Tulis Judul atau Konten Duluan?

Dalam membuat tulisan, ada kalanya kita bingung mulai dari judul atau isi. Tulisan kali ini akan membahas bagaimana memaksimalkan kelebihan yang satu, guna menekan kelamahan yang lain.

Konten duluan.

Konten duluan sampai pada titik di mana, tidak tahu lagi harus menambah apa. Seperti kampanye #mulaiajadulu. Kebanyakan dipikir (baca: diriset) ya tidak akan membawa ke mana-mana. Kata Dee Lestari (tidak sama persis ya), fitrah sebuah ide adalah di alam bebas. Di alam bebas, dia akan menemui beragam dukungan, bantahan, kritik, saran, dan sebagainya. Dengan kata lain, hakikat gagasan bukan sekadar bertahan di alam pikiran semata.

Sutradara kenamaan macam Ernest Prakasa, juga menyarankan hal yang senada. Jadi, beliau memisahkan proses menulis dengan proses perbaikan (revisi). Sepanjang masih punya ide cerita, dan belum memasuki fase perbaikan (salah satu alasannya adalah deadline belum mepet), maka menulis lha terus.

Tugas kita sebagai penulis adalah “mematangkan” gagasan tersebut. Ibarat sungai, di sinilah pentingnya hulu dan hilir sebuah tulisan. Hulu, proses di mana kita mengumpulkan premis-premisnya. Berupa aktifitas riset (mengumpulkan bahan, membaca, menganalisis, membuat hipotesis), mengingat dan menyelami peristiwa-peristiwa yang berlalu dalam hidup kita sendiri (maupun orang lain), sampai dengan mengingat pikiran-pikiran kita di masa lampau tentang apa yang ingin kita tuangkan. Jadi, ada tiga macam klasifikasi untuk hulu.

That’s why kita perlu beberapa medium untuk menulis. Karena menulis adalah praktik melepas gagasan ke alam di luar pikiran, maka saya kira kita tetap perlu membedakan mana alam yang benar-benar jauh dan tidak bisa kita kendalikan, dan mana alam yang masih terjangkau serta menjaga rahasia-rahasia kita dengan baik.

Di medium-medium seperti buku yang dicetak penerbit, artikel media massa, kita tidak bisa mengendalikan keliaran pendapat khalayak umum. Dalam bahasa internet seperti sekarang, yaitu kata netizen. Namun kita masih bisa menjaga rahasia sekaligus mencatat ide dan ilmu di medium personal. Sebut saja jurnal, buku diary, rencana dan evaluasi aktifitas, dan lainnya. ide-ide yang kita tuangkan di format terakhir, adalah aset yang bisa kita tengok kembali dan aplikasikan di suatu ruang dalam tulisan.

Bagi saya, menulis adalah berpikir. Mengapa demikian? Sebab sebelum menuangkan sebuah kalimat, kita akan berpikir 2-3 kalimat ke depan. Bagaimana kita membahasakan sebuah gagasan berukuran mikro, bergantung pada bagaimana kita melihat kalimat tersebut dalam sebuah paragraf. Lebih jauh, peran sebuah paragraf dalam artikel keseluruhan, fungsi sebuah bab atau bagian terhadap isi buku secara umum.

Nah, kelebihan memulai tulisan dengan judul adalah kita sudah memberikan batasan yang relatif tegas terhadap isi tulisan. Namanya relatif, bisa dilanggar. Baik menjadi lebih luas (atau general), atau menyempit (alias fokus pada bahasan tertentu). Yang jelas, judul adalah acuan dalam perjalanan menulis guna menyadari garis finish (batas selesai). Kalau sudah selesai, boleh lha kita menengok sang judul kembali. Sudah tepat kah, sudah merepresentasikan isi kah, sudah memancing pembaca untuk membaca kah, dan lain sebagainya.

Fungsi Editing dan Peran Editor

Hilir, yaitu pentingnya fungsi editing dan peran editor.

Sebelumnya, saya sebutkan bahwa tulis apapun yang muncul di kepala untuk ditulis. Mumpung masih ada dan belum mampet (stuck). Sebab, masa-masa untuk perbaikan, revisi atau sejenisnya akan datang dengan sendirinya. Itulah yang disebut editing. Editing pertama dari diri sendiri. Alokasikan waktu untuk melakukan proses edit. Misalnya, hanya 5% dari total waktu untuk menulis. Di sinilah kita dapat berperan sebagai pembaca, dan menjaga jarak dengan diri kita sebagai penulis. Keluaran yang diharapkan adalah objektifitas dalam memandang karya tulisan tersebut.

Tentu diri ini sebagai pembaca, dapat kita belah menjadi dua. Baik sebagai pembaca yang berharap kualitas tulisan dari sisi bahasa. Maupun pembaca yang merepresentasikan konsumen tulisan secara umum.

Profesi editor, sebagai lapis kedua (namun utama), juga menjalankan kedua peran tersebut di atas. Alias berperan sebagai pemeriksa (checker) yang menjamin mutu (quality assurance) dalam tata bahasa, serta mewakili pembaca yang punya ekspektasi dan harapan tertentu terhadap isi maupun alur (flow) tulisan.

Tidak hanya keduanya, di beberapa penerbit editor pun berperan di hulu. Yakni memberikan pandangan (visi) dan saran kepada para penulis, tentang selera pasar yang sedang tren (dan yang sedang turun pula).

Apa Saja Pertanyaan Umum tentang Blog?

Tulisan kali ini membahas frequently asked questions (FAQ) seputar blogging

Artikel kali ini membahas pertanyaan-pertanyaan yang sering ditanyakan (namun masih di area permukaan) tentang blog.

Bagaimana cara mulai ngeblog?

Ya mulai saja dengan bikin akun. Di wordpress.com, blogspot.com atau yang belakangan lagi naik daun: medium.com.

  • Kalau sudah punya akun, akan sayang kalau akunnya tidak dipakai mengisi blog.
  • Kalau sudah ada sedikit artikel, akan sayang untuk tidak diteruskan hingga menjadi banyak.
  • Kalau sudah mulai banyak tulisannya, akan sayang untuk tidak dilakukan secara konsisten,
  • dan seterusnya.

Dari mana ide datang?

Pastinya bisa dari mana saja. Habis baca buku, bisa jadi ide ulasan (review) buku. Ke toko buku, bisa dapat ide tulisan juga. Lakukan aktivitas yang baru sama sekali bisa jadi ide juga: mulai dari mengapa dilakukan, perencanaan seperti apa, pengalaman (experience) bagaimana, hasil apa yang didapat, dan seterusnya.

Platform blog apa yang cocok?

Saya pertama sekali membuat blog di blogspot.com. Entah bagaimana ceritanya, saya hijrah ke wordpress.com. Setelah 10 tahun bersama wordpress.com sekarang saya gunakan mesin WordPress berbayar dengan domain berakhiran .com. Target saya dengan blog baru https://ikhwanalim.com ini setidaknya akan saya gunakan selama 10 tahun ke depan.

Bisa dikatakan, saya cocoknya dengan WordPress. Tapi belakangan ini mulai ada CMS (Content Management System) baru bermerek Medium. Cukup menarik juga. Tapi tidak cukup membuat saya hijrah dari WP.

Bagaimana supaya blognya rame?

  • Perbanyak tulisannya.
  • Menulis yang panjang di setiap artikelnya.
  • Bikin pancingan di tiap akhir paragraf, supaya reader tidak stop membaca dan meneruskan ke paragraf yang baru.
  • Lakukan promosi ke akun social media (facebook, instagram, fan page). Saya bikin fan page Authentic Marketing di sini. Tolong di-follow ya 🙂
  • Instal plugin Inline Related Posts.
  • Pelajari statistiknya. Ini blog analytics. Kenali siapa yang datang, dia datang karena kata kunci (keyword) yang mana, artikel (post) apa yang paling sering dikunjungi?
  • Bikin perencanaan konten. Terutama berdasarkan wawasan (insight) dari statistik yang sudah dipelajari. Riset Content Marketing ini bisa kamu pelajari.

Bagaimana caranya supaya bisa konsisten?

Bagaimana cara mulai menghasilkan dari blog?

  • Mulai menulis
  • Fokus di niche tertentu
  • Bermain Google AdSense
  • Membuat halaman profil dengan kontak email yang bisa dihubungi
  • Rutin gerilya mencari dan menawarkan kepada calon pembeli/pembayar, yaitu jasa paid/sponsorship content. Yakni kontennya di blog kita, dengan mereka mensponsori konten tersebut.

Anyway, saya meyakini tiap orang punya jalannya sendiri untuk sukses di dunia online. Terus terang, saya tidak menjalankan strategi tersebut. Blogging adalah cara saya membangun kompetensi menulis dan branding selaku penulis. Dan itu dengan sendirinya membangun channel untuk menghasilkan uang.

Gimana caranya supaya blog saya tampak keren?

  • Cari dan pilih theme yang bagus. Tidak heran, yang bagus biasanya berbayar.
  • Belajar teknologi Front-End (FE). Di antaranya adalah HTML, JavaScript, dan terutama CSS.

Ide tulisan dicatat di mana biar gampang dilihat lagi?

Kalau sudah publish, gimana cara terbaik untuk promosi kontennya? Saya pengin dapat PV banyak.

  • Lakukan promosi ke akun social media (facebook, instagram, fan page). Saya bikin fan page Authentic Marketing di sini. Tolong di-follow ya 🙂
  • Congkak juga di komunitas menulis kamu. Saya ikut 1minggu1cerita.

Lifestyle atau niche?

Lifestyle boleh, niche boleh. Masing-masing ada plus minusnya. Dengan strategi lifestyle berarti topik kita cenderung luas dan tidak terlalu sulit untuk bisa konsisten. Tapi ya itu, sulit berbeda dari kebanyakan blogger lain. Menurut pengamatan, saya melihat banyak emak-emak yang nge-blog tidak memiliki perbedaan yang signifikan di antara mereka. Jadi, proses diferensiasi yang dilakukan lewat personal experience-nya maupun teknik stroytelling-nya (penguatan karakter, plot cerita, dll).

Dengan strategi niche, maka konsisten akan lebih sulit. Karena segala prosesnya harus benar-benar kita pikirkan. Mulai dari perencanaan konten, penelusuran target pembaca, pendalaman kata kunci (keywords), dan lain sebagainya. Namun dari sisi pemasaran (marketing), strategi STP-nya sudah benar. Segmenting, Targeting, dan Positioning. STP yang benar dan konsisten, akan membawa kita pada kesuksesan. Cepat atau lambat.

Netiquette dan Cyberbullying

Netiquette berarti internet+etiquette. etiket (dari kata etiquette) adalah peraturan/norma yang mengatur apa yang secara sosial dapat diterima. Ini memang tergantung nilai-nilai yang dianut oleh kelompok sosial tersebut. sekarang, di dunia internet kita berbicara dengan manusia ‘kan? maka, apakah kamu akan mengatakan hal yang sama kepada lawan bicara? seharusnya iya. Terutama yang baik-baik.

Maka ikutilah standar perilaku yang sama dengan di dunia nyata. Karena, etika di cyberspace tidak lebih rendah daripada etika di dunia nyata. bukan karena tidak bertemu muka, maka standar menjadi lebih rendah. Bukan karena usia tidak lagi menjadi persoalan penting di awal percakapan, maka etika tidak lagi penting. Tapi etika dunia internet akan sama tingginya dengan etika di dunia nyata.

Netiket di dunia internet relatif sama. Tetapi secara teknis, netiket di berbagai komunitas justru berbeda-beda. Kenali bahasa yang mereka gunakan. pakailah kata-kata yang memang biasa digunakan di komunitas tersebut. Ikuti aturan yang dibuat admin. Siap-siap diberikan sangsi bila anda melanggarnya. Be sensitive secara online.

Jangan sok artis. Hormati follower/friend kamu. Hormati waktu dan bandwidth orang lain. Kamu bukan satu-satunya pemilik dan pengguna dunia maya. kita semua adalah pengguna, dan kita memiliki kesetaraan yang sama. Remember, you are not the center of cyberspace. Tetapi, tetaplah berusaha tampil menarik saat online. ambil keuntungan secukupnya dari anonimitas. Berikan nasihat yang baik. Bersedia untuk diajak berdiskusi. Kamu akan dinilai dari apa yang kamu tulis/bagi. Dan jangan takut untuk berbagi apa yang kamu tahu.

Hormati privasi orang lain. jangan karena kedekatan, tetapi tanpa izin, lalu kamu membaca email pacar kamu. Untuk admin, sekalipun sudah menjadi admin, jangan bersikap sewenang-wenang. maafkan kesalahan orang lain. Jangan arogan dan jangan sok suci. Admin juga manusia, bisa benar bisa salah. Yang penting terus belajar dan bantu mengarahkan komunitas ke arah yang lebih baik.

Sedangkan cyberbullying maksudnya, menggunakan teknologi komunikasi seperti email, handphone, chat rooms, instant messaging,  blog atau personal website fitnah untuk mengirimkan dan memposting, sengaja dan berulang kali, teks atau gambar yang kejam dan merusak (shek, 2004; belsey ,www.cyberbullying.ca)

Bagaimana berjaga-jaga terhadap ancaman cyberbully:

  • Jangan membagi-bagikan informasi/gambar/video yang dapat digunakan orang lain
  • Jaga privasi, kamu tidak bisa mengontrol materi yang sudah berada di internet
  • Introspeksi diri, bagaimana cara kamu berkomunikasi di internet

Jangan memberi kepuasan pada bullies:

  • Tenang, dan jangan membuat bullies lebih senang untuk mem-bully kamu terus-terusan
  • Tidak ada yang sebenarnya melihat reaksi awal kamu. Tetap tenang dan jangan emosional
  • Tidak perlu langsung merespon, tidak perlu buru-buru, pikirkan baik-baik
  • Jangan membalas! Jangan menjadi bully!

Yang perlu dilakukan:

  • Selalu kumpulkan bukti-bukti. Screenshots, save emails, save chatting log
  • Perlu melibatkan orang lain?
  • Katakan STOP!
  • Jangan pedulikan
  • Orang tua?
  • Keluhan pada penyedia layanan internet
  • Hubungi sekolah/universitas
  • Hubungi pengacara/polisi
  • Bantu korban lain dengan speak up!

*) artikel ini adalah versi tulisan dari presentasi kang Enda Nasution di Aula Fasilkom UI pada 3 Mei 2008

cek juga artikel ini.

Cara Menjadi Blogger Profesional dan Menjadi Bos Diri Sendiri

Kayaknya kedengaran keren ya kalau jadi professional blogger. Sudah keren, dibayar pula. Namun, menjadi blogger profesional itu tidak gampang dan tidak akan pernah mudah.

Alasan pertama adalah, mendapatkan uang dari blog tidak semudah dulu lagi. Sebabnya adalah kompetisi semakin ketat. Konten berwujud blog tidak lagi menjadi satu-satunya konten. Social media selain blog seperti Twitter, Facebook, Instagram (IG), dll justru menggerogoti pangsa pasar pembaca blog. 

Contohnya sebagai berikut. Di waktu yang bersamaan sekarang ini, sedang ada gerakan #30haribercerita di IG. Mirip nge-blog, tapi di caption IG. Dari judul, jelas setidaknya satu cerita per hari selama 30 hari. Dan gerakan ini begitu diterima oleh netizen. Konon, ada enam ribuan tagar #30haribercerita masuk setiap harinya. Bisa dikatakan sebagai blog tetapi di platform IG. Ini “penggerogotan” dari sisi pembuat konten.  

Dari sisi pembayar konten, mereka lebih memilih untuk mendistribusikan anggarannya ke beberapa tipe social media. Sekian untuk blog, berapa untuk IG, sejumlah uang untuk facebook, dan seterusnya. Sebab masing-masing social media punya pengguna setia. 

Balik lagi ke topik professional blogger. 

Saya lihat sih, kebanyakan teman-teman blogger mengambil segmen dari 3F-nya dulu, yaitu friends/fans/followers dari akun social media. As u may already know, caranya adalah dengan membagikan link artikel blog (terutama yang baru saja dirilis) ke berbagai jenis sosial media yang dimiliki. Seiring waktu dan konsistensi nge-blog, lingkaran 3F kita akan semakin membesar. Kita bisa memulai profesi blogger dengan cara ini. 

Dan ini sama seperti pekerjaan pada umumnya: harus ditekuni dengan serius, supaya menghasilkan dan makin terpercaya (trusted).

Berikut ini beberapa hal yang saya kira, perlu diperhatikan supaya blog kita bisa menghasilkan income terus-menerus.

Niche Content 

Namun, professional blogger berbeda. Harus menunjukkan area of expertise-nya. Kalau sudah memulai dengan 3F, berarti harus mulai fokus dengan konten di niche-niche tertentu. Namanya juga professional. Berasal dari bahasa latin, yaitu proficio. Yang artinya, kira-kira adalah to make/to advance. Kita kan gak bisa jadi advanced di semua topik blog. Jadi harus memilih niche konten kita sendiri. 

Dua niche content dengan penghasilan paling lumayan, setahu saya adalah food blogging dan travel blogging.  

Bagaimana dengan penempatan konten; di mana konten tersebut dipasang? Placement tidak harus di blog sendiri ya. Blog sendiri itu jadi etalase (showcase) saja. Proyeknya bisa dari mana saja. Baik perorangan, institusi non-profit, atau korporat. Placement kontennya tidak harus di web institusinya, bisa saja ada media lain. Saya sendiri berperan sebagai content manager untuk satu institusi non-profit dan satu produk elektronik untuk pendidikan.

Mempromosikan Konten 

Menulis konten sesuai niche yang dipilih saja tidak cukup. Professional blogger harus smart dalam memasarkan kontennya. Alias promosi. Mindset yang seringkali salah adalah melakukan promosi hanya sekali di awal rilis konten. Cara paling sederhana ya share di social media masing-masing. Namun demikian, promosi konten sebaiknya dilakukan beberapa kali untuk sebuah konten. Tidak ada salahnya memasang iklan (facebook ads, google adwords) bagi si konten agar terekspos ke pembaca yang lebih banyak. 

Ikut Community 

Bangun kehadiran anda secara online. Karena kita pembuat konten ini tidak hidup dalam ruang hampa. Alias ruang angkasa galaksi lain seperti Bekasi. Apa sih. Gagasan  itu sudah seharusnya dinamis dan berinteraksi dengan ide-ide dari orang lain. Meminjam kata Dewi ‘Dee’ Lestari, “Hakikat sebuah gagasan adalah hidup di alam bebas” atau quote lain, “Tulisan yang sempurna adalah tulisan yang tidak dipublikasikan”. Mungkin tidak sama persis, tapi intinya gagasan itu ditumbuh-kembangkan via komunitas. 

Semakin intens kita menghadirkan diri, berarti semakin kuat pula personal branding yang kita bangun di sana. 

Kalau niche content kita itu serieus banget nget semisal soal pekerjaan kantor, cocok tuh kalo ikut community di LinkedIn. Saya sendiri masih ngulik ya, bagaimana supaya bisa sukses di sana. Tapi saya yakin pasti ada caranya. 

Cari Proyek 

Tidak sepanjang waktu proyek berjalan terus. Adakalanya klien sedang sepi, sehingga kita harus mencari proyek yang baru. Bisa menghubungi atau menemui klien lama, atau bertanya-tanya di network yang sudah terjalin (ini pentingnya ikut komunitas!). Di sinilah pentingnya belajar menulis proposal dan menjual/menawarkan pekerjaan. 

Tunjukkan Nilai Tambah 

Professional blogger harus membuat konten yang bermanfaat tapi tidak usang bagi pembacanya. Di samping itu, dia harus terlihat atau dikenal berwawasan di topik tersebut. Demonstrasikan bahwa dengan merekrut anda, atau memberikan anda sebuah proyek lepas (dahulu), maka anda akan memberikan nilai tambah pada keseluruhan pekerjaan klien. 

Be Professional. 

Jadi profesional (saja). Buktikan dengan memiliki kualitas (berupa nilai tambah untuk klien) dan tepat memenuhi tenggat waktu. Manajemen pekerjaan/proyek dan waktu. Latihan dan berkarya terus untuk melatih kualitas pekerjaan kita. Salah satu ukuran penulis profesional juga bisa dilihat dari penggunaan tanda baca. Apakah dia teliti terhadap penggunaan tanda baca seperti titik, koma, titik koma, garis miring, dan lain sebagainya. 

Konklusinya adalah professional blogger itu berat jadi biar aku saja. Tapi kalau personal brand dan niche content-nya sudah dapat, maka semua upaya, latihan, uang dan waktu yang dilakukan akan terbayar lunas. 

Why Join Community

Salah satu komunitas yang saya ikuti adalah komunitas blog SatuMingguSatuCerita Pernah nge-test ikut komunitas lain yang lebih offline. Namanya CSWC (CS Writer’s Club).  Setelah sekali datang, gak pengen datang lagi.

  • Pertama, karena akan pulang malam. At least jam 9 malam.
  • Kedua, karena rekan-rekan di sana pada menulis fiksi di tempat. Memang konsepnya gitu sih. Dikasi tema/topik, dan diberi waktu setengah jam. Otomatis, most of them menulis fiksi.
  • Ketiga, not entertaining enough. Sebab, kebanyakan pada tertunduk seakan berdoa ke layar smartphone membaca teks yang mereka tulis. Sementara, saya sukanya tampil mempresentasikan (alias public speaking) si teks yang saya tulis itu.

Ikut komunitas itu butuh waktu, energi, dan duit. Setidaknya, ada duit yang “tidak apa-apa” kalau dibelanjakan untuk komunitas tersebut. Misalnya, untuk kopi darat. Atau berbelanja sesuatu “buah karya” dari komunitas tersebut. Di 1M1C, kami pernah menulis antologi bersama-sama sih. Proyek kolaborasi gitu. Tentu hak komersil bukunya ada di penerbit ya. Para penulis bisa sebagai distributor. Tapi namanya reseller kan ya, tetap aja kami terima bukunya juga tidak gratis. Jadinya kami juga yang membeli.

Kalau ditanya berapa komunitas yang saya ikuti, rasanya cuma satu ini. Tidak sanggup waktu, energi dan uang untuk ikut banyak komunitas. Ini pun lebih banyak digital. Kalau yang lain, lebih pilih ikut grup WhatsApp aja. Monitor di situ. Jadi silent reader. Tidak hanya WAG, tetapi juga Grup Telegram, kadang-kadang ada. Karena grupnya sudah kelewat banyak, maka tidak semua juga berhasil dipantau. Hehehe. Padahal udah ada messaging app semacam LINE yak. Berhubung generasi saya kayaknya sedikit yang di situ, jadilah gak main yang dari korea itu. Hehehe.

Ikut Komunitas Digital

Ketika komunitasnya berupa digital saja, potensi pengembangannya jadi lebih besar. Tidak semata satu kota. Bahkan bisa sampai satu Indonesia. Nanti kopi darat (kopdar) saja yang khusus per kota.  Community-nya juga bisa lebih akrab via WhatsApp, facebook group, Telegram atau tagar-tagar Twitter/Instagram. Seingat saya, yang pernah kopdar di 1M1C baru Bandung dan Kendari saja.

Dengan ikut komunitas, jadi sadar di atas langit masih ada langit. Hehe. At least jadi tahu bahwa ternyata masih ada (dan masih banyak) yang lebih jago daripada gw. Dan gw harus bisa bertumbuh dan berkembang lagi. Gapapa ya, berniat dulu. Meskipun belum minat belajar atau mencoba, apalagi punya waktu dan kemampuan untuk melakukan. Hehe.

Jejaring

Network kayak begini di komunitas belum tentu worth it lho kalau cuma sebentar. Katakanlah setahun. Kata mentor saya dulu, berhubungan itu minimal 3 tahun kalau target kita ingin merasa akrab dengan orang lain (baca: teman kantor atau klien), misalnya. Yuk bahas sedikit.

Terlalu cepat pindah kantor, bisa berarti kita belum cukup akrab dengan orang-orang di dalamnya, lho. Kapan hari ngobrol sama teman. Insight-nya adalah dua tahun di suatu kantor itu adalah “cuma”. Alias “hanya”. Ekstrimnya, kalau kita minta tolong, akan terasa gak enak. Karena basically, kita belum akrab dan hangat sama yang bersangkutan.

Pindah kantor sampai 3 kali dalam 3 tahun juga enggak baik di mata orang-orang recruiter. Antara berkesan gak bisa membetahkan diri, atau malah mengesankan ini orang enggak bisa apa-apa. Agak subjektif sih, tapi emangnya udah menghasilkan prestasi apa kalau cuma setahun di sebuah company?

Demikian juga dengan klien. Belum tiga tahun, berarti belum akrab. Memang PR sih, bagaimana caranya supaya ada proyek terus selama tiga tahun pertama. Karena harus menambah kenalan terus dari proyek yang pertama. Apakah tim dari pelanggan yang bersangkutan, atau berkenalan dengan yang satu level posisi dari beliau, atau bahkan berkenalan dengan atasannya dia sendiri. Sambil berjalan mengenal nama demi nama, sembari memperkenalkan kompetensi diri/institusi yang kita mewakili.

Saya semakin yakin dengan parameter “tiga tahun” ini. Karena “teman yang sebenarnya teman” adalah yang non-formal seperti ini. Bukannya meremehkan pertemanan dari ruang kuliah (alias yang sejurusan), atau pertemanan di SMP-SMA, tetapi seringkali terasa terlalu kaku. Harus melalui birokrasi kantor lha, hanya di jam kantor, dan seterusnya. Karena dua hal tersebut, seringkali tidak bisa cepat dan gesit. Agile alias gesit, emang jadi kosakata yang makin penting belakangan ini. Kayak para pelaku freelance, kan. Pada high agility semua.

Pertemanan dari aktivitas kampus (di luar ruang kuliah) juga demikian. Aktivisme mahasiswa baru worth it ketika kita lebih dari setahun terjun di kemahasiswaan. Nah itu, angka “tiga tahun” berarti memang aktivis sejati, ‘kan. Sedari masuk kuliah sampai dengan (minimal) menjadi pengurus aktif di suatu himpunan/BEM/unit kegiatan mahasiswa (UKM). Lagi-lagi, kalau sudah berteman akrab yang demikian lha, maka kita bisa produktif dan cepat tatkala berkolaborasi kembali di kemudian hari.

From Sales Perspective

As a salesman, salah satu ukuran yang penting bagi saya adalah seberapa banyak orang baru yang saya kenal. Dari sebuah community, idealnya adalah ketemu dengan community yang lain lagi. Dengan kata lain, kalau saya duga sebuah acara/komunitas tidak mungkin mempertemukan saya dengan kenalan baru, saya pikir-pikir lagi untuk ikut atau bergabung dengan community tersebut. Bukan pilih-pilih berteman, lebih tepatnya udah umurnya untuk mulai lebih pintar mengelola waktu, konsentrasi dan network.

Closing: Kelebihan 1M1C

Balik lagi ke komunitas 1Minggu1Cerita. Komunitas blogger ini punya beberapa keunggulan, meskipun saya belum memaksimalkan keunggulan dan kelebihan tersebut. Di antaranya, adalah:

  • Tuntutan punya (minimal) sebuah cerita untuk diposting, mengubah kita menjadi blogger yang produktif. Meskipun kadang-kadang saya nge-post tulisan saya di di tempat lain, semisal dari modest.id
  • Tim admin rutin mengingatkan kita untuk menulis (lalu nge-post tulisan tsb) dalam pekan tersebut. Bila enam pekan berturut-turut enggak posting, maka bisa di-kick dari grup WA. Gak harus gabung WAG-nya, tetapi pertemanan bisa lebih intim ye kan, kalo join WAG-nya.
  • Ada polling tulisan favorite. Tapi saya gak selalu sempat ikut membaca lalu nge-vote, nih. Kalau masuk nominasi, at least kita jadi paham bahwa ada yang membaca post kita, hehehe. Rasanya happy banget tatkala ada postingan yang menang voting.
  • Tulisan harus disetor. Saya biasanya setor tulisan (lengkapnya adalah nama, nomor member, tanggal menulis/menyetor, serta link tulisan) di websitenya 1M1C. Tapi komunitas ini ada aplikasi mobile-nya sendiri. Jadi bisa posting dari sana juga. Sekarang kan era-nya apa-apa di-mobile-app-kan saja. Meskipun belum tentu si user punya memori yang cukup untuk ng-install-nya. Hehehe.
  • Ada challenge untuk menulis tema tertentu (yang sudah divoting oleh para member) sebanyak sekali dalam sebulan. Biasanya saya jarang ikutan menulis postingan bertema ini. Hahaha.

Sekian aja lha ya, postingan tentang community ini. Semoga bermanfaat.

11 Kesalahan Blogger Pemula

Anda yang membaca postingan ini pastinya beruntung sekali. Saya dulu meraba-raba bagaimana meningkatkan kemampuan saya dalam blogging. Saat itu referensinya belum banyak. Nah, harapan saya adalah tips menulis blog ini bermanfaat untuk kamu para blogger pemula.

Kurang fokus pada tujuan blogging

Kurang fokus pada tujuan blogging itu sendiri. Blogger pemula memposting segala yang ingin ditulis. Padahal konten perlu konsistensi topik. Apa jadinya kalau tidak konsisten? Brand dari blog jadi tidak terbangun. Kenapa saya harus baca blog anda untuk topik tersebut, dan bukannya membaca blog yang lain? So, tips menulis blog yang pertama adalah blogger pemula harus punya tujuan nge-blog supaya brand blognya terbangun.

Kamu juga bisa merujuk ke post-nya kak Eka tentang tujuan nge-blog.

Bingung mentarget audiens

Bingung mentarget audiens. Audiens kan ada beragam ya. Expert banget ada, sampai level pemula juga ada. Tidak bisa semuanya dilayani. Jika tidak demikian, nantinya ada expert memandang rendah blog Anda karena masih ada konten untuk pemula. Sebaliknya, level pemula belum waktunya untuk diberikan konten yang “berat”. Tips menulis blog yang kedua adalah memperbanyak konten yang relatif sederhana, sehingga mudah ditemukan oleh mesin pencari. Kalau konten yang berat, cocoknya untuk “penikmat konten” alias pengunjung langganan.

Lupa mengekspresikan diri

Lupa –atau malah terlalu sering– mengekspresikan diri. Penghadiran diri Anda dalam tulisan jelas penting. Setidaknya itulah ciri bahwa tulisan tersebut adalah Anda. Namun demikian, terlalu sering mengekspresikan diri berarti narsisme tingkat tinggi. Begini tips menulis blog yang terbaik dari saya: Tulislah seakan-akan kamu sedang bercakap-cakap dengan seseorang.

Abai terhadap SEO

Abai terhadap SEO — Search Engine Optimization. Entah terlalu fokus dengan konten, sehingga lupa si SEO. Atau terlalu SEO sehingga konten malah kurang menarik. Alias tidak memberi nilai manfaat ke pembaca — yang menemukan banyak teks tanpa hubungan satu sama lain. Tips menulis blog yang berikutnya adalah berikan perhatian yang cukup (tidak berlebihan) terhadap SEO.

Tidak mengorganisasikan konten

Tidak mengorganisasikan konten. Ini bukan konten tidak boleh mengalir ya — justru itu harus. Melainkan harus jelas yang mana pembuka — atau latar belakang mengapa konten tersebut ditulis, isi, hingga penutup — atau berisi tentang bagaimana mengaplikasikan poin-poin yang disarankan dalam kehidupan sehari-hari. Tips menulis blog: structure, structure, structure. Since structure is everything.

Main tulis aja- lupa editing

Main tulis saja, tapi melupakan editing. Salah ketik (typo) itu akan menunjukkan ke-amatir-an Anda. Blogger pemula harus belajar menjadi profesional sejak awal, dong. Kesalahan-kesalahan tersebut juga mengganggu pembaca — karena mereka malah akan fokus pada kesalahan Anda. Ingat kembali proses penulisan: research – draft – publish – edit.

Sering ingin sempurna

Sering ingin sempurna (perfect). Akibatnya jarang merilis (publish) tulisan. Terlalu banyak riset. Jadi bingung menuangkan ide-ide ke dalam suatu tulisan utuh. Atau sudah mulai menulis draft. Sarannya adalah tidak usah sempurna. Ada quote yang menarik bahwa, “Tulisan yang sempurna adalah tulisan yang tidak pernah ditulis”. Namun, untuk menyempurnakan, silakan rilis tulisan tersebut. Dan lihat bagaimana para pembaca anda memberikan komentar. Seiring waktu, Anda bisa memperbaikinya. Atau bahkan menghasilkan ide tulisan utuh yang baru.

Inkonsisten

Inkonsistensi. Ada dua yang harus konsisten: (1) konsisten menerbitkan konten, dan (2) konsisten pada kualitas konten. Untuk yang kedua, kata lainnya adalah standard kualitas. Proses kontrol harus dijalankan sebelum tulisan terbit. Di sinilah pentingnya proses editing sebagai sebuah bentuk kontrol kualitas tulisan.

Tidak promosi konten

Tidak promosi konten. Di era internet –sekaligus social media–promotion is a must. Bahkan promosi telah menjadi proses ke-5 yang harus dilakukan setelah research-draft-publish-edit.

Belum menghimpun leads

Belum menghimpun leads. Asumsi dasarnya adalah tidak semua orang cocok dengan konten kita. Dengan kata lain, konten kita pasti ada target pasarnya. Nah untuk target pasar kita, kita bisa mengoptimalkan hubungan antara konten kita dengan target pasar tersebut. Caranya adalah melalui berlangganan konten dari kita. Para pelanggan inilah yang kita sebut sebagai leads. Jadi dia harus submit email sehingga dapat menjadi pelanggan tetap kita. Plugin SumoMe yang membantu saya dalam menghimpun leads.

Belum paham tipografi

Belum paham tipografi. Konten di blog tidak bisa hanya teks saja. Full text hanya membuat kita sakit mata. Sehingga pengunjung jadi malas membaca. Harus ada pembagian paragraf. Di mesin WordPress, sekali enter saja sudah cukup memberikan jarak antar paragraf yang baik. Jumlah baris maksimal dalam paragraf adalah lima baris. Dan lain sebagainya.

Demikian 11 pelajaran yang harus kita kuasai sehingga kita dapat beranjak dari sekedar blogger pemula menjadi blogger yang lebih profesional.

6 cara konsisten nge-blog

Di bawah ini ada 6 cara supaya sukses konsisten nge-blog. Cara (1), (2) dan (3) udah jadi saran yang banyak banget. Dan itu tetap “koentji” utama supaya bisa konsisten nge-blog. Saya coba tambahkan 3 cara yang lain ya di cara (4), (5), dan (6).

(1) Nge-blog terkait hobi. Karena hobi, maka langsung/tidak langsung akan melakukan pencarian bahan (riset) terkait tema tersebut. Hasil riset merupakan sumber bahan yang kuat dalam nge-blog.

(2) Topik gado-gado. Biasanya berasal dari pengalaman pribadi blogger. Kelebihannya adalah bahan yang luas untuk dijadikan artikel. Tapi kelemahannya adalah jadi kurang konsisten pada suatu topik tertentu.

(3) Tekad yang kuat. Pastinya harus ada niat dan tekad yang kuat untuk terus-menerus menulis dan mem-posting tulisan. Minimal niat semacam “biar gak kelamaan gak update”. Atau “kan udah bikin target satu minggu satu tulisan”, dst.

Nge-blog dalam suatu waktu itu ibarat lari –dalam suatu waktu tertentu–, menurut saya. Harus dimulai, dan harus sampai finish. Dalam bahasa saya, finish itu adalah mencapai jumlah kata tertentu. Contohnya ya 500-an kata tadi.

Kalau sedang ada ide, tapi tidak di depan komputer? Lebih baik ditulis dulu di smartphone kesayangan kamu –cie, yang ditengokin tiap saat selama 24 jam penuh, dari bangun pagi sampai tidur lagi, hehe–. Bisa di aplikasi notes biasa, atau yang siap synchronize kapan saja ketika ketemu internet –semisal Evernote atau Google Keep.

Minimal poin-poinnya dulu. Pengembangan lebih lanjut sebagai draft bisa pas sudah bertemu dengan wordpress.

(4) Kumpulan postingan. Bahas semua postingan kamu sebelumnya dalam sebuah artikel. Contohnya bisa dilihat di postingan saya yang (short) story of my life. Atau di new year resolution marketing. Keduanya coba merangkum beberapa postingan terkait dalam satu judul artikel.

(5) Pengembangan kata kunci. Cari inspirasi dari keyword apa yang pernah dicari oleh pengguna internet, sehingga dia kemudian menemukan blog anda. Nah tentu ada keyword yang ternyata sering muncul di suatu pekan, atau bulan tertentu.

Saya lihat postingan tentang nikah atau S2 ini banyak yang menyimak. Jadi saya dapat ide postingan lain yang masih terkait dengan postingan tersebut. Hasilnya adalah Kuliah S2 sambil Kerja dan Cara Menabung untuk S2.

Gunakan keyword tersebut untuk mengembangkan tulisan serta mengejar panjang tulisan. IMHO (Ini Mah Hanya Opini), artikel blog bisa kuat menyampaikan gagasannya jika disampaikan dalam minimal 500-an kata.

Di sisi lain, suatu tulisan bisa jadi pilar sebuah blog, konon ketika panjang tulisannya mencapai minimal 1000-an kata. Ini masih tantangan bagi saya dalam memenuhi target volume kata tersebut.

Untuk mengejar target, seringkali saya kaitkan dengan hal-hal lain. Seperti misal dalam postingan Sedikit tentang Sales dan Gap Komunikasi Pemasaran.

(6) Content planning. Nge-blog yang konsisten itu berarti nge-blog yang serius. Mungkin kontennya tidak serius, banyak fun, lucu dan penuh canda. Tapi ternyata blogger tersebut melakukan perencanaan konten.

Inilah nge-blog yang serius. Jadi di samping serius menulis, punya rencana penulisan juga. Setelah membuat rencana penulisan, yang harus dicicil berikutnya adalah draft tulisan. Kebetulan wordpress sangat membantu sekali dengan tombol “save draft”.

Jadi begitu ada ide, bisa dituliskan dulu sebagian. Minimal sebagai draft, syukur bila memang ada waktu dan bisa langsung klik tombol “publish”.

Nge-blog yang pakai content planning itu udah mirip organisasi media beneran. Mereka pasti tetap berusaha aktual ya. Ada peristiwa apa yang baru terjadi, dan berusaha diliput lengkap, detil, berikut analisisnya.

Akan tetapi, supaya bisa survive perusahaan media harus punya content plan. Semua media massa (majalah, koran, TV, dll) punya rencana materi dalam beberapa edisi ke depan. Minimal ada content plan (dan draft) sebagai pegangan dulu. Rilis materi bisa mengikuti wants (keinginan) audience saat itu.

Sudah ada 6 cara supaya bisa konsisten nge-blog. Mungkin dari kamu ada tambahan yang lain? Silakan komentar di bawah ya 🙂