Lack of Communication

Lack of communication itu dalam bahasa Indonesia berarti kurang komunikasi. Masalah dari frase tersebut adalah ‘kurang’-nya di mana juga masih ‘kurang’. Alias masih sangat belum jelas. Tulisan kali ini mengeksplorasi apa saja yang bisa kita lakukan guna mencegah dan mengatasi komunikasi yang tidak efektif.

Frase ‘kurang komunikasi’ ini tuh mengingatkan saya ketika dulu sebagai mahasiswa berorganisasi di kampus. Frase yang sering disebut adalah ‘kurang koordinasi’. Hal ini berujung pada komunikasi yang tidak efektif.

Ineffective Communication

Yes, tapi di detail yang mana kurangnya? Koordinasi ‘kan komunikasi juga ya. Apakah dari pihak yang menyampaikan, atau pihak yang mendengarkan. Atau bahkan isi pembicaraan yang mungkin tidak seharusnya dibicarakan karena, let say, sudah seharusnya tahu-sama-tahu.

Seiring dengan semakin lamanya saya bekerja di perusahaan–yang notabene menuntut berkomunikasi dengan rekan satu tim, dengan departemen-departemen lain di kantor, maupun dengan klien misalnya, saya in shaa Allah, semakin baik dalam mencegah maupun mengatasi lack of communication ini.

Berikut adalah beberapa poin yang saya amati, pelajari, dan terus lakukan demi menghindarkan terjadinya kesalah-pahaman. (Ditulis tidak dalam urutan atau hierarki tertentu ya. Jadi semua memiliki tingkatan yang sama.)

Fun before serious

Semua urusan dengan orang-orang di kantor adalah urusan serius. Nah, sebelum serius, kita perlu have fun dengan mereka. Mulai dari tahu nama, wajah dan posisi. Pernah ngobrol, bahkan yang lebih advanced lagi adalah pernah bercanda. Idealnya, semua terlalui sebelum kita bekerja bersama secara serius.

Confirmation

Pastikan apa yang kita pahami, adalah sama dengan apa yang dipahami oleh lawan bicara kita. Either kita menanyakan, “Sudah paham? Ada yang ingin ditanyakan?” setelah kita memaparkan sesuatu.

Atau dalam posisi sebaliknya, kita bisa bertanya, “Maksud kamu begini, begitu, bla-bla, gini, gitu, ‘kan?”

Dengan melakukan konfirmasi, kita jadi yakin dan mantap bahwa kita dan lawan komunikasi kita sudah berada di ‘halaman’ yang sama.

Written Request

Jangan mengerjakan suatu pekerjaan yang tidak tertulis. Kita berangkat dari fakta bahwa semua karyawan sudah sibuk di posisi dan tugas-tugasnya — yang notabene jam kerjanya ‘hanya’ 40 jam per pekan. Jadi, jangan sibukkan kita maupun rekan-rekan kerja kita dengan pekerjaan yang sifatnya belum pasti.

Tidak pasti misalnya karena hanya disampaikan secara lisan — bisa diinterpretasikan sebagai ketidak-seriusan. Bentuk lain ketidak-pastian misalnya ketika yang mendengar perintah/permintaan akan tugas tersebut ada banyak. Sehingga tidak jelas siapa yang akan bertanggung jawab.

Poin saya di sini adalah, pastikan bahwa segala request dan penunjukan siapa yang mengerjakan, ada bukti tertulisnya.

Be Straightforward

Jangan berputar-putar dalam menjelaskan sesuatu. Memberikan analogi itu bagus. Memberikan contoh juga bagus. Tapi jangan lupakan juga pesannya alias ‘the message‘ harus lugas juga. Sederhana, tidak ambigu, jelas dan mudah dipahami.

Ketika merumuskan pesan ini, pertimbangkan kembali relevansi hal tersebut dengan lawan bicara kita. Kalau sudah relevan dan terkait dengan dirinya, maka pesan yang sudah lugas tersebut akan lebih mudah diterima.


Saya itu berangkat dari keluarga yang biasa tidak berkomunikasi secara lugas dan terbuka. Masing-masing menyimpan ekspektasinya terhadap anggota keluarga yang lain.

Dan ini terbawa ke luar rumah. Baik di sekolah, maupun di kantor — terutama ketika awal berkarir dahulu.

Kini, sudah jauh lebih baik. Namun, komunikasi kan sesuatu yang berkembang terus ya. Jadi harus belajar terus.

Yang sudah saya pelajari, sudah saya tuangkan dalam poin-poin di atas. Kalau ada pelajaran baru, akan saya bagikan lagi di blog ini. In shaa Allah.

Dukung terus saja blog ini.

Jangan Mencari Bahagia

Ketika menulis post ini, vaksinasi sedang berlangsung. Tapi entah kapan tuntas mencapai herd immunity-nya. Bahkan, vaksin berbayar mulai ada. Start di jaringan Apotek Kimia Farma. Jadi, pandemi masih akan berlangsung dan masih akan lama baru tuntas.

Sebelum pandemi ini, banyak di antara kita berasumsi bahwa kepemilikan barang akan berdampak pada kebahagiaan. Rumah sendiri, mobil sendiri, dsb. Hal tersebut tidak sepenuhnya salah.

Yang mungkin menjadi kurang tepat adalah ketika keinginan memiliki tersebut didorong oleh keterdesakan. Alias perasaan ‘secepat-cepatnya’.

Kita tahu, bahwa industri keuangan kita memungkinkan ‘nafsu besar tenaga kurang’ tersebut lewat produk-produk yang mereka tawarkan: Kredit kepemilikan Rumah (KPR), kredit mobil, kredit perlengkapan rumah tangga (kulkas, dispenser, AC), dsb.

Namun, sifatnya yang ‘bayar di belakang, ketika uangnya sudah masuk’ ini akan bermasalah ketika datang masa di mana ‘uang tidak lagi mengalir’ masuk ke kantong kita.

Kapan itu? Ya sekarang ini. Ketika pandemi melanda seluruh dunia.

Barang dan uang mengalami perlambatan pergerakan. Imbasnya juga ke kita. Perusahaan dan dunia bisnis mulai tidak lancar menerima uang. Mulai ada PHK. Punya restoran atau usaha kecil atau mikro mulai mengalami penurunan pendapatan.

Akhirnya mulai sulit membayar cicilan, ‘kan.

Dari yang ingin bahagia dengan berbagai kepemilikan secara instan, berakhir dengan resah, gundah, galau karena macet dalam pembayaran.

Dari mana datangnya semua masalah ini?

Itu tadi. Ini diawali dari keinginan untuk memiliki berbagai barang pribadi secepat-cepatnya. Memanfaatkan apa yang disebut ‘hutang’.

Jadi instead of mengejar kebahagiaan, yang bisa kita lakukan sejak pandemi –dan mungkin seterusnya nanti– adalah berdamai dengan daya beli kita.

Alias, merasa cukup dengan yang ada.

Iya sih, ‘merasa cukup’ itu yang bagi beberapa orang, sulit untuk kita tahu. Karena ‘kan cukup yang pas itu beda-beda di tiap orang.

Kata saya, ini adalah dinamika perjalanan hidup juga ya. Bagaimana menyeimbangkan keinginan untuk bertumbuh (grow) di satu sisi kehidupan, dengan ‘merasa cukup’ di sisi yang lainnya.

Rasanya ‘kan grow juga ya. Kalau pindah dari kost ke kontrakan ke rumah sendiri. Atau dari angkoters – sepeda motor – mobil.

Hanya saja, ya itu, jangan terburu-buru dengan menggunakan hutang.

Kalau nasihatnya para financial planner adalah akumulasi cicilan utang jangan lebih dari kisaran 30%. Terhadap total pendapatan tetap ya. (Strateginya lain lagi kalau lebih banyak pendapatan tidak tetapnya. Ada di buku Freelancer 101).

Di sisi lain kehidupan pun, toh, kita pun bisa ‘merasa cukup’ dengan kontrakan. Sama-sama bernaung dari panas, hujan, dan dinginnya angin malam ‘kan.

Toh, angkot (atau public transport lainnya) juga membawa kita berpindah tempat dari satu titik ke titik yang lain. Apalagi sekarang ada ojek atau taksi daring ‘kan. Cukuplah ‘merasa cukup’ dengan itu semua.

Akhir kata, maksud dari judul kontroversial di atas adalah Jangan Mencari Bahagia dari dunia. Tapi, carilah kebahagiaan dari perasaan ‘merasa cukup’.

Bincang Profesi: UX Writer

Lagi ingin membahas soal profesi UX Writer.

Saya menjalani profesi ini tidak sepenuhnya ya. Ini salah satu peran (role) saya di dalam title ‘Technical Writer’. Namun, jika kamu ingin tahu, ada sedikit yang bisa saya bagikan soal ini.

Pertama, ini tidak ubahnya dengan desainer ya. Kalau desainer merancang flow, experience, journey atau apapun namanya itu, nah UX Writer setidaknya harus menyelami hal yang sama.

Sebab, pekerjaan men-desain itu dekat dengan subyektifitas; that’s why kita perlu mendekatinya secara objektif dengan metode-metode riset maupun desain tertentu.

Dalam konteks penulisan, seorang UX Writer harus menjalani perannya se-objektif mungkin. Mulai dari membaca dan membawa referensi ke dalam ruang diskusi, sampai dengan menyediakan beberapa alternatif teks untuk dipilih anggota tim Product Management.

Dari konteks user flow, user experience (UX), user journey dan berbagai istilah lain untuk maksud yang sama, seorang UX Writer berfungsi menyediakan teks-teks pemandu atas visual yang sudah lebih dulu ada.

Sekilas, apa-apa yang dikerjakan oleh UX Writer tampak sedikit. Padahal, kalau kita zoom out dengan sebuah produk digital, maka UX Writer harus melakukan suatu upaya ‘penyeragaman’ terhadap semua kata-kata yang dia rilis.

Tujuannya supaya konsisten dan seakan-akan diucapkan oleh persona yang sama. Ini membawa kita ke tugas-tugas lain dari seorang UX Writer: terlibat dalam pengembangan brand persona dan melakukan ‘penurunan’ lebih lanjut dari brand persona tersebut dalam implementasi yang lebih luas ke halaman-halaman (pages) produk digital tempat dia bekerja.

In short, ada 4 tugas yang dilakukan oleh seorang UX Writer:

  • Terlibat dalam pengembangan brand persona
  • Melakukan ‘penurunan’ berupa apa dan bagaimana brand tersebut mengkomunikasikan sesuatu
  • Terlibat dalam pengembangan user journey
  • Merancang kata-kata pemandu agar user dapat menggunakan produk dengan lebih mudah

Pasar untuk profesi ini sebenarnya tidak terlalu luas ya. Masih lebih besar pasar untuk programmer (developer) ataupun desainer.

Perangkat digital sebagai alat bantunya juga tidak banyak, dengan fitur-fitur yang sedikit. Bahkan cenderung sama dengan yang digunakan oleh para desainer.

Jadi, variasi pekerjaan maupun dinamika karirnya akan begitu-gitu saja. Kali lain, saya bisa sharing soal bagaimana membuat karir kita sebagai penulis menjadi lebih bervariasi.

Nah, kalau kamu ada pertanyaan soal profesi ini, atau mungkin sudah tahu tentang profesi ini, silakan share di kolom komentar, ya πŸ™‚

Bersikap Baik di Komunitas

Anggota komunitas, apalagi di era digital seperti sekarang, punya latar belakang yang berbeda-beda. Menghindar percekcokan, bisa dimulai dengan bersikap baik kepada siapa saja di dalam komunitas tersebut.

Kita mengikuti komunitas kan tujuannya baik ya. Misalnya, biar ada partner, supaya saling menyemangati, saling berbagi wawasan, dan bisa sama-sama bertumbuh.

Ayo join komunitas blogger 1minggu1cerita. Satu-satunya komunitas blogger tersantai yang pernah ada. Ini bukan testimoni saya, ya. Melainkan dari rekan-rekan yang sudah masuk dan keluar ke berbagai komunitas blog, ya.

Sebagai suatu ekstrakurikuler di luar rumah dan di luar pekerjaan-pekerjaan yang menghasilkan pendapatan, inginnya ‘kan join komunitas supaya bahagia (happy) ya. Masalahnya, adakalanya komunitas malah mendatangkan masalah-masalah baru.

Berikut ini kita ulas beberapa masalah yang mungkin terjadi dari berkumpul dan berbuat sesuatu dengan hingga ratusan orang:

  • Kepemimpinan yang ‘tidak jelas’. Saya beri tanda kutip karena para pemimpinnya memang gak boleh directive terhadap para anggota. Sifat kepemimpinan di komunitas kan memang partisipatif, ya. Lebih mengajak; tidak memerintah.
  • Tidak setiap orang bisa diajak ke ‘tempat’ yang lebih tinggi. Nyatanya, ekspektasi tiap anggota tuh berbeda-beda. Sebagai bagian dari mengelola ekspektasi, para pendiri/pengelola/admin sebaiknya buat aturan tertulis yang bisa dibaca anggota baru. Kalau anggota lama kan sudah pintar membaca situasi.
  • Ketersinggungan. Kemungkinan terjadinya ini menuntut kita untuk lebih berhati-hati dalam berkomunikasi. Apa yang bagi orang lain biasa saja, bisa jadi dianggap menyinggung orang lain, lho. Ini yang kita sebut dengan ‘baper’. However, sebaiknya kita tidak menyepelekan perasaan orang lain, ya.
  • Apalagi di era digital seperti sekarang. Komunitas tuh tidak melulu online-offline. Banyak pula yang daring-nya saja. Sehingga para member berasal dari Indonesia paling timur maupun barat. Belum lagi berbagai daerah lain yang notabene cara berbahasanya berbeda-beda. Tidak heran, di 1m1c kita pakai ‘kak’, demi menghindari salah jenis kelamin dan salah umur. Selain itu, kita biasakan memakai singkatan yang wajar-wajar saja dan memang bisa diterima oleh warga komunitas tersebut. Yang penting, enggak bawa singkatan yang aneh-aneh.
  • Silang pendapat. Bauran antara ‘maju bersama’ dengan ‘masing-masing punya harapan’ rawan memunculkan silang pendapat. Yang satu ingin mengajak para member ke arah mana, sementara tiap orang juga sudah bawa target masing-masing di awal bergabung ke komunitas.

Potensi masalah memang tidak banyak ya di komunitas. Biasanya ya itu-itu aja problemnya. Sebagaimana disebutkan di atas. Sekarang, tinggal kita saja yang harus tahu cara mainnya. Bagaimana mencegah timbulnya konflik, sehingga berkomunitas akan semakin asyik πŸ™‚

Punya pengalaman unik dengan komunitas kamu? Boleh banget dibagikan di kolom komentar, ya!

7 Prinsip Mengelola Keuangan Rumah Tangga

Menyisihkan uang dari pengelolaan keuangan rumah tangga untuk ditabung bukan perkara sulit. Tetapi membangun kebiasaannya yang berat. Berikut ini 7 saran untuk mengelola uang keluarga dengan lebih baik.

Uang bukan segalanya. Tapi segalanya butuh uang.

Keluarga adalah salah satu bentuk institusi juga ‘kan? Namanya institusi, harus pintar mengelola sumber daya donk ya. Supaya survive dan bisa achieve tujuan-tujuannya. Salah satu sumber daya tersebut adalah uang.

Gak sedikit yang bangkrut, atau tidak bisa mengakomodasi kebutuhan anak-anaknya, atau bahkan ‘bubar jalan masing-masing’ karena gagal merencanakan dan mengelola keuangan.

Nah, bagaimana prinsip-prinsip mengelola keuangan untuk keluarga? Berikut ini kita ulas satu-satu, yuk.

1. Fokus ke Biaya makan

Ini saya masukkan ke nomor satu, karena banyak yang bisa kita ubah dari kategori ini.

Meskipun harga bahan pokok atau makanan jadi terasa murah, tetapi faktor kali yang membuat biaya makan selalu tinggi. Dikalikan terhadap jumlah anggota keluarga, berapa kali makan, dan di mana makannya, bisa membuat total biaya makan menjadi selangit, lho.

Makanya untuk menaikkan ROI makan di luar, lebih penting “makan sama siapa” daripada “makan pakai apa”. Hehehe.

Puasa itu selain berpahala dan menyehatkan tubuh kita, juga membantu kita menghemat biaya makan lho, teman-teman.

Beli makanan jadi selalu lebih mahal daripada memasak sendiri. Beli snack selalu lebih boros daripada tidak jajan. Fokus juga pada frekuensi. Sekali seminggu tentu lebih hemat daripada setiap hari. Hehe.

2. Kendalikan biaya ulang tahun

Biaya ulang tahun itu perlu, bahkan wajib. Tetapi tidak usah berlebihan. Jangan terlalu pelit juga untuk memperingati berapa tahun kita hidup di dunia. Sembari merefleksikan apa yang sudah kita lakukan. Lagipula, kalau anggota keluarga sendiri yang ingin ulang tahun kita dirayakan, kita tidak bisa menolak, bukan?

Sehemat-hematnya ulang tahun, menurut saya beli kue saja secara online. Dirayakan di rumah, sembari mengucap syukur dan memanjatkan doa.

3. Gunakan barang bekas

Berburu barang bekas pakai, terutama fesyen menjadi tren di tahun 2020. Artinya, kita tidak perlu ragu dan malu dalam menggunakan produk-produk preloved. Apalagi jika produk tersebut termasuk kategori branded.

Beli kendaraan juga tidak harus baru. Baik sepeda, sepeda motor, maupun mobil. Karena pemilik pertamanya juga tidak menjual kendaraannya dalam keadaan performa yang sudah turun.

4. Pilih Kesenangan yang Tidak Menghabiskan Uang

Main ke taman kota saja. Bukan main ke mall terus. Duduk saja bayar, apalagi bermain di wahana. Selain hanya ada belanja dan ajakan untuk mengeluarkan uang, habisnya uang belum tentu membuat bahagia.

5. Jangan Liburan Asal-Asalan

Asal-asalan dalam hal waktu, itinerary, dan anggaran (budget).

Secara jadwal, jangan liburan mendadak. Rencanakan cuti setahun itu mau dipakai ke mana saja.

Untuk itinerary, lebih baik ke destinasi baru demi mendapat pengalaman baru. Daripada nongkrong dan mager di destinasi yang modal hype doank.

Tetapkan batas maksimal seluruh pengeluaran liburan: tiket, penginapan, oleh-oleh, dan lain sebagainya. Masing-masing pos pengeluaran harus dianggarkan maksimalnya berapa.

Hindari pembayaran dengan kartu kredit. Bukan melarang, tetapi cara pembayaran tersebut bisa membuat kita tak terkendali dalam hal uang.

6. Potong Biaya Rumah yang Rutin

Bila memungkinkan, ganti PDAM dengan air tanah. Di Bandung Raya, biaya mengebor sumur bisa sampai Rp500.000,- tetapi sekali bayar. Biaya rutinnya adalah listriknya pompa air.

Renovasi rumah supaya lebih banyak bukaan (jendela, ventilasi, void, dll) untuk mengurangi penggunaan AC maupun kipas angin. Untuk mensirkulasi udara dan panas, jenis renovasi yang mahal adalah meninggikan bangunan. Harapannya, biaya listrik bisa ditekan.

Supaya rumah bisa lebih terang sembari mengurangi penggunaan listrik, kita bisa memasang glass block dan mengganti sedikit atap dengan yang berwarna transparan.

7. Bicarakan anggaran dan tabungan dengan anak-anak

Anak-anak itu manusia dewasa yang belum sepenuhnya paham soal keuangan. Mulai dari uang sebagai alat tukar, adanya pemasukan rumah tangga, serta alternatif produk atau jasa yang lebih murah untuk dibeli.

Apa saja yang harus dilakukan?

Membuat tabungan khusus anak-anak. Tentu saja tabungan tersebut untuk masa depan mereka: sekolah dan kuliah.

Mengajarkan anak untuk membuat rencana dan anggaran. Tidak melulu berupa uang, ya. Anggaran bisa berarti jatah buku gambar A3 dalam satu pekan.

Saya yakin teman-teman di sini bisa membuat contoh-contoh lain dari analogi buku gambar tersebut.

Yang perlu kita ingat, di sekolah tidak ada kurikulum tentang perencanaan dan pengelolaan keuangan. Jadi, kita sendiri yang perlu belajar dan mengajari anak-anak kita tentang keuangan.

Demikian dari saya tentang tips mengatur keuangan rumah tangga supaya bisa menabung untuk masa depan. Dari teman-teman barangkali ada pengalaman serupa? Boleh dituangkan di kolom komentar ya.

Setelah Lebaran, Selanjutnya Apa?

Refleksi Ramadhan tahun ini dan hal-hal yang perlu disyukuri. Mudah-mudahan masih dipanjangkan usia untuk bertemu Ramadhan tahun depan.

Tahun 2021 ini, alias 1442 Hijriyah ini, adalah tahun kedua kita berpuasa Ramadhan dan Lebaran dalam suasana pandemi.

Tahun lalu, perdebatannya adalah mudik vs pulang kampung. Tahun ini, polemiknya adalah mudik dilarang, tapi boleh berwisata.

Pemerintah melarang mudik – meski kemudian menyatakan tidak apa-apa berwisata dalam tingkat aglomerasi kota. Cuti bersama untuk ASN dan karyawan BUMN, hanya berlaku sehari, yaitu H-1 lebaran. Tidak lain untuk mencegah mudik yang massive ya.

Itu perihal mudik ya. Suatu kebiasaan orang kita untuk pulang kampung demi merayakan hari raya bersama keluarga. Rangkaian acaranya meliputi shalat Ied di lapangan, berziarah ke makam para sesepuh keluarga besar, hingga silaturahmi ke tetangga dan anggota keluarga yang lain — silaturahmi ini bisa dari kota ke kota, lho. Berpotensi menyebarkan covid juga, sebenarnya.

Kami sekeluarga tidak mudik dahulu. Selain karena masih pandemi dengan anak-anak kami yang relatif muda, ada agenda besar di akhir Juli nanti. Mudik terpaksa ditunda dulu, menunggu hajatan tersebut tuntas. Lagipula, biasanya juga kami tidak mempedulikan mudik di hari raya atau bukan, ya. Kapan saja soal mudik, mah.

Ramadhan 1442H Bagi Kami

Puasa Ramadhan kali kedua di tengah-tengah pandemi ini yang rasa-rasanya semakin berat dijalani. Kita kan bukan anak kecil yang hanya puasa saja ya. Tetapi sebagai muslim dewasa, kita juga mengejar pahala dari rutinitas ibadah yang lain: tilawah dan tarawih, misalnya.

Untuk saya pribadi, ditambah dengan adanya pergeseran peran di kantor, menyebabkan jam kerja lebih panjang dengan beberapa di antaranya harus lembur (overtime). Kondisi ini yang semakin menantang dan menyulitkan dalam ibadah ramadhan: sahur, puasa, tilawah, tarawih, dll.

Secara hasil, jauh menurun dibandingkan dengan tahun lalu. Satu hari puasa sempat dibatalkan saja karena harus menjalani bedah mulut untuk mengangkat geraham bungsu. Kapan-kapan saya coba share soal ‘operasi geraham bungsu’ ini ya.

However, tidak sedikit hal yang saya syukuri di Ramadhan kali ini.

Begini, tilawah Al-Qur’an itu kan satu hal di antara ‘beriman kepada kitab-kitab Allah’. Sepanjang Ramadhan lalu, saya beberapa kali browsing dan mencari tahu apa itu Taurat, Injil, Perjanjian Lama (Old Testament) dan Perjanjian Baru (New Testament). Ini tidak bisa dipisahkan dari mempelajari sejarah para nabi dan Rasul (Isa Alaihissalam, Daud Alaihissalam, Sulaiman Alaihissalam, dll) – yang topiknya adalah ‘Iman kepada Rasul-rasul Allah’ selain Nabi Muhammad Shallalahu Alaihi Wassalam.

Sampainya saya ke topik-topik tersebut, tidak lain dari mengeksplorasi berita-berita tentang mereka yang baru menjadi muallaf. Rasanya jadi berempati kepada mereka. Maaf, salah. Harusnya kita berempati kepada kita yang muslim sejak lahir ya. Betapa kita seharusnya kagum dan meniru semangat belajar mereka para muallaf yang melakukan pencarian terhadap Tuhan, keyakinan dan Ibadah, karena tidak dibesarkan dalam keadaan Islam.

Di antaranya ada nama-nama, drg.Carissa Grani, Annisa Theresia (dulu penyanyi ‘Awal Yang Indah’ dan anggota DPR), dan Zahra Jasmine (mantan DJ). Kebetulan perempuan semua. Hanny Kristianto, seorang muallaf pria yang belum saya eksplor.

Dari sisi parenting, alhamdulillah Anak Dua bisa shaum hingga 30 dan 28 hari. Ada yang kurang 2 hari karena sempat sakit. Alhamdulillah ibadah sahur juga diikuti terus oleh mereka. Minim drama. Kayaknya karena sudah di-sounding/di-briefing sejak semalam. Pasca tarawih kan kita bareng-bareng berniat puasa, sambil mengingatkan mereka untuk bangun jam 3 pagi.

Pernah juga kami ceritakan peristiwa masa kecil semisal, saya yang ketika itu buka puasa tinggal 30 menit lagi, saya nangis meminta buka puasa. Merengeknya berhenti karena minum air mata, hehe. Kisah lain, tidak sengaja makan pisang tapi karena kelupaan, puasanya lanjut terus. Kisah-kisah ini sebagai penyemangat untuk mereka.

Sedikit banyak, kesuksesan berpuasa Anak Dua tuh karena masing-masing ada partner sekaligus kompetitornya. Hehe. Alhamdulillah. Berkah anak kembar yang kami tidak berhenti mensyukurinya. Mudah-mudahan mereka berusia panjang ya.

Saya dan Ramadhan 1443H

So, Ramadhan sudah usai, terus ‘saya dan Ramadhan’ ini kelanjutannya gimana?

Judul besarnya masih sama ya: Memperdalam Ilmu Agama. Sampai dengan Ramadhan tahun depan, yang realistis adalah mempelajari kitab Azbabun Nuzul (link tokopedia). Realistis karena sudah pasrah dengan target-target lain dalam hidup: target pekerjaan, target pengasuhan, dan seterusnya.

Sebagaimana bidang-bidang lain dalam hidup, saya mulai dengan dan selalu melanjutkan dari yang saya suka atau berminat untuk saya pelajari. Kitab yang saya sebut di atas adalah ‘kelanjutan’ dari belajar Alquran.

Targetnya satu ini aja dulu. Karena belajar agama kan seumur hidup ya. Meski kita gak tahu usia kita sampai di mana, perlu banget mengatur ritme dalam ‘bernafas’. Karena perjuangan ini ‘kan ibarat lari marathon ya. Butuh semangat dan nafas yang panjang.

Demikian pengalaman dari saya mengenai Ramadhan tahun ini. Dari kamu, barangkali ada cerita yang ingin dibagikan? Ditunggu ya ceritanya di kolom komentar.

Menemukan Fokus

Tema umum dalam setahun terakhir adalah bagaimana mengatasi kebosanan di tengah-tengah pandemi dan dompet yang lebih tipis (dibanding tahun-tahun sebelumnya). Bagaimana mengatasi kebosanan sekaligus menemukan fokus yang baru?

Fokus tuh bantu banget kita untuk menemukan dan mencapai kesuksesan. Masalah dari fokus adalah fokus itu membosankan. Tidak variatif. Sensasi berpetualangnya tidak ada. Persoalan dari petualangan adalah bisa jadi kita tidak ke mana-mana.

Berlaku sama di content creation. Ya blog, ya YouTube. (Baru tadi sore saya rilis #Journal Ep.1 soal transportasi lawas dan telekomunikasi jadoel).

Saya tuh berusaha banget bisa konsisten rilis tulisan di blog ini. Setidaknya seminggu sekali. Meski aturan komunitas blogger 1Minggu1Cerita adalah 6 pekan sekali, tetapi berusaha fokus dan tekun merilis konten secara berkala seminggu sekali itu banyak banget godaannya.

Bikin konten tuh kadang-kadang rasanya gak punya tujuan (aimless) dan tidak menyenangkan (joyless). Bisa gila kalau mikirin dan kepikiran target rilis konten terus. As u know, konten gak hanya dibuat lalu langsung rilis saja. Tapi apapun kontennya, mesti dikonsep dan disunting.

Konsisten itu membosankan.

Eksplorasi materi atau topik baru itu yang menyenangkan.

Membuka kotak-kotak memori kita, mengecek satu demi satu ada memori apa saja yang berada dalam kotak tersebut. Ini tuh proses yang adventurous sebenarnya. Rasanya sama banget dengan duduk berdua bersama pasangan di ruang tamu menceritakan masa lalu masing-masing. Konon, Pakdhe Piyu juga begitu caranya dalam menulis lirik dan menuangkan nuansa lagu.

Blog yang adventurous kayaknya gak disukai sama Google ya. Topiknya ke mana-mana. Gak ada fokusnya. Gak sepenuhnya salah, siy. Tapi, kalau teknik saya adalah, tiap ada berapa tulisan dengan topik yang sama, dibuatkan kategori baru.

Di blog ini ada categories fathering yang baru sepekan lalu saya tulis Mitos dan Fakta tentang Anak Kembar. Ada juga categories marriage yang sudah lama enggak diperbarui. Sebagai mantan business analyst, saya masih hobi mengulik konten-konten seputar Strategic Marketing. Kalau belum masuk ke mana-mana, berarti harus ngendon di categories Journal dulu.

Makanya YouTube saya, topik yang akan diutamakan adalah #BincangProfesi. Prosesnya relatif gak sulit, hanya tinggal mewawancarai rekan-rekan mengenai profesi atau karirnya. Saya yang hobi mengobservasi pekerjaan orang lain, tidak kesulitan menggali apa yang mereka kerjakan sehari-hari, mengapa dan bagaimana mereka bertahan di profesi tersebut.

Bertualang dengan tema baru pasti menyenangkan. Tetapi membuat blog/vlog kita terkesan tidak punya positioning atau direction yang jelas.

Eksplorasi materi dalam setahun terakhir ini, banyak dipengaruhi oleh pandemi (dan resesi) tentu saja, ya.

Yang suka eksplor pariwisata, lagi gak bisa jalan-jalan sama sekali atau terpaksa harus mengurangi. Yang suka belanja dan bikin konten unboxing atau review, kebetulan ekonomi lagi sulit dan konsumsi harus dikurangi.

Gak heran pandemi ini memunculkan hobi baru. Yang dalam kasus saya, ngulak-ngulik YouTube dan software terkait (Photos atau Video Editor di Windows 10) jadi aktifitas baru yang saya alokasikan waktu secara khusus. Kurang lebih setahun lalu, menulis buku berjudul Freelance 101. Ulasannya di sini dan di sana. Tentu order bukunya bisa ke saya. Ihik #celahpromosi

Sindonews pernah meriset hal ini dan menemukan 6 hobi baru selama pandemi: memasak, membaca, berkebun, menonton, melukis, dan bersepeda.

Bisa disimpulkan sementara ini, bahwa menemukan fokus yang baru itu, di antaranya adalah dengan menemukan hobi yang baru. Hobi bukan sesuatu yang kita kerjakan di waktu-waktu sisa, ya. Melainkan kita secara sengaja mengalokasikan waktu untuk mengerjakannya. Ada 7 hobi yang bisa dipilih berdasar popularitasnya yang menanjak selama pandemi.

Kalau Kartini hidup hari ini, Apa yang akan dia lakukan?

Disclaimer: tulisan ini hanya kombinasi fakta dan imajinasi.

Saya berimajinasi andaikata Kartini hidup di era sekarang.

Mungkin dia adalah seorang blogger yang rutin menuangkan apa yang dipikirkannya ke dalam rangkaian kata. Tentu tidak hanya angan-angannya saja ya. Tetapi juga pengalaman-pengalaman hidupnya. Yang tujuannya bukan hanya mendokumentasikan, namun sekaligus berbagi dan menginspirasi.

Sudut pandang penulisannya lebih bersifat personal; bagaimana dia memandang sesuatu hal. Dia pemikir kritis yang punya pendapat pada hampir setiap hal. Bahkan, ke-agama-annya sendiri pun akan dia kritisi. Dia lahir sebagai seorang muslimah sejak lahir dari keturunan yang beragama Islam. Yang menarik, dia mempertanyakan kenapa dia harus tetap dalam agama tauhid tersebut. Untungnya, dia bertemu dan belajar dari sese-ustadz.

Kartini lahir dengan privileged. Tidak semua orang bisa seperti dia yang seorang bangsawan. Artinya sebagai keturunan ningrat, keluarganya diberkahi dengan bahan bacaan, isi pembicaraan maupun perilaku yang kental dengan intelektualitas. Di saat masih ada perempuan yang tidak punya makanan untuk disantap, Kartini sudah selesai dengan urusan-urusan mendasar seperti itu.

Dia menggemari pendidikan. Artinya, dia meyakini pendidikan adalah kunci penting untuk membuka akses ke tangga sosial dan ekonomi bagi para perempuan. Pendidikan sebagai jalan untuk ‘membebaskan’ perempuan untuk tidak hanya berkutat di domestik rumah tangga saja.

Kartini adalah aktifis pendidikan. Bangun sekolah, aktif mengikuti diskursus pendidikan (termasuk kurikulum yang sering berubah itu), sekaligus menjadi panelis di berbagai forum pendidikan.

Sebagai tokoh publik yang punya weblog pribadi, Kartini juga akan punya twitter dan instagram. Selain memperkuat amplifikasi tulisan-tulisannya lewat dua social media tersebut dan facebook, tentunya social media tersebut diberikan beban tambahan untuk turut membantu personal branding-nya sebagai seorang aktifis pendidikan.

Kita tidak bisa mengabaikan bahwa memang ada endorsement dan sponsorship dari asing, katakanlah saja Belanda, demi menarik simpati masyarakat di sini yang sedang berjuang meraih kemerdekaan. Tanpa menafikan fakta tersebut, kenyataannya tidak semua orang suka dengan Kartini dan apa yang dia perjuangkan. Meskipun, dalam kontrak pendanaannya tertuang kewajiban untuk nge-vlog di YouTube dengan judul “Tour Sekolah Bersponsor dan Berstandard Internasional”.

Ya, selain punya fans, Kartini juga punya haters. Para pembenci ini bahkan lebih updated daripada fans itu sendiri. Tentang Kartini ke mana, bicara tentang apa, dan seterusnya. Sebagai bahan serangan –bukan haters kalau tidak menyerang ya– adalah fakta bahwa Kartini terlibat dalam poligami.

Kartini bukan anak dari istri yang “diutamakan” oleh ayahnya yang seorang pejabat publik, correct me if I am wrong. Kartini sendiri merupakan istri ketiga dari seorang pejabat publik juga. Seiring dengan personanya sebagai aktifis pendidikan, dia adalah ‘pelaku’ poligami juga.

Kartini ‘dituduh’ bertindak lebih dari yang seharusnya. Dia adalah perempuan yang harusnya hilir mudik kasur dan dapur. Sebagaimana dia sebagai anak dan istri dari keluarga yang berpoligami. Kodrat ke-perempuan-annya sangat melekat di situ.

Meski berkali-kali dirundung di twitter hingga menjadi trending topic, Kartini tetap pada pendiriannya. Api semangatnya terus menyala. Dia tetap berjuang menyuarakan aspirasinya di berbagai kanal online maupun offline.

Di kemudian hari, sebuah penerbit kenamaan menghubunginya lewat pesan WhatsApp, “Bu, berkenan enggak, kalau tulisan-tulisan Ibu di kartini.com kita kompilasi dan terbitkan sebagai buku? Nanti judulnya ‘Habis Gelap, Terbitlah Terang”.


Referensi:

How to Becomes a Digital Talent?

Selain mahir dalam bidangnya, digital talent juga perlu ‘visible’ di internet. Update dengan perkembangan app juga tak kalah penting.

Digital talent adalah talenta/individu dengan keterampilan digital. Sebagaimana kita tahu, digitalisasi terjadi di semua bidang. Kita manusia semakin banyak bekerja maupun berinteraksi via aplikasi digital.

Dengan sendirinya tenaga kerja yang dibutuhkan saat ini, adalah talenta digital atau dengan kemampuan digital. Seperti content writer, youtuber, business/system analyst, developer/programmer, terkait data (data engineer, data analyst, dll), social media (analyst, strategist, dll).

Sound engineering juga dilakukan secara digital. Banyak dipuja-puji tuh sound engineer-nya .NET TV. Padi Reborn Sang Penghibur jadi nikmat banget didengar. Lebih seimbang gitarnya Piyu dengan gitarnya Ari Homer.

Dulu untuk membuat materi tulisan, seorang penulis harus ke perpustakaan, membuka banyak buku untuk melakukan riset, baru bisa membuat tulisan. Sekarang, penulis digital bukan lagi kekurangan informasi, bahkan kebanjiran informasi. Kalau sebelumnya bingung karena tidak pernah konten yang memuat hasil riset atau interpretasinya, sekarang bingung memilah mana informasi yang benar atau hoax.

Dulu bikin desain, paling keren kalau pake keluarganya Adobe: Photoshop maupun Illustrator. Cupu sedikit, pakenya PowerPoint. Sekarang, buat begitu bisa pakai canva.com saja. Tiba-tiba, semua orang bisa mendesain dengan lebih cepat sekarang.

Profesi penulis, visual designer, atau profesi-profesi lainnya sebenarnya masih ada. Bukan tergilas dan tergantikan akibat digitalisasi atau robot. Tetapi, perlu diingat bahwa tanggung jawab, deskripsi pekerjaan, dan tetek-bengek yang disusun oleh recruiter jadi bergeser. Digital talent wajib adaptif terhadap pergeseran tersebut.

Pergeseran ini sebenarnya yang paling signifikan terjadi. Yang sedikit lebih kecil adalah hilangnya suatu pekerjaan karena automasi; digantikan oleh roles (peran-peran) yang baru.

Sebagai contoh, orang dulu menduga keberadaan Anjungan Tunai Mandiri (ATM) baik berupa mesin maupun kartunya, akan menggilas pekerjaan teller. Kenyataannya, peran teller-nya tetap ada, tetapi bagian yang bisa swalayan (self-service) oleh nasabah dihilangkan dari job description-nya.

Teller maupun Customer Service (CS), sekarang lebih berupaya pada menyelesaikan persoalan nasabah, menawarkan produk baru, dan lain sebagainya. Karena itu tadi, persoalan yang bisa diselesaikan secara automatic maupun self-service diserahkan pada mesin/robot bernama ATM.

Jadi, di masa yang lebih depan sedikit, manusia akan mengerjakan apa – berdampingan dengan bantuan dari berbagai mesin/robot – dan bagaimana para digital talent bisa memperoleh pekerjaan-pekerjaan tersebut?

Rise of Online Learning

Tren terbaru dalam rekrutmen tenaga kerja adalah mengutamakan pengalaman ketimbang pendidikan dari si calon karyawan.

Nah, saran saja nih kepada pencari kerja: pengalaman bisa didapat dari magang (internship) maupun eksplorasi sendiri terhadap aplikasi-aplikasi digital. Lebih keren lagi di mata pemberi kerja (employer) kalau eksplorasi tersebut kita berikan ‘judul’ proyek.

Sekarang kalau butuh partner belajar juga lebih terjangkau. Sudah banyak platform untuk belajar secara online dengan berbagai materi yang tersedia. Waktu yang lebih singkat, harga yang lebih terjangkau.

*Uni Hicha Aquino sempat menulis Review Online Learning Platform.*

Saya sendiri baru sekali belajar di platform semacam itu. Dibayari kantor untuk belajar di Udemy, materinya tentang technical documentation. Kalo yang bayar sendiri dan dari lokal Indonesia, lebih banyak β€˜manual’-nya. Pakai zoom, rekaman video, tugas online, WhatsApp Group, dst.

Kursus-kursus singkat ini bisa banget mendorong/memaksa kita untuk belajar newer version of a digital app. Namanya aplikasi digital kan, versi barunya akan terus ada. Atau, paid version-nya lebih kompleks daripada gratisannya. Menuntut kita untuk lebih advanced terus. Selain lewat kursus, ini bisa lewat komunitas juga, kok.

Soal online learning ini, kita sebagai buyer, customer, atau user harus sering berhati-hati dalam memilih dan menggunakan layanan pembelajaran daring. Sebab ada yang namanya fake gurus. Detailnya bisa disimak di post tersebut.

Saya tidak ingin menabrakkan kursus singkat dengan pendidikan tinggi (PT). Keduanya sama baiknya dan punya porsinya masing-masing. Namun, dalam perspektif pemberi kerja, alangkah baiknya ‘lulusan’ kursus atau PT memiliki pemahaman fundamental dalam pekerjaannya. Sehingga bisa beralih mengoperasikan mesin/alat/robot yang berbeda.

Perlu kita ingat, lulusan kursus belum tentu terampil dan tidak semua lulusan PT memiliki fondasi keilmuan yang baik. Apapun pendidikannya, pekerjaan-pekerjaan kita semestinya bisa mengantar kita untuk semakin punya pemahaman yang mantap/kokoh (fundamental). Sehingga pindah-pindah alat, mesin, platform, tidak menjadi masalah besar.

Journaling: A Content Project

Klise banget kalo blogger merekomendasikan blogging ya. Tidak spesifik nge-blog di blog, maksud saya. Tetapi journaling mungkin lebih tepat. Alias secara rutin nge-post tentang topik-topik yang kita pikirkan – secara terus menerus. Mediumnya bisa facebook, instagram, twitter. Kebetulan, saya lebih suka format keluarannya berupa teks yang panjang, yaitu blog.

Ada tiga alasan mengapa saya merekomendasikan blogging sebagai proyek konten kita:

Pertama, ini bagian dari berinvestasi dalam keahlian kita. Apapun pekerjaan kita, do blogging. Ini semacam retrospeksi terhadap apa yang kita lakukan. Merefleksikan apa yang kita lakukan. Bisa berupa mempertanyakan teori yang kita ketahui. Mengartikulasikan teori untuk lebih mudah dipahami – lewat pemberian contoh.

Kedua, mengembangkan sudut pandang (developing personal point of view). Blog itu semacam PR ya. Pekerjaan rumah yang membuat saya tampak lebih baik atau lebih profesional di luaran. Kenapa? Karena lewat ngeblog, saya jadi punya “prinsip”. Bisa prinsip dalam kehidupan, atau minimal prinsip dalam berpikir. Blog juga menunjukkan ke luar bahwa, saya “berpijak” pada sesuatu (stand for something).

Ketiga, menjadikan kita lebih mudah ditemukan. Saya tahu, mencari orang atau topik bisa dilakukan di kolom search twitter, facebook, instagram. Tapi SEO bekerja hanya di google.com atau youtube.com. Maksud saya, kita akan lebih ‘bertahan lama’ dalam cache-nya Google atau YouTube kalau kita membuat konten di sana. Alias bikin weblog atau channel sendiri.

Alangkah indahnya kalau kita sebagai digital talent, mudah ditemukan di jagat internet πŸ˜€

Sejak saya nge-blog, alur berpikir saya relatif lebih sistematis dan “rapih”. Membedakan gejala dengan akar masalah. Menemukan dan mengurutkan aktifitas atau proses ke dalam runtutan yang baik. Menunjukkan kepada dunia siapa saya dan apa yang senang saya lakukan. Merek-merek yang merepresentasikan saya, dan lain sebagainya.

Yang terakhir, dan paling utama, blog juga mengantarkan saya ke pekerjaan-pekerjaan saya sekarang.

Barangkali kamu ada pengalaman, bagaimana mengembangkan diri sebagai digital talent? Bagikan di kolom komentar, ya πŸ™‚

Reference:

Podcast

Memulai podcast sebagai hobi baru. Mudah-mudahan bisa konsisten dan sustain ya.

Kayaknya saya ketemu ‘mainan’ baru, deh. Mainan baru yang saya perlu merencanakan dan meluangkan waktu. Bisa disebut juga sebagai passion atau hobi. Hehe.

podcast

Hal ini berawal dari hobi saya menyimak podcast sambil bekerja. Not all the working time ya. Podcast tuh bikin exhausted juga. Jadi selang-seling antara musik dengan podcast.

Setelah hobi mendengarkan podcast selama beberapa waktu, terlintas di pikiran saya, “Kenapa gak buat podcast aja sekalian?”. Dari puluhan kali melihat podcast-nya Pandji, End Game-nya Pak Gita Wirjawan, dan Raditya Dika –3 podcast yang paling sering saya dengarkan, tentu ada cara-cara ngobrol/interview yang bisa saya tiru dan modifikasi lha ya.

Pertama, antusiasme sebagai bahan bakar ya. Terutama rasa ingin tahu. Basic saya sebagai seseorang yang suka mengamati (observing), maka pertanyaan-pertanyaan semisal, ‘Why this happened?’ atau ‘How do you that?’ jadi sering berseliweran di dalam kepala saya.

Selain menetapkan waktu untuk interview/podcast, outline pembicaraan jelas wajib dipersiapkan. Gak perlu terlalu kaku, tapi arah pertanyaan wajib ada. Minimal temanya jelas deh, untuk episode tersebut.

Dalam podcast #BincangProfesi, arahnya memang pembahasan soal title pekerjaan ya. Bahkan ketika mengerjakan 2 episode pertama, saya belum tahu ini akan jadi apa yang diberi nama apa. Bahkan di sana, saya mengaku terus-terang bahwa ‘belum ada judul’-nya. Hehehe.

Tahu, enggak? Title pekerjaan sering menipu lho. Judulnya manager, tapi belum pasti ada karyawan lain sebagai anggota timnya. Product manager, sales manager tuh belum tentu punya bawahan yang membantu pekerjaan.

Info tipis-tipis, baik yang sengaja saya cari tahu maupun yang tidak sengaja saya dapatkan itulah, yang mengantar saya menyusun outline, arah ataupun tema pembicaraan. Gak pernah tertulis, memang. Namun ngendon di kepala saya selama beberapa hari atau pekan.

Ep.1 Drilling Fluid Engineer

Dari title, saya biasanya zoom out ke industri ya. Kompetitor produk atau perusahaannya siapa, market yang dilayani yang mana, produk/layanan substitusinya apa, dan seterusnya.

Ep.2 Corrosion Engineer

Terakhir adalah soal masa depan dari profesi tersebut. Misalnya, ada opportunity apa sehingga profesi ini cerah masa depannya? Kalau ingin terjun ke profesi tersebut, persiapan pendidikan atau sertifikasinya bisa dilakukan di mana saja? Dan seterusnya.

Ep.3 Farmasis

Koridornya saya sejauh ini adalah tidak sebut merek produk atau perusahaan ya. Memang bukan sarana promosi ya. Jadi sekalian tidak boleh sebut sama sekali. Tapi, kalo ada yang ingin support channel ini, boleh banget tuh kita kerja sama. Hahaha #iklan.

Support tuh maksudnya supaya saya tetap bisa sustain untuk mempromosikan profesi rekan-rekan sekalian. Kepada mereka yang menjadi narasumber, saya yakin ini adalah cara untuk memperingan beban pekerjaan mereka. Sedikit atau banyak, pekerjaan itu membuat stress juga kan ya.

Selain demi ngonten, podcast ini saya jadikan sarana untuk silaturahmi juga dengan teman-teman lama. Lumayan ya, jadi tahu siapa sedang di mana, bersama siapa, sedang berbuat apa, dst. Hehehe.