Jasa Gudang Online Membantu Ekspansi Usaha Anda

Mari bercerita soal jasa pergudangan yang sedang naik daun: Gudang Online.

Jasa ini muncul seiring dengan pertumbuhan toko online. Yang tadinya bertempat di rumah atau berawal di kamar kost, kini semakin membutuhkan ruang yang lebih besar untuk menyimpan barang. Mengikuti intensitas transaksi yang semakin tinggi.

Sekadar ilustrasi. Anda menjual kopi khas Lampung dari Bandar Lampung (BL). Rata-rata transaksi untuk Jabodetabek saja, katakanlah 100 transaksi per hari. Jadi ada 100 order, 100 pengemasan, dan 100 pengiriman dari BL ke DKI setiap harinya. Nah, ada celah untuk melakukan efisiensi di sini. Mengapa tidak kirim saja 100 paket ke DKI dalam satu kali pengiriman? Nanti ada aktifitas pengemasan dan pengiriman ritel ke customer. Celah inilah yang dilayani oleh jasa gudang online.

Selain kebutuhan ruang yang semakin meninggi, ada risiko juga yang terpapar pada produk yang dikonsentrasikan di gudang sendiri, seperti: banjir, kebakaran, pencurian, dan sebagainya.

Untuk setiap transaksi, aktifitas yang diberikan antara lain: mengambil produk dari rak, mengemas, dan mengirimnya. Aktifitas pengiriman memiliki ongkos sendiri yang bervariasi berdasar tujuannya. Sebab itu, pengiriman sebenarnya dapat dipisahkan dari penyimpanan dan pengemasan.

Namun, pengiriman ini sangat mungkin dikerja-samakan secara eksklusif dengan perusahaan kurir. Pengiriman jarak dekat atau same day bisa dengan GoSend/GrabExpress, pengiriman antar kota bisa dengan jasa kurir macam JNE, JNT, SiCepat, Wahana, dan sebagainya.

Gudang Online
Ilustrasi gudang online. Gambar dari crewdible.com

Masalah Pergudangan

Masalah yang diselesaikan dengan bekerja sama dengan sebuah gudang online:

  • Meringkas proses bisnis, salah satunya dengan mengkonsolidasikan pesanan (order) dari beberapa marketplace sekaligus.
  • Menghindarkan dari risiko banjir, kebakaran, dan pencurian.
  • Ruang terbatas; karena masih menyewa kamar kos atau rumah kontrakan. Atau masih di rumah sendiri yang belum memiliki gudang penyimpanan produk.

Solusi Gudang Online

Tujuan bisnis yang terakomodasi dengan keberadaan gudang online:

  • Perluasan cabang toko atau wilayah pasar yang ditargetkan. Dalam ilustrasi kasus di atas, mendekatkan diri via pergudangan online di Jabodetabek berarti memperluas pasar target.
  • Cocok untuk yang masih sibuk bekerja sebagai karyawan di perusahaan lain, karena toko daring milik sendiri belum terurus dengan baik
  • Lokasi milik sendiri belum strategis; jauh dari pusat kota. Konsentrasi pembeli ada di DKI, Pulau Jawa, lalu luar Jawa.

Kelebihan bekerja sama dengan gudang online:

  • Pembayaran bisa Pay per use. Bayar hanya sebanyak space yang digunakan. Atau bayar per barang yang dikemas dan dikirim. Di luar ongkos kirim.
  • Secara total, ongkos kirim akan menurun. Ini meringankan konsumen untuk mengulangi pembelanjaan.
  • Biaya tersebut sudah termasuk premi asuransi yang dikeluarkan oleh Gudang Online.
  • Gudang Online dengan aplikasi WMS sangat mungkin membantu Anda mengklasifikasikan produk slow/fast moving. Sekaligus menerapkan prinsip First In First Out (FIFO).

Contoh Merek: Haistar

Brand Haistar sudah tersedia di kota Medan, Palembang, Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, dan Makassar. FYI, pembelian ritel masih didominasi oleh pulau Jawa. Sekadar pengingat, sekitar 56% penduduk Indonesia bertempat tinggal di Pulau Jawa.

Rupanya merek ini tidak hanya menyediakan layanan gudang dan manajemen pengiriman, tetapi juga pengelolaan penjualan (unggah produk, balas chat, dan ada juga pengelolaan toko online).

Aplikasi digital yang menjadi dasar pengelolaan gudang online termasuk ke dalam kategori Warehouse Management System (WMS). Namun, ada juga pemain lain yang memberikan layanan Order Management System (OMS) dan Transport Management System (TMS) juga.

Berikut adalah pemain-pemain lain dalam industri pergudangan online: Storaza, Keeppack, Crewdible, Lodi, Stockhauz, Pakde, dan lain sebagainya.


Masih mempertimbangkan untuk menggunakan jasa gudang online? Coba bagikan kekhawatiran kamu di kolom komentar, ya.

Baca juga tulisan lain saya soal BISNIS DARING.

Model Bisnis Media 2020

Sebuah pengakuan penikmat media gratisan.

Namanya konsumen, ‘kan seringkali kita membeli ya. Saya dulu sempat berlangganan harian Kontan; bayar supaya dapat informasi keuangan. Waktu kecil, saya pembaca setia majalah Bobo. Tapi yang bayar orang tua. Selain dari menjual tiap eksemplarnya –yang mungkin masih lebih rendah daripada biaya produksinya– perusahaan media hidup dari iklan.

Tidak hanya media cetak yang ‘makan’ dari uang iklan, tetapi juga media radio maupun televisi. Meski kita tidak membayar siaran radio maupun televisi, selalu ada broker (agensi?) media yang membeli slot iklan.

Nikmat gratis ini kemudian semakin bertambah di era internet. Daripada membayar koran Kompas atau tabloid Fantasi, lebih baik beli kuota internet kan. Apalagi sudah eranya citizen journalism, kan. Entah via twitter, blog, atau YouTube, kita sudah mendapatkan berita. Meskipun twitter bersifat amplifikasi instead of memproduksi berita ya. Beritanya bisa jadi dari tirto.id atau kumparan.com.

FYI, pandemi rupanya menimbulkan lubang besar yang menganga di jurnalisme kita. Laporan Remotivi menyampaikan demikian. Sebagaimana banyak perusahaan memutuskan hubungan kerja dengan para karyawannya.

Produk jurnalisme via Twitter, Blog, maupun YouTube kan seringkali dan banyak kali masih bersifat personal kan. Artinya, kegelisahannya masih seputar individu tersebut.

Hal tersebut, dalam kacamata industri media, berbeda dengan kita sebagai kesatuan masyarakat yang membutuhkan berita politik, ekonomi, sosial, dan lain sebagainya yang idealnya mampu disediakan oleh tim, brand, atau perusahaan media tertentu.

Informasi demikian adalah penting karena selain sebagai informasi itu sendiri, juga menjadi bahan analisis atau rujukan sebelum melakukan aktifitas. Apalagi negara kita masih mengaku sebagai negara demokrasi. Di mana, media adalah pilar keempat demokrasi yang keberlangsungannya (sustainability) sebagai industri wajib kita pertahankan di tengah berbagai disrupsi yang terjadi.

Internet-based Media

Media sudah, sedang, dan akan terus berdamai lalu berkawan dengan pendisrupsi seperti internet.

Dulu, kita bisa lenggang kangkung menikmati media secara “gratis”. Karena dibalik layar ada berbagai perusahaan yang mau membayar media cetak, radio maupun televisi demi mendapat slot iklan. Perusahaan media hidup dari iklan.

FYI, combo(?) internet+pandemi memaksa terjadinya PHK di beberapa perusahaan media. Terus, mereka pindah ke mana?

Haikel menemukan bahwa semakin banyak jurnalis pindah ke profesi “communication” atau dengan kata lain, berpindah dari wartawan menjadi communication officer di perusahaan swasta atau LSM.

Mengandalkan iklan tradisional saja sudah ditinggalkan oleh pemain media kita. Bahkan ada media digital yang engineering-nya saja sangat berbasis iklan (digital). Sebut saja detik.com dan tribunnews.com.

Adaptasi ke digital tersebut diikuti dengan kelemahan lain: terlalu banyak iklan akan membuat media tersebut “ditinggalkan” oleh pembacanya. Artinya, engagement yang terjadi tidak sampai ke hati pembaca. Sesuai promise-nya, hanya kecepatan yang mereka berikan; pembacanya pun hanya meminta kecepatan. Soal aktual, tajam dan terpercaya ya nanti dulu.

Saya lihat, kepercayaan (trust) konsumen media adalah buah dari ketajaman pemberitaan. Tantangan cost dari berita yang tajam adalah manhour/mandays-nya lebih tinggi daripada berita-berita 5W1H semata. Dalam ilmu bisnis secara umum, makin tinggi cost-nya, price tag-nya juga lebih tinggi, donk.

Strategi Media Online

Model bisnis (dan strategi harga) yang tepat untuk hybrid media (omnimedia) adalah freemium. Ada yang gratis (free) untuk menarik massa dan menaikkan ranking Alexa. Ada juga yang berbayar untuk menopang yang gratis.

Apa saja layanan yang mungkin berbayar atau menjadi alasan bagi konsumen untuk mengeluarkan uang? Berikut beberapa contohnya.

  • theguardian.com, ada opsi untuk sekali bayar “contribute“, atau bayar rutin “subscribe“.
  • remotivi, bisa kontribusi via kitabisa.com atau belanja produk merchandise di IG @tokoremotivi
  • lakukan funneling (register and login) dulu, monetisasi kemudian seperti kompas.com
  • dan lain sebagainya (event, grants, syndication, sponsored content, consulting and training)

Bagaimana dengan Blogger?

Blogger sebagai media dalam skala individu, maupun pelaku citizen journalism, juga tidak luput dari operational cost, ‘kan. Apalagi yang sudah menggunakan TLD (top level domain) dan paid hosting.

Apa saja yang bisa dilakukan blogger?

  • Punya produk/merchandise untuk dijual.
  • Punya jasa untuk dijual. Either jadi blogger dulu baru bangun keahlian, atau kamu adalah ahli yang kemudian masuk dunia blogging.
  • AdSense. Saya taruh nomor tiga karena nilainya tidak terlalu besar.
  • Open donation. Ini lebih mengenaskan daripada AdSense. Kalau bukan penulis dengan personal brand yang sudah jadi, mengapa pembaca harus membayar kamu?

Demikian sekelumit isi kepala saya di akhir pekan ini. Ada pertanyaan atau pengalaman terkait? Mohon dibagikan di kolom komentar, ya 🙂

Zoom Out

Jangan hanya fokus zoom-in doank. Iya, siy bikin fokus dan beres. Sesekali, lakukan juga zoom-out guna menggali makna dan kisah tersembunyi.

Teknik yang sering kali saya lakukan sebagai perenung, pemikir, penulis sekaligus pelaku kehidupan.

Zoom Out dalam Penulisan.

Ada zoom out, ada zoom in. Zoom in itu seperti seorang jurnalis membuat berita: ada 5W 1H. Ada kalanya terasa “receh” kalau menulis berita. Ah gitu doank. Titik tekan berita pada 5W1H menjadikan berita sebagai informasi yang cukup tahu saja. Bukan salah berita. Memang di sanalah peran yang kita harapkan: aktual, tajam, terpercaya. Hehehe. Seperti slogan sebuah kantor berita ya.

Berbeda dengan zoom out. Ada peran dan tujuan yang berbeda ketika kita melakukan zoom out pada suatu berita. Kita mencari berita-berita yang sejenis. Bila beruntung, kita akan menemukan suatu fenomena yang memiliki kesamaan pola-pola tertentu. Di sinilah terjadinya suatu ‘Aha!’ moment.

Momentum Aha! adalah modal menulis dengan perspektif yang akan di-zoom-out-kan. Rasanya akan indah sekali karena kita akan bercerita (storytelling) dengan plot yang lebih baik kepada audiens. Selain narasi yang lebih menyentuh, tulisan feature juga menyajikan analisis mendalam. Analisis tidak berarti harus berat ya; bisa juga menghibur atau bahkan memancing tawa.

Coba simak 4 Elemen tulisan feature versi Tempo Institute.

Lebih obyektif dalam memandang hidup

Kalau sedang merasakan masalah, saya cenderung memberi ‘jarak’.

Saya bilang ‘merasakan’, karena masalah ‘kan selalu ada ya. Datang tanpa henti. Soal perasaan, kembali ke kita masing-masing. I choose to filter and select which problem is the real problem.

Kembali ke soal ‘jarak’. Bisa jadi benar-benar berupa jarak secara fisik, bisa jadi juga saya berikan waktu yang cukup untuk memikirkannya. Itulah ‘zoom out‘ versi saya.

Zoom out juga bisa berupa tindakan kita untuk curhat. Ekstrimnya, ke orang yang tidak mengenal kita –keluarga, teman kantor, teman main, dan sebagainya. Misalnya curhat berbayar ke psikolog.

Saya gak bilang jangan curhat sama sekali ke keluarga atau teman. Poinnya adalah, curhat bukan sekedar meluapkan perasaan, namun juga merekonstruksi kembali isi pikiran (termasuk melihat memori/kenangan dari sisi yang lain).

Salah satunya adalah curhat dengan mereka-mereka yang bisa memberikan sudut pandang berbeda atas masalah kita. Sehingga kita bisa lebih jernih memandang.

Kalau ada anggota keluarga atau sahabat yang bisa demikian, that’s good for you.


Sebagai kesimpulan dari berbagai dimensi dan perspektif yang sudah disebut di atas, manfaat nge-zoom-out adalah menemukan konteks dan menghubungkannya satu sama lain. Dengan begitu, kita akan ‘meng-angkasa’ dan dapat melihat dari jauh dengan helicopter view yang kita miliki.

Ada pengalaman pribadi soal zoom-out? Boleh banget share di kolom komentar, ya 🙂

Baca juga tulisan JOURNAL saya yang lain, ya.

Locker Sterilizer

Current Situation

Kita tidak bisa menghindari kontak dengan orang lain. Sekalipun sudah memakai masker dan menjaga jarak (social distancing).

Kita bisa menjaga kesterilan tangan kita lewatrajin mencuci tangan dengan sabun. Misalnya setelah memegang gagang pintu, menyentuh tombol mesin ATM, dan lain sebagainya.

Namun, setelah tangan kita bersih dan steril, bagaimana dengan barang-barang yang kita pegang?

Misalnya uang yang kita ambil di ATM, atau uang kembalian pasca berbelanja di warung atau minimarket terdekat.

Adakah cara untuk mensterilkannya?

Ada. Dengan Locker Sterilizer atau bisa disebut Pocket Sterilizer atau Box Sterilizer.

Locker ini dilengkapi dengan pemanas dan lampu UVC guna mensterilkan barang-barang di sekeliling kita seperti masker, pakaian, botol susu bayi, pompa ASI, piring dan sendok, stainless, kardus, keramik, besi, kertas (uang/dokumen), mainan dan banyak lainnya.

Sangat cocok untuk :

+ Terima paket online, jam tangan, dompet, hp, kalung, cincin
+ Setelah dari pasar atau super market langsung masukin aja barang belajaannya
+ Tas, Helm Sepeda, sarung tangan, kebutuhan olah raga lainnya.
+ Camera, laptop, pulpen, kebutuhan kantor lainnya
+ Dokumen kantor/perusahaan

Manfaat Locker Sterilizer

+ Dapat membunuh 99.9 % Kuman, Virus, bakteri
+ Mengunakan 1 Lampu GERMICIDAL UV C HIGH QUALITY 8 WATT
+ 360 Drajat di pastikan semua bagian terkan sinar UV
+ Produk Lampu uvc kami terbaik dengan gelombang = 253.7nm
+ Pantulan cahaya merata ! Sehingga semua sisi barang kena UV
+ Mengandung Ozon Kualitas terbaik
+ Terdapat Switch On / Off
+ Mudah di Gunakan

Dimensi Box Sterilisasi 44x40x31cm
Tegangan 220V
Lampu UV C 8 Watt

GARANSI 1 BULAN

Cara Pengunaan :
+ Taruh barang di dalam box dan nyalakan selama 2-5 Menit

1 LAMPU GERMICIDAL UV C HIGH QUALITY ( ATAS )

TURBO UVC Sterilizer secara efektif membunuh berbagai macam virus, kuman, dan bakteri berbahaya dengan tingkat efektivitas 99% – termasuk menguraikan RNA virus, bakteri, dan patogen sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup manusia.

TURBO Box Sterilisasi UVC – YTD88 sangat cocok digunakan di rumah, sekolah, restauran, hotel, café, bank, perkantoran, spa dan gymnasium.

Spesifikasi
– Volume : 80 Liter
– Tegangan Listrik : 220 Volt / 50Hz
– Daya Listrik : 110 Watt
– Pengatur Waktu : 5 menit / 45 menit / 60 menit
– Dimensi : 420 x 370 x 790 mm
– Jumlah Tingkat : 4 Tingkat
– Kekuatan Beban per Tingkat : 5 kg/tingkat
– Suhu Pemanasan : 50-60 QC
– Grade Desinfeksifikasi : Grade 1
– Masa Pemakaian : lebih dari 3.000 jam pemakaian
– Garansi Resmi : 3 Tahun

Fitur Khusus
– Material luar terbuat dari stainless-steel berkualitas tinggi
– Pintu kabinet terbuat dari panel kaca cetak anti-lecet
– Kapasitas besar (80 Liter) dengan beberapa level rak yang mudah dibersihkan
– Sterilisasi dengan UVC dan pemanas – efektif membunuh virus COVID-19, bakteri, dan patogen lainnya
– Lampu T5 UVC 8 Watt terletak di bagian tengah kabinet serta dilindungi jeruji stainless
– Alat pemanas yang berada di level rak terbawah
– Smart-touch panel yang modern dan sangat praktis digunakan
– Dilengkapi Switching Function dengan metode operasi yang mudah
– Hemat daya (hanya 110 Watt)
– Fitur handle tersembunyi
– Desain yang mewah dan futuristik

Pentingnya Financial Planning

Lama berkutat mempelajari dengan financial planning, masih aja bingung ini-itunya. Akhirnya ambil online course dari rekan. Insight lengkap di post ini.

Financial Planning ini kelas online kedua yang saya ikuti tahun ini. Baru tadi pagi “graduation“, alias wisuda.

Karena upgrade diri kan penting, ya. Budget-nya untuk setahun sudah diadakan. Tinggal prioritasnya aja. Karena ada training untuk karir profesional, ada juga untuk keluarga (misalnya materi ke-ayah-an).

Financial Planning
https://tirto.id/menghindar-kena-jebakan-dompet-bokek-di-awal-tahun-cCYN

Selama ini saya kontinyu belajar soal financial management. Tapi secara otodidak. Baru yang 2 pekan terakhir ini saya berguru. Target saya adalah memvalidasi apa yang sudah kita ketahui, sekaligus update wawasan yang sifatnya baru. Khususnya kasus-kasus yang muncul karena buruknya pengelolaan keuangan. Karena,

Resource is limited.

Sumberdaya (salah satunya uang) itu sifatnya terbatas. Dan perlu dikelola (to be managed) dengan tepat.

Pada satu titik, ketika kita semakin dewasa (baca: menjadi lebih tua), peran kita semakin banyak. Menjadi suami, orang tua, hingga turut membantu keuangan orang tua yang sudah pensiun. Jadi, tidak hanya financial management yang harus dilakukan. Tapi juga financial planning.

Apa target perencanaan keuangan? Yaitu adalah menyiapkan sumber daya keuangan guna mendukung tercapainya tujuan-tujuan hidup kita. Tujuan kita bukan lagi sekedar beli permen di warung depan, beli pulpen di toko alat tulis, tetapi sudah jauh lebih besar: daftar ibadah haji, menabung untuk kuliah anak, dan lain sebagainya.

Berdasar waktunya, tujuan-tujuan tersebut bisa kita klasifikasikan ke dalam tiga jenis: pendek, menengah, dan panjang. Mewujudkannya tidak mudah. Selain karena sumber daya tidak terbatas, juga adanya inflasi dan hambatan/risiko keuangan lainnya.

Masalah Keuangan Kekinian

Fakta umum perihal keuangan keluarga di masyarakat Indonesia, ada dalam daftar berikut ini:

  • 46% orang Indonesia memiliki Dana Darurat hanya untuk seminggu ke depan (Survei OECD tahun 2020). Seharusnya, minimum 6 bulan.
  • 28,2% penyebab perceraian adalah faktor ekonomi (Badan Peradilan Agama, Mahkamah Agung, 2016-2018),
  • Indeks literasi keuangan Indonesia 38% (sementara Singapura 96%),

Itu yang kuantitasnya terukur, ya. Untuk kualitatifnya ada fenomena ini di sekitar kita:

  • Generasi Sandwich, tidak hanya bekerja untuk anak sendiri, melainkan juga masih berjuang demi orang tua yang sudah pensiun
  • Fenomena YOLO (You Only Live Once) dan FOMO (Fear of Missing Out) yang cenderung menghabiskan isi dompet para milennial.
  • Terjerat pinjaman online. Bahkan ada yang sampai meminjam di 141 aplikasi.
  • Imbal produk keuangan yang tidak sesuai ekspektasi. Seringnya akibat kesalahan dalam pembelian jenis produk keuangan, yaitu asuransi atau investasi.

Inflasi vs Compound Interest

Pemahaman saya, ada dua asumsi paling mendasar yang mendasari financial planning kita: inflasi dan compound interest.

Pertama adalah adanya inflasi. Bukan sekedar inflasi yang tiap bulan dan tahun dirilis oleh Biro Pusat Statistik (BPS). Namun juga inflasi pada kategori tertentu, misal pendidikan. Contoh: kuliah tahun 2005, per semesternya masih Rp1.850.000,-. Sementara tahun 2020 sudah Rp12.500.000,-. Dalam financial planning untuk dana pendidikan anak, asumsinya tidak lebih rendah dari 10%. Bahkan seringnya 15% atau 20%.

Nah, inflasi ini harus dilawan dengan investasi ber-compound interest. Kenapa harus investasi? Karena saving dalam bentuk uang saja tidak cukup. Masih akan dimakan oleh inflasi. Compound interest dalam deposito, reksadana, maupun saham menyebabkan nilai investasi dapat berlipat-lipat. Itulah dahsyatnya compund interest (bunga yang dapat berbunga-bunga lagi).

Jadi, segala kebutuhan kita di masa depan (naik haji, uang kuliah anak, uang pensiun, dll) angka uangnya akan tidak sama dengan hari ini. Akan naik seiring dengan inflasi. Untuk “mengejar”-nya, kita gunakan produk investasi ber-compound interest.

Emas

Bagaimana dengan emas? Apakah emas memiliki compound interest? Apakah emas bisa berlipat ganda? Nyatanya tidak. Lima gram emas yang disimpan akan tetap 5 gram.

Namun, kelebihan emas adalah sifatnya yang bisa melindungi daya beli suatu nilai uang. Dengan menyimpan emas, maka nilainya akan naik seiring inflasi.

Apalagi emas 5 gram atau 10 gram mudah sekali diuangkan. Berbeda dengan properti yang tidak bisa langsung laku.

Jangka Waktu dan Likuiditas

Sudah disebutkan di atas, ada 2 atau 3 jangka waktu realisasi kebutuhan. Sehingga, investasi juga ada jangka waktunya. Bisa pendek (<1 tahun), menengah(1-3 tahun, atau 1-5 tahun), maupun panjang (3-10 tahun, atau 5-10 tahun). Ada juga siy mengklasifikasikan jadi “pendek” dan “panjang” saja.

Misal butuh uang ratusan juta untuk salah satu kebutuhan. Tidak bisa serta-merta kita menjual properti (tanah, atau tanah dan bangunan di atasnya). Paling tidak, 2 tahun sebelumnya sudah mulai kita jual.

Jadi, properti itu likuiditasnya rendah. Berbeda dengan emas, reksadana, atau saham yang bisa diuangkan kapan saja. Namun, kelebihan properti adalah kenaikan harganya yang cukup baik untuk berinvestasi.

80% Kebiasaan

Financial planning, sebagaimana planning yang lain adalah hal stratejik. Artinya, hal-hal besar yang direncanakan hari ini untuk jangka 3, 5, bahkan 10 tahun ke depan.

Namun, yang stratejik ini hanya 20%-nya saja. Delapan puluh persen sisanya berakar pada kebiasaan keuangan kita. Yang terutama berakar pada dua hal: pencatatan pengeluaran dan penganggaran (budgeting).

Mengapa pengeluaran perlu dicatat? Karena es kopi-susu-gula merah setiap hari selama 30 hari itu bisa senilai Rp600.000,-. Jumlah yang lumayan untuk dibelikan reksadana atau saham, ‘kan?

Kalau sudah dicatat terus-menerus, kita bisa menelusuri (to track) dan mengevaluasi (to evaluate) ke mana larinya uang-uang kita. Bermanfaat atau tidak, boros atau tidak, sesuai anggaran atau tidak.

Nah, di sinilah peran budgeting. Supaya segala kegiatan kita jelas maksimal uang keluarnya berapa. Bukan hanya angkanya, tapi juga perbandingan terhadap pengeluaran/pemasukan keseluruhan.

Sebagai contoh, ada lho parameter maksimal kita membayar cicilan. Yakni maksimal 30%-35% dari total pemasukan.

Monitoring

Setelah budgeting, pencatatan pengeluaran, sesungguhnya kesehatan keuangan kita bisa kita monitor (to monitor) terus lho, kakak-kakak. Selain satu yang sudah saya sebut di atas, lainnya ada Rasio Likuiditas, mengukur kemampuan harta lancar kita dalam menutupi pengeluaran. Lainnya ada Debt to Asset Ratio, Saving/Investment Ratio, dan Solvency Ratio.


Pemahaman atas rasio-rasio dan produk keuangan penting sekali untuk mencegah kita terjebak ke dalam masalah-masalah keuangan seperti yang terjerat oleh 141 aplikasi pinjaman online.

Demikian uraian singkat dari saya mengenai pentingnya dan mendesaknya (urgent) perencanaan keuangan. Ada pengalaman pribadi soal perencanaan keuangan? Boleh banget share di kolom komentar, ya 🙂

Baca juga tulisan JOURNAL saya yang lain, ya.

Baca Ini Dulu Sebelum Membeli Kasur. No.6 Membuat Anda Terkejut.

Kasur anda terbuat dari memory foam, lateks, atau kombinasi keduanya? Penting lho mengenali perbedaannya sebelum membeli kasur.

Ini tulisan istri saya. Perihal memilih kasur tidur. Silakan disimak ya.


Malam semakin larut dan aku masih berkutat di depan laptop maupun HP. Agak aneh ya untuk seorang ibu rumah tangga, yang sama sekali nggak ada pekerjaan kantoran ataupun side job menulis, untuk berkutat di depan laptop maupun handphone terlalu lama.

Bukan, bukan karena memantau berita soal ricuhnya UU Cipta Kerja yang baru saja disahkan. Beberapa hari ini, saya memang jadi lebih sering ber-laptop maupun ber-HP ria, demi mengakses marketplace, Youtube, maupun Google, dalam rangka survey kecil-kecilan mencari bunk bed dan kasur untuk si kembar. Yang tepat guna dan tepat budget tentunya.

Dua hari ini full survey tentang matras untuk si kecil. Matras yang saya cari berukuran 90 x 200 cm dengan ketebalan maksimal 11 cm. Nah, setelah melakukan survey harga di marketplace, ada nih satu produk yang bikin pengen buru-buru check out keranjang belanjaan aja. Tapi survey belum selesai.

Hal yang perlu kita pastikan saat berbelanja online bukan hanya harga, namun deskripsi produk yang akan kita beli. Di tulisan ini saya ingin mencatatkan kembali point-point penting agar tidak terlupa.

Sejujurnya, saat saya mulai tergoda untuk check out barang dari toko A tadi, ada point yang lupa tidak saya perjelas, karena informasi yang tercantum dalam deskripsi masih ambigu.

Berikut hal-hal yang perlu kita perhatikan dalam memilih kasur:

1. Beli kasur matras, atau topper?

Apa bedanya kasur, matras, maupun topper? Kasur biasanya sudah termasuk “kaki” kasur ataupun dipannya. Meski tidak semua brand mengartikan seperti itu. Sedangkan yang dimaksud matras adalah bagian kasur yang empuk (tidak termasuk dipan maupun kaki/ambalannya.

Lalu topper itu apa? Nah, sebagian kasur, terutama yang jenis springbed, biasanya membutuhkan tambahan berupa topper untuk memberikan kenyamanan lebih. Topper ini bisa terbuat dari memory foam, lateks, atau campuran keduanya.

Meskipun saat ini sudah banyak kasur hibrida, springbed dan lateks atau double memory foam pada bagian atasnya, banyak orang yang pilih menambahkan topper untuk mempertahankan kenyamanan saat tidur.

memilih kasur
https://napcloud.in/latex-vs-memory-foam-mattress/

Tidak sulit untuk membedakan produk kasur, matras, maupun topper karena biasanya sudah dicantumkan dalam judul dan deskripsi produknya.

2. Pilih kasur apa: springbed, busa/foam, atau lateks?

Untuk menentukan matras apa yang kita cari, kita mesti menentukan dulu siapa yang akan menggunakannya. Apakah kita sendirian, atau berdua dengan pasangan atau saudara, atau justru beramai-ramai dengan anak, atau untuk anak-anak sendiri. Memangnya penting, ya? Tentu saja.

Misalnya, kasur springbed digunakan bersama dengan pasangan, ketika pasangan melakukan gerakan, maka pergerakan dari pasangan akan sampai ke kita. Sehingga dampaknya mungkin akan membuat kenyamanan saat tidur berkurang. Bayangkan kalau bobot pasangan di atas 100 kg, hehe 😀

Manakah bahan baku matras yang terbaik untuk tubuh? Tentu saja saya rekomendasikan lateks. Namun kasur full latex bisa jadi cukup mahal (umumnya 10 juta ke atas untuk ukuran 200 x 160).

Bagaimana dengan busa/foam dan springbed? Busa/foam dan springbed masih cukup nyaman digunakan oleh kita yang menggunakan kasur tersebut sendirian, dan memiliki berat badan cukup ideal.

Springbed kurang cocok untuk anak-anak, mengingat anak-anak sangat suka memfungsikan matras seperti trampolin. Pegasnya akan mudah rusak.

Sementara kasur busa tidak terlalu nyaman untuk melompat karena tipenya meredam gerakan. Selain itu, kasur busa banyak yang dibuat dari bahan kimia yang mungkin saja dapat memicu alergi pada anak.

Latex? Tidak mudah rusak jika anak-anak melompat-lompat di atasnya dan mampu menopang pengguna dengan berat badan berlebih.

3. Latex sepertinya pilihan terbaik, tapi cukup menguras kantong. Ada pilihan lain?

Saat ini banyak kasur hibrida — bahan bakunya campuran. Gabungan antara pegas, foam, dan latex, ada. Ada pula gabungan antara foam dan latex. Tinggal disesuaikan dengan siapa penggunanya, berat badan pengguna, serta anggaran (budget). Oh ya, juga sesuaikan dengan tempat tidurnya.

Misalkan, untuk tempat tidur bunkbed, sebaiknya gunakan matras ataupun topper berukuran tebal minimal 10 cm. Jika kita menggunakan matras dengan ketebalan 20-25 cm ke atas, tingginya dapat melebihi pagar ranjang dan terlalu berat untuk ranjang tipe bunkbed.

Bunkbed biasanya mampu menahan beban statis 100 kg per susunnya. Nah berat matras yang berukuran 20 cm ke atas (jika menggunakan material yang serba bagus seperti full latex atau pegas + foam + latex), biasanya berat matrasnya sudah 20 kilogram ke atas.

Begitu pula jika menggunakan dipan yang materialnya particle board (bukan kayu solid), akan kurang tepat jika kita menggunakan kasur full latex dengan ketebalan 20 cm.

Produk dengan harga tinggi biasanya membutuhkan produk komplemen dengan harga tinggi juga. Wow 😂 (sambil intip isi dompet)

4. Bagaimana cara memilih kasur busa yang bagus?

Ini penting namun jarang kita sadari. Biasanya saat memilih produk, yang pertama kita cek adalah harga, yang kedua adalah brand. Padahal spesifikasi produk juga sangat penting.

Permasalahannya, kadang di marketplace, tatkala memilih kasur kita menemukan suatu produk dengan brand sama, ketebalan sama, ukuran luasnya juga sama, tetapi harga berbeda jauh.

Jika terjadi yang seperti itu, sebaiknya cek lokasi tokonya dan konfirmasikan pada seller mengenai spesifikasi produk ya.

Misal, ada dua produk sama-sama brand Ino*c, ukurannya sama, dijual di toko yang sama maupun berbeda, tapi harganya berbeda jauh. Coba tanyakan pada seller, berapa nilai densitas (density) masing-masing produk.

Nilai density menunjukkan massa jenis busa yang digunakan. Makin tinggi nilainya, makin padat kasurnya, sehingga kemampuan menopang tubuhnya juga semakin baik.

Misalkan, latex memiliki nilai density 80 ke atas. Sementara kasur busa biasa, bisa memiliki nilai density mulai dari belasan hingga 40. Untuk busa rebonded, biasanya nilai densitynya dimulai dari 40.

Berapa nilai density kasur busa yang baik untuk tubuh? Sekali lagi, tergantung penggunanya. Beberapa orang memilih kasur busa dengan nilai density 30 keatas.

5. Tertarik membeli topper tapi yang latex? Cek dulu lapisannya!

Di awal saya mengatakan sempat tertarik ada suatu produk tapi jadi urung. Kenapa? Jadi, awalnya ada topper yang ukuran serta ketebalannya sudah sesuai dengan harapan saya. Disitu tertera keterangan 100% natural latex.

Saya pikir, Oh ketebalan 10 cm itu 100% latex ya? Hmm, murah juga ya harganya. Kemudian saya bandingkan dengan produk B yang merupakan topper latex juga, dengan harga selisih 500ribuan, ketebalan selisih 2 cm.

Di produk B ini saya mendapatkan informasi bahwa dari ketebalan 10 cm itu, lapisan latexnya 2 cm, dan sisanya adalah lapisan foam dan quit (sarungnya).

Disitu saya jadi bertanya-tanya, lantas yang produk A tadi, dengan ketebalan total 10 cm, berapakah ketebalan lapisan latex-nya? Dan setelah ditanyakan lebih detil lagi, saya baru tahu bahwa ketebalan lapisan latexnya juga 2 cm.

Apakah produk A lebih buruk dari produk B? Belum tentu. Apakah produk A jatuhnya lebih mahal dari produk B? Belum tentu juga! Kita bisa perjelas dengan menanyakan kualitas foam yang digunakan, berapa nilai densitynya. Makin tinggi nilai density, semakin tinggi pula harganya.

Apakah keterangan 100% natural latex di toko A itu pembohongan? Tidak. Toko yang menjual produk A memberikan deskripsi yang jujur, bahwa lateks yang digunakan 100% natural latex. Tapi bukan berarti ketebalan segitu itu full latex 100%. Dimengerti ya? 🙂

6. Point terakhir adalah budget. Berapa lama kita membutuhkan kasur atau matras ini?

Setiap kasus menghasilkan keputusan berbeda. Biasanya, jika kasur yang kita butuhkan berukuran 200 x 160 cm ke atas, itu berarti kita akan menggunakannya dalam jangka waktu cukup lama.

Membeli kasur yang memberikan jaminan garansi 12 tahun ataupun lebih, dengan spesifikasi yang mendekati sempurna, adalah keputusan yang baik. Untuk itu, survey dulu harganya. Jika dana masih kurang, kita bisa menunda dan menabung dulu.

Sedangkan untuk kasur berukuran single, kasur digunakan di lantai (biasanya untuk mencegah bayi jatuh dari tempat tidur yang tinggi), dan kasur untuk ranjang bunkbed anak-anak, biasanya tidak memerlukan kasur yang terlalu tebal dan hanya akan digunakan dalam waktu 5-10 tahun.

Untuk ini kita dapat memilih kasur dengan ketebalan 10 cm. Bisa menggunakan matras busa / kasur busa dengan nilai density yang cukup tinggi (26 ke atas, karena anak-anak biasanya tidak berat), atau menggunakan topper dengan ketebalan 8-10 cm yang lapisannya terdiri dari latex dan foam.


Nah sekian hasil survey saya selama beberapa hari ini. Semakin jelas informasi yang kita dapatkan, semakin kita tahu kasur tipe apa yang kita butuhkan. Semoga bermanfaat!

Baca juga tulisan lain dalam kategori JOURNAL ya.

Cara Mengelola Uang Supaya Hutang Hampir Nol

Hutang ini tidak diinginkan, tapi sulit dihindari. Inginnya nol, tapi susah sekali. Jadinya hampir nol saja.

Kalau harus berhutang, mau berapa, ke mana, dan berapa lama? Untuk diri saya, pertanyaannya saya balik: berapa lama, berapa kemampuan saya mencicil, dan dari keduanya baru akan ketahuan: berapa banyak? 

Lama Pinjaman 

Kita kan tidak tahu ya, kita akan hidup berapa lama. Jadi durasi hutang menurut saya harus sesingkat mungkin. Dari sana, baru dikalikan dengan kemampuan kita membayar cicilan. Akan ketemu berapa nilai uang yang layak kita pinjam. 

Kemampuan Mencicil 

Dalam persentase, ada yang menyarankan 30% untuk cicilan. Atau sepertiga, alias 33.33%. Dengan 33% yang lain untuk pengeluaran rutin, dan sepertiga sisanya tabungan dan investasi. 

Serba sepertiga ini hanya salah satu aliran pengelolaan keuangan, ya. Masih banyak aliran yang lainnya. Yang saya berikan contoh, hanya aliran yang saya praktikkan saja. 

Di suatu bank, pernah ada yang promo ke kantor kami, untuk gaji di atas 15 juta, cicilan KPR-nya dibolehkan hingga 50%. 

Jumlah Hutang 

Dari sini, dapat kita hitung, berapa jumlah uang yang layak kita pinjam, yaitu hutang yang mampu kita lunasi. Yaitu, mengalikan lama pinjaman dengan kemampuan mencicil tersebut. Sebagai catatan, mengambil hutang di Bank itu bisa jadi dikenakan biaya tambahan semacam biaya provisi (secara bahasa, provisi berarti pengadaan ya), biaya administrasi (urusan hitam di atas putih ini dikenakan biaya), dan lain sebagainya. 

Cara menagih hutang kepada teman

Kalau dari saya, prinsip saya memberi piutang, saya harus melihat kemampuan saya dulu. Artinya, berapa banyak yang bisa saya ikhlaskan, andaikan uang tersebut tidak kembali sama sekali. Jadi memang, niat memberi pinjaman untuk menolong. Bukan untuk mendapat keuntungan. Sependek pemahaman saya, untung dari pinjaman adalah riba. Dan itu yang dilarang dalam agama saya. Saya berusaha istiqomah menjalankan hal tersebut. 

Raditya Dika, dalam salah satu konten YouTube-nya, pernah menyatakan bahwa dirinya merasa lebih baik berjual-beli sesuatu dari si teman, daripada harus meminjamkan uang kepada teman. Paham, tidak? Ilustrasinya begini. Misal si teman butuh satu juta rupiah. Instead of meminjamkan, Bang Radit merasa lebih baik memberi pekerjaan kepada si teman senilai satu juta rupiah. 

Kembali ke soal teman yang punya hutang kepada kita. Tentu kita tagih dengan seramah mungkin. Tidak perlu galak. Bila dia membutuhkan tambahan waktu, sebaiknya kita berikan. Sudah seharusnya dia akan mengembalikan yang dipinjam, ‘kan? 

Soal ini, sependek pemahaman saya, mereka yang membebaskan hutang, akan mendapatkan naungan ‘Arsy di hari kiamat. Baca juga: memudahkan orang yang berhutang

hutang

Supaya lebih ikhlas perihal hutang yang tidak dibayar, saya biasanya mengingatkan diri saya untuk bekerja lebih keras. Di antaranya adalah bersilaturahmi dengan wajah-wajah baru. Barangkali dari hubungan tersebut ada rezeki yang bisa menggantikan nilai hutang yang tak terbayar. Selain itu, juga “mempertajam” penawaran (offering) barang/jasa ke pelanggan. 

Sebelum memberi pinjaman, boleh donk kita berpikir seperti Bank. Ada prinsip 5C yang biasanya diagung-agungkan: character, capacity, capital, collateral, condition. Untuk hutang pribadi, saya lihatnya dua saja. Karakter: orangnya bertanggung-jawab (amanah) atau tidak. Orangnya juga harus bisa kita hubungi/temui. Jadi kita tahu rumahnya. Kolateral, tidak mesti barang fisik sebagai jaminan ya. Tapi kestabilan pendapatan dan nilai pendapatannya. 

Utamakan Hutang Produktif 

Hindari hutang konsumtif. Ini aplikasinya beda-beda ya di setiap orang. Kalau saya, rasanya adalah dengan tidak menggunakan kartu kredit (CC). Karena belanja mudah sekali dengan menggunakan CC. Bisa lupa batas (limit) anggaran. Lagipula, saya bukan yang detil soal diskon, cashback, dan sejenisnya itu. “Pancingan” memakai CC kan promo potongan tersebut, ya. Kalau saya butuh/ingin, ya langsung saya bayar, hehe. 

Hutang pribadi atau rumah tangga yang produktif, mungkin hutang KPR ya. Karena harga tanah dan bangunan -biasanya- naik terus. Tapi produktif atau tidak sebenarnya case-by-case, siy. Salah beli tanah/bangunan, ekstrimnya bisa rugi juga. Lagipula, benar-benar menghasilkan kan kalau tanah tersebut dijual lagi. Which is, dalam kebanyakan kasus di wilayah yang sudah ramai penduduknya, harga tanah sudah sedemikian tinggi sehingga calon pembeli semakin sedikit. Alias, nilai di atas kertas doang yang tinggi, tapi menjualnya ya susah, hehehe. 

Konon, investor macam Robert Kiyosaki -selain game Cashflow Quadrant, dia ada perusahaan properti– hanya membeli satu dari seribu tanah/bangunan yang dia tengok. 

Bagaimana dengan hutang untuk usaha/bisnis? Mengambil hutang begini tidak boleh untuk sembarang belanja modal (capital expenditure) atau belanja rutin (operational expenditure, opex). Karena harus dihitung benar efeknya terhadap pertumbuhan (growth) omzet, klien, dsb. Kalau cuma tambal sulam, lebih baik tidak hutang sekalian. 

Simpulan menurut saya siy, kalau mau hutang produktif, sekalian aja bikin tim, bikin badan hukum (PT/CV), rencana yang detil, target yang terukur, eksekusi yang mantap, dan seterusnya. 

Baca juga: Hierarki Pengelolaan Keuangan

Air Purifier

Air Purifier adalah pemurni udara untuk ruang tidur atau ruang kerja. Dilengkapi dengan Ultraviolet-C, ozone generator, humidifier, dan bluetooth speaker. Dimensi 167x145x162 mm. Berat 0.946 kg.

Air Purifier adalah Alat pembersih udara adalah alat yang menghilangkan kontaminan dari udara di dalam ruangan untuk meningkatkan kualitas udara dalam ruangan.

Beda air purifier dengan humidifier

Secara teknis, purifier adalah penyaring udara. Alat ini menghisap, menyaring, lalu merilis kembali udara yang lebih bersih.

HEPA filter, yakni filter yang memenuhi standard HEPA (High-Efficiency Particulate Air). Filter ini bekerja dengan memaksa udara melalui jaring halus yang memerangkap partikel berbahaya seperti serbuk sari, bulu hewan peliharaan, tungau debu, dan asap tembakau. Air purifier biasanya menggunakan HEPA filter sebagai penyaring.

HEPA filter dirancang untuk menangkap 99,97% partikel berukuran 0,3 mikron atau lebih besar. Beberapa studi tentang pembersih udara portabel menunjukkan bahwa menggunakan filter HEPA menghasilkan pengurangan materi partikulat sebesar 50 persen atau lebih tinggi.

Karbon aktif menawarkan jenis filter lain, yang menangkap bau dan polutan gas (berukuran lebih kecil) yang dapat lolos dari filter HEPA.

Humidifier, di sisi lain, hanya berfungsi untuk mengontrol tingkat kelembapan di dalam ruangan. Mereka tidak melakukan apapun untuk mengontrol kualitas udara atau jumlah partikel di udara. Secara teknis, humidifier adalah kipas angin yang disemprotkan pelembab (terutama air) sehingga udara bergerak yang dihasilkan memiliki kelembaban yang lebih tinggi.

Bagaimana dengan Diffuser?

Perbedaannya adalah bahwa diffuser (tag: diffuser) umumnya merupakan perangkat yang lebih kecil yang dirancang untuk digunakan dengan minyak esensial.

Kategori ini disukai oleh orang-orang yang biasanya tinggal sendiri atau dengan orang-orang yang tidak memiliki masalah dengan bau minyak esensial. Diffuser terutama digunakan untuk menyegarkan aroma ruangan. Perhatikan bahwa Anda hanya akan mendapatkan keuntungan dari diffuser jika Anda menggunakan minyak esensial yang tepat untuk Anda.

Pengguna Wajib Air Purifier

Asma

Gejala asma meliputi mengi (nafas berbunyi), batuk, sakit dada, dan sesak napas. Penyakit ini mungkin terjadi beberapa kali sehari atau beberapa kali per minggu. Bergantung pada orangnya, gejala asma bisa menjadi lebih buruk di malam hari atau saat berolahraga. Asma diduga disebabkan oleh kombinasi faktor genetik dan lingkungan. Faktor lingkungan termasuk paparan polusi udara dan alergen. Pemurni udara (air purifier) memurnikan udara dari alergen (serbuk sari, bulu hewan peliharaan, tungau debu, asap roko), dan berbagai polusi udara. Faktor lingkungan dapat dikelola, salah satunya dengan air purifier.

Perokok Pasif

Ini terjadi ketika asap tembakau memasuki lingkungan, menyebabkan terhirup oleh orang-orang di dalam lingkungan itu. Paparan asap rokok secara pasif dapat menyebabkan penyakit, cacat, hingga kematian.

Pemurni Udara Mini 5 in 1

Dilengkapi dengan HEPA filter, sinar UV-C, Ozon Ionizer Generator. Efektif untuk melindungi anda dari bahaya virus, bakteri atau partikel-partikel kecil. Cocok untuk memurnikan ruangan kerja atau kamar, atau di mobil pribadi.

Sudah termasuk Humidifier dan Bluetooth speaker. Dengan dimensi 167x145x162 mm dengan berat 0.946 kg.

air purifier
air purifier
air purifier

References:

  • https://www.consumerreports.org/cro/air-purifiers/buying-guide/index.htm
  • https://pulptastic.com/humidifier-vs-diffuser/
  • https://www.cnet.com/news/best-air-purifiers-for-2020-from-molekule-to-honeywell/

Productivity Hack: Barang yang Wajib Ada di Meja Kerja

Kerja jadi lebih efisien, dengan 11 barang yang wajib aja di meja kerja. Baik untuk bekerja di kantor, maupun bekerja dari rumah.

Lagi zaman WFH begini, mendesain ruang kerja seperti di kantor bukan lagi sebatas keinginan. Malah sudah menjadi kebutuhan. Supaya productivity rate tercapai, minimal sama dengan ketika berada di kantor.

Barang wajib di meja kerja

Mungkin tidak harus persis sama dengan ruang kantor, ya — yang punya ruang meeting, papan tulis, proyektor, dan lain sebagainya. Untuk di rumah, setidaknya, semua yang dibutuhkan oleh kita pribadi, ada di meja kerja kita. Ada barang apa saja yang wajib ada di meja kerja kita?

Personal Computer (PC)

Tidak perlu dibahas mengapa dibutuhkan, ya. Opsinya bisa desktop, laptop, atau all-in-one PC.

Additional Monitor

Satu layar saja masih kurang. Butuh setidaknya dua. Bahkan ada yang harus tiga. Gunakan fitur ekstensi ke layar tambahan via tombol windows + huruf P.

Jurnal

Tentu tidak sama dengan jurnal pribadi. Tapi ini khusus mencatat rencana dan perkembangan pekerjaan. Bisa juga jadwal pertemuan. Kalau kamu masih mencatat rencana meeting secara manual, ini cocok untukmu. As we already know, sudah banyak di antara kita yang move on (baca: migrasi) ke Google Calendar.

Botol minum atau gelas.

Duduk seharian rentan dengan penyakit ambeien. Bisa dicegah dengan rutin minum. Cukupkan minum air putih untuk mencegah datangnya penyakit ginjal. Mengacu pada warna air seni, jangan sampai air seni kita berwarna pekat. Yang (salah satunya) disebabkan oleh minuman berwarna dan bergula seperti teh, kopi instan, softdrink, dan sebagainya.

Minum kopi sebagai penahan kantuk, atau minuman bergula lainnya untuk ‘mendongkrak’ gula ke otak yang dipakai berpikir, memang tidak terhindarkan. Namun, “dosis harian”-nya itu yang wajib kita kendalikan.

Headphone

Untuk call meeting, gunakan headphone supaya tidak polusi suara. Selain untuk meeting, gunakan pula Headphone untuk mendengarkan musik. Lagi-lagi supaya kerjanya bersemangat. Pilih lagu-lagu bertempo cepat untuk mendorong kamu sampai ke pace pekerjaan yang tinggi. Saya biasa mengawali hari dengan mood booster yang ini.

Charger HP

Rasanya tidak mungkin kalau smartphone berada jauh dari kita. Meski dalam status sedang di-charge sekalipun. Barangkali ada telpon penting atau mendesak, ‘kan. Jadi, siapkan charger HP di meja kerja.

Diffuser

Kombinasi diffuser + essential oil oke banget untuk membuat pernafasan, pikiran, dan mood siap bekerja. Saya biasa belanja dari natureessence.oil

Terminal

Sepaket dengan kabel colokan PC dan monitor, charger HP, dan diffuser, maka kita wajib punya terminal steker di meja kerja. Terminal wajib diletakkan di tempat yang aman (safe). Minimal menghindarkan dari kemungkinan basah kalau minuman kita tumpah.

Pelembab

Saya kadang jijik dengan bapak-bapak di masjid yang kulit kakinya kering dan pecah-pecah sedemikian rupa. That’s why saya stok pelembab di meja. Biasanya siy dipakai setelah sholat. Cukup sekali sehari.

Mungkin kebutuhanmu bukan pelembab seperti saya ya. Tapi coba dipikirkan, deh. Pasti ada produk toiletris atau kosmetik yang sangat personal untukmu dan harus ada di meja kerjamu.

Obat Sakit Kepala

It depends on kamu punya penyakit kambuhan apa. Kalau saya, paling sering ya sakit kepala. Misal karena insomnia malamnya (akibat overthinking), atau sebab-sebab minor yang lain. Biasanya kantor ada kotak obat ya. Meskipun itu hak karyawan, tapi tahu diri lha ya kalo konsumsinya sudah melebihi batas kewajaran. Akhirnya stok sendiri, deh. Hehe.

Apa saja jenis obat yang biasa ada di kotak obat? Obat maag, penghilang nyeri haid, obat diare (serius!), balsem otot, dan lain-lain.

Sandal

Mengingat tidak semua peran butuh untuk berinteraksi dengan orang di luar divisi, atau bahkan di luar perusahaan, boleh donk kita memakai sandal di bilik/meja kerja kita sendiri. Jadi, siapkan sandal ya. Saya juga memaki sandal yang sama kok untuk ke masjid.

Demikian ulasan saya mengenai barang meja kerja. Semua yang saya sebutkan di atas, terbukti meningkatkan produktifitas saya. Mudah-mudahan hal yang sama bisa berlaku untukmu, ya.

Baca juga: Work from Home, dari Terpaksa sampai Biasa Saja.

Work From Home, dari Terpaksa menjadi Biasa

Awalnya terpaksa. Rasanya berat sekali. Lima bulan berjalan, WFH sudah semakin biasa saja. Dalam artikel ini, ada beberapa cerita dan saran soal WFH.

Pernah tiga sampai empat kali dalam dua minggu terakhir, para ortu dan mertua menanyakan ke saya dan istri, “Kerja di rumah atau di kantor?”. Dan jawabannya masih sama seperti pekan-pekan sebelumnya, “Iya, masih di rumah.” Paling tambahannya, “Kalau mau ke kantor, dibolehkan. Tapi tetap dianjurkan di rumah.”

Kantor kami juga masih was-was dan mengambil sikap hati-hati soal “memulangkan” para karyawan ke gedung kantor. Topologinya mirip pabrik gitu. Luas, tanpa sekat, dengan udara yang bersirkulasi dalam bangunan saja. Which is, ini risiko banget menyebarkan virus. Apalagi, kami tidak menggunakan jasa asuransi. Bisa jebol kantong perusahaan kalau banyak yang sakit, periksa ke dokter, dan berobat dalam satu periode sekaligus ketika ada wabah–persis seperti sekarang ini.


Pada awalnya, Work From Home (WFH) disambut dengan gembira. Tidak menghabiskan waktu, uang bensin dan energi untuk commuting pergi-pulang rumah-kantor. Perasaan juga lebih lega. Kita kan tidak tahu persis ya rekan sekantor pergi ke mana saja. Sebab eksposur dari kantor juga sampai ke rumah kita — yang ujung-ujungnya pakai mampir ke anggota keluarga tersayang. Perlahan, rasa was-was lenyap.

Sirnanya kekhawatiran tersebut ternyata ilusi belaka. Sebab, orang yang positif/reaktif covid-19 juga tidak kunjung turun. Bahkan terus bertambah. Apalagi colaps-nya sistem kesehatan nasional kita seakan menunggu waktu. Yang akan terjadi kira-kira 6 bulan dari sekarang.

Indikatornya adalah menurunnya jumlah tenaga kesehatan (nakes) karena sakit dan diistirahatkan, hingga yang paling buruk: meninggal dunia. Okupansi (parameter yang biasanya dipakai hotel maupun tempat menginap lainnya) rumah sakit maupun puskesmas semakin meningkat. Bila ini terus terjadi, lama-lama fasilitas kesehatan akan menolak pasien. Fenomena yang sebenarnya sudah mulai terjadi, terutama di daerah-daerah.

FYI, saya follow akun twitter @firdaradiany karena di pandemi ini beliau menghimpun dan mengkompilasi berita-berita pandemi covid-19.

Kembali ke topik WFH. Kondisi yang memburuk akhirnya “menahan” saya untuk tetap di rumah. Baik untuk bekerja, maupun menghindari pertemuan atau interaksi yang kurang produktif di luar rumah. Sebelum pandemi ini, saya mudah sekali meng-iya-kan ajakan ngopi-ngopi dari rekan. Alias hangout yang sebenarnya tidak penting.

Terpaksa WFH

Namanya rumah ya lebih untuk tempat tinggal ‘kan. Kantor tempat bekerja. Fasilitasnya jelas beda. Kantor didesain dan direkayasa supaya “penghuni”-nya lebih produktif. Terutama lewat fasilitas kantor yang menunjang: meja dan kursi kerja, hingga cemilan supaya gak boring. Bila di rumah, terpaksa bekerja dengan fasilitas seadanya. Setidaknya di awal-awal WFH.

Bagi kebanyakan karyawan, bekerja jarak jauh (remote) itu terasa sendirian (feeling lonely). Rasanya seperti bekerja tanpa pengawasan oleh supervisor (atau team leader). Di sisi lain, tidak bisa komunikasi lisan secara langsung dengan rekan kerja. Jadi rasanya seperti bekerja seorang diri. Ini bisa berimbas pada turunnya produktifitas. Baik individu, tim, maupun perusahaan. Yang sangat mungkin terjadi pada perusahaan yang belum pernah membuka diri pada opsi flexible working.

Tantangan WFH

Tantangan utama WFH adalah bagaimana mempertahankan produktifitas tetap tinggi sebagaimana di kantor. Cara pertama dengan mempersiapkan diri dan perlengkapan sejak pagi hari. Misalnya dengan mandi pagi supaya segar, makan pagi supaya gak kelaparan ketika pekerjaan dimulai, maupun hal-hal remeh semisal menyapa rekan-rekan dengan ucapan selamat pagi atau selamat bekerja.

Dari saya pribadi, biasanya mempersiapkan pekerjaan, minimal dari disiplin menuliskan rencana kerja di pagi hari, dan menuliskan perkembangan (progress) maupun hasil kerja di sore harinya di jurnal pribadi saya yang khusus untuk pekerjaan.

Membiasakan WFH

Ketika WFH, saya amati ada dua hal yang sering terjadi. Ini bisa dijadikan tolok ukur apakah WFH benar-benar sudah terinternalisasi atau belum. Hehehe.

Pertama, lupa hari kerja. Rekan saya baru menyadari hari tersebut adalah tanggal merah setelah bekerja selama 4 jam. Cerita dari senior dosen: bikin event online, yang ternyata jatuh di tanggal merah.

Kedua, tidak mengetahui progress pekerjaan tim maupun perusahaan. Di sinilah pentingnya berbagi info mengenai apa yang sudah dan akan dikerjakan. Dalam bentuk standup meeting, aplikasi kolaborasi pekerjaan (salah satunya Trello), atau medium lainnya.


Meskipun opsi bekerja di kantor boleh diambil, namun kami sekeluarga memutuskan supaya saya tetap bekerja dari rumah. Ini adalah privilege yang kami tidak boleh lupa untuk syukuri. Sebab tidak semua pekerjaan bisa dilakukan dari rumah.

Pada akhirnya, kami kembali pada kesimpulan bahwa tiap-tiap pekerjaan memiliki challenge-nya masing-masing. Yang harus turun ke lapangan, semisal para penjaja (salesman), tantangannya adalah soal disiplin memakai masker dan menjaga jarak. Sementara yang sudah WFH selama 6 bulan, tantangannya adalah bagaimana menyikapi ketidaksabaran diri sendiri.

Mudah-mudahan di Desember nanti ada kabar baik ya, mengenai vaksin untuk covid-19. Masih 4 bulan lagi. Aamiin.

Baca juga ya:

Work From Home https://infografik.bisnis.com/read/20200318/547/1215188/waktunya-bekerja-dari-rumah
Ini ada infografik yang menarik sekali dari @bisniscom mengenai Work From Home