Kilas Balik 2021

Bagi saya, tahun 2021 adalah tahun yang menukik tajam lalu mendaki sedikit secara perlahan.

Alhamdulillah masih hidup dan masih bertahan hingga akhir tahun 2021 ini.

Meski gak kayak roller coaster yang naik turun, tapi tahun ini memang banyak down-nya.

Pandemi tahun ini, masih sama seperti pandemi di tahun sebelumnya. Mengerikan dan kita harus berhati-hati.

Alhamdulillah masih punya pekerjaan. Selalu bersyukur kalau mengingat bahwa saya ini punya kerjaan. Karena masih banyak banget yang gak punya kerjaan dan membutuhkan pekerjaan.

Salah seorang rekan saya, Iqbal namanya, yang profesinya di industri pariwisata terhempas habis-habisan akibat pandemi, berpendapat,

Kerja itu memang capek, tapi lebih capek gak kerja.

Iqbal, 2021.

Matur suwun Iqbal, atas nasihatnya. Jadi bersyukur masih punya pekerjaan dan selalu bersabar atas tantangan apapun dalam pekerjaan. Termasuk di antaranya adalah mengikuti vaksinasi supaya bisa melanjutkan hidup.

Suntik Vaksin

Saya vaksin pertama dan kedua di Rukun Warga (RW) tempat tinggal kami. Saya di bulan Februari dan April. Istri pasca melahirkan alias dalam peran sebagai ibu menyusui. Vaksinnya jenis Sinovac. Tidak ada KIPI berarti yang kami rasakan.

Cacar Air

Seingat saya, gak pernah tuh saya Cacar Air. Tapi saya pernah Cacar Api. Berhubung istri belum pernah, maka dia terserang dari anak-anak. Jadi sempat ada tiga pasien cacar di rumah.

Diagnosisnya baru tegak hanya dua pekan sebelum lahiran dan itu mengubah semuanya. Dari berharap lahiran normal, menjadi terpaksa menjalani operasi caesar.

Lahir

Paruh pertama tahun ini kami isi dengan ‘menunggu’ lahiran kedua. Periksa kandungan sebulan sekali bersama Anak Dua ke dokter Okky Haribudiman di RS Melinda 2.

Tetapi kami lahiran di RS yang berbeda. Baca: Pengalaman Melahirkan di RS Grha Bunda. Bersukacita karena ada yang datang dan berdukacita tatkala ada yang pergi.

Meninggal Dunia

Sebulan lebih pasca kedatangan anak bayi, rupanya ada yang “kontrak”-nya sudah habis. Dan kami harus merelakan kepergian beliau. Hebatnya, beliau rasanya masih hadir di tengah-tengah kami ini. Omong-omong, beliau suka dengan sembilan karena angka tersebut memiliki keberuntungan (hoki) tersendiri. Baca: Jumlah Sembilan.

Baca juga: Pengalaman Mengurus Akta Kematian dan Pengalaman Sidang Penetapan Ahli Waris.

Saya merasa kurang sering dan kurang banyak mengobrol dengan beliau (baca: Call Your Parents). Meskipun tidak bisa mengajari saya dengan baik, namun tetap saja saya banyak mengambil hikmah dari beliau. Khususnya pasca saya menikah, pasca punya anak, bahkan pasca beliau meninggal pun, selalu ada hikmah yang saya petik.

Saya bertekad, supaya saya juga menjadi pengajar yang baik bagi anak-anak di rumah.

Cerita hidup saya pun dilanjutkan dengan pulang kampung dahulu selama satu pekan disebabkan peristiwa besar tersebut. Rupanya, setelah cacar-lahir-meninggal, masih ada satu lagi.

Demam Berdarah

Hari Senin tersebut saya sudah tidak nyaman bekerja. Akhirnya minta izin supaya bisa istirahat sehari esoknya. Di Hari Selasa, tidak tahan dengan gejala demam dan sakit kepala, saya memaksakan diri ke dokter. Kata dokter, istirahat tiga hari ya: Rabu, Kami, Jumat. Namun, pengambilan sampel harus dilakukan Hari Rabu demi menegakkan diagnosis.

Kamis bertemu dokter lagi, ditanyakan masih bisa lanjut istirahat di rumah atau mau opname saja? Rupanya si penyakit belum mencapai puncaknya. Kalau di rumah akan ramai sekali dan sulit beristirahat. Kalau di RS maka sendirian tidak ada yang bisa menemani.

Akhirnya rawat inap selama empat malam. Kamis sore periksa darah untuk penegakan diagnosis: apakah demam typhoid (tipes) atau demam berdarah. Kamis malam ada rontgen untuk pengecekan covid atau tidak.

Jumat dan Sabtu saya ada mengkonsumsi Psidii Syrup 60 mL. Selain sudah bisa beristirahat panjang dengan nyaman dan menu bergizi dari RS, saya kira ekstrak tersebut juga membantu menaikkan trombosit saya.

Alhamdulillah Senin pagi saya bisa meninggalkan RS. Total 5 hari 4 malam di RS. Yang paling saya syukuri adalah, saya lebih dahulu menginap di RS bahkan sebelum penyakit mencapai puncaknya.

Mudik

Hampir dua tahun tidak pulang kampung karena pandemi, kali ini kami memaksakan mudik. Tidak dengan kereta api karena masih banyak kekhawatiran, khususnya karena membawa bayi, maka kami memutuskan lewat jalur tol saja. Baca: Pengalaman Menempuh Tol Trans Jawa.

Selain melepas rindu, si “anak baru” juga diperkenalkan dengan Yangti (eyang putri) dan Yangkung (eyang kakung). Selanjutnya saya mudik sendiri untuk menemani seorang janda yang baru saja ditinggalkan oleh suaminya. Ini harus saya lakukan, karena surga-nya saya di bawah telapak kaki beliau.

Mudik yang ini direncanakan 2-3 bulan ke depan hingga melewati pergantian tahun.

Kesimpulan saya tentang tahun 2021 adalah tahun yang menukik tajam lalu mendaki sedikit secara perlahan. Mudah-mudahan badai lekas berlalu. Karena tidak ada kesulitan yang tidak diikuti dengan kemudahan.

Dan di penghujung tahun inilah, kita sama-sama menanti pergantian ke tahun yang baru. Sampai jumpa di 2022!

Tertipu Dulu Belajar Kemudian

Bagaimana saya menjadi lebih bijak dalam berinvestasi, pasca terjerat skema ponzi.

Peristiwa ini terjadi hampir 10 tahun lalu. Zaman masih bodoh dan naif. Hahaha.

Waktu itu baru memulai bekerja di perusahaan. Masih meraba sana-sini soal bisnis. Industri apa, produknya apa, kira-kira berapa marjin keuntungannya.

Jadi, sudahlah masih belajar (baca: bodoh), naif (baca: serakah) pula.

Uangnya banyak banget sampai gak masuk koper ya? Tunggu dulu, apa benar itu semua uang dia?

Ceritanya, saya dapat kenalan dari seseorang yang saya juga belum terlalu kenal, sebetulnya.

Orang ini butuh modal untuk membiayai proyeknya. Produknya pesanan/orderan busana muslim. Kalimat andalannya,

“Ada PO nih, kang. Mau ikutan, tidak?”

Dia menjanjikan laba 10%. Jadi kalau setor modal Rp2juta, baliknya Rp2,1juta. Kalau Rp5juta, kembalinya Rp5,5juta. Komitmennya dia dalam sebulan hasil sudah dibagikan.

Saya bertemu si beliau ini di warung ramen miliknya di lokasi kost-kostan yang dekat dengan suatu universitas swasta di Bandung. Dia bercerita tentang proyek fesyen yang digelutinya.

Singkat cerita, saya tandatangani kontrak lalu saya transfer ke rekening bank miliknya.

Sesuai komitmen, sebulan kemudian dia mengontak saya untuk pengembalian modal berikut bagi hasilnya. Dan seperti janjinya, hasilnya menggiurkan. Sepuluh persen dalam 30 hari saja. Tetapi diikuti dengan tawaran lain,

“Mau dilanjut gak, kang?”

atau,

“Mau tambah modalnya gak, kang? Sama. 10% per bulan”

Kalau belum waktunya si duit dipakai, saya setuju untuk diputar lagi.

Sesekali, jika ada dana menganggur, saya memasukkan tambahan modal ke “usaha”-nya dia.

Tapi jika sedang ada kebutuhan, saya menarik modal berikut hasilnya tersebut. Lebih sering via transfer, tapi 2-3 kali saya terima kontan (cash). Salah satu tempat saya bertransaksi adalah warung ramen miliknya. Bukan di tempat yang pertama, tapi di dekat kampus swasta yang lain. Jadi, hanya dalam 2-3 bulan saja, rupanya dia sudah membuka cabang yang baru.

Pada suatu malam, saya masih di kantor, tiba-tiba saya dapat kabar mengejutkan. Bahwa, si beliau ini mulai tidak bisa membayar. Alias “mengembalikan” modal berikut hasil yang dijanjikan.

Memang sih, belakangan itu mulai telat. Dari beberapa hari menjadi 1 pekan, lalu menjadi 2 pekan.

Nah dari sanalah mulai terkuak bahwa saya dan seorang teman (yang saya ajak sendiri) mengetahui bahwa “korban” yang seperti kami ada banyak. Ada puluhan orang dengan kumulatif outstanding (yaitu total rupiah yang harus dikembalikan) sebesar 2-3 milyar rupiah. Ada yang berani meminjam saudara/keluarga hingga menyetor lebih dari Rp100juta. Saya sendiri terjerat di kisaran puluhan juta.

Pada suatu weekend, rekan-rekan “investor” yang sudah tidak sabar lagi datang menyerbu rumah beliau yang notabene masih tinggal bersama orang tua. Rekan-rekan yang kalut tersebut menyerang dengan kata-kata dan mencaci orang tua si pengelola dana ini.

Saya lebih banyak diam. Saya lebih banyak merenungi sikap dan tindakan saya sendiri terhadap dana yang menjadi kelolaan saya. Yang seharusnya bisa saya pertanggung-jawabkan dengan lebih baik untuk saya, keluarga, dan rekan-rekan yang menitipkan modal dan kepercayaannya.

Teman-teman yang paham situasinya akhirnya memilih untuk merelakan. Lain halnya dengan yang tidak menerima penjelasan saya, memilih agar saya menggantikan uang yang hilang tersebut. Saya berusaha menyelesaikan tanggung jawab tersebut. Alhamdulillah lunas semua tidak lama kemudian.

Sebenarnya, saya sudah punya feeling sejak bertamu ke warung ramen cabang kedua. Tetapi, saya terlalu positive thinking untuk mempertanyakan kenapa bisa secepat itu membuka cabang kedua. Seharusnya saya bisa lebih kritis dalam mencari tahu duitnya dipakai untuk belanja apa dan berapa sebenarnya hasil dari semua perputaran tersebut.

Pelajaran yang Bisa Diambil

Berikut adalah beberapa pelajaran keuangan, khususnya mata pelajaran investasi yang bisa dipetik:

Kenali apa itu Ponzi

Apa itu skema Ponzi, siapa itu Charles Ponzi, dan skema apa yang dilakukannya. Referensi tentang Ponzi sudah terlampau banyak sehingga teman-teman bisa membacanya sendiri.

Sekedar contoh, ini juga termasuk skema Ponzi:

Hal ini berangkat dari Jiwasraya yang menjanjikan fixed return kepada nasabah dengan rate sampai dengan 14 persen dan memberikan garansi jangka panjang untuk nasabahnya yang membeli produk JS Saving Plan. Menurut Hexana, skema ini membuat perusahaan harus menggunakan setoran premi dari anggota untuk membayarkan klaim yang jatuh tempo setiap hari.

https://www.republika.co.id/berita/qrs83n318/generasi-instan-dan-fenomena-ponzinomics-di-indonesia

Belajar Sabar

Seperti saya sudah bilang di atas, referensinya sudah banyak banget. Baik tentang Ponzi maupun skema-skema penipuan lainnya. Namun, yang gak bisa dipelajari tetapi harus dipraktikkan adalah belajar sabar.

Ini tantangan berat sebenarnya ya. Mengingat internet dan generasi milennial sudah pula lahir bersama, tumbuh-besarnya juga bersama-sama. Dan salah satu ciri khasnya adalah suka yang instant-instant. Alias, tidak mau bersabar.

Padahal, kunci dari investasi adalah sabar. Sebagaimana Warren Buffet bilang, bunga yang berbunga-bunga (compound interest) adalah teman baiknya investor. Tetapi, investor butuh waktu. Alias investor harus belajar sabar.

Mengelola Harapan

Sabar itu bukan hanya sabar menunggu dan menjalani waktunya ya. Tetapi yang termasuk dalam sabar adalah dalam mengelola harapan (set the expectation).

Bahasa keuangannya adalah “kenali instrumen investasi yang anda pilih“. Maksudnya adalah ketahui segala keuntungan, stabilitas, dan risiko dari produk investasi tersebut.

Dari sisi pemberi dana, kita bisa membagi dua ya. Ada kreditur (pemberi hutang) dan ada investor. Pemberi hutang, seperti bank, biasanya meminta pengembalian yang pasti jumlah dan pasti (terjadwal) waktunya.

Sementara itu, apa yang seharusnya diterima oleh investor? Yaitu kenaikan harga saham (ketika dijual kembali) dan dividen (sisa hasil usaha setelah dikurangi dengan laba ditahan).

Itulah mengapa saya berikan tanda kutip pada salah satu kata “investor” di atas. Karena menyebut dirinya investor, tetapi menghendaki hasil yang tetap dan diterima sesuai jadwal.

Bagaimana Saya Sekarang?

Lama sudah sejak peristiwa yang saya ceritakan di atas, yang terjadi saat ini adalah:

  • Saya yang sekarang lebih santai, alias lebih sabar, dan tentu saja tidak bersikap instant dalam menunggu dan menjalani investasi.
  • Dan semakin saya mengenal profil risiko saya pribadi, saya akhirnya lebih banyak memilih instrumen investasi yang lebih aman. Ada kriteria aman yang puluhan tahun digunakan, yaitu 5C: Charater, Capacity, Capital, Condition, dan Collatera.
  • Seiring dengan semakin paham dan bijaknya saya melihat suatu peluang bisnis, saya jadi lebih “egois” juga untuk tidak berbagi risiko dengan orang lain. Iya, donk. Kalau berkolaborasi dalam investasi, hendaknya rugi sama-sama dan untung juga bersama-sama. Kalau hanya mau untungnya saja, tapi tidak mau ruginya, itu namanya serakah.

Demikian cerita saya kali ini, semoga ada hikmah yang bisa diambil ya.

Oiya, di bawah ini ada beberapa insight soal financial planning. Mudahan-mudahan bisa bermanfaat juga.


Pengalaman Sidang Penetapan Ahli Waris

Meskipun tidak sebanyak sidang perceraian, tetapi saya coba bagikan pengalaman saya menjalani sidang penetapan ahli waris.

Di Pengadilan Agama (PA) ada beberapa jenis sidang, tiga di antaranya adalah sidang perceraian (cerai), sidang hak asuh anak, dan sidang penetapan ahli waris.

Dua yang pertama, ada “lawan”-nya. Sementara yang terakhir saya sebut, bisa jadi “tanpa lawan” ketika semua ahli waris bersepakat untuk menyelesaikannya secara kekeluargaan/damai alias tanpa sengketa.

Ilustrasinya pakai timbangan dan palu. Kita mengharapkan ketetapan sidang yang seadil-adilnya menurut ajaran Agama Islam.

Pengadilan Agama yang berlokasi di tingkat kota/kabupaten, hanya menangani perkara-perkara dalam lingkup Agama Islam saja. Di luar itu, dilakukan di Pengadilan Negeri (PN).

Secara umum, proses sidang penetapan ahli waris hanya terbagi 3 tahap:

  1. Pendaftaran/Pengajuan Sidang
  2. Sidang Pertama
  3. Sidang Kedua (bersama saksi) sekaligus pembacaan ketetapan.

Jadi, keluaran (output) dari suatu sidang adalah dokumen tertulis yang selanjutnya kita sebut “ketetapan”.

1 Pendaftaran Sidang

Pada prinsipnya, sebelum berkas dinyatakan “diterima” oleh pihak PA, kita lengkapi sedetil-detilnya berkas yang dibutuhkan yang di antaranya adalah:

  • Akta kematian dari kelurahan-kecamatan. Surat ini dibuat berdasar surat kematian dari rumah sakit atau lembaga yang berwenang.
  • Identitas terakhir dari almarhum(ah), yaitu Kartu Keluarga (KK) dan Kartu Tanda Penduduk (KTP).
  • Akta Kelahiran almarhum(ah).
  • Bila almarhum(ah) meninggal dalam keadaan menikah, maka buktikan dengan Buku Nikah. Sebaliknya dalam keadaan sudah cerai, dibuktikan dengan Akta Perceraian.
  • Fotokopi KTP dan KK dari para ahli waris. Ingat, ahli waris belum tentu anak-anak dari yang meninggal saja ya. Bisa saja ada saudara kandung dari almarhum(ah) yang ternyata merupakan ahli waris.
  • Kalau almarhum(ah) sebelumnya pernah menikah (alias menikah dua kali atau lebih), maka lampirkan juga Buku Nikah dan Akta Cerai atas pernikahan-pernikahan yang sebelumnya. Kalau mantan pasangannya sudah meninggal juga, dibuktikan dengan Akta Kematian dari mantan pasangan tersebut.
  • Banyak materai Rp10.000,-

Biaya sidang ditentukan dari jarak pemanggilan oleh PA kepada para ahli waris. Jika Ahli Waris ada sepuluh orang, maka ada 10 pemanggilan/undangan. Lalu ditambah biaya administrasi. Bisa gunakan alamat surat-menyurat bila alamat domisili merepotkan dan menyebabkan pembengkakan biaya sidang.

Di PA Balikpapan, ada kok lembar yang memuat apa saja komponen biaya sidang itu (termasuk berapa biaya pemanggilan yang dibagi tiga menurut radius jaraknya). Lembar tersebut ‘kan ibarat “daftar menu” kalau di restoran. Terus terang, berkat lembar ini kami tidak ada mengeluarkan “dana siluman” yang se-ikhlas-nya itu sepeserpun. Malah, karena sidang hanya dua kali, ada sebagian dana yang dikembalikan. Kami mengambilnya di loket kasir.

2 Sidang Pertama

Sidang pertama berisi pengecekan oleh majelis hakim, yang terdiri dari dua hakim, satu panitera, dan dipimpin oleh hakim ketua mengenai data dan informasi yang diberikan secara tertulis maupun tanya-jawab secara lisan.

Yang perlu saya garis bawahi adalah adanya pertanyaan-pertanyaan seputar orang tua dari almarhum. Standard saja: nama, masih ada atau tidak, kalau sudah meninggal, tahun berapa meninggalnya. Informasi ini tentu diperiksa kesesuaiannya dengan Akta Kelahiran almarhum.

Apakah semua ahli waris harus hadir? Secara teori, iya. Tetapi pada praktiknya tidak mudah ‘kan. Di era internet ini, apalagi dalam situasi pandemi, sangat mungkin ahli waris “dihadirkan” via whatsapp atau zoom. Makanya, cantumkan alamat surat-menyurat saja, jangan alamat sesuai KTP. Sehingga di hari-h sidang, apabila diperlukan, bisa video call saja dengan ahli waris yang nun jauh di sana.

Pada prinsipnya, persiapkan diri saja apabila majelis hakim ingin mendalami lewat pertanyaan-pertanyaan yang lebih detil. Namun, mengingat terbatasnya waktu (di sidang kedua kami, ada 31 sidang yang harus diselesaikan oleh majelis hakim di hari tersebut), sangat mungkin majelis hakim melewati hal-hal yang dirasa tidak perlu tetapi kita sudah siapkan dokumennya.

3 Sidang Kedua

Secara konten, sidang kedua sama dengan sidang pertama.

Hanya saja kesesuaian dokumen tertulis dan pernyataan lisan di sidang pertama, diperiksakan kepada 2 (dua) orang saksi yang sudah dihadirkan oleh para ahli waris. Majelis hakim menghendaki sebisa mungkin, kedua saksi tersebut merupakan keluarga dan satu generasi dengan almarhum(ah). Tentu saja syarat tersebut tidak wajib. Dan pastinya, saksi disumpah terlebih dahulu –secara agama islam– sebelum memberikan kesaksian.

Saran: lakukan briefing kepada para saksi sebelum sidang kedua. Terkait dengan kebenaran data dan informasi yang dikumpulkan secara tertulis maupun lisan. Tidak ada salahnya menyiapkan sedikit corat-coret untuk memudahkan para saksi mengingat tahun-tahun penting. Iya, sidang ini sedikit mirip dengan ujian.

4 Ketetapan Sidang

Sidang pertama hanya berjarak 1-2 pekan dari pengumpulan berkas. Kami sempat bolak-balik tiga kali perihal menanyakan kelengkapan berkas. Di kesempatan keempat, baru kami berhasil mengumpulkan sesuai persyaratan.

Sidang kedua berjarak satu pekan saja dari sidang pertama. Kedua sidang sama-sama di hari kami.

Kami mengambil ketetapan sidang (yang sudah dibacakan dan diketuk palu di sidang kedua), pada hari Senin berikutnya.


Demikian sharing dari saya perihal Sidang Penetapan Ahli Waris. Seperti saya bilang, kalau tidak ada “lawan”-nya maka dua kali sidang sudah cukup.

Tetapi berbeda jika pihak “lawan” tidak menghendaki alias menolak tuntutan dari penuntut. Semisal sidang gugatan cerai, atau perebutan hak asuh anak yang sangat mungkin berbuntut panjang. Di hari kami sidang kedua tersebut, ada satu sidang talak yang akan bersidang untuk ke-8 kalinya.

Mudah-mudahan artikel ini bermanfaat. Bila ada pertanyaan atau hal lain ingin dibagikan, boleh banget mengisi kolom komentar.

Pengalaman Mendaftar Haji Tahun 2020 di Bandung

Proses pendaftaran haji tidak ribet. Cukup siapkan dana Rp25 juta per calon jamaah untuk tabungan haji dan beberapa dokumen saja. Lengkapnya ada di artikel berikut ini.

Ayah dan Ibu saya naik haji di usia sekitar 37 dan 35 tahun. Sementara saya dan istri, in shaa Allah akan berangkat di usia hampir 50 tahun. Tidak heran karena semakin tahun, pendaftar haji semakin banyak. Sementara kuotanya hanya sekitar 1% dari jumlah penduduk setiap negara.

Pendaftaran haji itu berarti kita mendaftar untuk mendapat kursi. Nah, kursi ini bisa didapat dengan memiliki tabungan haji senilai Rp25juta/nasabah. Jadi, harus membuat tabungan haji dulu, lalu diisi hingga tercapai nominal tersebut.

Saya dan istri membuka tabungan haji di Bank Syariah Mandiri (BSM) cabang Dago, Bandung. Kebetulan bank tersebut sudah merger dengan bank-bank syariah negara lainnya dan berganti nama menjadi Bank Syariah Indonesia (BSI).

Syarat di Bank

  1. KTP dan NPWP (bagi yang memiliki).
  2. Setoran awal buka rekening Tabungan Mabrur sebesar Rp100.000.
  3. Setoran awal BPIH sebesar Rp25.000.000.
  4. Meterai Rp10.000 sebanyak 3 lembar.
  5. Pas foto haji dengan latar belakang putih (ukuran 3×4 6 lembar dan ukuran 4×6 3 lembar).

Ketentuan Pas Foto untuk Pendaftaran Haji

Pas foto untuk haji ternyata sedikit berbeda dari pas foto biasa. Dari lembar info yang dikasih BSI, ketentuan pas foto untuk haji yaitu:

  • Warna baju/kerudung harus kontras dengan latar belakang.
  • Tidak memakai pakaian dinas.
  • Tidak menggunakan kacamata.
  • Tampak wajah minimal 80%.
  • Bagi jamaah haji wanita menggunakan busana muslim.

Memiliki Tabungan Haji

Setidaknya, ada dua keuntungan dengan memiliki tabungan haji:

Dari bank, selanjutnya kita akan mendaftar di Kemenag dengan membawa dokumen-dokumen berikut yang diberikan oleh pihak bank:

  1. Surat Kuasa/Wakalah, isinya pemberian kuasa dari kita kepada Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) untuk mengelola seluruh dana BPIH yang kita setorkan.
  2. Surat Pernyataan Calon Jamaah Haji, isinya pernyataan bahwa sudah memenuhi persyaratan haji, dkk.
  3. Tanda Bukti Setoran Awal Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji, isinya bukti bahwa bank sudah menerima setoran kita, dan di situ juga tertera nomor validasi.

Pendaftaran di Kemenag Kota Bandung

Di Kemenag Kota Bandung yang berlokasi di Jalan Soekarno-Hatta No.498, Kelurahan Batununggal, Kecamatan Bandung Kidul, Kota Bandung, Jawa Barat 40212.

  • Berusia minimal 12 tahun pada saat mendaftar.
  • KTP yang masih berlaku sesuai domisili.
  • Kartu Keluarga.
  • Akta Kelahiran atau Surat Kenal Lahir atau Kutipan Akta Nikah atau Ijazah (salah satu).
  • Buku Tabungan Mabrur atas nama jamaah yang bersangkutan.
  • Nomor Validasi Pembayaran Setoran Awal BPIH.

Seingat saya, ada kekurangan dalam jumlah pas foto. Jadilah di salah satu kios di Kemenag tersebut, yaitu kios untuk print dan fotocopy, saya cetak beberapa lembar pas foto lagi.

Kios satu lagi adalah warung makan, hehe. Kami makan soto di sana. Hahaha.

Biaya Naik Haji

Uang Rp25juta yang menjadi syarat, bukanlah nilai akhir Ongkos Naik Haji (ONH) yang berbeda-beda di tiap embarkasi. Embarkasi adalah istilah untuk pelatihan bagi calon jamaah haji yang sekaligus menjadi titik keberangkatan/penerbangan dari Indonesia.

Kota Bandung, sepertinya akan berangkat dari Jakarta (Rp34.772.602,-) untuk tahun 2021. Jadi kekurangan inilah yang harus dilunasi menjelang keberangkatan ke tanah suci.

Beberapa Catatan:

  • Ada perasaan menyesal karena baru mendaftar haji. Antara 17-19 tahun kami harus menunggu. Tapi ya memang sudah begitulah jalan ceritanya. Karena menikah dulu baru memutuskan daftar haji, ‘kan. Haha. Gak seru kali ya kalau masih single sudah mendaftar haji
  • Karena haji bersifat “wajib bagi yang mampu” dan antrean haji itu panjang serta lama, maka saya sarankan daftar haji dulu saja. Nanti kalau ada rezeki, baru berangkat Umroh. Kisaran Rp30 juta bisa dapat akomodasi yang cukup. Yes, nilai segitu relatif mirip lha ya sama minimal isi tabungan untuk mendapat porsi haji.
  • Semua proses pendaftaran di bank dan kemenag sebenarnya bisa selesai dalam satu hari. Namun, saya kemarin bolak-balik ke bank. Karena miskomunikasi perihal pasfoto yang 80% berisi wajah tersebut.

Demikian singkat cerita saya tentang mendaftar haji di Kota Bandung. Barangkali ada pertanyaan atau tanggapan, silakan berbagi di kolom komentar ya.

Pengalaman Menempuh Tol Trans Jawa

Disclaimer: saya gak menempuh seluruh tolnya, kok. Hanya mulai dari Kertajati sampai Tambak Sumur saja.

Preliminary

Kami sangat suka naik kereta untuk perjalanan antarkota. Namun, karena akan membawa bayi dan situasi kondisi masih pandemi, kami tidak yakin untuk menggunakan moda transportasi yang satu itu.

Alasan mudik kali ini adalah sudah hampir 2 tahun tidak pulang. Apalagi kami mau memperkenalkan anggota baru kepada eyang kakung dan eyang putri, hehe. Jadi mumpung kasus sedang turun, diiringi dengan kewaspadaan, kami memilih moda transportasi yang lebih private. Instead of public transportation.

Awalnya, kami berencana menggunakan mobil tipe innova. Namun, mengingat kapasitas barang bawaan yang banyak, kami memutuskan mengganti dengan Hi-Ace. Sesama Toyota juga, hehehe.

Tentu saja harga sewanya berbeda. Siap-siap deh merogoh kocek lebih dalam. Namun, biaya BBM menjadi lebih ringan karena tidak menggunakan bensin Pertamax, melainkan pakai solar. Soal rincian biaya, saya terangkan di bagian akhir tulisan ini ya.

Kami tidak menggunakan tol pasteur ketika start dari Bandung. Karena alasan biaya. Hehe. Baru start menggunakan tol sejak di Kertajati. Itu lho, yang dekat dengan Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB). FYI, bandara ini sudah tersambung dengan tol ke arah timur Pulau Jawa. Tetapi belum tersambung ke arah barat. Pembebasan lahan masih berlangsung untuk tol Cisumdawu (Cileunyi – Sumedang – Dawuan).

Adventure Starts Here

Mulai berangkat jam 6.30 WIB ke arah timur, yaitu ke Jatinangor (salah satu kecamatan di Sumedang) via jalan AH. Nasution. Lanjut ke timur lagi ke pusat kota Sumedang. Kami terkejut karena rupanya jalur tersebut menanjak dan berkelok-kelok melebihi jalur ke Garut bagian selatan.

Sampai di dataran yang agak luas. Disangka sudah sampai di pusat kota Sumedang, ternyata itu adalah kecamatan Tanjungsari. You know lha, biasanya kecamatan-kecamatan yang “berdiri sendiri” ini punya ciri khas pasar tradisional yang terintegrasi dengan terminal. Mirip-mirip di kecamatan Lembang gitu.

Meninggalkan kecamatan Tanjungsari, kami “turun gunung” alias menuruni perbukitan dengan jalan yang berkelok-kelok lagi. Kalau tadi naik, sekarang turun. Dari sinilah baru menemukan pusat Kabupaten Sumedang. Lanjut lagi dengan perasaan yang sudah tidak tertarik karena cenderung membosankan. Apalagi karena menggunakan “supir tembak” kami harus terus mengingatkan beliau supaya tidak ngebut hingga 120km/jam.

Masuk gerbang tol di Kertajati. Mengalami kombinasi jalan aspal dan jalan semen. FYI, yang baik untuk ban kendaraan darat sebenarnya adalah jalan aspal, tetapi dengan anggaran pembuatan jalan raya yang sama, bisa diperoleh jarak jalan semen yang lebi jauh.

Total kami menggunakan rest area hingga 4 kali. Tidak semuanya rest area yang besar. Yang masih segar dalam ingatan adalah rest area km 166 di Cipali. Di sini, ada masjid yang disponsori oleh Bank Mandiri Syariah (sekarang BSI, ya).

Rest area berikutnya adalah km 429 Tol Ungaran – Bawen. Rest area ini penuh sekali. Berhubung kapasitasnya memang mumpuni, jadi segala kebutuhan makan, minum, istirahat dan sholat dhuhur tetap terpenuhi. Kami sempat membeli oleh-oleh Lumpia Semarang dan Kue Moci yang khas Semarang juga. Jangan tanya soal harga ya. Pastinya jauh lebih mahal daripada yang biasa. Karena ‘kan diposisikan sebagai “panganan oleh-oleh”.

tol trans jawa
Berhubung ini perjalanan bersama keluarga yang sudah jelas merepotkan, jadi ambil gambar cukup sekali ya. Sebagai bukti saya benar-benar menjalani adventure ini. Hahaha.

Dari rest area ini, tidak lama kami memasuki kota Solo. Di kota ini, sekilas saya lihat ada 4 gerbang tol. Salah satu di antaranya menuju Bandara Adi Soemarmo. Yang menggembirakan sekaligus melegakan adalah kami melihat plang hijau bertuliskan “Surabaya” yang berwarna putih. Artinya, tidak lama lagi akan sampai di Surabaya. Setelah lihat gmaps, rupanya kisaran 3 jam saja.

Selanjutnya, di jalur tol praktis tidak ada yang menarik. Kami sudah lelah dan bosan. Meski excited karena tidak lama lagi perjalanan akan berakhir, namun jalurnya relatif sepi kendaraan. Tidak heran, para mobil “pesaing” memacu gasnya hingga 140 km/jam. Lagi-lagi, kami selalu mengingatkan pak driver untuk tidak terpancing dengan “ajakan balapan” tersebut.

Kami tiba di kecamatan Rungkut, kota Surabaya jam 18.30 WIB. Jadi lama waktu perjalanan total mencapai 12 jam. Akan lebih cepat bila menggunakan jalur tol ya, tentu saja.

Feeling

Berhubung ini pengalaman pertama, jadilah ini experience yang sangat seru dan menarik. Lelah? Iya. Apakah ingin mencoba lagi? Tentu saja tidak, hehehe.

Sebagai penumpang kendaraan jalur darat dan volume kecil (Hi-Ace hanya memuat 8 orang, menjadi 9 dengan supir), kami sangat mengkhawatirkan keamanan dan keselamatan. Asal tahu saja, persentase kecelakaan tertinggi kan adanya di jalur darat seperti tol ya, bukan di jalur high-tech seperti terbang dengan pesawat. Dengan kata lain, meski perjalanan ini sangat menarik, tetapi kami harus terus waspada perihal kecepatan dan keselamatan perjalanan.

Cost

Berhubung ini bukan public transport yang pergi dari kota A menuju kota B, dengan asumsi akan mendapat penumpang di kota B, maka harga yang diberikan kepada kami merupakan harga yang dianggarkan untuk bolak-balik. Berikut adalah rinciannya:

Mobil 1.400K
BBM 1.600K
Driver 1.000K
Tol 1.500K
Uang makan driver balik 100K
Total 5.600K

Pengalaman Mengurus Akta Kematian di Kelurahan Sungai Nangka Kota Balikpapan

Dokumen terkait yang dibutuhkan dalam mengurus pembuatan Akta Kematian, serta manfaat dokumen Akta Kematian.

Setelah bermenye-menye tentang almarhum, meski masih terkenang dengan segala kebaikan beliau, dan tentu tidak ingin move on ya, maka izinkan saya menuliskan proses dan deliverable dalam menyiapkan dokumen Akta Kematian ya.

Pada dasarnya, Akta Kematian adalah dokumen dari negara yang menyatakan bahwa seseorang sudah meninggal dunia.

Ibarat kata, untuk urusan kenegaraan semisal waris, tanah/properti, kendaraan mobil/motor, maka harus didasarkan pada dokumen negara juga. Apakah seseorang yang sudah dinyatakan meninggal dunia oleh dokter di rumah sakit, lantas juga MD menurut negara? Belum tentu. Oleh sebab itulah kita wajib mengurus Akta Kematian ini.

Yang merilis Akta Kematian adalah kelurahan.

Namun, karena proses administrasi di negara kita ini berbasis kewilayahan, maka harus dimulai dari RT/RW tempat kita tinggal terlebih dahulu. Idealnya, segala yang terjadi di wilayah non-formal tersebut diketahui oleh RT/RW (lahir, meninggal, dsb). No wonder, harus “diantar” dengan Surat Pengantar dulu dari RT/RW ke Kelurahan, yaitu wilayah formal terkecil menurut negara.

Salah satu yang diantarkan adalah “Surat Keterangan Meninggal Dunia” yang bisa dikeluarkan oleh dokter di Rumah Sakit. Itu kalau MD di RS. Bagaimana jika MD ketika berkendara di jalan raya? Yang bisa merilis surat sejenis adalah kepolisian (mungkin Polantas, ya). Jika tidak keduanya, setidaknya ada surat sejenis dari wilayah tempat tinggal. Representasi negara dalam hal ini adalah Puskesmas. Jadi, dokter di Puskesmas perlu melakukan visum dan merilis surat tersebut. Saya kira, ini dilakukan kalau almarhum meninggal di rumah dan tidak dibawa ke rumah sakit.

Persyaratan Dokumen

Dokumen terkait yang dibutuhkan:

  • Surat Keterangan Meninggal Dunia
  • Kartu Keluarga (KK) almarhum
  • KTP almarhum
  • Form permohonan yang sudah diisi pemohon berikut fotokopi KTP pemohon
  • Pemohon juga membuat Surat Pernyataan bahwa sebelumnya, almarhum tidak pernah dibuatkan Akta Kematian
  • Dua saksi (nama dan tandatangan) berikut fotokopi KTP-nya

Syukur alhamdulillah, pengurusan tersebut semakin dimudahkan karena bisa dilakukan secara digital. Cukup dengan mengambil gambar (memfoto) dokumen-dokumen tersebut lalu mengunggahnya (upload) ke laman capil.balikpapan.go.id/layanan.

Manfaat Akta Kematian

Memangnya, dokumen Akta Kematian bisa dipakai untuk apa saja?

Di-Mudah-Kan

Dimudahkan: kata sederhana yang rupa-rupanya memiliki makna yang mendalam.

Awalnya, dimudahkan tuh kesannya seperti ada bantuan orang paling kuat se-negeri ber-flower seperti kita ini: orang dalam.

Tapi kemudian, dalam perjalanan pulang dari mengambil hasil RT-PCR tadi malam, saya jadi memaknai kembali apa itu “dimudahkan”.

Beberapa jam sebelumnya, istri mengingatkan tentang apa yg dimaksud “dimudahkan” itu. Karena gak ada yg benar-benar mudah ‘kan.

Malah dalam Alqur’an dinyatakan bahwa kesulitan itu seiring sejalan dengan kemudahan. “Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan”.

Reinterpretasi saya di atas kendaraan tadi malam, menjadi “Bersama tantangan ada ‘dimudahkan’ “.

Tantangan memang gak pernah habis ya. Karena hidup itu kan selalu dinamis. Terjadinya dinamika baik karena hidup yg berjalan terus ke fase-fase berikutnya, maupun faktor eksternal yg datang menghampiri dan memberikan hambatan maupun gangguan.

Baca Juga: My Life, My Adventure

Dalam pada itulah, kita perlu banget mengecek kembali “dukungan” Allah kepada kita. Adakah Tuhan sang pencipta, lewat semesta raya menunjukkan kemudahan (yaitu “kemudahan” yg disebut dalam ayat alquran di atas). Misalnya lewat proses yang lebih cepat, rintangan yg lebih sedikit, bala bantuan yg tiada henti, dan sebagainya.

Yang saya rasakan sendiri misalnya, 7 tahun lalu. Hanya kenal dengan seseorang selama 8 bulan, tahu-tahu sudah menjadi istri.

Peristiwa terbaru yang terjadi di hadapan adalah, betapa singkat dan “dimudahkan”-nya almarhum ayah kami menjalani sakaratul maut-nya. Hanya dua hari sejak masuk RS, beliau sudah berpulang ke Rahmatullah.

Beberapa pekan sebelumnya, beliau malah aktif banget berbagi ke rekan-rekan pensiunan dan para cucu. Ada sekian belas sajadah bulu tebal agar sholat semakin dimudahkan, dilancarkan, dan diperbanyak. Para cucu ada yg dihadiahi qurban, dibantu biaya lahiran, disponsori aqiqah, dan lain-lain.

Kami menginterpretasikan, mungkin beliau sudah menyadari waktunya yang semakin dekat. Ini adalah experience yg mungkin tidak bisa dialami oleh kita-kita yg masih hidup ya.

Di mana, kita banyak menyesali apa-apa yg tidak kita lakukan utk menyelamatkan beliau. Padahal di sisi almarhum, proses sakaratul maut yang tidak memakan waktu berminggu-minggu apalagi berbulan-bulan itu yg dinanti-nantikan oleh para muslim/muslimah seperti kita.

Akhir kata, perjalanan “pulang” menuju kampung akhirat bukanlah perjalanan sesaat. Melainkan persinggahan di dunia fana inilah yang seharusnya menjadi tempat kita mengumpulkan bekal sebanyak-banyaknya. Sebagaimana almarhum ayah saya yang selalu bersemangat dalam mencari nafkah, sholat ke masjid, mengaji Alqur’an di rumah, menyambung silaturahmi dengan keluarga besar maupun rekan seprofesi, hingga keringanan utk berbagi lewat sedekah.

Evolusi Komedi di Indonesia

Cara komedian memancing tawa memang berbeda-beda. Bukan karena orangnya saja. Tetapi dari waktu ke waktu pun juga berbeda. Tulisan kali ini membahas bagaimana komedi berevolusi dari satu bentuk ke bentuk lainnya.

Pada sharing session 1M1C yang terakhir, si narasumber, Mas Dimas Abi sempat menyinggung soal tren buku komedi bertahun-tahun yang lalu. Satu nama yang ketika itu populer adalah Hilman, yang terkenal karena “Lupus”-nya. Lupus adalah seorang anak muda (siswa SMA) dengan rambut berjambul yang suka memakan permen karet.

Justru bukan soal komedi, bahasan di sharing session tersebut adalah bagaimana kita memahami selera penerbit mayor. Kalau benar mau tahu soal tersebut, simak saja diskusinya di link YouTube berikut ini. Jangan lupa like, comment dan subscribe ya.

Maaf, maaf. Pembukaan posting ini kok ya gitu sih ya. Haha 🤣. Balik ke soal komedi.

Yang dulunya berupa novel ringan penuh canda ala Lupus, pelan-pelan berevolusi menjadi komedi dalam grup. Alias grup (me)lawak.

Sejauh bisa saya ingat, ada Bagito (Miing, Didin, Unang) dengan Ba-Sho (Bagito Show)-nya di layar kaca. Ada pula Empat Sekawan (Derry, Ginanjar, Eman, Komar) yang nama programnya saya lupa, tapi ditayangkan sore hari. Grup-grup layak ini lebih sering dilahirkan dari pertemanan sekaligus kontes (lomba) lawak. Dengan konsep konten/cerita dari mereka, kemudian dieksekusi oleh mereka pula.

Di tahun-tahun selanjutnya, masih menggunakan medium televisi. Belum layar kaca YouTube kamu yang rekomendasinya itu-itu saja 😜 Tapi grup lawak tersebut ‘berguguran’. Lebih karena para talenta di serial komedi (semisal Jin dan Jun, Tuyul dan Mba’ Yul) sudah diseleksi dan ditentukan. Penulis cerita yang sekaligus membuat set-up dan punch line, berasal dari Production House-nya.

Jadi di masa grup lawak, konsep dan eksekusi oleh mereka sendiri. Sementara di serial komedi di televisi, konseptor dan eksekutor adalah dua pihak yang berbeda.

Isi, format, dan pelaku adalah tiga komponen yang menyusun sekaligus menentukan arah tren komedi. Dinamika yang terjadi di ketiga komponen tersebut –selain selera pasar– ikut menyebabkan bentuk-bentuk akhir komedi jadi berbeda.

Di tahun-tahun berikutnya ada EXTRAVAGANZA yang mengambil format ‘sketsa’. Yang dibintangi Tora Sudiro, Mieke Amalia (kalian mungkin tahu apa yang terjadi dengan mereka berdua), Indra Birowo, Tike Priatnakusumah, Sogi Indra Dhuaja, Virnie Ismail, Aming, Ronal Surapradja, dll.

Sketsa adalah komedi yang identik dengan set-up yang berbeda-beda tergantung alur ceritanya.

Kalau Jin dan Jun, Tuyul dan Mba’ Yul ceritanya cenderung begitu-begitu saja dengan fokus dan detil pada punchline — sehingga membosankan karena pakem background and goal ceritanya ya itu-itu lagi. Maka di format sketsa, konsep dan alur cerita lebih beragam. Durasi tiap sketsa kurang dari 10 menit. Maka dari itu, dalam satu kali penayangan/episode, biasanya terdiri dari beberapa sketsa.

Sketsa yang belum lama ini ‘ditarik’ dari peredaran adalah PERISTAWA. Bintangnya ada Cak Lontong dan Denny Chandra. Konsep ‘sketsa’-nya sama dengan EXTRAVAGANZA.

Keduanya memang sering tampil bareng. Selain PERISTAWA, mereka juga join bersama di Indonesia Lawak Klub (ILK) dan Waktu Indonesia Bercanda (WIB). Konsep komedi di antara ketiga program tersebut berbeda-beda, meski dengan tokoh utama yang sama. Ya, Cak Lontong selain eksekutor, juga berperan sebagai konseptornya.

Dalam suatu podcast, Cak Lontong pernah membagikan masa lalunya di mana beliau sudah capek-capek membuat konsep, eh ternyata konsepnya diambil tetapi dirinya tidak ikut main. Belajar dari pengalaman yang mengenaskan tersebut, beliau berprinsip bahwa kalau ide programnya dari dia, maka eksekusinya juga harus melibatkan dia.

Baca Juga: Sang Penghibur

Stand Up Comedy

Nah, tipikal konseptor-eksekutor ini membawa kita lagi pada konsep komedi yang baru. Namanya Stand Up Comedy.

Saya senang dengan bentukan yang baru ini, karena kontennya segar dan autentik. Tiap komika (sebutan pelakunya) menghadirkan konten dan pengalaman pribadi. Jadi lebih orisinil. Tapi dengan ciri khas (atau personal branding) masing-masing.

Secara umum, terasanya lebih banyak dan beragam aja bagi kita penonton. Misal, kita menonton David Nurbianto yang banyak membahas per-ayah-an (tadinya per-betawi-an). Kemudian pindah ke Mongol Stress yang sering mengulas per-cucok-an. Kalau mau tau maksud “cucok”-nya gimana, lihat langsung penampilannya, deh. Hahaha 😂

Jadi, konten komedinya tidak saling memakan, malah saling “melengkapi”. Maksudnya, memberi kesempatan bagi penikmat stand-up untuk memilah dan memilih tontonan komedi stand-up yang diinginkan.

Yang Tidak Berubah

Dari dulu sampai sekarang, yang belum berubah dari komedi adalah seninya dalam memancing tawa.

Kalau di Stand Up, istilahnya set-up, set-up, punch line. Correct me if I am wrong ya, haha.

Begitu pula di bentuk-bentuk komedi pra-Stand Up. Dan semua “setting-an” tersebut tentu dalam rencana. Eksekusinya yang kembali ke bakat dan jam terbang masing-masing komedian.

Intinya sih, kalau bagi kita belum lucu, mungkin ya memang konsep komedinya aja yang belum kita pahami. Seperti belum pahamnya penonton dengan komedi slapstick. Itu lho yang baru lucu ketika mulai lempar-lemparan atau pukul-pukulan dengan properti di panggung 😁

Kalau ada opini soal komedi, boleh banget dibagikan di kolom komentar. Membecandai paragraf-paragraf yang sudah saya set-up di atas juga boleh. Hahaha 🤣

My Life My Adventures

Apakah suatu petualangan itu benar-benar adventurous rupanya kembali ke masing-masing ya.

Bos saya dulu, kerjanya bolak-balik Indonesia-India dan Indonesia-Cina. Kantornya yang utama membuat pabrik di kedua negara tersebut. Saya pikir itu pekerjaan dan petualangan yang menyenangkan. Masakan India yang lebih banyak memakai rempah daripada menu masakan Padang di kita. Atau segarnya sajian kuliner khas Chinese Food. Rupanya tidak. Berjam-jam terbang itu membosankan dan melelahkan, katanya.

Meskipun bukan anak pantai (son of a beach, 🤣) dan bukan anak gunung, saya menilai keduanya bukan petualangan, lho. Dua kali naik gunung bukan perjalanan yang asli menyenangkan dan saya ingin ulangi. Soal pantai, tiap kali pulang kampung ke kota minyak, selalu ke pantai. Jadi pantai itu B aja, sebenarnya.

Saya malah benar merasa bertualang itu kalau main ke kota lain setidaknya selama beberapa hari. Ikut menginap di rumah orang adalah best choice. Tentu pilihan ini tidak selalu tersedia ya kalau kita bersama anak dan pasangan. Lalu menikmati dan menyesapi kuliner lokal.

Saya pernah ada pengalaman “buruk”. Pergi ke Batam tetapi menu lunch-nya ala-ala Sunda gitu. Lauk yang diungkep bumbu kuning, kemudian digoreng. Lengkap bersama lalapan + teh tawarnya. Rasa makanannya terasa masih seputaran Bandung+Garut.

Jadi petualangannya bukan di daerah wisatanya. Melainkan ketika mengobrol dan berinteraksi dengan warga yang memang tinggal di sana. Menyelami bagaimana mereka hidup: berekonomi dan makan.

Itu saran pertama saya, ya. Kalau mau “bertualang” sekalian, maka merantaulah. Pindah kota, gitu. Pasti lebih sedap daripada sekadar beberapa hari main ke kota lain.

Benar lho. Daripada ke mall yang dari kota ke kota isinya itu-itu saja. No wonder, mayoritas mall kan dimiliki sese-grup usaha yah. Saya lebih pilih ke pasar tradisionalnya. Apa komoditi yang ada, atau lebih banyak daripada pasar-pasar tradisional di kota lain. Brambang (bawang merah) yang lebih besar dan umbi-umbiannya gak bergerombol. Ikan-ikan yang unik khas daerah tersebut, dan lain sebagainya.

Saran kedua: pindah kerja. Bila perlu, pindah industri sekalian.

Ada yang bilang, pekerjaan kan begitu-gitu saja. Menurut saya, tidak. Dalam pekerjaan kan ada interaksi antar manusia pekerja ya. Beda manusia, maka terasa beda di pekerjaannya.

Beda perusahaan saja terasa beda corporate culture-nya. Apalagi kalau sudah pindah industri. Industri seperti konsultasi, atau craftmanship-based seperti IT, menuntut kreatifitas. Sementara, bila bertualang di manufaktur, ke-kaku-annya bakal kerasa banget.

Lebih asyik lagi kalo bertualang jadi expert ke luar negeri. Atau sekolah di LN dengan beasiswa juga bisa. Sudah bertualang di pekerjaan/sekolah, bertualang juga soal kuliner, kebiasaan dan ekonomi warga setempat.

Status sebagai pasangan dan orang tua juga petualangan, lho. Bagaimana kita juggling dengan mengasuh anak-anak yang berbeda usia. Yang masih bayi butuh banget diurusi fisiknya, sementara kakak-kakaknya butuh treatment yang berbeda.

Di sisi saya sebagai pribadi, menonton film sekaligus browsing data-fakta menarik seputar sejarah (history) juga tidak membosankan. Pasca menamatkan dua “The End”-nya Rurouni Kenshin, saya tidak henti-hentinya curious tentang masa-masa sebelum restorasi Meiji yang terkenal itu. Sembari membayangkan bagaimana jika saya hidup pada masa itu: kebahagiaan dan penderitaan macam apa yang akan saya alami juga. Saya end up with another movie named “Samurai Marathon” to watch.

Jadi meski saya ini di rumah aja, tetap “travelling” ke mana-mana, kok. Email-email dari Online Travel Agent (OTA) seringkali saya cuhkan bahkan saya hapus. Karena kok masih lebih menarik “petualangan” saya di rumah ya.

Kembali ke pernyataan saya di awal.

Adventurous-nya suatu petualangan itu balik lagi ke perasaan masing-masing. Yang dialami bisa sama, tetapi how high or how low yang dirasakan itu berbeda-beda.

Lack of Communication

Lack of communication itu dalam bahasa Indonesia berarti kurang komunikasi. Masalah dari frase tersebut adalah ‘kurang’-nya di mana juga masih ‘kurang’. Alias masih sangat belum jelas. Tulisan kali ini mengeksplorasi apa saja yang bisa kita lakukan guna mencegah dan mengatasi komunikasi yang tidak efektif.

Frase ‘kurang komunikasi’ ini tuh mengingatkan saya ketika dulu sebagai mahasiswa berorganisasi di kampus. Frase yang sering disebut adalah ‘kurang koordinasi’. Hal ini berujung pada komunikasi yang tidak efektif.

Ineffective Communication

Yes, tapi di detail yang mana kurangnya? Koordinasi ‘kan komunikasi juga ya. Apakah dari pihak yang menyampaikan, atau pihak yang mendengarkan. Atau bahkan isi pembicaraan yang mungkin tidak seharusnya dibicarakan karena, let say, sudah seharusnya tahu-sama-tahu.

Seiring dengan semakin lamanya saya bekerja di perusahaan–yang notabene menuntut berkomunikasi dengan rekan satu tim, dengan departemen-departemen lain di kantor, maupun dengan klien misalnya, saya in shaa Allah, semakin baik dalam mencegah maupun mengatasi lack of communication ini.

Berikut adalah beberapa poin yang saya amati, pelajari, dan terus lakukan demi menghindarkan terjadinya kesalah-pahaman. (Ditulis tidak dalam urutan atau hierarki tertentu ya. Jadi semua memiliki tingkatan yang sama.)

Fun before serious

Semua urusan dengan orang-orang di kantor adalah urusan serius. Nah, sebelum serius, kita perlu have fun dengan mereka. Mulai dari tahu nama, wajah dan posisi. Pernah ngobrol, bahkan yang lebih advanced lagi adalah pernah bercanda. Idealnya, semua terlalui sebelum kita bekerja bersama secara serius.

Confirmation

Pastikan apa yang kita pahami, adalah sama dengan apa yang dipahami oleh lawan bicara kita. Either kita menanyakan, “Sudah paham? Ada yang ingin ditanyakan?” setelah kita memaparkan sesuatu.

Atau dalam posisi sebaliknya, kita bisa bertanya, “Maksud kamu begini, begitu, bla-bla, gini, gitu, ‘kan?”

Dengan melakukan konfirmasi, kita jadi yakin dan mantap bahwa kita dan lawan komunikasi kita sudah berada di ‘halaman’ yang sama.

Written Request

Jangan mengerjakan suatu pekerjaan yang tidak tertulis. Kita berangkat dari fakta bahwa semua karyawan sudah sibuk di posisi dan tugas-tugasnya — yang notabene jam kerjanya ‘hanya’ 40 jam per pekan. Jadi, jangan sibukkan kita maupun rekan-rekan kerja kita dengan pekerjaan yang sifatnya belum pasti.

Tidak pasti misalnya karena hanya disampaikan secara lisan — bisa diinterpretasikan sebagai ketidak-seriusan. Bentuk lain ketidak-pastian misalnya ketika yang mendengar perintah/permintaan akan tugas tersebut ada banyak. Sehingga tidak jelas siapa yang akan bertanggung jawab.

Poin saya di sini adalah, pastikan bahwa segala request dan penunjukan siapa yang mengerjakan, ada bukti tertulisnya.

Be Straightforward

Jangan berputar-putar dalam menjelaskan sesuatu. Memberikan analogi itu bagus. Memberikan contoh juga bagus. Tapi jangan lupakan juga pesannya alias ‘the message‘ harus lugas juga. Sederhana, tidak ambigu, jelas dan mudah dipahami.

Ketika merumuskan pesan ini, pertimbangkan kembali relevansi hal tersebut dengan lawan bicara kita. Kalau sudah relevan dan terkait dengan dirinya, maka pesan yang sudah lugas tersebut akan lebih mudah diterima.


Saya itu berangkat dari keluarga yang biasa tidak berkomunikasi secara lugas dan terbuka. Masing-masing menyimpan ekspektasinya terhadap anggota keluarga yang lain.

Dan ini terbawa ke luar rumah. Baik di sekolah, maupun di kantor — terutama ketika awal berkarir dahulu.

Kini, sudah jauh lebih baik. Namun, komunikasi kan sesuatu yang berkembang terus ya. Jadi harus belajar terus.

Yang sudah saya pelajari, sudah saya tuangkan dalam poin-poin di atas. Kalau ada pelajaran baru, akan saya bagikan lagi di blog ini. In shaa Allah.

Dukung terus saja blog ini.