Pengalaman Melahirkan di RSIA Grha Bunda Tahun 2021

Pengalaman personal seperti ini jarang saya bagikan. Namun, demi memperkaya varisi konten di blog ini dan membangun kedekatan dengan para pembaca, akhirnya saya tuangkan juga.

Istri saya memilih RSIA ini setelah riset dan komparasi dengan setidaknya 2 RS ternama di Kota Bandung. Yaitu, RS Borromeus dan RS Melinda 2. Soal biaya persalinan secara Sectio Caesarea (SC) berada di kisaran 36-38 juta. Ini biaya tahun 2021 ya.

RSIA Grha Bunda

Untuk RSIA Grha Bunda sendiri di kisaran 26-28 juta. Kami sendiri bayarnya 28+ juta.

Harga detail dan aktual (updated) ada di brosur harga dari RS yang secara periodik mereka perbaharui. Bukan dari blog ini atau blog yang lain. Haha.

Tentu saja, price-nya SC lebih mahal ya daripada lahiran biasa. Ono rego ono rupo. Ada harga ada rupa.

Secara jarak, tidak terlampau masalah untuk kami. Baik RS Melinda 2, maupun Grha Bunda keduanya sama-sama berjarak sekitar 4 km. Relatif dekat ya. Keduanya dan RS Borromeus terletak di jantung Kota Bandung.

Berkali-kali pemeriksaan, kami memang lebih banyak di RS Melinda 2. Dengan dokter Oky Haribudiman. Beliau bagus, kok. Ramah dan mampu menjelaskan dengan bahasa yang sederhana.

Sementara pemeriksaan kehamilan di Grha Bunda praktis hanya 3 kali sebelum lahiran. Sekali di bulan Mei, sekali Juni, dan sekali lagi di bulan Juli. Yang terakhir ini hanya berselang 2 minggu dari pemeriksaan sebelumnya, dan berjarak 1 minggu dari hari melahirkan. FYI, SC ini dilakukan di usia kehamilan 38 weeks.

Satu dan lain hal membuat kami memutuskan untuk lahiran di RSIA Grha Bunda saja. Kami mendaftar untuk proses persalinan pada dua hari sebelum tanggal yang disepakati dengan si dokter kandungan, dr. Leri Septiani. Beliau ini juga oke, kok. Ramah dan mampu menjelaskan dengan sederhana.

BACA JUGA:  Mendudukkan Sekolah dan Homeschooling Pada Kursinya Masing-Masing

Sebaiknya memang begitu, karena registrasi ini memakan waktu yang relatif lama. Sekitar 2-3 jam. Kasus ini tentu saja banyak di lahiran spontan ya.

Rupanya SC pun termasuk normal, lho. Ini saya baru tahu. Jadi persalinan normal itu ada normal SC dan normal spontan.

Alhamdulillah proses berjalan lancar. Pasca menitipkan Anak Dua di rumah tantenya, esok harinya kita menuju Grha Bunda. Registrasi ulang dulu sebentar saja, lalu “dititipkan” di UGD untuk pemeriksaan awal oleh para perawat, sebelum dimasukkan ke kamar inap.

Yes, sempat masuk kamar inap sebelum proses persalinan.

Pertanyaan yang berulang dari beberapa ‘lapis’ perawat tersebut di antaranya adalah

  • Ada alergi obat apa saja?
  • Ini lahiran ke berapa?

Dari jadwal yang ditetapkan, proses dimulai lebih cepat 45 menit. Pindah dari kamar inap ke kamar operasi, pemberian anestesi dan lain sebagainya. Sehingga, adek bayi bahkan lahir hanya 15 menit terhitung dari jam-J yang telah disepakati sebelumnya.

Observasi kepada ibu yang melahirkan berlangsung kurang lebih 2 jam. Sebelum “dikembalikan” ke kamar inap. Sementara adek bayi sendiri, setelah observasi kurang lebih 2 jam juga, akhirnya masuk ke kamar perawatan intensif. Yang biasa disebut “perinatologi” juga.

Nah, “pemisahakan” tersebut ada backstory-nya juga.

Hanya 7 hari sebelum persalinan, rupanya ketahuan bahwa istri terinfeksi varicella-zoster. Alias cacar air. Kondisi ini berbahaya bagi si bayi. Dokter dan kami terpaksa menempuh proses SC. Padahal, tadinya kami ingin normal-spontan saja. ‘Kan lahiran sebelumnya sudah SC juga.

BACA JUGA:  Mengatasi Anak Kecanduan Gadget

SC ternyata hanya satu fase saja demi menghindarkan adek bayi dari infeksi cacar air. Pasca persalinan pun, ibu dan bayi harus dipisahkan. Ibu di kamar inap, sementara adek bayi dirawat intensif di ruang perina di bawah pengawasan dokter anak, yaitu dr.Vidi Permatagalih.

Kami rasa, dokter anak yang satu ini sama ramah dan komunikatifnya dengan dua dokter yang kami sebutkan sebelumnya. Honestly, Ini memang kriteria yang kami tetapkan dalam pemilihan dokter.

In total, ibu dirawat selama 3 hari 2 malam. Sementara adek bayi yang terpisah ini, dirawat 4 hari 3 malam.

Hingga hari ke-7 ini pun, adek bayi masih “diisolasi” dari kakak-kakaknya. Karena salah satu kakak masih punya kemungkinan menularkan cacar tersebut kepada adek bayi.

Biaya Persalinan

Pemisahan yang tidak terelakkan ini berimbas pada biaya yang tidak bisa di-reimburse ke asuransi kantor. Si adek kan dirawat dengan bill (tagihan) yang terpisah dari ibunya. Jadi tidak bisa ke dalam tagihan melahirkan.

Untuk 4 hari 3 malam saja di ruang perina, total cost yang harus kami bayarkan (berikut dengan ucapan terima kasih kepada RS) adalah sekitar Rp 6 juta.

Secara umum, kami terkesan dengan pelayanan RS Grha Bunda. Meski baru berdiri sejak 2015, namun pengalaman dan profesionalitasnya terasa banget.

Demikian informasi dan cerita dari kami. Mudah-mudahan bermanfaat, ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *