Effective Proofreading

Kiat melaksanakan proofreading yang efektif. Agar naskah kita bebas typo dan kesalahan lainnya, serta enak dibaca oleh para pembaca.

Salah satu tugas penulis, adalah menyunting tulisannya sendiri. Penyuntingan ini dilakukan setelah setelah proses penulisan – supaya proses penuangan ide tidak bercampur-aduk dengan penyempurnaan naskah itu sendiri. Selanjutnya, penyuntingan dilakukan oleh copyeditor/proofreader

proofreading
Flow-nya tulisan tidak disebutkan di gambar ini. Padahal, flow tulisan juga termasuk yang perlu diperiksa ulang.

Satu aktifitas yang dilakukan dalam proses penyuntingan adalah proofreading. Yaitu upaya menemukan kesalahan dalam naskah –sehingga kemudian bisa disunting menjadi naskah yang lebih baik. Kesalahan yang dimaksud di sini termasuk kesalahan penggunaan tanda baca, ejaan, konsistensi dalam penggunaan nama atau istilah, hingga pemenggalan kata –di sinilah manfaat belajar suku kata di Sekolah Dasar (SD) dulu.

Maaf karena saya belum menemukan padanan proofreading dalam bahasa Indonesia, ya. Ada siy, yang menyebutnya uji-baca

Secara umum, tugas penyunting agak unik, memang. Satu di antaranya adalah berperan sebagai “ahli nujum” yang berupaya menemukan “apa yang tidak ada”. Misalnya, antar kalimat, paragraf, atau bagian lain dari naskah yang tidak masuk di akal, atau diskontinyu alias berhenti atau gak nyambung dengan bagian lainnya.

Proofreading Tools

Peralatan (tools) apa saja yang dipakai untuk proofread? Untuk naskah berbahasa Inggris, ada Grammarly.com (bisa diekstensi ke browser dan langsung proofreading naskah kita di Google Docs), Dictionary.com, Google Translate, Thesaurus.com, Oxford Dictionary. Yang terakhir saya sebut ini adalah buku kamus cetak English-to-English 4th edition (tahun 2011) milik saya. 

BACA JUGA:  Mari Bicara Sastra Kontemporer

Dalam menggunakan berbagai perangkat tersebut, kita perlu mengenali elemen-elemen berbahasa yang dirasakan penting dalam suatu bahasa. Sebagai contoh, di Bahasa Inggris, perihal singular (tunggal) dan plural (jamak) ini penting untuk diperhatikan. Salah penggunaan, bisa disemprot oleh Grammar Nazi; sebutan untuk mereka yang menegur/memarahi orang yang salah dalam penggunaan grammar. Bahkan yang bukan Grammar Nazi pun, cukup memperhatikan perihal singular-plural ini. 

Untuk Bahasa Indonesia ada KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) dan PUEBI (Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia, dahulu EYD, Ejaan Yang Disempurnakan). Semua perlengkapan tersebut di atas merupakan alat bantu dalam menulis dan menyunting. 

Prinsipnya, bahasa adalah alat berkomunikasi. Poin utamanya bukan soal baku atau tidak baku yang mana kita bisa mengacu pada peralatan-peralatan tersebut. Namun seni berbahasa adalah bagaimana menyampaikan gagasan dengan kata dan kalimat yang dipahami oleh kedua pihak yang sedang berkomunikasi. 

Menarik memang sih, kalau memerhatikan bagaimana kita berbahasa di social media. Di instagram, facebook, twitter, blog, dan lain sebagainya, sering banget kita mengabaikan tata bahasa yang baku. Meski demikian, yang tidak baku demikian gak sepenuhnya salah, kok. Itu kan medium bersosialisasi. 

Pentingnya Tata Bahasa 

Mengapa dokumen -tertulis- hampir wajib hukumnya memiliki tata bahasa yang baik? Karena sesudah tertulis di sana, kita tidak akan tahu akan menyebar ke mana. Tidak hanya dokumen, konten blog yang ditulis dengan baik juga enak untuk kita sebarkan pranala-nya ke manapun juga. 

BACA JUGA:  Reflection on 2019 site analytics

Bagi para pelaku usaha, wajib juga hukumnya memiliki proses penatabahasaan yang baik. Ini kaitannya dengan citra (image) profesional si perusahaan. Seberapa serius sebuah perusahaan dalam mengeksekusi proyek/produk, sedikit-banyak bisa terukur dari dokumentasi dan penulisannya. Misalnya, proposal penawaran, laporan proyek, laporan akhir tahun, dan lain dokumen-dokumen sebagainya. 

Di beberapa penerbit, ada kepala penyunting (editor-in-chief) yang ditargetkan untuk mencari naskah tambahan dari luar. Posisi ini biasanya cukup senior atau dicari yang berpengalaman. Karena harus punya perasaan dan intuisi yang valid terhadap potensi bisnis dari suatu naskah. Profesi ini sedikit sekali atau bahkan tidak lagi berkutat dengan tata bahasa suatu naskah.

Omong-omong, beberapa di antara kita masih keliru membedakan beberapa profesi yang sering tertukar definisinya satu sama lain: copywriter, copyeditor/editor/proofreader, dan editor-in-chief.

  • Copywriter : penulis periklanan, 
  • Proofreader : pemeriksa naskah 
  • Editor-in-chief : pemimpin tim editor, serta pencari naskah baru 

Tipografi 

Kata lainnya adalah komposisi. Jadi bagaimana suatu teks disusun: panjang kalimat, jumlah baris dalam paragraf, dan lain sebagainya agar koheren satu sama lain dan enak dibaca. Tipografi termasuk hal yang wajib diperhatikan para proofreader. Tulisan yang terlampau padat kata, belum tentu jadi sarat makna. Menjadi tugas para proofreader untuk mengefektifkan kalimat tersebut. Jarak antar paragraf yang terlampu dekat juga bisa menyulitkan pembaca.

Tipografi juga meliputi bagaimana penggunaan bullet points dalam menyampaikan gagasan kita. Senada dengan bullet points, image juga bisa dipakai untuk memberikan komposisi yang cantik dalam artikel kita. Di medium yang bisa dipercantik seperti blog, tipografi atau komposisi akan memberikan keterbacaan yang tinggi.

BACA JUGA:  Netiquette dan Cyberbullying

Lihat juga tulisan lain yang terkait: 

Leave a Reply