Parenting Islami

Saya tidak ingin memberikan batasan yang kaku banget. Selama parenting dan pengasuhan yang dilakukan berdasar pada kaidah maupun petunjuk yang bila ditelusuri sampai ke hulunya ternyata berasal dari Al-Qur’an dan hadits, maka itulah ‘ruang’ itulah yang saya sebut sebagai ‘parenting islami’.

Tentunya koridor parenting islami ini hanya ditujukan untuk orang tua yang muslim saja. Namun demikian, bila ada hal-hal yang dirasa baik untuk diikuti oleh non-muslim, maka silakan diikuti. Toh, tidak ada paksaan untuk mengikuti karena yang termaktub dalam tulisan ini bukanlah kebenaran mutlak bagi yang tidak meyakini.

islamic parenting
Potret keluarga islami

Sembari mengingatkan diri saya sendiri, saya memahfumi bahwa segala perilaku anak selama di dunia adalah tanggung jawab orang tuanya. Selama masih anak dan belum akil baligh ya.

Secara bahasa, akil memiliki arti berakal, memahami, atau mengetahui. Sementara itu, baligh didefinisikan sebagai seseorang yang sudah mencapai usia tertentu dan dianggap sudah dewasa, atau sudah mengalami perubahan biologis yang menjadi tanda-tanda kedewasaannya (Rasjid, 2010: 83).

Termasuk mendidik, dan mengasihi seorang anak itu adalah tanggung jawab orang tuanya. Pengetahuan agama termasuk ke dalam domain pendidikan yang wajib diberikan oleh orang tua kepada anak. Berikut adalah cara-cara mendidik anak:


15 Cara Mendidik Anak Menurut Ajaran Islam

  1. Memperdengarkan Alquran secara rutin.
  2. Mengajarkan bacaan dan gerakan shalat dan rukun islam lainnya
    1. Dua kalimat syahadat (belasan kali dibaca dalam sehari)
    2. Puasa Ramadhan (wajib bisa sehari penuh selama 30 hari)
    3. Zakat (tambahannya adalah infak, sedekah, dan wakaf)
    4. Naik haji bila mampu)
  3. Mengajarkan tauhid pada anak (sebagaimana tertuang dalam surat al-ikhlas) dan rukun iman lainnya
    1. Iman kepada para malaikat
    2. Iman kepada kitab-kitab (Islam mengakui kitab-kitab terdahulu, termasuk yang terakhir dan terlengkap: Al-Qur’an)
    3. Iman kepada para rasul (jumlah rasul ada 25, masing-masing punya kisah dan lokasi perjuangannya. Yang utama adalah nabi umat terakhir: Muhammad SAW).
    4. Iman kepada hari akhir (bahwa kiamat pasti terjadi, beserta konsekuensi yang mengikutinya)
    5. Qada’ qadar (qada adalah ketetapan, ketentuan, ukuran, atau takaran dari Allah SWT. Sementara qadar adalah perwujudan dari qada)
  4. Membacakan kisah nabi sebagai konsep akhlak yang baik. Namun, konsep ini harus diikuti dengan praktik yang menjadi kebiasaan sehari-hari. Saat ini sudah banyak komik-komik islami yang memberikan pelajaran tentang akhlak dan perilaku.
  5. Membiasakan untuk berdoa dalam aktifitas sehari-hari serta ucapan Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh dan wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.
BACA JUGA:  Tiga Sejarah yang Perlu Kita Ketahui terkait Sistem Per-Sekolah-an

Hak anak dalam islam

  • Memperoleh nasab (identitas diri) yang lengkap. Siapa ayah-ibu, kakek-nenek, saudara-saudara kandung, sepupu, dll.
  • Diberikan nama yang baik. Nama yang baik adalah nama yang di dalamnya berisi doa dan harapan yang baik kepada sang pemilik nama. Seiring dengan berulangnya panggilan kepada nama tersebut, harapannya adalah kebaikan juga datang kepadanya.
  • Menutup aurat (pakaian yang menutup aurat dan mengajarkan apa itu malu dan dalam keadaan apa harus malu).
  • Istinja (bersuci). Bahwa dirinya bersih dan harus membersihkan diri tatkala mengalami suatu keadaan yang kotor.
  • Mendapat pendidikan dan pengasuhan sesuai dengan gender yang diterimanya. Yaitu sebagai berikut:

Psikologi Mendidik Anak Cara Islam

Yang Wajib Diajarkan Kepada Anak Laki-Laki dan Perempuan

Mandiri dan Bertanggung Jawab

Anak-anak wajib diajarkan untuk mandiri dan bertanggung jawab, karena tidak selamanya anak-anak bersama para orang tua. Ada masanya mereka akan menjalani kehidupan mereka sendiri sebagai manusia dewasa.

Bersyukur

Merasa kekurangan itu tidak ada habisnya. Jadi harus diimbangi dengan rasa bersyukur atas apa yang diterima dari Allah subhanahu wa ta’ala.

Rezeki itu seperti pohon mangga.

Ada yang buahnya tinggal kita petik tanpa usaha sedikit pun. Cukup mengangkat tangan.

Ada yang harus dengan peralatan tertentu yang panjang seperti galah dengan “penangkap” yang terbuat dari bambu. (Rupanya alat seperti ini sudah ready dan bisa di-checkout dari e-commerce kesayangan kamu).

Ada yang effort-nya cukup berat karena pohonnya pun harus dipanjat. Dalam hal ini, keterampilan memanjat sangat diperlukan.

Ada pula yang harus bekerja sama dengan orang lain demi memperoleh rezeki/mangga yang lebih banyak. Sebelum “menaiki pohon”, harus bikin “kontrak” dulu dengan rekan yang diajak bekerja sama.

Perlu diingat bahwa konteks rezeki tentu tidak berupa uang saja ya.

Intinya adalah rezeki itu selalu bisa kita usahakan. Sebagai upaya lebih lanjut dari rezeki yang “tinggal dipetik”.

Cara Mendidik Anak Laki-Laki

Sebagai pemimpin dalam shalat

Apabila ada laki-laki dan perempuan dalam satu jamaah shalat, maka diajarkan bahwa laki-laki sebagai imam, sementara perempuan sebagai makmum.

BACA JUGA:  Mengatasi Anak Kecanduan Gadget

Di antara laki-laki yang akan menjadi imam, sebaik-baiknya adalah yang bacaan al-qur’an-nya paling baik.

Ajarkan pula, bahwa anak laki-laki kelak akan menjadi pemimpin dan menjadi seorang imam yang baik pula untuk keluarganya.

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita).” QS. An-Nisaa’: 34.

Membaca Al-Qur’an

Rutin membaca, menghafalkan, dan melafalkan Al-Quran adalah modal besar bagi anak laki-laki untuk berkeluarga. Minimal, modal tersebut dapat digunakan untuk memimpin shalat tarawih di rumah.

Al qur’an adalah modal memimpin shalat

Menundukkan Pandangan

Sebab lelaki adalah makhluk visual (sekaligus pemburu), maka dia akan fokus ‘mengejar’ apa yang dapat dilihat oleh matanya. Untuk hal-hal yang baik semisal nafkah, tentu wajib hukumnya ‘dikejar’. Kecuali terhadap hal-hal buruk, maka anak-anak lelaku harus diajarkan untuk menundukkan pandangannya.

Cara Mendidik Anak Perempuan

Menutup Aurat

Kalau anak lelaki menundukkan pandangan, maka anak perempuan diajarkan untuk sedini mungkin mengenali mana aurat yang harus ditutup di ruang publik. Jadi, inti dari berhijab adalah menutupi aurat, bukan sekedar menutup kepala. Kata hijab sendiri berasal dari bahasa arab yang artinya kira-kira menghalangi atau menutupi.


Baca juga tulisan lain saya seputar Parenting ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.