Lebaran ala Covid-19

Setelah Ramadhan combo covid-19, kali ini bagaimana Lebaran di pandemi yg sama?

Sejak semalam, yakni di malam lebaran (notabene sudah 1 Syawal), sudah gelisah duluan. Kudu nge-briefing and coaching si Anak Dua. Apa 30 hari yang sudah lewat, dan apa yang akan kita lakukan di pagi harinya (Shalat Ied). Coaching-nya meliputi 8 kali takbir di rakaat pertama (termasuk takbir pertama banget), 6 kali takbir (include setelah bangun dari sujud) di rakaat kedua, dan apa yang dibaca (subhanallah, wa alhamdulillah, wa laa ilaha illahu, allahu akbar).

Kalau bukan Lebaran Covid-19 ini, saya juga gak belajar bahwa ada sunnahnya untuk membaca Al A’la (Sabbihisma rabbikal a’la) di rakaat pertama dan Al Ghashiyah (Hal ‘ataka haditsul ghasiyah) di rakaat kedua.

Masjid RW di RT saya sebenarnya menyelenggarakan Shalat Ied, bahkan sejak beberapa malam terakhir mengadakan tarawih — harap maklum ya, banyak pensiunannya, tampaknya kehilangan pertemanan sekali kalau tidak ‘bermain’ di masjid.

Namun, kami memilih untuk ‘Ied di rumah saja. That’s why saya belajar jadi imam.

Rindu Ramadhan

Jadi, sejak magrib kemarin sampai sholat tadi masih galaw-galaw gitu. Phhysically, Ramadhan memang tidak nyaman ya. Bangun sebelum subuh, masak, makan sahur, harus ditahan sampai beres subuh-an. Bahkan jangan tidur sampai matahari terbit, deh. Bangunnya gak akan enak kalau tidurnya di jam-jam tersebut.

Di sisi lain, bulan Ramadhan adalah satu-satunya momentum dan medium untuk melatih kita meningkatkan intensitas ibadah. Ya lewat tarawih, tilawah Al Quran, iktikaf, dll.

Jelas berat untuk meraih semuanya dalam satu Ramadhan. Setidaknya, kita bisa meningkatkan satu aspek di satu Ramadhan, kemudian aspek lainnya di Ramadhan.

Makanya kita diajarkan untuk berdoa agar tetap dipertemukan dengan Ramadhan tahun depan, ‘kan? Simply karena Ramadhan bisa membantu meningkatkan amal ibadah.

Physical Distancing

Ramadhan + Lebaran di musim pandemi begini memang sangat berbeda rasanya. Sebagai negara bangsa dengan kebiasaan guyub, alias apa-apa kudu bareng, ‘mengekor’ ke satu informal leader tertentu, lebih ramai lebih enak/nyaman, dst-nya, lebaran kali ini terasa sekali sepinya. Dalam skala tertentu, sepi = sedih.

Kalau selama Ramadhan, loneliness untuk introvert seperti saya malah membuat produktif lho. Ngajinya jadi lebih banyak, tarawih gak harus di masjid, dsb.

Tapi beda sekali dengan tahun-tahun sebelumnya di mana kita bisa mudik, puasa, tarawih, dan lebaran bareng dengan keluarga. Crowd attract happiness indeed. But physical distancing keep us apart and make us feel lonely. Buat apa mudik kalau malah menyebarkan virus. Jadinya hanya bisa mengirim doa (and hampers!) dari sini.

Lebaran ini unik di tiap negara. Kalau Indonesia unik dengan crowd dan keguyubannya, maka di negara-negara Arab malah sepi di tanggal 1 Syawalnya. Bahkan, tanggal 2 Syawal langsung menggeber puasa Syawal sepanjang 6 hari berturut-turut. Link Kumparan berikut ini mengulasnya.

Pasca Lebaran

Di New Normal, saya singgung bahwa banyak hal sedang bergeser (shifting). Begitu kuatnya hingga menjadi sesuatu yang biasa/normal.

WFH akan kita jalani dengan fisik yang lebih nyaman. Kapanpun lapar/hausnya bisa makan/minum. Tidak menunggu adzan magrib.

Anak Dua yang mestinya Juli ini mulai sekolah, kayaknya perlu kami tunda dulu. Setidaknya satu semester. Kita kurang paham dampak Covid-19 ke anak-anak ini sebenarnya gimana. Only conservative thinking applied.

Frozen food makin eksis juga. Bagian dari New Normal yang apabila menunggu vaksin saja, paling cepat sedikitnya 2-3 tahun.

Pendapatan yang lebih rendah bagi masyarakat kita, setidaknya juga berlangsung 2-3 tahun ke depan. Implementasi protokol-protokol kesehatan pasti berdampak pada perekonomian. New Normal-nya adalah, membiasakan diri untuk lebih ketat mengelola keuangan.

FYI, perputaran ekonomi dari yang didorong oleh THR untuk mudik, belanja baju lebaran, kirim hampers, adalah perputaran yang sesaat sifatnya. Di sisi lain, sedihanya adalah crowds tersebut akan menjadi bibit-bibit cluster covid-19 yang baru.

Show atau entertainment macam sepakbola di musim yang baru, belum tentu akan dilanjutkan. English Premier League (EPL) sebagai yang paling bergengsi, juga masih bimbang. Makin ke sini, perkembangan antara negara semakin berbeda-beda. Liga Jerman (Bundesliga) termasuk yang beruntung karena tampaknya berjalan baik. Hari ini sudah pekan kedua berjalan pasca pandemi.

Selamat merayakan hari raya idulfitri 114 Hijriyah. Mohon maaf lahir dan batin. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala menerima amal ibadah kita di bulan Ramadhan yang lalu, dan semoga kita dipertemukan kembali dengan Ramadhan tahun depan. Aamiin.

NB: Pre-Order buku terbaru saya, “Freelance 101” telah dibuka. Buku ini memperkenalkan topik-topik umum seputar pekerjaan lepas (freelancing):

  1. Ada peluang apa saja untuk menjadi pekerja lepas
  2. Bagaimana cara memulai freelancing
  3. Bagaiaman para freelance beroperasi sehari-hari
  4. Mengatasi tantang freelance banyak sekali
  5. Meningkatkan produktifitas
  6. Kerja jarak jauh

Untuk ikut memesan, silakan tombol di bawah ini:

Harapan untuk Ramadhan Tahun Depan

Ramadhan 1441 H yang akan kita kenang sepanjang masa. Combo-nya dengan Covid-19 menghadirkan experience unik ber-Ramadhan-ria.

Tidak setiap tahun saya menulis tentang Ramadhan, rupanya. Masih ada jejak di blog lama tulisan dengan tag tersebut: My Ramadhan Eating. Itu tulisan tahun 2015. Waktu itu, saya sudah menikah, tetapi masih long distance dengan keluarga. Saya di Jakarta, istri dan anak dua (waktu itu baru 2 bulan banget) di Surabaya. Masih jomblo lokal, lha. Ramadhannya masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya.

Hampir gak pernah menulis tentang bulan puasa, mudah-mudahan bisa saya ingat sebagai “berusaha untuk fokus beribadah”, ya. Instead of Ramadhannya tak teringat dan tak berkesan sama sekali.

Ramadhan yang Unik

Ramadhan tahun ini, tentu akan menjadi Ramadhan yang akan kita kenang seumur hidup kita. Betapa tidak, Ramadhan plus pandemi. Atau sebaliknya. Pokoknya, Combo banget.

Terasa banget kontrasnya, karena di Indonesia yang masyarakatnya guyub banget, bulan Syahrul Quran (bulan yang di dalamnya diturunkan permulaan Alquran) adalah momen kumpul-kumpul. Buka bareng sama si alumni ini dan komunitas itu, tarawih di masjid ini, qiyamul lail (QL) (alias iktikaf) di masjid itu, dan sebagainya.

Kontras sekali dengan ramadhan tahun ini. Yang seakan memerdekakan para introvert yang suka menyendiri. Membebaskan dari aktifitas buka bareng yang gak wajib-wajib amat, atau tarawih yang crowded. Atau mudik yang sesak dan melelahkan.

Sudah seharusnya, kita refleksikan ke ibadah Ramadhan ya. Di bulan latihan yang penuh berkah ini, seberapa mampu kita menaikkan frekuensi dan kualitas ibadah. Saya bermaksud bertanya ke diri sendiri, daripada menanyakan hal tersebut ke teman-teman pembaca sekalian. Peluangnya ada di depan mata ya. Kita tidak kemana-mana. ‘Kan kita sedang physical distancing.

Harapan untuk Tahun Depan

Cukup standard. Meskipun masih ada beberapa hari menuju final, doanya masih sama dari tahun-tahun lalu: semoga dipertemukan dengan bulannya Al-Qur’an di tahun depan. Ini yang pertama.

Kedua, supaya saya dan keluarga lebih khusyuk dan intens beribadah. Mulai dari sekarang dan seterusnya. Untuk semua jenis ibadah.

Bulan suci sebagai “gong” menyediakan momentum yang tepat untuk memotivasi anak dua untuk beribadah. Mulai dari (latihan) wudhu, iqomat, surat pendek (masih seputar tiga qul), bacaan shalat, sahur, puasa dan niatnya, berbuka dan doanya.

Bulan ini hanya sebulan di antara 12 bulan. Masih ada 11 bulan selain bulan ini. Satu bulan ini hanya ‘reminder‘. Perjuangan sebenarnya di sebelas bulan yang lain.

Kalau ada yang salah atau kurang tepat, datangnya dari saya. Sedangkan yang benar hanya dari Allah subhanahu wa ta’ala.

Bandung, hari ke-23 Ramadhan 1441 H. Mei ke-16, 2020 M.

Hilangnya Sepak bola selama pandemi

Why I love football so much and lost them even more during this pandemic.

Di masa pandemi begini, weekend kita diisi tanpa hiburan. Biasanya hiburan saya seputar sepak bola. Baca preview/prediksi, nonton live, mengulangi highlight, baca review, dst. Ampun-ampun deh kalau sudah jadi fans bola, tuh. Begini ya, Jumat baca prediksi, Sabtu-Minggu nonton, Senin baca review + ulang highlight, Selasa baca prediksi liga internasional, Rabu + Kamis nonton liga tengah pekan, Kamis + Jumat menikmati review liga tengah pekan. Eh tiba-tiba sudah jumat lagi. Siklus berulang demikian rupa sampai dengan pandemi covid-19 datang.

Dan banyak di antara kita merasa kehilangan.

But, why I love football so much?

sepak bola

Pas kapan waktu, gak sengaja main ke mantan blog lama, ketemu beberapa tulisan soal sepak bola. Sedikitnya ada 6 tulisan. Jangan malu-malu untuk klik dan baca ya, hehe. Bukan terlalu sedikit untuk dibilang have no interest. I must admit that I have loved football for almost 20 years.

Awalnya, suka pada umumnya fans bola, lha. Ada pemain dan klub favorit, skill individu, dan lain-lain yang lebih pada aspek teknis invidualnya.

Seiring waktu berjalan, tidak hanya pada tersebut di atas yang menjadi concern dan berlanjut menjadi objek observasi saya. Tapi lebih pada aspek-aspek team play dan bisnis (strategi dan keuangan). Keenam tulisan di atas merefleksikan ke mana interest saya, sebenarnya.

Team Play

Okay, team play salah satu yang menarik. Meskipun gak terlihat di keenam link di atas, ya. Haha.

Football itu mainnya 11 orang di lapangan. Tugas-tugas individu dan tim, hanya dua: bertahan dan menyerang. Mencetak gol ke gawang lawan lebih banyak daripada lawan menjebol jala kita.

Teorinya bertahan itu gampang, kamu dan tim tidak boleh bergerak sedikit pun, jarak di antara kalian harus cukup sempit supaya lawan dan bolanya tidak bisa menembus. Baik dari bawah, maupun atas.

Sebaliknya, menyerang itu mudah dipahami: sebagai kumpulan individu, kalian harus bergerak sedinamis (dynamicity) dan secair (fluidity) mungkin. Supaya pertahanan lawan kebingungan dan mudah ditembus.

Dua teori di atas tampak mudah. Namun begitu dikombinasikan, alternatif dan variasinya sangat beragam:

  • Back (belakang) bisa 3-4 orang.
  • Gelandang (tengah) dari 3-5 orang
  • Penyerang (depan) 1-3 orang.
  • totalnya harus 10 (exclude kiper)

Ketiganya, menuntut klub memiliki pemain dengan spesifikasi posisi tertentu:

  • Tiga orang di belakang, menuntut 2-4 orang bisa bermain sebagai wing back (namanya back, tapi posisinya di tengah/gelandang). Di kanan dan di kiri.
  • Tengah menuntut beberapa jenis posisi: regista (playmaker tapi dari belakang), mezzala (gelandang, tapi bisa jadi sayap, punya power dan pace), trequartista (playmaker yang lebih menyerang), holding midfielder (gelandang bertahan), hingga box-to-box. Saya sebut 5 jenis posisi, padahal kebutuhannya hanya 3-5 orang, dengan total pemain masih 11 orang (termasuk kiper). Jadi berapa orang untuk belakang dan depan?
  • Depan yang butuh 1-3 orang bisa diisi posisi: centre forward, false nine, inside forward, penyerang sayap. Yang disebut ada 4 peran, tapi maksimal hanya 3 orang. Gimana tuh?
  • Btw, posisi-posisi yang mengernyitkan dahi di atas, in total ada 12 posisi. Fyi, tim senior biasanya beranggotakan 33 pemain. Tiga di antaranya sudah menjadi jatah kiper.

Supaya bisa kompak, padat, dan jarak antar pemain sangat pendek, maka garis belakang bisa dinaik-turunkan. Ada yang memilih high defensive line (menuntut taktik semacam tiki-taka jadinya). Ada juga yang memilih direct football plus counter attacking, tapi suka kehabisan tenaga dan konsentrasi jelang akhir pertandingan.

Pilihan yang rumit, bagi pelatih. Tapi merupakan masalah stratejik bagi klub. Mengapa? Kita bahas di berikutnya.

Bisnis

Ada sekitar 33 pemain di tim utama. Sekilas, tampak cukup untuk memenuhi alternatif dan variasi taktik yang sudah disebut di atas. Kenyataannya, pengeluaran perusahaan (klub) untuk mereka semua berkisar 60%-75% dari pendapatan tahunan.

Yes, gaji dan benefit lain dalam kontrak antara klub dengan pemain, sebenarnya sangat-sangat besar pengaruhnya terhadap keuangan perusahaan.

Ingin punya marjin laba yang besar –tersirat di atas, marjin laba sekitar 25%-40%–? Mudah saja, tidak usah punya pemain bintang. Gajinya kecil, kok.

Tapi pemain bukan bintang, tidak signifikan perannya terhadap performa tim. Dia gak cukup populer juga untuk mendatangkan para penonton ke stadion –dan televisi. Hanya stadion yang penuh dan siaran televisi yang mengundang sponsor untuk memberi pemasukan pada klub.

Dari sisi usia, semakin tua seorang pemain, power dan pace-nya semakin menurun. Tapi pemain senior tetap signifikan perannya, meski tidak di lapangan, tetapi di ruang ganti dan tim di internal. In terms of leadership and example/modelling. He must be a role model, as well.

Pemain muda jelas dibutuhkan. Masih kuat, masih cepat. Tapi minim pengalaman. Bukan soal mainnya doang, tapi juga soal mental. Dari sisi usia, kita wajib mengkombinasikan pemain muda dan tua. Tim dengan average age di 28 tahun, sudah ideal banget. Persoalannya, klub gak bisa ideal di sepanjang waktu.

Sebab, sisa kontrak masing-masing pemain berbeda-beda. Ada yang tengah tahun ini habis dan bisa pindah ke klub lain tanpa klub sekarang dapat sepeserpun. Ada yang masih sisa satu tahun dan harus dijual secepatnya dengan harga terbaik. Sisa dua tahun masih menyisakan ketenangan: antara perpanjang (kalau dia main bagus) atau jual (sebelum harganya lebih turun lagi). Di sisi lain, ada yang baru 1 tahun masuk (menyisakan kontrak 3-4 tahun lagi), tetapi belum memberikan performa yang diharapkan.

Technical Director

That’s why butuh direktur teknik (Technical Director). Atau semacamnya. Yang tugasnya menjembatani pelatih yang mengurusi day-to-day tim di tempat latihan dan pertandingan, dengan klub yang menangani scouting, rekrutmen, dan pelatihan pemain muda dalam horison menengah (3-5 tahun). Sponsorship juga stratejik lho.

Di Chelsea, jabatan Petr Cech adalah Technical and Performance Advisor. Tugasnya mirip: menilai dan menganalisis pemain-pemain sekarang (individu dan tim) di mana kelebihan dan kekurangannya serta mengusulkan nama-nama yang potensial untuk direkrut. Baik mengisi celah yang lemah, maupun menggantikan pemain yang pensiun –tidak sampai mencarikan ya; jadi dari database yang ada saja.

Pendapat saya siy, tugas pelatih hanya menentukan siapa yang akan main di lapangan pas weekend atau tengah pekan. Wewenangnya terhadap 33 pemain, sebaiknya dia hanya memberikan saran saja. Kekuasaan harus dibagi-bagi. Supaya tidak terjadi kasus semacam Manchester United pasca ditinggal Sir Alex.

Sponsorship

Sponsorship juga stratejik lho. Sebagian besar kontrak sponsor tuh berdurasi 3 tahun. istilahnya, sekali teken kontrak hari ini, pendapatan klub aman untuk tiga tahun ke depan. Bagaimana dengan tahun ke empat dari hari ini? Itulah tugasnya Commercial Director mencari dan menemukan sponsor di tahun depan. Supaya pemasukan klub bisa meningkat dan stabil pemasukannya.

Bagaimana menjual klub supaya sponsor pada berdatangan dan antri? Permainan harus menarik ditonton, dong. Dan harus sering menang. Kadang, menang aja enggak cukup. Harus bisa juara. Dan yang begini ‘kan, horisonnya tahunan, ya. Menjadi tanggung jawab pelatih dan pemain untuk bermain cantik, menang, dan mempersembahkan trofi. Semua itu untuk apa? ya supaya bisa dijual ke sponsor, donk.

Eksposur klub secara geografis juga menentukan, lho. Kalau cuma bisa main di satu negara, tentu beda dengan yang main di level benua. Makin luas eksposurnya, makin bisa ditawarkan ke sponsor tertinggi.

Komersialisasi sepak bola itu menguntungkan klub. Posisi tawar ada di mereka. Sebab lebih sedikit klub untuk disponsori daripada jumlah sponsornya.

Mudah-mudahan pandemi ini segera berakhir. Kasihan klub, pemain, sponsor dan penonton –yang kehabisan hiburan– seperti saya. FYI, Bundesliga start lagi per tanggal 16 Mei.

Anyway, this is a bit too much. If you have any experience, analysis, or others please provide in the following comments ya! Thank you

New Normal

Akibat Covid-19, banyak hal di sekitar kita berubah dengan sangat cepat. Jangan cengeng, jangan lupa bersyukur. Mari beradaptasi dengan kenormalan yang baru ini.

Lagi pengen ngomongin #dirumahaja #stayathome

Kenapa? Because it shall pass, too. Sebagaimana proyek-proyek kehidupan pada umumnya. And I would like to document it here.

Yang sedikit-namun-membedakan, proyek ini agak jangka panjang. Dan memunculkan beberapa ke-new-normal-an yang baru. Jadi, bagi saya ini cukup penting untuk saya rekam di blog ini. Biasanya, akan ditengok kembali suatu waktu nanti.

Covid-19 + Ramadhan

Yang paling baru banget terasa adalah kombinasi covid-19 plus ramadhan ini. Kita masyarakat Indonesia ‘kan in many aspects, butuh berkumpul. Karena dengan berkumpul, kita semakin niat dan enjoy melakukan sesuatu. Sahur bersama keluarga, Ngabuburit, BukBer/BuBar, hingga pengalaman Tarawih bareng di Masjid. Yang terakhir ini experience yang dominan anak-anak saja, tetapi juga para orang tua.

Yang terjadi saat ini, detik ini, di bulan ini adalah everything must be done at home. Sahur ya di rumah, tak bisa ke restoran yang 24hours. Work From Home / School From Home, sudah sejak 4-5 minggu terakhir. Semakin ‘New Normal’ lha aktifitas kerja dan belajar di rumah – Iya sih, tidak semua industri dan pekerjaan bisa demikian. Buka puasa tidak lagi bisa di masjid, kafe, restoran, mall, dan sebagainya. Harus di rumah. Kemudian ‘terpaksa’ muncul imam-imam tarawih yang baru di rumah-rumah. Bapak-bapak, maupun anak lelaki di rumah ‘dipaksa’ membuka kembali Juz 30 untuk me-refresh kembali hafalan suratnya. At least, 13 surat berbeda wajib diulang setiap malam. Untung ada ketiga ‘Qul’ sangat membantu. Bukan hanya sang imam yang menarik nafas lega, demikian pula para makmum.

This is hard and hurting. But, life must go on.

Saya cuma bisa bilang ke diri sendiri, “Jangan cengeng. Dan jangan lupa bersyukur”.

Jangan Cengeng, Jangan Lupa Bersyukur

Jangan cengeng ketika hidup memaksamu berubah. Makin besar company-nya, makin dahsyat goncangannya. Restoran dine-in berubah jadi take away + delivery frozen food atau menu siap masak. Beberapa kurir yang biasa berhubungan dengan kami, mulai “menambah” portfolio dagangannya: hape, rumah, susu segar, telur, dll. Rekan yang di-layoff dari konsultan lingkungan, pindah haluan jadi take order + delivery bahan baku masakan.

Sudah kesekian kali WA saya berdering dan salah satu isi yang cukup berulang adalah ketiadaan empati kepada para pengusaha. Pekan ini harus bayar gaji. Satu-dua pekan lagi bayar THR. Dua pekan berikutnya bayar gaji lagi. Padahal usaha sedang morat-marit. Inventory menumpuk. Piutang ditunda bayar oleh customer. Padahal tagihan dari bank masih tetap berdatangan.

Ada lawyer sekaligus pengusaha hotel yang tetap bayar gaji karyawan hotelnya. Padahal kita tahu pariwisata sedang sepi. Alhamdulillah dia punya pemasukan berlebih ya. Suatu kelebihan yang tidak banyak dimiliki oleh masyarakat kita. Mungkin dia termasuk yang rajin bersyukur. Sehingga tatkala diberikan ujian kemelimpahan, tetap mampu melaluinya.

New Normal

Mereka yang merawat para ortu berusia kepala 7 ikut ambil pusing. Musababnya, “pertemanan” para ortu mereka mulai “menghilang”. Tadinya beliau-beliau para kakek-nenek ini happy dengan aktifitas pengajian beserta pada member di dalamnya. Sejak Corona datang, pertemuan offline tersebut berubah jadi zoom meeting. Which is, tidak semua orang mampu. Yang aktif bekerja seperti kita saja merasa zoom lebih melelahkan daripada bekerja biasa, apalagi di usia yang sulit adaptasi dengan teknologi, ya.

Ada yang mengajari saja terasa berat bagi mereka. Bayangkan kalau mereka seorang diri. Tinggal sendiri di rumah (masih lumayan kalau ada ART), jauh dari anak dan cucu, berteman hanya dengan tetangga yang juga masih seusia, dan seterusnya. I realized this. At least, dua teman sekolah, ternyata orang tuanya tinggal satu dan memilih hidup seorang diri saja.

But, It depends, sebenarnya. Artinya, pertemanannya masih ada, kok. Hanya saja, berubah wujud. Ke wujud yang tidak semua orang merasa nyaman dengannya. This is something new and becomes normal: New Normal. Mungkin, kita hanya harus “get used to it” alias mencoba membiasakan diri sejak sekarang agar “merasa” terbiasa nantinya.

Apa yang dialami kakek-nenek tersebut hanya salah satu contoh saja. Di segala tingkat usia, wilayah tempat tinggal, jenis industri, jenis pekerjaan, semua orang sedang mengalami perubahan-perubahan menuju kenormalan yang baru.

Kita bisa mengeluh sih dengan paksaan-paksaan untuk berubah tersebut. Tapi kita juga punya pilihan lain. Yaitu untuk tidak mengeluh dan beradaptasi secepat mungkin. Ingat, wabah ini tidak akan sebentar. Secara ekonomi, dampaknya terasa sampai 2-3 tahun akan datang.

Lebih baik berubah sekarang. Mumpung semua juga sedang berusaha berubah. By the time kita baru mau berubah, sementara dunia jauh berubah, maka kita hanya akan menjadi orang yang tertinggal dan ketinggalan.

Akhir kata, hanya mau bilang, “Jangan cengeng. Jangan lupa bersyukur”. Itu nasihat paling utama untuk diri saya sendiri.

Kalau ada kisah-kisah lain, boleh dibagikan di kolom komentar, ya. Saya janji, akan saya masukkan ke post ini juga.

Alasan Memilih Olahraga Lari

Dari menyukai futsal, tidak pernah berolahraga, hingga jatuh cinta pada olahraga lari.

Malas lari pas masih sekolah, jiwa sosial masih tinggi. Anti-anti individualis. Olahraganya sepak bola. Sama teman sekelas aja. Mainnya di lapangan punya perusahaan.

Sebelah sekolah ada tiga lapangan besar. Macam alun-alun kota gitu, lha. Dipakai upacara bendera sama pemerintah kota (pemkot) pas 17-an. Tapi main di sana engga enak. Namanya lapangan bersama ya, kan. Kudu saling permisi dan tahu “garis maya” antar tim yang lagi main. Tentu, siapa yang duluan datang bisa “atur” luas lapangan yang mereka pakai sebesar apa. Info lebih lengkap, cari #lapanganmerdeka di Instagram ya. Sekarang ramainya dari pagi sampai sore kalau Hari Minggu.

Meskipun kami anak kampung sekolah sini, tetap harus “kulo nuwun” donk. Kan lapangan bersama warga kota. Jadilah kami cari lapangan yang lebih privat.

Olahraga Anak Rantau

Pas merantau demi sekolah lagi, kebetulan ada fasilitas komplit. Lapangan bola ada, track lari juga ada. Rajinnya pas kelas 1-2 aja. Olahraga lari pagi wajib tiap hari Rabu dan Sabtu. Yang setelah sarapan, seringnya malah tidur di kelas. Kelelahan dan kekenyangan. Kelas tiga sudah malas lari pagi/sore. Rajinnya malah main bola di antara Asrama 2 dan Asrama 3. Sampai dimarahi pamong Matematika. Beliau ya ekspektasinya kita rajin belajar pagi-siang-sore-malam. Al Fatihah untuk beliau.

“Kewajiban” olahraga pas kuliah, hanya dua semester. Di semeter pertama (masih per kelas) dan semester kedua olahraga pilihan. Saya pilih renang saja. Yang saya ingat, sebagian besar gaya bebas. Saya hanya mampu gaya katak. Sisanya? Engga pernah olahraga lagi, kecuali 2 (dua) kali main futsal pas semester 8 dan 9.

Sepanjang tahun 2010-2012, ada sekelompok teman kuliah yang biasa main futsal. Itulah olahraga saya selama 2 (dua) tahun tersebut.

Bisa dikatakan, tiga tahun sejak 2012 tersebut, saya hampir enggak pernah olahraga sama sekali.

Healthy Month

Mulai tahun 2015 kalau tidak salah, alumni SMA mulai bikin kontes lari selama sebulan. Larinya masing-masing, tapi harus menyalakan aplikasi onde mande Endomondo. Jadi datanya tersimpan. Kompetisinya antar angkatan. Jadi masing-masing angkatan mengakumulasi mileage (jarak lari) sebanyak-banyaknya.

https://ikhwanalim.wordpress.com/2015/05/04/ikastarun-challenge/

Namanya tahun pertama, ada yang “memaksakan” diri hingga 500-600 km kumulatif selama sebulan. Jelas overtraining. Tidak sedikit yang cedera. Akhirnya di tahun kedua, mulai diatur mileage maksimal per orang. Maksimal per minggu 100 km, maksimal selama kontes adalah 400 km. Semakin ke sini, aturan juga semakin ketat. Misalnya tidak boleh FM (Full Marathon, 42 km) lebih dari sekali dalam seminggu.

Di tahun pertama, saya tembus 100 km lebih saja selama bulan tersebut. Dan itu tidak pernah tercapai lagi di tahun-tahun berikutnya. Lebih karena malas, persiapan (peregangan) dan istirahat yang tidak kalah pentingnya dari lari itu sendiri.

Paling heran sama mereka yang bisa tembus 400km selama sebulan. Jadwalnya sebenarnya tidak yang terlalu gimana-gimana gitu. Habis shalat subuh, langsung cus 7-10 km. Pulang kerja dengan jarak yang kurang lebih sama. Dapatkan HM dan FM masing-masing sekali setiap pekan. Mudah, bukan? Hahahahahahaha (tertawa miris).

Kalau boleh disimpulkan, di tahun 2015 itu lha saya mulai fokus dengan olahraga lari ya.

Alasan Memilih Olahraga Lari

Cukup, cukup. Preambule-nya sudah kebanyakan. Jadi langsung saja ke beberapa alasan memilih olahraga lari:

  • Olahraga yang paling mudah dilakukan. Karena tempat olahraganya cukup di jalan raya atau track lari di pusat kota. Dari kita sendiri, pakaian relatif mudah. Paling gampang, pakai kaos + celana kargo saja. Mau rumit sedikit, kaos lari yang bahannya ringan dan berpori-pori itu. Sehingga keringat cepat menguap dan tidak menambah beban saat berlari. Teman? Tidak harus ada temannya. Dengan teman, malah wajib bikin waktu dan tempat bertemu – bisa sebelum untuk lari bersama atau sesudah lari guna carbo loading bareng.
  • Lari itu sama kayak nge-blog: stress-releasing. Bahasa kerennya: runner’s high. Ini ketika hormon endorfin sudah sedemikian banyak pasca berlari sekian kilometer atau sekian puluh menit, kita akan merasakan “kelegaan” yang luar biasa enak dan nyaman.
  • Menguatkan Jantung. Jantung tuh tidak pernah berhenti bekerja sejak kita lahir hingga meninggal nanti. That’s why dia perlu diberikan latihan secara teratur dan terukur. Teratur artinya rutin. Tidak ada manfaatnya kalau hanya sesekali. Terukur artinya ada target minimal dan maksimal yang harus dicapai mengikuti hasil latihan sebelumnya.
  • Running is lonely sport. Dari preambule sebelumnya, saya belum cerita ya kenapa saya bisa dibilang stop main futsal? Because it is a team sport. Sama seperti basket, sepak bola dan olahraga tim lainnya. Kamu tidak boleh berhenti berlari karena teman kamu satu tim, butuh kamu untuk berlari. Di sepak bola, bukan hanya yang mendribel bola yang berlari, tetapi yang tidak sedang memegang bola bahkan wajib bergerak lebih cepat dan lebih jauh. Istilah populernya off-the-ball movement.
  • Me-time. Sebagai pekerja kantoran, ayah dan suami, I almost have no time. Jadi salah satu me-time saya itu ya berlari ini. Pikiran saya bisa bebas berkeliaran tanpa perlu memikirkan, menganalisis atau memutuskan sesuatu, ya ketika berlari ini.

Event Lari

Begitulah teori-teori mengapa memilih olahraga lagi. Tapi saya juga belum sekonsisten itu meski sudah sejak lima tahun lalu. Buktinya saja, setelah PSBM 2019 yang HM itu, saya belum pernah lari lagi hingga Sanlex Mewarnai yang 10 km. Padahal jaraknya kurang lebih 5-6 bulan. Sudah untung bisa finish (tanpa pernah latihan) di event lari akhir tahun tersebut. Saya sudah janji ke Anak Dua, untuk gak memaksa diri dan pulang dengan selamat. Bukan dipulangkan dengan diangkut.

Tahun 2018 sempat ikutan Ultra Marathon. Total sekitar 200 km tapi dibagi ke 16 peserta. Saya kebagian hampir 10 km dari Rajamandala di Kabupaten Bandung Barat (KBB) menuju kota Bandung. Entah apa yang saya pikirkan untuk ikut event tersebut. Sudah bayar sekitar 200ribu-300ribu, larinya malam (saya kebagian ba’da magrib) di jalan raya besar yang lampu jalannya saja belum ada, tanpa ada pengawalan, berikut probabilitas dibegal dan lain sebagainya.

Menyesal sih, tapi belum tentu ditolak kalau diajak lagi. Hehehe. Qadarullah, saya sakit pas hari-h di tahun 2019-nya. Sehingga tidak ikut tim manapun. Tahun ini event tersebut juga terancam tidak jadi karena wabah Covid-19 ini.

Biaya Olahraga Lari

Olahraga lari relatif murah. Tapi kalau sudah jadi hobi, kayak ngeblog, sangat bisa menjadi olahraga mahal. Sepatu untuk olahraga, Rp100ribu pun dapat. Tapi kalau mau sepatu yang proper, bisa di angka Rp400ribu. Itu bukan yang paling mahal ya. Masih bisa berjuta-juta rupiah untuk sepasang sepatu lari. Sepatu untuk lari di kota, tidak akan memberikan kinerja lari yang maksimal kalau dipakai untuk trail run, alias lari-lari di perbukitan, gunung, yang alamnya naik-turun dan tanahnya bervariasi dari pasir sampai batu.

Belum termasuk “kecandungan” event lari. Pocari Sweat Bandung Marathon (PSBM) menghargai Half-Marathon, 21 km sekitar Rp500ribu. Itu baru event City Marathon ya. Yang katakanlah, masih di sekitar tempat tinggal. Bayangkan kalau larinya di Bali (Maybank Bali Marathon, MBM) atau BorMar (Borobudur Marathon) yang harus naik pesawat ke Jogja, cari penginapan, dan lain sebagainya. Belum termasuk Marathon di negara lain ya.

Dengan kata lain, tidak ada batas harga untuk perlengkapan dan event lari. Sky is the limit.

Ibarat event lari, sejak awal saya menulis post ini saya mencoba “bergerak” terus tanpa henti. Pokoknya gak boleh diam. Harus bergerak terus, minimal jalan. Kalau ada sedikit energi atau semangat, harus dipaksa berlari lagi. Dan dengan demikian, sooner or later, garis finish akan tiba di hadapan dan siap kita rengkuh.

Demikian pengalaman saya soal lari, kalau kamu ada pengalaman menarik juga soal berlari, mohon dibagikan di kolom komentar di bawah, ya!

Lupa Lapar

Begitu melimpahnya makanan (di semua ruang dan waktu) sampai lupa bahwa ada mekanisme di mana menurunnya volume makanan di dalam perut yang kemudian mengirim sinyal ke otak bahwa kita sedang lapar. Ada juga sejarah awal mula lahirnya Lunch dibahas di sini.

Makanan (rasanya) ada di mana-mana. Di kantor banyak snack+minuman sachet. Pulang dari masjid (dekat kantor) melewati minimarket merah. Karena di jalan raya besar penghubung bagian utara-selatan kota, maka jalur tersebut ramai pedagang makanan. Tenda maupun warung makan. Paling banyak tentu yang gerobak-an. Mereka cari nafkah di sana, salah satunya karena ada Rumah Sakit negeri yang menopang warga satu provinsi berjumlah penduduk terbesar di negeri ini.

Di rumah juga ada makanan. Di kulkas, hampir selalu ada bahan makanan. Minimal telur ayam, deh. Alhamdulillah selalu ada rezeki untuk dibelanjakan bahan pangan. Di meja makan setidaknya ada abon (daging) sapi. Stok beras ada terus.

Pasar relatif dekat dari rumah. Bolak-balik lima ratus meter. Saya gak pintar masak. Tapi untuk tumis-menumis bisa lha. Apalagi hanya sekedar masak nasi (kan sudah ada rice cooker) dan goreng-menggoreng. Bosan sama lauk? ada toko frozen food dekat rumah. Kami sendiri beli/produksi-jual kebab, siomay, dan batagor. Semuanya frozen.

Begitu mudahnya menemui makanan; sampai lupa rasanya lapar 😀 Bahkan angka timbangan pun lupa juga untuk turun 😀 😀

Fasting

Padahal kalau mengingat mereka –yang seharusnya kita teladani segala perkataan dan perbuatannya– memberi contoh intermittent fasting dua kali sepekan. Konon katanya, malaikat nge-jurnal amal perbuatan kita di tiap dua hari tersebut. Jadi pas banget jurnal amal tersebut mau di-submit, pas ada catatan bahwa kita sedang berpuasa. Ada lagi yang beratus tahun sebelumnya, mencontohkan sehari makan sehari tidak.

Dari kedua manusia yang sangat mulia akal dan perbuatannya tersebut, tentunya berarti puasa adalah suatu aktifitas yang sangat mendatangkan kesehatan pada kita. Ini pengingat juga ya, karena Ramadhan 1441 Hijriyah tinggal 21 hari lagi. Simak kesimpulan suatu penelitian berikut ini:

Puasa merupakan cara yang terbaik untuk membersihkan racun yang tertumpuk di dalam tubuh ataupun racun yang baru masuk melalui makanan yang terkontaminasi. Karena ketika berpuasa, zat beracun yang tersimpan berpindah ke hati dalam jumlah besar. Disanalah zat-zat tersebut mengalami oksidasi (peristiwa pelepasan elektron, baik melibatkan oksigen ataupun tidak) dan bisa dimanfaatkan dengan mengeluarkan unsur racun dari zat-zat tersebut. Maka hilanglah racun yang ada dan langsung dikeluarkan dari tubuh melalui saluran pembuangan.

Ulfah, Zakiah. 2016. Manfaat Puasa dalam Perspektif Sunnah dan Kesehatan. Medan: Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam Universitas Islam Negeri Sumatera Utara.

Dalam agama saya, disyariatkan bahwa puasa hendaknya dilakukan sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Karena ini merupakan waktu-waktu di mana seseorang sangat aktif –jadi bukan berpuasa di malam hari ya– dimana proses kerja tenaga yang tersimpan dalam bentuk lemak dan glikogen juga terjadi di siang hari. Terus, otak diberi makan dari mana? Dari pemecahan dan penaikkan glukosa dalam darah hasil pemecahan di organ hati.

Lunch

Bicara soal timeline makan yang pagi-siang-malam itu, konon makan siang itu baru ada di sejak masa revolusi industri, lho. Produksi massal mulai jadi bisnis yang baru dan membutuhkan mass employee juga. Jadwal dibuat: jam masuk, lama kerja, jam pulang. Tidak terkecuali kuota waktu khusus makan siang. Jadi, makan siang sebenarnya baru ada sejak revolusi industri.

Saya sebisa mungkin menuruti suara hati perut. Tatkala lapar, baru cari makan siang. Namun, tidak semudah itu, Ferguso. Seringkali, lelah dan jenuh dengan pekerjaan sejak pagi, yang kita cari adalah obrolan hangat dengan rekan-rekan. Dan itu adanya sembari makan siang. Jadilah, dengan pura-pura sangat terpaksa, ikut beli dan makan siang bersama rekan-rekan XD. Sambil mengelus perut yang tidak kunjung mengempis.

Ada satu filosofi makan yang menarik dari teman saya. Masih di kantor yang sama. Bahwasanya mengusahakan untuk makan mengikuti jadwal. Kalau ditanya kenapa, orang-orang yang saya temui biasanya akan menjawab ada sakit maag, menghindari munculnya maag, dan seterusnya. Berbeda dengan filosofi si teman yang ternyata “sekedar” mengusahakan keteraturan saja. You know ya, beberapa orang memfokuskan pikiran dan energinya untuk hal-hal lain yang lebih dia prioritaskan. Sehingga, di luar itu, dia berusaha seadanya saja, sekedarnya saja, atau ikuti saja jadwal yang ada.

Paradoks

Di tahun 2016-2018, menurut riset ADB dan IFPRI, ternyata 22 juta orang di Indonesia menderita kelaparan kronis. Jumlah penduduk 2018 secara data Ditjen Dukcapil pada Triwulan II 2018 mencapai 263,9 juta jiwa. Jadi ada sekitar 8% penduduk yang menderita kelaparan kronis.

Mari bersyukur apabila kita tidak termasuk satu di antaranya.

Dari sisi ketahanan pangan, akses tidak merata terjadi di Indonesia. Dan kerawanan pangan tetap menjadi masalah. Sebab, Indonesia menempati urutan ke-65 di antara 113 negara dalam Indeks Keamanan Pangan Global (GFSI) yang diterbitkan oleh EIU [Economist Intelligence Unit]. Untuk diketahui, GFSI ini terdiri dari 3 (tiga) komponen: keberdayaan konsumen untuk menjangkau/memperoleh makanan (affordability), ketersediaan suplai pangan secara nasional (availability), dan kualitas serta keselamatan (quality & safety) pangan itu sendiri.

Key Take Away

Balik ke cerita awal. (Gedung) kantor saya sekarang berpindah ke daerah yang lebih sepi. Daerah pabrik. Praktis, warung makan maupun toko/minimarket yang terjangkau sama kami, berkurang drastis. Mau keluar pikir-pikir dulu, karena jaraknya gak dekat. Jajan jadi lebih terkendali. Dompet jadi lebih sehat.

Apalagi di tengah-tengah pandemi corona seperti sekarang ini. Saya menuruti ibu direktur keuangan dan pembelanjaan (finance and purchasing) di rumah soal apa dan di mana beli makan. Beliau berprinsip untuk (sementara) menahan diri dulu dari belanja yang-siap-makan (readytoeat). Lebih baik beli dari katering yang mengirim bahan mentah saja, atau ke pasar tradisional sekalian.

Ini ceritaku tentang Lupa Lapar. Kalau kamu ada cerita apa? Share di kolom komentar, ya.

Reference:

Perubahan Hidup Selama Pandemi

Bukan hanya bagaimana saya bekerja yang berubah; tetapi juga dimensi-dimensi lain dalam hidup. Dan bagaimana mengumpulkan keping-keping hikmah dari sana.

Kantor “merumahkan” separuh dari kami selama sepekan. Dan separuh lainnya di pekan berikutnya. Dan begitu seterusnya entah sampai kapan. Sampai pandemi ini berakhir, tentu saja. Tapi kapan itu? Belum ada yang tahu.

Satu yang saya yakini dari work-from-home adalah produktifitas kita tidak akan sama dengan berada di kantor. Bukan sekedar perbedaan ruang, namun juga suasana saling mendorong untuk produktif itulah yang ada di kantor. Di sanalah kita wajib menjawab tantangan bagaimana supaya tingkat performansi kita tetap sama.

Saya selalu mandi pagi sebelum bekerja. Mandi pagi adalah “ritual”. Bekerja sebelum mandi, rasanya bekerja kurang mantap. Sambil mandi, “merapal” apa-apa saja yang mau dikerjakan. Sembari me-review juga yang sudah dilakukan kemarin. Bagaimana melanjutkan pekerjaan kemarin dengan pekerjaan hari ini.

Yang jelas, tidak ada lagi ritual “melihat jalan raya” dalam perjalanan ke kantor. Percaya atau tidak, itulah yang membuat saya lebih betah di kantor daripada di rumah. Karena bekerja di rumah, sooner or later, akan membosankan.

Aktifkan tethering di HP, lalu membuka laptop harus diiringi dengan kesadaran “saya tidak bekerja sendiri”. Seseorang, atau beberapa orang rekan di kantor, sedang menunggu hasil dari yang saya kerjakan. Atau sebaliknya, saya menunggu seseorang menyerahkan sesuatu kepada saya untuk kemudian saya tindak-lanjuti. Karena saya tidak bekerja sendirian. Sama seperti di kantor, membuka youtube atau aplikasi hiburan yang lain tidak boleh lama-lama. Penulis seperti saya, malah lebih sering “terjebak” di blog-blog instead of socmed video-audio tersebut.

Anak-anak di rumah belum sekolah. Belum merasakan rutinitas belajar bersama guru di ruang kelas. Belum paham rasanya punya teman. Praktis, di rumah saya tidak terbebani untuk jadi guru sementara sebagaimana banyak orang tua yang lain. Banyak yang mengeluhkan, karena baru menyadari, bahwasanya menjadi guru itu berat ternyata. Seorang teman sampai bernyanyi, “hormati gurumu, sayangi temanmu” dst sembari mengajar anaknya di rumah. Yang baru paham setelah mempraktikkan betapa rumitnya menjadi seorang guru.

Tapi, berhubung mereka seumuran, mereka jadi teman satu sama lain. Sesekali, menjadi “musuh” bagi saudaranya. Terutama ketika jenuh melanda. Pelampiasannya ke hape tersebut di atas. Yang sedang dipakai tethering. Tidak jarang, hape dibawa pergi menjauh dari laptop sang pekerja. Sinyal menghilang, tiba-tiba luring (luar jaringan), alias offline. Usut punya usut. “pencuri” hape ternyata asyik-masyuk menikmati youtube pahlawan kesayangan yang sedang battle. Tidak lama, entah sebab yang mana -ada terlalu banyak sebab- tiba-tiba mereka “battle” sendiri. Tentu si pekerja harus meninggalkan layar, berubah peran menjadi pelerai.

Di momen lain yang tidak terjadi sekali dua kali, tiba-tiba si laptop offline. Setelah penelusuran oleh tim investigasi, ternyata hape kehabisan daya di tangan-tangan dua orang penonton (youtube). Jadilah hape di-charge. Sembari diberikan informasi, “jangan dicabut ya dari charger-nya”. Tidak lama kemudian (lagi), offline lagi. Ditengoklah ke charger. Hah?! Hapenya sudah tidak ada. Rupanya dua tersangka membawa pergi device youtube-nya “mereka”. Menonton (lagi) sampai habis daya (lagi).

Pandemi ini mengubah separuh pola makan saya. Yang sesekali jajan di warung, menjadi tidak jajan sama sekali. Harus menu rumahan. Pokoknya mengubah isi kulkas menjadi masakan aja. Sarapan nasi kuning atau kupat tahu petis terpaksa di-hold dulu. Jajan-jajan gorengan distop sama sekali. Waspada saja. Barangkali kang gorengannya termasuk OTG (orang tanpa gejala).

Belanja ke pasar ga boleh rame-rame. Cukup seorang saja. Dan perbanyak protein. Biar kuat menghadapi virus. Terpaksa merogoh kocek lebih dalam. Padahal koceknya saja enggak dalam-dalam amat. Sedapatnya saja. Sering pula belanja tahu di kang yang lewat. Kalau bukan untuk dimakan sendiri, setidaknya untuk snack dan lauk maksi-nya pak-pak tukang renov. Minimal, kami berniat supaya beliau berdua tidak ikut sakit juga. Repot kalau kami ketularan, atau mereka yang ditulari kami.

Sekian ratus menit terhemat akibat pandemi ini. Hidup jadi lebih efisien. Karena tidak menghabiskan sekian menit pergi-pulang kantor. Ambil minum beberapa langkah; bukan puluhan langkah. Meeting online, tidak di ruang meeting atau ke meja rekan. Sepatutnya jadi jalan memperbanyak amal ibadah yang ringan seperti membaca Al-Quran.

Seperti sempat saya singgung di atas, stay-at-home dan work-at-home itu membosankan. Bahkan membuat stress. Namun, ini worth it untuk dijalani dan it shall pass, too. Justru di momentum seperti inilah passion rebahan kita sedang diuji. Dunia membutuhkan kepahlawanan kita! Yaitu bagaimana kita bisa konsisten stay-at-home selama berhari-hari dan berminggu-minggu (mudah-mudahan tidak lebih dari dua bulan, ya) bersama dengan passion rebahan kita.

Hiburan saya di sabtu dan minggu malam. Kini tiada lagi. Mudah-mudahan sementara saja. Lebih baik bermain tanpa penonton di stadion di tanah-tanah Britania demi hadirnya konten sepakbola berkualitas di (layar-layar kaca) di tanah air. Sebenarnya, mereka sendiri juga tidak kuat menjalani keadaan demikian. Karena pengeluaran gaji, perawatan stadion, dan sebagainya juga jalan terus. Bisa bangkrut kalau tidak segera dijadwalkan dan dimainkan kembali partai-partai yang terhutang tersebut. Mungkin tidak semua jadwal pertandingan bisa direalisasikan, tapi setidaknya berilah kesempatan kepada para fans Liverpool untuk melihat timnya juara. Yeeaaahhhhh!!!!! (ikut lebay karena tidak juara selama 30 tahun).

Selalu ada hikmah di balik krisis. Pandemi ini memutar-balikkan kebiasaan-kebiasaan “jahiliyah” kita sebelumnya. Kumpul-kumpul yang tidak perlu. (padahal tidak ada wajah baru dalam perkumpulan tersebut. Tidak juga membicarakan proyek baru). Minum-minum gula yang berlebih via kopi dan teh di kafe. (padahal sudah minum satu di antara keduanya di rumah. Gulanya dua sdm, pula!). Ambil makanan atau pegang sesuatu tanpa cuci tangan (kini jadi lebih sering cuci tangan menggunakan sabun sampai ke punggung tangan yang dialiri air mengalir selama dua puluh detik).

Sebagai homo sapiens dan umat Nabi Muhammad, hendaknya kita menjadi manusia-manusia yang berpikir ya. Merenungi dan meresapi hikmah dari semua ini. Sulit memang membuktikan kaitan pandemi ini dengan kegagalan-kegagalan kita menjadi khalifah di muka bumi. Tapi setidaknya kita men-tafakkur-i dan berdiskusi dengan rekan maupun keluarga perihal hikmah-hikmah tersebut. Bukan mem-forward terus-terusan narasi yang sulit dibuktikan tersebut ke grup-grup WA kita. Justru, di sanalah yang membedakan kaum-kaum yang berpikir dengan yang tidak.

Talking to Strangers

Buku baru Om Malcolm Gladwell menginspirasi saya untuk berbagi kisah-kisah dengan si orang asing.

Mungkin kita, atau lebih tepatnya saya sendiri doank, berangkat dari asumsi bahwa orang asing adalah orang yang baik. Minimal, dia jujur.

Jelas sulit kalau kita memulai relationship dengan seseorang –bahkan hanya untuk sekedar mengobrol dengan orang asing di angkutan kota, ya—dengan negative thinking terus. Saya biasanya memberikan trust dulu. Bahwa ada harapan yang tidak terpenuhi –atau, pengkhianatan yang lebih ekstrim—itu lain hal dan itu urusan kemudian.

Asumsi tersebut di atas adalah yang dibawa pertama kali oleh Malcolm Gladwell di buku terbarunya: Talking to Strangers. So, not only me, tapi menurut penuturannya, kebanyakan orang memulai dengan menitipkan keyakinannya dulu. Namanya barang titipan ya kan, tentu bisa diambil kembali suatu waktu nanti.

Tampak bukan masalah besar, memang. Namun di sanalah kehebatan seorang penulis seperti Gladwell. Sebuah gagasan sederhana bisa diramu dan dikemas sedemikian rupa untuk membuktikan bahwa tidak semua asumsi terwujud seperti yang diasumsikan, atau bahkan hal-hal besar dan buruk –seperti Perang Dunia II—bisa terjadi. Beberapa pejabat tinggi Inggris pada masa tersebut, setidaknya dua kali berbicara langsung dengan Der Fuhrer Hitler. Keduanya merasa disambut baik dan hangat sembari menduga bahwa Jerman tidak akan memulai perang yang maha besar. Kenyataan pahitnya, kita sesekali salah dalam menilai orang asing dan itu bisa berakibat fatal.

Finance Person: Check, Check, and Recheck

Dalam hal trust, mungkin saya berbanding terbalik dengan ayah saya. Saya mudah menitipkan kepercayaan, sedang beliau tidak. Beliau cenderung periksa, periksa, dan periksa ulang. Beliau mantan orang finance, memang. Sudah puluhan tahun berkarya di bidang tersebut. Di masa pensiunnya, tabiat periksa, periksa, dan periksa lagi masih terus dipelihara. Bukan sesuatu yang buruk, kok. Tapi tidak semua orang nyaman ditelepon atau dikunjungi tiba-tiba, kemudian ditanyakan/dikonfirmasi mengenai perkembangan suatu pekerjaan/proyek. Dari sudut pandang yang diberi pekerjaan, mereka menduga tidak-bisa-dipercaya. Dari sisi yang sama, ada ketidaknyamanan bila sidak dilakukan.

Mencoba mengenali lebih dalam, kita berhak mendukung dan melihat ayah saya sebagai pribadi dengan standard tinggi. Tidak hanya high-standard, tetapi juga menjaga dan mempertahankan standard tersebut. Demikian lah bila kita melihat semata dari hubungan transaksional saja. Pada kenyataannya manusia itu kompleks; terdiri dari beberapa peran sekaligus; bukan hanya peran ekonomi saja. Di luar peran-peran tersebut, homo sapiens ingin diperlakukan secara manusiawi; lewat tutur kata yang baik dan sopan adalah salah satunya saja.

Talking to Ojek Online

Beberapa tahun lalu, kala Go-Car dan Grab-Car belum menjadi arus utama apalagi kekinian, saya berkendara dengan taksi bersama beliau. Cukup heran rupanya beliau itu. Karena, saya mengobrol dengan pak supir. Tatkala sudah sampai tujuan, beliau bertanya, “Kamu biasa kah ngobrol sama supir taksi kayak begitu?”. Saya tanggapi dengan santuy, “Biasa aja. Tidak ada masalah.”. Jelas, sopir taksi adalah orang asing bagi beliau. Dan mungkin persoalan dengan orang asing adalah kita tidak mudah berbagi informasi. Tapi jelas itu persoalannya. Ayah saya tidak ingin terjebak dengan tidak sengaja memberikan informasi yang bisa berakibat fatal.

Sebagaimana supir taksi, driver ojek online, baik sepeda motor ataupun mobil, adalah orang asing, ‘kan? Namun, itu tidak menghalangi kita untuk mendiskusikan sesuatu. Tapi, bukan berarti tidak ada rules-nya ya. Meski mengobrol, baik duluan memulai atau sebaliknya, saya cenderung tidak membuka informasi diri. Apa yang saya kerjakan sebagai penghidupan, saya berasal dari mana, dan seterusnya. Topik-topik saya biasanya hanya seputar driver ini tinggal di kelurahan/kecamatan mana, dan apakah hari ini (sabtu/minggu) beliau merasakan macet atau tidak. Di kota kami yang turut mengandalkan pariwisata, sabtu-minggu cenderung macet dengan tamu-tamu dari luar kota.  

Antara kita selaku penumpang dan para driver ada komitmen transaksi kan yah. Kita diantar sampai tujuan dengan selamat, dan kita membayar. Pihak ketiga seperti Go-Jek dan Grab sudah sangat membantu pelaksanaan transaksi tersebut. So, kedua pihak bermuamalah hanya sebatas transaksi tersebut. Di luar itu, kita harus berhati-hati. Karena kita adalah orang asing bagi satu sama lain. Bukan hanya kita penumpang bersikap waspada seperti yang saya ilustrasikan di paragraf sebelumnya. Namun juga bagaimana driver bertindak dan berkomunikasi dengan waspada pula kepada para customer-nya. Bukan tidak pernah lho driver dicelakai akibat ulah customer. Kita semua harus hati-hati karena kita Talking to Strangers.

Nebengers

Di antara kelahiran travel-travel Jakarta-Bandung pp dan trio Go-Jek, Grab, Uber ada usaha-usaha nebeng antara daerah di Jabodetabek, atau Jakarta-Bandung yang komunikasinya dibantu oleh Twitter. Nebengers, namanya. Nebengers mensyaratkan, semua komunikasi harus lewat twit, serta menyebut akun @nebengers dan/atau tag #nebengers sebagai manajemen risiko guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Namanya lewat twitter ya, komunikasi terbatas 140 karakter. Tidak heran muncul istilah semisal “share bentol” alias uang bensin dan uang tol dibebankan kepada semua.

Sekedar berbagi pengalaman pribadi, dalam suatu per-nebeng-an dari ibukota ke ibukota, kami dibebankan Rp50ribu/kepala. Di row kedua dan ketiga, peserta nebeng sengaja ditambah dua orang hingga melebihi kapasitas si roda empat. Untungnya, saya duduk di samping supir yang ternyata sedang dalam rangka ngapel ke perempuannya dan butuh modal. In total, dia mendapat “modal” sebesar Rp350ribu untuk pacaran. Hahaha.

Kini, nebengers sudah menggunakan mobile app tersendiri. Tentu harus sign-up untuk mendaftar, dan login tiap kali menggunakan. Identitas yang jelas antara pemberi dan penerima tebengan, memperkecil kecurigaan serta meningkatkan kepercayaan di antara kedua pihak.

Cek juga tag saya soal “Review Buku” http://ikhwanalim.com/tag/review-buku/

Demikianlah kisah-kisah saya seputar berinteraksi dengan orang asing (“Talking to Strangers”). Apakah kamu ada pengalaman serupa? Boleh share di kolom komentar, ya!

Mengapa Millennial Memilih Bekerja di Startup?

Nyata sekali millennial cenderung bekerja di startup. Tulisan kali ini coba otak-atik gathuk menjawab fenomena tersebut.

Saya termasuk millennial. Meski bukan core of the core-nya, tapi termasuk angkatan-angkatan awal. Sebagai angkatan awal, saya pernah lho nyoba warnet di mall. Saking belum menjadi magnet independen, warnet nya masih numpang di mall, lho. Itu juga banyak gagalnya buka web AC Milan. Lebih lama nunggunya daripada bacanya. Sempat juga merasakan internet di rumah sendiri. Tapi kalau internet menyala, telepon rumah gak bisa dihubungi. Dan habisnya bisa Rp500ribu per bulan. Pastinya angka segitu lebih bernilai daripada angka segitu saat ini. Wkwkwk.

Di tahun-tahun saya kuliah, internet sudah lebih terjangkau. Belum sampai di hape, memang. Tetapi warnet sudah banyak, harganya lebih ramah di kantong. Cuma, kontributor di internet yang belum banyak. Jadi mau cari apapun, banyak yang belum ada. Pernah punya akun Friendster, tapi saya lebih aktif di facebook (padahal lebih baru tapi lebih cool) karena mainnya lebih enak. Akhirnya saya juga lebih banyak “bersembunyi” di blog. Facebook maupun Twitter, terasa terlalu hingar-bingar.

Too much information, kayaknya. Oke, back to topic.

Instant dan Tidak Sabar.

Alasan pertama, Millennial itu suka yang instant. Teknologi digital menyebabkan user-nya tidak bisa sabar dan selalu ingin mendapat response cepat — seperti menerima response setelah melakukan satu kali klik beberapa milisecond yang lalu. Demikian pula dengan target-target dalam hidup—termasuk karir. Millennial ingin target karirnya segera terwujud. Tidak sabar menaiki tangga korporasi. Memilih bergabung dengan perusahaan yang masih kecil. Atau, mendirikan usaha sendiri. Kita tahu, kedua macamnya bisa disebut sebagai startup, ‘kan?

Social media berperan besar dalam hal ini. Kita millennial takut untuk ketinggalan. Ya ketinggalan mengkonsumsi/menikmati, maupun terlibat dalam ikut membuatnya. Sebutannya FOMO (Fear of Missing Out). Takut untuk tidak perform, tidak deliver dan membuat impact. Startup memberikan kemungkinan untuk mengelola banyak hal, menciptakan pertumbuhan, dan membuat impact yang bisa dipamerkan di social media.

Yang jelas, social media harus disikapi secara bijak. Segala konten dan cerita di dalamnya, mungkin memang terlihat bagus, baik, positif dan seterusnya. Namun kita harus terus mengingatkan diri kita bahwa everybody has their own struggle. Yang kita lihat di social media nya tentu yang indah-indah ya. Pastinya, dia juga punya perjuangannya sendiri.

Optimis

Mungkin, millennial merasa hebat? Yang jelas, millennial itu optimis. Pekerja tertua millennial sekalipun mungkin baru 20 tahun berkarya, ya. Sudah banyak yang experienced, tapi ada juga yang baru 2 tahun experienced (Millennial terakhir lahir tahun 1996).

Di era digital seperti sekarang, data, angka, dan fakta ada di semua lini kehidupan (dan bisa diakses, tentunya). Tidak seperti dulu, tidak semua orang tahu, karena tidak semua dibuka, disebar dan bisa diakses.

Sekarang, dua-tiga titik dalam grafik kecil sekalipun sudah memberikan informasi. Lebih banyak data malah sudah jadi insight. Data à Informasi à Insight. Millennial sudah bisa memilih untuk mau optimis di data-data yang sebelah mana.

Generasi sebelumnya, lebih mengandalkan insting dan lebih sabar menunggu. Mungkin, millennial tidak punya waktu untuk menunggu. Hehehe.

Flexibility

Wujudnya bermacam-macam. Jam masuk (dan jam pulang) yang bisa diplih, model kerja yang full-time atau part-time, kebolehan bekerja remote (ini memang priviledge yang tidak bisa disediakan oleh semua industri). Semuanya berkat kemudahan jaringan internet untuk mengirim dokumen, teknologi email dan cloud computing. Tinggal security-nya saja diatur.

Di sisi lain, memang sudah zamannya untuk bekerja berdasar deliverable. Empat puluh jam bekerja di kantor selama sepekan memang masih ada dan beberapa perusahaan/industri sulit untuk menghilangkan faktor tersebut (tidak harus dihilangkan sih, karena beberapa industri seperti manufaktur memang harus demikian). Deliverable adalah output dari aktifitas/proses yang dilakukan oleh si karyawan. Which is, sudah didefinisikan ‘kan dalam proses bisnisnya perusahaan. Millennial memang makin pintar kok memahami alur bisnis. Mereka sudah tahu mana yang jadi deliverable langsung (sehingga bisa jadi key performance indicator) maupun yang tidak langsung.

But, Milennial-Style Office is Overrated

Ini yang keempat. Kalau kata Samuel Amarta, seorang konsultan HR, interior maupun fasilitas kantor yang memenuhi selera millennial itu overrated. Permintaannya kan memang dari pekerja milennial. Namun, dari sisi HR yang aktifitasnya seputar recruitment, retention dan growing para karyawan, sebenarnya hal-hal tersebut tidak berpengaruh banyak. Retention rate-nya belum tentu jadi rendah. 

Malah banyak millennial yang berpikiran, mumpung masih single, berpindah sesering mungkin demi mendapat experience sebanyak-banyaknya. YOLO (You Only live Once) adalah mantra dalam berpindah-pindah perusahaan dan industri.

Menanggapi hal tersebut, saya, sebagai seorang millennial yang sudah berkeluarga dan memiliki anak, malah berorientasi pada benefit-benefit karyawan semisal BPJS, asuransi swasta, dan sebagainya yang memberikan manfaat pada keluarga kecil saya. Ada lebih banyak faktor yang harus dipertimbangkan oleh orang seperti saya sebelum memutuskan pindah perusahaan. Seiring dengan menuanya pekerja milennial kita, benefits tersebut terbukti valid. 

Lantas, bagaimana perusahaan-perusahaan yang bukan IT Startup seharusnya menanggapi fenomena tersebut?

Terlalu permukaan apabila sekedar mengikuti interior ruang kerja perusahaan IT Startup. Masih di tingkat permukaan juga apabila, sekedar memberikan fleksibilitas waktu dan tempat bekerja. Baik dalam bentuk remote working, part-time, masuk kantor boleh lebih siang, dan sebagainya. Sementara, terlalu fleksibel malah sedikit-banyak –tergantung orangnya– menurunkan produktifitas bahkan memperlemah koordinasi dan komunikasi antar anggota tim.

Inovasi

Menurut saya, di dunia yang semakin hypercompetitive dan menuntut kita untuk bergerak lincah ini, yang patut ditiru dari para startup IT adalah budaya inovasinya. Budaya untuk terus-menerus meriset, mencoba (trial), implementasi, solve new problem from that implementation, dan seterusnya.

Knowledge Management

Inovasi sendiri tidak bisa dipisahkan dari knowledge management, menurut saya. Kita tidak bisa mencoba inovasi baru, kalau kita tidak mengakses dokumen knowledge internal. Seseorang, secepatnya, sebelumnya harus sudah menulisnya untuk bisa kita akses hari ini. Jadi kebiasaan untuk mengelola data, informasi, dan insight secara tertulis ini juga makin penting untuk dibudayakan.

Mengapa semua ini penting untuk, setidaknya, kita pikirkan?

Sebab, generasi-generasi kita sedikit demi sedikit mulai berganti. Customer, supplier, vendor perlahan tapi pasti mulai regenerasi. Tidak ada salahnya memberikan posisi-posisi strategis kepada para millennial di perusahaan. Karena customer, supplier, vendor kita juga semakin diisi oleh para millennial.

Remembering My Time in Consulting

Habis baca consulting worklife, tiba-tiba teringat dengan masa saya jadi konsultan dulu.

Belum konsultan asli, karena masih analyst. Masih 2-3 level senioritas lagi untuk jadi konsultan sebenarnya. Saya dulu tiga tahun di kantor konsultan tersebut. Yang saya dapatkan lebih dari cukup. Meski saya mendapat berlebih, tapi mungkin saya tidak mau mengulanginya lagi. Mungkin lho, ya. Because I am raising my family now.

Sebagaimana dahulu saya belajar di SMA berasrama. Experience-nya luar biasa. Segala pengalaman buruk atau sedih, tergantikan dengan yang indah-indah. Ingin diulang? Tentu tidak. Dikurung mengajarkan saya arti kebebasan.

Baik, masuk ke topik utama. Ada tiga hal yang saya dapat di konsultan: pembelajaran, (sedikit) jejaring, dan jalan-jalan.

Pembelajaran (Learning)

Meski hanya di belakang layar laptop, bukan di hadapan audiens –ini peran bos saya yang sudah 15 tahun consulting ketika itu–, yang jabatannya bervariasi – mulai dari level direktur sampai salesman lapangan, tapi consulting memberikan pelajaran yang luar biasa banyak untuk saya. Karena yang saya pikirkan bukan lingkup pekerjaan yang se-kroco saya. Tapi masalah di tingkat perusahaan yang jadi beban pemikirannya direktur. Kita akan belajar untuk tidak memberikan solusi yang receh; alias solusi yang tidak kita pikirkan matang-matang plus dan minusnya.

Malah kita fokus memberikan solusi yang out of the box – ada dua alasannya sebenarnya: menjawab masalah klien sekaligus cari aman, hehe. Referensinya darimana? Ya dari buku-buku yang really deep thoughtful lha. Ditulis dalam bahasa Inggris oleh orang-orang bule Amerika. Ditambah utak-atik gathuk terhadap hasil searching di internet, hehe.

Karena saya konsultan di bidang strategic marketing, maka saya jadi cepat belajar tentang organisasi marketing and sales di beberapa perusahaan dan industri sekaligus. Pengetahuan ini membangun imajinasi saya tentang bagaimana proses bisnis yang mereka –seharusnya—lakukan, siapa target market mereka, siapa saja perusahaan kompetitornya, dan lain sebagainya.

Berjejaring (networking)

As former analyst in consulting office, I already know what is fun and how to be a fun person. Theoretically, at least. Tanpa menghilangkan karakter asli yang berhati-hati (baca: berpikir dua kali) sebelum berpendapat, alias thoughtful, saya sudah lebih “cair” dibanding sebelumnya. FYI, tidak mungkin donk kalau meminta data ke klien itu straight to the point. Kita butuh basa-basi dulu. Pembukaan yang fun and interesting ini juga perlu sebelum mewawancara orang lain. Harus bisa “menjual” diri. Sebagaimana teknik salesman yang paling kuno: cari kesamaan dengan lawan bicara, lalu mulailah perbincangan dari sana.

At that time, kantor tersebut juga membangun komunitasnya sendiri. Komunitas para pengusaha. Kecil-kecilan. Biar punya “massa” kalau bikin acara sendiri. Acara untuk meng-entertain para existing client yang lagi proyek sama kita. Plus, untuk menangkap “ikan-ikan” yang lebih baru. Nah, “massa” pendukung ini kita jadikan tamu-tamu dalam acara tersebut.

Traveling

Kantor konsultan tersebut tidak besar. Belum regional Asia Tenggara. Tapi cukup membuka kesempatan bagi saya untuk terbang –dengan alasan pekerjaan dan dibiayai oleh klien—ke beberapa kota di Indonesia. Palembang, Medan, Makassar, Surabaya, Yogyakarta. Pergi pagi pulang sore ke Jakarta. Kalau acara dua hari, berarti ada kesempatan kuliner malamnya.

Bukan hanya soal terbang. Namun jam kerja konsultan cukup fleksibel. Bukan berarti santai karena bekerja >40 jam seminggu. Masuk bisa lebih siang, tapi mungkin kamu akan pulang malam –bahkan menginap—dan tanpa uang lembur. Buat saya yang waktu itu belum lama menikah dan anak-anak sudah berusia beberapa bulan, tampaknya saya butuh rehat. I was burnout at that time. Di kantor konsultan yang lebih besar, duitnya lebih dari cukup untuk “mengobati” burnout-nya. Jadinya mereka bisa bekerja lagi; mencari uang untuk mengobati burnout sebelumnya. Hehehe.

See? Tidak semua orang cocok menjadi konsultan.

Takeaways

Mengalami roller-coaster kehidupan ala konsultan sangat menarik lho. Experienced and memorable. Saya sarankan kamu mencobanya. Tidak wajib lama. Cukup 2-3 tahun saja. Lebih awal mencobanya, lebih baik. Tapi seperti saya katakan di atas, ada tiga thread-off nya. Learning, networking, and travelling.

  • Tidak semua orang cocok menjadi learner ala konsultan di sepanjang hidup mereka. “Belajar” dari direktur, membaca dan membedah buku atau kasus-kasus bisnis, menulis di koran membangun personal brand, dan seterusnya.
  • Network itu ibarat buah. Selama masih di pohon, dia belum bermanfaat. “Menabung” network tapi tidak mengupayakan “memetik”-nya, rasanya kurang tepat juga. Ingat, semakin senior seorang konsultan, kerjanya hanya membangun relationship di sana-sini sebelum mengekstraknya sebagai proyek. At least, I know how to be fun and interesting person/friend when meeting someone new.
  • Travelling quite a lot itu prasyarat menjadi konsultan. Dalam kota, maupun antar kota antar provinsi (AKAP donk!). Dalam hal ini, kamu tidak akan menjadi ayah yang reguler. Pulang setelah anak kelelahan bermain seharian. Atau masih sibuk dengan pekerjaan tatkala mereka meminta weekend-mu untuk bermain bersama.

Jadi, apakah ini berarti saya benar-benar berhenti dari being a consultant? Maybe yes, maybe no. Kalau saya tidak bertemu dengan pekerjaan tetap yang sukses memaksa saya bertahan di situ, mungkin saya akan pindah. Dan satu-satunya jalan mungkin hanya konsultan.

Itu ceritaku. Apa kamu ada cerita tentang bekerja sebagai konsultan atau agensi? Kalau ada, mohon bagikan ceritamu di kolom komentar ya.