Membawa Anak Ke Kantor

Hari kemarin, anak-anak ikut ke kantor ayahnya. Kebetulan ibunya sedang butuh me-time sekalian bertemu teman lamanya. Bagaimana seharusnya perihal ajak-mengajak anak ke kantor ini?

Sewaktu kecil, saya yang belum lama sekolah, bertanya ke Ayah saya, “Ayah di kantor mengerjakan apa? Tugas dari bosnya ayah, ya?”. Beliau tidak menjawab, seingat saya. Atau mungkin, jawabannya tidak saya pahami.

Saya bertanya demikian, karena di sekolah saya merasakan, bahwasanya menjadi siswa itu mengerjakan tugas-tugas yang diperintahkan oleh guru. Atau, guru memberikan PR (Pekerjaan Rumah) kepada siswa untuk dikerjakan di rumah.

Tidak mungkin rasanya, seorang atasan mengajari pekerjanya (sebagaimana guru mengajari murid), atau atasan memberikan PR kepada stafnya untuk dikerjakan di rumah. Setidaknya, tidak dengan ayah saya. Belakangan saya baru tahu itu namanya lembur atau in English: Over Time (OT).

Sepertinya banyak anak juga curious dengan apa yang dikerjakan oleh orang tuanya di kantor. Tidak hanya saya seorang. Bahkan di usia 23-24, waktu saya tanya rekan yang seusia, dia juga bahkan tidak tahu apa yang dikerjakan oleh ayahnya di sebuah perusahaan consumer goods pada saat itu.

Kalau dari sisi keuangan perusahaan, punya karyawan kan berarti biaya ya. Sepanjang karyawan tersebut berkontribusi terhadap pendapatan perusahaan, tidak masalah donk punya karyawan di posisi-posisi tersebut. Sampai dengan suatu hari saya menyadari bahwa ada konsep dan analisis proses bisnis dahulu sebelum menetapkan suatu posisi pekerjaan berikut dengan deskripsi pekerjaannya (position & job description).

Dari sisi employment, mempertahankan karyawan juga tidak mudah. Kaitan dengan keluarga (pasangan & anak) karyawan, manfaat-manfaat (benefits) juga harus diberikan oleh perusahaan. Kantor sendiri. memfasilitasi kebutuhan keluarga karyawan dalam wujud program seperti asuransi (termasuk BPJS & BPJSTK), family outing, dan lain sebagainya yang berupaya menyenangkan keluarga karyawan.

Sebuah contoh dari Maybank Indonesia ajak karyawan bawa anak ke kantor ketika pra dan pasca lebaran di tahun 2018 sekaligus mengenalkan kepada anak-anak karyawan perihal apa-apa yang dikerjakan oleh orang tuanya selama berada di kantor.

Irvandi Ferizal, Direktur Human Capital Maybank Indonesia mengatakan, melalui inisiatif ini, perseroan mewujudkan kepedulian kepada karyawan beserta keluarga dengan ikut hadir di tengah keluarga karyawan, termasuk menekan beban biaya yang timbul dari pelaksanaan daycare dengan memberikan solusi yang dapat langsung membantu karyawan dalam menangani anak-anak, yang terkena dampak libur Hari Raya, terutama karena ditinggal mudik asisten rumah tangga.

Lewat pergulatan pemikiran tatkala pillow talks (..ceilah..) saya dan istri tampak bersepakat bahwa penting bagi anak-anak untuk tahu dan engage dengan apa yang dikerjakan oleh orang tuanya. Ini bagian dari parenting/fathering juga.

Bukan sekadar menjawab curiosity nya anak-anak semata, tetapi juga menunjukkan bagaimana sebenarnya hidup itu dijalankan (..berat euy!..). Maksudnya begini, di usia-usia sebelum balita ‘kan mulai ada yang bertanya tuh, “Ayah kerja nggak hari ini?”, atau “Ayah pergi ke kantor jam berapa?”. Kita bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut sembari menceritakan kepada anak-anak bahwa pergi bekerja ke kantor di hari senin-jumat itu berkorelasi dengan apa-apa yang mereka belanjakan. Baik di minimarket, pasar tradisional, toko buku, mall, dan beberapa lokasi lainnya.

Intensitas pengajaran dari kami masih seputar topik-topik tersebut. Belum masuk ke bagaimana mengajarkan soal keuangan kepada anak-anak. Celengan untuk belajar menabung sudah ada, tapi belum rutin mengisinya. Apalagi sampai merencanakan isi tabungan akan dipakai untuk berbelanja apa di masa depan.

Sebelum menjalani yang berat-berat, kami mulai menunjukkan kepada anak-anak apa yang dilakukan oleh orang tuanya di kantor. Mereka melihat bagaimana dalamnya kantor yang dipenuhi para pekerja itu. Sebelumnya mereka sudah berkunjung pula ketika weekend. Di kunjungan pertama, tentu hanya bisa menemui bapak-bapak security.

Ikut “kerja” ke kantor. Bekalnya mainan, HVS + crayon. Ikut jumatan, ngisi kotak amal, jajan ke “Si Merah”, order jejepangan food, tegur sapa dengan beberapa om dan tante. Sempat nyari si ibu, end up exhausted, but happy. From 10 AM to 5 PM.

Selanjutnya banyak bertegur sapa dengan para pekerja lain yang relatif satu usia dengan ortunya. Ketika di rumah, sudah dikasih briefing bahwa kalau bertemu orang dewasa di kantor untuk di-“salim”, penggunaan kamar mandi mungkin ada antrian, dan hal-hal lainnya yang jelas berbeda dengan di rumah.

Sebagai kesimpulan, anak-anak tidak perlu diproteksi sedemikian rupa. Misalnya secara sengaja, “Anak-anak di rumah saja. Gak perlu ikut ke kantor”. Padahal sesekali ke kantor ya tidak apa. Namanya juga membersamai anak-anak, ‘kan? Demikian pendapat saya.

Bagaimana, apakah ada teman-teman pembaca yang membawa anak ke tempat bekerja? Ditunggu komentarnya di bawah, ya.

Meramal Masa Depan Pengasuhan Kita

Bagaimana dunia digital dan dunia kerja kekinian akan mempengaruhi pengasuhan kita di masa datang?

Saya meyakini bahwa pendidikan anak-anak kita adalah tanggung jawab kita, yakni para orang tua. Maksud saya, tanggung jawab tersebut di masa sekarang ini (tahun 2019 dan seterusnya) lebih berat pada orang tua daripada 20-30 tahun yang lalu.

Saya sendiri termasuk produk pendidikan ala orang tua yang meyakini bahwa sekolah adalah pihak ketiga dalam proses pendidikan anak, di mana apa yang dilakukan atau diberikan oleh sekolah pada anak semata wewenang dan ruang lingkup sekolah yang tidak perlu dicampur-tangani oleh orang tua. Saya ingat di suatu masa, ayah saya bilang malah senang kalau guru menghukum saya. Maksud beliau, saya pernah salah dan hukuman tersebut akan membuat saya mengenali kesalahan tersebut untuk tidak terulang.

Alhamdulillah, pada masa-masa sekolah tersebut, saya dimasukkan di tempat-tempat yang baik. Secara proses pendidikan maupun sosio-kultural masyarakat sekolah tersebut.

Namun belakangan ini, kesadaran dan perhatian orang tua akan ‘parenting’ terasa semakin nyata. By language structuring, parenting kan proses mem-parent-kan si anak-anak secara terus-menerus (continous). Alias proses pengasuhan itu sendiri. Institusi sekolah di mata para orang tua, bukan lagi pihak ketiga di mana para orang tua menitipkan anak-anak, lalu membebaskan proses pendidikan pada si sekolah tersebut – tentu ada proses ‘pengambilan keputusan pembelian’ di awal di mana orang tua menyeleksi sekolah berdasar fitur-fitur yang ditawarkan. Misalnya kurikulum tambahan yang digunakan, materi-materi lain yang diajarkan selain yang diwabijkan, makan siang atau snack, antar jemput anak, dan lain sebagainya.

Pendek kata, kesadaran orang tua akan pengasuhan semakin meninggi, ditunjang oleh berbagai konten digital dari berita, website maupun media sosial dalam topik-topik #parenting. Sehingga sekolah kekinian berperan sebagai partner bagi orang tua dalam proses pendidikan dan pengasuhan yang keterlibatannya sudah dalam orde harian atau mingguan; bukan lagi pelaporan kuartal.

Mari lihat dunia kerja kita sekarang ini.

Digitalisasi dan Robotisasi

Karena dunia kita tidak lagi sama seperti dulu, 20-30 tahun yang lalu atau lebih ke belakang lagi. Sekarang eranya 4.0 Semakin ke sini, hidup kita akan semakin otonom (autonomous). Simply karena sekarang dan ke depan, adalah era digitalisasi dan robotisasi. Kalau bisa digital, ya digital saja. Pangkas jarak dan waktu. Termasuk mengurangi penggunaan kertas. Kalau bisa dilakukan oleh robot (dengan segala terminologi apa itu robot), ya dilakukan saja oleh robot (alias bukan oleh manusia).

Terus di mana peran manusia? Saya berpendapat, manusia akan menjadi semakin manusia – setelah peran-peran yang bisa dijalankan secara digital oleh robot mulai diambil alih oleh mereka. Dan mulai dari sanalah pendidikan kita secara perlahan-lahan mulai harus berubah—atau diubah.

Sebab, tantangan kehidupan dan pekerjaan anak manusia ke depan, akan berjalan sedemikian cepatnya yang bahkan belum pernah terjadi dalam sejarah manusia itu sendiri. Manusia akan merancang (to design) sistem yang cepat atau lambat akan bisa dijalankan secara digital oleh manusia, yang selanjutnya akan dieksekusi oleh robot secara otomatis – selanjutnya, manusia hanya diberikan peran sebagai pengawasnya. Bahkan, pengawas dari pengawas robot.

Tantangan demi tantangan berubah sedemikian cepatnya, sehingga anak-anak manusia yang akan bertahan (to survive) adalah mereka yang mampu bergerak lincah (agile) dari sistem ke sistem dalam peran sebagai designer (termasuk engineer) maupun controller.

Agility

Siklus lama dalam proses pendidikan adalah belajar, lalu ujian. Bahkan begitu seriusnya ujian sebagai mekanisme pengujian, hingga semua pemangku kepentingan (stakeholder) pendidikan, baik orang tua maupun guru, mewajibkan para siswa untuk belajar menjelang ujian. Hingga ujian menjadi momok yang sedemikian menakutkan bagi para siswa: (sebagai contoh) bahwa gagal Ujian Nasional (UN) maka hidup akan terasa hampa. Tidak lulus SBMPTN untuk memasuki Perguruan Tinggi Negeri (PTN) berarti musnah sudah separuh jalan hidup. Di masa saya Ujian Nasional (UN) SMA, ancaman tidak lulus membayangi sedemikian rupa. Karena, harus mengulangi ujian via Paket C bila gagal lulus UN.

Padahal di era baru, yang semakin ditengok adalah portfolio and pengalaman (experience). Bukan lagi ijazah atau asal sekolah. Beberapa perusahaan multinasional mulai memandang rekrutmen karyawan baru (yang fresh graduate) dalam perspektif seperti ini. Meskipun fresh graduate dari SMA/SMK/PT, experience semakin dipertimbangkan. Di sisi lain, begitu diperhatikannya pengalaman (dalam waktu tertentu) oleh dunia kerja yang baru, sehingga stuck terlalu lama di suatu perusahaan, bisa dipersepsi kurang lincah (less agile) oleh para rekruter dalam mencari karyawan berpengalaman.

Demikian pula dengan portfolio. Sebagai akumulasi karya, portfolio menunjukkan how well you perform as an artist. Baik secara kualitas, maupun produktifitas. Di era digitalisasi dan robotisasi, yang tidak tersentuh oleh keduanya adalah manusia sebagai seniman (human as an artist).

Jadi sejak masa sekarang, kita harus melihat setiap pekerjaan kita sebagai sebuah karya. Karya yang seperti apa? Karya yang tidak berulang (atau tidak akan terulang). Mengapa demikian? Karena segala yang akan dan bisa berulang, cepat atau lambat, akan diotomatisasi secara digital oleh para robot. Setuju atau tidak?

Education for Being an Artist

Dari beberapa uraian di atas, semakin tampak bahwa kita umat manusia semakin menjauhi yang namanya industrialisasi, revolusi industri, dan berbagai tetek-bengek manufakturisasi lainnya. Bukan akan hilang sama sekali, namun peran dan posisi manusia di dalamnya akan semakin berkurang. Sebagaimana pabrik yang semakin banyak dioperasikan oleh mesin dan robot, instead of manusia. Atau proyek-proyek konstruksi yang tenaga-tenaga buruh bangunannya semakin berkurang seiring dengan penggunaan material-material siap pakai semisal beton-beton precast.

Maka pendidikan di masa depan, adalah pendidikan yang membawa anak-anak kita menjadi seniman. Atau minimal memandang setiap pekerjaannya dalam perspektif karya yang customised (sesuai kebutuhan pengguna) dan sophisticated (kerumitannya juga mengikuti keperluan pengguna).  

Untuk mudahnya, saya tuliskan dalam format bullet point yang mudah dipahami, dieksekusi dan diukur sebagai berikut:

  • Jangan berpatokan sama ujian. Apalagi ujian yang harus belajar dulu baru ujian. Karena ujian itu tidak autentik. Yang autentik itu adalah karya.
  • Tidak belajar dan berkarya sendirian. Kenyataannya, di dunia kekinian, karya tidak dibuat sendirian. Ada proses usaha atau proses yang mengiringi pembuatan sebuah karya. Baik di fase sebelumnya maupun sesudahnya. Berkawanlah dengan mereka yang bisa berperan sebagai ‘hulu’ atau ‘hilir’ dari karyamu.
  • Perbanyak kolaborasi sejak kecil. Bukan dengan yang sejenis, melainkan yang berbeda jenis (profesi, hobi, kompetensi, dll). Ini adalah kelanjutan dari poin dua. Program-program magang untuk anak SMP/SMA itu termasuk kolaborasi, lho.
  • Ajarkan anak mengenai proyek. Judulnya ya manajemen proyek. Mulai dari perencanaan (termasuk desain), pelaksanaan, kontrol/kendali, sampai evaluasi. Karena segala karya akan dikerjakan dalam perspektif manajemen proyek. Sampaikan dengan bahasa anak-anak, ya.

Sementara demikian dahulu renungan ini. Mudah-mudahan memberi manfaat.

Kalau kamu ada pendapat lain, boleh share di kolom komentar, ya 🙂

Tiga Sejarah yang Perlu Kita Ketahui terkait Sistem Per-Sekolah-an

Perihal sejarah sistem per-sekolah-an, yaitu playground, tes IQ dan homeschooling

PlayGroup (PG) atau lazimnya disebut Kelompok Bermain (KB)

Menurut sejarah, memasukkan anak ke playgroup adalah pilihan keterpaksaan daripada anak diasuh oleh pengasuh yang tidak berpengalaman dan terlatih. Latar belakangnya begini: Tahun 1960-an, Alvin Toffler pernah meramalkan bahwa nanti di Amerika akan terjadi Future Shock! Para ibu yang sebelumnya memiliki waktu untuk  mengasuh anak di rumah, akan menjadi ibu-ibu bekerja (Working Mom) seingga anak-anak tidak lagi ada yang mengasuh di rumah.

Oleh sebab itu, (mungkin kejadiannya di Amerika Serikat sana), perlu dibuat (dan diregulasikan) suatu institusi yang bisa “menggantikan” peran ibu – terutama ketika si ibu sedang bekerja. Jika tidak, akan terjadi generasi yang hilang (Lost Generation) karena perubahan gaya hidup di tingkat masyarakat tersebut. Pemerintah kemudian bereaksi. Dibuatlah sekolah untuk anak-anak batita (bawah tiga tahun, atau toddler). Yang tujuan utamanya sebagai langkah antisipasi agar tidak terjadi Lost Generation karena masa batita dan balita (bawah lima tahun) adalah masa emas pertumbuhan otak anak.

Komentar saya: mungkin fenomena ibu bekerja dan playgroup ini baru beberapa tahun terakhir masif terjadi di Indonesia secara umum, ya (kalau Jakarta jelas sudah lebih lama). Bermunculanlah banyak playgroup, termasuk yang franchise dari luar negeri. Kembali ke sejarah tersebut, jadi sesungguhnya playgroup hanyalah sebuah alternatif saja. Bukan keharusan di mana stay-at-home mom juga harus menitipkan putra-putrinya di Playground. Rekan-rekan saya yang pasutri bekerja pun menitipkan putra/putrinya di PG karena belum trust dengan ART/pengasuh mereka. Saya setuju dengan ustadz Bendri Jaisyurrahman yang menyatakan bahwa ibu adalah guru pertama bagi anak-anaknya dengan ayahnya sebagai kepala sekolahnya.

Tes IQ untuk penerimaan siswa sekolah.

Menurut sejarah, pada saat terjadi Perang Dunia I, Alfred Binet seorang psikolog berkebangsaan Prancis, diminta oleh pemerintahnya membuat tes untuk proses rekrutmen calon tentara. Tes ini memberikan legitimasi atau alasan siapa yang diterima dan tidak diterima sebagai calon prajurit.

Pada masa itu, belum ada riset mengenai otak dan cara kerja otak. Basis dalam mengukur kecerdasan bukan didasarkan pada cara otak manusia bekerja, melainkan data/fakta “Bell Curve”, alias kurva lonceng. Bahwa dengan tes IQ tersebut dan hasil kurva loncengnya, maka dapat dijadikan dasar memisahkan atau mengklasifikasikan kegagalan atau keberhasilan seseorang yang asumsinya akan turut menentukan kesuksesan karir seseorang. Put simply, kalau IQ-nya tinggi maka dia akan sukses sebagai tentara. Hhmmm, kayaknya gak gitu juga deh, ya? 🙂

Tes IQ untuk rekrutmen calon tentara tersebut dirasa berhasil (padahal mungkin belum ada tes pembanding yang sepadan dalam hal mengukur cara kerja otak), sehingga perlahan-lahan diujicobakan untuk penerimaan karyawan di dekade-dekade berikutnya. Tidak hanya di ketentaraan, maupun kepegawaian secara umum, namun juga mindset kurva lonceng tersebut juga terinstalasi di sekolah-sekolah kita.

Komentar saya: mereka yang mengalami proses pendidikan dan pencerahan pikiran lewat sekolah (termasuk saya) menyadari dan mengakui bahwasanya sekolah bukanlah tempat berkompetisi. Dalam kisah mengenai tes IQ di atas, bahkan “kompetisi” tersebut sudah dimulai sebelum masuk sekolah. Pasca proses pembelajaran berlangsung, hasil evaluasi kumulatifnya para siswa dengan nilai terbaik (biasanya tiga besar) diurutkan di antara 30-an siswa di kelasnya. Makin kental lah unsur kompetisi di sekolah. Padahal minat, bakat, serta cara kerja otak antara siswa yang satu dengan siswa lainnya bisa jadi sangat berbeda. Kita mengkompetisikan mereka pada bidang yang start-nya saja tidak sama, bagaimana bisa? Menurut Howard Gardner, ada 9 tipe kecerdasan. Dan siswa-siswa kita, sebagaimana kita semua, memiliki dua atau tiga kecerdasan di antaranya yang berkembang jauh lebih baik dibandingkan dengan kecerdasan-kecerdasan lainnya. Fokus pendidikan kita via sistem sekolah, (mungkin) seharusnya didasarkan pada dua atau tiga kecerdasan utama tersebut.

Homeschooling.

Awalnya, homeschooling lahir di Eropa, sekitar tahun 1980-an, ketika sebagian orangtua di Inggris kecewa dengan sistem sekolah yang ada. Menurut mereka, sistem pendidikan yang ada tidak mengakomodasikan keunikan masing-masing anak. Tidak semua pandai Matematika atau Fisika. Ada yang berminat dan berbakat di bidang menulis, menggambar, musik, menari atau lainnya.

Kalau sistem sekolah masih mengagungkan anak-anak yang pandai Matematika, Fisika, dan sejenisnya itu, bagaimana nasib anak-anak lain? Apakah mereka akan terpinggirkan atau dianggap gagal?

Dari sana, muncullah ide membuat sekolah di rumah (school at home) yang diajarkan oleh orangtua sendiri. Jadi, di Eropa, homeschooling justru dipelopori oleh kaum intelektual yang sudah berpengalaman di sekolah, memiliki waktu luang cukup banyak, mampu secara keuangan, tetapi kurang percaya dengan sistem sekolah yang ada.

Flash Back

Kami ada putra-putra usia 4,5 tahun di rumah. Bila dibandingkan yang seusia dengan mereka, ada yang sudah sekolah sejak PG, ada yang baru memulai sekolah dengan TK di tahun ini, ada pula yang seperti mereka–masih belum sekolah.

Beberapa bulan lalu, kami galau soal kapan sebaiknya menyekolahkan mereka ke TK. Sempat kami merencanakan untuk tahun ini memulai TK-nya. Pada akhirnya, dengan berbagai pertimbangan kami menetapkan bahwa TK-nya tahun depan saja. Dalam beberapa bulan ini memang kami jadi semakin memahami dan mengakui aspek-aspek perkembangan mental dan sosial mereka serta kapan dan bagaimana seharusnya pihak eksternal seperti sekolah harus mulai dilibatkan dalam proses pendidikan yang akan mereka jalani.

Yeah, dalam pada itu, diskursus seputar playground (PG, alias Kelompok Bermain, atau KB), 9 kecerdasan ala Howard Gardner, dan Homeschooling (sebagaimana sudah disebut-sebut dan dijelaskan di atas) menjadi ranah riset, diskusi dan perdebatan kami selaku orang tua.

Apalagi beberapa desas-desus menyatakan bahwa sekolah dasar (SD) negeri wajib menerima siswa di atas 7 tahun. Kalau kami menyekolah TK-kan sekarang, maka nanti TK B nya perlu diulang lagi sembari menunggu 7 tahun. Di sisi lain, seseorang (yah, banyak dari kita mengalami) yang mulai sekolah, tidak akan berhenti –atau rehat sejenak– dari sekolah sampai dengan lulus kuliah.

Membersamai Anak-Anak

Lewat tulisan ini saya ingin berargumen bahwa anak-anak itu jangan diproteksi. Intinya, ada batas dalam memproteksi anak-anak. Daripada diproteksi habis-habisan, mungkin lebih baik kita membersamai anak-anak.

WhatsApp Image 2018-02-18 at 21.05.42

Kendali atas TV dan Smartphone

Kita mulai dengan yang punya pengaruh kuat di rumah-rumah: Televisi. Sebenarnya, kita punya kekuatan kok untuk mengendalikan TV. Namun yang sering saya lihat, banyak keluarga yang menyerah dengan TV. Merasa harus punya TV seperti tetangga. Tidak bisa tidak menyaksikan tayangan TV. Bahkan meskipun ada kesibukan di rumah dan tidak bisa menonton, TV tetap dinyalakan.

TV itu menyajikan beragam konten. Berita, sinetron, film, acara anak-anak, music, dan lain sebagainya. Engagement yang kuat dari TV itu menjaga anak-anak kita tetap duduk manis di hadapannya. Harus diakui, kami sebagai orang tua ini kalah dari TV yang mampu menyajikan beragam konten itu. Mungkin itu yang bikin saya ragu mempunyai TV ya. Tapi, saya tanyakan ke istri juga, sebenarnya pendapatnya dia tidak jauh berbeda dengan saya.

Kalau dibandingkannya dengan internet, TV jelas kalah. Internet justru membuka ruang yang lebih besar. Baik untuk entertainment (hiburan), maupun pendidikan, serta lain sebagainya. Internet juga punya sisi buruk seperti pornografi, game online, dan sebagainya. Internet bahkan lebih kuat daripada TV.

Namun bagi saya, internet jelas lebih bisa dikendalikan. Sudah ada aplikasi-aplikasi di tier-nya komputer atau browser yang bisa bantu kita menyaring (filtering) konten-konten tidak bermanfaat. Belum lagi aksesibilitas anak-anak yang bisa dibatasi sama kita selaku orang tua. Anak-anak menonton via smartphone, maka smartphone itu yang kita batasi. So far, via YouTube Anak Dua di rumah hanya menonton serial RoboCar Poli dan Cloud Bread.

Semua security itu tentu saja dapat di hack oleh anak-anak. Sooner or later. Because children will grow then they will find it. Karena itu semua hanya alat bantu. Karena manusia yang menciptakannya, maka yang manusia pula bisa mengatasinya. Segala security –dalam bentuk apapun– sifatnya hanya sementara.

(Baru berapa hari yang lalu, ada rekan yang cerita bahwa di kuliah tentang security, salah satu tugasnya adalah menemukan nomor handphone salah satu orang selebriti tertentu. PR ini bisa mudah bisa susah. Tergantung caranya. Nah, ternyata keahlian-keahlian di bidang security didasari dari kemampuan mengulik suatu celah keamanan tertentu.)

Bicara proteksi sekaligus mendidik anak-anak, saya kira kita bisa belajar dari sekolah berasrama.

Sekolah Berasrama

Sekolah-sekolah berasrama adalah produk-produk pendidikan yang mulai tren sejak tahun 1990-an. SMA saya sendiri bahkan didirikan persis di tahun 1990 tersebut. Saya dan orang tua, masing-masing punya alasan untuk bersekolah di sana. Saya, baru masuk 12 tahun sejak pendiriannya, memang melihat nama besar (pada tahun itu) sekolah tersebut. Sedangkan orang tua saya memandang sekolah berasrama –yang anti rokok, narkoba, dan minuman keras—sebagai institusi yang edukatif sekaligus protektif terhadap anak-anak; Dan menurut beliau itulah yang seharusnya diterima oleh saya.

Misalkan kita memproteksi anak-anak dengan menyekolahkan mereka di sekolah asrama. Di asrama, biasanya ada “proteksi” berupa media-media yang diperkenankan masuk di sekolah. Penayangan TV ada jamnya. Ada koran dinding dari surat kabar tertentu. Memang sih, tidak dilarang menerima informasi dari luar sama sekali; tetapi ya tidak bisa juga mendapat informasi sebebas-bebasnya.

Sekarang era internet, mosok gak ada akses ke internet? Tidak bisa dihalangi sama sekali, memang. Tapi kenyataannya proteksi itu tetap ada. Misalnya lewat pembatasan penggunaan handphone dan laptop.

Kita tambahkan syarat dan ketentuannya. Misalnya itu adalah sekolah berasrama berbasis agama dengan intensitas pengajaran seputar ibadah, fikih, muamalah, dan sebagainya hingga 10 jam seminggu. Di sini kita bisa menyebut bahwa kita memberikan lingkungan yang edukatif terhadap anak-anak. Sekaligus protektif sebagaimana berbagai fitur sekolah berasrama yang “mencegah dan mengatasi kenakalan remaja”.

Pasca kelulusannya, bisa jadi si anak akan “gagap” untuk sementara waktu. Gagap, alias kaget melihat lingkungan sekitarnya ternyata belum se-ideal di sekolah dahulu. Penerapan pengetahuan agama semisal hijab sebagai pakaian, atau hubungan antara lelaki dan perempuan yang bisa jadi tidak berjarak, dan lain sebagainya. Buruk-buruknya, si anak bisa terjerumus ke “kebebasan” tersebut. Saya sendiri menyaksikan langsung beberapa teman yang “berubah” tersebut. Contoh ini sekedar cuplikan kasus ekstrim ya. Statistiknya tentu tidak demikian.

Intinya begini, bagaimanapun kita memproteksi anak-anak, cepat atau lambat mereka akan terkena eksposurnya juga. Jadi daripada memproteksi berlebihan, lebih baik mereka terekspos dengan sepengetahuan kita. Sehingga kita bisa mengarahkan, minimal berdiskusi tentang interpretasi maupun perspektif mereka terhadap hal tersebut. 

That’s why I thought we should not just protect them, but we should accompany them to explain how the world outside you (children) is. The world may be bad, hard, competitive, egoistic, self-minded, etc. Those may be perceived by your children from their sight, school or from mainstream media. Or from the world that exposes to them. But, there are always many good things outside there. You just only need provide time and patience in showing that goodness to them. For example in praying.

Teaching children to be focus and patience with his praying really takes a lot of time. Mines are three years old now. They show more positive attitude towards “in the mosque” behaviours rather than a year ago. But still, they are not focused yet to start and finish their praying. Why? Since many disturbances for them. Wide area of mosque to be explored by running around, other children that persuade them to play together, etc. Un-exposing these to children is not good, I guess. But, what we should do is just accompany them and explain the circumstances itself together with the goodness and badness. That’s why I always do briefing to children before entering the mosque. 

We think positive that however, this is a good progress, compared to other older kids that still going around the praying area. They looks to disturb the “jamaah” while praying.

So far, I guess we as parents could influence our children when they already trust us. How to get their trust?

Being father means being trusted by children.

Bagaimana caranya supaya bisa trusted? Ada formula lama dari David Meister yang bisa diaplikasikan ke berbagai bidang. Termasuk parenting. Komponennya ada 4. Credibility, reliability, intimacy, dan self-orientation.

Kredibel artinya punya kemampuan di bidangnya. Tentu tidak semua bidang dikuasai oleh father. Tapi sebagai pembesar anak-anak, sudah sepatutnya kita turut “menguasai” lingkungan di sekitar kehidupan mereka. Lingkungan dalam rumah dan tetangga, mengenal teman dan guru di sekolah, hingga orang tua dari teman-teman mereka.

Sedangkan reliable berarti having children as our “primary customer”. Ibarat di perusahaan, tentu ada kategori customer yang sangat kita junjung tinggi kan. Logika yang sama kita gunakan dalam “melayani” anak-anak. Kita harus menjadi father yang bisa diandalkan (reliable) oleh anak-anak. Because children will realise out weakness/limit, sooner or later. Indeed, we’re not perfect at all.

Intimacy. Menjadi ayah bukan berarti menjadi orang galak. Tegas berlebihan bisa jadi galak. Tapi bukan di situ yang harus dicapai dalam fathering. Anak-anak butuh ketegasan, bukan butuh orang galak.

Kita perlu menghindari peran orang galak di rumah. Yang dibutuhkan anak-anak adalah orang tua yang bersikap dekat, hangat, dan akrab dengan mereka. Oke, mereka butuh ketegasan, butuh diajarkan menjadi tegas, tapi itu not all the time, sih.

Jangan sampai kepulangan kita ke rumah dari kantor, hanya memunculkan pikiran “satpam” atau polisi” dalam benak mereka.

Konsep terakhir, self-orientation, dalam model yang dikembangkan oleh David Meister, adalah sebuah pembagi. Sehingga, trust semakin besar kala self-orientation bisa ditekan sekecil-kecilnya. Anak-anak perlu dan harus menyadari bahwasanya dalam kehidupan kita bersama dengan mereka, kita tidak sepenuhnya hanya memikirkan diri sendiri. Tetapi kita memang sangat memprioritaskan mereka.

Mungkin saja terjadi, kita berusaha melakukan yang terbaik untuk mereka, karena mereka memang prioritas kita, namun mereka tidak menyadarinya. Nah, menjadi tugas kita mengkomunikasikan ke mereka, atau membuat mereka paham dan meyakini, bahwasanya kita memang berusaha memberikan yang terbaik kepada mereka. Konsep yang sama, sebenarnya berlaku di hubungan kita dengan pelanggan, ‘kan?

So? Accompanies, not protection.

Saya gak selalu bisa memberikan quality time kepada keluarga kecil saya. Namun saya yakin, seiring saya bisa menyediakan quantity time, maka quality time akan hadir dengan sendirinya. Sama seperti pelanggan kita ‘kan, susah bagi mereka untuk terus belanja lagi, lagi, dan lagi ke kita, kalau kita saja tidak menyediakan waktu yang banyak untuk bertemu dan berinteraksi dengan mereka.

Sama seperti menonton TV, kan ada tuh keterangan BO (Bimbingan Orang Tua). Maka anak-anak harus ditemani. Diberikan interpretasi tambahan dari kita. Dijawab pertanyaanya. Sebenarnya, menyelami pertanyaan anak-anak juga penting. Because we know they will grow into somebody. They will be somebody that we don’t know now. Could we direct their grow in goodness? Jadi mendalami pertanyaan anak-anak adalah bagian dari metode pengukuran oleh kita atas tumbuh kembangnya mereka.

Sama seperti kita menyelami pelanggan, ‘kan? Dengan mengenal lebih jauh dan lebih mendalam, maka kita akan mampu mengiringi mereka meningkatkan transaksinya bersama kita.

Tulisan ini diinspirasi kala pertama kali ke toko buku bersama anak-anak, excited banget si mereka. Karena ada banyak hal baru yang mereka lihat dan temukan. Namun, mereka masih kesulitan dalam menginterpretasikan segala yang mereka lihat. Mereka punya pertanyaan yang butuh dijawab, butuh ditemani di tempat yang sama sekali asing bagi mereka. Melihat hal yang berbeda dari yang ada di rumah dan di sekolah, dan lain sebagainya.

Saya selalu tertarik dengan buku. Tapi kali ini saya harus menekan ego saya. Instead of tenggelam dalam pilihan berbelanja di sana, saya memilih untuk menemani anak-anak, menyelami keingintahuan mereka, menjawab pertanyaannya untuk kemudian memberikan arahan-arahan kepada mereka. Saya harus berperan sebagai ayah yang benar dulu di sini.

Being father means being somebody that always be missed. We may do not have all the time to raise our family. We should work outside then bring resources to home. At that time, the children grow. But we should not lose our focus on them. When they aware that they always be loved, they will listen and grow as our expectation.

Bandung, 29 mei 2018.

Related Post(s):

Memosisikan Anak sebagai Pribadi Dewasa

komuniksdi-dengan-anak-520x265

Semalam, Muzakki bertanya ke saya. Kami masih di masjid “biru”. Bertiga dengan adiknya. Muzakki bertanya, “kok Pak Alim berdoanya, Waqinaa adzaa ban-naar?”

Alhamdulillah, ibunya rutin mengajak dan membiasakan berdoa sebelum makan. Mungkin Zakki heran dan bertanya, kok di masjid doanya sama dengan doa sebelum makan.

Cek dan ricek ke si mbah, ternyata “Waqinaa adzaa ban-naar” artinya kira-kira “Dan peliharalah kami dari siksa api neraka”.

Thanks to “Anak Dua“. Kami jadi belajar dari kalian yang lebih muda. Sudah seharusnya, sih. Belajar itu ke siapa saja. Kepada usia berapa saja. Alhamdulillah masih diberi legowo dan kerendahan hati untuk belajar dari siapa saja.

Itu pengantar deh. Berhubung ceritanya baru dapat tadi malam. Overall, tulisan kali ini sekedar catatan bagi kami saja. Kalau memang ada yang mendapat inspirasi dari sini, ya alhamdulillah. Mudah-mudahan bermanfaat, deh.

Berhubung di rangkaian acara pernikahan adik kami, ada yang nyeletuk, “Ngobrol ma anak dua itu kayak ngobrol sama orang dewasa”. Alhamdulillah, ini feedback positif bagi kami. At least, kami jadi tahu kami memberikan action yang tepat, sehingga Anak Dua turut membalas dengan reaction yang tepat pula.

Kalau kami bertanya ke diri kami sendiri, mengapa bisa begitu? Jawaban kami adalah, pada prinsipnya kami memandang dan menganggap anak-anak sebagai manusia dewasa. Terutama adalah, mereka berhak memutuskan sendiri dari pilihan-pilihan yang ada.

Pilihan-pilihannya bisa jadi berasal dari mereka kumpulkan sendiri. Atau mungkin juga dari yang kita sediakan. Bisa juga sih kita membatasi pilihan-pilihan buruk dari mereka dari apa yang mereka lihat atau dengar.

Di era informasi seperti sekarang ini, kontrol terhadap informasi itu berat banget. Kalau di era televisi, kita pemirsa akan terima-terima aja segala yang disodorkan. Namun sekarang, filtering-nya setengah mati. Butuh tiga hari untuk tahu apakah sebuah berita adalah hoax atau bukan. Bagi kami, YouTube masih mending. Anak-anak memang belum paham fitur search-nya. Namun, ke depannya history bisa kita awasi terus kan. Another problem kalau mereka sudah bisa menghapus history. Saat ini, at least saat ini kami sudah mulai dengan menghindari sinetron serta berita yang belum tentu terkait dengan keluar kecilkamu. Mungkin kapan-kapan saya bisa sharing perspektif saya tentang hal ini ya.

Jadi kita orang tua harus menganggap anak sebagai manusia dewasa yang punya pilihan. Jadi tanyakan misalnya, maunya apa? Menurut kamu lebih baik mana?

Orang dewasa ingin didengar. Apa pendapat mereka. Pun begitu pula dengan anak-anak yang kita anggap sebagai pribadi dewasa. Kalau kita “mengkerdilkan” anak-anak, termasuk dengan anggapan “namanya juga anak-anak”, maka sesungguhnya kita turut berkontribusi terhadap “perlambatan kedewasaan” mereka.

As we know, dalam islamic parenting tidak ada namanya remaja. Yaitu, usia biologis (yaitu fisik dewasa) yang lebih tua daripada usia psikologis (yaitu pemikiran anak-anak). Yang ada hanyalah aqil baligh. Dewasa secara fisik dan pemikiran.

Kami belajar dari anak itu seperti kami belajar dari orang dewasa. Kami positive thinking bahwa semua orang berusaha menjadi lebih baik; meski belum dan tidak akan sempurna. Anak-anak pun seperti itu. Mereka akan bertumbuh berkembang, memiliki kebisaan dan kemampuan tersendiri nantinya. Seiring sejalan dengan hal tersebut, kami berusaha mengenal mereka lebih mendalam.

Si W, ternyata pribadi yang tidak mau kalah, sulit mengalah, dan ingin menjadi nomor satu. Pribadinya memang introvert, sih. Dia menggali dari dalam dirinya sendiri kala ingin belajar/menjadi lebih baik. Dia ini kelihatannya excited soal menggambar/melukis. Inginnya sih, dia ada kesempatan ikut sanggar lukis yang gak terlalu jauh dari rumah.

Beda dengan Z, si kakaknya yang extrovert, senang dengan keramaian, selalu ingin diperhatikan orang lain, namun suka bertanya dan mengeluh kepada orang lain bila ada yang dia tidak bisa pelajari/kerjakan.

Tidak selamanya berguna yang namanya bersikap steril terhadap anak-anak. Semua serba dilarang juga tidak baik. Yang harus ada adalah pengawasan. Pun kala anak-anak memberikan feedback, kami harus menanggapi dengan masuk akal pula. Seiring tumbuh-kembangnya fisik dan pemikiran mereka, kami orang tua juga harus memberikan reasoning yang tepat pula.

Jadi orang tua itu berat. Tanggung jawabnya sedemikian besar. Tetapi pengajarannya relatif belum memadai. Alhamdulillah makin ramai topik tentang parenting dibahas, diajarkan, dan dilatih di mana-mana. Even di Gramedia, ada rak penjualan buku khusus untuk tema-tema parenting.

Kami yakin tidak ada manusia yang sempurna. Bagaimana orang tua kami menjalankan parenting juga tidak sempurna. Ada beberapa “kesalahan” yang mereka lakukan. Namun kembali ke diri kami apakah mau mengulangi kesalahan tersebut atau justru melakukan yang benar dan seharusnya.

PS: Anak-anak yang dititipkan oleh Allah kepada kami masih kecil-kecil. Kami bukan pelaku parenting yang sukses. Parenting yang sukses menurut kami baru bisa diukur pasca anak-anak tersebut sudah menikah dan menjadi orang tua pula. Catatan ini sekedar catatan pribadi saja. Bukan berbagi kebenaran. Mudah-mudahan memberikan manfaat bila memang cocok atau inspiratif bagi kamu yang membaca.

Belajar dari Sepuluh Cucu

Selama puluhan tahun hidup di dunia, saya pernah berkesimpulan dan berkeyakinan bahwa belajar itu harus dari expert-nya. Percuma, sama-sama belajar dari yang bahkan belum tahu sedikit pun. Alhamdulillah, belasan tahun sekolah bisa belajar di sekolah-sekolah yang fasilitasnya oke. Tahu sendiri, ‘kan, sekolah berfasilitas oke menunjang kita untuk bisa masuk ke sekolah yang sejenis. Minimal sekolah negeri dengan brand yang sudah oke punya.

Ibarat kata, anak Bandung mau masuk ITB itu harus melalui jalur sutera dulu. Ini secara umum saja ya. SD-nya SD yang itu, SMP-nya boleh pilih satu di antara dua SMP negeri tersebut, dan nanti SMA-nya yang satu itu. Supaya bisa ramai-ramai pindah dari SMA ke ITB. 

Tapi ternyata itu semua tidak cukup. Learn from the expert is one thing. Do (or execute) it seamlessly is another thing. Belajar dan menjadi pintar tidak akan pernah cukup, dong. Makanya kita belajar dan menjadi expert juga dalam eksekusi, ‘kan. Kenyataannya, eksekusi tidak semudah teori-nya. Materi-materi pelatihan tentang sales and distribution itu ya itu-itu aja. Almost nothing new. But the important one is how good you are in those execution. Unilever Indonesia beken banget tuh dengan execution-nya. Bahkan sampai seorang dirut Bank Mandiri pun menyadari pentingnya lalu menulis buku tersendiri mengenai execution. 

Saya belajar langsung dari anak-anak (sendiri maupun beberapa ponakan–cucunya orang tua sudah ada 10 orang saat ini) bahwasanya teori-teori sederhana yang kita ajarkan kepada mereka; tidak semudah itu dilaksanakan. Dalam hal ini, orang dewasa sama dengan anak-anak. Bahwa apa yang diketahui, alias teori, belum tentu dikerjakan dengan baik. Anak-anak diberi tahu bahwa menonton TV tidak boleh dekat-dekat. Tapi tetap saja mereka melakukannya. Sembari diiringi dengan gumaman khas anak-anak, yaitu merapal ulang teori yang pernah diajarkan berulang-ulang. Rasanya orang dewasa juga demikian ya.

Many times, they should be remind (again, again, and again) about it –and they keep doing it. Bukan masalah mengingatkannya. Tapi ternyata, mungkin begitu adanya ya, manusia itu perlu diingatkan, dan diingatkan terus. Manusia itu tempatnya lupa. Eh salah. Lupa itu mungkin memang tempatnya ya di manusia.

Dan tidak hanya itu, di samping terus-menerus direfleksikan ke teori-teorinya, expertise adalah sesuatu yang diraih karena rutinitas pelaksanaanya. Peribahasa manusia jadulnya, –ketahuan angkatannya–Alah bisa karena biasa. Bahasa kerennya persistent/perseverance/resilience.

Dua, manusia itu butuh dan ingin berkomunikasi.

Orang dewasa, jelas. Punya gagasan yang ingin disampaikan dan ingin mendengar pula opini dari orang lain. Bagaimana dengan anak-anak? Anak-anak butuh mendengar dari kita. Karena dari situlah kita dapat menegaskan hal-hal baik dan mencegah hal-hal buruk (Amar Ma’ruf Nahi Mungkar).

Anak-anak juga perlu belajar menyampaikan pendapat, ide, dan perasaannya. Karena di situlah terletak penghormatan dan penghargaan terhadap mereka. Dalam hal ini, tidak ada bedanya dengan saya dan semua teman-teman di SMA yang menjalani latihan pidato selama dua jam setiap jumat setelah makan siang.

Lagi-lagi, anak-anak sama dengan orang dewasa. Anak-anak pada umumnya memiliki pengetahuan yang lebih terbatas. Tapi itu bukan alasan untuk mengabaikan apa yang mereka sampaikan, maupun menutup-nutupi dari apa-apa yang ingin mereka dengar.

Key(s) Takeaway

Tulisan hari ini semata-mata pengingat bagi saya, untuk memperlakukan orang lain, baik anak-anak maupun dewasa, yaitu sebagaimana seharusnya. Bahwasanya, manusia itu ingin mendengar what we would like to say, di samping ingin didengar juga pendapatnya. Above all, manusia juga ingin dihormati (tidak disepelekan) dan dihargai (ikut dijunjung) atas apapun yang ada pada diri mereka. Sesedikit apapun itu.

Saya dulu abai terhadap pendapat orang lain. Dalam arti, you should prove it by yourself first, then I would like to consider your opinion. Banyak atau sedikit, ini adalah tempaan dari lingkungan semasa saya kecil dulu. 

Kedua, that’s what education should do. Treat the children and adults by the same principles. Penghormatan dan penghargaan pada tempatnya. Salah satunya, supaya anak-anak dapat menjadi pribadi yang dewasa. Sebagaimana quote senior saya, kurang lebih begini,

“Itulah sejatinya pendidikan karakter.. mematangkan dan menghilangkan ketergantungan prefrontal cortex terhadap immediate rewards (Dopamine dan Serotonin) oleh kesenangan sesaat.”

Jadi begini, maksud quote tersebut, orang dewasa yang kekanak-kanakan, salah satu cirinya adalah menghendaki apresiasi yang secepat mungkin. Yang di dalam otak kita, lebih tepatnya di bagian prefrontal cortex, itu distimulus oleh senyawa kimi yang diberi nama Dopamine, sama satu lagi Serotonin. Mengapa bisa demikian?

Kata saya sih, sebabnya adalah kita kurang membiasakan atau kurang menyamakan dari generasi ke generasi tentang yang saya sebut penghormatan dan penghargaan kepada anak-anak. Saya merasa banget lho, tidak mendapat hal yang saya maksud.

Akhirnya saya jadi sok-sok hanya melihat dan menghargai seseorang hanya dari ekspertise-nya saja atau hanya dari loe-itu-sejago-apa-sih. Belum termasuk kerendah-dirian yang saya bawa sejak kecil. Memang sih, kampus mengajarkan, meyakinkan, dan membentuk saya merasa lebih confidence. Namun ternyata itu hanyalah overconfidence yang tidak pada tempatnya. Bahkan cenderung merupakan sebuah kesombongan semata.

Konon, oleh Ki Suratman, Taman Siswa bernama “Taman” karena di sanalah, dengan proses pendidikan seperti itulah, seharusnya education itu dilakukan. Sebagai sebuah taman (unsur tanah, sinar matahari, dsb) tempat bertumbuh-kembang, tanggung jawab pendidikan adalah tanggung jawab semua orang–terutama orang tua si anak sendiri.

membangun-komunikasi-dengan-anak
ini bukan keluarga kecil saya, ya. jumlahnya sih sama. tapi itu bukan kami. hehehehe. dari parentinganak.com