Call Your Parents

Sudah merantau, jangan sampai lupa Call Your Parents, ya. Minimal bertanya kabar dan kesibukan. Apalagi teknologi sudah sangat mendukung.

Terinspirasi dari blogger sebelah yang tulisannya bisa dinikmati di sini.


call your parents

Dulu, saya biasa tuh merasa kesal sendiri kalau orang tua menelepon. Terutama telepon dari ayah saya.

Kesalnya ini, tatkala saya masih belum menikah dan dititipkan anak oleh Yang Punya.

Seringkali, saya merasa terganggu. Karena isi percakapannya “kurang penting”. Bukan sesuatu yang membutuhkan campur tangan saya, misalnya. Atau, bukan pula merencanakan (dan melakukan) sesuatu bersama saya.

Sebagai aktifis kampus dan jomblo kantor, saya memilih tenggelam dalam kesibukan.

Namun, semua berubah ketika negara api menyerang.

Pasca menikah dan dititipkan anak, saya jadi paham maksud dari Call from Parents tersebut.

Kan katanya, semua nasihat/pelajaran dari ayah kita baru terasa ketika kita sudah menjadi ayah, ya.

Jadi, bagaimana ayah saya ke saya tuh, paralel dengan hubungan saya ke Anak Dua.

Selama masih satu rumah kan, kita bisa lihat sendiri ya. Sudah makan atau belum, sudah mandi atau belum, mengerjakan tugas/pekerjaan apa, dst.

Saya pernah tinggal di Magelang, Jakarta, Surabaya, dan Bandung. Jelas sudah tidak terlihat lagi oleh orang tua, apa yang sedang saya lakukan.

Rupanya, segala pertanyaan tersebut memang basa-basi saja. Sebagai orang tua, kayaknya lega deh kalo sudah mendengar suara anaknya. Artinya kan, oh anaknya sehat-sehat saja.

Misalkan kita dalam perjalanan, menuju atau meninggalkan kotanya ortu, yang dikehendaki beliau berdua adalah kabar terbaru perihal posisi kita. Sedang menunggu di stasiun/bandara kah, dalam perjalanan kereta, atau sebentar lagi lepas landas, dan sebagainya.

BACA JUGA:  Belajar dari Sepuluh Cucu

Semuanya baru masuk akal di pikiran saya, dan terasa di hati saya, hanya setelah menjadi orang tua.

Dukungan Teknologi

Kakak-kakak saya kan sudah merantau sejak SMA ya. Jadi telepon belum secanggih sekarang. Saya pun masih mengalami.

Polanya begini. Ortu telepon dulu ke rumah kost. Kepada penjaga kost, dipesankan bahwa akan menelepon lagi 5 menit kemudian. Yang mau diajak bicara, diharapkan untuk bersiap-siap (stand by) di dekat telepon.

Empat tahun kemudian, pun masih sama polanya. Bedanya, karena sekolah saya meliputi perumahan guru juga, jadi terima teleponnya di rumah guru. Yang mana, terasa gak enak mengganggu yang punya rumah.

Lagipula, kitanya harus berpakaian rapi ala mau sekolah (padahal sudah malam hari). Itu lebih baik, daripada memakai pakaian training.

Akhirnya berlanjut pakai wartel di dalam kompleks sekolah. Tapi, masalahnya di harga siy. Interlokal itu mahal; kita gak bisa sering-sering telepon ke rumah. Saya lupa ya. Wartel bisa terima telepon atau tidak. Tolong dikoreksi.

Alhamdulillah, tahun 2004 sudah pegang handphone (HP). Masih monophonic alias satu macam nada suara saja. Namun, karena masih anak sekolah, gak boleh sembarangan menyimpan dan memakai HP. Bisa disita. Masih bisa berdalih dengan alasan untuk komunikasi ke orang tua perihal kelanjutan pendidikan demi menghindari penyitaan.

Di tahun-tahun tersebut, biaya roaming masih ada kali ya. Tolong koreksi misalnya keliru. Itu adalah biaya yang wajib dikeluarkan si pengguna karena ada perbedaan jaringan atau wilayah. Tentu dibebankan ke pulsa yang ketika itu masih didominasi pasca bayar.

BACA JUGA:  Mendudukkan Sekolah dan Homeschooling Pada Kursinya Masing-Masing

Menurut bills.alterra.id, roaming adalah pergantian layanan dari home network ke other network.

Telepon Internet

Sebenarnya, sebelum telepon internet, ada era SMS. Pengecekan sinyal dari HP ke BTS (Base Transceiver Station) setiap 6 detik (CMIIW), bisa ditumpangi sama yang kita sebut SMS.

Setelah SMS, lalu eranya BlackBerry. Sudah seperti chatting dengan WhatsApp (WA) yang kita gunakan sekarang.

Namun, teleponnya masih lewat jalur biasa.

Telepon internet baru marak ya via WA. Sebelumnya hanya berupa call via aplikasi Skype di komputer.

Apalagi sekarang, call juga bisa via Zoom atau Google.

Di Indonesia ini, saya lihat masalahnya di harga. Karena di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Papua masih didominasi oleh Telkomsel. The thing is, harga paket datanya belum mengalami demokratisasi. Alias masih mahal.


Jadi, di atas sudah saya paparkan ya. Mengapa kita harus sebisa mungkin rutin Call Your Parents. Apalagi sudah ada dukungan teknologi berupa telepon internet kan.

Dan tidak harus membicarakan hal-hal serius semata. Sekadar bertanya kabar dan sedang sibuk (proyek) apa, itu sudah sangat sangat cukup.

Ada pengalaman menarik soal Call Your Parents? Share di kolom komentar, ya!


Baca juga artikel saya yang lain terkait FATHERING ya.

Leave a Reply