Mendudukkan Sekolah dan Homeschooling Pada Kursinya Masing-Masing

Belajar di sekolah dengan di rumah seharusnya saling melengkapi. Dengan mengenali kelemahan sekolah, kita akan tahu harus mengharapkan apa dari sekolah.

Di suatu grup whatsapp yang rajin sekali berdiskusi, ada seorang rekan bertanya, pendidikan di rumah tuh, harusnya gimana sih? Yang bertanya tampak serius sekali mempersiapkan masa depannya. Padahal doi masih jomblo ngenes.

Kemudian ada yang menanggapi, Ibu sebagai guru dan bapak sebagai kepala sekolah.

Dibalas dengan kocak donk, jadi kalau ibu guru salah, maka tugas kepala sekolah untuk menghukum donk. Wakaka. Jadi lucu juga kalau dipikir.

Padahal, di mana salahnya? Sebab hal ini sejalan dengan apa yang diajarkan sering kita dengar, “Ibu adalah madrasah pertama bagi anak”. Kalimat ini kemudian diperjelas lagi oleh Ustadz Bendri Jaisyurrahman, “Dengan ayahnya sebagai kepala sekolahnya”.

Sekolah vs Homeschooling
Mendudukkan Sekolah dan Homeschooling Pada Kursinya Masing-Masing

Sekolah yang bagus adalah yang cocok untuk anaknya dan kemampuan keluarganya. Apa gunanya kalau anak sekolah di sekolah yang mahal tapi dia jadi stressed, misalnya. Men-terapi “kegilaan”-nya memaksa ortu merogoh kocek lebih dalam.

Atau malah orang tuanya yang terbebani membiayai sekolahnya. Ada lho temen SMA saya, sepertiga gaji ortunya kala itu, untuk membiayai si putra sulung ini. Padahal sekolahnya aja masih relatif murah. Duh mesakke.

Belum lagi berhadapan dengan gaya hidup orang-orang yang level ekonominya lebih tinggi. Kasian anaknya kan kalau dianggap “gak gaul” sama temannya -hanya- karena game atawa gadget-nya beda kelas.

Saya berpandangan bahwa biaya sekolah doank tuh gak cukup untuk membesarkan anak. Biaya sekolah tuh mungkin idealnya 50%-70% dari total biaya pendidikannya kali ya. ‘kan anak juga butuh di-kursus-kan ini itu. Basic life skill semacam berenang, menyetir mobil (ini tanggung jawab ortu, menurut saya), mengaji al-qur’an, dan semacamnya.

BACA JUGA:  9 Elements of Digital Citizenship

Belum termasuk biaya peralatan, perlengkapan, maupun kursus yang menunjang bakat alamiahnya dia. Misalnnya Anak Dua di rumah secara rutin kami sediakan perlengkapan dan peralatan menggambar: buku gambar size A3, dan pensil warna. Kalau sudah jenuh, mereka mengisi waktu dengan menyusun balok menjadi suatu karya berupa bangunan, atau superhero andalan mereka: Ultraman. Saya sampai khawatir lho, mereka akan menjadi penggila tokusatsu beneran.

Teori Kecerdasan Majemuk

Howard Gardner, mengusulkan ada 8 kecerdasan majemuk (multiple intelligence), yang kata saya mah ya, perlu banget dipupuk oleh ortunya. Ada apa aja?

  • Linguistik
  • Logika matematika
  • Visual-spasial
  • Musik
  • Interpersonal
  • Intrapersonal
  • Kinestetik
  • Naturalis

Meskipun, ada yang menyanggah bahwa, dilihat dari infrastruktur maupun proses pembelajaran di sekolah, memandanganya berdasar 8 kecerdasan majemuk ini – tidak tepat.

Di sekolah-sekolah kita, ada beberapa jenis kecerdasan yang dinilai superior dan mendapat tempat lebih utama, yaitu kecerdasan matematika-logika dan kecerdasan berbahasa.

Anak-anak yang memiliki jenis kecerdasan tersebut biasanya menjadi juara kelas. Sementara itu, anak-anak yang memiliki jenis kecerdasan berbeda cenderung dilabeli dengan sebutan nakal atau bodoh.

Padahal, anak yang sering disebut nakal atau bodoh itu ternyata banyak berhasil berkarya di masyarakat dan menjadi orang yang sukses saat dewasa.

Nakal dan Bodoh

Kenakalan anak pada dasarnya adalah ekspresi pemberontakan yang dilakukannya ketika mereka merasa bosan/jenuh atau tidak nyaman dengan keadaan yang dialaminya. Ekspresi ini beragam pada setiap anak, sesuai dengan kecenderungan natural yang paling mencolok dalam dirinya.

BACA JUGA:  Homeschooling sebagai Alternatif Pendidikan

Ada anak yang mengekspresikan pemberontakannya dengan asyik mengobrol dengan temannya (interpersonal), ada yang berlari-lari (fisik-kinestetis), ada yang mencoret-coret, ada yang melamun dan berkhayal, dan sebagainya.

Cara kedua untuk mengenali jenis kecerdasan anak adalah dengan mengamati bagaimana anak-anak mengisi waktu luang mereka. Ketika anak bosan dan tidak diperintah siapapun, apa yang mereka lakukan? Ketika anak diberi kebebasan untuk melakukan sesuatu tanpa sebuah perintah/tekanan, apa pilihan yang mereka lakukan?

Ada anak-anak yang mengisi waktu luang dengan mendengarkan musik, membaca, menulis, olahraga, jalan-jalan, dan sebagainya.

Itulah cermin dari hal-hal yang disukai dan menjadi minat alamiah anak. Dan dimungkinkan, itu merupakan salah satu jenis kecerdasan yang menonjol pada anak.

Harapan Kepada Sekolah

Namanya teori, tentu Kecerdasan Majemuk tidak lepas dari kelemahan-kelemahan. Ada apa saja?

  • Kontroversi terutama dalam pandangan ahli psikologi tradisional, antara lain mencampuradukkan pengertian kecerdasan, ketrampilan dan bakat.
  • Lebih bersifat personal/individual sehingga teori ini lebih efektif digunakan untuk mengembangkan pembelajaran orang per orang daripada mengembangkan pembelajaran massa/klasikal.
  • Membutuhkan fasilitas yang lengkap sehingga membutuhkan biaya besaruntuk operasional klasikal atau massal,
  • Tenaga kependidikan di Indonesia belum sepenuhnya siap melaksanakan teori ini dalam praktek di dalam kelas K‐12 ataupun juga pembelajaran yang melibat‐kan pembelajar dewasa, karena sudut pandang kebanyakan orang masih sudut pandang tradisional

Apabila dikomparasi dengan sekolah kekinian yang kita kenal, atau masih dalam pemahaman saya sebagaimana saya sekolah dahulu, maka mengharapkan sekolah akan memupuk dan menumbuhkembangkan anak-anak kita semua berdasar pada kecerdasannya masing-masing adalah hil yang mustahal.

BACA JUGA:  Tiga Sejarah yang Perlu Kita Ketahui terkait Sistem Per-Sekolah-an

Kita butuh reformasi pendidikan yang masif, bila memang itu yang kita mau lakukan. Tapi ini butuh energi yang besar dan cenderung high cost. Berikut rinciannya:

  1. pembelajar dijadikan subjek pendidikan dan pusat proses pembelajaran;
  2. teori aktivitas diri dan aktif‐positif merupakan dasar dari proses belajar;
  3. tujuan pendidikan dirumuskan berkaitan dengan pertumbuhan dan perkembangansi pembelajar daripada tekanan pada penguasaan materi pembelajaran;
  4. kurikulum sekolah disusun dalam kerangka kegiatan bersama atau kegiatan yang bersifat “proyek”;
  5. perlunya secara rutin kontrol informal di kelas dan sosialisasi mengajar dan belajar atau kegiatan bersama di tengah‐tengah arus deras individualisme;
  6. hendaknya banyak diterapkan keaktifan berpikir dan berargumentasi daripada sekedar menghafal atau mengingat‐ingat saja;
  7. pendidikan hendaknya mengembangkankreativitas siswa

Berat sekali PR kita kalau mau mereformasi pendidikan di sekolah, bukan?

Nah, maka dari itu, untuk saat ini, secara pragmatis, saya kira ada dua hal yang bisa kita lakukan:

  1. Berikan ekspektasi yang wajar saja kepada sekolah; mengingat sekolah adalah institusi pendidikan yang fokus di kecerdasan logika-matematika dan kecerdasan berbahasa,
  2. Mari fokus mengenali dan menumbuh-kembangkan anak-anak kita di rumah, berdasar pada pengamatan kita mengenai ciri-ciri kecerdasan yang menonjol dari mereka

Referensi:

2 thoughts on “Mendudukkan Sekolah dan Homeschooling Pada Kursinya Masing-Masing”

  1. Hem… Saya kira tulisan tentang belajar di rumah karena karantina pandemi covid-19. Hehe.
    Selayaknya sekolah & orang tua tidak terlalu mementingkan nilai di semua mata pelajaran. Perlu juga memperhatikan keterampilan lainnya.
    Salam.

    1. Maaf belum sesuai ekspektasi. hehe. Status kami sekarang (karena covid-19 juga) adalah mempertimbangkan opsi-opsi bersekolah (yang mungkin akan ditunda dulu offline-nya, lanjut PJJ lagi) atau homeschooling. Artikel ini adalah catatan riset kami tentang plus-minus belajar di sekolah maupun belajar di rumah (homeschooling).

Leave a Reply