Promosi Online Produk Kuliner yang Efektif

Teknik-teknik promosi produk kuliner secara daring yang tepat sasaran.

Dalam 10 tahun terakhir, revolusi belanja (dan berjualan) terjadi secara signfikan. Bagaimana promosi dilakukan, cara pembayaran, hingga pengiriman produk. Revolusi digital ini melingkupi banyak sekali industri. Lebih khusus, adalah Usaha Mikro. Di mana, salah satunya adalah makanan alias produk kuliner.

Secara produk dan layanan, kuliner kita klasifikasikan menjadi restoran (termasuk warung makan atau gerobak), cemilan (snack), dan frozen food. Yang nomor tiga adalah kategori terbaru yang berada di tengah-tengah.

Yakni, produknya bisa bertahan 1-2 hari di suhu ruang (lebih lama daripada produk restoran), meskipun tidak sampai awet bertahun-tahun (lebih sebentar daripada cemilan). 

Cara Promosi 

Untuk membangun brand (branding), gunakan Instagram. Ini adalah antarmuka antara kita dengan customer. Namanya main instagram (IG), harus aktif rilis post dan story, juga berkomentar di akun IG yang lain. Ini adalah cara organik (non iklan) untuk membangun followers dan engagement

promosi online
Ini adalah produk kami. Open Reseller. Pengiriman dari Surabaya atau Bandung. IG: https://www.instagram.com/zawasiomay/?hl=en WhatsApp 0812.3489.5278.

IG tidak berdiri sendirian. Didukung oleh Facebook Fan Page dan WhatsApp. Kalau IG sebagai front-end, maka Fan Page sebagai back-end. Fan Page kita perlukan, salah satunya bila sudah waktunya menggunakan iklan. Iklannya diatur di Fan Page, distribusi iklannya bisa ke facebook maupun IG. 

Lalu, WhatsApp (WA) sebagai titik terjadinya penjualan. Jadi, segala following dan engagement, harus berakhir ke WA. Pemegang WA berperan sebagai Customer Service (CS) yang melayani segala pertanyaan, pemesanan (order), dan pembayaran. FYI, WhatsApp bisa menyasar segala umur. Sementara, aplikasi LINE untuk menyasar segmen yang lebih muda. 

Cara Pembayaran

Sejak cara pembayaran dimudahkan dengan kemudahan transfer via mobile banking app, atau alat pembayaran semacam Shopee Pay, GoPay, OVO, Jenius, dan sejenisnya, transaksi online semakin mudah. Umumnya, calon pembeli diminta transfer dahulu, baru produk dikirim kemudian.  

Kapan pembayaran dilakukan, berubah 180 derajat sejak transaksi online dimungkinkan. Sebelum sekarang, pembayaran dilakukan di kasir, kemudian barang diserah-terimakan. Sekarang, pembeli bahkan membayar dahulu baru mendapatkan produk. 

Termasuk ketika berbelanja di e-commerce semacam Tokopedia, Bukalapak, Shopee, Blibli, dan sebagainya. Mereka ini bisa menjembatani pembeli dan penjual. Sebagaimana kita tahu, pembeli tidak ingin bayar duluan tapi tidak mendapat barang (alias kena tipu). Penjual pun tidak ingin sudah mengirim produk, tapi sulit melakukan penagihan. 

Begitu pentingnya membayar lebih dulu, hingga beberapa rekan pembeli saya pun beranggapan bahwa, “Belum halal dimakan kalau belum dibayar duluan”. 

Btw, ada trik-trik marketing agar produk kita tampil di halaman pertama mesin pencarinya marketplace. Sebutannya SEO Marketplace. Mudah-mudahan ada waktu untuk kita ulas di artikel yang lain, ya. 

Cara Pengiriman 

JNE sebagai pemain nomor satu di industri kurir (logistik ritel) memang berdiri 30 tahun lalu. Sebagai pemain yang infrastruktur jaringannya paling siap ketika online shopping mulai jamak dilakukan sepuluh tahun lalu, maka semakin masif transaksi di industri logistik ritel. 

Kurir semacam JNE yang mampu mengirim produk secara ritel hingga berhari-hari akan optimal untuk jenis camilan dan minuman bubuk (salah satunya kopi). Frozen food yang harus diterima customer esok hari, bisa menggunakan fitur “sehari sampai”. Nah, selain dari penyedia jasa yang sudah eksis, ada pula pemain baru dengan brand Paxel yang fokus di logistik frozen food. 

Kekuatan Paxel adalah keberanian merek tersebut untuk berinvestasi mesin pendingin (kulkas) di hub-hub maupun di truk-truk mereka. 

Promosi Online 

Di atas sudah dijelaskan ya apa peran dari masing-masing akun IG, Fan Page, dan WA. Terus apalagi yang dibutuhkan? Yaitu aplikasi Google My Business untuk usaha kuliner berbasis tempat (restoran, warung makan, rombong, dll). 

Ada tiga hal yang wajib dilakukan: (1) membuat titik lokasi di Google Maps, (2) merilis foto-foto tempat, menu, dan produk makanan-minuman. Ketiga adalah menghimpun bintang dan ulasan (review) sebanyak-banyaknya. Gunakan promo diskon untuk memancing pembeli memberikan bintang dan ulasan.

Buat Penawaran 

Penawaran bukan berarti foto doank. Tapi gambar dikombinasikan dengan tulisan (copywriting). Supaya lebih powerful, keduanya dipertemukan dengan momentum yang tepat. Misalnya hari besar tertentu, atau kampanye lain yang masif dikerjakan (misalnya HARBOLNAS, hari belanja online nasional).

Supaya lebih maksimal lagi, penawaran mesti memuat promo tertentu berupa diskon, bundling, cashback, dan sebagainya. Terakhir adalah, digencarkan dengan iklan. Namanya kuliner, paling utama ya di Instagram, level berikutnya di Facebook.

Pemodelannnya kira-kira berikut ini.

promosi online

Photo Shooting

Untuk produk kuliner UMKM, tidak wajib menggunakan jasa food photographer profesional. Demi menekan biaya, kita bisa membuat dan menggunakan photo box mini sendiri. Sebuah kotak (box) kecil dengan dua sinar lampu. Mengapa dua sinar lampu? Untuk meniadakan bayangan produk dari kedua sisi. 

Kalau ribet produksi sendiri, bisa cari di marketplace dengan kata kunci tersebut. Hehehe. 

Photo Editing 

Berikut adalah beberapa contoh Photo Editor di smartphone antara lain: PicsArt, Snapseed, Canva, Adobe Photoshop Lightroom, Photo Lab, Pixlr, dan lain-lain. Di lingkaran saya, paling banyak menggunakan aplikasi Canva. Baik di smartphone maupun di PC. 

Dua fitur paling sering digunakan dari aplikasi penyunting foto adalah contrast dan brightness. Tujuannya adalah supaya fokus utama kepada produk itu sendiri. 

Copywriting 

Silakan langsung saja ke artikel teknik copywriting saya. 


Demikian sedikit sharing saya mengenai Promosi Online Produk Kuliner yang Efektif. Semoga eksekusinya mudah dan berjalan lancar.

Btw, artikel ini diinspirasi oleh: Media Promosi Online Efektif dengan Foto Produk UKM Keren

Awas, Ada Guru Gadungan!

Hati-hati dengan guru gadungan. Analisis kebutuhan training kamu sendiri.

Disclaimer: Saya tidak menentang online education. Bahkan, banyak keterampilan yang saya kuasai berkat belajar di internet.

Ada sebuah video di YouTube berjudul The Rise of Fake Gurus yang sudah ditonton lebih dari satu juta kali. Video ini menceritakan para “guru” gadungan (fake) dengan harga paket pelatihan yang berlebihan (overpriced).

The Rise of Fake Guru

Bisnis pelatihan ini lahir karena adanya sejumlah besar informasi yang membingungkan dan bertentangan tentang apa yang harus kita lakukan untuk menumbuhkan diri maupun bisnis milik kita. Namanya juga usaha, selalu ada masalahnya kan. Pada waktu apapun, dalam fase yang manapun, dan di ukuran sebesar apapun masalah di perusahaan sudah tersedia tanpa diminta. 

Dari masalah, lahirlah solusi berupa pelatihan. Yang naasnya, tidak semua guru itu autentik. Ada juga guru gadungan.

Yang bisa dijadikan penanda dari ke-gadung-an ini adalah melimpahnya visualisasi berupa uang tunai, mobil sport, rumah mewah, dan sejenisnya. Fana sekali. Padahal, mobil sport tersebut adalah mobil sewaan. Jika kamu menghasilkan milyaran rupiah dari perusahaan, produk, atau layanan, maka kamu tidak memerlukan siapapun (sebagai peserta) untuk membayar kursus seharga beberapa ratus ribut (atau juta) tersebut. 

Lebih lanjut, kalau kita quick search di Google, lantas kita tidak mendapatkan profil yang jelas dan transparan, sudah waktunya kita mulai curiga. Apabila yang kita temukan hanyalah dirinya dan insitusi yang didirikan dan dibangun olehnya, itu sudah lebih baik. Meskipun perlu ditelusuri lebih lanjut, mana profiling dari mereka saja (sudah direkayasa sedemikian rupa), dan mana yang berasal dari khalayak umum. Personal branding yang paling baik adalah pernyataan atau komentar positif dari orang lain, ‘kan? 

Tentu tidak semua pengajar seperti demikian. Masih banyak kok, pengajar-pengajar yang tulus dengan ilmu dan strategi yang sudah terbukti (proven). Bersama orang-orang baik seperti ini, kita bisa tumbuh bersama-sama; bukannya dia yang untung kita buntung. 

Pelajaran yang bisa diambil dari fenomena di atas adalah untuk lebih selektif dalam memilah dan memilih pelatihan –yang tentu saja sepaket dengan “siapa” pengajarnya.

Personal TNA 

Kaitannya dengan kita sebagai individu –katakanlah sebagai seorang karyawan di perusahaan, atau sebagai pekerja lepas (freelance)– kita sama-sama membutuhkan pelatihan, donk. Sama seperti para pemilik usaha tersebut di atas yang butuh menumbuhkan pribadi dan usahanya.. 

Kalau di kantor-kantor, ada Training Needs Analysis (TNA). Analisis ini dilakukan untuk mengkaver selisih (gap) yang terjadi antara kompetensi yang dibutuhkan dengan hasil asesmen kompetensi terhadap pegawai yang mengisi pos pekerjaan tersebut. Memang, tidak semua perusahaan memahami dan terbiasa menerapkan TNA ini. 

Darimana data-data tersebut berasal? Kompetensi yang dibutuhkan didasarkan pada kompetensi spesifik yang tertuang di job description per posisi pekerjaan. Untuk asesmen kompetensi, datanya bisa jadi tidak terlalu banyak. Karena karyawan terus berotasi dari posisi ke posisi, ‘kan. Setahun sekali diasesmen saja sudah sangat baik. 

PR Kita 

Jadi, sebagai pribadi, apa saja yang pekerjaan rumah yang perlu kita kerjakan terlebih dulu? 

  1. Bangun visi pribadi

    Seperti apa profil kamu sebagai seorang profesional? Mulai dengan yang paling ideal dulu. Bisa melakukan keterampilan A, kompeten di bidang B, dan seterusnya. Baru tetapkan kapan semuanya bisa selesai diwujudkan. Dengan kata lain, tentukan deadline-nya. 

    Kalau kita berpikir cara yang gampang, ya mudah saja. Tinggal mengikuti pelatihan ini itu, dan sertifikasi A, B, C, dan seterusnya. Tapi tujuan tulisan ini bukan mempraktikkan yang seperti itu kan. Melainkan bagaimana secara bertahap (gradually) kita mewujudkan profil profesional kita dengan menempatkan training secara tepat. Baik tepat waktunya, tepat jenis trainingnya, dan pas anggarannya.

  2. Analisis Kebutuhan Pelatihan

    Kalau tidak dianalisis, mungkin kita akan menghabiskan waktu (dan dana) untuk paket pelatihan yang tidak perlu. Di era 4.0 ini informasi bertebaran di website, blog, social media, forum, dan lain sebagainya. Yang tidak disediakan adalah mekanisme untuk menyaring dan mengolah informasi tersebut menjadi wawasan (insight) yang sesuai dengan kebutuhan pribadi. Termasuk di antaranya adalah mencari dan mendapatkan pelatihan yang tepat (dan dengan anggaran yang pas) untuk mendukung karir profesional kita masing-masing. 

    Adalah kita sendiri yang bertanggung jawab untuk menyaring dan mengolah jadi insight yang bermanfaat. 

  3. Penganggaran

    Tidak bisa semua pelatihan bisa diikuti. Yang gratis saja akan memakan waktu, yang berbayar malah memakan waktu dan uang. Maka sudah tepat kalau menganggarkan waktu dan biaya, supaya tidak kontraproduktif. 

    Yang gratis itu banyak di social media. Formatnya pun bisa kita pilih sendiri. Format teks ada di weblog, format image banyak di Instagram, kalau yang mengajarkan step-by-step dengan kombinasi visual audio semakin banyak di YouTube. Yang terakhir, cocok untuk sebagian besar orang. 

    Dalam menentukan anggaran pelatihan untuk diri sendiri, paling adil kalau dilihat per tahun. Tidak lucu kan kalau jalan-jalan sekian juta, belanja pakaian dan sepatu demi gengsi sekian juta, tetapi investasi leher ke atas (alias training) malah tidak dianggarkan. Tidak perlu terlalu besar, tapi jangan pelit juga. Yang sedang-sedang saja. Hehehe. 

Mungkin kamu ada pengalaman tertentu soal salah beli training? Share di kolom komentar, ya. 


Telah terbit buku terbaru saya. Apa yang dibahas dalam buku ini:

  • Jenis pekerjaan lepas yang tersedia di pasar tenaga kerja saat ini
  • Cara memulai karir freelance
  • Frequent activity seorang freelancer
  • Bagaimana meningkatkan produktifitas dan menaikkan kelas freelance
  • Mengoptimalkan remote working untuk pekerjaan freelance

Spesifikasi teknis buku ini:

  • Ukuran A5
  • Total 197 halaman
  • 5 Bagian; 33 Bab
  • Tebal 1.2 cm
  • Kertas HSSD (tetap ringan)
  • SWOT analysis workpage
  • Personal branding workpage
  • Self-publishing
  • On-demand printing

Review SewaKamar.id Solusi Sewa Property

Review bisnis digital kali ini mengulas situs sewakamar.id yang mengklaim sebagai solusi sewa properti. Simak kemudahan-kemudahan dalam mencari kost/apartemen/rumah dan menyewakan aset properti anda bersama sewakamar.id

Punya properti itu susah-susah gampang.

Susah, karena namanya properti, mau bentuknya rumah, kios, ruko (rumah toko), apartemen, rumah/kamar kost, dan lain sebagainya itu harus dirawat. Namanya perawatan, ya jelas keluar biaya donk. Tidak hanya biaya bersih-bersih, seperti menyapu dan mengepel. Tapi juga mengelap kaca jendela yang kotor berdebu. Sampai dengan biaya-biaya perbaikan kalau ada kerusakan yang macam-macamnya juga ada banyak. Mulai dari genteng /talang yang bocor. Warna dinding yang mulai kusam dan minta dicat kembali. Lantai keramik yang harus dibersihkan dengan jenis pembersih tertentu. Karena kuatnya kotoran yang menempel. Dan lain sebagainya.

Susah juga, karena mendapat penyewa yang tidak pernah mudah. Jangan berharap, sekali datang, lihat-lihat, kemudian langsung sepakat harga dan jangka waktu penyewaan. Ada kalanya, harus sabar menanti beberapa calon penyewa dahulu melakukan proses penyewaan. Mulai dari membuat janji pertemuan, memperlihatkan fitur-fitur bangunan, sampai dengan negosiasi harga dan termin.

Mau dapat penyewa atau tidak, biaya-biaya perawatan harus tetap dikeluarkan. Kalau biaya rutin adalah pembayaran listrik dan air, maka biaya tetap setiap tahun (atau per dua tahun) adalah perbaikan rutin. Intinya, lebih baik dapat penyewa yang bersikeras bernegosiasi, daripada propertinya kosong sama sekali (tatkala tidak tercapainya kesepakatan harga dan termin).

Gampangnya, karena sudah ada solusi internet digital dari https://sewakamar.id. Apapun jenis properti anda, apakah rumah tinggal (dekat kampus atau di pusat kota), kios di pusat perbelanjaan, ruko (baik di pusat kota maupun di lingkungan terminal atau pasar tradisional), sampai dengan apartemen atau rumah/kamar kost.

contoh kamar kost yang disewakan di https://sewakamar.id

hSesuai komitmennya, sewakamar.id adalah solusi sewa-menyewakan properti. Tidak hanya bisa mencari properti yang sedang disewakan oleh pemiliknya. Namun Anda juga dapat menitipkan properti Anda untuk ditawarkan di situs sewakamar.id tersebut. Tidak diragukan lagi, menyewakan properti di portal Sewakamar.id merupakan cara efektif dalam mengiklankan hunian sewa apartemen, kost, maupun rumah.

Mencari properti di sewakamar.id bisa dilakukan dengan cepat dan mudah. Karena ada dua fitur utama yang akan membantu anda menemukan properti idaman. Yaitu filter dan search. Dengan fitur filter, Anda dapat melakukan klasifikasi berdasar:

  • Jenis properti (kost, apartemen, atau rumah)
  • Area yang dikehendaki
  • Gender (khusus pria, khusus wanita, atau boleh campur)
  • Jangka waktu (harian, mingguan, bulanan, atau tahunan)
  • Fasilitas kost
  • Harga

Untuk Anda yang tidak mempromosikan properti Anda, maka anda dapat menggunakan fitur “Iklan Eksklusif”. Tersedia paket Rp50.000,- yang akan ditayangkan selama tiga bulan.

Beriklan di sewakamar.id tidak repot, kok. Hanya dengan tiga langkah:

  1. Registrasi/login
  2. Mendaftarkan properti milik Anda
  3. Konfirmasi pembayaran
contoh apartemen yang disewakan di https://sewakamar.id

Tuh, benar-benar mudah, ‘kan? Cari sewa kamar kost/apartemen/rumah, gampang. Mau menyewakan dan mengiklankan properti juga sama mudahnya. Semua tinggal dilakukan dengan situs http://sewakamar.id.