Cara Menulis Proposal Proyek

Bikin proposal proyek itu gampang-gampang susah. Ada dua faktor yang harus diantisipasi: customisation factor dan customer intimacy factor yang perlu kita ukur dan nilai sebelum memutuskan mau mengejar proyek tersebut atau tidak.

Yang tidak saya bahas dalam artikel ini adalah proposal untuk mendatangkan investasi. Artikel ini juga tidak membahas rencana bisnis (business plan).

Alhamdulillah, selama 7 (tujuh) tahun berkarir, selalu kebagian yang namanya membuat proposal proyek. Saya coba tuangkan dalam post ini, bukan berarti saya dan tim selalu sukses memenangkan proyek. Setidaknya, saya bisa berbagi di mana saja “lubang-lubang” yang harus diwaspadai. Meskipun, setelah semua ranjau-ranjau darat berhasil dihindari dan kita sampai di tujuan (baca: semua usaha sudah dilakukan), mungkin saja proyek tersebut bukan rejeki kita. Hehe.

Namanya takdir kan gak bisa dilawan, ya. Kita fokus saja dengan apa yang berada dalam kendali kita.

Ok, kita mulai. Premis awalnya adalah proposal yang mendatangkan bisnis itu gampang-gampang susah.

Gampang karena, ada saja contoh proposal yang bisa ditiru. Dan semakin kita bergelut di suatu bidang produk atau jasa, maka wujudnya proposal akan semakin begitu-gitu saja. Misalnya, proyek kontraktor bangunan, struktur proposalnya cenderung kaku. Atau proyek sistem informasi. Isinya kurang lebih akan sama dari waktu ke waktu.

Namun demikian, proposal yang menjual tidak mudah juga. Namanya proyek ya, cenderung customized ‘kan. Alias, proyek yang satu tidak benar-benar sama dengan proyek-proyek sebelumnya. Ada saja spesifikasi produk yang tidak sama, menyebabkan harga yang ditawarkan menjadi berbeda. Atau produk yang persis sama, namun karena calon klien yang meminta ternyata berbeda industri dengan yang sebelumnya, maka produk dan harganya menjadi tidak sama lagi.

Singkat cerita, di awal penyusunan proposal proyek akan terasa gampang. Mendekati deadline penyerahan proposal, semakin terasa kesulitan dalam detil-detil yang perlu kita konfirmasikan kembali ke calon klien, atau harus kita pikirkan masak-masak. Baik spesifikasi maupun harga. Belum termasuk skenario-skenario yang perlu kita perjelas dan deskripsikan lebih lanjut. Sehingga transparan bagi kedua pihak.

Customisation

Kustomisasi ini terbagi dalam tiga hal. Product/Service Management, Delivery Management dan Cash Management. Yang pertama meliputi produk/layanan itu sendiri. Terutama adalah kesesuaian/ketepatan dengan kebutuhan (requirement) dari klien. Ini teknis banget lha ya, sesuai bidang bisnis masing-masing. Tentu anda lebih memahami daripada saya.

Yang kedua menyangkut ekspektasi dan keterpenuhan dari apa yang kita janjikan. Yaitu, how to deliver the product/service and related documentation. Kerapihan dan keteraturan administrasi (termasuk dokumentasi) yang menjadi kunci di sini. Kapan presentasi, apa yang dipresentasikan, dokumen teknis apa yang harus dilengkapi, bagaimana dengan laporan kemajuan (progress report), meeting apa yang harus ada, dan seterusnya.

Ketiga, soal keuangan. Ini ada kaitannya dengan pertama dan kedua. Mana keuangan yang kita harus mendanainya terlebih dahulu, apa yang bisa dilakukan dengan uang muka dari klien, bagaimana cara menekan biaya material/teknologi/proses tanpa mengurangi kualitas yang sudah ditetapkan di requirement, dan lain sebagainya. Mengapa demikian? Simply karena project-based business (terutama yang di-tender-kan) itu omzetnya sudah ketahuan di depan (dan tidak ada invoice tambahan). Kalau proyek non tender, kita sendiri harus pintar pasang harga karena (bisa jadi) cost-nya tidak fleksibel-fleksibel banget.

Seni main proyek adalah merancang biaya produksi serendah-rendahnya sejak awal.

Tidak mahir main proyek bisa menyebabkan rugi, nombok, bahkan bangkrut.

Jam terbang tentu mempengaruhi kemampuan tersebut, ya. Penguasaan proses/teknologi/material ikut menentukan “how low can you go with the cost“.

Customer Intimacy

Kesuksesan proyek kita akan ditentukan oleh hubungan kita dengan klien/pelanggan. Kenali dulu pelanggan kita ini: hard/easy customer? Seberapa dalam “kantong”-nya? Kalau kita sukses di proyek ini, seberapa mungkin kita dapat proyek lain dari mereka (langsung maupun tidak langsung)? Kerjasama tim kita dengan tim mereka akan “semanis” apa?

Meskipun kita sedang membahas bisnis berbasis proyek, namun tetap saja keberhasilannya tergantung dari manusianya juga. Karena manusia yang membelinya, dan manusia juga yang akan menggunakannya. Jadi hubungan antar manusia ini harus bisa kita berikan observasi/penilaian sejak awal.

Conclusion

All in all, kesimpulan core of the core-nya adalah tetapkan di “medan juang” mana kita ingin bertarung. How worth it or profit a project seharusnya sudah bisa diprediksi dan ketahuan bahkan sejak proposalnya ditulis.

Setengah bercanda: cara meningkatkan persentase kemenangan proposal yang diserahkan kepada klien adalah dengan mengurangi pengumpulan proposal itu sendiri. Dark jokes for me, but it is really true.

Bagaimana caranya? Sudah dibahas di atas: Customization and Customer Intimacy.

Cara Menetapkan Tarif Freelance

Mungkin topik tarif freelance ini paling ditunggu-tunggu, ya. Haha.

Saya pribadi, as penjual dan pembeli juga memberi bobot tinggi sama pricing ini. Sebagai konsumen, mau cocoknya kayak apa juga, kalo gak sesuai budget bisa batal beli. As penjual, saya juga gak mau dibayar murah. Apalagi dianggap murahan. Makanya topik ini penting banget untuk saya share.

Pertama-tama, bisa dimulai dengan tarif mandays dulu sewaktu masih kerja kantoran. Itu kalau anda pernah kerja kantoran. Misal dulu gaji Rp4,4juta. Berarti mandays anda Rp200ribu. Karena sebulan kerja itu sekitar 21-22 hari. Dengan catatan anda kerja senin-jumat. Kalau kerjanya senin-sabtu bergaji Rp2,5juta maka per harinya sekitar Rp100ribu. Tapi yang terakhir ini gak yakin ada deh. Itu cuma permisalan aja untuk menghitung tarif harian.

Bisa juga mulai dari harga di pasar freelance. Seperti di sribulancer.com, freelancer.co.id, dan sejenisnya. Harus diingat bahwa yang menyodorkan jasa pertama kali di sana, memulainya dengan angka yang menyedihkan. Misalnya, desain logo Rp50ribu. Penulisan artikel Rp20ribu. Lucunya, ada saja yang berani membayar. Tapi bagaimana lagi, demikian kan hukum supply-demand bekerja.

Harga supply-demand sebenarnya harga berdasar pada produk/layanannya. Ini kategori kedua.

Kalau sukses mulai dari pasar freelance, bisa lha menaikkan harga sedikit demi sedikit. Intinya, naikkan harga setelah dapat trust (kepercayaan) dari klien yang sama. Jangan mudah pindah klien. Lebih susah dapat klien daripada mengerjakan proyek baru dari klien lama. Jadi lebih baik sama klien lama, dengan harga yang dia tawar sedikit, dan pembayaran lancar. Daripada harus cari klien baru terus. Bukannya melarang sama sekali, ya. Tapi ada kombinasi sehat yang mesti kita pelihara. Misal 4-5 klien lama + 1 klien baru.

Bicara soal content, untuk klien lama atau baru sebenarnya jelas banget bedanya. Ini kaitan sama kerjaan fotografi, desain, menulis, dsb ya. Makin lama kita bareng dia, maka makin kenal juga kita sama mereka. Makin dalam pula pemahaman (understanding) kita terhadap mereka. Pastinya ini memudahkan kita untuk menemukan deep insight (wawasan mendalam) tentang konsumen/user/reader mereka. Dari sisi mereka, makin betah mereka sama kita, berarti semakin minim upaya mereka untuk mengurus kita dari waktu ke waktu. Simply karena mereka sudah engage banget sama kita.

Harga bisa lebih tinggi, kalau kita menawarkan proses kerja yang sistematis, jelas dan mudah dimengerti. Contoh, freelance yang mantan jurnalis biasanya jelas banget tuh cara kerjanya. Turun ke lapangan ambil data, atau cari referensi sekunder dari buku, artikel (termasuk googling), dsb. Baru menyusun tulisan, editing, review sampai proses rilis. Jadi, temukan metodologi kerja kita, sempurnakan (alias buktikan) dengan latihan dan proyek terus-menerus. Kemudian jadikan metodologi tersebut sebagai nilai jual kita. Sehingga kita bisa memasang tarif yang lebih tinggi dari sekitar kita.

Faktor ke sekian, perhatikan isi kantong calon pembayar. Kalau kantongnya dalam, maka bisa lha kita kalikan 2-3 kali lipat. Saya perhatikan, ini orang tertentu saja. Kebanyakan klien saya, gak di kategori seperti ini. Mungkin ini merefleksikan pasar besarnya ya. Bahwa hanya 5%-10% aja yang bisa membayar lebih.

Pendekatan mandays itu satu hal. Semua yang disebut di atas itu manhour/mandays/manmonths. Karena sudah ada proses yang jelas, berikut dengan waktu (dan proposinya) yang kita upayakan. Sementara itu, pendekatan dari produk/service-nya sendiri itu lain pendekatan. Nah, dari kedua kategori harga tersebut, saya ambil harga tengahnya. Demikian pengalaman saya.

Terakhir, jangan lupa sediakan ruang untuk negosiasi. Kalau saya, dialokasikan sampai 30% untuk dinego. Jangan terlalu rapat ruang negonya. Bahkan dari harga yang saya kehendaki, itulah yang saya naikkan sampai 30%. Sambil berharap, akan deal di harga sekitar 85%-90%. Hehe. Misal, kita harap deal di Rp700ribu. Maka sebut harga pertama di Rp1juta.

Hahaha. At the end, saya gak akan mengeluarkan angka, ya. Balik lagi ke anda pribadi. Mau merilis di nilai berapa. Intinya, hati-hati dalam memasang harga. Harga yang ketinggian masih bisa diturunkan. Harga yang udah kelewat rendah, susah dikatrol naik.

Freelance: Rasanya Kehilangan Klien

Tulisan ini seharusnya dirilis dan di-congkak-kan (baca: dipamerkan) pekan lalu. Di saat komunitas 1M1C sedang sibuk dengan minggu tema “kehilangan”. Ada yang menuliskan momen-momen kehilangan masa santay-nya karena datang masa sibuk-nya yang warbiyasak pasca melahirkan. Alhamdulillah ya, dapat amanah baru lagi as ortu dari seorang bayi. Yah, I feel that kok, Sist. Bukannya gak punya empati atas sebuah rasa kehilangan. Been there done that. Cuma gak pengen mellow marshmellow di blog aja. Biar sendu-sendunya disimpan sendiri aja en dibuang di pojok kamar. Ceilah.

Cukup introduksi ala-alanya. Jadi kembali ke laptop. Gimana rasanya?

Actually, biasa aja sih. Gak usah melibatkan perasaan. Nanti jadi ba-per. Namanya klien stop ngasi kerjaan ke kita kan bukan sesuatu yang gimana tho. Cuma aliran uang yang berhenti aja. Mirip-mirip kayak lagi mati air gitu lha. Stop mengucurnya. Tapi ini bukan akhir dunia. Toh matahari masih terbit dari timur. Mungkin kita ketahui alasannya ya. Mungkin juga tidak. Tapi bisa jadi dia memang sudah tidak butuh deliverables dari kita. Semisal foto, tulisan, image as deliverables kita yang nge-freelance as photographer, writer, and visual designer. Or other deliverables.

Mungkin juga hasil kolaborasi en coba-coba (baca: eksperimen) dia bareng kita udah mulai menampakkan hasil. Atau minimal wawasan (insight) mulai kelihatan lha. Bahwa deliverables kita kurang cocok (belum tentu kurang bagus ya) sama tipe bisnisnya dia. Kalau soal selera, kudunya udah cocok dari awal lha. Kan dia udah ngelihat portfolio kita. Jadi think positive aja. Not that worst, pokoknya.

Bisa jadi juga dia udah chemistry banget sama karya kita. Tapi sayang, satu dan lain hal, dia juga mengecil aliran “keran”nya. Omzetnya mengecil lha, atau ada piutang tak tertagih lha. Atau lainnya. Efeknya kudu stop sama kita. Dia sih pengen lanjut sama kita. Tapi apa iya kita mau pro bono gitu sambil banting tulang memeras darah? Ya enggak kan.

OK, pesannya udah ditangkap ya? Intinya jangan ba-per. Kalau segitunya dibawa ke hati, terus gak bisa move on ‘kan repot ujung-ujungya. Padahal klien ya kudu diburu terus. Hahaha. Gak ding. Yang bener memburu pekerjaan, kalau sudah dapat ya dikerjakan sebaik-baiknya. Habis itu baru penagihan sampai pelunasan. Wkwkwk.

Lagian, kalo personal brand kita udah kuat, calon klien datang sendiri, kok. Memang, kerjaan freelance itu lebih mirip B2B daripada B2C. Alias klien yang datang sebenarnya sedikit. Tapi kalau berhasil maintain, ya bisa awet juga. Gak harus berburu kecil-kecilan terus. Kayak ular viper warna ijo aja yang makan katak hijau di pohon. Sekali telan bisa berhari-hari gak cari makan lagi. Eh analoginya masuk gak ya? Hahaha. Intinya dapat kan?

However, seperti seseorang (teman, keluarga) atau sebuah barang (kunci kendaraan, kunci rumah), ada kalanya klien dan transfer-annya baru terasa ketika “hilang”. Padahal pas kerjaannya ada, susah dan dikejar deadline kita lupa bersyukur masih punya gawe-an. Di luar sana banyak lho yang cari gawe-an tapi gak nemu-nemu.

In terms of financial management, di situlah gunanya menabung. Alias tatkala sedang sepi pekerjaan, masih ada yang bisa diicip-icip sebelum brace yourself, new project is coming.

Kalau saya, berhubung hobi dagang barang juga, jadinya masih bisa jajan dari situ. Nah ini jadi “bemper” juga pas proyek lagi sepi. Intinya jangan menaruh telur di satu keranjang lha. Kalau perlu simpanlah beberapa jenis protein di beberapa kulkas. Eh, kejauhan ya? Haha. Pokoknya, creme de la creme nya gitu deh. Udah ngerti kaannnn……… namanya manajemen risiko (risk management).

Analisis aja, mana aliran omzet yang bisa rutin ngasi pemasukan (meskipun kecil nilainya). Mana pula yang nilainya besar (meski hanya sesekali). Pengennya sih semuanya dapat ya? Hahaha, tapi habis itu menyesal karena enggak ada waktu ngerjain. ((((ketawa miris))))

Kuncinya, treatment aja ini-itu kerjaan freelance as BAU (business as usual). As I ever wrote before somewhere in this blog. Bahwa sambil ada yang dikerjain, tetap aja fungsi penagihan harus berjalan terus. Demikian pula dengan fungsi jalan-jalan bertemu dengan orang baru. Ya mosok satu dari lima puluh orang kenalan baru enggak ada yang nyangkut ye kan….. hehehe

Konklusinya adalah, urusan duit jangan dibawa ke hati. Sebagaimana sebuah hadits yang sampai kepada saya, supaya dunia itu di tangan dan pikiran aja tapi tidak di hati. Tatkala klien memutuskan stop berlangganan jasa kita, kitanya gak baper parah dan aliran fulus juga enggak mampet-mampet banget.

Lagian, kalau indikatornya cuma si lembar yang bikin mata jadi ijo, kurang tepat juga. Makin banyak indikator sebenarnya makin baik. Tambahkan target dan ukuran semisal: jumlah orang baru yang ditemui, keahlian baru yang didapat dan kemudian bisa ditawarkan, dst. Segini aja dulu ya. Semoga bermanfaat.

Related post(s):

Balance in Remote Work Life

Masih soal remote working. Atau kerja jarak jauh. Apa sih, bedanya? Jelas beda donk. Remote working is in english. Kalo kerja jarak jauh itu bahasa Indonesia. Ok? Sip 😀

Bekerja di luar kantor pada umumnya, memang bisa meningkatkan produktifitas. As you know, di kantor kita sering terhambat hal-hal yang belum tentu penting. Semisal, meeting. Membahas sesuatu yang kita (biasanya) belum siap. Belum baca materi meeting, belum searching soal keyword tersebut, belum cari referensi atau benchmark. Sehingga kita biasanya juga kurang mantap saat ambil keputusan.

Kalau kerja remote dari rumah, kafe, atau coworking space gitu biasanya jadi lebih produktif. Karena sudah tahu apa yang mau dikerjakan (sudah ditetapkan), dan sudah biasa mengerjakan (bukan newbie, sudah berpengalaman).Selain soal produktifitas, kampanye kerja remote biasanya diikuti soal kebebasan berpakaian. Ya pakai celana pendek lha, bisa kaos t-shirt instead of kemeja lha, dst. Ekstrimnya, bisa pakai piyama.

Tapi semua itu tidak akan membuat karir (ciyeh, karir!) remote working akan bertahan lama. let’s say 3 tahun, minimal. Simply karena selain manusia pekerja, kita adalah makhluk sosial dan makhluk anti-kebosanan.

Kita masih butuh kok, kena angin jalanan (kalo hilir-mudik momotoran). Atau melihat warna aspal (jalan ini kok lebih gelap daripada jalan yg itu ya?), dsb. Yang paling utama adalah kita masih butuh bersosialiasi sama manusia lainnya. Yang hidup, sama-sama makan nasi, dan juga menyeruput kopi. Kita masih butuh lho qoempoel (baca: kumpul) sama komunitas yang se-hobi.

Iya sih, kalo kerja dari rumah bisa kerja semau-mau gw. Mau kerja sampai subuh, lanjut sholat subuh (dua rakaat sebelum subuh jangan dilupa, kawan!), lalu tidur. Atau kerja sampai 12 jam sehari (alasannya ngejar deadline, padahal hobi ngulik kata, kode atau desain aja).

Padahal, bagaimanapun juga, kerja ‘kan hanya salah satu aspek dalam hidup. Cari uang demi segenggam beras dan sebutir berlian sih, iya. Tapi ada dimensi-dimensi lain ‘kan yg harus kita penuhi. Sebut saja, anggota keluarga yg berhak atas diri kita. Adik yg butuh kakaknya utk dijahili, ortu yg butuh anaknya makan bareng di meja makan, sampai anak-anak yg butuh PR-nya dikerjain ortunya (eh!). 😀

Nah, ini ada beberapa hal yang bisa dikerjain supaya remote working tetap produktif, mengasyikkan namun tetap jadi kerjaan yang rewarding utk kita pribadi, namun jadi kerjaan jangka panjang. (Banyak dan rumit ya syaratnya).

As simple as, rencanain aja besok mau pakai baju apa. Gak mungkin kan pakai t-shirt belel yg itu-itu aja. Ceritanya sih gak mau ambil pusing ala-ala Abang Mark Zuckerberg atau almarhum Steve Jobs. Padahal ya, biar lebih proper aja. Saya sih suka yg ada kerahnya, jadi lebih serius gitu kesannya kalo mau kerja (meski masih di rumah, sih). Another point sih, dengan merencanakan hal-hal yang remeh-temeh begini, kita jadi gak terlalu kaku, bahkan jadi kreatif soal kerjaan yg menuntut produktif.

Tentu poin ini gak terbatas soal fesyen aja. Tapi juga makan siang apa, di mana. Yang penting gak kelewat ribet mikirinnya. Take it easy aja. Kayak di office beneran. Kalau kita nyaman dengan pakaian kita, lalu cukup kenyang via lunch and snack, kan kita sendiri yg merasakan nikmatnya kerja.

Bikin aktivitas rutin setelah bangun tidur, yang menyenangkan. Misalnya jalan/lari pagi habis subuh, belanja ke pasar, mengisi jurnal, atau lainnya. Isi jurnal memang dikerjain di dalam rumah, sih. Tapi kalau dua sebelumnya kan aktivitas luar rumah. Believe it or not, pamer diri ke luar rumah, menunjukkan diri kita itu masih ada dan eksis (agak lebay sih) itu gak kalah pentingnya untuk kesehatan mental. Kalau hati sudah senang, kita bisa mulai kerja dengan happy.

Nonton TV atau bioskop (tadinya saya mau re-mind soal nyanyi Indonesia Raya sebelum film diputar, tapi naga-naganya peraturannya ditunda). TV? Biasanya sih TV dinyalakan sambil ngobrol keluarga — Jadi TV-nya muter apa, kitanya bicara apa 😀 . What I really mean is, ekspos diri kita dengan story yg baru atau berbeda. Bisa dari film TV/bioskop, serial yang baru, buku novel, dsb.

Terakhir, adalah punya komunitas. Maksudnya sekelompok orang yang kita saling kenal dan punya topik pembicaraan yg sama. Not really new people (kalo ini namanya networking). FYI, butuh 40 jam interaksi untuk merasa casual friend dan 90 jam untuk being real friends.

Remote working memang memberi kita kebebasan soal fleksibilitas, waktu, dan produktifitas. Belum termasuk ruang berkreasi untuk diri dan karya kita. Mari ambil keuntungan yang terbaik dari remote working, dan kembangkan kebiasaan-kebiasaan (seperti beberapa sudah saya sebut di atas) yang worth it dan menghargai diri sendiri.

Referensi: https://blog.trello.com/hermit-habits-remote-work

Related Post(s):

Remote Working from Coffee Shop

Rutinitas pekerjaan di kantor kadang membuat suntuk. Pekerjaan yang itu-itu saja menuntut kebaruan. Padahal target tidak pernah surut, deadline pantang mundur menghindari kita. Demi selesainya pekerjaan dan target, satu “pelarian” kita adalah coffee shop terdekat. Kafe Upnormal, misalnya. Singkat cerita, pergi kerja ke coffee shop adalah suatu bentuk menuntut kebaruan. Ini topik yang coba kita bahas kali ini ya.

Konon, menuntut kebaruan itu ternyata memang karakteristiknya si Homo Sapiens. Ya yang kayak kita-kita ini 😀 Basically, Homo Sapien itu senang banget beremigrasi. Merantau. Ada harapan bahwa akan menemukan yang lebih baik di tanah rantau. Misalnya jodoh yang lebih ganteng/cantik, atau kehidupan ekonomi yang lebih baik, atau belajar di kampus ternama demi harapan menemukan calon mertua yang luar biasa pula, atau lainnya. Meskipun di sisi lain merantau itu sebenarnya penuh dengan risiko. Kegagalan menumbuhkan ekonomi pribadi/keluarga. Ancaman, tantangan, hambatan, dan gangguan (ATHG) yang lebih berat dan di luar zona nyaman ketimbang di tempat-tempat sebelum beremigrasi.

Homo sapiens were the only group of early hominids to emigrate over the entire world, which entailed great risk, so I think humans as a species are characterized by novelty, and intensity-seeking,” explains psychologist, Marvin Zuckerman, Ph.D.

Jadi, memang manusia itu pada hakikatnya menuntut pembaharuan. Apa nih, kreasi terbaru dari desainer fesyen ternama yang menjadi idola aku? Ada inovasi apa nih dari produk Apple yang baru saja dirilis? Di kantor, ada gosip terbaru apa? Eh film yang heboh banget di Instagram itu, bener sebagus itu gak aslinya? Dan seterusnya.

Pembaharuan itu seperti kecanduan narkoba, nge-game, rokok, atau zat aditif lainnya. Sekali jejak kimiawinya sudah terjejak di otak, kita manusia berusaha meraihnya kembali. Lagi, dan lagi. Jejak kimiawi ini mendatangkan perasaan berbahagia, soalnya. Namanya dopamin.

Studi terbaru justru menyatakan bahwa dopamin adalah motivasi meraih reward-nya. Bukan reward (penghargaan) itu sendiri. Sejatinya, sesuatu yang membangkitkan dopamin dalam otak kita, hendaknya menggerakkan kita untuk mengejar suatu reward/acknowledgement/prize. Ini smeua part penting dalam gamification. Makanya, konsep gamifikasi sekarang ini diimplementasikan tidak cuma di industri game saja, tetapi juga di industri pendidikan misalnya. Kapan-kapan kita bahas ini ya.

Back to topic.

Dalam uraian di bawah, kerja remote dari coffee shop itu bukan karena kafenya cozy atau kopinya enak. Tapi memang karena intrinsic motivation (motivasi dari dalam diri kita).

Secara spesifik, kebaruan apa saja yang dituntut dalam rutinitas bekerja?

Lokasi yang berbeda, misalnya. Baik sekedar pindah meja untuk menghilangkan kebosanan. Pindah ke ruang rumput yang kekinian ala-ala di kantor para milennial, atau bekerja di ruang terbuka seperti di balkon maupun halaman belakang.

Atau bahkan pergi ke coffee shop demi secangkir cappucinno panas atau segelas cafe latte dingin berikut dengan Wi-Fi gratisnya. Lokasi yang baru, pada dasarnya mirip sebuah kanvas kosong untuk produktivitas kita. Lingkungan yang baru dan segar (fresh) sehingga memampukan kita untuk menyelesaikan segala tugas dan pekerjaan di hadapan.

Mekanismenya enggak rumit-rumit amat, kok. Kita menjadi lebih produktif (dan lebih efisien) di lokasi yang relatif baru, simply karena otak kita melihat tugas-pekerjaan di hadapan dengan “sumber cahaya” yang berbeda. Dengan berpindah-pindah lokasi bekerja, kita sebenarnya sedang mengaktivasi kemampuan otak kita untuk berpikir dengan sudut pandang yang baru (atau berbeda).

Beberapa paragraf terakhir di atas bukan menyarankan kita harus selalu berpindah tempat demi menemukan semangat atau gairah baru dalam bekerja. Yang tidak boleh kita lupakan adalah, otak kita bisa mengatur dan menyetel (eh, ini bahasa Indonesia yang benar, atau tidak? hahaha) produktifitas bergantung pada tanda-tanda spesifik atau spesial yang sudah kita rancang. Misalnya, bekerja dengan meja dan kursi yang aerodinamis sehingga kita merasa nyaman dan fokus. Foto keluarga yang memberi alasan mengapa kita beqerja qeras bagai quda (titik tekan pada setiap huruf Q, hehe). Atau hal sederhana semacam to do list untuk hari atau pekan tersebut.

Put simply, just move out when the crisis (or deadline) is facing you.

Lagian, ini semua bukan tentang kafe atau coffee shop, atau bahkan jenis kopi yang kita minum, kok. Bukan single origin darimana, espresso atau cold brew, banyak atau dikit milk and foam-nya. Semua ini soal intensi kita untuk menyelesaikan pekerjaan atau menaikkan kecepatan kerja kita yang tiba-tiba sedang slowing down itu. Yang ternyata semua penaikkan motivasi itu dimulai bahkan sejak kita berniat untuk pindah tempat.

https://blog.trello.com/coffee-shop-effect-boosts-productivity

Proyek Freelance Pertama Saya

Saya hampir lupa proyek freelance pertama saya. Sebab saya ketika kuliah memang beberapa kali mendapat -ehm- penghasilan. Mulai dari menang lomba menulis essay ketika tingkat dua. Investasi (alias main duit untuk mendapat duit) ke teman GAMAIS yang sedang bikin proyek buku soal dan jaket untuk tingkat satu. Termasuk dapat duit dari mengajar les kecil-kecilan.

Tapi yang disebut freelance kan berarti lepas-an. Yang dikerjakan itu adalah pekerjaan yang jelas output/deliverables-nya.

Ketika itu kebetulan saya antara masih atau sudah turun/selesai dari aktivitas kemahasiswaan. Kebetulan, bidang yang saya pertanggungjawabkan adalah edukasi mengenai kewirausahaan kepada teman-teman mahasiswa.

Saat itu, itu enterpreneurship belum isu yang se-wah sekarang. Teman-teman mahasiswa, kalau mau buka bisnis, pikirannya hanyalah modal berapa, jadi bahan baku dan peralatan/perlengkapan, terus omzet berapa. Modalnya pinjam sana-sini terus dikembalikan secara bertahap kepada si kreditur. Atau boleh juga jadi pemilik dengan menyumbang nilai tertentu dari modal. Secara periodik, ada hasil yang bisa dibagikan (bagi hasil).

Berbeda dengan sekarang yang sudah lebih kapitalis. Main modal jadi sesuatu yang lazim sekarang. Seiring dengan berkembangnya ilmu manajemen risiko (terhadap si modal tersebut). Beberapa contohnya adalah daripada pakai uang sendiri, lebih baik pakai uang beberapa orang. Daripada investasi ke satu bisnis saja, lebih baik dibagi ke 10 bisnis sekaligus. Satu di antara sepuluh yang berhasil, bisa tumbuh setidaknya 20 kali lipat dari yang pertama.

Sebagai ilustrasi, ada namanya East Venture. Venture Capital (VC) ini hanya fokus bermain/berinvestasi di bisnis-bisnis baru yang bahkan kebanyakan orang belum tahu. Selain memantapkan diri di sana, ini juga untuk mengelola risiko mereka. Seperti saya bilang di atas, satu di antara sepuluh atau belasan, tentu ada yang bisa grow menjadi puluhan, ratusan bahkan ribuan (atau lebih!) kali lipat dari skala awalnya kan.

Nah, itu sepenggal cerita pengantar.

Intinya, dari understanding sedikit tentang entrepreneurship tersebut, proyek freelance pertama saya adalah kontributor buku tentang kewirausahaan. Selain saya yang mewakili perspektif mahasiswa, ada juga pandangan dari seorang dosen yang hari-harinya juga bergeluti di inovasi teknologi untuk bisnis. Kontributornya hanya dua orang. Proyek penulisan buku ini milik lembaga inkubator bisnis di kampus. Mereka yang merilis fee penulisan dan pencetakan bukunya.

Kurang lebih dua tahun kemudian, saya bergabung dengan sebuah kantor konsultan kecil. Lumayan, belajar mengelola proyek dan bisa berkarya kecil-kecilan. Lakukan riset pendahuluan, bikin proposal, pitching/presentasi, sampai sukses dapat proyek. Diikuti dengan kejar-kejaran sama deadline, setelah berwaktu-waktu bingung dengan, “Ini proyek dikerjainnya gimana yah?”. Namun sejak itulah, kalau boleh dibilang, personal brand saya yang kecil-kecilan juga terbangun. Orang mulai mengenal saya lewat pekerjaan dan apa-apa yang saya kerjakan. Saya kurang pede menyebutnya sebagai karya.

Kesimpulan sementara ini adalah ada beberapa skill yang cukup penting untuk memulai karir freelance. Di antaranya adalah skill membangun dan mempertahankan network. Baik teman-teman yang baru, maupun mempertahankan network di institusi kita yang sebelumnya.

Di sini kita bukan sebagai teman saja. Tapi juga harus bisa ber-ide dan “menjual” ide tersebut. Ide ini at least direalisasikan dalam wujud proposal. Jadi, harus bisa menulis proposal juga. Namanya menjual ya berarti mampu menawarkan manfaat dan bisa mengkonversinya dengan nilai tertentu.

Tentu saja, aspek teknis dari pekerjaan freelance tidak kalah penting. Memotret untuk fotografer, menulis dari penulis, mendesain dari desainer, dst. Selain terkait ke kualitas pekerjaan, ini juga menggambarkan positioning dan harga kita selaku freelance. Apakah kita ini pemula dengan skill seadanya dengan harga murah-murahan. Atau sudah mulai naik kelas ke middle-up dengan nilai proyek yang lumayan, karena kita sudah punya skillnya.

Freelance Penerjemah dan Editor Lepas

Tidak seperti yang disangka oleh kebanyakan orang, dunia penerjemahan sebenarnya sangat luas. Industri penerjemahan tidak hanya ada dalam industri penerbitan buku, melainkan juga di bidang lain seperti televisi, film layar lebar, dokumen hukum dan perusahaan, sebagai juru bahasa (interpreter), dan banyak lagi. Pekerjaan-pekerjaan semacam itu tentu tidak harus dilakukan sebagai karyawan tetap perusahaan. Banyak juga yang berstatus pekerja lepas (freelancer) di masing-masing bidang penerjemahan tadi. Tidak hanya offline, tetapi ada juga freelance penerjemah online.

www.ikhwanalim.wordpress.com

Profesi penerjemah di Indonesia sebenarnya juga sudah ada organisasinya sendiri. Namanya HPI (Himpunan Penerjemah Indonesia). Didirikan pada 1974, organisasi ini sempat “mati suri” cukup lama sebelum kemudian pada tahun 2000 kembali dihidupkan. Siapa pun yang ingin berkecimpung penuh di dunia penerjemahan di Indonesia ada baiknya bergabung menjadi anggota HPI. Keuntungan bergabung dengan wadah para penerjemah ini adalah para anggota bisa memiliki jejaring berisi orang-orang profesional di bidangnya masing-masing, mendapatkan informasi tentang peluang kerja atau tarif standar terjemahan, kesempatan mengikuti acara-acara pelatihan yang terstruktur, dan banyak lagi.

Berhubung saya hanya berkutat di industri penerbitan buku, khususnya sebagai penerjemah dan editor lepas (freelance translator and editor), saya tidak akan membicarakan bidang lain di industri penerjemahan di dalam tulisan ini karena memang bukan kapasitas saya dan karena akan membuat tulisan ini terlalu panjang.

Pertama-tama, harus diketahui bahwa penerbit buku (baik besar maupun kecil) tidak bisa lepas dari para pekerja lepas dalam aktivitas kesehariannya. Mereka yang mengerjakan pekerjaan-pekerjaan keredaksian hingga siap naik cetak—misalnya editor, penerjemah, pemeriksa aksara (proofreader), penata letak (layouter)—sebagian besar justru berstatus pekerja lepas (freelancer).

Dan semakin banyak yang bekerja secara online saja. Istilah freelance penerjemah online malah semakin terasa relevansinya.

Tentu saja penerbit punya karyawan sendiri. Di bagian redaksi, editor penerbit biasanya disebut editor in-house. Lalu kenapa penerbit masih membutuhkan tenaga lepas? Sebab tidak mungkin editor in-house menangani semua naskah sendiri. Berapa pun jumlah editor di penerbit, mereka akan selalu membutuhkan tenaga lepas. Lebih efisien begitu, memang. Karena naskah yang masuk tentu jumlahnya naik dan turun alias musiman.

Sebuah naskah membutuhkan waktu dan konsentrasi tersendiri dalam proses penggarapannya. Sementara itu, dalam sebulan, penerbit sudah pasti menerbitkan banyak sekali naskah. Seandainya hanya para editor in-house yang menggarap naskah-naskah itu, tidak mungkin target terbit terkejar. Di sinilah para pekerja lepas yang saya sebutkan di atas tadi berperan. Dari sini kita akan membicarakan dua jenis pekerjaan penting dalam lingkup keredaksian itu.

Sebelum menjalani karier sebagai penerjemah dan editor lepas, saya pernah bekerja di sebuah penerbit umum selama tujuh tahun lebih sebagai editor in-house. Dalam kurun waktu tersebut, sesekali saya juga menerjemahkan naskah buku untuk penerbit saya sendiri maupun penerbit lain. Perlu diketahui juga bahwa seorang editor juga idealnya mempunyai keterampilan menerjemahkan dan menulis, di samping keterampilan standar seperti bahasa Indonesia dan bahasa asing, wawasan tentang dunia buku, dan pengetahuan umum lain atau bidang tertentu lain secara luas dan mendalam.

Untuk menjadi penerjemah bagi penerbit, jalan yang ditempuh sama sekali tidak bisa dibilang gampang. Jalur standarnya adalah mengirim lamaran biasa disertai contoh hasil terjemahan. Contoh hasil terjemahan ini bisa diambil dari buku yang pernah kita terjemahkan, atau kalau kita belum punya karya terjemahan, bisa mengambil sumber teks dari artikel majalah atau buku-buku yang sudah berstatus public domain. Jika mengambil jalur terakhir ini, sering kali memang panggilan dari penerbit bisa sangat lama datangnya, atau malah tidak ada panggilan sama sekali, yang artinya penerbit menganggap kualitas kita belum mumpuni untuk standar mereka atau mungkin mereka sedang tidak membutuhkan tenaga penerjemah tambahan karena sudah cukup.

Tidak perlu berputus asa jika memang hal itu yang terjadi. Ada banyak yang bisa dilakukan untuk “menjual diri” atau “cari muka” di hadapan penerbit. Harap diketahui, para editor in-house adalah orang-orang yang “kepo”. Mereka gemar sekali browsing atau main di media sosial dan mengunjungi blog-blog pribadi. Maka ada baiknya orang yang ingin menjadi penerjemah atau editor lepas juga rajin menulis (agak) panjang, entah di blog atau di medsos. Editor in-house menilai kemampuan menulis dan wawasan kita dari situ juga.

Lagi pula, jumlah penerbit ada cukup banyak. Kalau mau, kita juga bisa mulai melamar ke penerbit kecil dulu. Sebab, penerbit besar punya kecenderungan untuk memakai jasa para penerjemah (atau editor) lepas yang sudah mereka kenal baik atau mereka anggap konsisten kualitasnya. Tidak jarang para penerjemah atau editor lepas itu dulunya adalah mantan editor in-house mereka sendiri.

Editor in-house dan editor lepas tidak bisa dibilang mempunyai tugas yang sama persis, walaupun sama-sama editor. Editor in-house punya tugas yang lebih banyak dan lebih kompleks daripada sekadar mengoreksi naskah. Editor in-house membuat konsep kover dan kemasan buku serta membuat cover checklist berisi blurb (atau sering disalahpahami sebagai sinopsis), judul, subjudul, endorsement, berburu naskah atau penulis, mendampingi penulis dalam acara-acara peluncuran buku, mengunjungi pameran buku di dalam dan luar negeri, dan banyak lagi.

Sementara itu, editor lepas hanya fokus pada satu tugas: mengoreksi naskah. Kecuali kalau dia diminta oleh penerbit untuk melakukan beberapa detail lain walaupun tidak sejauh desc-job editor in-house. Yang dimaksud dengan mengoreksi naskah di sini tidak semata mengoreksi salah ketik (typo), melainkan juga memastikan apakah ejaan sudah baku atau sesuai dengan gaya naskah dan apakah kalimat sudah mengalir mulus dan lancar. Jika yang dikoreksi adalah naskah terjemahan, editor harus memastikan hasil terjemahan sudah tepat dan “pas”. Singkatnya, tugas editor lepas itu lebih fokus.

Kebanyakan penerbit buku menawarkan tarif per karakter tanpa spasi untuk pekerjaan penyuntingan (editing) dan penerjemahan. Tarif penerjemahan jelas lebih tinggi daripada penyuntingan. Pasangan bahasa sumber dan target juga menentukan. Tarif terjemahan bahasa Indonesia-Inggris bisa jauh lebih tinggi dibandingkan terjemahan Inggris-Indonesia. Jika penyuntingan atau penerjemahan bahasa Inggris-Indonesia saja berkisar pada angka belasan rupiah per karakter, penerjemahan dari bahasa Indonesia ke bahasa asing bisa mencapai angka puluhan rupiah per karakter. Ini masih bisa bergantung pada negosiasi juga. Oya, bahasa asing selain Inggris punya tarif lebih tinggi disebabkan jumlah penerjemahnya lebih sedikit.

Angka tarifnya sendiri bisa didapatkan misalnya dari HPI atau hasil berdiskusi dengan rekan-rekan seprofesi. Jangan pernah ragu bernegosiasi dengan penerbit dalam hal menentukan tarif. Syaratnya cuma satu: kita yakin bahwa kualitas terjemahan kita memang baik dan konsisten pula hasilnya. Semakin bagus hasilnya, semakin ringan tugas editor in-house dan dia akan terus memberikan order terjemahan kepada kita secara rutin. Sebab, biasanya penerbit juga punya daftar penerjemah yang menjadi langganan mereka. Itulah sebabnya sangat sulit bagi pemain baru untuk menembus deretan penerjemah langganan penerbit. Tapi, hal itu juga tidak mustahil. Lagi pula, dunia penerjemahan masih sangat luas, seperti yang jelas di paragraf-paragraf awal tadi.

– Indradya S.P.

Penerjemah & editor lepas. Tinggal di Bandung.

Mengenal Freelance Marketing dan Seluk-Beluknya

freelance marketing 1

Meta deskripsi: Istilah freelance marketing bukan hal asing di dunia digital. Tapi tidak banyak yang benar-benar tahu, apa freelance marketing sebenarnya.

Beberapa dekade silam, istilah freelance marketing mungkin tidak terlalu bergaung di Indonesia. Tetapi sejak tingkat pengetahuan soal teknologi dan internet meningkat di masyarakat, istilah tersebut mulai muncul dan menjadi salah satu pilihan karir yang populer. Meskipun begitu, masih banyak yang belum benar-benar mengerti dan mengenal profesi freelance marketing.

Freelance sendiri merupakan istilah dari Bahasa Inggris untuk menyebut seorang pekerja lepas. Pekerja lepas merupakan seseorang yang bekerja pada sebuah perusahaan atau instansi tetapi tidak terikat. Artinya mereka memiliki kewajiban untuk menyelesaikan tugas yang diambil, tetapi memiliki hak penuh untuk memilih mengerjakan suatu pekerjaan atau tidak.

Istilah freelance pertama kali diperkenalkan oleh Sir Walter Scott melalui buku fiksinya yang berjudul “Ivanhoe.” Istilah tersebut digunakan untuk menyebut tentara bayaran pada abad pertengahan. Kata freelance sendiri berasal dari “free” (bebas) dan “lance” (tombak). Artinya pekerja lepas merupakan metaforan dari sebuah tombak yang bisa bekerja bebas tanpa majikan tertentu dan tidak bisa didapatkan secara gratis.

Meskipun dilihat dari sejarahnya penggunaan istilah ini merupakan paduan bahasa dan sejarah yang rumit, tetapi banyak yang sepakat menggunakan istilah freelance untuk menyebut pekerja lepas. Secara teknis, pekerja lepas bisa bekerja di bidang apapun yang mereka sukai. Tapi hanya ada beberapa bidang yang sering menggunakan pekerja lepas sebagai tenaga.

Yaitu, jurnalisme, penerbitan buku, segala pekerjaan yang berhubungan dengan tulisan, editor, programer komputer, desain grafis, konsultan, hingga penerjemah.Di era digital seperti saat ini, jangkauan pekerja lepas tentu saja semakin luas. Cukup dengan akses internet, mereka mampu mendapatkan berbagai macam pekerjaan freelance yang sesuai dengan keahlian tanpa harus meninggalkan rumah.

Dari sinilah fenomena freelance marketing muncul dan berkembang. Lalu, apakah freelance marketing itu?

Freelance marketing merupakan istilah untuk menyebut kegiatan para tenaga lepas dalam mencari klien atau perusahaan yang membutuhkan kemampuan mereka. Setidaknya ada beberapa tugas yang harus bisa dilakukan oleh para freelance marketer agar dapat mempromosikan sebuah merek atau perusahaan, yaitu:

  1. Membuat suatu promosi yang semenarik mungkin
  2. Menciptakan sebuah website atau bisnis yang dapat meningkatkan potensi klien
  3. Dan meyakinkan sebuah perusahaan untuk membeli produk yang dijual

Sudah menjadi rahasia umum bahwa sebuah badan usaha memerlukan strategi pemasaran dalam bentuk baru dan semenarik mungkin. Mengingat hal tersebut tidak seluruhnya bisa dilakukan oleh pemilik perusahaan, dari sinilah peluang untuk para freelance marketer bermula.

Jadi jika Anda seseorang yang kreatif dan sedang mencari peluang untuk memaksimalkan potensi tersebut dan mendapatkan penghasilan, menjadi pekerja lepas merupakan pilihan yang tepat. Secara umum, ada beberapa bidang yang bisa menjadi peluang bagi para pekerja lepas untuk menunjukkan potensi mereka. Yaitu melalui media sosial, bisnis properti, dan segala usaha yang berbasis digital.

Freelance Marketing di Media Sosial

freelance marketing 2

Beberapa dekade belakangan, media sosial telah berkembang menjadi salah satu platform untuk mempromosikan suatu merek atau perusahaan. Penggunaan media sosial dianggap efektif mengingat jumlah pengguna internet yang juga memiliki medsos semakin lama semakin meningkat.

Selain itu media sosial juga tidak memiliki batasan usia, selama memiliki akses internet, setiap orang bisa melihat media sosial dan segala konten di dalamnya dengan bebas. Potensi inilah yang membuat berpromosi melalui medsos dianggap efektif dan efisien. Biaya produksinya pun bisa dipangkas serendah mungkin untuk meningkatkan keuntungan.

Tidak heran jika saat ini, banyak sekali klien dan perusahaan yang memanfaatkan media sosial untuk mempromosikan barang atau produk mereka. Meskipun kelihatannya efektif, tetapi membuat sebuah promosi di media sosial ternyata tidak bisa dilakukan secara asal-asalan.

Sama seperti ikan konvensional di televisi, dibutuhkan konsep yang mampu meningkatkan awareness terhadap produk yang dijual. Di sinilah peran freelance marketing social media dibutuhkan. Selain kreativitas, pekerja lepas di bidang ini dituntut agar dapat membuat iklan yang seunik mungkin sehingga bisa menarik perhatian para pengguna media sosial.

Setidaknya ada beberapa tugas yang harus bisa dikuasai oleh para pekerja lepas di media sosial, yaitu:

  1. Mampu mengelola berbagai akun media sosial
  2. Memahami setiap platform media sosial yang dikelola secara menyeluruh
  3. Membuat konten iklan semenarik mungkin sesuai konsep media sosial yang digunakan
  4. Mengikuti perkembangan zaman dan tren (hal-hal yang sedang viral di media sosial)

Menarik bukan? Mengingat betapa besarnya pengaruh media sosial di kehidupan masyarakat zaman now, tidak heran jika selain freelance marketing social media, ada berbagai profesi baru yang muncul dan populer seperti influencer, selebgram, dan selebtwitt. Orang-orang yang menyandang titel tersebut dianggap mampu meningkatkan awareness terhadap sebuah produk melalui akun media sosial mereka masing-masing.

Tapi jika ingin konten yang berkualitas dan berpotensi untuk viral, tidak ada salahnya untuk memanfaatkan kemampuan para freelance marketing social media. Agar potensi sebuah konten bisa maksimal, kombinasikan kreativitas para pekerja lepas ini dengan popularitas para selebritis media sosial.

Freelance Marketing Properti

freelance marketing 3 property

Salah satu bisnis yang sering memanfaatkan media sosial untuk memasarkan produk mereka adalah properti. Jika dulu iklan jual beli atau sewa rumah hanya bisa ditemukan di koran, saat ini promosi properti juga bisa kita temukan di berbagai platform media sosial.

Seperti yang kita tahu, perkembangan bisnis di bidang ini cukup pesat dan cepat. Apalagi nilai jual properti berbeda dengan barang mewah lainnya seperti mobil atau emas. Nilai jual tanah dan bangunan cenderung meningkat setiap tahun, seberapa buruk pun kondisi ekonomi suatu negara.

Tidak heran jika investasi di bidang ini dianggap sangat menguntungkan. Melihat potensi bisnis properti tersebut, bukan hal yang aneh jika banyak sekali orang yang tertarik untuk terjun di bidang ini. Banyak developer yang berlomba-lomba untuk membuat kawasan hunian dengan fasilitas lengkap, lokasi strategis, dan harga semenarik mungkin.

Sayangnya, meski memiliki kemampuan membuat hunian yang apik, tidak semua developer mampu memasarkan produknya dengan baik. Mereka membutuhkan bantuan para marketing properti untuk memasarkan hunian agar bisnisnya semakin berkembang.

Karena saat ini penggunaan media sosial untuk mempromosikan sebuah produk dianggap efektif, peluang untuk menjadi freelance marketing di bidang ini pun cukup besar. Jika tertarik terjun di bidang ini, setidaknya ada beberapa kualitas yang harus dimiliki. Di antaranya:

  1. Memiliki pengetahuan mumpuni tentang properti

Tidak hanya menguasai media sosial, seorang freelance marketing property juga dituntut untuk memahami berbagai sistem dalam bisnis properti seperti: status dan kondisi tanah, dokumen-dokumen terkait properti, proses kredit bank, nilai investasi, hingga potensi produk yang dijual.

  1. Mampu membuat website dan mengelola akun media sosial

Selain pengetahuan di bidang properti, seorang freelance marketing juga dituntut untuk dapat membuat sebuah website yang bisa memaksimalkan promosi produk properti. Pembuatannya pun tidak bisa dilakukan secara asal-asalan, karena website merupakan nilai jual yang dapat menarik kepercayaan konsumen.

Selain website, para freelance marketer juga dituntut dapat mengelola akun dan menggunakan berbagai platform media sosial. Sehingga pemasaran properti tidak hanya dilakukan melalui website tetapi juga media sosial agar cakupan konsumennya lebih luas dan beragam.

  1. Menguasai teknik negoisasi

Seperti halnya penjual kebanyakan, seorang freelance marketing property juga diharapkan mampu menguasai teknik negoisasi yang baik. Teknik tersebut termasuk penggunaan bahasa yang tepat, kemampuan untuk memikat calon konsumen, hingga pemberian penawaran yang tidak merugikan kedua belah pihak. Meskipun kelihatannya sulit, kemampuan tersebut biasanya akan kita miliki seiring bertambahnya pengalaman dalam bidang properti.

  1. Telaten dan tekun

Meskipun secara teknis tugas seorang freelance marketer property sama dengan agen penjualan lain. Tetapi profesi ini membutuhkan tingkat ketelatenan dan ketekunan yang lumayan tinggi. Karena selain menggunakan cara klasik, pemasaran yang dilakukan juga memanfaatkan teknologi masa kini. Hal tersebut bukanlah sesuatu yang bisa disepelekan.

Membuat konten seunik mungkin sehingga dapat menarik konsumen di media sosial dan website bukanlah hal mudah. Dibutuhkan ketekunan dan kesabaran lebih agar penjualan yang dilakukan bisa mendapatkan hasil maksimal. Jadi, tertarik untuk terjun di bidang ini?

Honor Freelance Marketing

freelance marketing 4 honor

Sebagaimana yang telah Anda baca pada artikel lain di situs Freelancer ini, perhitungan honor atau fee freelance marketing ditentukan berdasarkan 3 hal, yaitu:

  1. Lama pekerjaan
  2. Target pekerjaan dan,
  3. Kombinasi keduanya

Berbeda dengan karyawan konvensional, pekerja lepas tidak terikat tanggung jawab terhadap suatu perusahaan dan tidak berhak menuntut fasilitas yang biasanya diberikan pada karyawan tetap, seperti asuransi, tunjangan, insentif, atau bahkan pesangon. Meskipun begitu, bukan berarti menjadi seorang freelance marketer tidak menguntungkan.

Ada banyak aspek lain yang membuat bekerja di bidang ini terasa lebih seru dan menjanjikan dibanding menjadi karyawan biasa. Mulai dari fleksibilitas waktu kerja, minimnya tuntutan dari atasan, hingga kreativitas yang tidak terbatas. Menarik bukan? Bahkan jika kita memiliki kualitas di atas rata-rata, bukan tidak mungkin, banyak klien yang bersedia menggunakan jasa freelance marketer meskipun fee-nya sedikit di atas rata-rata.

Inilah mengapa sebelum memutuskan untuk terjun di bidang ini, pastikan kita memiliki beberapa kualitas yang dapat menaikkan harga jual jasa di hadapan konsumen. Karena meskipun tidak mengikat atau terikat perusahaan manapun, menjadi freelancer bukanlah hal mudah.

Lingkup yang terbatas justru membuat profesi ini memiliki nilai kompetisi dan persaingan yang cukup tinggi. Jika tidak didukung oleh kemampuan dan kualitas yang mumpuni, para freelance marketing tidak akan bisa bertahan dan mendapatkan penghasilan yang menjanjikan dari profesi ini.

Selain kualitas, ada beberapa faktor lain yang dapat meningkatkan harga jual seorang pekerja lepas di hadapan klien. Di antaranya:

  1. Memiliki spesialisasi di bidang tertentu (Niche)

Sah-sah saja menjadi seorang pekerja lepas yang ahli dalam berbagai bidang. Tetapi untuk menjaga kualitas dan mendapatkan keuntungan lebih, kita membutuhkan keahlian khusus dalam satu atau dua bidang. Misalnya, kita tertarik pada segala hal yang berbau properti. Jika ingin ketertarikan tersebut mendatangkan keuntungan, fokuslah pada bidang properti.

Pelajari segala hal tentang sistem jual beli tanah dan bangunan, bagaimana membuat akta dan dokumen terkait, mengetahui proses kredit KPR di bank, hingga memiliki pengetahuan luas tentang status dan potensi suatu properti. Selain itu, kita juga harus memiliki kemampuan penjualan dan negoisasi yang baik.

Sehingga klien tidak segan untuk menaikkan fee atau komisi, karena hasil yang diberikan cukup maksimal. Hal ini juga berlaku jika Anda tertarik untuk terjun di bidang freelance marketing lainnya. Pilihlah bidang yang membuat Anda nyaman dan tertarik agar hasil yang didapatkan pun tidak kalah menarik.

  1. Mampu bersaing

Meskipun lingkupnya tidak seluas pekerjaan konvensional, bukan berarti menjadi freelance marketing tidak memiliki saingan. Untuk meningkatkan fee dan mendapatkan penghasilan lebih, seorang pekerja lepas juga harus memiliki kemampuan bersaing yang baik.

Tawarkan kualitas yang mampu membuat klien tertarik dan bersedia membayar dengan harga mahal. Seperti kemampuan mengelola media sosial, mengoperasikan aplikasi atau software tertentu, dan soft skill khusus yang tidak banyak dimiliki orang (misal: menulis, menggambar, atau mendesain).

  1. Fleksibel dalam menentukan harga

Dalam menentukan tarif, seorang freelance marketing harus memiliki kemampuan untuk mengukur keahlian mereka. Jangan sampai harga yang kita tawarkan atau ditentukan oleh klien di bawah standar dan tidak sesuai dengan kualitas yang diberikan. Jangan sampai pula, harga yang ditetapkan tergolong tinggi sehingga membuat konsumen ragu bahkan enggan untuk menggunakan jasa kita.

Fleksibilitas merupakan kunci untuk bertahan di industri freelance marketing. Sebagai panduan penentuan tarif, ada beberapa poin yang harus dipertimbangkan. Di antaranya:

  • Waktu pengerjaan (per jam, per hari, per minggu, atau per bulan)
  • Kuantitas proyek (per-slide, per kata, per karakter, atau per menit)
  • Tingkat kesulitan proyek, dan
  • Kualitas klien (perusahaan besar atau perorangan)

Untuk mendukung kualitas hasil pekerjaan dan stabilitas penghasilan, sebagai freelancer hendaknya kita lebih bijaksana dalam memilih proyek dan bidang yang akan dikerjakan. Jangan sampai hanya gara-gara tergiur dengan fee freelance marketing yang menggiurkan, kualitas pekerjaan kita menurun sehingga kehilangan klien potensial.

Freelance Digital Marketing

freelance marketing 5 digital

Pada dasarnya apapun bidang yang kita pilih saat terjun di dunia freelance marketing, selama hal tersebut berhubungan dengan teknologi dan internet, maka kita bisa disebut pelaku freelance digital marketing. Jika tertarik untuk berkutat di bidang ini, setidaknya ada beberapa hal yang harus dipersiapkan. Di antaranya:

  1. Membangun jaringan

Tidak seperti karyawan konvensional, seorang pekerja lepas harus membangun jaringannya sendiri agar mendapatkan pekerjaan dan penghasilan yang diinginkan. Mulailah dari menghubungi teman-teman atau kerabat lama untuk membangun jaringan, dan terbuka dengan berbagai kesempatan untuk terhubung dengan jaringan baru. Karena semakin luas jaringan yang dimiliki, kesempatan untuk menawarkan jasa sebagai freelance marketing pun semakin berkembang.

  1. Kumpulkan portofolio

Saat pertama kali terjun di bidang freelance marketing, kita harus sedikit “rakus.” Lakukan setiap pekerjaan yang ditawarkan tanpa pandang bulu untuk menambah pengalaman dan mengumpulkan portofolio. Karena di masa yang akan datang, pengalaman dan portofolio tersebut bisa menjadi poin penting yang akan menaikkan nilai jual di hadapan klien.

  1. Aktif di media sosial

Karena berhubungan dengan dunia digital, menjadi aktif atau bahkan menguasai berbagai media sosial merupakan sebuah keharusan. Selain dapat digunakan sebagai platform promosi, kemampuan mengelola media sosial juga bisa menjadi poin yang membuat klien tertarik untuk menggunakan jasa kita.

  1. Rajin menghadiri acara dan seminar terkait

Dari acara tersebut, biasanya kita bisa belajar banyak hal tentang dunia digital marketing, tips, bahkan trik untuk menggaet klien. Selain itu, kita juga dapat bertemu banyak orang baru yang disadari atau tidak, dapat membantu memperluas jaringan. Menarik bukan?

Jadi, tertarik untuk terjun di dunia freelance marketing? Semoga informasi di atas bermanfaat, dan jangan lupa untuk membaca artikel lain di situs Freelance ini.

Haruskah Pekerjaan Freelance Diteruskan?

Sekarang ini, di waktu reguler saya bekerja di kantor. You know, lha. Pagi sampai sore. Senin sampai Jumat. So, I can do the father-ing activities pretty much.

HARUSKAH PEKERJAAN FREELANCE DITERUSKAN_

Sebelum di kantor sini, saya sempat bekerja freelance. Cukup lama, kalau saya bandingkan dengan teman-teman yang lain di kantor sini. Ada yang beberapa bulan. Paling lama setahun. Karena saya bekerja freelance sampai 25 bulan.

Sebenarnya, sampai sekarang juga saya masih mengerjakan beberapa pekerjaan freelance. Kalau teman-teman yang tadi saya ceritakan, mostly mereka web developer. Sementara saya seorang penulis konten. Ada juga buku yang saya tulis.

FYI, beberapa orang menjadikan profesi “freelance” sebagai alibi. Beneran jadi alibi? Maybe yes, maybe no. Mungkin mereka sedang mencari kerja kantoran, tapi belum dapat. Jadinya yes, alibi. Soalnya belum dapat kerjaan freelance yang baru, jadi iseng-iseng buka toko online lha, buka layanan desain grafis, social media administrator, content writer, dst.

Kecuali memang, freelance adalah makanan mereka sehari-hari. Berarti freelance-ing bukan alasan. The very big NO. Studi kasusnya memang ada nih. Teman saya sendiri. Setelah sekitar 10 tahun freelance sebagai web developer, akhirnya direkrut bekerja sebagai karyawan tetap. Tapi perusahaanya di eropa timur sana. Dia kerja remote dari Bandung. Mulai kerja jam 11 pagi mengikuti waktu bekerja employer-nya di sana.

Freelance is BAU

Kenyataan yang cukup sering dilupakan orang adalah, freelance-ing is really business as usual (BAU). When you think and talk about BAU, it is not necessary as sales and operation only. But also marketing (branding and promotion), finance management, network development, product/service research and development, etc.

For example: 

  • Branding: establish personal blog/social media, search new audience, and put content frequently 
  • Promotion: do some discount, cashback, etc to attract a new buyer or retain customer 
  • Product/service research: searching/creating “the next big things”
  • Network development: routinely attend the communities meeting, actively participate in creating communities event, etc 

So, the BAU’s problem of freelance-ing (if you really want to be serious in it) is it really takes so much of your personal resource.

Kita ambil contoh freelance writer deh, ya:

  • Branding: bikin dan mengisi profesional blog. Tulisan yang sama bisa juga dirilis di facebook fan page. Bikin Instagram, tiap link konten baru diposting di sana. Menulis buku sendiri supaya dipajang di toko buku, dll
  • Promotion: bikin penawaran harga diskon untuk calon pemberi kerja yang baru, kalau perlu kasih contoh gratis, dll
  • Product research: cari topik baru yang lagi tren: misalnya, parenting, islam, komedi satir para jomblo, kuliner, wisata, dll
  • Network development: cari referensi brand yang suka bikin product review, ikutan komunitas blogger, dst

So, If you just wanna operate with limit resource, then it may not getting any bigger.

Mau besar? Harus bangun tim, menetapkan business process, berbagi fungsi, harus sedia uang kontan dulu di depan (dari pinjaman atau investor), bikin dan mengejar target, dst.

Tentang Harga

Perspektif lain adalah soal harga.

Harga mulai bisa menyenangkan, kalau kinerja kamu sudah bagus. Syarat performance dan service yang setidaknya good, bisa dilihat dari portfolio dan jam terbang. Itulah persoalan dengan situs-situs semacam freelancer, upwork, dll. Pasar freelance seperti itu terlalu banyak dimasuki oleh para pemain baru.

You know, pemain baru selalu masuk dengan harga rendah supaya bisa dapat pekerjaan. Sementara, kualitas pekerjaannya sendiri masih di tahap belajar. Jadinya, pemberi kerja juga belum mau membayar tinggi. Mengapa demikian? Pemberi kerja juga berpikir, daripada saya bayar lebih mahal, lebih baik saya kerjakan sendiri saja. Kalau cost-nya masih terjangkau, tidak apa saya outsource. Klop sudah, penyedia jasanya ya begitu, jadinya yang meminta jasa juga begitu.

Itulah yang menjadi dasar lahirnya pertanyaan sekaligus judul di atas. Dalam perspektif freelancer, untuk apa saya ngoyo mengerjakan proyek kalau angkanya cuma segitu (karena mengikuti harga pasar yang banyak diterjuni oleh pemain baru berharga murah)? Pun saya memberikan lebih baik, belum tentu pemberi kerja mau menaikkan tawarannya.

Ini adalah pikiran dari pekarya (meminjam istilah Pandji) yang percaya diri dengan kualitas karyanya.

Beberapa teman di komunitas blogger, yang mostly perempuan itu, cukup sering menyebutkan diri mereka sebagai freelance. Saya menduga-duga, freelance-ing satu ini adalah aktivitas lain mereka selain peran utama sebagai Ibu Rumah Tangga. Saya tidak sedang mendiskreditkan IRT ya. I mean, mungkin belum mengambil waktu se-massive pekerjaan kantor yang 40 jam seminggu. Actually, pekerjaan rumah tangga itu lebih menyita waktu, tenaga, dan pikiran. Cukup stressful, pula.

Sebagai istri dan Ibu Rumah Tangga, saya rasa mereka masih ada Suami yang menjadi tulang punggung ekonomi dan keluarga. Jadi aktivitas mencari dana adalah aktivitas sekunder yang bervariasinya pendapatan (antara banyak dan banyak sekali, hehe) belum mendatangkan masalah. Sebab, ada suami yang memiliki pekerjaan (dan gaji) tetap.

Beda banget kalau suami dan/atau istri, sama-sama hidup dari menyediakan jasa yang sifatnya freelance. Pastinya bukan hal yang mudah hidup dengan ketidakpastian pekerjaan (dan penghasilan). Bagaimana dengan saya sendiri?

Saya lebih memilih punya pekerjaan tetap dan menolak proyek kalau harganya tidak memuaskan bagi saya. Saya punya metodologi dalam bekerja, serta standard tertentu yang harus saya capai. Atas keduanya, saya tidak ingin memberi sembarang price tag.

Dari teman-teman pembaca, mungkin ada pendapat? Ditunggu komentarnya di bawah ya 🙂

Berapa fee untuk freelancer?

Pekerjaan freelance itu dilakukan oleh individu, bukan institusi. Namanya juga pekerja lepas ya. Selain individu, bisa juga mengajak sekelompok orang untuk menjadi freelancer pada suatu pekerjaan.

Intinya adalah sebuah pekerjaan dilakukan oleh pihak eksternal yang bukan merupakan institusi. Ikatan kerjasamanya pun bukan ikatan antara dua organisasi berbadan hukum. Sehingga perlakuan pajak di antara keduanya pun berbeda.

freelance bisa dari rumah
freelance bisa dari rumah

For some reason, orang-orang ini tidak diperlukan untuk memiliki visi, misi, dan nilai-nilai organisasi yang sama dengan people inside the organization. Alasan lain terkait pekerjaan lepas ini misalnya, pekerjaan ini tidak selalu ada. Sehingga tidak diperlukan orang khusus untuk mengisi posisi tertentu dengan job description yang spesifik pula.

Atau misalnya, sudah menjadi strategi perusahaan dalam menekan biaya gaji. Jadi untuk pekerjaan tertentu, mereka punya kebiasaan untuk meng-outsource pada pada freelancer. Padahal pekerjaan tersebut selalu ada di setiap waktu. Dengan demikian biaya gaji dan biaya lain-lain jadi tidak banyak.

Namun yang sering menjadi pertanyaan adalah, berapa fee yang layak saya (selaku pemberi pekerjaan) bayarkan? Atau sebaliknya, berapa fee yang pantas saya (selaku freelancer) ajukan? Urusan finansial ini kadang-kadang sering menjadi rumit.

Mungkin sebagian di antara pembaca blog ini pernah merasakan kegalauan serupa.

Freelancer pasang di harga tinggi, takut merusak relationship yang ada. Kalau belum kenal mungkin tidak masalah. Tapi kalau sudah langganan, pelanggan pasti bilang, “lha dulu ‘kan sekian aja, kok sekarang dinaikkan lagi?”.

Kalau sudah begini, freelancer tidak enak untuk tidak membantu.

Freelancer pasang di harga rendah? Takutnya lingkup pekerjaan berbeda dari bayangan. Sehingga potensi kerugian terbayang di depan mata. Kecuali sudah pernah melakukan yang sama persis. Kalau baru belajar kerja freelance, pasang harga rendah bisa ditujukan untuk membangun portfolio.

Pasang harga (lebih) rendah daripada sebagian besar freelancer lain berarti entry strategy dalam membangun hubungan bisnis dengan (calon) klien yang bersangkutan. Kalau sekali ini sudah berhasil, mudah-mudahan hubungan bisnisnya bisa berlanjut di waktu lain.

Kita coba telusuri dan analisis satu demi satu pilihan-pilihan yang tersedia. Yaitu bisa (1) berdasar waktu yang diperlukan, atau (2) berdasar target pekerjaan yang dibutuhkan oleh pemberi pekerjaan, dan atau kombinasi keduanya.

  • Dihitung berdasar waktu yang diperlukan

Basisnya adalah pengalaman. Jam terbang pastinya menentukan kualitas. Makin berpengalaman ya makin berkualitas dong. Makin berpengalaman maka freelancer dapat memasang harga yang lebih tinggi dibanding sebelumnya.

Tapi ya itu hak dia kalau dia tidak mau.

Pengalaman pekerjaan freelancer juga dipengaruhi oleh jenis klien dalam portfolio yang dia punya. Pernah memegang klien-klien yang rumit, berarti dia bisa menyelesaikan persoalan yang kompleks.

Kalau portfolio-nya adalah klien-klien yang tidak menghendaki spesifikasi yang susah, nilai rupiah per waktunya jadi berbeda.

Faktor penentu lain adalah berapa lama karya tersebut bisa diselesaikan oleh sang freelancer. Makin berpengalaman maka makin singkat waktu yang diperlukan kala menyelesaikan serangkaian proses pekerjaan.

Jadi memang lama pekerjaan ini sangat ditentukan oleh pengalaman pekerjaan si freelancer.

  • Dihitung berdasar target pekerjaan yang harus diselesaikan.

Kalau yang ini sedikit tidak memandang deadline. Kira-kira, si klien akan bilang seperti ini, “pekerjaannya seperti ini, spesifikasi seperti ini yang harus anda penuhi, fee yang saya tawarkan adalah sekian”.

Pastinya tetap ada kapan pekerjaan harus sudah selesai. Meski demikian, hal tersebut agak diabaikan. Semata kar=ena klien memprioritaskan kualitas pekerjaan yang dia inginkan.

Di sisi lain, ini bisa blunder bagi freelancer. Sebab ketika kualitas pekerjaan sesuai spesifikasi tidak kunjung tercapai, maka dia akan menghabiskan banyak waktu dengan klien tersebut untuk memperbaiki pekerjaan.

Atau kemungkinan lain, pembayaran pekerjaan menjadi telat. Biasanya karena klien emosi jiwa sedikit. Karena hasil kerja belum sesuai harapan tapi sudah minta pembayaran.

  • Kombinasi keduanya.

Target spesifikasi jelas. Deadline jelas. Mungkin freelancer akan sedikit keberatan dalam hal ini. namanya juga freelance, ‘kan? Dia harus membagi-bagi waktu untuk beberapa pekerjaan freelance yang dia ambil.

Karena freelance tidak setia dengan sebuah institusi pemberi kerja. Kalau setia itu sama dengan menjadi karyawan di sana. Kalau demikian, sekalian saja minta asuransi, COP, reimbursement, dll, hehe 😀

For some freelancer, mengalihkan konsentrasi dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain tidak lah semudah membalik telapak tangan. Kecepatan adaptasi tiap reelancer berbeda-beda. Ada unsur mood yang harus beralih, ada ingatan/dokumentasi terdahulu yang harus dipulihkan sesaat sebelum mulai bekerja lagi.

Sebagai penutup, mari ingat kembali bahwa freelancer itu bukan karyawan tetap. Jadi mestinya dia tidak menerima hak-hak para karyawan tetap. Semisal asuransi, reimbursement, dan lain-lain yang menjadi ketentuan di institusi tersebut. Ada proses rekrutmen, seleksi, training, dan sebagainya yang membedakan karyawan tetap dengan para freelancer. Freelance is project-based work. Freelancer hanya dibayar atas apa-apa yang dia kerjakan. Perhitungan bisa berdasar (1) lama pekerjaan, atau (2) target pekerjaan, atau (3) kombinasi keduanya.