How to Becomes a Digital Talent?

Selain mahir dalam bidangnya, digital talent juga perlu ‘visible’ di internet. Update dengan perkembangan app juga tak kalah penting.

Digital talent adalah talenta/individu dengan keterampilan digital. Sebagaimana kita tahu, digitalisasi terjadi di semua bidang. Kita manusia semakin banyak bekerja maupun berinteraksi via aplikasi digital.

Dengan sendirinya tenaga kerja yang dibutuhkan saat ini, adalah talenta digital atau dengan kemampuan digital. Seperti content writer, youtuber, business/system analyst, developer/programmer, terkait data (data engineer, data analyst, dll), social media (analyst, strategist, dll).

Sound engineering juga dilakukan secara digital. Banyak dipuja-puji tuh sound engineer-nya .NET TV. Padi Reborn Sang Penghibur jadi nikmat banget didengar. Lebih seimbang gitarnya Piyu dengan gitarnya Ari Homer.

Dulu untuk membuat materi tulisan, seorang penulis harus ke perpustakaan, membuka banyak buku untuk melakukan riset, baru bisa membuat tulisan. Sekarang, penulis digital bukan lagi kekurangan informasi, bahkan kebanjiran informasi. Kalau sebelumnya bingung karena tidak pernah konten yang memuat hasil riset atau interpretasinya, sekarang bingung memilah mana informasi yang benar atau hoax.

Dulu bikin desain, paling keren kalau pake keluarganya Adobe: Photoshop maupun Illustrator. Cupu sedikit, pakenya PowerPoint. Sekarang, buat begitu bisa pakai canva.com saja. Tiba-tiba, semua orang bisa mendesain dengan lebih cepat sekarang.

Profesi penulis, visual designer, atau profesi-profesi lainnya sebenarnya masih ada. Bukan tergilas dan tergantikan akibat digitalisasi atau robot. Tetapi, perlu diingat bahwa tanggung jawab, deskripsi pekerjaan, dan tetek-bengek yang disusun oleh recruiter jadi bergeser. Digital talent wajib adaptif terhadap pergeseran tersebut.

Pergeseran ini sebenarnya yang paling signifikan terjadi. Yang sedikit lebih kecil adalah hilangnya suatu pekerjaan karena automasi; digantikan oleh roles (peran-peran) yang baru.

Sebagai contoh, orang dulu menduga keberadaan Anjungan Tunai Mandiri (ATM) baik berupa mesin maupun kartunya, akan menggilas pekerjaan teller. Kenyataannya, peran teller-nya tetap ada, tetapi bagian yang bisa swalayan (self-service) oleh nasabah dihilangkan dari job description-nya.

Teller maupun Customer Service (CS), sekarang lebih berupaya pada menyelesaikan persoalan nasabah, menawarkan produk baru, dan lain sebagainya. Karena itu tadi, persoalan yang bisa diselesaikan secara automatic maupun self-service diserahkan pada mesin/robot bernama ATM.

Jadi, di masa yang lebih depan sedikit, manusia akan mengerjakan apa – berdampingan dengan bantuan dari berbagai mesin/robot – dan bagaimana para digital talent bisa memperoleh pekerjaan-pekerjaan tersebut?

Rise of Online Learning

Tren terbaru dalam rekrutmen tenaga kerja adalah mengutamakan pengalaman ketimbang pendidikan dari si calon karyawan.

Nah, saran saja nih kepada pencari kerja: pengalaman bisa didapat dari magang (internship) maupun eksplorasi sendiri terhadap aplikasi-aplikasi digital. Lebih keren lagi di mata pemberi kerja (employer) kalau eksplorasi tersebut kita berikan ‘judul’ proyek.

Sekarang kalau butuh partner belajar juga lebih terjangkau. Sudah banyak platform untuk belajar secara online dengan berbagai materi yang tersedia. Waktu yang lebih singkat, harga yang lebih terjangkau.

*Uni Hicha Aquino sempat menulis Review Online Learning Platform.*

Saya sendiri baru sekali belajar di platform semacam itu. Dibayari kantor untuk belajar di Udemy, materinya tentang technical documentation. Kalo yang bayar sendiri dan dari lokal Indonesia, lebih banyak ‘manual’-nya. Pakai zoom, rekaman video, tugas online, WhatsApp Group, dst.

Kursus-kursus singkat ini bisa banget mendorong/memaksa kita untuk belajar newer version of a digital app. Namanya aplikasi digital kan, versi barunya akan terus ada. Atau, paid version-nya lebih kompleks daripada gratisannya. Menuntut kita untuk lebih advanced terus. Selain lewat kursus, ini bisa lewat komunitas juga, kok.

Soal online learning ini, kita sebagai buyer, customer, atau user harus sering berhati-hati dalam memilih dan menggunakan layanan pembelajaran daring. Sebab ada yang namanya fake gurus. Detailnya bisa disimak di post tersebut.

Saya tidak ingin menabrakkan kursus singkat dengan pendidikan tinggi (PT). Keduanya sama baiknya dan punya porsinya masing-masing. Namun, dalam perspektif pemberi kerja, alangkah baiknya ‘lulusan’ kursus atau PT memiliki pemahaman fundamental dalam pekerjaannya. Sehingga bisa beralih mengoperasikan mesin/alat/robot yang berbeda.

Perlu kita ingat, lulusan kursus belum tentu terampil dan tidak semua lulusan PT memiliki fondasi keilmuan yang baik. Apapun pendidikannya, pekerjaan-pekerjaan kita semestinya bisa mengantar kita untuk semakin punya pemahaman yang mantap/kokoh (fundamental). Sehingga pindah-pindah alat, mesin, platform, tidak menjadi masalah besar.

Journaling: A Content Project

Klise banget kalo blogger merekomendasikan blogging ya. Tidak spesifik nge-blog di blog, maksud saya. Tetapi journaling mungkin lebih tepat. Alias secara rutin nge-post tentang topik-topik yang kita pikirkan – secara terus menerus. Mediumnya bisa facebook, instagram, twitter. Kebetulan, saya lebih suka format keluarannya berupa teks yang panjang, yaitu blog.

Ada tiga alasan mengapa saya merekomendasikan blogging sebagai proyek konten kita:

Pertama, ini bagian dari berinvestasi dalam keahlian kita. Apapun pekerjaan kita, do blogging. Ini semacam retrospeksi terhadap apa yang kita lakukan. Merefleksikan apa yang kita lakukan. Bisa berupa mempertanyakan teori yang kita ketahui. Mengartikulasikan teori untuk lebih mudah dipahami – lewat pemberian contoh.

Kedua, mengembangkan sudut pandang (developing personal point of view). Blog itu semacam PR ya. Pekerjaan rumah yang membuat saya tampak lebih baik atau lebih profesional di luaran. Kenapa? Karena lewat ngeblog, saya jadi punya “prinsip”. Bisa prinsip dalam kehidupan, atau minimal prinsip dalam berpikir. Blog juga menunjukkan ke luar bahwa, saya “berpijak” pada sesuatu (stand for something).

Ketiga, menjadikan kita lebih mudah ditemukan. Saya tahu, mencari orang atau topik bisa dilakukan di kolom search twitter, facebook, instagram. Tapi SEO bekerja hanya di google.com atau youtube.com. Maksud saya, kita akan lebih ‘bertahan lama’ dalam cache-nya Google atau YouTube kalau kita membuat konten di sana. Alias bikin weblog atau channel sendiri.

Alangkah indahnya kalau kita sebagai digital talent, mudah ditemukan di jagat internet 😀

Sejak saya nge-blog, alur berpikir saya relatif lebih sistematis dan “rapih”. Membedakan gejala dengan akar masalah. Menemukan dan mengurutkan aktifitas atau proses ke dalam runtutan yang baik. Menunjukkan kepada dunia siapa saya dan apa yang senang saya lakukan. Merek-merek yang merepresentasikan saya, dan lain sebagainya.

Yang terakhir, dan paling utama, blog juga mengantarkan saya ke pekerjaan-pekerjaan saya sekarang.

Barangkali kamu ada pengalaman, bagaimana mengembangkan diri sebagai digital talent? Bagikan di kolom komentar, ya 🙂

Reference:

Podcast

Memulai podcast sebagai hobi baru. Mudah-mudahan bisa konsisten dan sustain ya.

Kayaknya saya ketemu ‘mainan’ baru, deh. Mainan baru yang saya perlu merencanakan dan meluangkan waktu. Bisa disebut juga sebagai passion atau hobi. Hehe.

podcast

Hal ini berawal dari hobi saya menyimak podcast sambil bekerja. Not all the working time ya. Podcast tuh bikin exhausted juga. Jadi selang-seling antara musik dengan podcast.

Setelah hobi mendengarkan podcast selama beberapa waktu, terlintas di pikiran saya, “Kenapa gak buat podcast aja sekalian?”. Dari puluhan kali melihat podcast-nya Pandji, End Game-nya Pak Gita Wirjawan, dan Raditya Dika –3 podcast yang paling sering saya dengarkan, tentu ada cara-cara ngobrol/interview yang bisa saya tiru dan modifikasi lha ya.

Pertama, antusiasme sebagai bahan bakar ya. Terutama rasa ingin tahu. Basic saya sebagai seseorang yang suka mengamati (observing), maka pertanyaan-pertanyaan semisal, ‘Why this happened?’ atau ‘How do you that?’ jadi sering berseliweran di dalam kepala saya.

Selain menetapkan waktu untuk interview/podcast, outline pembicaraan jelas wajib dipersiapkan. Gak perlu terlalu kaku, tapi arah pertanyaan wajib ada. Minimal temanya jelas deh, untuk episode tersebut.

Dalam podcast #BincangProfesi, arahnya memang pembahasan soal title pekerjaan ya. Bahkan ketika mengerjakan 2 episode pertama, saya belum tahu ini akan jadi apa yang diberi nama apa. Bahkan di sana, saya mengaku terus-terang bahwa ‘belum ada judul’-nya. Hehehe.

Tahu, enggak? Title pekerjaan sering menipu lho. Judulnya manager, tapi belum pasti ada karyawan lain sebagai anggota timnya. Product manager, sales manager tuh belum tentu punya bawahan yang membantu pekerjaan.

Info tipis-tipis, baik yang sengaja saya cari tahu maupun yang tidak sengaja saya dapatkan itulah, yang mengantar saya menyusun outline, arah ataupun tema pembicaraan. Gak pernah tertulis, memang. Namun ngendon di kepala saya selama beberapa hari atau pekan.

Ep.1 Drilling Fluid Engineer

Dari title, saya biasanya zoom out ke industri ya. Kompetitor produk atau perusahaannya siapa, market yang dilayani yang mana, produk/layanan substitusinya apa, dan seterusnya.

Ep.2 Corrosion Engineer

Terakhir adalah soal masa depan dari profesi tersebut. Misalnya, ada opportunity apa sehingga profesi ini cerah masa depannya? Kalau ingin terjun ke profesi tersebut, persiapan pendidikan atau sertifikasinya bisa dilakukan di mana saja? Dan seterusnya.

Ep.3 Farmasis

Koridornya saya sejauh ini adalah tidak sebut merek produk atau perusahaan ya. Memang bukan sarana promosi ya. Jadi sekalian tidak boleh sebut sama sekali. Tapi, kalo ada yang ingin support channel ini, boleh banget tuh kita kerja sama. Hahaha #iklan.

Support tuh maksudnya supaya saya tetap bisa sustain untuk mempromosikan profesi rekan-rekan sekalian. Kepada mereka yang menjadi narasumber, saya yakin ini adalah cara untuk memperingan beban pekerjaan mereka. Sedikit atau banyak, pekerjaan itu membuat stress juga kan ya.

Selain demi ngonten, podcast ini saya jadikan sarana untuk silaturahmi juga dengan teman-teman lama. Lumayan ya, jadi tahu siapa sedang di mana, bersama siapa, sedang berbuat apa, dst. Hehehe.

How I’ve learned to be better Writer

Rutin menulis di platform online seperti blog melatih kemampuan menulis: mencari referensi, mengambangkan naskah, menyunting, dll

Saya itu belajar menulis secara otodidak. Paling sering, lewat nge-blog ini.

Mereka yang kuliah ilmu komunikasi (ilkom), mungkin lebih beruntung ya. Dapat asupan teori yang cukup untuk memulai pekerjaannya sebagai penulis di berbagai ruang kepenulisan. Para mahasiswa ilkom setahu saya lebih banyak mempraktikkan peran-peran jurnalis di ruang-ruang kampus.

Berikut di antaranya yang mereka lakukan: Mencari sumber berita dan mewawancarai narasumber. Melakukan desk research. Menulis berita berdasar kerangka 5W+1H. Menulis feature, dan lain sebagainya.

Tempat lain untuk belajar mempraktikkan (sekaligus diajarkan berteori) adalah unit kegiatan mahasiswa (UKM) jurnalistik. Hampir tiap kampus punya UKM jenis tersebut. Secara nasional, yang paling dikenal adalah Balairung-nya UGM.

Memasuki kehidupan pasca kampus, saya mendapati bahwa self-learning menulis lewat blogging saja gak cukup, gaez. Ya nggak, sih? Rajin dan fokus itu gak kalah pentingnya. Sudah sering kita dengar mereka yang cinta dengan bidangnya, sekalipun bukan di sana pendidikannya, nyatanya bukan sekedar survive aja, tapi juga bisa memberi makan keluarganya.

Selingan: Youtuber yang populer tuh seringkali bukan jurnalis yang baik. Produk videonya pun bukan produk jurnalisme yang baik. Khususnya yang lebih fokus pada isu-isu kehidupan pribadi selebriti (bukan pada karyanya).

Saya mengapresiasi karya/konten di internet yang telah menerapkan kaidah-kaidah jurnalistik yang baik.

Mengapa ini bisa terjadi?

Saya berpendapat, seringkali kampus-kampus sekarang tuh mentok dalam menyambungkan rantai nilai di industri. Banyak banget posisi pekerjaan yang ternyata hanya menerapkan ilmu kuliah sebanyak 20% atau bahkan kurang. Tidak heran gak harus kuliah di jurusan tersebut untuk bisa bekerja di bidang itu. Mungkin ini fenomena global ya. Di negara yang pendidikannya lebih baik seperti Amerika Serikat, “salah jurusan” lebih sering terjadi.

(Ini agak kurang berlaku untuk mereka yang kuliah kedokteran lanjut menjadi dokter, kuliah farmasi meneruskan sebagai apoteker, dan profesi-profesi lain dengan kode etik dan harus disumpah, ya. Tidak lama lagi profesi insinyur yang merupakan kelanjutan dari sarjana teknik juga akan ditegakkan melalui penerapan sertifikasi, pendidikan keinsinyuran, dan lain sebagainya)

Mungkin karena jurusannya kurang sering mengadakan lokakarya (workshop) bersama para pelaku industri ya. Untuk menemukan insight terbaru mengenai industri tersebut. Kalau kita zoom out dan menengok 20-30 tahun ke belakang, perubahannya telah terjadi secara signifikan.

Sesekali melakukan lokakarya (workshop) jelas diperlukan ya. Mungkin bukan 2-3 tahun sekali. Tetapi per 5 tahun, saya rasa sudah cukup.

Wah, malah OOT, deh. Back to topic.

Blogging itu langkah yang tepat untuk mulai belajar menulis ya. Ada dua kata kunci: memulai dan belajar. Kenapa “memulai”? Karena platformnya bersifat personal. Kita bisa mengekspresikan isi kepala dan hati. Analisis hasil overthinking semalaman mungkin menarik untuk dituangkan dan dibaca orang lain. Hehehe.

Dikatakan “belajar” karena lambat laun tiap tulisan (dan penulis) akan menemukan pembacanya sendiri. Sekian persen di antara pembaca kemudian bertransformasi menjadi commentator atau bahkan fans setia yang menunggu rilisan terbaru.

Fakta sekaligus “kelemahan” dari blogging, di sisi yang berlawanan, adalah dia bukan media massa. Tidak ada standard yang harus dipenuhi oleh rilisan blog, sebagaimana suatu opini/gagasan harus lolos dari editor di media massa.

Blog jadi sangat bervariasi kan. Yang ancur-ancuran ada. Yang rilis (posting) semau gue ya, ada. Yang gak mau fokus di topik-topik tertentu (niche) ya ada juga. Alias sagala aya (semua ada).

Di titik ini, kita sebagai blogger perlu mengecek perkembangan dan relevansinya terhadap kita sebagai blogger terus-menerus ya. Mesin blog berkembang terus. Google selaku mesin pencari juga terus memperbaharui algoritmanya. Secara konten, terus muncul topik dan niche yang baru. Alat bantu nge-blog juga semakin beragam; mulai dari social media sampai piranti pendukung seperti canva.

Beruntungnya (atau kurangnya?), saya tidak belajar menjadi penulis dari berkuliah S1 di Ilkom, bukan juga aktif di UKM jurnalistik. Melainkan tatkala bekerja di kantor konsultan, dan kini sebagai writer di IT company. Dan yang paling utama adalah dari nge-blog.

Karena blogging sudah terbukti, saya berkomitmen untuk melanjutkan aktifitas setidaknya sampai 10 tahun ke depan.

Basics of Script Writing

This post contains the steps for writing a script. There is no script format here. You can find it yourself.

Who says bloggers’ work are very limited?

With our creativity and consistency in blogging, bloggers can also be scriptwriters, you know.

Don’t just exalt the director and underestimate the scriptwriter, huh. As all positions have a role in video production, we shall not underestimate the scriptwriter works.

Even though scriptwriter’s work is invisible to the eye, the work is truly real!

Not only artists, but also the entire team must need the script.

The following are examples of how each role treat and use a script:

  • Director: knows and understands the layout of the set,
  • Artist: know and how to act out the script
  • Logistics: know what properties to prepare. Including clothing that must be prepared. As we know, clothes represent the role of the character,
  • Finance: know how much money to prepare. Then make a fundraising or sponsorship plan (and if necessary debt). This plan needs a written proposal, as well.
  • Etc.

So, the scriptwriter must be able to put his imagination and visualization out (which may be the result of discussions with the director and producer as well), into the text; according to the needs of the roles above. As we know, MILES FILM always empower Mira Lesmana as producer and Riri Riza as director. Collaboration from both of them always produce great films to watch.

Casts need text that is concise, concise, and appropriate to spoken conversation (this is relatively similar to writing conversations in fiction, but not quite the same).
FYI, writing in short sentences and paragraphs is the same as technical writing. Just feel the difference, hehe.
Upon writing a story, according to the standard of the story: there is a CHARACTER who usually does what, then experiences the PROBLEMS, and how he/she explores, finds, then implements the SOLUTION.

In the following list, I put out my perspective in thinking and writing on blogs, into a script.

Research

Writing can indeed come from personal experience. But it will be more valid if we ask questions or find out more about similar experiences from other people..

In addition to validating these personal experiences or problems, this activity will help us find a bright spot (or answer) to the question “How to make the audience of this story feel connected to that premise?”

As a product or work, it is imperative that we shall recognise and acknowledge the difference compared to similar products/works. Sufficient research shall helpful.

A little difference is better than a little bit better.

Pandji Pragiwaksono

The abovementioned quote shows us that, it is important for us to search and find keywords or key points that must exist and then concoct them into the script.

Research must be carried out, but it cannot be forced to be completed first and then move on to the next activity. As writing a script is agile activity, you often have to go forward first, then go back a little to finish the pending homework.

Writing

Write down everything you want to write first. Whether it’s about the character, the situation/atmosphere of the set, the plot, the problems faced, and so on. Put in all from your mind until there is nothing left.

After all the materials are available, let’s connect them one by one into a complete storyline. If you find a “hole” that doesn’t make sense, fix it one by one.

If the storyline is completed, is it really finished? No, it’s not. But it may depend. Let’s include the audience element.

I mean, this work still has to be entertaining, right? Yes. It should be noted, entertaining (to entertain) doesn’t have to provoke laughter (make laugh), huh. It can also be entertaining in other forms.

And thank God, thank God if there is a memorable part. How to write it is as important as the storyline itself.

Let us continue to edit (editing) part. Later on, we can return to writing if deemed necessary.

Editing

Of course, the story must be written in a concise form. There should be no unnecessary parts. All components must work seamlessly and coherent to build a robust story.

This is where editing comes in to scrape off those annoying fats.

We remember, visualize, and re-validate the function of each part of the story we have written. Which one acts as a message giver, which one presents entertainment, which one is deliberately made so that this work is easy to remember, and so on.

CLOSING

That is what I have written, step-by-step what I have done when compiling a video script for a company introduction and product marketing video.

Eits, make no mistake. Even though things are as serious as the company and the business, it still needs characterizations and storylines, you know.

Do you have similar experiences? Please share in the comments column ya. Thank you.


Reference:

You can also read my other writings in WRITING category.

Design Thinking

Beberapa pekan ini saya lagi berkutat dengan design thinking. Kerangka berpikir ini cocok banget untuk mendesain produk, layanan, atau apapun yang banyak digunakan oleh manusia.

Design Thinking adalah upaya menyelesaikan suatu masalah dengan pendekatan ala orang desain (designer). As we know, dari sejarah pendidikan maupun profesinya, yang kita kenal sebagai designer adalah desainer produk, desainer komunikasi visual, arsitek, dan profesi lain yang sejenis.

Profesi-profesi tersebut mendesain solusi atas suatu masalah dengan pendekatan yang sistematis. Bidang masalah-masalah yang tersebut di atas, biasanya dialami oleh pengguna langsungnya, yaitu manusia itu sendiri. Jadi, pemecahan masalah yang sistematis, dilakukan dengan mengajak direct user berpartisipasi sebanyak mungkin.

Meskipun user adalah “sumber masalah sekaligus sumber solusi”, dalam pelaksanaannya, pelibatan user tidak bisa sembarangan. Namanya sumber daya, harus digunakan secara tepat supaya tidak mubazir dan tidak menghabiskan waktu juga.

Sebagai contoh kasar, bila butuh data kuantitatif kita bisa melakukan survey. Yang bila pemilihan sampelnya tepat, 400 orang saja sudah cukup. Bila butuh insight yang lebih kualitatif, kita bisa melakukan in-depth interview maupun focus group discussion (FGD). Masing-masing responden biasanya diberikan hadiah yang menarik. Semua aktifitas tersebut, berikut dengan gift-nya, adalah biaya. Dan cost-benefit dalam pengumpulan data tersebut harus benar-benar dipertimbangkan dan dioptimalkan.

Nah, design thinking yang dilakukan oleh para desainer, kemudian dipopulerkan oleh IDEO (sebuah konsultan desain) untuk menyelesaikan masalah yang lebih luas dan lebih beragam. Jadi, design tidak lagi terbatas pada term “produk”-nya profesi product designer, ataupun “bangunan”-nya arsitek.

Selain mengumpulkan data dan fakta seputar masalah dari para pemangku kepentingan, maka kita juga bisa mengajak user berpartisipasi dan berkolaborasi dalam pemecahan masalah. Bahasa populernya co-creation (ko-kreasi).

Design Thinking Process

Pelaksanaan Design Thinking terdiri dari 5 (lima) proses:

Emphatise.

Berempati terhadap masalah yang dialami oleh pengguna. Semacam “memakai sepatu yang dipakai oleh orang lain”. Mencoba merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain. Dan lain sebagainya.

Define (the problem)

Berusaha mendefinisikan masalah yang dialami oleh pengguna tanpa berempati lebih dahulu terhadap pengguna tersebut, hanya akan membuat kita nyasar dalam defining the problem. Problem statement merupakan hasil yang harus dikejar dari proses ini.

Ideate

Fase berpikir kreatif “think outside the box” guna mengidentifikasi apa saja solusi-solusi yang mungkin atas problem statement yang sudah ada. Sebagai contoh saja, brainstorming dan cocreation termasuk dalam definisi ideation ini.

Prototype

Fase ini bersifat lebih eksperimental daripada fase sebelumnya. Di fase ini, kita merealisasikan ide/solusi yang sudah diidentifikasi, ke dalam bentuk yang lebih riil, dengan berbagai macam batasannya. Baik ukuran, jumlah, dan determinan lain-lainnya. Bisa jadi, ada beberapa prototipe yang dihasilkan dari fase ini.

Test

Segala prototipe yang sudah tersedia, diujikan atau di-test-kan kepada para pengguna. Faktor-faktor apa saja yang harus diujikan, perlu direncanakan sebelum pengguna menguji-cobakan semua prototipe tersebut.

Perlu diingat bahwa proses-proses tersebut tidak harus berjalan secara linear (berurutan). Design Thinking berjalan secara natural dengan ke-tidak-linier-annya. Jadi dalam iterasinya, bisa saja kita melompati suatu proses, menambah proses yang sama, atau bahkan mengulangi proses yang sudah dilakukan sebelumnya.

Sticky Notes

Sticky notes, adalah alat yang sering dipakai dalam design thinking. Baik untuk menemukan masalah, serta merumuskan solusinya.

https://thuyt.com/visa-co-creation/

Dalam workshop yang bisa dihadiri sampai dengan belasan orang itu, masing-masing peserta mengungkapkan isi kepalanya dengan menuangkan di sticky notes.

Setelah semua keluhan, kegelisahan, ide solusi dan lain sebagainya sudah tertuang, selanjutnya bersama peserta melakukan klasifikasi dan menerapkan skala prioritas. Mana yang mirip-mirip, masuk dalam satu klaster. Setelah beberapa klaster terkumpul, diurutkan dari yang paling prioritas (atau penting) ke yang kurang prioritas (mungkin kurang signifikan).

Design Thinking terdengar mudah dan murah ya. Tinggal kumpulkan user/stakeholder, lalu lakukan workshop dengan sticky notes.

Kenyataannya tidak semudah itu. Design Thinking yang sukses, ditentukan oleh ketepatan kita dalam menggunakan cetakan (template). Makanya profesi konsultan Design Thinking itu ada karena keahlian dan pengalaman mereka dalam menentukan dan menggunakan template yang tepat.

Contoh Penggunaan

Sekedar contoh bagaimana template yang tepat membantu kita merumuskan solusi-desain.

Bapak Alexander Oster Walder punya dua cetakan yang bisa kita pakai, yaitu business model canvas dan value proposition design.

Yang pertama untuk menemukan model operasi yang kita ingin lakukan. Ini cocok kalau kita ingin memulai usaha yang baru.

Yang kedua adalah merumuskan nilai/manfaat apa yang kita ingin deliver kepada customer. Lagi-lagi, ini kalau kita ingin merilis produk/layanan yang baru.

Validasi

Persoalan dari konsep adalah, harus divalidasi dengan penggunanya.

Validasi pertama bisa dengan user testing. Alias kita mengumpulan beberapa user untuk menguji coba sendiri produk/layanan tersebut, sesuai dengan brief problem yang diberikan. Apakah user berhasil atau tidak dalam menyelesaikan masalahnya dengan prototipe solusi yang diberikan.

Kalau yang pertama lebih kepada kuantitas, maka validasi kedua berkaitan dengan jumlah pengguna. Apa benar, dari 100% pengguna, semuanya benar-benar berhasil menyelesaikan masalahnya. Jangan-jangan sekian persen di antaranya baru bisa menggunakan solusi tersebut, apabila dilakukan perubahan lebih dulu.


Demikian sekilas tentang Design Thinking. Apa ada pengalaman menarik dengan Design Thinking? Boleh ya, dibagikan di kolom komentar.

Referensi:

  • https://www.interaction-design.org/literature/article/5-stages-in-the-design-thinking-process

Hal-Hal yang Perlu Diketahui Sebelum Renovasi Rumah

Dalam dua tahun terakhir, kami merenovasi rumah. Bangunan ini sudah jadi ketika kami beli dari pemilik lama. Post ini memuat rencana dan persiapan apa saja sebelum renovasi rumah.

Disclaimer: Tidak membahas renovasi rumah yang dibeli dari pengembang (developer).

Seiring bertumbuhnya keluarga, anak-anak bertumbuh besar dan memerlukan ruang-ruang kamar dan bangunan rumah secara keseluruhan yang lebih besar, kami memutuskan merenovasi rumah supaya lebih aman (tadinya pagar kurang tinggi) dan nyaman (secara pencahayaan dan sirkulasi udara). Di samping, mengakomodasi perkembangan kebutuhan kami sebagai keluarga, ya.

Sekadar cerita saja, rumah yang kami tempati saat ini adalah rumah keluarga besar yang tidak ada penggunanya; kecuali saya sekeluarga berdomisili di kota yang sekarang ini. Kalau kami tidak cari makan dan mengebulkan dapur di kota ini, rumah tua sejak akhir 1980-an ini lebih baik dicarikan pemilik barunya saja.

Rumus-rumus bangunannya ya sama. Soal pondasi, beban, tiang/kolom, balok gantung, dll sama saja.

Perbedaannya pada “kejutan” yang diberikan. Karena rumah kami dibangun bukan oleh/bersama kami sendiri, maka kami belum tahu persis “dalaman” si tembok, pondasi, kolom, jaringan, jenis dan panjang kabel yg ditanam. Maksudnya, apakah jumlah dan ukuran materialnya sudah sesuai kebutuhan atau belum, implementasinya memudahkan kita untuk mengontrolnya atau tidak, saluran pembuangan air ada bak kontrolnya atau tidak, dan seterusnya.

Rumus pertama, start from your own biggest picture. Renovasi bisa dilakukan bertahap, sesuai keadaan kantong, hehehe. Tapi jangan sampai merombak hasil renovasi yang sebelumnya. Itu mencerminkan kegagalan kita dalam mengenali kebutuhan pengguna dan mendesain ruang untuk memenuhi fungsionalitas yang diinginkan. Jadi, gambaran besarnya harus matang sejak awal dan sebaiknya tertuang di atas kertas — supaya enak berdiskusi lagi untuk renovasi lanjutan.

Kedua adalah, tetap berperan sebagai pemilik si proyek. Alias project owner-nya adalah kita sendiri. Baik kita mengelola sendiri, maupun dibantu oleh PM (project manager) yang kita pekerjakan. PM yang saya maksud itu mengelola spesifikasi dan kualitas hasil pekerjaan, lama pekerjaan, dan biayanya. Tentu ini diawali oleh suatu mekanisme penawaran alias proposal ya. Yang diikuti dengan kesepakatan antara kedua pihak.

PM yang saya maksud, bahasa lokalnya adalah pemborong. Bedakan ya dengan kepala tukang.

Dalam perjalanan pekerjaan di lapangan, seperti sudah disebutkan di atas tentu akan menemui kendala yang mengejutkan, yang berbeda dengn perencanaan di awal. Sehingga, di antara kedua peran di atas wajib berkomunikasi dengan baik dan menemukan win-win solution.

Segitiga Manajemen Proyek.

Antara kualitas, waktu, dan harga saling terhubung satu sama lain. Hanya dua faktor yang bisa dipenuhi, dengan satu faktor lagi wajib kita maklumi.

  • Mau bertahan di kualitas dan waktu yang cepat, sangat mungkin biaya jadi membengkak,
  • Mau kualitas bagus dengan harga murah, pengerjaan akan lama,
  • Mau pengerjaan cepat dengan harga murah? Aspek keselamatan (safety) dari bangunan bisa dikorbankan. Ujung-ujungnya penghuni juga yang jadi korbannya.

Kalau saya, lebih mengutamakan kualitas dan waktu. Konsekuensinya di harga. Mahal tidak masalah selama harga tersebut masuk akal dibandingkan dengan harga pasarnya secara umum. Lebih baik terasa mahal sekarang, daripada kita mengorbankan uang lagi di masa depan karena memperbaiki kerusakan yang terjadi akibat renovasi kali ini.

Di sisi lain, lebih baik mahal sedikit daripada mengulur-ulur si proyek itu sendiri. Kasihan kitanya sebagai penghuni, kalau berlama-lama tinggal dalam ketidaknyamanan karena rumahnya sedang direnovasi, hehehe.

Anggaran dan Realisasi

Dari desain arsitektur-interior yang sudah ada, diturunkan menjadi tahap-tahap renovasi. Yang perlu diprioritaskan adalah pembuatan/penambahan pondasi; karena merupakan tumpuan bangunan di atasnya serta biayanya lebih tinggi daripada komponen yang lain (tembok, kusen-kusen, dll).

Dari sisi letak-letak ruangan, yang terletak lebih belakang/dalam, didahulukan daripada yang di sisi depan bangunan. Untuk memudahkan pembuangan sampah bangunan (brangkal) melalui mobi pickup via jalan raya.

Soal biaya, jangan kaget kalau jebol/bertambah 30% dari yang dianggarkan. Jadi, siapkan saja buffer-nya.


Sedikit preview aja dari bangunan yang kami kerjakan:

Apakah kamu ada pengalaman lain soal merenovasi rumah? Silakan share di kolom komentar ya.

Complete Guide of Digital Marketing

Digital marketing term covers online selling, search engines, social media, content management, and so on. This guide elaborates all abovementioned terms under big umbrella named ‘Digital Marketing’.

Digital marketing is a digital and online marketing and/or sales effort on the internet.

What does digital marketing cover? Search engines, social media, content management, marketplaces, and so on.

Let’s go deeper. Search engines have SEO and SEM. There are free social media and also paid (fb ads, ig ads, twitter ads, etc.). There are marketplaces tokopedia, shopee, blibli, Bukalapak, etc. Btw, there is SEO in the marketplace too, you know.

Managing content includes but is not limited to content planning (including keyword research) and content optimization.

Can you do it yourself? Obviously you can. Because real competence is not difficult to master. The knowledge is spread on the internet, the experts are there, the opportunity to try and explore is also very possible.

The challenge of self-taught learning is that knowledge continues to develop. Search engines, social media, marketplaces all develop themselves continuously in order to provide the best results and user experience to their users. So, we must be strong in learning and applying one or even all of them.

Apart from being self-taught, we might also take courses. Now more and more course providers. The price is even more affordable.

Digital Marketing Course

After the course, we have to keep up to date with the development of science. The easiest, cheapest, and humane way is to join the closest community in your city.

It could be that there is no one community for all digital marketing science groups. But according to the medium. For example, the SEO community, the FB Ads community, and so on.

Digital Marketing Agency

What if you are not able to learn self-taught, and you don’t pay for the course, is there anyone willing to do it? Yes, it’s called a digital marketing agency.

Digital marketing agency is an agency that provides digital marketing services. Getting here, each agency is trying to focus on one or a few digital marketing channels and trying to have a unique positioning.

SEO

Five criteria for a product/business that is suitable for marketing with SEO techniques.

​​Visit Business-based SEO page.

Creating Marketing Content

It is important to make a content marketing strategy so that your content is coherent across all digital marketing mediums.

Copywriting is a writing technique (words, sentences, paragraphs) to influence consumers to buy from us.

​​Visit Copywriting Techniques page.

Learning Copywriting is also very important. Because it will be implemented everywhere: social media (Facebook, Instagram, etc.), e-commerce (tokopedia, shopee, etc.), and content writing.

​​Visit Learn Copywriting page.

Video marketing is on the rise. Its use is also on various social media platforms. You have to sign in from now on so you don’t miss it.

​​Visit the page Video Marketing .

Marketing through Podcasts

Podcasts are increasingly being used in digital marketing today. Podcasts are a medium for sharing your anxiety and desire that you can really relate to the listener for. Packaged with an interview format, Podcast looks like radio, but is more segmented and has a really good feeling.

​​Visit Interview 101 page

The 2nd most downloaded mobile app in 2019. And # 1 for July 2020. It’s time to consider when to start doing TikTok Marketing.

​​Visit TikTok Marketing page.

There are still many who are careless in using hashtags. In this post, I try to elaborate on how hashtags should be used for branding and targeting.

​​Visit Instagram hashtags page.

Does making an infographic have to be (visual) design? Actually no. But you have to understand information architecture.

​​Visit How to Make Infographics page.

Understand the differences in content writing, copywriting, and content strategy and how to apply them in content writing activities.

​​ Copywriter, Content Writer, and Content Strategist

Tips for effective proofreading. So that our script is free of typos and other mistakes, and is easy to read by readers.

Visit Effective Proofreading Page

Case Studies

Online culinary product promotion techniques that are right on target.

Visit Culinary Product Promotion page.

Panduan Lengkap Digital Marketing

Marketing tidak cukup dilakukan secara konvensional. Tahun 2021 ini, marketing harus secara digital dan tentu saja: online.

Digital marketing adalah upaya pemasaran dan/atau penjualan secara digital dan online di internet.

Meliputi apa saja digital marketing itu? Search engine, social media, content management, marketplace, dan lain sebagainya.

Mari bedah lebih dalam. Search engine ada SEO dan SEM. Social media ada yang free ada juga paid (fb ads, ig ads, twitter ads, dst). Marketplace ada tokopedia, shopee, blibli, bukalapak, dlsb. Btw, di marketplace juga ada SEO nya lho.

Managing content meliputi tapi tidak terbatas pada content planning (di antaranya adalah keyword research) dan content optimisation.

Apakah bisa dikerjakan sendiri? Jelas bisa. Karena kompetensi sebenarnya tidak sulit untuk dikuasai. Ilmunya tersebar di internet, pakarnya ada, kesempatan untuk mencoba dan mengeksplorasi juga sangat mungkin.

Tantangan belajar secara otodidak adalah ilmunya berkembang terus. Search engine, social media, marketplace semua mengembangkan diri terus menerus demi memberikan hasil dan user experience yang terbaik kepada para penggunanya. Jadi, kita wajib kuat mempelajari dan menerapkan satu atau bahkan semuanya.

Selain belajar secara otodidak, kita juga mungkin mengambil kursus. Kini semakin banyak penyedia kursusnya. Harganya pun semakin terjangkau.

Kursus Digital Marketing

Pasca kursus, kita harus tetap update dengan perkembangan ilmu. Cara paling mudah, murah, dan humanis adalah dengan bergabung dengan komunitas terdekat di kotamu.

Bisa jadi, tidak ada berupa satu komunitas untuk semua kelompok ilmu digital marketing. Tetapi sesuai dengan mediumnya. Misalnya, komunitas SEO, komunitas FB Ads, dst.

Digital Marketing Agency

Bagaimana jika tidak mampu belajar secara otodidak, terus juga gak pas bayar kursus, apakah ada pihak yang bersedia melakukannya? Ada, sebutannya adalah digital marketing agency.

Digital marketing agency adalah ahensi yang memberikan jasa digital marketing. Semakin ke sini, masing-masing agency berupaya fokus ke satu atau sedikit channel digital marketing serta berusaha memiliki positioning yang unik.

SEO

Lima kriteria produk/usaha yang cocok dipasarkan dengan teknik-teknik SEO.

Kunjungi halaman Bisnis Berbasis SEO.

Membuat Konten Marketing

Strategi Content Marketing penting dibuat supaya konten Anda koheren di seluruh medium digital marketing.

Copywriting adalah teknik penulisan (kata, kalimat, paragraf) untuk mempengaruhi konsumen agar mau membeli dari kita.

Kunjungi halaman Teknik Copywriting.

Belajar Copywriting juga penting banget. Sebab akan diimplementasikan di mana-mana: social media ( facebook, instagram, dll), e-commerce (tokopedia, shopee, dll), dan content writing.

Kunjungi halaman Belajar Copywriting.

Video marketing semakin marak. Penggunaannya juga di berbagai platform social media. Harus masuk dari sekarang supaya tidak ketinggalan.

Kunjungi halaman Video Marketing.

Marketing through Podcast

Sekarang podcast semakin lazim digunakan dalam digital marketing. Podcast adalah medium berbagi anxiety and desire (kegelisahan dan hasrat) yang bisa relate banget untuk pendengarnya. Dikemas dengan format wawancara, Podcast jadi mirip radio, tetapi lebih segmented dan feel-nya dapat banget.

Kunjungi halaman Interview 101.

Mobile app terbanyak ke-2 yang diunduh selama 2019. Dan no.1 untuk Juli 2020. Sudah waktunya menimbang kapan mulai melakukan TikTok Marketing.

Kunjungi halaman TikTok Marketing.

Masih banyak yang asal-asalan dalam menggunakan hashtag. Di post kali ini, saya coba elaborasi bagaimana seharusnya hashtag digunakan untuk branding dan targeting.

Kunjungi Halaman Hashtag Instagram.

Apakah membuat infografis itu harus bisa (visual) desain? Sebenarnya tidak. Tapi harus paham information architecture.

Kunjungi halaman Cara Membuat Infografis

Memahami perbedaan content writing, copywriting, dan content strategy serta bagaimana mengaplikasikannya dalam aktifitas content writing.

Copywriter, Content Writer, dan Content Strategist

Kiat melaksanakan proofreading yang efektif. Agar naskah kita bebas typo dan kesalahan lainnya, serta enak dibaca oleh para pembaca.

Kunjungi Halaman Effective Proofreading

Studi Kasus

Teknik-teknik promosi produk kuliner secara daring yang tepat sasaran.

Kunjungi Halaman Promosi Produk Kuliner.

Memilih Olahraga yang Tepat

Berolahraga jelas baik. Namun, memilih olahraga yang tepat adalah seni. Bisa berdasar usia, bisa juga berdasar faktor lain.

Berolahraga jelas baik. Itu tidak perlu dijelaskan di post ini. Namun, memilih olahraga yang tepat adalah seni. Bisa berdasar usia, bisa juga berdasar faktor lain. Mengapa usia jadi penentu? Karena kondisi tubuh pun berubah dari masa ke masa.

Yang perlu diwaspadai, olahraga yang tidak tepat malah bisa menyebabkan badan sakit, kelelahan, atau cedera.

Di suatu post, saya mengulas mengapa saya memilih olahraga lari.

Usia Anak dan Remaja

Usia anak dan remaja adalah waktu untuk bermain dan belajar berkolaborasi. Olahraga yang tepat adalah olahraga tim. Contohnya futsal dan basket. Di rentang usia ini, menanamkan kesadaran asyiknya berolahraga juga tidak kalah penting.

Anak remaja juga disarankan untuk melakukan olahraga yang bisa memaksimalkan tinggi badan seperti berenang, lompat tali, atau bermain basket.

Ada anak yang tidak suka olahraga yang bersifat kompetitif seperti bulu tangkis atau basket. Pasalnya, anak merasa tertekan harus menang.

Usia 30-an

Usia 30-an lebih pas disebut menjaga aset fisik, yaitu tubuh. Supaya enggak renta-renta amat ketika pasca pensiun nanti. Di antaranya olahraga kardiovaskular seperti berlari atau bersepeda. Perlu diingat, remaja 30-an tidak sama dengan remaja 20-an. Hehe.

Mulai rentang usia ini, ada yang menghindari olahraga tim karena kewajibannya untuk mengikuti irama permainan. Seperti di futsal, basket atau sepakbola. Daripada merasa tertekan karena harus cepat berada di posisi tertentu di lapangan permainan, lebih memilih olahraga individual yang kapan saja bisa mengatur kecepatan dengan nyaman.

Usia 40-an

Usia 40-an tubuh makin rendah kecepatan metabolisme-nya. Lemak makin terakumulasi sementara massa otot menurun. Latihan beban dan ketahanan malah semakin relevan di kelompok usia ini.

Yang perlu diingat, usia 30-an dan 40-an, adalah masa emas dalam bekerja atau melakukan kegiatan produktif. Kita akan cenderung sangat sibuk dan menghabiskan waktu bekerja di balik meja dengan postur tubuh yang buruk. Atau sebaliknya, terlalu banyak meeting di luar rumah dengan mengkonsumsi gula berlebihan.

Usia Pasca Pensiun

Masalah dengan usian 60-an atau mungkin dimulai sejak pensiun, adalah aktifitas fisik semakin berkurang. Tidak ada paksaan ke luar rumah (misal setiap hari ke kantor) malah mengunci kita di rumah. Jadi harus memaksakan diri untuk olahraga jalan pagi minimal 30 menit.

Jalan sendirian itu engga enak dan menurunkan motivasi. Maka, temukan teman jalan bersama. Supaya aktifitas ini tidak membosankan dan lebih tahan lama.

Di kelompok usia ini, manusia rentan kehilangan fungsi kognitifnya. Aliran darah yang lancar dan bergizi menuju otak akan mencegah kerusakan sel otak. Jadi penting juga untuk tetap bergerak dan bersosialisasi. Yang sering saya lihat di film Barat, adalah komunitas menari para lansia. Saya belum pernah tahu ya kalau di Indonesia.

Jasa Gudang Online Membantu Ekspansi Usaha Anda

Bisnis baru yang lahir pasca bermekarannya e-commerce ini sedang naik daun. Gudang ini mendekati customers sehingga menurunkan biaya perusahaan. Dan mempercept sampainya barang di tangan customer.

Mari bercerita soal jasa pergudangan yang sedang naik daun: Gudang Online.

Jasa ini muncul seiring dengan pertumbuhan toko online. Yang tadinya bertempat di rumah atau berawal di kamar kost, kini semakin membutuhkan ruang yang lebih besar untuk menyimpan barang. Mengikuti intensitas transaksi yang semakin tinggi.

Sekadar ilustrasi. Anda menjual kopi khas Lampung dari Bandar Lampung (BL). Rata-rata transaksi untuk Jabodetabek saja, katakanlah 100 transaksi per hari. Jadi ada 100 order, 100 pengemasan, dan 100 pengiriman dari BL ke DKI setiap harinya. Nah, ada celah untuk melakukan efisiensi di sini. Mengapa tidak kirim saja 100 paket ke DKI dalam satu kali pengiriman? Nanti ada aktifitas pengemasan dan pengiriman ritel ke customer. Celah inilah yang dilayani oleh jasa gudang online.

Selain kebutuhan ruang yang semakin meninggi, ada risiko juga yang terpapar pada produk yang dikonsentrasikan di gudang sendiri, seperti: banjir, kebakaran, pencurian, dan sebagainya.

Untuk setiap transaksi, aktifitas yang diberikan antara lain: mengambil produk dari rak, mengemas, dan mengirimnya. Aktifitas pengiriman memiliki ongkos sendiri yang bervariasi berdasar tujuannya. Sebab itu, pengiriman sebenarnya dapat dipisahkan dari penyimpanan dan pengemasan.

Namun, pengiriman ini sangat mungkin dikerja-samakan secara eksklusif dengan perusahaan kurir. Pengiriman jarak dekat atau same day bisa dengan GoSend/GrabExpress, pengiriman antar kota bisa dengan jasa kurir macam JNE, JNT, SiCepat, Wahana, dan sebagainya.

Gudang Online
Ilustrasi gudang online. Gambar dari crewdible.com

Masalah Pergudangan

Masalah yang diselesaikan dengan bekerja sama dengan sebuah gudang online:

  • Meringkas proses bisnis, salah satunya dengan mengkonsolidasikan pesanan (order) dari beberapa marketplace sekaligus.
  • Menghindarkan dari risiko banjir, kebakaran, dan pencurian.
  • Ruang terbatas; karena masih menyewa kamar kos atau rumah kontrakan. Atau masih di rumah sendiri yang belum memiliki gudang penyimpanan produk.

Solusi Gudang Online

Tujuan bisnis yang terakomodasi dengan keberadaan gudang online:

  • Perluasan cabang toko atau wilayah pasar yang ditargetkan. Dalam ilustrasi kasus di atas, mendekatkan diri via pergudangan online di Jabodetabek berarti memperluas pasar target.
  • Cocok untuk yang masih sibuk bekerja sebagai karyawan di perusahaan lain, karena toko daring milik sendiri belum terurus dengan baik
  • Lokasi milik sendiri belum strategis; jauh dari pusat kota. Konsentrasi pembeli ada di DKI, Pulau Jawa, lalu luar Jawa.

Kelebihan bekerja sama dengan gudang online:

  • Pembayaran bisa Pay per use. Bayar hanya sebanyak space yang digunakan. Atau bayar per barang yang dikemas dan dikirim. Di luar ongkos kirim.
  • Secara total, ongkos kirim akan menurun. Ini meringankan konsumen untuk mengulangi pembelanjaan.
  • Biaya tersebut sudah termasuk premi asuransi yang dikeluarkan oleh Gudang Online.
  • Gudang Online dengan aplikasi WMS sangat mungkin membantu Anda mengklasifikasikan produk slow/fast moving. Sekaligus menerapkan prinsip First In First Out (FIFO).

Contoh Merek: Haistar

Brand Haistar sudah tersedia di kota Medan, Palembang, Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, dan Makassar. FYI, pembelian ritel masih didominasi oleh pulau Jawa. Sekadar pengingat, sekitar 56% penduduk Indonesia bertempat tinggal di Pulau Jawa.

Rupanya merek ini tidak hanya menyediakan layanan gudang dan manajemen pengiriman, tetapi juga pengelolaan penjualan (unggah produk, balas chat, dan ada juga pengelolaan toko online).

Aplikasi digital yang menjadi dasar pengelolaan gudang online termasuk ke dalam kategori Warehouse Management System (WMS). Namun, ada juga pemain lain yang memberikan layanan Order Management System (OMS) dan Transport Management System (TMS) juga.

Berikut adalah pemain-pemain lain dalam industri pergudangan online: Storaza, Keeppack, Crewdible, Lodi, Stockhauz, Pakde, dan lain sebagainya.


Masih mempertimbangkan untuk menggunakan jasa gudang online? Coba bagikan kekhawatiran kamu di kolom komentar, ya.

Baca juga tulisan lain saya soal BISNIS DARING.