak boleh sembarangan menyimpan dan memakai HP. Bisa disita. Masih bisa berdalih dengan alasan untuk komunikasi ke orang tua perihal kelanjutan pendidikan demi menghindari penyitaan.

Di tahun-tahun tersebut, biaya roaming masih ada kali ya. Tolong koreksi misalnya keliru. Itu adalah biaya yang wajib dikeluarkan si pengguna karena ada perbedaan jaringan atau wilayah. Tentu dibebankan ke pulsa yang ketika itu masih didominasi pasca bayar.

Menurut bills.alterra.id, roaming adalah pergantian layanan dari home network ke other network.

Telepon Internet

Sebenarnya, sebelum telepon internet, ada era SMS. Pengecekan sinyal dari HP ke BTS (Base Transceiver Station) setiap 6 detik (CMIIW), bisa ditumpangi sama yang kita sebut SMS.

Setelah SMS, lalu eranya BlackBerry. Sudah seperti chatting dengan WhatsApp (WA) yang kita gunakan sekarang.

Namun, teleponnya masih lewat jalur biasa.

Telepon internet baru marak ya via WA. Sebelumnya hanya berupa call via aplikasi Skype di komputer.

Apalagi sekarang, call juga bisa via Zoom atau Google.

Di Indonesia ini, saya lihat masalahnya di harga. Karena di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Papua masih didominasi oleh Telkomsel. The thing is, harga paket datanya belum mengalami demokratisasi. Alias masih mahal.


Jadi, di atas sudah saya paparkan ya. Mengapa kita harus sebisa mungkin rutin Call Your Parents. Apalagi sudah ada dukungan teknologi berupa telepon internet kan.

Dan tidak harus membicarakan hal-hal serius semata. Sekadar bertanya kabar dan sedang sibuk (proyek) apa, itu sudah sangat sangat cukup.

Ada pengalaman menarik soal Call Your Parents? Share di kolom komentar, ya!


Baca juga artikel saya yang lain terkait FATHERING ya.