Sales Motoris Freelance

Teman-teman pembaca pasti sering melihat seseorang yang mengendarai motor, di belakangnya ada saddle bag kanan dan kiri, entah apa itu isinya yang pasti ia menjual barang ke warung warung itulah sales motoris secara freelance. bagaimana sih cara kerjanya? terus keuntungan-nya berapa kok mau rela berpanas-panasan di jalan bahkan kadang kehujanan.

Sales motoris freelance.

Singkatnya, sales motoris adalah tenaga penjual yang tugasnya mengkaver outlet-outlet kecil, warung-warung pengecer dan sejenisnya.

Nah, bekerjanya bisa di perusahaan distributor, bisa juga bekerja sendiri sebagai freelance (lepas dari perusahaan). Sebagaimana macam-macam tulisan saya soal freelance, kita fokuskan pembahasan hanya di ke-tenagalepas-annya saja ya.

Motoris Freelance

Secara penampilan umum, biasanya sales motoris bakal membawa barang pada bagian belakang jok motor. Mereka mengangkut banyak barang menggunakan saddle bag. Itu lho kantong yang berada di bagian samping kiri-kanan jok motor.

sales motoris freelance
ilustrasi sales motoris freelance yang membawa banyak barang di samping dan belakang sepeda motornya.

Sebagaimana pekerjaan atau usaha freelance pada umumnya, ada fleksibilitas waktu yang didapatkan bagi pelakunya karena tidak ada aturan jam kerja dari perusahaan.

Sistem Kerja Sales Motoris Freelance

Cari harga beli yang paling murah untuk dijual kembali, sistem keuntungan-nya diambil dari selisih harga pasar dan grosir kalau harga pasarannya 1 pack Rp10.000; biasanya dari grosir itu Rp9000; nah yang Rp1000; ini adalah keuntungan sales motoris yang berhasil di jual ke warung untuk dijual secara eceran.

Mungkin teman-teman bertanya, Lalu warung untungnya berapa? hmm… begini;

  • 1 Pack itu isinya 24 bungkus
  • 1 bungkus dijual kepada konsumen Rp500;
  • Jadi Rp500; x 24 = Rp12.000;
  • Dengan harga beli Rp10.000; tadi maka warung akan mendaptkan untung Rp2.000; hmm.. sedikit ya untungnya? iya memang tapi kali berapa bungkus, kalau dia sanggup menjual berbungkus-bungkus tinggal mengalikan saja.

Modal Kerja Sales Motoris Freelance

  • Sepeda motor + bensin
  • Tas atau Saddle bag kanan kiri
  • Modal awal untuk belanja sekitar Rp300.000 – Rp1000.000; jika sudah berkembang bisa ditingkatkan

Risiko Kerja & Kerugian

Setiap pekerjaan memang ada risikonya, entah itu risiko di jalan ataupun kemungkinan megalami kerugian. Sales motoris harus siap dengan cuaca panas dan hujan, kalau hujan sebaiknya istirahat saja, pastikan hati hati di jalan karena kalau nggak ditabrak orang kadang kita yang menabrak.

  • Untuk risiko kerugian jika yang dijual adalah makanan pasti ada masa kadalursanya, maka usahakan terjual secara langsung karena nanti masih dijual secara eceran oleh warung. Pastikan jangan sampai dagangan anda jatuh di jalan, rata rata para sales motoris pernah kehilangan barang ketika di jalan karena muatan penuh.
  • Risiko modal uang tertahan dalam bentuk barang. Ketika yang dijual adalah produk slow-moving (lambat laku).
  • Harus siap mental. Karena akan banyak penolakan oleh warung dan toko. Tidak perlu malu ketika ditolak. Karena kita pun maklum kalau toko masih lengkap barangnya sehingga tidak mungkin beli barang baru. Segera saja berpindah ke warung yang lain.

Jika modal teman-teman kuat bolehlah menyimpan barang 1 – 3 hari di warung itu, nanti sambil mengambil uang, teman-teman masuk-kan barang lagi dan begitu seterusnya, ingat hanya warung yang dipercaya saja dan ramai pengunjungnya.

Ini cocok sekali jika anda terapkan di kantin sekolahan atau pesantren karena tidak sampai 2 hari barang sudah habis, sehingga perputarannya cepat.

Itulah cara kerja, sistem keuntungan yang didapat, modal kerja dan risiko kerja sebagai seorang sales motoris secara freelance. Yang pastinya kerjanya tidak terikat oleh waktu dan atasan, teman-teman pembaca bisa atur sendiri waktunya.

Kalau sudah punya langganan, bekerja dalam sehari bisa jadi hanya 4-5 jam saja. Tidak perlu 8-9 jam seperti di perusahaan.

Tantangan Motoris Freelance

Masalahnya tidak semua freelance mampu bertahan. Banyak juga freelance (khususnya motoris) yang akhirnya putus asa, gagal, dan berhenti dari profesinya sebagai motoris freelance.

Kenapa bisa begitu?

Penghasilan yang lumayan dari pekerjaan motoris tentu tidak datang dengan sendirinya.

Datangnya jelas dari kerja keras, pengalaman dan pengetahuan.

Berikut ini adalah tips dan trick dalam perencanaan dan pemilihan kategori produk yang sebaiknya dijual oleh sales motoris freelance. Sebenarnya, tips dan trick berlaku tidak hanya ke motoris saja tetapi juga canvasser roda 4 yang membawa barang.

Memilih Produk untuk Usaha Motoris Freelance

Dari sekian banyak produk yang beredar, tidak semuanya berpotensi untuk mendatangkan keuntungan yang bagus bagi sales freelance. Sebelum memulai, teman-teman harus tahu dulu apa saja produk yang akan dijual. Sebab menjadi sales bukan hanya soal jual tampang, tetapi soal produk yang dijual dan layanan (service) yang diberikan.

Berikut ini adalah beberapa jenis produk yang bagus untuk dijual lewat jalur sales motoris freelance.

Sandal / Sepatu / Pakaian Produk Home Industry

Potensi Keuntungan

Produk semacam ini memiliki potensi keuntungan 100% bahkan lebih. Potensi itu timbul karena barang-barang home industry jarang beredar melalui supermarket atau toko fashion.

Dengan jarangnya peredaran melalui pasar modern, maka kita jadi lebih leluasa untuk menentukan sendiri harga jualnya. Konsumen kita tidak akan tahu berapa harga modal kita sebenarnya.

Kalau kita mengincar pasar (alias lingkungan rumah tangga) yang tidak dikunjungi oleh sales motoris seperti kita, maka ke-tidaktahu-an konsumen akan produk home industry tersebut memudahkan kita untuk menentukan harga jual yang enak dan nyaman untuk kita.

Tentu saja harus memantau terus kisaran harga jual dari produk sejenis atau produk substitusinya.

Cara Memasarkan Produk Home Industry

Produk semacam ini termasuk dalam golongan slow moving product, yaitu barang-barang yang lambat terjual. Tidak seperti produk makanan dan barang-barang kebutuhan sehari-hari yang harus terjual cepat karena cepat pula rusaknya.

Artinya untuk dapat mengolah pemasaran produk-produk seperti itu, teman-teman pembaca setidaknya harus punya 600 outlet langganan.

Dari mana asalnya? Yaitu 25 outlet perhari dengan asumsi 6 hari kerja setiap minggunya.

Artinya, tiap-tiap outlet kita kunjungi 4 minggu sekali atau kurang lebih sebulan sekali.

Kenapa harus seperti itu? Karena produk-produk seperti ini bukanlah barang konsumsi sehari-hari sehingga membutuhkan waktu lama (ya itu tadi, sekitar 4 pekan sekali) untuk terjual.

Alat Tulis Kantor (ATK) dan Alat-alat Listrik

ATK dan alat-alat listrik juga memiliki potensi keuntungan tinggi. Tapi seperti pula produk home industry, ATK dan alat listrik juga membutuhkan banyak rute dan outlet langganan.

Hal lain yang juga harus teman-teman perhatikan adalah jangan memilih produk-produk branded alias merk terkenal. Karena untuk merk terkenal, potensi keuntungannya justru malah tipis.

Barang yang punya potensi keuntungan tinggi adalah merk non-branded alias produk-produk yang tidak populer.

Contohnya:

  • Lampu motion
  • Lampu RDY
  • Baterai Dynamax
  • Korek gas M2000

Dan lain-lain.

Jajanan Anak

Misalnya permen, cokelat, wafer dan lain-lain. Berdasarkan jenisnya, produk-produk jajanan seperti inilah yang paling cepat terjual karena mereka merupakan barang konsumsi sehari-hari.

Untuk menjual produk-produk konsumsi seperti ini, teman-teman hanya membutuhkan 6 rute dengan 25-30 outlet kunjungan per hari. Artinya, kunjungan ke outlet langganan dilakukan cukup seminggu sekali.

Tapi ini bukan berarti mudah dan lancar begitu saja ya. Setiap kategori produk, pasti ada saja kendala dan tantangannya.

Memasarkan Produk non-Branded

Tantangan tertinggi dari menjual produk-produk ini adalah ketatnya persaingan dengan produk-produk branded. Namanya produk sudah dikenali oleh pelanggan, maka tugas kita menjadi ganda untuk memperkenalkan produk tersebut ke outlet-outlet.

Selain bersaing dengan produk branded, teman-teman juga akan bersaing dengan sesama sales motoris freelance yang menjual produk sejenis.

Tapi teman-teman tidak perlu gentar. Percayalah pada dua hal:

  1. Bahwa rezeki setiap orang tidak akan tertukar
  2. Bahwa akan banyak outlet yang berbeda antara kita dan pesaing sesama sales motoris

Yup. Asal kita mau berusaha, Tuhan kita pasti akan memberikan jalan. Meskipun kita bersaing dengan sesama motoris freelance, tapi percayalah bahwa akan lebih banyak outlet yang berbeda ketimbang outlet yang sama antara kita dengan sales motoris lain yang produknya serupa meskipun dalam satu rute yang sama, lho.

Kembali lagi ke perkara produk. Bagian dari ikhtiar adalah mengoptimasi kombinasi produk apa yang paling tepat untuk menjadi ‘portfolio’ teman-teman.

Kombinasi Produk

Kombinasikan antara produk yang fast-moving (cepat laku) dengan produk bermarjin tebal. Perhatikan juga mana saja kategori yang tidak dijual oleh kompetitor sales motoris teman-teman.

Contoh komposisinya sebagai berikut.

  • Jajanan sekira 60% dari total nilai barang yang saya bawa
  • Alat tulis kantor dan lain-lain (termasuk pulpen, buku, tissue, peniti, korek gas) sebanyak kira-kira 25% dari total nilai barang yang saya bawa
  • Alat-alat listrik (lampu LED, bohlam, neon, baterai remote dan lain-lain) sekira senilai 15% dari total barang

Komposisi produk seperti itulah yang bisa menjadi patokan bagi teman-teman.

Tips Menjadi Sales Motoris yang Handal

Tentukan Rute yang Tepat

Bagi motoris freelance, menentukan rute yang bagus adalah wajib. Biasanya perusahaan sudah menentukan area kanvas motoris. Tapi ada kondisi kedua, yaitu pengembangan wilayah.

Berikut ini rute terbaik bagi motoris.

Gang sempit dan jalanan rusak

Salesman canvas mobil dan Taking Order (TO) tidak bisa mengkaver area dengan jalanan sempit atau rusak. Maka sales motoris yang harus mengkavernya.

Pegunungan atau wilayah yang jauh dari pasar dan toko grosir

Pada wilayah seperti itu, pemilik warung selalu menantikan kehadiran motoris. Karena sulitnya akses dan mahalnya ongkos jika mereka harus belanja ke pasar atau toko grosir terdekat.

Cover Hanya Outlet Kecil Saja

Karena pada umumnya, perusahaan menetapkan harga jual produk motoris lebih mahal dari harga jual salesman TO.

Tujuan perusahaan mengadakan armada motoris adalah untuk distribusi produk-produk baru. Jadi, pengenalan harganya pun dengan harga semi-retail.

Aktif Menawarkan Produk, tapi Sopan dan Tidak Memaksa

Kalau memaksa, malah hubungan salesman dengan pemilik outlet akan memburuk. Penjualan malah bertambah sulit.

Tepat Memilih Hari dan Konsisten pada Hari Kunjungan

Memilih hari kunjungan harus kalian lakukan dengan tepat pada awal kalian masuk ke rute tersebut.

Contohnya begini. Teman-teman sudah menentukan rute A untuk hari Senin. Tapi ternyata hari Senin rute A padat salesman dari produk lain, maka sebaiknya kalian ganti hari kunjungan.

Berangkat Lebih Awal

Kenali kapan outlet punya uang untuk membayar. Apakah setelah hari agak siang (karena pagi belum ada yang belanja). Atau justru outlet sudah menyiapkan modal untuk belanja di pagi hari.

Mengajak Bercanda Pemilik Warung

Bercanda bagian dari membangung hubungan, namun bercanda juga tetap ada batasannya. Tidak semua pemilik warung suka bercanda.

Untuk pemilik warung yang suka bercanda, tentu candaan kita akan menambah keakraban.

Perbanyak Kunjungan

Kunjungi minimal 25 outlet, lebih bagus 30 outlet perhari. Jangan pulang sebelum tercapai 30 kunjungan.

Ingat! Aktif menawarkan tapi tidak memaksa. Cari warung sebanyak-banyaknya. Cara itu lebih baik daripada memaksa.

Jangan Milih-milih Pelanggan

Secara tidak sadar, kadang kita bersikap meremehkan outlet-outlet yang biasanya hanya membeli dalam nominal kecil.

Kecil memang. Tapi kalau ada 10 warung seperti itu? Berarti jadi besar jumlahnya.

Eliminasi Outlet yang Benar-benar Tidak Aktif

Katanya tidak boleh milih-milih pelanggan, tapi harus mengeliminir outlet lainnya?

Walaupun kita tidak boleh mengabaikan outlet-outlet kecil, tapi kita tetap harus selektif.

Ketika ada outlet yang sebelumnya pernah bertransaksi dengan kita, tapi pada 4 kali kunjungan berikutnya tidak pernah terjadi transaksi sama sekali, itu artinya outlet tersebut tidak aktif.

Jika outlet semacam ini tetap kita pertahankan, maka kita telah membuang banyak waktu.

Solusi untuk outlet yang seperti itu adalah menghapusnya dari daftar kunjungan.

Tapi ingat! Cari outlet pengganti yang lebih baik. Jangan berhenti mencari sebelum kalian mendapatkan gantinya.

Jalin Hubungan Baik dengan Salesman Produk Lain

Pada aktifitas kita sebagai motoris, di lapangan pasti kita akan bertemu salesman lain dari berbagai perusahaan. Ajaklah komunikasi mereka, karena dari mereka kita bisa sharing berbagai hal bermanfaat, misalnya:

Rute canvas yang bagus

Biasanya yang lokasinya agak menjorok ke dalam dari jalan umum.

Info produk baru yang dijual oleh salesman tersebut

Informasi seperti ini sangat berguna bagi teman-teman yang statusnya freelance, karena produk baru seperti itu berpotensi menghasilkan keuntungan yang “lumayan.”

Tentukan Langkah Selanjutnya

Poin ke-11 ini bukan tips menjadi sales motoris yang handal, tapi lanjutannya. Jika kalian telah berhasil menjalankan hal-hal di atas, tibalah saatnya kalian mengambil kesimpulan dan menentukan keputusan yang akan kalian ambil.

Ada 3 pilihan yang bisa kalian pilih:

Tetap bekerja di perusahaan tempat kalian bekerja sekarang

Jika pilihan ini yang kalian ambil, maka teruslah tingkatkan prestasi kalian. Lakukan riset langkah-langkah yang dapat lebih meningkatkan prestasi kalian di perusahaan.

Tetap sabar dan jangan patah semangat jika kalian belum mendapat promosi jabatan.

Yakinlah bahwa kerja keras kalian tidak akan sia-sia. Ingat juga! Semakin tinggi jabatan kalian, maka semakin besar pula tanggung jawab dan tekanannya.

Resign (keluar) dari perusahaan dan mulai merintis usaha sendiri

Sekecil apapun usaha kalian, kalian adalah boss. Sebaliknya, setinggi apapun jabatan kalian di perusahaan milik orang lain, kalian tetaplah karyawan.

Manfaatkan waktu kita kerja pada perusahaan lain untuk menimba ilmu dan menabung modal usaha.

Pindah Kerja

Jika kalian belum mampu untuk menjalankan dua hal di atas, maka kalian punya pilihan ketiga, yaitu pindah kerja.

Tapi ada hal yang harus kalian perhatikan, yaitu:

  • Pindah ke perusahaan lain jika kalian yakin akan lebih maju di tempat baru
  • Jangan keluar dari perusahaan jika alasannya adalah karena tekanan yang terlalu tinggi

Justru dengan tekanan yang tinggi itulah kita ditempa untuk menjadi pribadi yang hebat! Ingat juga bahwa akan selalu ada tekanan di setiap perusahaan.

  • Jangan keluar kerja sebelum mendapatkan pekerjaan baru

Daftar Pekerjaan Part-Time untuk Mahasiswa

Dalam artikel ini saya menganalisis pros dan cons dari beberapa jenis part time mahasiswa. Pilih part time yang paling cocok dengan kamu.

Part Time Mahasiswa.

Mengapa Ambil Pekerjaan Part Time?

Ada banyak alasan ya bagi mahasiswa untuk menambah uang jajan.

Pertama, pastinya karena gak semua dari kita punya priviledge sebagai anak dari crazy rich.

Kedua, kalau kita tidak tinggal bersama orang tua atau keluarga besar, maka pastinya kita akan nge-kost, ‘kan. Tempat tinggal ada biayanya, makan pun ada biaya (karena tidak menumpang di rumah orang tua atau keluarga besar).

Ketiga, uang bulanan yang dikirim orang tua pastinya terbatas ya. Sudah ditakar oleh beliau berdua itu lah. Cukup untuk internet, buku, dan modal belajar yang lainnya.

Tidak heran, sebagian di antara kita sebagai mahasiswa butuh uang tambahan. Baik untuk kebutuhan utama di tanah rantau (kost, makan, transport, dll) maupun sebagai tambahan uang jajan demi mengikuti gaya hidup mahasiswa kebanyakan.

Part time mahasiswa di depan laptop memang paling tidak melelahkan secara fisik. Namun, ada kontranya juga.

Jenis-Jenis Pekerjaan Part Time Mahasiswa

Berikut ini adalah beberapa pekerjaan part-time (paruh waktu) yang cocok untuk mahasiswa:

(Oiya, saya tuliskan juga analisis pros dan cons-nya ya. Biar sesuai dengan keadaan kamu sebagai mahasiswa.)

Part Time Mahasiswa: Guru Les/Bimbel

Pros: Mudah dapat murid kalau kamu adalah mahasiswa/alumni dari kampus ternama di kota tersebut.

Cons: Karena jemput bola paling bagus, maka terasa “rugi” kalau tempat tinggal murid jauh dari kost kamu.

Penulis Lepas alias freelance writer

Pros: Modal laptop (doank) dan gak perlu keluar kamar. Sesekali keluar ketemu klien.

Cons: Harus belajar terus. Baik secara konten maupun metode writing-nya. Karena beda medium kan beda juga metodenya. Dan kalau menulis di website, SEO tuh berkembang terus.

BACA JUGA: Content Writer, Content Strategist, Copy Writer, UX Writer.

Designer

Pros: Modal laptop (doank) dan gak perlu keluar kamar. Sesekali keluar ketemu klien.

Cons: Semua orang “bisa” design sekarang. Berkat app Canva. Pakai app yang lebih advanced seperti Adobe Illustrator (bayaran bisa lebih mahal) belum tentu rame klien juga.

Illustrator

Pros: Modal laptop (doank) dan gak perlu keluar kamar. Sesekali keluar ketemu klien.

Cons: Butuh bakat atau punya selera (taste) desain. Soal selera ini sama dengan designer, sih.

Translator

Pros: Modal laptop (doank) dan gak perlu keluar kamar. Sesekali keluar ketemu klien.

Cons: Musuhmu adalah mesin penerjemah seperti Google Translate. Kuncinya harus bisa bikin hasil terjemahan yang enak dibaca. Jadinya ya harus bisa menulis juga.

Barista

Pros: Kalau punya keahlian atau sertifikasi, tentu lebih mudah dapat kerjaan.

Cons: Lebih mirip jadi karyawan daripada pengusaha. Ada jam kerja yang cenderung gak bisa diatur. Kecuali bisa tukar shift dengan rekan kerja.

Coffee Shop juga menjamur. Sangat mungkin tutup dalam 6 bulan sejak dibuka. Belum lagi tutup karena persaingan. Padahal pengunjung mungkin hanya 1-2 kali ke kafe yang sama.

Fotografer/Videographer

Pros: Pemainnya relatif lebih sedikit dibanding part-timer lainnya.

Cons: Jelas harus dikerjakan di luar kost. Kudu modal kamera.

Waiter

Pros: Pendapatannya jelas. Habis bulan dapat gaji. Kalau ramai, mungkin dikasih bonus.

Cons: Mirip Barista, tapi lebih buruk.

Video Editor

Pros: Modal laptop (doank) dan gak perlu keluar kamar. Sesekali keluar ketemu klien.

Cons: Butuh bakat atau pengalaman. Potong-memotong video yang baik, berikan bridge antar pergantian konteks, dll.

Web Developer

Pros: Modal laptop (doank) dan gak perlu keluar kamar. Sesekali keluar ketemu klien.

Cons: Ada jenis language, framework, atau CMS yang populer digunakan sehingga kompetisinya ketat. Yang kurang populer bisa jadi bayarannya mahal tetapi pasarnya juga kecil. Serupa dengan designer, kira-kira.

Socmed Admin

Pros: Cukup dengan smartphone. Advanced sedikit pake laptop. Tidak perlu keluar kamar. Sesekali keluar ketemu klien.

Cons: Ini demand-nya tinggi, tapi supply-nya lebih besar lagi. Jadi, pasarnya agak ketat. Kalau skill-nya average, portfolio-nya average, dapatnya juga average.

Ojek Online

Pros: Konsumen sudah dicarikan oleh perusahaan aplikasi. Waktu kerja bisa menyesuaikan.

Cons: Butuh modal, yaitu mobil atau motor. Ada target jumlah trip minimal untuk dapat bonus (karena baru worth it dikerjakan sampai dengan dapat bonus).

SPG/SPB

Pros: Tinggal bawa badan saja. Bayaran lumayan.

Cons: Waktu gak bisa diatur sesuka kita. Biasanya good looking jadi syarat.

Kesimpulan Part Time Mahasiswa

Pilih pekerjaan part time mahasiswa yang cocok dengan keadaan kamu. Baik kesediaan dan fleksibilitas waktunya, kemampuan kamu untuk men-deliver pekerjaan, apakah ada skill yang berkembang dari menekuni pekerjaan part time tersebut, dan seterusnya.

LIHAT JUGA: Situs Freelance Mahasiswa.

Freelance Kurir

Kurir adalah salah satu pekerjaan yang bisa dikerjakan secara paruh waktu (part time) atau lepas (freelance).

Disclaimer: Tulisan ini adalah bagian dari rangkaian tulisan saya seputar freelance. Tulisan lainnya bisa dibaca di categories: freelance. Buku ‘Freelance 101‘ juga bisa dipesan lewat direct Message (DM) ke saya.

Saat ini industri jasa pengiriman kita berkembang pesat. Khususnya pengiriman ritel yang ke rumah-rumah. Sebagian kecil di antara para perusahaan yang bermain di jasa pengiriman ini adalah JNE, Shopee (iya, sekarang Shopee memiliki jasa kurir tersendiri), J&T, AnterAja, Ninja Express, dan lain sebagainya.

Tidak heran, kebutuhan akan tenaga kerja kurir ikut meningkat pesat. Di sisi lain, suplai tenaga kerja untuk menjadi kurir sudah lebih dulu melimpah.

Namun, permintaan tenaga kerja tersebut belum diikuti dengan kapasitas perusahaan untuk membayar kewajiban-kewajiban lain semisal BPJS Kesehatan, BPJS Ketenagakerjaan, dan lain-lain.

Akibatnya, muncul mekanisme baru dalam pemberdayaan (employment) tenaga kerja kurir, yaitu freelance kurir dan kurir part time.

Freelance Kurir

Jadi tenaga lepas (freelance) ini bertugas mengirimkan barang dari gudang perusahaan jasa pengiriman menuju rumah konsumen. Hanya saja employment-nya bersifat kontrak untuk jangka waktu tertentu maupun jumlah pekerjaan tertentu.

Kontraknya ini mungkin agak mirip dengan mekanisme PKWT (Perjanjian Kerja Waktu Tertentu) ya.

Sebagai insight, ada periode-periode semisal Ramadhan dan Lebaran yang barang kiriman sangat membludak, sehingga diperlukan tenaga lepas untuk bekerja pada minggu-minggu tersebut.

Kurir Part Time

Sementara, kurir paruh waktu (part time) hanya bekerja pada sebagian dari waktu penuh (full time) saja. Waktu yang tersedia, bisa jadi hari sabtu-minggu, maupun malam hari di hari-hari kerja (Senin-Jumat).

Bisa dikatakan, baik freelance maupun part-time, sebenarnya dikaryakan dengan kontrak yang sama, yaitu PKWT.

Cara Menjadi Kurir Freelance

Tentu saja melamar ke perusahaan jasa pengiriman yang membutuhkan.

Persyaratan menjadi kurir, SETIDAKNYA adalah sebagai berikut:

  • Usia 18 – 50 tahun
  • Minimal Lulusan SMA atau sederajat
  • Mempunyai kendaraan motor pribadi
  • Mempunyai SIM C
  • Memiliki handphone
  • Bisa berkomunikasi dengan baik

Sangat mungkin, perusahaan juga meminta agar calon pelamar juga memiliki SIM A, agar secara berkala dapat mengemudikan mobil box bergantian dengan driver yang lain.

Wilayah yang Membutuhkan Tenaga Kurir Lepas

Ada tiga besar wilayah yang memiliki kepadatan pengiriman tertinggi: Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi), Gerbangkertosusilo (Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo, dan Lamongan), serta Bandung (Bandung, Bandung Barat, dan Kabupaten Bandung).

Di tiga wilayah tersebut, kebutuhan akan tenaga kurir sangat tinggi.

Gaji Freelance Kurir

Secara umum, total penghasilan masing-masing kurir bisa mencapai Rp 2.000.000 hingga Rp 3.000.000-an per bulannya. Dan angka ini relatif sama antara satu jasa pengiriman dengan jasa pengiriman lainnya. Apabila ingin mengetahui lebih dan kurangnya untuk standard hidup di suatu kota/kabupaten, bisa dibandingkan dengan UMK/UMR di mana agen jasa pengiriman tersebut berada.

Berbeda dengan freelance atau part-time, nilai pendapatan yang diperoleh tidak akan sebesar itu — karena sifatnya yang memang tidak dipekerjakan di waktu yang penuh (full-time).

Perhitungannya bisa jadi didasarkan pada jumlah paket yang dikirim setiap harinya. Dengan upah sebesar Rp1.800,- untuk Shopee Express per paket di Jakarta.

Bila mitra pengemudi bisa membawa paket sebanyak 80 paket sehari, maka bisa mendapatkan insentif rata-rata sebesar Rp 2.213 per paket. Sementara, menurut dia, rata-rata upah per paket di pasaran saat ini di kisaran Rp 1.700 hingg Rp 2.000 per paket untuk jasa logistik lain.

https://money.kompas.com/read/2021/04/14/063835326/besaran-gaji-kurir-shopee-express-2021-dan-cara-mendaftarnya?page=all

Tentu angka ini sifatnya bervariasi antar jasa pengiriman. Di daerah yang lebih sepi dan jarang penduduk, tentu angkanya berbeda lagi.

BACA JUGA:

Sudah Siapkah Kita Untuk Work From Home (WFH)?

Seiring dengan pandemi Covid-19, istilah WFH mengemuka dan trending. Ada tiga karakteristik WFH yang perlu kita pahami dan siasati.

Tanpa perlu saya beberkan fakta-faktanya, nyatanya negara kita Indonesia sedang menuju puncak pandemi Covid-19. Dalam pada itu, beberapa langkah (dan kampanye) pencegahan dilakukan. Di antaranya ada kampanye #dirumah aja. Lalu ada himbauan dari pemerintah (baik pusat maupun daerah) untuk melaksanakan social distancing (menjaga jarak dengan orang lain) serta Work From Home (WFH).

Sebenarnya setelah tahun 1998, profesi pengusaha sangat mendominasi. Dalam ukuran jumlah penduduk, besarannya kira-kira 60%-65%. Ini melingkupi semua skala usaha ya. Termasuk pedagang kaki lima (yang produksi dan berjualan seorang diri), sampai dengan freelancer seperti kamu. Iya, kamu.

Persoalan pertama dengan WFH adalah (tentu saja) tidak semua pekerjaan bisa dikerjakan di rumah. Ada aktifitas bisnis yang terkait dengan marketing and sales semisal menemui klien untuk presentasi (karena kirim company profile atau portfolio saja lewat email masih kurang), mengirimkan produk yang sudah dipesan, melakukan penagihan, dan lain sebagainya. Dan karena dominasi profesi pengusaha di negara kita, tentu saja aktifitas terkait dengan klien tidak bisa di-WFH-kan begitu saja.

Kedua, tidak semua orang atau rumah memiliki akses internet yang memadai untuk bekerja. Yang minimal sama baiknya dengan yang ada di kantor. Bukan hanya dari sisi kualitas dan kecepatan jaringan juga. Tetapi sampai ke kuota yang diberikan. Penulis tidak perlu banyak kuota. Saya sendiri kira-kira maksimal 1GB per hari. Tapi UI Designer mengirim sebuah image saja bisa 200 MB sendiri. Rekan BE developer pernah ada yang tethering sampai belasan GB hanya dalam sehari.

Ketiga, kita belum siap WFH ketika kita (baik pribadi maupun perusahaan) belum membiasakan WFH itu sendiri. Karena WFH sebenarnya bukan sekedar memindahkan kegiatan di kantor ke rumah. Namun, bagaimana membudayakan fleksibilitas (sebagai prinsip dasar WFH) itu sendiri berikut dengan turunan-turunannya.

Salah satu di antaranya yaitu focus to deliverable, instead of process. Iya, proses kerja penting. Tapi trust (rasa percaya) sudah harus ada dari perusahaan (yang diwakili oleh atasan langsung) lebih dulu. Sehingga bisa memprioritaskan deliverable dulu baru ke proses-nya. Omong-omong soal trust, masih banyak atasan, terutama di generasi X –yang sudah sangat senior dan berpengalaman di kantor—yang hanya percaya bahwa subordinatnya bekerja jika diawasi secara langsung oleh kedua matanya.

Sebagaimana semua pekerjaan dan lokasi kerja ada risikonya, maka risiko-risiko WFH harus diketahui, dipahami, kemudian dimitigasi. Risiko paling dasar dari WFH, menurut saya adalah produktifitasnya tidak persis sama. Sebab di rumah, ada distraksi yang tidak bisa diabaikan. Di artikel tirto ini, dibahas tentang hujan dan banjir yang sempat menunda pekerjaan. Masih di artikel yang sama, ketidakpahaman orang tua terhadap jenis-jenis pekerjaan zaman now turut meminta pemakluman kita sebagai pelaku WFH.

Contoh lain dari bukan sekedar memindahkan pekerjaan di kantor ke rumah (yang notabene luar kantor) adalah terkait jenis aplikasi yang digunakan. Kalau bekerja di kantor dengan internet, Ms PowerPoint dan Gmail sudah cukup, maka bekerja di luar kantor (salah satunya dari rumah) sudah sepatutnya menggunakan aplikasi yang concurrent collaboration yaitu Google Slides. Jadi, suatu deliverable tidak dikerjakan, diedit, dan dikirim berkali-kali. Tapi cukup “dikeroyok online” dalam suatu file.

Perihal aplikasi digital yang bisa memfasilitasi belajar dari rumah (yang dialami oleh guru berikut para siswanya) untuk kelas online. Berikut ini saya kutip pendapat seorang senior,

Kelihatannya kelas online tersebut kagetan. Staff sekolah nggak pernah diajari tentang itu. Seperti di sini, sekolahnya via whatsapp group dan heboh. Pengajar share materi via Google Drive langsung ke file pptx tapi gak bisa dibuka, gak ada suaranya, harus pakai ms powerpoint tapi ada yg gak punya softwarenya.

Mereka belum tahu ada aplikasi online learning untuk itu seperti moodle dan edmodo. Mereka adalah aplikasi platform, seperti tokopedia. Jadi orang tinggal buka lapaknya aja, input barang dll.

Edmodo juga, teacher tinggal buat akun, create class, invite emailnya students, upload file materi, upload quiz, buat pengumuman, etc

Okay, mari kita tuntaskan pembahasan ini dengan aplikasi-aplikasi apa saja yang bisa menunjang WFH: Google Drive (berikut turunannya seperti Google Docs, Google Sheet, dsb), Trello (untuk manajemen proyek bersama dengan anggota tim yang lain), Google Hangout (untuk berkomunikasi via chat maupun video call).

Zoom bisa untuk video konferensi, jadi bisa dipakai juga untuk kelas/kuliah online. Tapi berhubung saya pakai Hangout, jadi belum pernah pakai Zoom.

Di Indonesia, WhatsApp (WA) dipakai untuk komunikasi biasa dan komunikasi berbelanja. Tidak aneh ketika WA termasuk yang dipakai juga untuk komunikasi bisnis. Persoalan budaya dan keamanan dari WA adalah WA kurang aman karena teknologinya tidak mengenkripsi. Di sisi budaya, masih banyak yang mengirimkan dokumen-dokumen yang bersifat rahasia (dalam format PDF, XLS, dsb) via WA. Kalau ingin aman, lagi-lagi saya merekomendasikan kelompoknya Google.

Sekolah/Kuliah: Microsoft Team atau Google Classroom.  

Jenis-jenis Aplikasi WFH

Cara Menulis Proposal Proyek

Bikin proposal proyek itu gampang-gampang susah. Ada dua faktor yang harus diantisipasi: customisation factor dan customer intimacy factor yang perlu kita ukur dan nilai sebelum memutuskan mau mengejar proyek tersebut atau tidak.

Yang tidak saya bahas dalam artikel ini adalah proposal untuk mendatangkan investasi. Artikel ini juga tidak membahas rencana bisnis (business plan).

Alhamdulillah, selama 7 (tujuh) tahun berkarir, selalu kebagian yang namanya membuat proposal proyek. Saya coba tuangkan dalam post ini, bukan berarti saya dan tim selalu sukses memenangkan proyek. Setidaknya, saya bisa berbagi di mana saja “lubang-lubang” yang harus diwaspadai. Meskipun, setelah semua ranjau-ranjau darat berhasil dihindari dan kita sampai di tujuan (baca: semua usaha sudah dilakukan), mungkin saja proyek tersebut bukan rejeki kita. Hehe.

Namanya takdir kan gak bisa dilawan, ya. Kita fokus saja dengan apa yang berada dalam kendali kita.

Ok, kita mulai. Premis awalnya adalah proposal yang mendatangkan bisnis itu gampang-gampang susah.

Gampang karena, ada saja contoh proposal yang bisa ditiru. Dan semakin kita bergelut di suatu bidang produk atau jasa, maka wujudnya proposal akan semakin begitu-gitu saja. Misalnya, proyek kontraktor bangunan, struktur proposalnya cenderung kaku. Atau proyek sistem informasi. Isinya kurang lebih akan sama dari waktu ke waktu.

Namun demikian, proposal yang menjual tidak mudah juga. Namanya proyek ya, cenderung customized ‘kan. Alias, proyek yang satu tidak benar-benar sama dengan proyek-proyek sebelumnya. Ada saja spesifikasi produk yang tidak sama, menyebabkan harga yang ditawarkan menjadi berbeda. Atau produk yang persis sama, namun karena calon klien yang meminta ternyata berbeda industri dengan yang sebelumnya, maka produk dan harganya menjadi tidak sama lagi.

Singkat cerita, di awal penyusunan proposal proyek akan terasa gampang. Mendekati deadline penyerahan proposal, semakin terasa kesulitan dalam detil-detil yang perlu kita konfirmasikan kembali ke calon klien, atau harus kita pikirkan masak-masak. Baik spesifikasi maupun harga. Belum termasuk skenario-skenario yang perlu kita perjelas dan deskripsikan lebih lanjut. Sehingga transparan bagi kedua pihak.

Customisation

Kustomisasi ini terbagi dalam tiga hal. Product/Service Management, Delivery Management dan Cash Management. Yang pertama meliputi produk/layanan itu sendiri. Terutama adalah kesesuaian/ketepatan dengan kebutuhan (requirement) dari klien. Ini teknis banget lha ya, sesuai bidang bisnis masing-masing. Tentu anda lebih memahami daripada saya.

Yang kedua menyangkut ekspektasi dan keterpenuhan dari apa yang kita janjikan. Yaitu, how to deliver the product/service and related documentation. Kerapihan dan keteraturan administrasi (termasuk dokumentasi) yang menjadi kunci di sini. Kapan presentasi, apa yang dipresentasikan, dokumen teknis apa yang harus dilengkapi, bagaimana dengan laporan kemajuan (progress report), meeting apa yang harus ada, dan seterusnya.

Ketiga, soal keuangan. Ini ada kaitannya dengan pertama dan kedua. Mana keuangan yang kita harus mendanainya terlebih dahulu, apa yang bisa dilakukan dengan uang muka dari klien, bagaimana cara menekan biaya material/teknologi/proses tanpa mengurangi kualitas yang sudah ditetapkan di requirement, dan lain sebagainya. Mengapa demikian? Simply karena project-based business (terutama yang di-tender-kan) itu omzetnya sudah ketahuan di depan (dan tidak ada invoice tambahan). Kalau proyek non tender, kita sendiri harus pintar pasang harga karena (bisa jadi) cost-nya tidak fleksibel-fleksibel banget.

Seni main proyek adalah merancang biaya produksi serendah-rendahnya sejak awal.

Tidak mahir main proyek bisa menyebabkan rugi, nombok, bahkan bangkrut.

Jam terbang tentu mempengaruhi kemampuan tersebut, ya. Penguasaan proses/teknologi/material ikut menentukan “how low can you go with the cost“.

Customer Intimacy

Kesuksesan proyek kita akan ditentukan oleh hubungan kita dengan klien/pelanggan. Kenali dulu pelanggan kita ini: hard/easy customer? Seberapa dalam “kantong”-nya? Kalau kita sukses di proyek ini, seberapa mungkin kita dapat proyek lain dari mereka (langsung maupun tidak langsung)? Kerjasama tim kita dengan tim mereka akan “semanis” apa?

Meskipun kita sedang membahas bisnis berbasis proyek, namun tetap saja keberhasilannya tergantung dari manusianya juga. Karena manusia yang membelinya, dan manusia juga yang akan menggunakannya. Jadi hubungan antar manusia ini harus bisa kita berikan observasi/penilaian sejak awal.

Conclusion

All in all, kesimpulan core of the core-nya adalah tetapkan di “medan juang” mana kita ingin bertarung. How worth it or profit a project seharusnya sudah bisa diprediksi dan ketahuan bahkan sejak proposalnya ditulis.

Setengah bercanda: cara meningkatkan persentase kemenangan proposal yang diserahkan kepada klien adalah dengan mengurangi pengumpulan proposal itu sendiri. Dark jokes for me, but it is really true.

Bagaimana caranya? Sudah dibahas di atas: Customization and Customer Intimacy.

Cara Menetapkan Tarif Freelance

Mungkin topik tarif freelance ini paling ditunggu-tunggu, ya. Haha.

Saya pribadi, as penjual dan pembeli juga memberi bobot tinggi sama pricing ini. Sebagai konsumen, mau cocoknya kayak apa juga, kalo gak sesuai budget bisa batal beli. As penjual, saya juga gak mau dibayar murah. Apalagi dianggap murahan. Makanya topik ini penting banget untuk saya share.

Pertama-tama, bisa dimulai dengan tarif mandays dulu sewaktu masih kerja kantoran. Itu kalau anda pernah kerja kantoran. Misal dulu gaji Rp4,4juta. Berarti mandays anda Rp200ribu. Karena sebulan kerja itu sekitar 21-22 hari. Dengan catatan anda kerja senin-jumat. Kalau kerjanya senin-sabtu bergaji Rp2,5juta maka per harinya sekitar Rp100ribu. Tapi yang terakhir ini gak yakin ada deh. Itu cuma permisalan aja untuk menghitung tarif harian.

Bisa juga mulai dari harga di pasar freelance. Seperti di sribulancer.com, freelancer.co.id, dan sejenisnya. Harus diingat bahwa yang menyodorkan jasa pertama kali di sana, memulainya dengan angka yang menyedihkan. Misalnya, desain logo Rp50ribu. Penulisan artikel Rp20ribu. Lucunya, ada saja yang berani membayar. Tapi bagaimana lagi, demikian kan hukum supply-demand bekerja.

Harga supply-demand sebenarnya harga berdasar pada produk/layanannya. Ini kategori kedua.

Kalau sukses mulai dari pasar freelance, bisa lha menaikkan harga sedikit demi sedikit. Intinya, naikkan harga setelah dapat trust (kepercayaan) dari klien yang sama. Jangan mudah pindah klien. Lebih susah dapat klien daripada mengerjakan proyek baru dari klien lama. Jadi lebih baik sama klien lama, dengan harga yang dia tawar sedikit, dan pembayaran lancar. Daripada harus cari klien baru terus. Bukannya melarang sama sekali, ya. Tapi ada kombinasi sehat yang mesti kita pelihara. Misal 4-5 klien lama + 1 klien baru.

Bicara soal content, untuk klien lama atau baru sebenarnya jelas banget bedanya. Ini kaitan sama kerjaan fotografi, desain, menulis, dsb ya. Makin lama kita bareng dia, maka makin kenal juga kita sama mereka. Makin dalam pula pemahaman (understanding) kita terhadap mereka. Pastinya ini memudahkan kita untuk menemukan deep insight (wawasan mendalam) tentang konsumen/user/reader mereka. Dari sisi mereka, makin betah mereka sama kita, berarti semakin minim upaya mereka untuk mengurus kita dari waktu ke waktu. Simply karena mereka sudah engage banget sama kita.

Harga bisa lebih tinggi, kalau kita menawarkan proses kerja yang sistematis, jelas dan mudah dimengerti. Contoh, freelance yang mantan jurnalis biasanya jelas banget tuh cara kerjanya. Turun ke lapangan ambil data, atau cari referensi sekunder dari buku, artikel (termasuk googling), dsb. Baru menyusun tulisan, editing, review sampai proses rilis. Jadi, temukan metodologi kerja kita, sempurnakan (alias buktikan) dengan latihan dan proyek terus-menerus. Kemudian jadikan metodologi tersebut sebagai nilai jual kita. Sehingga kita bisa memasang tarif yang lebih tinggi dari sekitar kita.

Faktor ke sekian, perhatikan isi kantong calon pembayar. Kalau kantongnya dalam, maka bisa lha kita kalikan 2-3 kali lipat. Saya perhatikan, ini orang tertentu saja. Kebanyakan klien saya, gak di kategori seperti ini. Mungkin ini merefleksikan pasar besarnya ya. Bahwa hanya 5%-10% aja yang bisa membayar lebih.

Pendekatan mandays itu satu hal. Semua yang disebut di atas itu manhour/mandays/manmonths. Karena sudah ada proses yang jelas, berikut dengan waktu (dan proposinya) yang kita upayakan. Sementara itu, pendekatan dari produk/service-nya sendiri itu lain pendekatan. Nah, dari kedua kategori harga tersebut, saya ambil harga tengahnya. Demikian pengalaman saya.

Terakhir, jangan lupa sediakan ruang untuk negosiasi. Kalau saya, dialokasikan sampai 30% untuk dinego. Jangan terlalu rapat ruang negonya. Bahkan dari harga yang saya kehendaki, itulah yang saya naikkan sampai 30%. Sambil berharap, akan deal di harga sekitar 85%-90%. Hehe. Misal, kita harap deal di Rp700ribu. Maka sebut harga pertama di Rp1juta.

Hahaha. At the end, saya gak akan mengeluarkan angka, ya. Balik lagi ke anda pribadi. Mau merilis di nilai berapa. Intinya, hati-hati dalam memasang harga. Harga yang ketinggian masih bisa diturunkan. Harga yang udah kelewat rendah, susah dikatrol naik.

Freelance: Menyikapi Kepergian Klien

Tulisan ini seharusnya dirilis dan di-congkak-kan (baca: dipamerkan) pekan lalu. Di saat komunitas 1M1C sedang sibuk dengan minggu tema “kehilangan”. Ada yang menuliskan momen-momen kehilangan masa santay-nya karena datang masa sibuk-nya yang warbiyasak pasca melahirkan. Alhamdulillah ya, dapat amanah baru lagi as ortu dari seorang bayi. Yah, I feel that kok, Sist. Bukannya gak punya empati atas sebuah rasa kehilangan. Been there done that. Cuma gak pengen mellow marshmellow di blog aja. Biar sendu-sendunya disimpan sendiri aja en dibuang di pojok kamar. Ceilah.

Cukup introduksi ala-alanya. Jadi kembali ke laptop. Gimana rasanya?

Actually, biasa aja sih. Gak usah melibatkan perasaan. Nanti jadi ba-per. Namanya klien stop ngasi kerjaan ke kita kan bukan sesuatu yang gimana tho. Cuma aliran uang yang berhenti aja. Mirip-mirip kayak lagi mati air gitu lha. Stop mengucurnya. Tapi ini bukan akhir dunia. Toh matahari masih terbit dari timur. Mungkin kita ketahui alasannya ya. Mungkin juga tidak. Tapi bisa jadi dia memang sudah tidak butuh deliverables dari kita. Semisal foto, tulisan, image as deliverables kita yang nge-freelance as photographer, writer, and visual designer. Or other deliverables.

Mungkin juga hasil kolaborasi en coba-coba (baca: eksperimen) dia bareng kita udah mulai menampakkan hasil. Atau minimal wawasan (insight) mulai kelihatan lha. Bahwa deliverables kita kurang cocok (belum tentu kurang bagus ya) sama tipe bisnisnya dia. Kalau soal selera, kudunya udah cocok dari awal lha. Kan dia udah ngelihat portfolio kita. Jadi think positive aja. Not that worst, pokoknya.

Bisa jadi juga dia udah chemistry banget sama karya kita. Tapi sayang, satu dan lain hal, dia juga mengecil aliran “keran”nya. Omzetnya mengecil lha, atau ada piutang tak tertagih lha. Atau lainnya. Efeknya kudu stop sama kita. Dia sih pengen lanjut sama kita. Tapi apa iya kita mau pro bono gitu sambil banting tulang memeras darah? Ya enggak kan.

OK, pesannya udah ditangkap ya? Intinya jangan ba-per. Kalau segitunya dibawa ke hati, terus gak bisa move on ‘kan repot ujung-ujungya. Padahal klien ya kudu diburu terus. Hahaha. Gak ding. Yang bener memburu pekerjaan, kalau sudah dapat ya dikerjakan sebaik-baiknya. Habis itu baru penagihan sampai pelunasan. Wkwkwk.

Lagian, kalo personal brand kita udah kuat, calon klien datang sendiri, kok. Memang, kerjaan freelance itu lebih mirip B2B daripada B2C. Alias klien yang datang sebenarnya sedikit. Tapi kalau berhasil maintain, ya bisa awet juga. Gak harus berburu kecil-kecilan terus. Kayak ular viper warna ijo aja yang makan katak hijau di pohon. Sekali telan bisa berhari-hari gak cari makan lagi. Eh analoginya masuk gak ya? Hahaha. Intinya dapat kan?

However, seperti seseorang (teman, keluarga) atau sebuah barang (kunci kendaraan, kunci rumah), ada kalanya klien dan transfer-annya baru terasa ketika “hilang”. Padahal pas kerjaannya ada, susah dan dikejar deadline kita lupa bersyukur masih punya gawe-an. Di luar sana banyak lho yang cari gawe-an tapi gak nemu-nemu.

In terms of financial management, di situlah gunanya menabung. Alias tatkala sedang sepi pekerjaan, masih ada yang bisa diicip-icip sebelum brace yourself, new project is coming.

Kalau saya, berhubung hobi dagang barang juga, jadinya masih bisa jajan dari situ. Nah ini jadi “bemper” juga pas proyek lagi sepi. Intinya jangan menaruh telur di satu keranjang lha. Kalau perlu simpanlah beberapa jenis protein di beberapa kulkas. Eh, kejauhan ya? Haha. Pokoknya, creme de la creme nya gitu deh. Udah ngerti kaannnn……… namanya manajemen risiko (risk management).

Analisis aja, mana aliran omzet yang bisa rutin ngasi pemasukan (meskipun kecil nilainya). Mana pula yang nilainya besar (meski hanya sesekali). Pengennya sih semuanya dapat ya? Hahaha, tapi habis itu menyesal karena enggak ada waktu ngerjain. ((((ketawa miris))))

Kuncinya, treatment aja ini-itu kerjaan freelance as BAU (business as usual). As I ever wrote before somewhere in this blog. Bahwa sambil ada yang dikerjain, tetap aja fungsi penagihan harus berjalan terus. Demikian pula dengan fungsi jalan-jalan bertemu dengan orang baru. Ya mosok satu dari lima puluh orang kenalan baru enggak ada yang nyangkut ye kan….. hehehe

Konklusinya adalah, urusan duit jangan dibawa ke hati. Sebagaimana sebuah hadits yang sampai kepada saya, supaya dunia itu di tangan dan pikiran aja tapi tidak di hati. Tatkala klien memutuskan stop berlangganan jasa kita, kitanya gak baper parah dan aliran fulus juga enggak mampet-mampet banget.

Lagian, kalau indikatornya cuma si lembar yang bikin mata jadi ijo, kurang tepat juga. Makin banyak indikator sebenarnya makin baik. Tambahkan target dan ukuran semisal: jumlah orang baru yang ditemui, keahlian baru yang didapat dan kemudian bisa ditawarkan, dst. Segini aja dulu ya. Semoga bermanfaat.

Related post(s):

Balance in Remote Work Life

Masih soal remote working. Atau kerja jarak jauh. Apa sih, bedanya? Jelas beda donk. Remote working is in english. Kalo kerja jarak jauh itu bahasa Indonesia. Ok? Sip 😀

Bekerja di luar kantor pada umumnya, memang bisa meningkatkan produktifitas. As you know, di kantor kita sering terhambat hal-hal yang belum tentu penting. Semisal, meeting. Membahas sesuatu yang kita (biasanya) belum siap. Belum baca materi meeting, belum searching soal keyword tersebut, belum cari referensi atau benchmark. Sehingga kita biasanya juga kurang mantap saat ambil keputusan.

Kalau kerja remote dari rumah, kafe, atau coworking space gitu biasanya jadi lebih produktif. Karena sudah tahu apa yang mau dikerjakan (sudah ditetapkan), dan sudah biasa mengerjakan (bukan newbie, sudah berpengalaman).Selain soal produktifitas, kampanye kerja remote biasanya diikuti soal kebebasan berpakaian. Ya pakai celana pendek lha, bisa kaos t-shirt instead of kemeja lha, dst. Ekstrimnya, bisa pakai piyama.

Tapi semua itu tidak akan membuat karir (ciyeh, karir!) remote working akan bertahan lama. let’s say 3 tahun, minimal. Simply karena selain manusia pekerja, kita adalah makhluk sosial dan makhluk anti-kebosanan.

Kita masih butuh kok, kena angin jalanan (kalo hilir-mudik momotoran). Atau melihat warna aspal (jalan ini kok lebih gelap daripada jalan yg itu ya?), dsb. Yang paling utama adalah kita masih butuh bersosialiasi sama manusia lainnya. Yang hidup, sama-sama makan nasi, dan juga menyeruput kopi. Kita masih butuh lho qoempoel (baca: kumpul) sama komunitas yang se-hobi.

Iya sih, kalo kerja dari rumah bisa kerja semau-mau gw. Mau kerja sampai subuh, lanjut sholat subuh (dua rakaat sebelum subuh jangan dilupa, kawan!), lalu tidur. Atau kerja sampai 12 jam sehari (alasannya ngejar deadline, padahal hobi ngulik kata, kode atau desain aja).

Padahal, bagaimanapun juga, kerja ‘kan hanya salah satu aspek dalam hidup. Cari uang demi segenggam beras dan sebutir berlian sih, iya. Tapi ada dimensi-dimensi lain ‘kan yg harus kita penuhi. Sebut saja, anggota keluarga yg berhak atas diri kita. Adik yg butuh kakaknya utk dijahili, ortu yg butuh anaknya makan bareng di meja makan, sampai anak-anak yg butuh PR-nya dikerjain ortunya (eh!). 😀

Nah, ini ada beberapa hal yang bisa dikerjain supaya remote working tetap produktif, mengasyikkan namun tetap jadi kerjaan yang rewarding utk kita pribadi, namun jadi kerjaan jangka panjang. (Banyak dan rumit ya syaratnya).

As simple as, rencanain aja besok mau pakai baju apa. Gak mungkin kan pakai t-shirt belel yg itu-itu aja. Ceritanya sih gak mau ambil pusing ala-ala Abang Mark Zuckerberg atau almarhum Steve Jobs. Padahal ya, biar lebih proper aja. Saya sih suka yg ada kerahnya, jadi lebih serius gitu kesannya kalo mau kerja (meski masih di rumah, sih). Another point sih, dengan merencanakan hal-hal yang remeh-temeh begini, kita jadi gak terlalu kaku, bahkan jadi kreatif soal kerjaan yg menuntut produktif.

Tentu poin ini gak terbatas soal fesyen aja. Tapi juga makan siang apa, di mana. Yang penting gak kelewat ribet mikirinnya. Take it easy aja. Kayak di office beneran. Kalau kita nyaman dengan pakaian kita, lalu cukup kenyang via lunch and snack, kan kita sendiri yg merasakan nikmatnya kerja.

Bikin aktivitas rutin setelah bangun tidur, yang menyenangkan. Misalnya jalan/lari pagi habis subuh, belanja ke pasar, mengisi jurnal, atau lainnya. Isi jurnal memang dikerjain di dalam rumah, sih. Tapi kalau dua sebelumnya kan aktivitas luar rumah. Believe it or not, pamer diri ke luar rumah, menunjukkan diri kita itu masih ada dan eksis (agak lebay sih) itu gak kalah pentingnya untuk kesehatan mental. Kalau hati sudah senang, kita bisa mulai kerja dengan happy.

Nonton TV atau bioskop (tadinya saya mau re-mind soal nyanyi Indonesia Raya sebelum film diputar, tapi naga-naganya peraturannya ditunda). TV? Biasanya sih TV dinyalakan sambil ngobrol keluarga — Jadi TV-nya muter apa, kitanya bicara apa 😀 . What I really mean is, ekspos diri kita dengan story yg baru atau berbeda. Bisa dari film TV/bioskop, serial yang baru, buku novel, dsb.

Terakhir, adalah punya komunitas. Maksudnya sekelompok orang yang kita saling kenal dan punya topik pembicaraan yg sama. Not really new people (kalo ini namanya networking). FYI, butuh 40 jam interaksi untuk merasa casual friend dan 90 jam untuk being real friends.

Remote working memang memberi kita kebebasan soal fleksibilitas, waktu, dan produktifitas. Belum termasuk ruang berkreasi untuk diri dan karya kita. Mari ambil keuntungan yang terbaik dari remote working, dan kembangkan kebiasaan-kebiasaan (seperti beberapa sudah saya sebut di atas) yang worth it dan menghargai diri sendiri.

Referensi: https://blog.trello.com/hermit-habits-remote-work

Related Post(s):

Remote Working from Coffee Shop

Rutinitas pekerjaan di kantor kadang membuat suntuk. Pekerjaan yang itu-itu saja menuntut kebaruan. Padahal target tidak pernah surut, deadline pantang mundur menghindari kita. Demi selesainya pekerjaan dan target, satu “pelarian” kita adalah coffee shop terdekat. Kafe Upnormal, misalnya. Singkat cerita, pergi kerja ke coffee shop adalah suatu bentuk menuntut kebaruan. Ini topik yang coba kita bahas kali ini ya.

Konon, menuntut kebaruan itu ternyata memang karakteristiknya si Homo Sapiens. Ya yang kayak kita-kita ini 😀 Basically, Homo Sapien itu senang banget beremigrasi. Merantau. Ada harapan bahwa akan menemukan yang lebih baik di tanah rantau. Misalnya jodoh yang lebih ganteng/cantik, atau kehidupan ekonomi yang lebih baik, atau belajar di kampus ternama demi harapan menemukan calon mertua yang luar biasa pula, atau lainnya. Meskipun di sisi lain merantau itu sebenarnya penuh dengan risiko. Kegagalan menumbuhkan ekonomi pribadi/keluarga. Ancaman, tantangan, hambatan, dan gangguan (ATHG) yang lebih berat dan di luar zona nyaman ketimbang di tempat-tempat sebelum beremigrasi.

Homo sapiens were the only group of early hominids to emigrate over the entire world, which entailed great risk, so I think humans as a species are characterized by novelty, and intensity-seeking,” explains psychologist, Marvin Zuckerman, Ph.D.

Jadi, memang manusia itu pada hakikatnya menuntut pembaharuan. Apa nih, kreasi terbaru dari desainer fesyen ternama yang menjadi idola aku? Ada inovasi apa nih dari produk Apple yang baru saja dirilis? Di kantor, ada gosip terbaru apa? Eh film yang heboh banget di Instagram itu, bener sebagus itu gak aslinya? Dan seterusnya.

Pembaharuan itu seperti kecanduan narkoba, nge-game, rokok, atau zat aditif lainnya. Sekali jejak kimiawinya sudah terjejak di otak, kita manusia berusaha meraihnya kembali. Lagi, dan lagi. Jejak kimiawi ini mendatangkan perasaan berbahagia, soalnya. Namanya dopamin.

Studi terbaru justru menyatakan bahwa dopamin adalah motivasi meraih reward-nya. Bukan reward (penghargaan) itu sendiri. Sejatinya, sesuatu yang membangkitkan dopamin dalam otak kita, hendaknya menggerakkan kita untuk mengejar suatu reward/acknowledgement/prize. Ini smeua part penting dalam gamification. Makanya, konsep gamifikasi sekarang ini diimplementasikan tidak cuma di industri game saja, tetapi juga di industri pendidikan misalnya. Kapan-kapan kita bahas ini ya.

Back to topic.

Dalam uraian di bawah, kerja remote dari coffee shop itu bukan karena kafenya cozy atau kopinya enak. Tapi memang karena intrinsic motivation (motivasi dari dalam diri kita).

Secara spesifik, kebaruan apa saja yang dituntut dalam rutinitas bekerja?

Lokasi yang berbeda, misalnya. Baik sekedar pindah meja untuk menghilangkan kebosanan. Pindah ke ruang rumput yang kekinian ala-ala di kantor para milennial, atau bekerja di ruang terbuka seperti di balkon maupun halaman belakang.

Atau bahkan pergi ke coffee shop demi secangkir cappucinno panas atau segelas cafe latte dingin berikut dengan Wi-Fi gratisnya. Lokasi yang baru, pada dasarnya mirip sebuah kanvas kosong untuk produktivitas kita. Lingkungan yang baru dan segar (fresh) sehingga memampukan kita untuk menyelesaikan segala tugas dan pekerjaan di hadapan.

Mekanismenya enggak rumit-rumit amat, kok. Kita menjadi lebih produktif (dan lebih efisien) di lokasi yang relatif baru, simply karena otak kita melihat tugas-pekerjaan di hadapan dengan “sumber cahaya” yang berbeda. Dengan berpindah-pindah lokasi bekerja, kita sebenarnya sedang mengaktivasi kemampuan otak kita untuk berpikir dengan sudut pandang yang baru (atau berbeda).

Beberapa paragraf terakhir di atas bukan menyarankan kita harus selalu berpindah tempat demi menemukan semangat atau gairah baru dalam bekerja. Yang tidak boleh kita lupakan adalah, otak kita bisa mengatur dan menyetel (eh, ini bahasa Indonesia yang benar, atau tidak? hahaha) produktifitas bergantung pada tanda-tanda spesifik atau spesial yang sudah kita rancang. Misalnya, bekerja dengan meja dan kursi yang aerodinamis sehingga kita merasa nyaman dan fokus. Foto keluarga yang memberi alasan mengapa kita beqerja qeras bagai quda (titik tekan pada setiap huruf Q, hehe). Atau hal sederhana semacam to do list untuk hari atau pekan tersebut.

Put simply, just move out when the crisis (or deadline) is facing you.

Lagian, ini semua bukan tentang kafe atau coffee shop, atau bahkan jenis kopi yang kita minum, kok. Bukan single origin darimana, espresso atau cold brew, banyak atau dikit milk and foam-nya. Semua ini soal intensi kita untuk menyelesaikan pekerjaan atau menaikkan kecepatan kerja kita yang tiba-tiba sedang slowing down itu. Yang ternyata semua penaikkan motivasi itu dimulai bahkan sejak kita berniat untuk pindah tempat.

https://blog.trello.com/coffee-shop-effect-boosts-productivity

Proyek Freelance Pertama Saya

Saya hampir lupa proyek freelance pertama saya. Sebab saya ketika kuliah memang beberapa kali mendapat -ehm- penghasilan. Mulai dari menang lomba menulis essay ketika tingkat dua. Investasi (alias main duit untuk mendapat duit) ke teman GAMAIS yang sedang bikin proyek buku soal dan jaket untuk tingkat satu. Termasuk dapat duit dari mengajar les kecil-kecilan.

Tapi yang disebut freelance kan berarti lepas-an. Yang dikerjakan itu adalah pekerjaan yang jelas output/deliverables-nya.

Ketika itu kebetulan saya antara masih atau sudah turun/selesai dari aktivitas kemahasiswaan. Kebetulan, bidang yang saya pertanggungjawabkan adalah edukasi mengenai kewirausahaan kepada teman-teman mahasiswa.

Saat itu, itu enterpreneurship belum isu yang se-wah sekarang. Teman-teman mahasiswa, kalau mau buka bisnis, pikirannya hanyalah modal berapa, jadi bahan baku dan peralatan/perlengkapan, terus omzet berapa. Modalnya pinjam sana-sini terus dikembalikan secara bertahap kepada si kreditur. Atau boleh juga jadi pemilik dengan menyumbang nilai tertentu dari modal. Secara periodik, ada hasil yang bisa dibagikan (bagi hasil).

Berbeda dengan sekarang yang sudah lebih kapitalis. Main modal jadi sesuatu yang lazim sekarang. Seiring dengan berkembangnya ilmu manajemen risiko (terhadap si modal tersebut). Beberapa contohnya adalah daripada pakai uang sendiri, lebih baik pakai uang beberapa orang. Daripada investasi ke satu bisnis saja, lebih baik dibagi ke 10 bisnis sekaligus. Satu di antara sepuluh yang berhasil, bisa tumbuh setidaknya 20 kali lipat dari yang pertama.

Sebagai ilustrasi, ada namanya East Venture. Venture Capital (VC) ini hanya fokus bermain/berinvestasi di bisnis-bisnis baru yang bahkan kebanyakan orang belum tahu. Selain memantapkan diri di sana, ini juga untuk mengelola risiko mereka. Seperti saya bilang di atas, satu di antara sepuluh atau belasan, tentu ada yang bisa grow menjadi puluhan, ratusan bahkan ribuan (atau lebih!) kali lipat dari skala awalnya kan.

Nah, itu sepenggal cerita pengantar.

Intinya, dari understanding sedikit tentang entrepreneurship tersebut, proyek freelance pertama saya adalah kontributor buku tentang kewirausahaan. Selain saya yang mewakili perspektif mahasiswa, ada juga pandangan dari seorang dosen yang hari-harinya juga bergeluti di inovasi teknologi untuk bisnis. Kontributornya hanya dua orang. Proyek penulisan buku ini milik lembaga inkubator bisnis di kampus. Mereka yang merilis fee penulisan dan pencetakan bukunya.

Kurang lebih dua tahun kemudian, saya bergabung dengan sebuah kantor konsultan kecil. Lumayan, belajar mengelola proyek dan bisa berkarya kecil-kecilan. Lakukan riset pendahuluan, bikin proposal, pitching/presentasi, sampai sukses dapat proyek. Diikuti dengan kejar-kejaran sama deadline, setelah berwaktu-waktu bingung dengan, “Ini proyek dikerjainnya gimana yah?”. Namun sejak itulah, kalau boleh dibilang, personal brand saya yang kecil-kecilan juga terbangun. Orang mulai mengenal saya lewat pekerjaan dan apa-apa yang saya kerjakan. Saya kurang pede menyebutnya sebagai karya.

Kesimpulan sementara ini adalah ada beberapa skill yang cukup penting untuk memulai karir freelance. Di antaranya adalah skill membangun dan mempertahankan network. Baik teman-teman yang baru, maupun mempertahankan network di institusi kita yang sebelumnya.

Di sini kita bukan sebagai teman saja. Tapi juga harus bisa ber-ide dan “menjual” ide tersebut. Ide ini at least direalisasikan dalam wujud proposal. Jadi, harus bisa menulis proposal juga. Namanya menjual ya berarti mampu menawarkan manfaat dan bisa mengkonversinya dengan nilai tertentu.

Tentu saja, aspek teknis dari pekerjaan freelance tidak kalah penting. Memotret untuk fotografer, menulis dari penulis, mendesain dari desainer, dst. Selain terkait ke kualitas pekerjaan, ini juga menggambarkan positioning dan harga kita selaku freelance. Apakah kita ini pemula dengan skill seadanya dengan harga murah-murahan. Atau sudah mulai naik kelas ke middle-up dengan nilai proyek yang lumayan, karena kita sudah punya skillnya.