Digital Minimalism Versi Saya

Digital itu ibarat pisau. Bermanfaat atau membahayakan kembali pada penggunanya. Demi manfaat maksimal, kita eksekusi “Digital Minimalism”

Sebagai imigran di dunia digital -yang baru mengenal digital ketika remaja- saya merasakan betul “keterhisapan” diri saya ke dunia digital lewat “jendela” smartphone. Mungkin sejak socmed mungkin diinstal di smartphone ya.

Sempat tuh saya instal mobile app-nya Twitter. Tapi karena terlalu mendistraksi kehidupan, uninstall-lah itu barang. Meskipun, karena “kejujuran” adalah karakter Twitter, maka saya tidak bisa lepas dari Twitter yang “apa-adanya” itu. Alhasil saya tetap rutin membukanya, namun kali ini lewat mobile browser.

Digital Minimalism, sebuah buku oleh Cal Newport
Beli buku yang asli ya. Demi menghargai penulis, penerbit, distributor dan toko buku.

Alhamdulillah saya belum pernah benar-benar buruk dalam ber-socmed. Masih bijak lah, hahaha.

Adik saya tuh, pada suatu masa, sangat hobi bersambat-ria secara masif lewat Twitter. Sudah dua puluhan ribu twit lah ketika dia stop memakai socmed yg satu itu.

Saya tidak bisa protes banyak-banyak ke adik. Karena faktanya digital kini sudah menjadi dunia kita. Saya menginsyafi bahwa digital sebagai dunia kita tidak berarti meninggalkan realitas yang ada di dunia nyata.

Digital tuh sudah seharusnya support dunia riil kita. Bukan sebaliknya kita “menyerahkan” waktu dan perhatian kita sepenuhnya ke dunia digital.

Iya, presence di socmed perlu dan semakin menjadi kebutuhan kan ya. Misalnya, bikin profil LinkedIn demi bisa ditemukan oleh recruiter. Di sisi lain, over-presence jangan sampai menjauhkan kita dari keluarga dan bestie(s) kita.

Sudah jamak terjadi kan ya komunikasi yang kelewat intens via socmed atau chat app, tapi lupa meminta pendapat dari mereka yang fisiknya ada di sekitar kita.

Jadinya kita judging bahwa yang secara fisik dekat sama kita malah tidak peduli. Sepengetahuan saya, hal-hal semacam ini di tahun 2022 adakalanya berujung pada “spilling the tea” di Twitter. Maksud saya, semacam membuka aib keluarga atau pertemanan ke socmed yang notabene berisi lebih banyak orang asing yang tidak paham konteks keluarga kita.

Soal following other accounts di Instagram, saya baru follow kalau posts-nya sudah lebih dari 100. Haha. Itu adalah cara saya memfilter siapa saja yg berhak “mengganggu” kehidupan saya ketika scrolling the timeline.

Pernah juga tuh saya komitmen tidak install chatting app-nya kantor di smartphone saya. As simple as agar tidak mengikuti perkembangan pekerjaan di luar jam kerja. Kemudian saya berubah. Saya sadari bahwa hal tersebut penting juga dan akhirnya saya install juga app tersebut lalu membukanya secara reguler di luar jam kantor.

Saya mengamati, sekali dalam beberapa hari ibu saya pun biasa wondering (alias bertanya-tanya) tentang apa yang sedang dirasakan seseorang tatkala beliau menyimak WA stories dari yang bersangkutan (ybs). Maksud saya, ndak perlu lah kita kepo lebih lanjut dengan curhatnya seseorang di WA/IG story. Kepo tetap perlu, apalagi jika ybs secara tersurat menyatakan ingin bunuh diri, misalnya. Itu kan ke-kepo-an yg perlu demi mencegah hal lebih buruk jangan sampai terjadi.

Poin saya adalah, do filtering aja. How much do we want ourselves to be sucked in into that digital things? While we have so many things to do right here and right now?

Yeah, tidak bisa dibantah juga sih godaan-godaan syaithon semacam flexing or expressing emotion through stories. Hahaha.

Remote Working, Agree or Disagree?

Berandai-andai tidak pandemi lagi rasanya mewah banget ya. Karena masih entah kapan pandemi ini berakhir. Sebelum ke sana, travelling pikiran dulu yuk: setuju atau tidak setuju dengan remote working?

Esensi kerja kan mengirim deliverable pada target waktu yang dikehendaki dan kepada pribadi yg ingin menerima deliverable tsb.

Yang di era digital sekaligus internet ini, bisa dikerjakan dari jauh (remote). Maka muncul istilah bekerja dari jauh (remote working).

Bagi saya, ada beberapa alasan untuk setuju atau tidak setuju dengan penyelenggaraan remote working.

Saya setuju karena bekerja on-site di kantor itu menuntut perjalanan (commuting) yang tidak sekedar 2-3 langkah dan pakaian (outfit) tertentu. However, preparation harus ada untuk keduanya, ‘kan. It takes certain process and time.

Capek fisik dan lapar ketika pulang dari bekerja di kantor juga ‘masalah’ lain bagi saya. Kalau bekerja di rumah, in shaa Allah tidak merasa lapar yg bagaimanapun pada jam berapapun. Capek secara fisik pun tidak, karena dalam pengalaman saya, lelah fisik itu karena commuting-nya itu sendiri. Capeknya di pikiran saja.

Banyak hal yang bisa saya lakukan di rumah. Khususnya terkait rumah tangga (RT) ya. Beli makanan, memasak, ikut mencuci piring dan pakaian (including menjemur dan melipatnya, tentu saja). Untuk keluarga dengan tiga anak, pastinya pekerjaan RT tersebut tidak sedikit dan memang komitmen kami untuk mengerjakannya sendiri tanpa bantuan asisten.

Termasuk di antara hal-hal yang kami kerjakan sendiri adalah mengantar dan menjemput anak di sekolah.

Membersamai anak belajar, bermain (kami main catur, lho!), dan mengantar-jemput mereka di usia mereka yang sekarang ini adalah rezeki yang saya syukuri ya. I mean, kesempatannya memang ada sekarang ini dan belum tentu terulang lagi. Kan gitu kalau belajar dari yang senior ya, “Jangan terlalu sibuk commuting dan) bekerja, nanti anak-anak tiba-tiba sudah besar aja, lho.”

Saya gak jujur kalau saya remote working sepenuhnya memenuhi harapan saya akan ‘bagaimana bekerja’. Ada sisi yang saya kurang setuju (disagree) terhadap remote working.

Pertama, ruang bekerja saya belum sepenuhnya nyaman untuk membuat saya produktif. Punya ruang kerja yang nyaman dan hening itu kemewahan menurut saya. Karena sebelum pandemi ini kan, rumah bukanlah tempat bekerja. Rumah, selain berisi dapur, kamar mandi dan ruang keluarga/tamu, adalah ruang tidur. Jadi punya ruangan yang hening dalam rumah berisi anak kecil adalah priviledge (meminjam bahasa anak Jaksel).

However, belum ada yang bisa menggantikan pertemanan dengan para bestie di kantor. Kalau ketemu circle yang cocok maka itu anugerah tersendiri untuk kita sebenarnya sebagai bagian dari bersosialisasi dengan rekan-rekan seprofesi. Ada healing part juga kan bersama mereka tuh.

Bagi saya pribadi, cost-benefit remote working masih lebih baik daripada work from office (WFO). Ada benarnya ya survey BBC beberapa bulan lalu. Bahwa Work from home (WFH) itu lebih dikehendaki daripada WFO. Meskipun tidak bisa full WFH juga. Responden menghendaki tetap ada bangunan kantor untuk dituju dan menjadi tempat bekerja.

So, I choose to both agree and disagree ya soal remote working.

BACA JUGA: Remote Working from Coffee Shop.

Beda Content Writer, Copy Writer, Content Strategist dan UX Writer

Bagaimana Content Writer sebagai posisi yang relatif baru di dunia digital dan sangat menarik untuk dipelajari, dieksplorasi, dan digeluti.

Mari bahas persamaan dan perbedaan tiga jenis sebutan di atas. Yang pada akhirnya akan merefleksikan perbedaan peran, posisi, dan fungsi dari Content Writer, Copywriter, dan Content Strategist.

Content Writer

Konten disebut berkualitas kalau sukses membuat user rajin mengunjungi website tersebut dan betah berlama-lama di dalamnya. Saya betah dengan website niagahoster.co.id karena kontennya lengkap dan mencerdaskan. Mojok dengan imajinasinya yang nakal juga menghibur. Baca informasi di Tirto juga bikin kita menelusuri pranala lain yang disediakan.

Untuk aspek kuantitas, ukurannya tidak hanya panjang tulisan. Minimum disarankan 300 kata yah. Ada blogger yang sharing standardnya di kisaran 2500 kata. Selain panjang tulisan, banyak tulisan dalam media online tersebut juga ikut menentukan.

Belajar dari Mojok. Weblog ini “menghamba” pada Alexa. Sesuai tagline-nya yang Sedikit Nakal Banyak Akal, pembaca senang membaca beberapa tulisan setiap kali berkunjung, termasuk saya. Panjang tulisannya “hanya” 700-1000 kata. Cukup pendek, namun plotnya tetap ada. Alias tulisan-tulisan di Mojok tuh bernas, padat berisi.

SEO paling berperan di konten artikel tipe ini. Sebagai pengguna WordPress, laksanakan saja saran-saran dari Yoast supaya kontenmu lebih findable di jagat internet raya. Selamat mencoba jadi Content Writer 🙂

Copy Writer

Menulis untuk iklan. Tujuannya mulai dari memperkenalkan, mengingatkan konsumen kembali akan merek tersebut, hingga mendorong terjadinya penjualan lewat promosi diskon, atau saluran (biasa disebut channel) tertentu.

Medium iklan yang berbeda-beda ruangnya, menuntut copywriting harus koheren meski tidak wajib sama. Di sinilah kejelian copywriter dalam menyusun kata dan menyiasati ruang teks yang serba terbatas.

Di dunia digital, ada namanya Landing Page. Sebuah page di mana user mendarat (to land). Landing Page dengan komponen yang komplit akan meyakinkan user untuk membeli. Komponen tersebut di antaranya adalah:

  • Masalah yang dihadapi oleh calon konsumen
  • Solusi apa yang Anda berikan
  • Bagaimana solusi tersebut bekerja
  • Testimoni dari pembeli/pelanggan
  • Tombol Add to Chart (ATC)

Content Strategist

Eksekusi tanpa strategi ibarat berjalan tanpa mata dan tujuan. Sedangkan strategi tanpa eksekusi, analog dengan mengkhayal ke mana-mana tanpa berpindah tempat.

Jadi, sembari crafting konten, strategi tetap harus diperhatikan. Mulai dari tujuan (objektif), minimum target, alat pengukuran ketercapaian target, dan pengembangan konten itu sendiri. Yang terakhir ini meliputi beberapa langkah eksekusi ke depan. Termasuk perubahan jadwal rilis apabila ada kebutuhan untuk segera merilis suatu konten lebih cepat daripada jadwal.

UX Writer


Lagi ingin membahas soal profesi UX Writer.

Bagaimana Content Writer sebagai posisi yang relatif baru di dunia digital dan sangat menarik untuk dipelajari, dieksplorasi, dan digeluti.
Bagaimana Content Writer sebagai posisi yang relatif baru di dunia digital dan sangat menarik untuk dipelajari, dieksplorasi, dan digeluti.

Saya menjalani profesi ini tidak sepenuhnya ya. Ini salah satu peran (role) saya di dalam title ‘Technical Writer’. Namun, jika kamu ingin tahu, ada sedikit yang bisa saya bagikan soal ini.

Pertama, ini tidak ubahnya dengan desainer ya. Kalau desainer merancang flow, experience, journey atau apapun namanya itu, nah posisi yang sedang kita bahas ini setidaknya harus menyelami hal yang sama.

Sebab, pekerjaan men-desain itu dekat dengan subyektifitas; that’s why kita perlu mendekatinya secara objektif dengan metode-metode riset maupun desain tertentu.

Dalam konteks penulisan, seorang penulis UX harus menjalani perannya se-objektif mungkin. Mulai dari membaca dan membawa referensi ke dalam ruang diskusi, sampai dengan menyediakan beberapa alternatif teks untuk dipilih anggota tim Product Management.

Dari konteks user flow, user experience (UX), user journey dan berbagai istilah lain untuk maksud yang sama, seorang UX Writer berfungsi menyediakan teks-teks pemandu atas visual yang sudah lebih dulu ada.

Sekilas, apa-apa yang dikerjakan oleh UX Writer tampak sedikit. Padahal, kalau kita zoom out dengan sebuah produk digital, maka UX Writer harus melakukan suatu upaya ‘penyeragaman’ terhadap semua kata-kata yang dia rilis.

Tujuannya supaya konsisten dan seakan-akan diucapkan oleh persona yang sama. Ini membawa kita ke tugas-tugas lain dari seorang UX Writer: terlibat dalam pengembangan brand persona dan melakukan ‘penurunan’ lebih lanjut dari brand persona tersebut dalam implementasi yang lebih luas ke halaman-halaman (pages) produk digital tempat dia bekerja.

In short, ada 4 tugas yang dilakukan oleh seorang UX Writer:

  • Terlibat dalam pengembangan brand persona
  • Melakukan ‘penurunan’ berupa apa dan bagaimana brand tersebut mengkomunikasikan sesuatu
  • Terlibat dalam pengembangan user journey
  • Merancang kata-kata pemandu agar user dapat menggunakan produk dengan lebih mudah

Pasar untuk profesi ini sebenarnya tidak terlalu luas ya. Masih lebih besar pasar untuk programmer (developer) ataupun desainer.

Perangkat digital sebagai alat bantunya juga tidak banyak, dengan fitur-fitur yang sedikit. Bahkan cenderung sama dengan yang digunakan oleh para desainer.

Jadi, variasi pekerjaan maupun dinamika karirnya akan begitu-gitu saja. Kali lain, saya bisa sharing soal bagaimana membuat karir kita sebagai penulis menjadi lebih bervariasi.

Nah, kalau kamu ada pertanyaan soal profesi ini, atau mungkin sudah tahu tentang profesi ini, silakan share di kolom komentar, ya 🙂

BACA JUGA: Perbedaan Content Writing, Copywriting, dan Content Strategy.

LIHAT JUGA: UX Writer di Era Digital

Kesehatan Mental Anak-Anak dan Remaja di Masa Pandemi

Topik kesehatan mental rupanya semakin dicari. Di samping yang bergejala bertambah banyak, kesadaran akan kesehatan mental terus meningkat.

Definisi

Mental yang sehat. Sehat secara mental adalah keadaan ketika seorang individu merasa sejahtera, baik secara psikologis, emosional, ataupun secara sosial.

Menurut WHO, mental yang sehat adalah kondisi dari kesejahteraan yang disadari individu, yang di dalamnya terdapat kemampuan-kemampuan untuk mengelola stres kehidupan yang wajar. Sederhananya, individu dapat bekerja secara produktif dan menghasilkan serta berperan di lingkungannya.

Kesehatan Mental di Masa Pandemi

UNICEF memperingatkan bahwa anak-anak dan remaja berpotensi mengalami dampak jangka panjang dari COVID-19 terhadap kesehatan mental mereka.

Membaca press release tersebut, saya kira hal tersebut diakibatkan oleh satu atau beberapa sebab berikut:

  • Sekolah online. Jadi jarang berinteraksi secara riil dengan teman-teman sekolah.
  • Kurangnya rasa kasih sayang. Yang mungkin di antaranya disebabkan oleh menurunnya kemampuan orang tua dalam memenuhi kebutuhan kasih sayang si anak. Secara fisik maupun non-fisik.

Pandemi, selain membuat sebagian besar kita jadi lebih memperhatikan kesehatan fisik, juga membuat kita lebih memperhatikan sisi mental.

Ada beragam cara sering dibagikan untuk membantu mengatasi masalah kesehatan mental secara individual, berikut beberapa di antaranya:

  • meditasi,
  • yoga,
  • afirmasi positif (pernyataan positif bagi diri sendiri maupun orang lain), 
  • self-compassion (sikap untuk memberikan kebaikan pada diri dan memahami diri sendiri), hingga
  • terapi dengan bantuan hewan (peliharaan) atau pet therapy.

BACA JUGA: Review Buku Filosofi Teras

Kesehatan Mental Remaja

Berdasarkan data terbaru, diperkirakan terdapat lebih dari 1 dari 7 remaja berusia 10-19 tahun di dunia yang hidup dengan diagnosis gangguan mental. Setiap tahun, tindakan bunuh diri merenggut nyawa hampir 46.000 anak muda – tindakan ini adalah satu dari lima penyebab utama kematian pada kelompok usia itu.

Gangguan terhadap rutinitas, pendidikan, rekreasi, serta kecemasan seputar keuangan keluarga dan kesehatan membuat banyak anak muda merasa takut, marah, sekaligus khawatir akan masa depan mereka.

Sementara itu, ada pula faktor-faktor yang berpengaruh positif seperti lingkungan pengasuhan yang penuh kasih sayang, sekolah yang aman, dan interaksi positif dengan teman sebaya.

Berikut sejumlah temuan data tentang anak muda di Indonesia yang tercakup dalam laporan State of the World Children:

  • Hampir satu dari tiga anak muda di Indonesia (29 persen) dilaporkan sering merasa tertekan atau memiliki sedikit minat dalam melakukan sesuatu, menurut survei yang dilakukan oleh UNICEF dan Gallup di 21 negara pada paruh pertama tahun 2021.
  • Penelitian terbaru menunjukkan bahwa program bantuan tunai bersyarat telah mengurangi angka bunuh diri sebesar 18 persen di Indonesia.

Bagaimana Cara Tes Kesehatan Mental

Perhatikan bahwa ada jarak atau rentang tertentu dari yang namanya mengalami gejala dengan sudah terdiagnosis mengalami penyakit kejiwaan. Jadi harus berhati-hati dalam melakukan asesmen. Dan hasilnya harus dikonsultasikan dengan ahlinya.

Jangan self-diagnose sendiri seperti yang dilakukan beberapa orang pasca menonton film Joker, hehehe.

Ada beberapa tes yang bisa dilakukan:

  • https://pijarpsikologi.org/tes-kesehatan-mental
  • https://satupersen.net/quiz/tes-sehat-mental
  • https://www.ibunda.id/tespsikologi/tes-kesehatan-mental-online

BACA JUGA: Quarter Life Crisis

Referensi:

Kilas Balik 2021

Bagi saya, tahun 2021 adalah tahun yang menukik tajam lalu mendaki sedikit secara perlahan.

Alhamdulillah masih hidup dan masih bertahan hingga akhir tahun 2021 ini.

Meski gak kayak roller coaster yang naik turun, tapi tahun ini memang banyak down-nya.

Pandemi tahun ini, masih sama seperti pandemi di tahun sebelumnya. Mengerikan dan kita harus berhati-hati.

Alhamdulillah masih punya pekerjaan. Selalu bersyukur kalau mengingat bahwa saya ini punya kerjaan. Karena masih banyak banget yang gak punya kerjaan dan membutuhkan pekerjaan.

Salah seorang rekan saya, Iqbal namanya, yang profesinya di industri pariwisata terhempas habis-habisan akibat pandemi, berpendapat,

Kerja itu memang capek, tapi lebih capek gak kerja.

Iqbal, 2021.

Matur suwun Iqbal, atas nasihatnya. Jadi bersyukur masih punya pekerjaan dan selalu bersabar atas tantangan apapun dalam pekerjaan. Termasuk di antaranya adalah mengikuti vaksinasi supaya bisa melanjutkan hidup.

Suntik Vaksin

Saya vaksin pertama dan kedua di Rukun Warga (RW) tempat tinggal kami. Saya di bulan Februari dan April. Istri pasca melahirkan alias dalam peran sebagai ibu menyusui. Vaksinnya jenis Sinovac. Tidak ada KIPI berarti yang kami rasakan.

Cacar Air

Seingat saya, gak pernah tuh saya Cacar Air. Tapi saya pernah Cacar Api. Berhubung istri belum pernah, maka dia terserang dari anak-anak. Jadi sempat ada tiga pasien cacar di rumah.

Diagnosisnya baru tegak hanya dua pekan sebelum lahiran dan itu mengubah semuanya. Dari berharap lahiran normal, menjadi terpaksa menjalani operasi caesar.

Lahir

Paruh pertama tahun ini kami isi dengan ‘menunggu’ lahiran kedua. Periksa kandungan sebulan sekali bersama Anak Dua ke dokter Okky Haribudiman di RS Melinda 2.

Tetapi kami lahiran di RS yang berbeda. Baca: Pengalaman Melahirkan di RS Grha Bunda. Bersukacita karena ada yang datang dan berdukacita tatkala ada yang pergi.

Meninggal Dunia

Sebulan lebih pasca kedatangan anak bayi, rupanya ada yang “kontrak”-nya sudah habis. Dan kami harus merelakan kepergian beliau. Hebatnya, beliau rasanya masih hadir di tengah-tengah kami ini. Omong-omong, beliau suka dengan sembilan karena angka tersebut memiliki keberuntungan (hoki) tersendiri. Baca: Jumlah Sembilan.

Baca juga: Pengalaman Mengurus Akta Kematian dan Pengalaman Sidang Penetapan Ahli Waris.

Saya merasa kurang sering dan kurang banyak mengobrol dengan beliau (baca: Call Your Parents). Meskipun tidak bisa mengajari saya dengan baik, namun tetap saja saya banyak mengambil hikmah dari beliau. Khususnya pasca saya menikah, pasca punya anak, bahkan pasca beliau meninggal pun, selalu ada hikmah yang saya petik.

Saya bertekad, supaya saya juga menjadi pengajar yang baik bagi anak-anak di rumah.

Cerita hidup saya pun dilanjutkan dengan pulang kampung dahulu selama satu pekan disebabkan peristiwa besar tersebut. Rupanya, setelah cacar-lahir-meninggal, masih ada satu lagi.

Demam Berdarah

Hari Senin tersebut saya sudah tidak nyaman bekerja. Akhirnya minta izin supaya bisa istirahat sehari esoknya. Di Hari Selasa, tidak tahan dengan gejala demam dan sakit kepala, saya memaksakan diri ke dokter. Kata dokter, istirahat tiga hari ya: Rabu, Kami, Jumat. Namun, pengambilan sampel harus dilakukan Hari Rabu demi menegakkan diagnosis.

Kamis bertemu dokter lagi, ditanyakan masih bisa lanjut istirahat di rumah atau mau opname saja? Rupanya si penyakit belum mencapai puncaknya. Kalau di rumah akan ramai sekali dan sulit beristirahat. Kalau di RS maka sendirian tidak ada yang bisa menemani.

Akhirnya rawat inap selama empat malam. Kamis sore periksa darah untuk penegakan diagnosis: apakah demam typhoid (tipes) atau demam berdarah. Kamis malam ada rontgen untuk pengecekan covid atau tidak.

Jumat dan Sabtu saya ada mengkonsumsi Psidii Syrup 60 mL. Selain sudah bisa beristirahat panjang dengan nyaman dan menu bergizi dari RS, saya kira ekstrak tersebut juga membantu menaikkan trombosit saya.

Alhamdulillah Senin pagi saya bisa meninggalkan RS. Total 5 hari 4 malam di RS. Yang paling saya syukuri adalah, saya lebih dahulu menginap di RS bahkan sebelum penyakit mencapai puncaknya.

Mudik

Hampir dua tahun tidak pulang kampung karena pandemi, kali ini kami memaksakan mudik. Tidak dengan kereta api karena masih banyak kekhawatiran, khususnya karena membawa bayi, maka kami memutuskan lewat jalur tol saja. Baca: Pengalaman Menempuh Tol Trans Jawa.

Selain melepas rindu, si “anak baru” juga diperkenalkan dengan Yangti (eyang putri) dan Yangkung (eyang kakung). Selanjutnya saya mudik sendiri untuk menemani seorang janda yang baru saja ditinggalkan oleh suaminya. Ini harus saya lakukan, karena surga-nya saya di bawah telapak kaki beliau.

Mudik yang ini direncanakan 2-3 bulan ke depan hingga melewati pergantian tahun.

Kesimpulan saya tentang tahun 2021 adalah tahun yang menukik tajam lalu mendaki sedikit secara perlahan. Mudah-mudahan badai lekas berlalu. Karena tidak ada kesulitan yang tidak diikuti dengan kemudahan.

Dan di penghujung tahun inilah, kita sama-sama menanti pergantian ke tahun yang baru. Sampai jumpa di 2022!

Tertipu (Investasi) Dulu Belajar Kemudian

Bagaimana saya menjadi lebih bijak dalam berinvestasi, pasca terjerat skema ponzi.

Pengalaman saya perihal penipuan investasi.

Peristiwa ini terjadi hampir 10 tahun lalu. Zaman masih bodoh dan naif. Hahaha.

Waktu itu baru memulai bekerja di perusahaan. Masih meraba sana-sini soal bisnis. Industri apa, produknya apa, kira-kira berapa marjin keuntungannya.

Jadi, sudahlah masih belajar (baca: bodoh), naif (baca: serakah) pula.

penipuan investasi
Uangnya banyak banget sampai gak masuk koper ya? Tunggu dulu, apa benar itu semua uang dia?

Cerita penipuan investasi ini berawal dari saya dapat kenalan dari seseorang yang saya juga belum terlalu kenal, sebetulnya.

Orang ini butuh modal untuk membiayai proyeknya. Produknya pesanan/orderan busana muslim. Kalimat andalannya,

“Ada PO nih, kang. Mau ikutan, tidak?”

Dia menjanjikan laba 10%. Jadi kalau setor modal Rp2juta, baliknya Rp2,1juta. Kalau Rp5juta, kembalinya Rp5,5juta. Komitmennya dia dalam sebulan hasil sudah dibagikan.

Saya bertemu si beliau ini di warung ramen miliknya di lokasi kost-kostan yang dekat dengan suatu universitas swasta di Bandung. Dia bercerita tentang proyek fesyen yang digelutinya.

Singkat cerita, saya tandatangani kontrak lalu saya transfer ke rekening bank miliknya.

Sesuai komitmen, sebulan kemudian dia mengontak saya untuk pengembalian modal berikut bagi hasilnya. Dan seperti janjinya, hasilnya menggiurkan. Sepuluh persen dalam 30 hari saja. Tetapi diikuti dengan tawaran lain,

“Mau dilanjut gak, kang?”

atau,

“Mau tambah modalnya gak, kang? Sama. 10% per bulan”

Kalau belum waktunya si duit dipakai, saya setuju untuk diputar lagi.

Sesekali, jika ada dana menganggur, saya memasukkan tambahan modal ke “usaha”-nya dia.

Tapi jika sedang ada kebutuhan, saya menarik modal berikut hasilnya tersebut. Lebih sering via transfer, tapi 2-3 kali saya terima kontan (cash). Salah satu tempat saya bertransaksi adalah warung ramen miliknya. Bukan di tempat yang pertama, tapi di dekat kampus swasta yang lain. Jadi, hanya dalam 2-3 bulan saja, rupanya dia sudah membuka cabang yang baru.

Pada suatu malam, saya masih di kantor, tiba-tiba saya dapat kabar mengejutkan. Bahwa, si beliau ini mulai tidak bisa membayar. Alias “mengembalikan” modal berikut hasil yang dijanjikan.

Memang sih, belakangan itu mulai telat. Dari beberapa hari menjadi 1 pekan, lalu menjadi 2 pekan.

Nah dari sanalah mulai terkuak bahwa saya dan seorang teman (yang saya ajak sendiri) mengetahui bahwa “korban” yang seperti kami ada banyak. Ada puluhan orang dengan kumulatif outstanding (yaitu total rupiah yang harus dikembalikan) sebesar 2-3 milyar rupiah. Ada yang berani meminjam saudara/keluarga hingga menyetor lebih dari Rp100juta. Saya sendiri terjerat di kisaran puluhan juta.

Pada suatu weekend, rekan-rekan “investor” yang sudah tidak sabar lagi datang menyerbu rumah beliau yang notabene masih tinggal bersama orang tua. Rekan-rekan yang kalut tersebut menyerang dengan kata-kata dan mencaci orang tua si pengelola dana ini.

Saya lebih banyak diam. Saya lebih banyak merenungi sikap dan tindakan saya sendiri terhadap dana yang menjadi kelolaan saya. Yang seharusnya bisa saya pertanggung-jawabkan dengan lebih baik untuk saya, keluarga, dan rekan-rekan yang menitipkan modal dan kepercayaannya.

Teman-teman yang paham situasinya akhirnya memilih untuk merelakan. Lain halnya dengan yang tidak menerima penjelasan saya, memilih agar saya menggantikan uang yang hilang tersebut. Saya berusaha menyelesaikan tanggung jawab tersebut. Alhamdulillah lunas semua tidak lama kemudian.

Antisipasi Penipuan Investasi

Sebenarnya, saya sudah punya feeling sejak bertamu ke warung ramen cabang kedua. Tetapi, saya terlalu positive thinking untuk mempertanyakan kenapa bisa secepat itu membuka cabang kedua. Seharusnya saya bisa lebih kritis dalam mencari tahu duitnya dipakai untuk belanja apa dan berapa sebenarnya hasil dari semua perputaran tersebut.

Pelajaran yang Diambil Pasca Mengalami Penipuan Investasi

Berikut adalah beberapa pelajaran keuangan, khususnya mata pelajaran investasi yang bisa dipetik:

Kenali apa itu Ponzi

Apa itu skema Ponzi, siapa itu Charles Ponzi, dan skema apa yang dilakukannya. Referensi tentang Ponzi sudah terlampau banyak sehingga teman-teman bisa membacanya sendiri.

Sekedar contoh, ini juga termasuk skema Ponzi:

Hal ini berangkat dari Jiwasraya yang menjanjikan fixed return kepada nasabah dengan rate sampai dengan 14 persen dan memberikan garansi jangka panjang untuk nasabahnya yang membeli produk JS Saving Plan. Menurut Hexana, skema ini membuat perusahaan harus menggunakan setoran premi dari anggota untuk membayarkan klaim yang jatuh tempo setiap hari.

https://www.republika.co.id/berita/qrs83n318/generasi-instan-dan-fenomena-ponzinomics-di-indonesia

Belajar Sabar

Seperti saya sudah bilang di atas, referensinya sudah banyak banget. Baik tentang Ponzi maupun skema-skema penipuan lainnya. Namun, yang gak bisa dipelajari tetapi harus dipraktikkan adalah belajar sabar.

Ini tantangan berat sebenarnya ya. Mengingat internet dan generasi milennial sudah pula lahir bersama, tumbuh-besarnya juga bersama-sama. Dan salah satu ciri khasnya adalah suka yang instant-instant. Alias, tidak mau bersabar.

Padahal, kunci dari investasi adalah sabar. Sebagaimana Warren Buffet bilang, bunga yang berbunga-bunga (compound interest) adalah teman baiknya investor. Tetapi, investor butuh waktu. Alias investor harus belajar sabar.

Mengelola Harapan

Sabar itu bukan hanya sabar menunggu dan menjalani waktunya ya. Tetapi yang termasuk dalam sabar adalah dalam mengelola harapan (set the expectation).

Bahasa keuangannya adalah “kenali instrumen investasi yang anda pilih“. Maksudnya adalah ketahui segala keuntungan, stabilitas, dan risiko dari produk investasi tersebut.

Dari sisi pemberi dana, kita bisa membagi dua ya. Ada kreditur (pemberi hutang) dan ada investor. Pemberi hutang, seperti bank, biasanya meminta pengembalian yang pasti jumlah dan pasti (terjadwal) waktunya.

Sementara itu, apa yang seharusnya diterima oleh investor? Yaitu kenaikan harga saham (ketika dijual kembali) dan dividen (sisa hasil usaha setelah dikurangi dengan laba ditahan).

Itulah mengapa saya berikan tanda kutip pada salah satu kata “investor” di atas. Karena menyebut dirinya investor, tetapi menghendaki hasil yang tetap dan diterima sesuai jadwal.

Bagaimana Saya Sekarang?

Lama sudah sejak peristiwa yang saya ceritakan di atas, yang terjadi saat ini adalah:

  • Saya yang sekarang lebih santai, alias lebih sabar, dan tentu saja tidak bersikap instant dalam menunggu dan menjalani investasi.
  • Dan semakin saya mengenal profil risiko saya pribadi, saya akhirnya lebih banyak memilih instrumen investasi yang lebih aman. Ada kriteria aman yang puluhan tahun digunakan, yaitu 5C: Charater, Capacity, Capital, Condition, dan Collatera.
  • Seiring dengan semakin paham dan bijaknya saya melihat suatu peluang bisnis, saya jadi lebih “egois” juga untuk tidak berbagi risiko dengan orang lain. Iya, donk. Kalau berkolaborasi dalam investasi, hendaknya rugi sama-sama dan untung juga bersama-sama. Kalau hanya mau untungnya saja, tapi tidak mau ruginya, itu namanya serakah.

Demikian cerita saya kali ini, semoga ada hikmah yang bisa diambil ya.

Oiya, di bawah ini ada beberapa insight soal financial planning. Mudahan-mudahan bisa bermanfaat juga.


Pengalaman Sidang Penetapan Ahli Waris

Meskipun tidak sebanyak sidang perceraian, tetapi saya coba bagikan pengalaman saya menjalani sidang penetapan ahli waris.

Di Pengadilan Agama (PA) ada beberapa jenis sidang, tiga di antaranya adalah sidang perceraian (cerai), sidang hak asuh anak, dan sidang penetapan ahli waris.

Dua yang pertama, ada “lawan”-nya. Sementara yang terakhir saya sebut, bisa jadi “tanpa lawan” ketika semua ahli waris bersepakat untuk menyelesaikannya secara kekeluargaan/damai alias tanpa sengketa.

Sidang penetapan ahli waris ibarat timbangan dan palu.
Ilustrasi sidang penetapan ahli waris: pakai timbangan dan palu. Kita mengharapkan ketetapan sidang yang seadil-adilnya menurut ajaran Agama Islam.

Pengadilan Agama yang berlokasi di tingkat kota/kabupaten, hanya menangani perkara-perkara dalam lingkup Agama Islam saja. Di luar itu, dilakukan di Pengadilan Negeri (PN).

Secara umum, proses sidang penetapan ahli waris hanya terbagi 3 tahap:

  1. Pendaftaran/Pengajuan Sidang
  2. Sidang Pertama
  3. Sidang Kedua (bersama saksi) sekaligus pembacaan ketetapan.

Jadi, keluaran (output) dari suatu sidang adalah dokumen tertulis yang selanjutnya kita sebut “ketetapan”.

Sidang Penetapan Ahli Waris

1 Pendaftaran Sidang

Pada prinsipnya, sebelum berkas dinyatakan “diterima” oleh pihak PA, kita lengkapi sedetil-detilnya berkas yang dibutuhkan yang di antaranya adalah:

  • Akta kematian dari kelurahan-kecamatan. Surat ini dibuat berdasar surat kematian dari rumah sakit atau lembaga yang berwenang.
  • Identitas terakhir dari almarhum(ah), yaitu Kartu Keluarga (KK) dan Kartu Tanda Penduduk (KTP).
  • Akta Kelahiran almarhum(ah).
  • Bila almarhum(ah) meninggal dalam keadaan menikah, maka buktikan dengan Buku Nikah. Sebaliknya dalam keadaan sudah cerai, dibuktikan dengan Akta Perceraian.
  • Fotokopi KTP dan KK dari para ahli waris. Ingat, ahli waris belum tentu anak-anak dari yang meninggal saja ya. Bisa saja ada saudara kandung dari almarhum(ah) yang ternyata merupakan ahli waris.
  • Kalau almarhum(ah) sebelumnya pernah menikah (alias menikah dua kali atau lebih), maka lampirkan juga Buku Nikah dan Akta Cerai atas pernikahan-pernikahan yang sebelumnya. Kalau mantan pasangannya sudah meninggal juga, dibuktikan dengan Akta Kematian dari mantan pasangan tersebut.
  • Banyak materai Rp10.000,-

Biaya sidang ditentukan dari jarak pemanggilan oleh PA kepada para ahli waris. Jika Ahli Waris ada sepuluh orang, maka ada 10 pemanggilan/undangan. Lalu ditambah biaya administrasi. Bisa gunakan alamat surat-menyurat bila alamat domisili merepotkan dan menyebabkan pembengkakan biaya sidang.

Di PA Balikpapan, ada kok lembar yang memuat apa saja komponen biaya sidang itu (termasuk berapa biaya pemanggilan yang dibagi tiga menurut radius jaraknya). Lembar tersebut ‘kan ibarat “daftar menu” kalau di restoran. Terus terang, berkat lembar ini kami tidak ada mengeluarkan “dana siluman” yang se-ikhlas-nya itu sepeserpun. Malah, karena sidang hanya dua kali, ada sebagian dana yang dikembalikan. Kami mengambilnya di loket kasir.

2 Sidang Pertama

Sidang pertama berisi pengecekan oleh majelis hakim, yang terdiri dari dua hakim, satu panitera, dan dipimpin oleh hakim ketua mengenai data dan informasi yang diberikan secara tertulis maupun tanya-jawab secara lisan.

Yang perlu saya garis bawahi adalah adanya pertanyaan-pertanyaan seputar orang tua dari almarhum. Standard saja: nama, masih ada atau tidak, kalau sudah meninggal, tahun berapa meninggalnya. Informasi ini tentu diperiksa kesesuaiannya dengan Akta Kelahiran almarhum.

Apakah semua ahli waris harus hadir? Secara teori, iya. Tetapi pada praktiknya tidak mudah ‘kan. Di era internet ini, apalagi dalam situasi pandemi, sangat mungkin ahli waris “dihadirkan” via whatsapp atau zoom. Makanya, cantumkan alamat surat-menyurat saja, jangan alamat sesuai KTP. Sehingga di hari-h sidang, apabila diperlukan, bisa video call saja dengan ahli waris yang nun jauh di sana.

Pada prinsipnya, persiapkan diri saja apabila majelis hakim ingin mendalami lewat pertanyaan-pertanyaan yang lebih detil. Namun, mengingat terbatasnya waktu (di sidang kedua kami, ada 31 sidang yang harus diselesaikan oleh majelis hakim di hari tersebut), sangat mungkin majelis hakim melewati hal-hal yang dirasa tidak perlu tetapi kita sudah siapkan dokumennya.

3 Sidang Kedua

Secara konten, sidang kedua sama dengan sidang pertama.

Hanya saja kesesuaian dokumen tertulis dan pernyataan lisan di sidang pertama, diperiksakan kepada 2 (dua) orang saksi yang sudah dihadirkan oleh para ahli waris. Majelis hakim menghendaki sebisa mungkin, kedua saksi tersebut merupakan keluarga dan satu generasi dengan almarhum(ah). Tentu saja syarat tersebut tidak wajib. Dan pastinya, saksi disumpah terlebih dahulu –secara agama islam– sebelum memberikan kesaksian.

Saran: lakukan briefing kepada para saksi sebelum sidang kedua. Terkait dengan kebenaran data dan informasi yang dikumpulkan secara tertulis maupun lisan. Tidak ada salahnya menyiapkan sedikit corat-coret untuk memudahkan para saksi mengingat tahun-tahun penting. Iya, sidang ini sedikit mirip dengan ujian.

4 Sidang Penetapan Ahli Waris: Ketetapan Sidang

Sidang pertama hanya berjarak 1-2 pekan dari pengumpulan berkas. Kami sempat bolak-balik tiga kali perihal menanyakan kelengkapan berkas. Di kesempatan keempat, baru kami berhasil mengumpulkan sesuai persyaratan.

Sidang kedua berjarak satu pekan saja dari sidang pertama. Kedua sidang sama-sama di hari kami.

Kami mengambil ketetapan sidang (yang sudah dibacakan dan diketuk palu di sidang kedua), pada hari Senin berikutnya.


Demikian sharing dari saya perihal Sidang Penetapan Ahli Waris. Seperti saya bilang, kalau tidak ada “lawan”-nya maka dua kali sidang sudah cukup.

Tetapi berbeda jika pihak “lawan” tidak menghendaki alias menolak tuntutan dari penuntut. Semisal sidang gugatan cerai, atau perebutan hak asuh anak yang sangat mungkin berbuntut panjang. Di hari kami sidang kedua tersebut, ada satu sidang talak yang akan bersidang untuk ke-8 kalinya.

Mudah-mudahan artikel ini bermanfaat. Bila ada pertanyaan atau hal lain ingin dibagikan, boleh banget mengisi kolom komentar.

BACA JUGA: Pengalaman Mendaftar Haji di Bandung

Pengalaman Mendaftar Haji Tahun 2020 di Bandung

Proses pendaftaran haji tidak ribet. Cukup siapkan dana Rp25 juta per calon jamaah untuk tabungan haji dan beberapa dokumen saja. Lengkapnya ada di artikel berikut ini.

Daftar Haji.

Ayah dan Ibu saya naik haji di usia sekitar 37 dan 35 tahun. Sementara saya dan istri, in shaa Allah akan berangkat di usia hampir 50 tahun. Tidak heran karena semakin tahun, pendaftar haji semakin banyak. Sementara kuotanya hanya sekitar 1% dari jumlah penduduk setiap negara.

Proses pendaftaran haji tidak ribet. Cukup siapkan dana Rp25 juta per calon jamaah untuk tabungan haji dan beberapa dokumen saja. Lengkapnya ada di artikel berikut ini.

Pendaftaran haji itu berarti kita mendaftar untuk mendapat kursi. Nah, kursi ini bisa didapat dengan memiliki tabungan haji senilai Rp25juta/nasabah. Jadi, harus membuat tabungan haji dulu, lalu diisi hingga tercapai nominal tersebut.

Saya dan istri membuka tabungan haji di Bank Syariah Mandiri (BSM) cabang Dago, Bandung. Kebetulan bank tersebut sudah merger dengan bank-bank syariah negara lainnya dan berganti nama menjadi Bank Syariah Indonesia (BSI).

Syarat Daftar Haji di Bank

  1. KTP dan NPWP (bagi yang memiliki).
  2. Setoran awal buka rekening Tabungan Mabrur sebesar Rp100.000.
  3. Setoran awal BPIH (Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji) sebesar Rp25.000.000.
  4. Meterai Rp10.000 sebanyak 3 lembar.
  5. Pas foto haji dengan latar belakang putih (ukuran 3×4 6 lembar dan ukuran 4×6 3 lembar).

Ketentuan Pas Foto untuk Daftar Haji

Pas foto untuk haji ternyata sedikit berbeda dari pas foto biasa. Dari lembar info yang dikasih BSI, ketentuan pas foto untuk haji yaitu:

  • Warna baju/kerudung harus kontras dengan latar belakang.
  • Tidak memakai pakaian dinas.
  • Tidak menggunakan kacamata.
  • Tampak wajah minimal 80%.
  • Bagi jamaah haji wanita menggunakan busana muslim.

Memiliki Tabungan Haji

Setidaknya, ada dua keuntungan dengan memiliki tabungan haji:

Dari bank, selanjutnya kita akan mendaftar di Kemenag (Kementerian Agama) tingkat Kota/Kabupaten dengan membawa dokumen-dokumen berikut yang diberikan oleh pihak bank:

  1. Surat Kuasa/Wakalah, isinya pemberian kuasa dari kita kepada Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) untuk mengelola seluruh dana BPIH yang kita setorkan.
  2. Surat Pernyataan Calon Jamaah Haji, isinya pernyataan bahwa sudah memenuhi persyaratan haji, dkk.
  3. Tanda Bukti Setoran Awal Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji, isinya bukti bahwa bank sudah menerima setoran kita, dan di situ juga tertera nomor validasi.

Pendaftaran di Kemenag Kota Bandung

Di Kemenag Kota Bandung yang berlokasi di Jalan Soekarno-Hatta No.498, Kelurahan Batununggal, Kecamatan Bandung Kidul, Kota Bandung, Jawa Barat 40212.

  • Berusia minimal 12 tahun pada saat mendaftar.
  • KTP yang masih berlaku sesuai domisili.
  • Kartu Keluarga.
  • Akta Kelahiran atau Surat Kenal Lahir atau Kutipan Akta Nikah atau Ijazah (salah satu).
  • Buku Tabungan Mabrur atas nama jamaah yang bersangkutan.
  • Nomor Validasi Pembayaran Setoran Awal BPIH.

Seingat saya, ada kekurangan dalam jumlah pas foto. Jadilah di salah satu kios di Kemenag tersebut, yaitu kios untuk print dan fotocopy, saya cetak beberapa lembar pas foto lagi.

Kios satu lagi adalah warung makan, hehe. Kami makan soto di sana. Maaf informasi ini kurang penting. Hahaha.

Biaya Naik Haji

Uang Rp25juta yang menjadi syarat, bukanlah nilai akhir Ongkos Naik Haji (ONH) yang berbeda-beda di tiap embarkasi. Embarkasi adalah istilah untuk pelatihan bagi calon jamaah haji yang sekaligus menjadi titik keberangkatan/penerbangan dari Indonesia.

Kota Bandung, sepertinya akan berangkat dari Jakarta (Rp34.772.602,-) untuk tahun 2021. Jadi kekurangan inilah yang harus dilunasi menjelang keberangkatan ke tanah suci. Tentunya angka tersebut akan berbeda-beda sesuai tahun keberangkatan ya.

Beberapa Catatan:

  • Ada perasaan menyesal karena baru mendaftar haji. Antara 17-19 tahun kami harus menunggu. Tapi ya memang sudah begitulah jalan ceritanya. Karena menikah dulu baru memutuskan daftar haji, ‘kan. Haha. Gak seru kali ya kalau masih single sudah mendaftar haji
  • Karena haji bersifat “wajib bagi yang mampu” dan antrean haji itu panjang serta lama, maka saya sarankan daftar haji dulu saja. Nanti kalau ada rezeki, baru berangkat Umroh. Kisaran Rp30 juta bisa dapat akomodasi yang cukup. Yes, nilai segitu relatif mirip lha ya sama minimal isi tabungan untuk mendapat porsi haji.
  • Semua proses pendaftaran di bank dan kemenag sebenarnya bisa selesai dalam satu hari. Namun, saya kemarin bolak-balik ke bank. Karena miskomunikasi perihal pasfoto yang 80% berisi wajah tersebut.

Demikian singkat cerita saya tentang mendaftar haji di Kota Bandung. Barangkali ada pertanyaan atau tanggapan, silakan berbagi di kolom komentar ya.

BACA JUGA: PENGALAMAN dengan hal-hal penting dan bersifat administratif dalam kehidupan.

Pengalaman Menempuh Tol Trans Jawa

Disclaimer: saya gak menempuh seluruh tolnya, kok. Hanya mulai dari Kertajati sampai Tambak Sumur saja.

Preliminary

Kami sangat suka naik kereta untuk perjalanan antarkota. Namun, karena akan membawa bayi dan situasi kondisi masih pandemi, kami tidak yakin untuk menggunakan moda transportasi yang satu itu.

Alasan mudik kali ini adalah sudah hampir 2 tahun tidak pulang. Apalagi kami mau memperkenalkan anggota baru kepada eyang kakung dan eyang putri, hehe. Jadi mumpung kasus sedang turun, diiringi dengan kewaspadaan, kami memilih moda transportasi yang lebih private. Instead of public transportation.

Awalnya, kami berencana menggunakan mobil tipe innova. Namun, mengingat kapasitas barang bawaan yang banyak, kami memutuskan mengganti dengan Hi-Ace. Sesama Toyota juga, hehehe.

Tentu saja harga sewanya berbeda. Siap-siap deh merogoh kocek lebih dalam. Namun, biaya BBM menjadi lebih ringan karena tidak menggunakan bensin Pertamax, melainkan pakai solar. Soal rincian biaya, saya terangkan di bagian akhir tulisan ini ya.

Kami tidak menggunakan tol pasteur ketika start dari Bandung. Karena alasan biaya. Hehe. Baru start menggunakan tol sejak di Kertajati. Itu lho, yang dekat dengan Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB). FYI, bandara ini sudah tersambung dengan tol ke arah timur Pulau Jawa. Tetapi belum tersambung ke arah barat. Pembebasan lahan masih berlangsung untuk tol Cisumdawu (Cileunyi – Sumedang – Dawuan).

Adventure Starts Here

Mulai berangkat jam 6.30 WIB ke arah timur, yaitu ke Jatinangor (salah satu kecamatan di Sumedang) via jalan AH. Nasution. Lanjut ke timur lagi ke pusat kota Sumedang. Kami terkejut karena rupanya jalur tersebut menanjak dan berkelok-kelok melebihi jalur ke Garut bagian selatan.

Sampai di dataran yang agak luas. Disangka sudah sampai di pusat kota Sumedang, ternyata itu adalah kecamatan Tanjungsari. You know lha, biasanya kecamatan-kecamatan yang “berdiri sendiri” ini punya ciri khas pasar tradisional yang terintegrasi dengan terminal. Mirip-mirip di kecamatan Lembang gitu.

Meninggalkan kecamatan Tanjungsari, kami “turun gunung” alias menuruni perbukitan dengan jalan yang berkelok-kelok lagi. Kalau tadi naik, sekarang turun. Dari sinilah baru menemukan pusat Kabupaten Sumedang. Lanjut lagi dengan perasaan yang sudah tidak tertarik karena cenderung membosankan. Apalagi karena menggunakan “supir tembak” kami harus terus mengingatkan beliau supaya tidak ngebut hingga 120km/jam.

Masuk gerbang tol di Kertajati. Mengalami kombinasi jalan aspal dan jalan semen. FYI, yang baik untuk ban kendaraan darat sebenarnya adalah jalan aspal, tetapi dengan anggaran pembuatan jalan raya yang sama, bisa diperoleh jarak jalan semen yang lebi jauh.

Total kami menggunakan rest area hingga 4 kali. Tidak semuanya rest area yang besar. Yang masih segar dalam ingatan adalah rest area km 166 di Cipali. Di sini, ada masjid yang disponsori oleh Bank Mandiri Syariah (sekarang BSI, ya).

Rest area berikutnya adalah km 429 Tol Ungaran – Bawen. Rest area ini penuh sekali. Berhubung kapasitasnya memang mumpuni, jadi segala kebutuhan makan, minum, istirahat dan sholat dhuhur tetap terpenuhi. Kami sempat membeli oleh-oleh Lumpia Semarang dan Kue Moci yang khas Semarang juga. Jangan tanya soal harga ya. Pastinya jauh lebih mahal daripada yang biasa. Karena ‘kan diposisikan sebagai “panganan oleh-oleh”.

tol trans jawa
Berhubung ini perjalanan bersama keluarga yang sudah jelas merepotkan, jadi ambil gambar cukup sekali ya. Sebagai bukti saya benar-benar menjalani adventure ini. Hahaha.

Dari rest area ini, tidak lama kami memasuki kota Solo. Di kota ini, sekilas saya lihat ada 4 gerbang tol. Salah satu di antaranya menuju Bandara Adi Soemarmo. Yang menggembirakan sekaligus melegakan adalah kami melihat plang hijau bertuliskan “Surabaya” yang berwarna putih. Artinya, tidak lama lagi akan sampai di Surabaya. Setelah lihat gmaps, rupanya kisaran 3 jam saja.

Selanjutnya, di jalur tol praktis tidak ada yang menarik. Kami sudah lelah dan bosan. Meski excited karena tidak lama lagi perjalanan akan berakhir, namun jalurnya relatif sepi kendaraan. Tidak heran, para mobil “pesaing” memacu gasnya hingga 140 km/jam. Lagi-lagi, kami selalu mengingatkan pak driver untuk tidak terpancing dengan “ajakan balapan” tersebut.

Kami tiba di kecamatan Rungkut, kota Surabaya jam 18.30 WIB. Jadi lama waktu perjalanan total mencapai 12 jam. Akan lebih cepat bila menggunakan jalur tol ya, tentu saja.

Feeling

Berhubung ini pengalaman pertama, jadilah ini experience yang sangat seru dan menarik. Lelah? Iya. Apakah ingin mencoba lagi? Tentu saja tidak, hehehe.

Sebagai penumpang kendaraan jalur darat dan volume kecil (Hi-Ace hanya memuat 8 orang, menjadi 9 dengan supir), kami sangat mengkhawatirkan keamanan dan keselamatan. Asal tahu saja, persentase kecelakaan tertinggi kan adanya di jalur darat seperti tol ya, bukan di jalur high-tech seperti terbang dengan pesawat. Dengan kata lain, meski perjalanan ini sangat menarik, tetapi kami harus terus waspada perihal kecepatan dan keselamatan perjalanan.

Cost

Berhubung ini bukan public transport yang pergi dari kota A menuju kota B, dengan asumsi akan mendapat penumpang di kota B, maka harga yang diberikan kepada kami merupakan harga yang dianggarkan untuk bolak-balik. Berikut adalah rinciannya:

Mobil 1.400K
BBM 1.600K
Driver 1.000K
Tol 1.500K
Uang makan driver balik 100K
Total 5.600K

Pengalaman Mengurus Akta Kematian di Kelurahan Sungai Nangka Kota Balikpapan

Dokumen terkait yang dibutuhkan dalam mengurus pembuatan Akta Kematian, serta manfaat dokumen Akta Kematian.

Setelah bermenye-menye tentang almarhum, meski masih terkenang dengan segala kebaikan beliau, dan tentu tidak ingin move on ya, maka izinkan saya menuliskan proses dan deliverable dalam menyiapkan dokumen Akta Kematian ya.

Pada dasarnya, Akta Kematian adalah dokumen dari negara yang menyatakan bahwa seseorang sudah meninggal dunia.

Ibarat kata, untuk urusan kenegaraan semisal waris, tanah/properti, kendaraan mobil/motor, maka harus didasarkan pada dokumen negara juga. Apakah seseorang yang sudah dinyatakan meninggal dunia oleh dokter di rumah sakit, lantas juga MD menurut negara? Belum tentu. Oleh sebab itulah kita wajib mengurus Akta Kematian ini.

Yang merilis Akta Kematian adalah kelurahan.

Namun, karena proses administrasi di negara kita ini berbasis kewilayahan, maka harus dimulai dari RT/RW tempat kita tinggal terlebih dahulu. Idealnya, segala yang terjadi di wilayah non-formal tersebut diketahui oleh RT/RW (lahir, meninggal, dsb). No wonder, harus “diantar” dengan Surat Pengantar dulu dari RT/RW ke Kelurahan, yaitu wilayah formal terkecil menurut negara.

Salah satu yang diantarkan adalah “Surat Keterangan Meninggal Dunia” yang bisa dikeluarkan oleh dokter di Rumah Sakit. Itu kalau MD di RS. Bagaimana jika MD ketika berkendara di jalan raya? Yang bisa merilis surat sejenis adalah kepolisian (mungkin Polantas, ya). Jika tidak keduanya, setidaknya ada surat sejenis dari wilayah tempat tinggal. Representasi negara dalam hal ini adalah Puskesmas. Jadi, dokter di Puskesmas perlu melakukan visum dan merilis surat tersebut. Saya kira, ini dilakukan kalau almarhum meninggal di rumah dan tidak dibawa ke rumah sakit.

Persyaratan Dokumen

Dokumen terkait yang dibutuhkan:

  • Surat Keterangan Meninggal Dunia
  • Kartu Keluarga (KK) almarhum
  • KTP almarhum
  • Form permohonan yang sudah diisi pemohon berikut fotokopi KTP pemohon
  • Pemohon juga membuat Surat Pernyataan bahwa sebelumnya, almarhum tidak pernah dibuatkan Akta Kematian
  • Dua saksi (nama dan tandatangan) berikut fotokopi KTP-nya

Syukur alhamdulillah, pengurusan tersebut semakin dimudahkan karena bisa dilakukan secara digital. Cukup dengan mengambil gambar (memfoto) dokumen-dokumen tersebut lalu mengunggahnya (upload) ke laman capil.balikpapan.go.id/layanan.

Manfaat Akta Kematian

Memangnya, dokumen Akta Kematian bisa dipakai untuk apa saja?