Baca Ini Dulu Sebelum Membeli Kasur. No.6 Membuat Anda Terkejut.

Kasur anda terbuat dari memory foam, lateks, atau kombinasi keduanya? Penting lho mengenali perbedaannya sebelum membeli kasur.

Ini tulisan istri saya. Perihal memilih kasur tidur. Silakan disimak ya.


Malam semakin larut dan aku masih berkutat di depan laptop maupun HP. Agak aneh ya untuk seorang ibu rumah tangga, yang sama sekali nggak ada pekerjaan kantoran ataupun side job menulis, untuk berkutat di depan laptop maupun handphone terlalu lama.

Bukan, bukan karena memantau berita soal ricuhnya UU Cipta Kerja yang baru saja disahkan. Beberapa hari ini, saya memang jadi lebih sering ber-laptop maupun ber-HP ria, demi mengakses marketplace, Youtube, maupun Google, dalam rangka survey kecil-kecilan mencari bunk bed dan kasur untuk si kembar. Yang tepat guna dan tepat budget tentunya.

Dua hari ini full survey tentang matras untuk si kecil. Matras yang saya cari berukuran 90 x 200 cm dengan ketebalan maksimal 11 cm. Nah, setelah melakukan survey harga di marketplace, ada nih satu produk yang bikin pengen buru-buru check out keranjang belanjaan aja. Tapi survey belum selesai.

Hal yang perlu kita pastikan saat berbelanja online bukan hanya harga, namun deskripsi produk yang akan kita beli. Di tulisan ini saya ingin mencatatkan kembali point-point penting agar tidak terlupa.

Sejujurnya, saat saya mulai tergoda untuk check out barang dari toko A tadi, ada point yang lupa tidak saya perjelas, karena informasi yang tercantum dalam deskripsi masih ambigu.

Berikut hal-hal yang perlu kita perhatikan dalam memilih kasur:

1. Beli kasur matras, atau topper?

Apa bedanya kasur, matras, maupun topper? Kasur biasanya sudah termasuk “kaki” kasur ataupun dipannya. Meski tidak semua brand mengartikan seperti itu. Sedangkan yang dimaksud matras adalah bagian kasur yang empuk (tidak termasuk dipan maupun kaki/ambalannya.

Lalu topper itu apa? Nah, sebagian kasur, terutama yang jenis springbed, biasanya membutuhkan tambahan berupa topper untuk memberikan kenyamanan lebih. Topper ini bisa terbuat dari memory foam, lateks, atau campuran keduanya.

Meskipun saat ini sudah banyak kasur hibrida, springbed dan lateks atau double memory foam pada bagian atasnya, banyak orang yang pilih menambahkan topper untuk mempertahankan kenyamanan saat tidur.

memilih kasur
https://napcloud.in/latex-vs-memory-foam-mattress/

Tidak sulit untuk membedakan produk kasur, matras, maupun topper karena biasanya sudah dicantumkan dalam judul dan deskripsi produknya.

2. Pilih kasur apa: springbed, busa/foam, atau lateks?

Untuk menentukan matras apa yang kita cari, kita mesti menentukan dulu siapa yang akan menggunakannya. Apakah kita sendirian, atau berdua dengan pasangan atau saudara, atau justru beramai-ramai dengan anak, atau untuk anak-anak sendiri. Memangnya penting, ya? Tentu saja.

Misalnya, kasur springbed digunakan bersama dengan pasangan, ketika pasangan melakukan gerakan, maka pergerakan dari pasangan akan sampai ke kita. Sehingga dampaknya mungkin akan membuat kenyamanan saat tidur berkurang. Bayangkan kalau bobot pasangan di atas 100 kg, hehe 😀

Manakah bahan baku matras yang terbaik untuk tubuh? Tentu saja saya rekomendasikan lateks. Namun kasur full latex bisa jadi cukup mahal (umumnya 10 juta ke atas untuk ukuran 200 x 160).

Bagaimana dengan busa/foam dan springbed? Busa/foam dan springbed masih cukup nyaman digunakan oleh kita yang menggunakan kasur tersebut sendirian, dan memiliki berat badan cukup ideal.

Springbed kurang cocok untuk anak-anak, mengingat anak-anak sangat suka memfungsikan matras seperti trampolin. Pegasnya akan mudah rusak.

Sementara kasur busa tidak terlalu nyaman untuk melompat karena tipenya meredam gerakan. Selain itu, kasur busa banyak yang dibuat dari bahan kimia yang mungkin saja dapat memicu alergi pada anak.

Latex? Tidak mudah rusak jika anak-anak melompat-lompat di atasnya dan mampu menopang pengguna dengan berat badan berlebih.

3. Latex sepertinya pilihan terbaik, tapi cukup menguras kantong. Ada pilihan lain?

Saat ini banyak kasur hibrida — bahan bakunya campuran. Gabungan antara pegas, foam, dan latex, ada. Ada pula gabungan antara foam dan latex. Tinggal disesuaikan dengan siapa penggunanya, berat badan pengguna, serta anggaran (budget). Oh ya, juga sesuaikan dengan tempat tidurnya.

Misalkan, untuk tempat tidur bunkbed, sebaiknya gunakan matras ataupun topper berukuran tebal minimal 10 cm. Jika kita menggunakan matras dengan ketebalan 20-25 cm ke atas, tingginya dapat melebihi pagar ranjang dan terlalu berat untuk ranjang tipe bunkbed.

Bunkbed biasanya mampu menahan beban statis 100 kg per susunnya. Nah berat matras yang berukuran 20 cm ke atas (jika menggunakan material yang serba bagus seperti full latex atau pegas + foam + latex), biasanya berat matrasnya sudah 20 kilogram ke atas.

Begitu pula jika menggunakan dipan yang materialnya particle board (bukan kayu solid), akan kurang tepat jika kita menggunakan kasur full latex dengan ketebalan 20 cm.

Produk dengan harga tinggi biasanya membutuhkan produk komplemen dengan harga tinggi juga. Wow 😂 (sambil intip isi dompet)

4. Bagaimana cara memilih kasur busa yang bagus?

Ini penting namun jarang kita sadari. Biasanya saat memilih produk, yang pertama kita cek adalah harga, yang kedua adalah brand. Padahal spesifikasi produk juga sangat penting.

Permasalahannya, kadang di marketplace, tatkala memilih kasur kita menemukan suatu produk dengan brand sama, ketebalan sama, ukuran luasnya juga sama, tetapi harga berbeda jauh.

Jika terjadi yang seperti itu, sebaiknya cek lokasi tokonya dan konfirmasikan pada seller mengenai spesifikasi produk ya.

Misal, ada dua produk sama-sama brand Ino*c, ukurannya sama, dijual di toko yang sama maupun berbeda, tapi harganya berbeda jauh. Coba tanyakan pada seller, berapa nilai densitas (density) masing-masing produk.

Nilai density menunjukkan massa jenis busa yang digunakan. Makin tinggi nilainya, makin padat kasurnya, sehingga kemampuan menopang tubuhnya juga semakin baik.

Misalkan, latex memiliki nilai density 80 ke atas. Sementara kasur busa biasa, bisa memiliki nilai density mulai dari belasan hingga 40. Untuk busa rebonded, biasanya nilai densitynya dimulai dari 40.

Berapa nilai density kasur busa yang baik untuk tubuh? Sekali lagi, tergantung penggunanya. Beberapa orang memilih kasur busa dengan nilai density 30 keatas.

5. Tertarik membeli topper tapi yang latex? Cek dulu lapisannya!

Di awal saya mengatakan sempat tertarik ada suatu produk tapi jadi urung. Kenapa? Jadi, awalnya ada topper yang ukuran serta ketebalannya sudah sesuai dengan harapan saya. Disitu tertera keterangan 100% natural latex.

Saya pikir, Oh ketebalan 10 cm itu 100% latex ya? Hmm, murah juga ya harganya. Kemudian saya bandingkan dengan produk B yang merupakan topper latex juga, dengan harga selisih 500ribuan, ketebalan selisih 2 cm.

Di produk B ini saya mendapatkan informasi bahwa dari ketebalan 10 cm itu, lapisan latexnya 2 cm, dan sisanya adalah lapisan foam dan quit (sarungnya).

Disitu saya jadi bertanya-tanya, lantas yang produk A tadi, dengan ketebalan total 10 cm, berapakah ketebalan lapisan latex-nya? Dan setelah ditanyakan lebih detil lagi, saya baru tahu bahwa ketebalan lapisan latexnya juga 2 cm.

Apakah produk A lebih buruk dari produk B? Belum tentu. Apakah produk A jatuhnya lebih mahal dari produk B? Belum tentu juga! Kita bisa perjelas dengan menanyakan kualitas foam yang digunakan, berapa nilai densitynya. Makin tinggi nilai density, semakin tinggi pula harganya.

Apakah keterangan 100% natural latex di toko A itu pembohongan? Tidak. Toko yang menjual produk A memberikan deskripsi yang jujur, bahwa lateks yang digunakan 100% natural latex. Tapi bukan berarti ketebalan segitu itu full latex 100%. Dimengerti ya? 🙂

6. Point terakhir adalah budget. Berapa lama kita membutuhkan kasur atau matras ini?

Setiap kasus menghasilkan keputusan berbeda. Biasanya, jika kasur yang kita butuhkan berukuran 200 x 160 cm ke atas, itu berarti kita akan menggunakannya dalam jangka waktu cukup lama.

Membeli kasur yang memberikan jaminan garansi 12 tahun ataupun lebih, dengan spesifikasi yang mendekati sempurna, adalah keputusan yang baik. Untuk itu, survey dulu harganya. Jika dana masih kurang, kita bisa menunda dan menabung dulu.

Sedangkan untuk kasur berukuran single, kasur digunakan di lantai (biasanya untuk mencegah bayi jatuh dari tempat tidur yang tinggi), dan kasur untuk ranjang bunkbed anak-anak, biasanya tidak memerlukan kasur yang terlalu tebal dan hanya akan digunakan dalam waktu 5-10 tahun.

Untuk ini kita dapat memilih kasur dengan ketebalan 10 cm. Bisa menggunakan matras busa / kasur busa dengan nilai density yang cukup tinggi (26 ke atas, karena anak-anak biasanya tidak berat), atau menggunakan topper dengan ketebalan 8-10 cm yang lapisannya terdiri dari latex dan foam.


Nah sekian hasil survey saya selama beberapa hari ini. Semakin jelas informasi yang kita dapatkan, semakin kita tahu kasur tipe apa yang kita butuhkan. Semoga bermanfaat!

Baca juga tulisan lain dalam kategori JOURNAL ya.

Cara Mengelola Uang Supaya Hutang Hampir Nol

Hutang ini tidak diinginkan, tapi sulit dihindari. Inginnya nol, tapi susah sekali. Jadinya hampir nol saja.

Kalau harus berhutang, mau berapa, ke mana, dan berapa lama? Untuk diri saya, pertanyaannya saya balik: berapa lama, berapa kemampuan saya mencicil, dan dari keduanya baru akan ketahuan: berapa banyak? 

Lama Pinjaman 

Kita kan tidak tahu ya, kita akan hidup berapa lama. Jadi durasi hutang menurut saya harus sesingkat mungkin. Dari sana, baru dikalikan dengan kemampuan kita membayar cicilan. Akan ketemu berapa nilai uang yang layak kita pinjam. 

Kemampuan Mencicil 

Dalam persentase, ada yang menyarankan 30% untuk cicilan. Atau sepertiga, alias 33.33%. Dengan 33% yang lain untuk pengeluaran rutin, dan sepertiga sisanya tabungan dan investasi. 

Serba sepertiga ini hanya salah satu aliran pengelolaan keuangan, ya. Masih banyak aliran yang lainnya. Yang saya berikan contoh, hanya aliran yang saya praktikkan saja. 

Di suatu bank, pernah ada yang promo ke kantor kami, untuk gaji di atas 15 juta, cicilan KPR-nya dibolehkan hingga 50%. 

Jumlah Hutang 

Dari sini, dapat kita hitung, berapa jumlah uang yang layak kita pinjam, yaitu hutang yang mampu kita lunasi. Yaitu, mengalikan lama pinjaman dengan kemampuan mencicil tersebut. Sebagai catatan, mengambil hutang di Bank itu bisa jadi dikenakan biaya tambahan semacam biaya provisi (secara bahasa, provisi berarti pengadaan ya), biaya administrasi (urusan hitam di atas putih ini dikenakan biaya), dan lain sebagainya. 

Cara menagih hutang kepada teman

Kalau dari saya, prinsip saya memberi piutang, saya harus melihat kemampuan saya dulu. Artinya, berapa banyak yang bisa saya ikhlaskan, andaikan uang tersebut tidak kembali sama sekali. Jadi memang, niat memberi pinjaman untuk menolong. Bukan untuk mendapat keuntungan. Sependek pemahaman saya, untung dari pinjaman adalah riba. Dan itu yang dilarang dalam agama saya. Saya berusaha istiqomah menjalankan hal tersebut. 

Raditya Dika, dalam salah satu konten YouTube-nya, pernah menyatakan bahwa dirinya merasa lebih baik berjual-beli sesuatu dari si teman, daripada harus meminjamkan uang kepada teman. Paham, tidak? Ilustrasinya begini. Misal si teman butuh satu juta rupiah. Instead of meminjamkan, Bang Radit merasa lebih baik memberi pekerjaan kepada si teman senilai satu juta rupiah. 

Kembali ke soal teman yang punya hutang kepada kita. Tentu kita tagih dengan seramah mungkin. Tidak perlu galak. Bila dia membutuhkan tambahan waktu, sebaiknya kita berikan. Sudah seharusnya dia akan mengembalikan yang dipinjam, ‘kan? 

Soal ini, sependek pemahaman saya, mereka yang membebaskan hutang, akan mendapatkan naungan ‘Arsy di hari kiamat. Baca juga: memudahkan orang yang berhutang

hutang

Supaya lebih ikhlas perihal hutang yang tidak dibayar, saya biasanya mengingatkan diri saya untuk bekerja lebih keras. Di antaranya adalah bersilaturahmi dengan wajah-wajah baru. Barangkali dari hubungan tersebut ada rezeki yang bisa menggantikan nilai hutang yang tak terbayar. Selain itu, juga “mempertajam” penawaran (offering) barang/jasa ke pelanggan. 

Sebelum memberi pinjaman, boleh donk kita berpikir seperti Bank. Ada prinsip 5C yang biasanya diagung-agungkan: character, capacity, capital, collateral, condition. Untuk hutang pribadi, saya lihatnya dua saja. Karakter: orangnya bertanggung-jawab (amanah) atau tidak. Orangnya juga harus bisa kita hubungi/temui. Jadi kita tahu rumahnya. Kolateral, tidak mesti barang fisik sebagai jaminan ya. Tapi kestabilan pendapatan dan nilai pendapatannya. 

Utamakan Hutang Produktif 

Hindari hutang konsumtif. Ini aplikasinya beda-beda ya di setiap orang. Kalau saya, rasanya adalah dengan tidak menggunakan kartu kredit (CC). Karena belanja mudah sekali dengan menggunakan CC. Bisa lupa batas (limit) anggaran. Lagipula, saya bukan yang detil soal diskon, cashback, dan sejenisnya itu. “Pancingan” memakai CC kan promo potongan tersebut, ya. Kalau saya butuh/ingin, ya langsung saya bayar, hehe. 

Hutang pribadi atau rumah tangga yang produktif, mungkin hutang KPR ya. Karena harga tanah dan bangunan -biasanya- naik terus. Tapi produktif atau tidak sebenarnya case-by-case, siy. Salah beli tanah/bangunan, ekstrimnya bisa rugi juga. Lagipula, benar-benar menghasilkan kan kalau tanah tersebut dijual lagi. Which is, dalam kebanyakan kasus di wilayah yang sudah ramai penduduknya, harga tanah sudah sedemikian tinggi sehingga calon pembeli semakin sedikit. Alias, nilai di atas kertas doang yang tinggi, tapi menjualnya ya susah, hehehe. 

Konon, investor macam Robert Kiyosaki -selain game Cashflow Quadrant, dia ada perusahaan properti– hanya membeli satu dari seribu tanah/bangunan yang dia tengok. 

Bagaimana dengan hutang untuk usaha/bisnis? Mengambil hutang begini tidak boleh untuk sembarang belanja modal (capital expenditure) atau belanja rutin (operational expenditure, opex). Karena harus dihitung benar efeknya terhadap pertumbuhan (growth) omzet, klien, dsb. Kalau cuma tambal sulam, lebih baik tidak hutang sekalian. 

Simpulan menurut saya siy, kalau mau hutang produktif, sekalian aja bikin tim, bikin badan hukum (PT/CV), rencana yang detil, target yang terukur, eksekusi yang mantap, dan seterusnya. 

Baca juga: Hierarki Pengelolaan Keuangan

Air Purifier

Air Purifier adalah pemurni udara untuk ruang tidur atau ruang kerja. Dilengkapi dengan Ultraviolet-C, ozone generator, humidifier, dan bluetooth speaker. Dimensi 167x145x162 mm. Berat 0.946 kg.

Air Purifier adalah Alat pembersih udara adalah alat yang menghilangkan kontaminan dari udara di dalam ruangan untuk meningkatkan kualitas udara dalam ruangan.

Beda air purifier dengan humidifier

Secara teknis, purifier adalah penyaring udara. Alat ini menghisap, menyaring, lalu merilis kembali udara yang lebih bersih.

HEPA filter, yakni filter yang memenuhi standard HEPA (High-Efficiency Particulate Air). Filter ini bekerja dengan memaksa udara melalui jaring halus yang memerangkap partikel berbahaya seperti serbuk sari, bulu hewan peliharaan, tungau debu, dan asap tembakau. Air purifier biasanya menggunakan HEPA filter sebagai penyaring.

HEPA filter dirancang untuk menangkap 99,97% partikel berukuran 0,3 mikron atau lebih besar. Beberapa studi tentang pembersih udara portabel menunjukkan bahwa menggunakan filter HEPA menghasilkan pengurangan materi partikulat sebesar 50 persen atau lebih tinggi.

Karbon aktif menawarkan jenis filter lain, yang menangkap bau dan polutan gas (berukuran lebih kecil) yang dapat lolos dari filter HEPA.

Humidifier, di sisi lain, hanya berfungsi untuk mengontrol tingkat kelembapan di dalam ruangan. Mereka tidak melakukan apapun untuk mengontrol kualitas udara atau jumlah partikel di udara. Secara teknis, humidifier adalah kipas angin yang disemprotkan pelembab (terutama air) sehingga udara bergerak yang dihasilkan memiliki kelembaban yang lebih tinggi.

Bagaimana dengan Diffuser?

Perbedaannya adalah bahwa diffuser (tag: diffuser) umumnya merupakan perangkat yang lebih kecil yang dirancang untuk digunakan dengan minyak esensial.

Kategori ini disukai oleh orang-orang yang biasanya tinggal sendiri atau dengan orang-orang yang tidak memiliki masalah dengan bau minyak esensial. Diffuser terutama digunakan untuk menyegarkan aroma ruangan. Perhatikan bahwa Anda hanya akan mendapatkan keuntungan dari diffuser jika Anda menggunakan minyak esensial yang tepat untuk Anda.

Pengguna Wajib Air Purifier

Asma

Gejala asma meliputi mengi (nafas berbunyi), batuk, sakit dada, dan sesak napas. Penyakit ini mungkin terjadi beberapa kali sehari atau beberapa kali per minggu. Bergantung pada orangnya, gejala asma bisa menjadi lebih buruk di malam hari atau saat berolahraga. Asma diduga disebabkan oleh kombinasi faktor genetik dan lingkungan. Faktor lingkungan termasuk paparan polusi udara dan alergen. Pemurni udara (air purifier) memurnikan udara dari alergen (serbuk sari, bulu hewan peliharaan, tungau debu, asap roko), dan berbagai polusi udara. Faktor lingkungan dapat dikelola, salah satunya dengan air purifier.

Perokok Pasif

Ini terjadi ketika asap tembakau memasuki lingkungan, menyebabkan terhirup oleh orang-orang di dalam lingkungan itu. Paparan asap rokok secara pasif dapat menyebabkan penyakit, cacat, hingga kematian.

Pemurni Udara Mini 5 in 1

Dilengkapi dengan HEPA filter, sinar UV-C, Ozon Ionizer Generator. Efektif untuk melindungi anda dari bahaya virus, bakteri atau partikel-partikel kecil. Cocok untuk memurnikan ruangan kerja atau kamar, atau di mobil pribadi.

Sudah termasuk Humidifier dan Bluetooth speaker. Dengan dimensi 167x145x162 mm dengan berat 0.946 kg.

air purifier
air purifier
air purifier

References:

  • https://www.consumerreports.org/cro/air-purifiers/buying-guide/index.htm
  • https://pulptastic.com/humidifier-vs-diffuser/
  • https://www.cnet.com/news/best-air-purifiers-for-2020-from-molekule-to-honeywell/

Productivity Hack: Barang yang Wajib Ada di Meja Kerja

Kerja jadi lebih efisien, dengan 11 barang yang wajib aja di meja kerja. Baik untuk bekerja di kantor, maupun bekerja dari rumah.

Lagi zaman WFH begini, mendesain ruang kerja seperti di kantor bukan lagi sebatas keinginan. Malah sudah menjadi kebutuhan. Supaya productivity rate tercapai, minimal sama dengan ketika berada di kantor.

Barang wajib di meja kerja

Mungkin tidak harus persis sama dengan ruang kantor, ya — yang punya ruang meeting, papan tulis, proyektor, dan lain sebagainya. Untuk di rumah, setidaknya, semua yang dibutuhkan oleh kita pribadi, ada di meja kerja kita. Ada barang apa saja yang wajib ada di meja kerja kita?

Personal Computer (PC)

Tidak perlu dibahas mengapa dibutuhkan, ya. Opsinya bisa desktop, laptop, atau all-in-one PC.

Additional Monitor

Satu layar saja masih kurang. Butuh setidaknya dua. Bahkan ada yang harus tiga. Gunakan fitur ekstensi ke layar tambahan via tombol windows + huruf P.

Jurnal

Tentu tidak sama dengan jurnal pribadi. Tapi ini khusus mencatat rencana dan perkembangan pekerjaan. Bisa juga jadwal pertemuan. Kalau kamu masih mencatat rencana meeting secara manual, ini cocok untukmu. As we already know, sudah banyak di antara kita yang move on (baca: migrasi) ke Google Calendar.

Botol minum atau gelas.

Duduk seharian rentan dengan penyakit ambeien. Bisa dicegah dengan rutin minum. Cukupkan minum air putih untuk mencegah datangnya penyakit ginjal. Mengacu pada warna air seni, jangan sampai air seni kita berwarna pekat. Yang (salah satunya) disebabkan oleh minuman berwarna dan bergula seperti teh, kopi instan, softdrink, dan sebagainya.

Minum kopi sebagai penahan kantuk, atau minuman bergula lainnya untuk ‘mendongkrak’ gula ke otak yang dipakai berpikir, memang tidak terhindarkan. Namun, “dosis harian”-nya itu yang wajib kita kendalikan.

Headphone

Untuk call meeting, gunakan headphone supaya tidak polusi suara. Selain untuk meeting, gunakan pula Headphone untuk mendengarkan musik. Lagi-lagi supaya kerjanya bersemangat. Pilih lagu-lagu bertempo cepat untuk mendorong kamu sampai ke pace pekerjaan yang tinggi. Saya biasa mengawali hari dengan mood booster yang ini.

Charger HP

Rasanya tidak mungkin kalau smartphone berada jauh dari kita. Meski dalam status sedang di-charge sekalipun. Barangkali ada telpon penting atau mendesak, ‘kan. Jadi, siapkan charger HP di meja kerja.

Diffuser

Kombinasi diffuser + essential oil oke banget untuk membuat pernafasan, pikiran, dan mood siap bekerja. Saya biasa belanja dari natureessence.oil

Terminal

Sepaket dengan kabel colokan PC dan monitor, charger HP, dan diffuser, maka kita wajib punya terminal steker di meja kerja. Terminal wajib diletakkan di tempat yang aman (safe). Minimal menghindarkan dari kemungkinan basah kalau minuman kita tumpah.

Pelembab

Saya kadang jijik dengan bapak-bapak di masjid yang kulit kakinya kering dan pecah-pecah sedemikian rupa. That’s why saya stok pelembab di meja. Biasanya siy dipakai setelah sholat. Cukup sekali sehari.

Mungkin kebutuhanmu bukan pelembab seperti saya ya. Tapi coba dipikirkan, deh. Pasti ada produk toiletris atau kosmetik yang sangat personal untukmu dan harus ada di meja kerjamu.

Obat Sakit Kepala

It depends on kamu punya penyakit kambuhan apa. Kalau saya, paling sering ya sakit kepala. Misal karena insomnia malamnya (akibat overthinking), atau sebab-sebab minor yang lain. Biasanya kantor ada kotak obat ya. Meskipun itu hak karyawan, tapi tahu diri lha ya kalo konsumsinya sudah melebihi batas kewajaran. Akhirnya stok sendiri, deh. Hehe.

Apa saja jenis obat yang biasa ada di kotak obat? Obat maag, penghilang nyeri haid, obat diare (serius!), balsem otot, dan lain-lain.

Sandal

Mengingat tidak semua peran butuh untuk berinteraksi dengan orang di luar divisi, atau bahkan di luar perusahaan, boleh donk kita memakai sandal di bilik/meja kerja kita sendiri. Jadi, siapkan sandal ya. Saya juga memaki sandal yang sama kok untuk ke masjid.

Demikian ulasan saya mengenai barang meja kerja. Semua yang saya sebutkan di atas, terbukti meningkatkan produktifitas saya. Mudah-mudahan hal yang sama bisa berlaku untukmu, ya.

Baca juga: Work from Home, dari Terpaksa sampai Biasa Saja.

Work From Home, dari Terpaksa menjadi Biasa

Awalnya terpaksa. Rasanya berat sekali. Lima bulan berjalan, WFH sudah semakin biasa saja. Dalam artikel ini, ada beberapa cerita dan saran soal WFH.

Pernah tiga sampai empat kali dalam dua minggu terakhir, para ortu dan mertua menanyakan ke saya dan istri, “Kerja di rumah atau di kantor?”. Dan jawabannya masih sama seperti pekan-pekan sebelumnya, “Iya, masih di rumah.” Paling tambahannya, “Kalau mau ke kantor, dibolehkan. Tapi tetap dianjurkan di rumah.”

Kantor kami juga masih was-was dan mengambil sikap hati-hati soal “memulangkan” para karyawan ke gedung kantor. Topologinya mirip pabrik gitu. Luas, tanpa sekat, dengan udara yang bersirkulasi dalam bangunan saja. Which is, ini risiko banget menyebarkan virus. Apalagi, kami tidak menggunakan jasa asuransi. Bisa jebol kantong perusahaan kalau banyak yang sakit, periksa ke dokter, dan berobat dalam satu periode sekaligus ketika ada wabah–persis seperti sekarang ini.


Pada awalnya, Work From Home (WFH) disambut dengan gembira. Tidak menghabiskan waktu, uang bensin dan energi untuk commuting pergi-pulang rumah-kantor. Perasaan juga lebih lega. Kita kan tidak tahu persis ya rekan sekantor pergi ke mana saja. Sebab eksposur dari kantor juga sampai ke rumah kita — yang ujung-ujungnya pakai mampir ke anggota keluarga tersayang. Perlahan, rasa was-was lenyap.

Sirnanya kekhawatiran tersebut ternyata ilusi belaka. Sebab, orang yang positif/reaktif covid-19 juga tidak kunjung turun. Bahkan terus bertambah. Apalagi colaps-nya sistem kesehatan nasional kita seakan menunggu waktu. Yang akan terjadi kira-kira 6 bulan dari sekarang.

Indikatornya adalah menurunnya jumlah tenaga kesehatan (nakes) karena sakit dan diistirahatkan, hingga yang paling buruk: meninggal dunia. Okupansi (parameter yang biasanya dipakai hotel maupun tempat menginap lainnya) rumah sakit maupun puskesmas semakin meningkat. Bila ini terus terjadi, lama-lama fasilitas kesehatan akan menolak pasien. Fenomena yang sebenarnya sudah mulai terjadi, terutama di daerah-daerah.

FYI, saya follow akun twitter @firdaradiany karena di pandemi ini beliau menghimpun dan mengkompilasi berita-berita pandemi covid-19.

Kembali ke topik WFH. Kondisi yang memburuk akhirnya “menahan” saya untuk tetap di rumah. Baik untuk bekerja, maupun menghindari pertemuan atau interaksi yang kurang produktif di luar rumah. Sebelum pandemi ini, saya mudah sekali meng-iya-kan ajakan ngopi-ngopi dari rekan. Alias hangout yang sebenarnya tidak penting.

Terpaksa WFH

Namanya rumah ya lebih untuk tempat tinggal ‘kan. Kantor tempat bekerja. Fasilitasnya jelas beda. Kantor didesain dan direkayasa supaya “penghuni”-nya lebih produktif. Terutama lewat fasilitas kantor yang menunjang: meja dan kursi kerja, hingga cemilan supaya gak boring. Bila di rumah, terpaksa bekerja dengan fasilitas seadanya. Setidaknya di awal-awal WFH.

Bagi kebanyakan karyawan, bekerja jarak jauh (remote) itu terasa sendirian (feeling lonely). Rasanya seperti bekerja tanpa pengawasan oleh supervisor (atau team leader). Di sisi lain, tidak bisa komunikasi lisan secara langsung dengan rekan kerja. Jadi rasanya seperti bekerja seorang diri. Ini bisa berimbas pada turunnya produktifitas. Baik individu, tim, maupun perusahaan. Yang sangat mungkin terjadi pada perusahaan yang belum pernah membuka diri pada opsi flexible working.

Tantangan WFH

Tantangan utama WFH adalah bagaimana mempertahankan produktifitas tetap tinggi sebagaimana di kantor. Cara pertama dengan mempersiapkan diri dan perlengkapan sejak pagi hari. Misalnya dengan mandi pagi supaya segar, makan pagi supaya gak kelaparan ketika pekerjaan dimulai, maupun hal-hal remeh semisal menyapa rekan-rekan dengan ucapan selamat pagi atau selamat bekerja.

Dari saya pribadi, biasanya mempersiapkan pekerjaan, minimal dari disiplin menuliskan rencana kerja di pagi hari, dan menuliskan perkembangan (progress) maupun hasil kerja di sore harinya di jurnal pribadi saya yang khusus untuk pekerjaan.

Membiasakan WFH

Ketika WFH, saya amati ada dua hal yang sering terjadi. Ini bisa dijadikan tolok ukur apakah WFH benar-benar sudah terinternalisasi atau belum. Hehehe.

Pertama, lupa hari kerja. Rekan saya baru menyadari hari tersebut adalah tanggal merah setelah bekerja selama 4 jam. Cerita dari senior dosen: bikin event online, yang ternyata jatuh di tanggal merah.

Kedua, tidak mengetahui progress pekerjaan tim maupun perusahaan. Di sinilah pentingnya berbagi info mengenai apa yang sudah dan akan dikerjakan. Dalam bentuk standup meeting, aplikasi kolaborasi pekerjaan (salah satunya Trello), atau medium lainnya.


Meskipun opsi bekerja di kantor boleh diambil, namun kami sekeluarga memutuskan supaya saya tetap bekerja dari rumah. Ini adalah privilege yang kami tidak boleh lupa untuk syukuri. Sebab tidak semua pekerjaan bisa dilakukan dari rumah.

Pada akhirnya, kami kembali pada kesimpulan bahwa tiap-tiap pekerjaan memiliki challenge-nya masing-masing. Yang harus turun ke lapangan, semisal para penjaja (salesman), tantangannya adalah soal disiplin memakai masker dan menjaga jarak. Sementara yang sudah WFH selama 6 bulan, tantangannya adalah bagaimana menyikapi ketidaksabaran diri sendiri.

Mudah-mudahan di Desember nanti ada kabar baik ya, mengenai vaksin untuk covid-19. Masih 4 bulan lagi. Aamiin.

Baca juga ya:

Work From Home https://infografik.bisnis.com/read/20200318/547/1215188/waktunya-bekerja-dari-rumah
Ini ada infografik yang menarik sekali dari @bisniscom mengenai Work From Home

Sebelum Pindah Kerja

Insight saja: konon katanya pindah kerja yang baik itu setiap 3-4 tahun sekali.

Realitanya, pindah kerja itu tidak semudah keinginan. Di sisi posisi pekerjaan, kita akan berhadapan dengan supply and demand tenaga kerja.

Kalau sudah berkeluarga, ada tambahan beberapa hal yang harus dipertimbangkan juga — lebih banyak dibandingkan mereka yang belum ada pasangan/anak.

Teks yang berwarna merah adalah logika yang –menurut saya– akan dipakai perusahaan dalam merekrut karyawan. Namanya juga logika, sifatnya ideal. Which is, perusahaan –notabene isinya manusia– tidak akan pernah 100% ideal.

(1) Alasan pindah kerja.

Apakah pindah karena mencari posisi yang lebih tinggi? Posisi yang lebih tinggi, tentu “bayaran”-nya lebih baik. Atau sekedar pindah ke company yang lebih baik —in terms of gengsi, paket remunerasi, dll? Atau mungkin pindah untuk lebih dekat dengan keluarga inti, atau orangtua/mertua.

HR tidak terlalu memperhatikan alasan mengapa seseorang pindah kerja. Itu ranah personal. Yang dilihat oleh company adalah: (1) Apakah orang tersebut secara kultural memang cocok di perusahan (2) Biaya bulanan seorang karyawan di posisi tersebut sudah sesuai dengan harga pasar, maupun standard internal.

Ada siy yang namanya uang pindah (moving cost) yang bisa di-reimburse ke kantor baru, kalau memang program tersebut ada. Dari HR, ini tujuannya supaya lebih atraktif lagi dalam menarik kandidat untuk bergabung.

(2) Jarak tempat tinggal ke kantor

Jarak yang jauh menuntut perjalanan yang lebih lama. Sementara jenis transportasi akan mempengaruhi ongkos perjalanan. Naik mobil pribadi, cenderung mahal secara bensin, butuh waktu lebih lama, tapi memang lebih nyaman, siy. Ongkos transportasi tidak boleh luput dari pertimbangan ya.

Perusahaan yang mengambil lokasi strategis itu biasanya demi gengsi. Ya di hadapan pelanggan, maupun karyawan –IT startup biasanya modern, minimalis dan homey. Perusahaan yang berlokasi di segitiga emas Jakarta, selain posisinya memang di tengah kota, gengsinya juga dapat. Namun, ongkosnya memang besar.

Lain halnya dengan tipe perusahaan/pekerjaan yang lebih banyak berada di luar kantor, alias “mengukur jalan seharian”. Anggaran sewa kantor bisa ditekan.

Satu lagi. Pemberdayaan coworking space untuk karyawan sangat mungkin menekan biaya. Apalagi, cost-nya relatif flexible. Bisa bulanan, bahkan harian. Beda dengan sewa ruko atau rumah yang term-nya minimal satu tahun.

Apalagi di era flexible working seperti sekarang. Tuntutan bekerja tidak melulu di waktu dan tempat tertentu (yaitu kantor). Sudah ada internet yang mendukung, aplikasi korporat yang mendukung pekerjaan untuk skala ratusan bahkan ribuan karyawan, application’s security yang semakin baik, dan lain sebagainya yang mendukung flexible working.

(3) Kenaikan Gaji

Kata rekan yang head hunter, kenaikan gaji untuk posisi yang sama di perusahaan berbeda, berkisar antara 25%-30%. Jadi kalau kamu pindah, pertimbangkan persen kenaikan tersebut. Kalau posisinya lebih tinggi? Tentu saja lihat lagi aturan nomor satu di atas.

Kalau kepindahanmu hanya menaikkan sekitar 10% gaji, sebaiknya jangan pindah, deh. Apalagi kalau tawaran kenaikannya tidak lebih tinggi daripada inflasi tahunan.

Bandingkan gaji dan benefit di calon kantor baru dengan total pengeluaran kantor untuk kamu di company yang lama. Misalnya, uang makan, snack, tunjangan transportasi, dan lain sebagainya. Premi asuransi untuk pasangan dan anak-anak jangan lupa dimasukkan. Terlihat sepele, padahal jadi biaya yang signifikan untuk keluarga dengan 3 anak.

Tergantung fase di mana perusahaan sedang berada, HR akan menentukan apakah suatu posisi diisi oleh fresh graduate (FG), junior, atau senior. FG relatif murah, kebiasaannya bisa sambil dibentuk, tetapi minim pengalaman.

Sementara yang senior bisa bernilai beberapa orang FG dalam sebulan. Mungkin pula membawa kebiasaan buruk dari perusahaan lama.

Supaya lebih paham, ilustrasinya begini: suatu IT company punya anggaran 120 juta sebulan untuk gaji. Pertanyaannya: pilih 20 junior programmer bergaji 6 juta, atau 4 orang senior programmer bergaji 30 juta? Tentu ada permutasi maupun kombinasi dalam menentukan hal tersebut.

(4) Analisis Keberlangsungan Perusahaan Target

Meskipun mendapat penawaran gaji dan benefit yang menarik, analisis lebih dulu keberlangsungan perusahaan dan industri tersebut. Sangat mungkin tawarannya menarik, tetapi perusahaan hanya berumur 1-2 tahun saja.

Seperti kebanyakan IT startup belakangan ini. Kompetisinya ketat. Tuntutannya growth or die. Saya tidak menyarankan untuk dihindari ya, tetapi dijadikan bahan pertimbangan saja. Apakah yang didapat (bayaran, pengalaman, posisi) akan sebanding dengan risiko-risikonya.

Makanya di IT startup ada yang remunerasinya luar biasa besar. Karena planning dan eksekusinya meminta target dicapai dalam waktu sesingkat-singkatnya –sebelum dicapai duluan oleh kompetitor. Jika tidak, rawan dilibas (atau diakuisisi, hehehe).

Ini kasus IT startup memang naik-turunnya roller-coaster banget. Tentu bisa diekstrapolasi ke industri yang pergerakannya lebih santuy.


Sebelum pindah kerja, baiknya pikirkan masak-masak kelebihan dan kekurangan tempat kerja baru dibanding tempat kerja lama. Seperti saya katakan di atas, single masih lebih mudah untuk berpindah-pindah daripada setelah sudah menikah.

Alasan terbanyak seseorang pindah kerja adalah karena tidak nyaman dengan atasan langsung-nya. Daripada mempersoalkan hal tersebut, lebih baik fokuskan ke karir (baik primary maupun secondary/side job, ya).

In general, people leave their jobs because they don’t like their boss, don’t see opportunities for promotion or growth, or are offered a better gig (and often higher pay); these reasons have held steady for years.

Why People Quit Their Jobs https://hbr.org/2016/09/why-people-quit-their-jobs

Tidak enak bila salah memilih. Karena ketika menyesal dengan tempat kerja yang baru, bisa jadi tidak enak untuk kembali ke mantan tempat lama. Akhirnya, harus mencari yang lebih baru lagi — which is belum tentu menyelesaikan akar masalah, yaitu si alasan pindah kerja itu sendiri.


Anyway, apapun pilihanmu, tetap bertahan atau jadi pindah, mudah-mudahan itu yang terbaik untukmu, ya.. Good luck!

Fakultas Ambil Hikmahnya

“Ikhwan tuh gak suka/cocok di jurusan ini. Tapi dia diam-diam aja.”, demikian gosip yang saya dengar. Hahaha. Bukan tipe gosip yang wajib saya klarifikasi siy, ya. Apalagi di channel YouTube-nya Mas Deddy yang tersohor itu. Itu mah cocoknya untuk yang lagi sengketa keluarga saja. Mengenai gosip tersebut, cukuplah jadi TST (Tau Sama Tau) sahaja. Karena ya memang demikian adanya. Hahaha. 

Tidak banyak memang yang bisa saya ambil, ya. Apalagi saya jadikan pengepul dapur. Cukup ambil silaturahminya saja. Sesuai dengan nama WhatsApp Group (WAG) kami. Lagipula, pasca kuliah tatap muka dengan dosen + nge-laboratorium yang saking panjangnya jadi sekalian ngabuburit di bulan Ramadhan itu, saya lebih banyak menghabiskan waktu di kegiatan kemahasiswaan. 

Status saya waktu itu memang mahasiswa. Instead of menomor-satukan akademik, malah saya jadikan prioritas ke sekian. Ini jangan ditiru ya, adik-adik. Waktu dulu saya terpaksa menerima pilihan kedua ini, saya pikir belajar itu bisa di jurusan mana saja. Kampusnya yang tidak bisa di mana saja, menurut saya. Yang saya kira penting adalah Anda akan menjadi alumni darimana. 

Bukan semata karena “cap”-nya suatu kampus “membantu” Anda mendapatkan pekerjaan pertama. Tetapi juga yang dijual oleh suatu kampus adalah lingkungan manusianya. 

Saya katakan “membantu”, karena brand kan sifatnya memuluskan keputusan “pembelian”. Dalam konteks, perusahaan yang Anda lamar sebagai tempat bekerja, menerima Anda karena kampus sudah memiliki “cap” berusia puluhan tahun. 

Kedua, lingkungan manusia. Ini adalah ekosistem besar yang terdiri dari unit-unit yang saling terhubung di dalamnya. Di antaranya adalah ikatan alumni (institusional), jejaring alumni (sosial kultural), rekan-rekan seangkatan masuk, sesama generasi (ini istilah saya saja, yaitu rekan-rekan dari dua angkatan atas kita hingga dua angkatan ke bawah).

Pas banget dengan momentum 100 tahun pendidikan tingi teknik, di laman facebook saya kemarin saya menuangkan 10 poin berikut ini: 

1. Jurusannya apa aja deh. Asal di kampus yang ini. Meski pilihan kedua, lanjut aja. Baru tahu cewenya bnyk pas OSKM. Jurusan saya tuh 1:4 cowo cewe. Teknik Penyehatan 1:3. 

2. “yang di depan (danlap) ga sopan uy. Ngomongnya aku-aku. Egois banget. Ngomongnya patah2 pula.”, pikir saya pas pembukaan orientasi kampus. . 

3. Ketemu banyak anak (SMA) 3. Untungnya gak jadi sekolah di 3. Gak pernah lupa, via wartel (iya, warung telekomunikasi) di almamater, pasca pembukaan pendidikan, memohon bantuan kakak di Bandung untuk mengambil berkas pendaftaran di SMA 3. #eehhh 

4. Unit Koperasi Mahasiswa. Paling berkesan, pinjamkan modal merchandise ke mahasiswa yang mudik untuk presentasi kampus/jurusan di SMA favorit di kampung. Merchandise-nya untuk apa? Ya untuk jualan, lha. Anda ini pakai, bertanya. Hehehe.  Ada temen jurusan kaget pas mau pinjam merchandise, karna yang ngurus ternyata temen kelompok nge-lab sendiri. Hehehe. Kita sebut “pinjam” karena memang kembalikan barang yang tidak laku, berikut uang penjualan yang laku. Hehehe. 

5. Sibuk di jurusan. Pagi kuliah. Jeda makan siang 11-13 aja. Praktikum 3-4 kali seminggu. Puasa Ramadhan terasa singkat karna ngabuburit nya nge-lab. Sebelum masuk lab, bawa jurnal yang ditulis tangan. Kadang-kadang ada quiz pendahuluan di awal. Praktikum bisa ditutup dengan quiz. Setelah praktikum buat laporan yang diketik dan diprint. Gak bohong kan saya, kalau kuliahnya sibuk? Hehe.  

6. Kampanye + jadi pengurus himpunan.

7. “Orang kota masuk desa” dengan kemasan KKN (Kuliah Kerja Nyata) tahun 2008. Kurang lebih seminggu menginap di rumah warga. Toples snack dipenuhi terus oleh tuan rumah. Bak mandi bela-belain diisi air terus sama mereka. Kami tahu diri untuk tidak meminta. Baik banget warga desa tuh. Mereka juga enggak setiap hari mandi, soalnya. 

8. Campaign “Indonesia Tersenyum”. Nge-design + copywriting-nya si baliho berisi teks dua kalimat yang “menyihir” banget. 

9. Science and Engineering Fair 2010. Core idea-nya “community development”. Cari sponsor ke jakarta. Terima duit puluhan juta dalam amplop. 

10. Februari sidang skripsi. Penelitian saya waktu itu soal bagaimana mengoptimalkan proses ekstraksi dari rimpang Curcuma Xanthorriza. Suhu, ukuran serbuk, jenis pelarut, dan waktu adalah parameter-paremeternya. Meski cuma mendapat dan mengambil hikmahnya, saya masih ingat donk penelitian waktu itu.Serah terima ke pengurus baru hanya 3-4 hari sebelum di-Wisuda April. 

Kesimpulan: 4.5 tahun yang penuh hikmahya. Fakultasnya bagaimana? Wes, sudah. Sesuai judul saja. Hehehe. 

Copywriting

Copywriting adalah teknik penulisan (kata, kalimat, paragraf) untuk mempengaruhi konsumen agar mau membeli dari kita.

Copywriting

1 Karakteristik Konsumen

Pelajari karakteristik hadirin konsumen (para pembaca, atau yang menjadi target iklan) tersebut. Framework-nya bisa terdiri dari demografi, psikografi, dan (yang lebih membumi) kebiasaan (behavior).

  • Demografi: usia, tempat tinggal, jenis kelamin, dst.
  • Psikografi: ingin tampil keren, ingin menekuni passion, peran sebagai sandwich generation, dll.
  • Kebiasaan: menggunakan mobile app, aktif di social media, ikut komunitas, dll.

Setelah karakteristik konsumen, kenali dahulu beberapa jenis manfaat yang bisa ditransfer dari seller kepada buyer.

2 Hierarki Manfaat

Manfaat Fungsional, Emosional (termasuk self-expression), Spiritual.

  • Manfaat fungsional adalah manfaat yang didasarkan pada atribut produk yang menyediakan penggunaan fungsional pada pelanggan.
  • Manfaat emosional memberi pelanggan perasaan positif ketika mereka membeli atau menggunakan merek tertentu. Manfaat yang satu ini membuat pembeli/pengguna merasakan pengalaman yang lebih kaya atau lebih dalam tatkala membeli atau menggunakan merek tersebut.
    • Ada satu lagi yang disebut self-expression benefit, yaitu manfaat yang memberikan kesempatan pada penggunanya untuk mengkomunikasikan citra dirinya. Self-expression benefit meningkatkan hubungan antara merek dan pelanggan dengan berfokus pada sesuatu yang terkait dengan kepribadiannya. Manfaat mengekspresikan diri fokus pada tindakan menggunakan produk.
  • Manfaat spiritual adalah perasaan lebih dekat kepada Tuhan (termasuk perasaan mendapat pahala) tatkala membeli, menggunakan, atau berinteraksi dengan suatu merek tertentu.

Ibarat belanja bahan pokok di pasar tradisional, semua menawarkan manfaat fungsional yang relatif sama. Namun beberapa pedagang di pasar, membangun hubungan personal yang lebih akrab dengan pelanggan. Ini adalah salah satu teknik memberikan manfaat emosional.

Contoh manfaat spiritual: perasaan lebih dekat kepada Tuhan yang dirasakan ketika membayar zakat. Dalam hal lembaga zakat, manfaat semacam ini yang wajib dikomunikasikan.

Copywriting harus melibatkan EMOSI. Karena 80% penjualan, melibatkan emosi. Sudah terlalu umum (generic) bila hanya menawarkan manfaat fungsional semata. Harus dikombinasikan dengan manfaat emosional.

3 AIDA Copywriting

Ada teknik menulis dan struktur tulisan yang mempengaruhi konsumen, yang salah satu metodenya adalah AIDA (marketing). AIDA adalah kependekan dari Attention, Interest, Desire, dan Action.

Attention

Target kita adalah mendapatkan perhatian (attention) mereka. Kalau mereka sudah memperhatikan, pilihannya antara 2: berminat atau tidak.

Interest

Berminat (interested) berarti ingin mengetahui lebih lanjut. Jadi dari kita, memang sudah harus melakukan klasifikasi: konten mana untuk mendapatkan perhatian, konten mana untuk menjelaskan lebih lanjut (hanya kepada yang berminat). Kepada yang sudah menerima penjelasan kita, terbagi lagi menjadi 2: berkehendak atau tidak.

Desire

Yang sudah berkehendak (desire) membeli, akan mengecek kembali kemampuan mereka. Hal-hal yang akan dipertimbangkan: berapa harganya (termasuk apakah worth it atau tidak), bagaimana cara membayarnya, dan bagaimana memperoleh produk/layanan tersebut (diambil di tempat, di antar ke rumah, mendapat link download, dan sebagainya).

Action

Action adalah tahap terakhir yang dipikirkan dan dilakukan oleh konsumen. Yakni mengeksekusi (to act) pembelanjaan tersebut. Bentuknya bisa mengisi formulir Purchase Order (PO), membawa barang ke kasir, add to cart kalau di e-commerce, dan lain sebagainya.

4 Hypno Copywriting

Tanpa perlu menuliskan ulang, karena saya sudah setuju dengan apa yang didefinisikan oleh maxmanroe.com mengenai hypno copywriting, berikut ini:

Kata hipnotis mungkin terkadang didefinisikan sebagai suatu perilaku persuasif yang membuat seseorang atau sekelompok orang menjadi tidak sadar dan berada di bawah pengaruh pihak-pihak tertentu. Pun hampir serupa konsep hypnotic writing sebenarnya mengadopsi maksud yang sama, namun dilakukan secara bertanggung jawab daripada teknik hipnotis yang sering dilakukan sebagai metode kejahatan.

Hypnotic writing adalah suatu teknik pemilihan kata-kata yang sengaja digunakan untuk mengarahkan pembaca kepada maksud tertentu. Biasanya teknik hypnotic writing ini digunakan dalam dunia bisnis untuk mengarahkan ketertarikan dan keinginan seseorang akan produk atau jasa tertentu. Hasilnya, penjualan suatu produk atau jasa memiliki tingkat keberhasilan yang lebih tinggi bila salah satu teknik pemasarannya mengandalkan hypnotic writing.

Pemilihan kata dalam teknik hypnotic writing harus dilakukan secara seksama untuk mengarahkan seseorang ke dalam situasi ingin membeli atau mencoba suatu produk atau jasa yang kita tawarkan. Secara ilmiah, hypnotic writing bisa dijelaskan sebagai pemilihan kata-kata yang mampu memicu sekresi hormon endorfin dan serotonin dalam tubuh.

Sekresi kedua jenis hormon ini kemudian memberikan efek perasaan senang pada seseorang. Sehingga rasa senang dan tertarik tersebut membuat seseorang jadi tergerak untuk melakukan atau mencoba apa yang dijelaskan pada sebuah tulisan.

Kalau maxmanroe bilang soal dua hormon, Darmawan Aji bilang ada FILTER KRITIS pada manusia. Hpyno writing harus bisa menembus filter tersebut. Sesuai latar belakangnya, konsumen akan kritis terhadap informasi yang diberikan. Jadi dengan memahami karakteristik audience, akan membantu kita memilih dan menentukan kata yang tepat.

Mudah-mudahan semua informasi tersebut bisa dimanfaatkan ya oleh teman-teman pembaca sekalian. Kalau ada pertanyaan atau pendapat, sangat ditunggu partisipasinya di kolom komentar.

Terima kasih.


Omong-omong, saya masih mempromosikan buku Freelance 101. Berikut ini informasinya:

Lebaran ala Covid-19

Setelah Ramadhan combo covid-19, kali ini bagaimana Lebaran di pandemi yg sama?

Sejak semalam, yakni di malam lebaran (notabene sudah 1 Syawal), sudah gelisah duluan. Kudu nge-briefing and coaching si Anak Dua. Apa 30 hari yang sudah lewat, dan apa yang akan kita lakukan di pagi harinya (Shalat Ied). Coaching-nya meliputi 8 kali takbir di rakaat pertama (termasuk takbir pertama banget), 6 kali takbir (include setelah bangun dari sujud) di rakaat kedua, dan apa yang dibaca (subhanallah, wa alhamdulillah, wa laa ilaha illahu, allahu akbar).

Kalau bukan Lebaran Covid-19 ini, saya juga gak belajar bahwa ada sunnahnya untuk membaca Al A’la (Sabbihisma rabbikal a’la) di rakaat pertama dan Al Ghashiyah (Hal ‘ataka haditsul ghasiyah) di rakaat kedua.

Masjid RW di RT saya sebenarnya menyelenggarakan Shalat Ied, bahkan sejak beberapa malam terakhir mengadakan tarawih — harap maklum ya, banyak pensiunannya, tampaknya kehilangan pertemanan sekali kalau tidak ‘bermain’ di masjid.

Namun, kami memilih untuk ‘Ied di rumah saja. That’s why saya belajar jadi imam.

Rindu Ramadhan

Jadi, sejak magrib kemarin sampai sholat tadi masih galaw-galaw gitu. Phhysically, Ramadhan memang tidak nyaman ya. Bangun sebelum subuh, masak, makan sahur, harus ditahan sampai beres subuh-an. Bahkan jangan tidur sampai matahari terbit, deh. Bangunnya gak akan enak kalau tidurnya di jam-jam tersebut.

Di sisi lain, bulan Ramadhan adalah satu-satunya momentum dan medium untuk melatih kita meningkatkan intensitas ibadah. Ya lewat tarawih, tilawah Al Quran, iktikaf, dll.

Jelas berat untuk meraih semuanya dalam satu Ramadhan. Setidaknya, kita bisa meningkatkan satu aspek di satu Ramadhan, kemudian aspek lainnya di Ramadhan.

Makanya kita diajarkan untuk berdoa agar tetap dipertemukan dengan Ramadhan tahun depan, ‘kan? Simply karena Ramadhan bisa membantu meningkatkan amal ibadah.

Physical Distancing

Ramadhan + Lebaran di musim pandemi begini memang sangat berbeda rasanya. Sebagai negara bangsa dengan kebiasaan guyub, alias apa-apa kudu bareng, ‘mengekor’ ke satu informal leader tertentu, lebih ramai lebih enak/nyaman, dst-nya, lebaran kali ini terasa sekali sepinya. Dalam skala tertentu, sepi = sedih.

Kalau selama Ramadhan, loneliness untuk introvert seperti saya malah membuat produktif lho. Ngajinya jadi lebih banyak, tarawih gak harus di masjid, dsb.

Tapi beda sekali dengan tahun-tahun sebelumnya di mana kita bisa mudik, puasa, tarawih, dan lebaran bareng dengan keluarga. Crowd attract happiness indeed. But physical distancing keep us apart and make us feel lonely. Buat apa mudik kalau malah menyebarkan virus. Jadinya hanya bisa mengirim doa (and hampers!) dari sini.

Lebaran ini unik di tiap negara. Kalau Indonesia unik dengan crowd dan keguyubannya, maka di negara-negara Arab malah sepi di tanggal 1 Syawalnya. Bahkan, tanggal 2 Syawal langsung menggeber puasa Syawal sepanjang 6 hari berturut-turut. Link Kumparan berikut ini mengulasnya.

Pasca Lebaran

Di New Normal, saya singgung bahwa banyak hal sedang bergeser (shifting). Begitu kuatnya hingga menjadi sesuatu yang biasa/normal.

WFH akan kita jalani dengan fisik yang lebih nyaman. Kapanpun lapar/hausnya bisa makan/minum. Tidak menunggu adzan magrib.

Anak Dua yang mestinya Juli ini mulai sekolah, kayaknya perlu kami tunda dulu. Setidaknya satu semester. Kita kurang paham dampak Covid-19 ke anak-anak ini sebenarnya gimana. Only conservative thinking applied.

Frozen food makin eksis juga. Bagian dari New Normal yang apabila menunggu vaksin saja, paling cepat sedikitnya 2-3 tahun.

Pendapatan yang lebih rendah bagi masyarakat kita, setidaknya juga berlangsung 2-3 tahun ke depan. Implementasi protokol-protokol kesehatan pasti berdampak pada perekonomian. New Normal-nya adalah, membiasakan diri untuk lebih ketat mengelola keuangan.

FYI, perputaran ekonomi dari yang didorong oleh THR untuk mudik, belanja baju lebaran, kirim hampers, adalah perputaran yang sesaat sifatnya. Di sisi lain, sedihanya adalah crowds tersebut akan menjadi bibit-bibit cluster covid-19 yang baru.

Show atau entertainment macam sepakbola di musim yang baru, belum tentu akan dilanjutkan. English Premier League (EPL) sebagai yang paling bergengsi, juga masih bimbang. Makin ke sini, perkembangan antara negara semakin berbeda-beda. Liga Jerman (Bundesliga) termasuk yang beruntung karena tampaknya berjalan baik. Hari ini sudah pekan kedua berjalan pasca pandemi.

Selamat merayakan hari raya idulfitri 114 Hijriyah. Mohon maaf lahir dan batin. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala menerima amal ibadah kita di bulan Ramadhan yang lalu, dan semoga kita dipertemukan kembali dengan Ramadhan tahun depan. Aamiin.

NB: Pre-Order buku terbaru saya, “Freelance 101” telah dibuka. Buku ini memperkenalkan topik-topik umum seputar pekerjaan lepas (freelancing):

  1. Ada peluang apa saja untuk menjadi pekerja lepas
  2. Bagaimana cara memulai freelancing
  3. Bagaiaman para freelance beroperasi sehari-hari
  4. Mengatasi tantang freelance banyak sekali
  5. Meningkatkan produktifitas
  6. Kerja jarak jauh

Untuk ikut memesan, silakan tombol di bawah ini:

Harapan untuk Ramadhan Tahun Depan

Ramadhan 1441 H yang akan kita kenang sepanjang masa. Combo-nya dengan Covid-19 menghadirkan experience unik ber-Ramadhan-ria.

Tidak setiap tahun saya menulis tentang Ramadhan, rupanya. Masih ada jejak di blog lama tulisan dengan tag tersebut: My Ramadhan Eating. Itu tulisan tahun 2015. Waktu itu, saya sudah menikah, tetapi masih long distance dengan keluarga. Saya di Jakarta, istri dan anak dua (waktu itu baru 2 bulan banget) di Surabaya. Masih jomblo lokal, lha. Ramadhannya masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya.

Hampir gak pernah menulis tentang bulan puasa, mudah-mudahan bisa saya ingat sebagai “berusaha untuk fokus beribadah”, ya. Instead of Ramadhannya tak teringat dan tak berkesan sama sekali.

Ramadhan yang Unik

Ramadhan tahun ini, tentu akan menjadi Ramadhan yang akan kita kenang seumur hidup kita. Betapa tidak, Ramadhan plus pandemi. Atau sebaliknya. Pokoknya, Combo banget.

Terasa banget kontrasnya, karena di Indonesia yang masyarakatnya guyub banget, bulan Syahrul Quran (bulan yang di dalamnya diturunkan permulaan Alquran) adalah momen kumpul-kumpul. Buka bareng sama si alumni ini dan komunitas itu, tarawih di masjid ini, qiyamul lail (QL) (alias iktikaf) di masjid itu, dan sebagainya.

Kontras sekali dengan ramadhan tahun ini. Yang seakan memerdekakan para introvert yang suka menyendiri. Membebaskan dari aktifitas buka bareng yang gak wajib-wajib amat, atau tarawih yang crowded. Atau mudik yang sesak dan melelahkan.

Sudah seharusnya, kita refleksikan ke ibadah Ramadhan ya. Di bulan latihan yang penuh berkah ini, seberapa mampu kita menaikkan frekuensi dan kualitas ibadah. Saya bermaksud bertanya ke diri sendiri, daripada menanyakan hal tersebut ke teman-teman pembaca sekalian. Peluangnya ada di depan mata ya. Kita tidak kemana-mana. ‘Kan kita sedang physical distancing.

Harapan untuk Tahun Depan

Cukup standard. Meskipun masih ada beberapa hari menuju final, doanya masih sama dari tahun-tahun lalu: semoga dipertemukan dengan bulannya Al-Qur’an di tahun depan. Ini yang pertama.

Kedua, supaya saya dan keluarga lebih khusyuk dan intens beribadah. Mulai dari sekarang dan seterusnya. Untuk semua jenis ibadah.

Bulan suci sebagai “gong” menyediakan momentum yang tepat untuk memotivasi anak dua untuk beribadah. Mulai dari (latihan) wudhu, iqomat, surat pendek (masih seputar tiga qul), bacaan shalat, sahur, puasa dan niatnya, berbuka dan doanya.

Bulan ini hanya sebulan di antara 12 bulan. Masih ada 11 bulan selain bulan ini. Satu bulan ini hanya ‘reminder‘. Perjuangan sebenarnya di sebelas bulan yang lain.

Kalau ada yang salah atau kurang tepat, datangnya dari saya. Sedangkan yang benar hanya dari Allah subhanahu wa ta’ala.

Bandung, hari ke-23 Ramadhan 1441 H. Mei ke-16, 2020 M.