How to treat writer’s block

Saya merasakan, dua kali menunda menulis dan nge-post tulisan, maka selanjutnya akan lebih malas lagi. That’s why ada blog yang berdebu dan bersarang laba-laba kan? (Lebay banget).

Simpel. Karena sekali tidak nge-post, maka ghiroh untuk menulis juga menghilang. Perasaan excited setelah sudah posting, ikut menghilang. Seakan kita “lupa” rasanya, “lupa” pula jalan untuk kembali ke sana. Kalau mengaku sebagai penulis, sudah sepatutnya tahu cara untuk kembali ke sana dan merasakannya lagi.

Itu dari sisi “feeling” ya. Beda lagi dari sisi “konten”. Ada topik-topik tertentu, yang kita dengan mudah menuangkannya dalam bentuk tulisan. Dalam hal ini, perencanaan dan proses produksinya bisa sekali jalan. Katakanlah, hanya butuh Lead. Itu adalah sebuah kalimat atau paragraf pertama yang menjadi pancingan, dan entah bagaimana menunjukkan (to show) kepada kita akan “cara” untuk mencapai akhir (finish) dari tulisan. Seiring dengan terbiasa menulis, maka cara-cara tersebut akan semakin familiar.

Bagaimana dengan content planning? Ini adalah teknik lain ya untuk tetap produktif. Ada yang merencanakan kontennya di jurnal masing-masing secara offline ya. Ada juga yang tanpa rencana, langsung mengembangkan draft di blog masing-masing. Jangan heran kalau ada blogger yang punya puluhan draft tanpa deadline rilis yang pasti. Kalau saya, first draft-nya saya buat di Trello, sebuah mobile app, lalu saya pindahkan dan kembangkan lebih lanjut di Ms Word. Versi finalnya harus dalam bentuk Ms Word. Sekalian jaga-jaga ya kan, kalau harus migrasi blog (lagi).

BACA JUGA:  Review Blog Anak Dagang

Kelebihan dari planning the content adalah kita jadi punya kesempatan untuk melakukan riset lebih mendalam. Mencari, memperbanyak, dan menuangkan lebih lanjut beberapa perspektif terhadap suatu topik. Kita juga bisa menambahkan beberapa detil, angka, atau contoh yang memperkuat argumen atau gagasan kita. Kelemahannya jelas: riset itu tidak pernah mudah dan selalu memakan waktu. Banyak tidaknya waktu yang dihabiskan, tergantung seberapa panjang dan kokoh konten yang kita targetkan. Apakah sekedar artikel, atau bahkan dalam wujud buku.

Ikut komunitas

Yang saya rasakan, memulai untuk menulis lagi terasa lebih berat ketika kita terakhir melakukannya berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan yang lalu.

How to treat this type of writer’s block? Cara lainnya adalah dengan ikut komunitas. Di komunitas 1Minggu1Cerita (1M1C), grouping-nya ada dua. Di WhatsApp Group (WAG) dan di web www.1minggu1cerita.id. Kita akan di-kick secara otomatis dari web kalau tidak “melapor” atau “setor” (dalam bahasa anggota komunitas tersebut) pranala (link) artikel terbaru di blog, selama 6 (enam) minggu berturut-turut. Kalau sudah demikian, tinggal tunggu saya di-remove oleh admin dari WAG. Btw, saya salah satu adminnya. Tapi bukan saya yang nge-kick. Itu terlalu tega bagiku. Huhuhuhu 😀

Where to post my thought?

Untuk tulisan curhat (curahan hati, untuk yang belum tahu) yang biasanya bersifat “internal” saja, saya tidak post ke blog. Melainkan sekedar merangkai kata dan kalimat di Ms Word, lalu disimpan di laptop. Atau, dengan menuangkannya di personal journal saya. Jurnal tersebut tidak sebatas curhatan ya, berbagai rencana dan evaluasi juga saya tuangkan di sana. Dengan melakukan semua ini, saya seakan-akan sedang “berpikir, berbicara, dan berdiskusi” dengan diri saya sendiri. Sesuatu yang selalu dilakukan oleh seorang introvert.

BACA JUGA:  Mari Bicara Sastra Kontemporer

Mengapa demikian? Saya kira tiap manusia punya dua dimensi ya. Dalam dan luar. Internal dan eksternal. Tidak semuanya bisa secara sembarangan ditempatkan. Ada yang bisa, ada yang tidak. Salah satu teknik yang mem-bisa-kan adalah dengan membagi tulisan tersebut ke dalam dua bagian. Pertama, bagian “curhat”-nya. Bagian kedua, tips and trick menangani situasi dan kondisi yang demikian. Sesuatu yang sebenarnya tidak selalu saya lakukan. Tapi bisa dilakukan kalau hatimu butuh wadah untuk menuangkan. Di sisi lain, tidak ingin memalukan diri sendiri. Bahkan, malah fight back dengan memberikan tips and trick mengatasi hal tersebut.

So, each of my thought has its own channel to publish. I hope you, too.

As for myself, saya melihat segala “eksternal” dan “luar” yang saya sebut di atas, sebagai suatu saluran yang seharusnya mem-branding diri kita. Untuk terlihat smart, cool, atau berbagai atribut keren lainnya. Yang mungkin ujung-ujungnya, tanpa bermaksud naif atau munafik, ternyata adalah “jualan”. Baik itu jualan produk, promosi event, atau semacamnya. Di sisi lain, saluran-saluran eksternal ini bisa juga kita optimalkan untuk hal yang sesederhana “berbagi kebaikan”.

Salah satu tantangan dalam ber-blogging ria, menurut saya adalah, bagaimana memisahkan ranah privat dengan ranah publik. Ada lho, blogger yang “dituduh” kelewat mengumbar kehidupan rumah tangganya. Sesuatu topik yang bagi blogger-blogger lain, tidak perlu diceritakan di medium blog. Topik-topik yang sekalipun kamu ingin sekali menuangkannya, tapi kamu tidak perlu merilisnya. Biarlah itu ditulis dan disimpan untuk dirimu sendiri.

BACA JUGA:  6 cara konsisten nge-blog

Meskipun, harus diakui bahwa, sebagaimana saya katakan di awal, rutin menulis itu nyaris wajib hukumnya (hehehe), namun rutin nge-posting? Mungkin harus dilihat lagi ya. Mana yang bisa diposting di internet dan dibiarkan abadi berada di dalam sana. Dan mana yang didokumentasikan untuk dikonsumsi oleh diri sendiri, lagi, di suatu waktu nanti. Mohon maaf post ini tidak persis sama dengan judulnya. Tapi itu pendapat saya. Barangkali kamu punya pikiran lain? Silakan share di kolom komentar, ya.

2 thoughts on “How to treat writer’s block”

    1. Haha. Iya. Eranya cloud, memang. Jadi apa-apa di cloud yah. Kalau saya masih semi cloud gitu lha. Belum hijrah sepenuhnya.
      Oiya, so far hanya di ms. word yg ada word counter nya. Jadi masih bolak-balik ms.word untuk nge-check jumlah katanya. Adakah saran untuk ini?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *