Sebelum Pindah Kerja

Insight saja: konon katanya pindah kerja yang baik itu setiap 3-4 tahun sekali.

Realitanya, pindah kerja itu tidak semudah keinginan. Di sisi posisi pekerjaan, kita akan berhadapan dengan supply and demand tenaga kerja. Kalau sudah berkeluarga, ada tambahan beberapa hal yang harus dipertimbangkan juga — lebih banyak dibandingkan mereka yang belum ada pasangan/anak.

Teks yang berwarna merah adalah logika yang –menurut saya– akan dipakai perusahaan dalam merekrut karyawan. Namanya juga logika, sifatnya ideal. Which is, perusahaan –notabene isinya manusia– tidak akan pernah 100% ideal.

(1) Alasan pindah kerja.

Apakah pindah karena mencari posisi yang lebih tinggi? Posisi yang lebih tinggi, tentu “bayaran”-nya lebih baik. Atau sekedar pindah ke company yang lebih baik —in terms of gengsi, paket remunerasi, dll? Atau mungkin pindah untuk lebih dekat dengan keluarga inti, atau orangtua/mertua.

HR tidak terlalu memperhatikan alasan mengapa seseorang pindah kerja. Itu ranah personal. Yang dilihat oleh company adalah: (1) Apakah orang tersebut secara kultural memang cocok di perusahan (2) Biaya bulanan seorang karyawan di posisi tersebut sudah sesuai dengan harga pasar, maupun standard internal.

(2) Jarak tempat tinggal ke kantor

Jarak yang jauh menuntut perjalanan yang lebih lama. Sementara jenis transportasi akan mempengaruhi ongkos perjalanan. Naik mobil pribadi, cenderung mahal secara bensin, butuh waktu lebih lama, tapi memang lebih nyaman, siy. Lagi-lagi ini adalah ongkos yang tidak boleh luput dari pertimbangan.

Perusahaan yang mengambil lokasi strategis itu biasanya demi gengsi. Ya di hadapan pelanggan, maupun karyawan –IT startup biasanya modern, minimalis dan homey. Perusahaan yang berlokasi di segitiga emas Jakarta, selain posisinya memang di tengah kota, gengsinya juga dapat. Namun, ongkosnya memang besar.

Lain halnya dengan tipe perusahaan/pekerjaan yang lebih banyak berada di luar kantor, alias “mengukur jalan seharian”. Anggaran sewa kantor bisa ditekan.

Satu lagi. Pemberdayaan coworking space untuk karyawan sangat mungkin menekan biaya. Apalagi, cost-nya relatif flexible. Bisa bulanan, bahkan harian. Beda dengan sewa ruko atau rumah yang term-nya minimal satu tahun.

Apalagi di era flexible working seperti sekarang. Tuntutan bekerja tidak melulu di waktu dan tempat tertentu (yaitu kantor). Sudah ada internet yang mendukung, aplikasi korporat yang mendukung pekerjaan untuk skala ratusan bahkan ribuan karyawan, application security yang semakin baik, dan lain sebagainya yang mendukung flexible working.

(3) Kenaikan Gaji

Kata rekan yang head hunter, kenaikan gaji untuk posisi yang sama di perusahaan berbeda, berkisar antara 25%-30%. Jadi kalau kamu pindah, pertimbangkan persen kenaikan tersebut. Kalau posisinya lebih tinggi? Tentu saja lihat lagi aturan nomor satu di atas.

Bandingkan gaji dan benefit di calon kantor baru dengan total pengeluaran kantor untuk kamu di company yang lama. Misalnya, uang makan, snack, tunjangan transportasi, dan lain sebagainya. Premi asuransi untuk pasangan dan anak-anak jangan lupa dimasukkan. Terlihat sepele, padahal signifikan untuk keluarga dengan 3 anak.

Tergantung fase di mana perusahaan sedang berada, HR akan menentukan apakah suatu posisi diisi oleh fresh graduate (FG), junior, atau senior. FG relatif murah, tetapi minim pengalaman. Sementara yang senior bisa bernilai beberapa orang FG dalam sebulan.

Supaya lebih paham, ilustrasinya begini: suatu IT company punya anggaran 120 juta sebulan untuk gaji. Pilih 20 programmer junior bergaji 6 juta, atau 4 orang programmer bergaji 30 juta? Tentu ada permutasi maupun kombinasi dalam menentukan hal tersebut.

(4) Analisis Keberlangsungan Perusahaan Target

Meskipun mendapat penawaran gaji dan benefit yang menarik, analisis lebih dulu keberlangsungan perusahaan dan industri tersebut. Sangat mungkin tawarannya menarik, tetapi perusahaan hanya berumur 1-2 tahun saja.

Seperti kebanyakan IT startup belakangan ini. Kompetisinya ketat. Tuntutannya growth or die. Saya tidak menyarankan untuk dihindari ya, tetapi dijadikan bahan pertimbangan saja. Apakah yang didapat (bayaran, pengalaman, posisi) akan sebanding dengan risiko-risikonya.

Makanya di IT startup ada yang remunerasinya luar biasa besar. Karena planning dan eksekusinya meminta target dicapai dalam waktu sesingkat-singkatnya –sebelum dicapai duluan oleh kompetitor. Jika tidak, rawan dilibas (atau diakuisisi, hehehe). Ini kasus IT startup yang naik-turunnya roller-coaster banget. Tentu bisa diekstrapolasi ke industri yang pergerakannya lebih santuy.


Sebelum pindah kerja, baiknya pikirkan masak-masak kelebihan dan kekurangan tempat kerja baru dibanding tempat kerja lama. Seperti saya katakan di atas, single masih lebih mudah untuk berpindah-pindah daripada setelah sudah menikah.

Alasan terbanyak seseorang pindah kerja adalah karena tidak nyaman dengan atasan langsung-nya. Daripada mempersoalkan hal tersebut, lebih baik fokuskan ke karir (baik primary maupun secondary/side job, ya).

Tidak enak bila salah memilih. Karena ketika menyesal dengan tempat kerja yang baru, bisa jadi tidak enak untuk kembali ke mantan tempat lama. Akhirnya, harus mencari yang lebih baru lagi — which is belum tentu menyelesaikan akar masalah, yaitu si alasan pindah kerja itu sendiri.

Fakultas Ambil Hikmahnya

“Ikhwan tuh gak suka/cocok di jurusan ini. Tapi dia diam-diam aja.”, demikian gosip yang saya dengar. Hahaha. Bukan tipe gosip yang wajib saya klarifikasi siy, ya. Apalagi di channel YouTube-nya Mas Deddy yang tersohor itu. Itu mah cocoknya untuk yang lagi sengketa keluarga saja. Mengenai gosip tersebut, cukuplah jadi TST (Tau Sama Tau) sahaja. Karena ya memang demikian adanya. Hahaha. 

Tidak banyak memang yang bisa saya ambil, ya. Apalagi saya jadikan pengepul dapur. Cukup ambil silaturahminya saja. Sesuai dengan nama WhatsApp Group (WAG) kami. Lagipula, pasca kuliah tatap muka dengan dosen + nge-laboratorium yang saking panjangnya jadi sekalian ngabuburit di bulan Ramadhan itu, saya lebih banyak menghabiskan waktu di kegiatan kemahasiswaan. 

Status saya waktu itu memang mahasiswa. Instead of menomor-satukan akademik, malah saya jadikan prioritas ke sekian. Ini jangan ditiru ya, adik-adik. Waktu dulu saya terpaksa menerima pilihan kedua ini, saya pikir belajar itu bisa di jurusan mana saja. Kampusnya yang tidak bisa di mana saja, menurut saya. Yang saya kira penting adalah Anda akan menjadi alumni darimana. 

Bukan semata karena “cap”-nya suatu kampus “membantu” Anda mendapatkan pekerjaan pertama. Tetapi juga yang dijual oleh suatu kampus adalah lingkungan manusianya. 

Saya katakan “membantu”, karena brand kan sifatnya memuluskan keputusan “pembelian”. Dalam konteks, perusahaan yang Anda lamar sebagai tempat bekerja, menerima Anda karena kampus sudah memiliki “cap” berusia puluhan tahun. 

Kedua, lingkungan manusia. Ini adalah ekosistem besar yang terdiri dari unit-unit yang saling terhubung di dalamnya. Di antaranya adalah ikatan alumni (institusional), jejaring alumni (sosial kultural), rekan-rekan seangkatan masuk, sesama generasi (ini istilah saya saja, yaitu rekan-rekan dari dua angkatan atas kita hingga dua angkatan ke bawah).

Pas banget dengan momentum 100 tahun pendidikan tingi teknik, di laman facebook saya kemarin saya menuangkan 10 poin berikut ini: 

1. Jurusannya apa aja deh. Asal di kampus yang ini. Meski pilihan kedua, lanjut aja. Baru tahu cewenya bnyk pas OSKM. Jurusan saya tuh 1:4 cowo cewe. Teknik Penyehatan 1:3. 

2. “yang di depan (danlap) ga sopan uy. Ngomongnya aku-aku. Egois banget. Ngomongnya patah2 pula.”, pikir saya pas pembukaan orientasi kampus. . 

3. Ketemu banyak anak (SMA) 3. Untungnya gak jadi sekolah di 3. Gak pernah lupa, via wartel (iya, warung telekomunikasi) di almamater, pasca pembukaan pendidikan, memohon bantuan kakak di Bandung untuk mengambil berkas pendaftaran di SMA 3. #eehhh 

4. Unit Koperasi Mahasiswa. Paling berkesan, pinjamkan modal merchandise ke mahasiswa yang mudik untuk presentasi kampus/jurusan di SMA favorit di kampung. Merchandise-nya untuk apa? Ya untuk jualan, lha. Anda ini pakai, bertanya. Hehehe.  Ada temen jurusan kaget pas mau pinjam merchandise, karna yang ngurus ternyata temen kelompok nge-lab sendiri. Hehehe. Kita sebut “pinjam” karena memang kembalikan barang yang tidak laku, berikut uang penjualan yang laku. Hehehe. 

5. Sibuk di jurusan. Pagi kuliah. Jeda makan siang 11-13 aja. Praktikum 3-4 kali seminggu. Puasa Ramadhan terasa singkat karna ngabuburit nya nge-lab. Sebelum masuk lab, bawa jurnal yang ditulis tangan. Kadang-kadang ada quiz pendahuluan di awal. Praktikum bisa ditutup dengan quiz. Setelah praktikum buat laporan yang diketik dan diprint. Gak bohong kan saya, kalau kuliahnya sibuk? Hehe.  

6. Kampanye + jadi pengurus himpunan.

7. “Orang kota masuk desa” dengan kemasan KKN (Kuliah Kerja Nyata) tahun 2008. Kurang lebih seminggu menginap di rumah warga. Toples snack dipenuhi terus oleh tuan rumah. Bak mandi bela-belain diisi air terus sama mereka. Kami tahu diri untuk tidak meminta. Baik banget warga desa tuh. Mereka juga enggak setiap hari mandi, soalnya. 

8. Campaign “Indonesia Tersenyum”. Nge-design + copywriting-nya si baliho berisi teks dua kalimat yang “menyihir” banget. 

9. Science and Engineering Fair 2010. Core idea-nya “community development”. Cari sponsor ke jakarta. Terima duit puluhan juta dalam amplop. 

10. Februari sidang skripsi. Penelitian saya waktu itu soal bagaimana mengoptimalkan proses ekstraksi dari rimpang Curcuma Xanthorriza. Suhu, ukuran serbuk, jenis pelarut, dan waktu adalah parameter-paremeternya. Meski cuma mendapat dan mengambil hikmahnya, saya masih ingat donk penelitian waktu itu.Serah terima ke pengurus baru hanya 3-4 hari sebelum di-Wisuda April. 

Kesimpulan: 4.5 tahun yang penuh hikmahya. Fakultasnya bagaimana? Wes, sudah. Sesuai judul saja. Hehehe. 

Copywriting

Copywriting adalah teknik penulisan (kata, kalimat, paragraf) untuk mempengaruhi konsumen agar mau membeli dari kita.

Copywriting

1 Karakteristik Konsumen

Pelajari karakteristik hadirin konsumen (para pembaca, atau yang menjadi target iklan) tersebut. Framework-nya bisa terdiri dari demografi, psikografi, dan (yang lebih membumi) kebiasaan (behavior).

  • Demografi: usia, tempat tinggal, jenis kelamin, dst.
  • Psikografi: ingin tampil keren, ingin menekuni passion, peran sebagai sandwich generation, dll.
  • Kebiasaan: menggunakan mobile app, aktif di social media, ikut komunitas, dll.

Setelah karakteristik konsumen, kenali dahulu beberapa jenis manfaat yang bisa ditransfer dari seller kepada buyer.

2 Hierarki Manfaat

Manfaat Fungsional, Emosional (termasuk self-expression), Spiritual.

  • Manfaat fungsional adalah manfaat yang didasarkan pada atribut produk yang menyediakan penggunaan fungsional pada pelanggan.
  • Manfaat emosional memberi pelanggan perasaan positif ketika mereka membeli atau menggunakan merek tertentu. Manfaat yang satu ini membuat pembeli/pengguna merasakan pengalaman yang lebih kaya atau lebih dalam tatkala membeli atau menggunakan merek tersebut.
    • Ada satu lagi yang disebut self-expression benefit, yaitu manfaat yang memberikan kesempatan pada penggunanya untuk mengkomunikasikan citra dirinya. Self-expression benefit meningkatkan hubungan antara merek dan pelanggan dengan berfokus pada sesuatu yang terkait dengan kepribadiannya. Manfaat mengekspresikan diri fokus pada tindakan menggunakan produk.
  • Manfaat spiritual adalah perasaan lebih dekat kepada Tuhan (termasuk perasaan mendapat pahala) tatkala membeli, menggunakan, atau berinteraksi dengan suatu merek tertentu.

Ibarat belanja bahan pokok di pasar tradisional, semua menawarkan manfaat fungsional yang relatif sama. Namun beberapa pedagang di pasar, membangun hubungan personal yang lebih akrab dengan pelanggan. Ini adalah salah satu teknik memberikan manfaat emosional.

Contoh manfaat spiritual: perasaan lebih dekat kepada Tuhan yang dirasakan ketika membayar zakat. Dalam hal lembaga zakat, manfaat semacam ini yang wajib dikomunikasikan.

Copywriting harus melibatkan EMOSI. Karena 80% penjualan, melibatkan emosi. Sudah terlalu umum (generic) bila hanya menawarkan manfaat fungsional semata. Harus dikombinasikan dengan manfaat emosional.

3 AIDA Copywriting

Ada teknik menulis dan struktur tulisan yang mempengaruhi konsumen, yang salah satu metodenya adalah AIDA (marketing). AIDA adalah kependekan dari Attention, Interest, Desire, dan Action.

Attention

Target kita adalah mendapatkan perhatian (attention) mereka. Kalau mereka sudah memperhatikan, pilihannya antara 2: berminat atau tidak.

Interest

Berminat (interested) berarti ingin mengetahui lebih lanjut. Jadi dari kita, memang sudah harus melakukan klasifikasi: konten mana untuk mendapatkan perhatian, konten mana untuk menjelaskan lebih lanjut (hanya kepada yang berminat). Kepada yang sudah menerima penjelasan kita, terbagi lagi menjadi 2: berkehendak atau tidak.

Desire

Yang sudah berkehendak (desire) membeli, akan mengecek kembali kemampuan mereka. Hal-hal yang akan dipertimbangkan: berapa harganya (termasuk apakah worth it atau tidak), bagaimana cara membayarnya, dan bagaimana memperoleh produk/layanan tersebut (diambil di tempat, di antar ke rumah, mendapat link download, dan sebagainya).

Action

Action adalah tahap terakhir yang dipikirkan dan dilakukan oleh konsumen. Yakni mengeksekusi (to act) pembelanjaan tersebut. Bentuknya bisa mengisi formulir Purchase Order (PO), membawa barang ke kasir, add to cart kalau di e-commerce, dan lain sebagainya.

4 Hypno Copywriting

Tanpa perlu menuliskan ulang, karena saya sudah setuju dengan apa yang didefinisikan oleh maxmanroe.com mengenai hypno copywriting, berikut ini:

Kata hipnotis mungkin terkadang didefinisikan sebagai suatu perilaku persuasif yang membuat seseorang atau sekelompok orang menjadi tidak sadar dan berada di bawah pengaruh pihak-pihak tertentu. Pun hampir serupa konsep hypnotic writing sebenarnya mengadopsi maksud yang sama, namun dilakukan secara bertanggung jawab daripada teknik hipnotis yang sering dilakukan sebagai metode kejahatan.

Hypnotic writing adalah suatu teknik pemilihan kata-kata yang sengaja digunakan untuk mengarahkan pembaca kepada maksud tertentu. Biasanya teknik hypnotic writing ini digunakan dalam dunia bisnis untuk mengarahkan ketertarikan dan keinginan seseorang akan produk atau jasa tertentu. Hasilnya, penjualan suatu produk atau jasa memiliki tingkat keberhasilan yang lebih tinggi bila salah satu teknik pemasarannya mengandalkan hypnotic writing.

Pemilihan kata dalam teknik hypnotic writing harus dilakukan secara seksama untuk mengarahkan seseorang ke dalam situasi ingin membeli atau mencoba suatu produk atau jasa yang kita tawarkan. Secara ilmiah, hypnotic writing bisa dijelaskan sebagai pemilihan kata-kata yang mampu memicu sekresi hormon endorfin dan serotonin dalam tubuh.

Sekresi kedua jenis hormon ini kemudian memberikan efek perasaan senang pada seseorang. Sehingga rasa senang dan tertarik tersebut membuat seseorang jadi tergerak untuk melakukan atau mencoba apa yang dijelaskan pada sebuah tulisan.

Kalau maxmanroe bilang soal dua hormon, Darmawan Aji bilang ada FILTER KRITIS pada manusia. Hpyno writing harus bisa menembus filter tersebut. Sesuai latar belakangnya, konsumen akan kritis terhadap informasi yang diberikan. Jadi dengan memahami karakteristik audience, akan membantu kita memilih dan menentukan kata yang tepat.

Mudah-mudahan semua informasi tersebut bisa dimanfaatkan ya oleh teman-teman pembaca sekalian. Kalau ada pertanyaan atau pendapat, sangat ditunggu partisipasinya di kolom komentar.

Terima kasih.


Omong-omong, saya masih mempromosikan buku Freelance 101. Berikut ini informasinya:

Lebaran ala Covid-19

Setelah Ramadhan combo covid-19, kali ini bagaimana Lebaran di pandemi yg sama?

Sejak semalam, yakni di malam lebaran (notabene sudah 1 Syawal), sudah gelisah duluan. Kudu nge-briefing and coaching si Anak Dua. Apa 30 hari yang sudah lewat, dan apa yang akan kita lakukan di pagi harinya (Shalat Ied). Coaching-nya meliputi 8 kali takbir di rakaat pertama (termasuk takbir pertama banget), 6 kali takbir (include setelah bangun dari sujud) di rakaat kedua, dan apa yang dibaca (subhanallah, wa alhamdulillah, wa laa ilaha illahu, allahu akbar).

Kalau bukan Lebaran Covid-19 ini, saya juga gak belajar bahwa ada sunnahnya untuk membaca Al A’la (Sabbihisma rabbikal a’la) di rakaat pertama dan Al Ghashiyah (Hal ‘ataka haditsul ghasiyah) di rakaat kedua.

Masjid RW di RT saya sebenarnya menyelenggarakan Shalat Ied, bahkan sejak beberapa malam terakhir mengadakan tarawih — harap maklum ya, banyak pensiunannya, tampaknya kehilangan pertemanan sekali kalau tidak ‘bermain’ di masjid.

Namun, kami memilih untuk ‘Ied di rumah saja. That’s why saya belajar jadi imam.

Rindu Ramadhan

Jadi, sejak magrib kemarin sampai sholat tadi masih galaw-galaw gitu. Phhysically, Ramadhan memang tidak nyaman ya. Bangun sebelum subuh, masak, makan sahur, harus ditahan sampai beres subuh-an. Bahkan jangan tidur sampai matahari terbit, deh. Bangunnya gak akan enak kalau tidurnya di jam-jam tersebut.

Di sisi lain, bulan Ramadhan adalah satu-satunya momentum dan medium untuk melatih kita meningkatkan intensitas ibadah. Ya lewat tarawih, tilawah Al Quran, iktikaf, dll.

Jelas berat untuk meraih semuanya dalam satu Ramadhan. Setidaknya, kita bisa meningkatkan satu aspek di satu Ramadhan, kemudian aspek lainnya di Ramadhan.

Makanya kita diajarkan untuk berdoa agar tetap dipertemukan dengan Ramadhan tahun depan, ‘kan? Simply karena Ramadhan bisa membantu meningkatkan amal ibadah.

Physical Distancing

Ramadhan + Lebaran di musim pandemi begini memang sangat berbeda rasanya. Sebagai negara bangsa dengan kebiasaan guyub, alias apa-apa kudu bareng, ‘mengekor’ ke satu informal leader tertentu, lebih ramai lebih enak/nyaman, dst-nya, lebaran kali ini terasa sekali sepinya. Dalam skala tertentu, sepi = sedih.

Kalau selama Ramadhan, loneliness untuk introvert seperti saya malah membuat produktif lho. Ngajinya jadi lebih banyak, tarawih gak harus di masjid, dsb.

Tapi beda sekali dengan tahun-tahun sebelumnya di mana kita bisa mudik, puasa, tarawih, dan lebaran bareng dengan keluarga. Crowd attract happiness indeed. But physical distancing keep us apart and make us feel lonely. Buat apa mudik kalau malah menyebarkan virus. Jadinya hanya bisa mengirim doa (and hampers!) dari sini.

Lebaran ini unik di tiap negara. Kalau Indonesia unik dengan crowd dan keguyubannya, maka di negara-negara Arab malah sepi di tanggal 1 Syawalnya. Bahkan, tanggal 2 Syawal langsung menggeber puasa Syawal sepanjang 6 hari berturut-turut. Link Kumparan berikut ini mengulasnya.

Pasca Lebaran

Di New Normal, saya singgung bahwa banyak hal sedang bergeser (shifting). Begitu kuatnya hingga menjadi sesuatu yang biasa/normal.

WFH akan kita jalani dengan fisik yang lebih nyaman. Kapanpun lapar/hausnya bisa makan/minum. Tidak menunggu adzan magrib.

Anak Dua yang mestinya Juli ini mulai sekolah, kayaknya perlu kami tunda dulu. Setidaknya satu semester. Kita kurang paham dampak Covid-19 ke anak-anak ini sebenarnya gimana. Only conservative thinking applied.

Frozen food makin eksis juga. Bagian dari New Normal yang apabila menunggu vaksin saja, paling cepat sedikitnya 2-3 tahun.

Pendapatan yang lebih rendah bagi masyarakat kita, setidaknya juga berlangsung 2-3 tahun ke depan. Implementasi protokol-protokol kesehatan pasti berdampak pada perekonomian. New Normal-nya adalah, membiasakan diri untuk lebih ketat mengelola keuangan.

FYI, perputaran ekonomi dari yang didorong oleh THR untuk mudik, belanja baju lebaran, kirim hampers, adalah perputaran yang sesaat sifatnya. Di sisi lain, sedihanya adalah crowds tersebut akan menjadi bibit-bibit cluster covid-19 yang baru.

Show atau entertainment macam sepakbola di musim yang baru, belum tentu akan dilanjutkan. English Premier League (EPL) sebagai yang paling bergengsi, juga masih bimbang. Makin ke sini, perkembangan antara negara semakin berbeda-beda. Liga Jerman (Bundesliga) termasuk yang beruntung karena tampaknya berjalan baik. Hari ini sudah pekan kedua berjalan pasca pandemi.

Selamat merayakan hari raya idulfitri 114 Hijriyah. Mohon maaf lahir dan batin. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala menerima amal ibadah kita di bulan Ramadhan yang lalu, dan semoga kita dipertemukan kembali dengan Ramadhan tahun depan. Aamiin.

NB: Pre-Order buku terbaru saya, “Freelance 101” telah dibuka. Buku ini memperkenalkan topik-topik umum seputar pekerjaan lepas (freelancing):

  1. Ada peluang apa saja untuk menjadi pekerja lepas
  2. Bagaimana cara memulai freelancing
  3. Bagaiaman para freelance beroperasi sehari-hari
  4. Mengatasi tantang freelance banyak sekali
  5. Meningkatkan produktifitas
  6. Kerja jarak jauh

Untuk ikut memesan, silakan tombol di bawah ini:

Harapan untuk Ramadhan Tahun Depan

Ramadhan 1441 H yang akan kita kenang sepanjang masa. Combo-nya dengan Covid-19 menghadirkan experience unik ber-Ramadhan-ria.

Tidak setiap tahun saya menulis tentang Ramadhan, rupanya. Masih ada jejak di blog lama tulisan dengan tag tersebut: My Ramadhan Eating. Itu tulisan tahun 2015. Waktu itu, saya sudah menikah, tetapi masih long distance dengan keluarga. Saya di Jakarta, istri dan anak dua (waktu itu baru 2 bulan banget) di Surabaya. Masih jomblo lokal, lha. Ramadhannya masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya.

Hampir gak pernah menulis tentang bulan puasa, mudah-mudahan bisa saya ingat sebagai “berusaha untuk fokus beribadah”, ya. Instead of Ramadhannya tak teringat dan tak berkesan sama sekali.

Ramadhan yang Unik

Ramadhan tahun ini, tentu akan menjadi Ramadhan yang akan kita kenang seumur hidup kita. Betapa tidak, Ramadhan plus pandemi. Atau sebaliknya. Pokoknya, Combo banget.

Terasa banget kontrasnya, karena di Indonesia yang masyarakatnya guyub banget, bulan Syahrul Quran (bulan yang di dalamnya diturunkan permulaan Alquran) adalah momen kumpul-kumpul. Buka bareng sama si alumni ini dan komunitas itu, tarawih di masjid ini, qiyamul lail (QL) (alias iktikaf) di masjid itu, dan sebagainya.

Kontras sekali dengan ramadhan tahun ini. Yang seakan memerdekakan para introvert yang suka menyendiri. Membebaskan dari aktifitas buka bareng yang gak wajib-wajib amat, atau tarawih yang crowded. Atau mudik yang sesak dan melelahkan.

Sudah seharusnya, kita refleksikan ke ibadah Ramadhan ya. Di bulan latihan yang penuh berkah ini, seberapa mampu kita menaikkan frekuensi dan kualitas ibadah. Saya bermaksud bertanya ke diri sendiri, daripada menanyakan hal tersebut ke teman-teman pembaca sekalian. Peluangnya ada di depan mata ya. Kita tidak kemana-mana. ‘Kan kita sedang physical distancing.

Harapan untuk Tahun Depan

Cukup standard. Meskipun masih ada beberapa hari menuju final, doanya masih sama dari tahun-tahun lalu: semoga dipertemukan dengan bulannya Al-Qur’an di tahun depan. Ini yang pertama.

Kedua, supaya saya dan keluarga lebih khusyuk dan intens beribadah. Mulai dari sekarang dan seterusnya. Untuk semua jenis ibadah.

Bulan suci sebagai “gong” menyediakan momentum yang tepat untuk memotivasi anak dua untuk beribadah. Mulai dari (latihan) wudhu, iqomat, surat pendek (masih seputar tiga qul), bacaan shalat, sahur, puasa dan niatnya, berbuka dan doanya.

Bulan ini hanya sebulan di antara 12 bulan. Masih ada 11 bulan selain bulan ini. Satu bulan ini hanya ‘reminder‘. Perjuangan sebenarnya di sebelas bulan yang lain.

Kalau ada yang salah atau kurang tepat, datangnya dari saya. Sedangkan yang benar hanya dari Allah subhanahu wa ta’ala.

Bandung, hari ke-23 Ramadhan 1441 H. Mei ke-16, 2020 M.

Hilangnya Sepak bola selama pandemi

Why I love football so much and lost them even more during this pandemic.

Di masa pandemi begini, weekend kita diisi tanpa hiburan. Biasanya hiburan saya seputar sepak bola. Baca preview/prediksi, nonton live, mengulangi highlight, baca review, dst. Ampun-ampun deh kalau sudah jadi fans bola, tuh. Begini ya, Jumat baca prediksi, Sabtu-Minggu nonton, Senin baca review + ulang highlight, Selasa baca prediksi liga internasional, Rabu + Kamis nonton liga tengah pekan, Kamis + Jumat menikmati review liga tengah pekan. Eh tiba-tiba sudah jumat lagi. Siklus berulang demikian rupa sampai dengan pandemi covid-19 datang.

Dan banyak di antara kita merasa kehilangan.

But, why I love football so much?

sepak bola

Pas kapan waktu, gak sengaja main ke mantan blog lama, ketemu beberapa tulisan soal sepak bola. Sedikitnya ada 6 tulisan. Jangan malu-malu untuk klik dan baca ya, hehe. Bukan terlalu sedikit untuk dibilang have no interest. I must admit that I have loved football for almost 20 years.

Awalnya, suka pada umumnya fans bola, lha. Ada pemain dan klub favorit, skill individu, dan lain-lain yang lebih pada aspek teknis invidualnya.

Seiring waktu berjalan, tidak hanya pada tersebut di atas yang menjadi concern dan berlanjut menjadi objek observasi saya. Tapi lebih pada aspek-aspek team play dan bisnis (strategi dan keuangan). Keenam tulisan di atas merefleksikan ke mana interest saya, sebenarnya.

Team Play

Okay, team play salah satu yang menarik. Meskipun gak terlihat di keenam link di atas, ya. Haha.

Football itu mainnya 11 orang di lapangan. Tugas-tugas individu dan tim, hanya dua: bertahan dan menyerang. Mencetak gol ke gawang lawan lebih banyak daripada lawan menjebol jala kita.

Teorinya bertahan itu gampang, kamu dan tim tidak boleh bergerak sedikit pun, jarak di antara kalian harus cukup sempit supaya lawan dan bolanya tidak bisa menembus. Baik dari bawah, maupun atas.

Sebaliknya, menyerang itu mudah dipahami: sebagai kumpulan individu, kalian harus bergerak sedinamis (dynamicity) dan secair (fluidity) mungkin. Supaya pertahanan lawan kebingungan dan mudah ditembus.

Dua teori di atas tampak mudah. Namun begitu dikombinasikan, alternatif dan variasinya sangat beragam:

  • Back (belakang) bisa 3-4 orang.
  • Gelandang (tengah) dari 3-5 orang
  • Penyerang (depan) 1-3 orang.
  • totalnya harus 10 (exclude kiper)

Ketiganya, menuntut klub memiliki pemain dengan spesifikasi posisi tertentu:

  • Tiga orang di belakang, menuntut 2-4 orang bisa bermain sebagai wing back (namanya back, tapi posisinya di tengah/gelandang). Di kanan dan di kiri.
  • Tengah menuntut beberapa jenis posisi: regista (playmaker tapi dari belakang), mezzala (gelandang, tapi bisa jadi sayap, punya power dan pace), trequartista (playmaker yang lebih menyerang), holding midfielder (gelandang bertahan), hingga box-to-box. Saya sebut 5 jenis posisi, padahal kebutuhannya hanya 3-5 orang, dengan total pemain masih 11 orang (termasuk kiper). Jadi berapa orang untuk belakang dan depan?
  • Depan yang butuh 1-3 orang bisa diisi posisi: centre forward, false nine, inside forward, penyerang sayap. Yang disebut ada 4 peran, tapi maksimal hanya 3 orang. Gimana tuh?
  • Btw, posisi-posisi yang mengernyitkan dahi di atas, in total ada 12 posisi. Fyi, tim senior biasanya beranggotakan 33 pemain. Tiga di antaranya sudah menjadi jatah kiper.

Supaya bisa kompak, padat, dan jarak antar pemain sangat pendek, maka garis belakang bisa dinaik-turunkan. Ada yang memilih high defensive line (menuntut taktik semacam tiki-taka jadinya). Ada juga yang memilih direct football plus counter attacking, tapi suka kehabisan tenaga dan konsentrasi jelang akhir pertandingan.

Pilihan yang rumit, bagi pelatih. Tapi merupakan masalah stratejik bagi klub. Mengapa? Kita bahas di berikutnya.

Bisnis

Ada sekitar 33 pemain di tim utama. Sekilas, tampak cukup untuk memenuhi alternatif dan variasi taktik yang sudah disebut di atas. Kenyataannya, pengeluaran perusahaan (klub) untuk mereka semua berkisar 60%-75% dari pendapatan tahunan.

Yes, gaji dan benefit lain dalam kontrak antara klub dengan pemain, sebenarnya sangat-sangat besar pengaruhnya terhadap keuangan perusahaan.

Ingin punya marjin laba yang besar –tersirat di atas, marjin laba sekitar 25%-40%–? Mudah saja, tidak usah punya pemain bintang. Gajinya kecil, kok.

Tapi pemain bukan bintang, tidak signifikan perannya terhadap performa tim. Dia gak cukup populer juga untuk mendatangkan para penonton ke stadion –dan televisi. Hanya stadion yang penuh dan siaran televisi yang mengundang sponsor untuk memberi pemasukan pada klub.

Dari sisi usia, semakin tua seorang pemain, power dan pace-nya semakin menurun. Tapi pemain senior tetap signifikan perannya, meski tidak di lapangan, tetapi di ruang ganti dan tim di internal. In terms of leadership and example/modelling. He must be a role model, as well.

Pemain muda jelas dibutuhkan. Masih kuat, masih cepat. Tapi minim pengalaman. Bukan soal mainnya doang, tapi juga soal mental. Dari sisi usia, kita wajib mengkombinasikan pemain muda dan tua. Tim dengan average age di 28 tahun, sudah ideal banget. Persoalannya, klub gak bisa ideal di sepanjang waktu.

Sebab, sisa kontrak masing-masing pemain berbeda-beda. Ada yang tengah tahun ini habis dan bisa pindah ke klub lain tanpa klub sekarang dapat sepeserpun. Ada yang masih sisa satu tahun dan harus dijual secepatnya dengan harga terbaik. Sisa dua tahun masih menyisakan ketenangan: antara perpanjang (kalau dia main bagus) atau jual (sebelum harganya lebih turun lagi). Di sisi lain, ada yang baru 1 tahun masuk (menyisakan kontrak 3-4 tahun lagi), tetapi belum memberikan performa yang diharapkan.

Technical Director

That’s why butuh direktur teknik (Technical Director). Atau semacamnya. Yang tugasnya menjembatani pelatih yang mengurusi day-to-day tim di tempat latihan dan pertandingan, dengan klub yang menangani scouting, rekrutmen, dan pelatihan pemain muda dalam horison menengah (3-5 tahun). Sponsorship juga stratejik lho.

Di Chelsea, jabatan Petr Cech adalah Technical and Performance Advisor. Tugasnya mirip: menilai dan menganalisis pemain-pemain sekarang (individu dan tim) di mana kelebihan dan kekurangannya serta mengusulkan nama-nama yang potensial untuk direkrut. Baik mengisi celah yang lemah, maupun menggantikan pemain yang pensiun –tidak sampai mencarikan ya; jadi dari database yang ada saja.

Pendapat saya siy, tugas pelatih hanya menentukan siapa yang akan main di lapangan pas weekend atau tengah pekan. Wewenangnya terhadap 33 pemain, sebaiknya dia hanya memberikan saran saja. Kekuasaan harus dibagi-bagi. Supaya tidak terjadi kasus semacam Manchester United pasca ditinggal Sir Alex.

Sponsorship

Sponsorship juga stratejik lho. Sebagian besar kontrak sponsor tuh berdurasi 3 tahun. istilahnya, sekali teken kontrak hari ini, pendapatan klub aman untuk tiga tahun ke depan. Bagaimana dengan tahun ke empat dari hari ini? Itulah tugasnya Commercial Director mencari dan menemukan sponsor di tahun depan. Supaya pemasukan klub bisa meningkat dan stabil pemasukannya.

Bagaimana menjual klub supaya sponsor pada berdatangan dan antri? Permainan harus menarik ditonton, dong. Dan harus sering menang. Kadang, menang aja enggak cukup. Harus bisa juara. Dan yang begini ‘kan, horisonnya tahunan, ya. Menjadi tanggung jawab pelatih dan pemain untuk bermain cantik, menang, dan mempersembahkan trofi. Semua itu untuk apa? ya supaya bisa dijual ke sponsor, donk.

Eksposur klub secara geografis juga menentukan, lho. Kalau cuma bisa main di satu negara, tentu beda dengan yang main di level benua. Makin luas eksposurnya, makin bisa ditawarkan ke sponsor tertinggi.

Komersialisasi sepak bola itu menguntungkan klub. Posisi tawar ada di mereka. Sebab lebih sedikit klub untuk disponsori daripada jumlah sponsornya.

Mudah-mudahan pandemi ini segera berakhir. Kasihan klub, pemain, sponsor dan penonton –yang kehabisan hiburan– seperti saya. FYI, Bundesliga start lagi per tanggal 16 Mei.

Anyway, this is a bit too much. If you have any experience, analysis, or others please provide in the following comments ya! Thank you

New Normal

Akibat Covid-19, banyak hal di sekitar kita berubah dengan sangat cepat. Jangan cengeng, jangan lupa bersyukur. Mari beradaptasi dengan kenormalan yang baru ini.

Lagi pengen ngomongin #dirumahaja #stayathome

Kenapa? Because it shall pass, too. Sebagaimana proyek-proyek kehidupan pada umumnya. And I would like to document it here.

Yang sedikit-namun-membedakan, proyek ini agak jangka panjang. Dan memunculkan beberapa ke-new-normal-an yang baru. Jadi, bagi saya ini cukup penting untuk saya rekam di blog ini. Biasanya, akan ditengok kembali suatu waktu nanti.

Covid-19 + Ramadhan

Yang paling baru banget terasa adalah kombinasi covid-19 plus ramadhan ini. Kita masyarakat Indonesia ‘kan in many aspects, butuh berkumpul. Karena dengan berkumpul, kita semakin niat dan enjoy melakukan sesuatu. Sahur bersama keluarga, Ngabuburit, BukBer/BuBar, hingga pengalaman Tarawih bareng di Masjid. Yang terakhir ini experience yang dominan anak-anak saja, tetapi juga para orang tua.

Yang terjadi saat ini, detik ini, di bulan ini adalah everything must be done at home. Sahur ya di rumah, tak bisa ke restoran yang 24hours. Work From Home / School From Home, sudah sejak 4-5 minggu terakhir. Semakin ‘New Normal’ lha aktifitas kerja dan belajar di rumah – Iya sih, tidak semua industri dan pekerjaan bisa demikian. Buka puasa tidak lagi bisa di masjid, kafe, restoran, mall, dan sebagainya. Harus di rumah. Kemudian ‘terpaksa’ muncul imam-imam tarawih yang baru di rumah-rumah. Bapak-bapak, maupun anak lelaki di rumah ‘dipaksa’ membuka kembali Juz 30 untuk me-refresh kembali hafalan suratnya. At least, 13 surat berbeda wajib diulang setiap malam. Untung ada ketiga ‘Qul’ sangat membantu. Bukan hanya sang imam yang menarik nafas lega, demikian pula para makmum.

This is hard and hurting. But, life must go on.

Saya cuma bisa bilang ke diri sendiri, “Jangan cengeng. Dan jangan lupa bersyukur”.

Jangan Cengeng, Jangan Lupa Bersyukur

Jangan cengeng ketika hidup memaksamu berubah. Makin besar company-nya, makin dahsyat goncangannya. Restoran dine-in berubah jadi take away + delivery frozen food atau menu siap masak. Beberapa kurir yang biasa berhubungan dengan kami, mulai “menambah” portfolio dagangannya: hape, rumah, susu segar, telur, dll. Rekan yang di-layoff dari konsultan lingkungan, pindah haluan jadi take order + delivery bahan baku masakan.

Sudah kesekian kali WA saya berdering dan salah satu isi yang cukup berulang adalah ketiadaan empati kepada para pengusaha. Pekan ini harus bayar gaji. Satu-dua pekan lagi bayar THR. Dua pekan berikutnya bayar gaji lagi. Padahal usaha sedang morat-marit. Inventory menumpuk. Piutang ditunda bayar oleh customer. Padahal tagihan dari bank masih tetap berdatangan.

Ada lawyer sekaligus pengusaha hotel yang tetap bayar gaji karyawan hotelnya. Padahal kita tahu pariwisata sedang sepi. Alhamdulillah dia punya pemasukan berlebih ya. Suatu kelebihan yang tidak banyak dimiliki oleh masyarakat kita. Mungkin dia termasuk yang rajin bersyukur. Sehingga tatkala diberikan ujian kemelimpahan, tetap mampu melaluinya.

New Normal

Mereka yang merawat para ortu berusia kepala 7 ikut ambil pusing. Musababnya, “pertemanan” para ortu mereka mulai “menghilang”. Tadinya beliau-beliau para kakek-nenek ini happy dengan aktifitas pengajian beserta pada member di dalamnya. Sejak Corona datang, pertemuan offline tersebut berubah jadi zoom meeting. Which is, tidak semua orang mampu. Yang aktif bekerja seperti kita saja merasa zoom lebih melelahkan daripada bekerja biasa, apalagi di usia yang sulit adaptasi dengan teknologi, ya.

Ada yang mengajari saja terasa berat bagi mereka. Bayangkan kalau mereka seorang diri. Tinggal sendiri di rumah (masih lumayan kalau ada ART), jauh dari anak dan cucu, berteman hanya dengan tetangga yang juga masih seusia, dan seterusnya. I realized this. At least, dua teman sekolah, ternyata orang tuanya tinggal satu dan memilih hidup seorang diri saja.

But, It depends, sebenarnya. Artinya, pertemanannya masih ada, kok. Hanya saja, berubah wujud. Ke wujud yang tidak semua orang merasa nyaman dengannya. This is something new and becomes normal: New Normal. Mungkin, kita hanya harus “get used to it” alias mencoba membiasakan diri sejak sekarang agar “merasa” terbiasa nantinya.

Apa yang dialami kakek-nenek tersebut hanya salah satu contoh saja. Di segala tingkat usia, wilayah tempat tinggal, jenis industri, jenis pekerjaan, semua orang sedang mengalami perubahan-perubahan menuju kenormalan yang baru.

Kita bisa mengeluh sih dengan paksaan-paksaan untuk berubah tersebut. Tapi kita juga punya pilihan lain. Yaitu untuk tidak mengeluh dan beradaptasi secepat mungkin. Ingat, wabah ini tidak akan sebentar. Secara ekonomi, dampaknya terasa sampai 2-3 tahun akan datang.

Lebih baik berubah sekarang. Mumpung semua juga sedang berusaha berubah. By the time kita baru mau berubah, sementara dunia jauh berubah, maka kita hanya akan menjadi orang yang tertinggal dan ketinggalan.

Akhir kata, hanya mau bilang, “Jangan cengeng. Jangan lupa bersyukur”. Itu nasihat paling utama untuk diri saya sendiri.

Kalau ada kisah-kisah lain, boleh dibagikan di kolom komentar, ya. Saya janji, akan saya masukkan ke post ini juga.

Alasan Memilih Olahraga Lari

Dari menyukai futsal, tidak pernah berolahraga, hingga jatuh cinta pada olahraga lari.

Malas lari pas masih sekolah, jiwa sosial masih tinggi. Anti-anti individualis. Olahraganya sepak bola. Sama teman sekelas aja. Mainnya di lapangan punya perusahaan.

Sebelah sekolah ada tiga lapangan besar. Macam alun-alun kota gitu, lha. Dipakai upacara bendera sama pemerintah kota (pemkot) pas 17-an. Tapi main di sana engga enak. Namanya lapangan bersama ya, kan. Kudu saling permisi dan tahu “garis maya” antar tim yang lagi main. Tentu, siapa yang duluan datang bisa “atur” luas lapangan yang mereka pakai sebesar apa. Info lebih lengkap, cari #lapanganmerdeka di Instagram ya. Sekarang ramainya dari pagi sampai sore kalau Hari Minggu.

Meskipun kami anak kampung sekolah sini, tetap harus “kulo nuwun” donk. Kan lapangan bersama warga kota. Jadilah kami cari lapangan yang lebih privat.

Olahraga Anak Rantau

Pas merantau demi sekolah lagi, kebetulan ada fasilitas komplit. Lapangan bola ada, track lari juga ada. Rajinnya pas kelas 1-2 aja. Olahraga lari pagi wajib tiap hari Rabu dan Sabtu. Yang setelah sarapan, seringnya malah tidur di kelas. Kelelahan dan kekenyangan. Kelas tiga sudah malas lari pagi/sore. Rajinnya malah main bola di antara Asrama 2 dan Asrama 3. Sampai dimarahi pamong Matematika. Beliau ya ekspektasinya kita rajin belajar pagi-siang-sore-malam. Al Fatihah untuk beliau.

“Kewajiban” olahraga pas kuliah, hanya dua semester. Di semeter pertama (masih per kelas) dan semester kedua olahraga pilihan. Saya pilih renang saja. Yang saya ingat, sebagian besar gaya bebas. Saya hanya mampu gaya katak. Sisanya? Engga pernah olahraga lagi, kecuali 2 (dua) kali main futsal pas semester 8 dan 9.

Sepanjang tahun 2010-2012, ada sekelompok teman kuliah yang biasa main futsal. Itulah olahraga saya selama 2 (dua) tahun tersebut.

Bisa dikatakan, tiga tahun sejak 2012 tersebut, saya hampir enggak pernah olahraga sama sekali.

Healthy Month

Mulai tahun 2015 kalau tidak salah, alumni SMA mulai bikin kontes lari selama sebulan. Larinya masing-masing, tapi harus menyalakan aplikasi onde mande Endomondo. Jadi datanya tersimpan. Kompetisinya antar angkatan. Jadi masing-masing angkatan mengakumulasi mileage (jarak lari) sebanyak-banyaknya.

https://ikhwanalim.wordpress.com/2015/05/04/ikastarun-challenge/

Namanya tahun pertama, ada yang “memaksakan” diri hingga 500-600 km kumulatif selama sebulan. Jelas overtraining. Tidak sedikit yang cedera. Akhirnya di tahun kedua, mulai diatur mileage maksimal per orang. Maksimal per minggu 100 km, maksimal selama kontes adalah 400 km. Semakin ke sini, aturan juga semakin ketat. Misalnya tidak boleh FM (Full Marathon, 42 km) lebih dari sekali dalam seminggu.

Di tahun pertama, saya tembus 100 km lebih saja selama bulan tersebut. Dan itu tidak pernah tercapai lagi di tahun-tahun berikutnya. Lebih karena malas, persiapan (peregangan) dan istirahat yang tidak kalah pentingnya dari lari itu sendiri.

Paling heran sama mereka yang bisa tembus 400km selama sebulan. Jadwalnya sebenarnya tidak yang terlalu gimana-gimana gitu. Habis shalat subuh, langsung cus 7-10 km. Pulang kerja dengan jarak yang kurang lebih sama. Dapatkan HM dan FM masing-masing sekali setiap pekan. Mudah, bukan? Hahahahahahaha (tertawa miris).

Kalau boleh disimpulkan, di tahun 2015 itu lha saya mulai fokus dengan olahraga lari ya.

Alasan Memilih Olahraga Lari

Cukup, cukup. Preambule-nya sudah kebanyakan. Jadi langsung saja ke beberapa alasan memilih olahraga lari:

  • Olahraga yang paling mudah dilakukan. Karena tempat olahraganya cukup di jalan raya atau track lari di pusat kota. Dari kita sendiri, pakaian relatif mudah. Paling gampang, pakai kaos + celana kargo saja. Mau rumit sedikit, kaos lari yang bahannya ringan dan berpori-pori itu. Sehingga keringat cepat menguap dan tidak menambah beban saat berlari. Teman? Tidak harus ada temannya. Dengan teman, malah wajib bikin waktu dan tempat bertemu – bisa sebelum untuk lari bersama atau sesudah lari guna carbo loading bareng.
  • Lari itu sama kayak nge-blog: stress-releasing. Bahasa kerennya: runner’s high. Ini ketika hormon endorfin sudah sedemikian banyak pasca berlari sekian kilometer atau sekian puluh menit, kita akan merasakan “kelegaan” yang luar biasa enak dan nyaman.
  • Menguatkan Jantung. Jantung tuh tidak pernah berhenti bekerja sejak kita lahir hingga meninggal nanti. That’s why dia perlu diberikan latihan secara teratur dan terukur. Teratur artinya rutin. Tidak ada manfaatnya kalau hanya sesekali. Terukur artinya ada target minimal dan maksimal yang harus dicapai mengikuti hasil latihan sebelumnya.
  • Running is lonely sport. Dari preambule sebelumnya, saya belum cerita ya kenapa saya bisa dibilang stop main futsal? Because it is a team sport. Sama seperti basket, sepak bola dan olahraga tim lainnya. Kamu tidak boleh berhenti berlari karena teman kamu satu tim, butuh kamu untuk berlari. Di sepak bola, bukan hanya yang mendribel bola yang berlari, tetapi yang tidak sedang memegang bola bahkan wajib bergerak lebih cepat dan lebih jauh. Istilah populernya off-the-ball movement.
  • Me-time. Sebagai pekerja kantoran, ayah dan suami, I almost have no time. Jadi salah satu me-time saya itu ya berlari ini. Pikiran saya bisa bebas berkeliaran tanpa perlu memikirkan, menganalisis atau memutuskan sesuatu, ya ketika berlari ini.

Event Lari

Begitulah teori-teori mengapa memilih olahraga lagi. Tapi saya juga belum sekonsisten itu meski sudah sejak lima tahun lalu. Buktinya saja, setelah PSBM 2019 yang HM itu, saya belum pernah lari lagi hingga Sanlex Mewarnai yang 10 km. Padahal jaraknya kurang lebih 5-6 bulan. Sudah untung bisa finish (tanpa pernah latihan) di event lari akhir tahun tersebut. Saya sudah janji ke Anak Dua, untuk gak memaksa diri dan pulang dengan selamat. Bukan dipulangkan dengan diangkut.

Tahun 2018 sempat ikutan Ultra Marathon. Total sekitar 200 km tapi dibagi ke 16 peserta. Saya kebagian hampir 10 km dari Rajamandala di Kabupaten Bandung Barat (KBB) menuju kota Bandung. Entah apa yang saya pikirkan untuk ikut event tersebut. Sudah bayar sekitar 200ribu-300ribu, larinya malam (saya kebagian ba’da magrib) di jalan raya besar yang lampu jalannya saja belum ada, tanpa ada pengawalan, berikut probabilitas dibegal dan lain sebagainya.

Menyesal sih, tapi belum tentu ditolak kalau diajak lagi. Hehehe. Qadarullah, saya sakit pas hari-h di tahun 2019-nya. Sehingga tidak ikut tim manapun. Tahun ini event tersebut juga terancam tidak jadi karena wabah Covid-19 ini.

Biaya Olahraga Lari

Olahraga lari relatif murah. Tapi kalau sudah jadi hobi, kayak ngeblog, sangat bisa menjadi olahraga mahal. Sepatu untuk olahraga, Rp100ribu pun dapat. Tapi kalau mau sepatu yang proper, bisa di angka Rp400ribu. Itu bukan yang paling mahal ya. Masih bisa berjuta-juta rupiah untuk sepasang sepatu lari. Sepatu untuk lari di kota, tidak akan memberikan kinerja lari yang maksimal kalau dipakai untuk trail run, alias lari-lari di perbukitan, gunung, yang alamnya naik-turun dan tanahnya bervariasi dari pasir sampai batu.

Belum termasuk “kecandungan” event lari. Pocari Sweat Bandung Marathon (PSBM) menghargai Half-Marathon, 21 km sekitar Rp500ribu. Itu baru event City Marathon ya. Yang katakanlah, masih di sekitar tempat tinggal. Bayangkan kalau larinya di Bali (Maybank Bali Marathon, MBM) atau BorMar (Borobudur Marathon) yang harus naik pesawat ke Jogja, cari penginapan, dan lain sebagainya. Belum termasuk Marathon di negara lain ya.

Dengan kata lain, tidak ada batas harga untuk perlengkapan dan event lari. Sky is the limit.

Ibarat event lari, sejak awal saya menulis post ini saya mencoba “bergerak” terus tanpa henti. Pokoknya gak boleh diam. Harus bergerak terus, minimal jalan. Kalau ada sedikit energi atau semangat, harus dipaksa berlari lagi. Dan dengan demikian, sooner or later, garis finish akan tiba di hadapan dan siap kita rengkuh.

Demikian pengalaman saya soal lari, kalau kamu ada pengalaman menarik juga soal berlari, mohon dibagikan di kolom komentar di bawah, ya!

Lupa Lapar

Begitu melimpahnya makanan (di semua ruang dan waktu) sampai lupa bahwa ada mekanisme di mana menurunnya volume makanan di dalam perut yang kemudian mengirim sinyal ke otak bahwa kita sedang lapar. Ada juga sejarah awal mula lahirnya Lunch dibahas di sini.

Makanan (rasanya) ada di mana-mana. Di kantor banyak snack+minuman sachet. Pulang dari masjid (dekat kantor) melewati minimarket merah. Karena di jalan raya besar penghubung bagian utara-selatan kota, maka jalur tersebut ramai pedagang makanan. Tenda maupun warung makan. Paling banyak tentu yang gerobak-an. Mereka cari nafkah di sana, salah satunya karena ada Rumah Sakit negeri yang menopang warga satu provinsi berjumlah penduduk terbesar di negeri ini.

Di rumah juga ada makanan. Di kulkas, hampir selalu ada bahan makanan. Minimal telur ayam, deh. Alhamdulillah selalu ada rezeki untuk dibelanjakan bahan pangan. Di meja makan setidaknya ada abon (daging) sapi. Stok beras ada terus.

Pasar relatif dekat dari rumah. Bolak-balik lima ratus meter. Saya gak pintar masak. Tapi untuk tumis-menumis bisa lha. Apalagi hanya sekedar masak nasi (kan sudah ada rice cooker) dan goreng-menggoreng. Bosan sama lauk? ada toko frozen food dekat rumah. Kami sendiri beli/produksi-jual kebab, siomay, dan batagor. Semuanya frozen.

Begitu mudahnya menemui makanan; sampai lupa rasanya lapar 😀 Bahkan angka timbangan pun lupa juga untuk turun 😀 😀

Fasting

Padahal kalau mengingat mereka –yang seharusnya kita teladani segala perkataan dan perbuatannya– memberi contoh intermittent fasting dua kali sepekan. Konon katanya, malaikat nge-jurnal amal perbuatan kita di tiap dua hari tersebut. Jadi pas banget jurnal amal tersebut mau di-submit, pas ada catatan bahwa kita sedang berpuasa. Ada lagi yang beratus tahun sebelumnya, mencontohkan sehari makan sehari tidak.

Dari kedua manusia yang sangat mulia akal dan perbuatannya tersebut, tentunya berarti puasa adalah suatu aktifitas yang sangat mendatangkan kesehatan pada kita. Ini pengingat juga ya, karena Ramadhan 1441 Hijriyah tinggal 21 hari lagi. Simak kesimpulan suatu penelitian berikut ini:

Puasa merupakan cara yang terbaik untuk membersihkan racun yang tertumpuk di dalam tubuh ataupun racun yang baru masuk melalui makanan yang terkontaminasi. Karena ketika berpuasa, zat beracun yang tersimpan berpindah ke hati dalam jumlah besar. Disanalah zat-zat tersebut mengalami oksidasi (peristiwa pelepasan elektron, baik melibatkan oksigen ataupun tidak) dan bisa dimanfaatkan dengan mengeluarkan unsur racun dari zat-zat tersebut. Maka hilanglah racun yang ada dan langsung dikeluarkan dari tubuh melalui saluran pembuangan.

Ulfah, Zakiah. 2016. Manfaat Puasa dalam Perspektif Sunnah dan Kesehatan. Medan: Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam Universitas Islam Negeri Sumatera Utara.

Dalam agama saya, disyariatkan bahwa puasa hendaknya dilakukan sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Karena ini merupakan waktu-waktu di mana seseorang sangat aktif –jadi bukan berpuasa di malam hari ya– dimana proses kerja tenaga yang tersimpan dalam bentuk lemak dan glikogen juga terjadi di siang hari. Terus, otak diberi makan dari mana? Dari pemecahan dan penaikkan glukosa dalam darah hasil pemecahan di organ hati.

Lunch

Bicara soal timeline makan yang pagi-siang-malam itu, konon makan siang itu baru ada di sejak masa revolusi industri, lho. Produksi massal mulai jadi bisnis yang baru dan membutuhkan mass employee juga. Jadwal dibuat: jam masuk, lama kerja, jam pulang. Tidak terkecuali kuota waktu khusus makan siang. Jadi, makan siang sebenarnya baru ada sejak revolusi industri.

Saya sebisa mungkin menuruti suara hati perut. Tatkala lapar, baru cari makan siang. Namun, tidak semudah itu, Ferguso. Seringkali, lelah dan jenuh dengan pekerjaan sejak pagi, yang kita cari adalah obrolan hangat dengan rekan-rekan. Dan itu adanya sembari makan siang. Jadilah, dengan pura-pura sangat terpaksa, ikut beli dan makan siang bersama rekan-rekan XD. Sambil mengelus perut yang tidak kunjung mengempis.

Ada satu filosofi makan yang menarik dari teman saya. Masih di kantor yang sama. Bahwasanya mengusahakan untuk makan mengikuti jadwal. Kalau ditanya kenapa, orang-orang yang saya temui biasanya akan menjawab ada sakit maag, menghindari munculnya maag, dan seterusnya. Berbeda dengan filosofi si teman yang ternyata “sekedar” mengusahakan keteraturan saja. You know ya, beberapa orang memfokuskan pikiran dan energinya untuk hal-hal lain yang lebih dia prioritaskan. Sehingga, di luar itu, dia berusaha seadanya saja, sekedarnya saja, atau ikuti saja jadwal yang ada.

Paradoks

Di tahun 2016-2018, menurut riset ADB dan IFPRI, ternyata 22 juta orang di Indonesia menderita kelaparan kronis. Jumlah penduduk 2018 secara data Ditjen Dukcapil pada Triwulan II 2018 mencapai 263,9 juta jiwa. Jadi ada sekitar 8% penduduk yang menderita kelaparan kronis.

Mari bersyukur apabila kita tidak termasuk satu di antaranya.

Dari sisi ketahanan pangan, akses tidak merata terjadi di Indonesia. Dan kerawanan pangan tetap menjadi masalah. Sebab, Indonesia menempati urutan ke-65 di antara 113 negara dalam Indeks Keamanan Pangan Global (GFSI) yang diterbitkan oleh EIU [Economist Intelligence Unit]. Untuk diketahui, GFSI ini terdiri dari 3 (tiga) komponen: keberdayaan konsumen untuk menjangkau/memperoleh makanan (affordability), ketersediaan suplai pangan secara nasional (availability), dan kualitas serta keselamatan (quality & safety) pangan itu sendiri.

Key Take Away

Balik ke cerita awal. (Gedung) kantor saya sekarang berpindah ke daerah yang lebih sepi. Daerah pabrik. Praktis, warung makan maupun toko/minimarket yang terjangkau sama kami, berkurang drastis. Mau keluar pikir-pikir dulu, karena jaraknya gak dekat. Jajan jadi lebih terkendali. Dompet jadi lebih sehat.

Apalagi di tengah-tengah pandemi corona seperti sekarang ini. Saya menuruti ibu direktur keuangan dan pembelanjaan (finance and purchasing) di rumah soal apa dan di mana beli makan. Beliau berprinsip untuk (sementara) menahan diri dulu dari belanja yang-siap-makan (readytoeat). Lebih baik beli dari katering yang mengirim bahan mentah saja, atau ke pasar tradisional sekalian.

Ini ceritaku tentang Lupa Lapar. Kalau kamu ada cerita apa? Share di kolom komentar, ya.

Reference:

Perubahan Hidup Selama Pandemi

Bukan hanya bagaimana saya bekerja yang berubah; tetapi juga dimensi-dimensi lain dalam hidup. Dan bagaimana mengumpulkan keping-keping hikmah dari sana.

Kantor “merumahkan” separuh dari kami selama sepekan. Dan separuh lainnya di pekan berikutnya. Dan begitu seterusnya entah sampai kapan. Sampai pandemi ini berakhir, tentu saja. Tapi kapan itu? Belum ada yang tahu.

Satu yang saya yakini dari work-from-home adalah produktifitas kita tidak akan sama dengan berada di kantor. Bukan sekedar perbedaan ruang, namun juga suasana saling mendorong untuk produktif itulah yang ada di kantor. Di sanalah kita wajib menjawab tantangan bagaimana supaya tingkat performansi kita tetap sama.

Saya selalu mandi pagi sebelum bekerja. Mandi pagi adalah “ritual”. Bekerja sebelum mandi, rasanya bekerja kurang mantap. Sambil mandi, “merapal” apa-apa saja yang mau dikerjakan. Sembari me-review juga yang sudah dilakukan kemarin. Bagaimana melanjutkan pekerjaan kemarin dengan pekerjaan hari ini.

Yang jelas, tidak ada lagi ritual “melihat jalan raya” dalam perjalanan ke kantor. Percaya atau tidak, itulah yang membuat saya lebih betah di kantor daripada di rumah. Karena bekerja di rumah, sooner or later, akan membosankan.

Aktifkan tethering di HP, lalu membuka laptop harus diiringi dengan kesadaran “saya tidak bekerja sendiri”. Seseorang, atau beberapa orang rekan di kantor, sedang menunggu hasil dari yang saya kerjakan. Atau sebaliknya, saya menunggu seseorang menyerahkan sesuatu kepada saya untuk kemudian saya tindak-lanjuti. Karena saya tidak bekerja sendirian. Sama seperti di kantor, membuka youtube atau aplikasi hiburan yang lain tidak boleh lama-lama. Penulis seperti saya, malah lebih sering “terjebak” di blog-blog instead of socmed video-audio tersebut.

Anak-anak di rumah belum sekolah. Belum merasakan rutinitas belajar bersama guru di ruang kelas. Belum paham rasanya punya teman. Praktis, di rumah saya tidak terbebani untuk jadi guru sementara sebagaimana banyak orang tua yang lain. Banyak yang mengeluhkan, karena baru menyadari, bahwasanya menjadi guru itu berat ternyata. Seorang teman sampai bernyanyi, “hormati gurumu, sayangi temanmu” dst sembari mengajar anaknya di rumah. Yang baru paham setelah mempraktikkan betapa rumitnya menjadi seorang guru.

Tapi, berhubung mereka seumuran, mereka jadi teman satu sama lain. Sesekali, menjadi “musuh” bagi saudaranya. Terutama ketika jenuh melanda. Pelampiasannya ke hape tersebut di atas. Yang sedang dipakai tethering. Tidak jarang, hape dibawa pergi menjauh dari laptop sang pekerja. Sinyal menghilang, tiba-tiba luring (luar jaringan), alias offline. Usut punya usut. “pencuri” hape ternyata asyik-masyuk menikmati youtube pahlawan kesayangan yang sedang battle. Tidak lama, entah sebab yang mana -ada terlalu banyak sebab- tiba-tiba mereka “battle” sendiri. Tentu si pekerja harus meninggalkan layar, berubah peran menjadi pelerai.

Di momen lain yang tidak terjadi sekali dua kali, tiba-tiba si laptop offline. Setelah penelusuran oleh tim investigasi, ternyata hape kehabisan daya di tangan-tangan dua orang penonton (youtube). Jadilah hape di-charge. Sembari diberikan informasi, “jangan dicabut ya dari charger-nya”. Tidak lama kemudian (lagi), offline lagi. Ditengoklah ke charger. Hah?! Hapenya sudah tidak ada. Rupanya dua tersangka membawa pergi device youtube-nya “mereka”. Menonton (lagi) sampai habis daya (lagi).

Pandemi ini mengubah separuh pola makan saya. Yang sesekali jajan di warung, menjadi tidak jajan sama sekali. Harus menu rumahan. Pokoknya mengubah isi kulkas menjadi masakan aja. Sarapan nasi kuning atau kupat tahu petis terpaksa di-hold dulu. Jajan-jajan gorengan distop sama sekali. Waspada saja. Barangkali kang gorengannya termasuk OTG (orang tanpa gejala).

Belanja ke pasar ga boleh rame-rame. Cukup seorang saja. Dan perbanyak protein. Biar kuat menghadapi virus. Terpaksa merogoh kocek lebih dalam. Padahal koceknya saja enggak dalam-dalam amat. Sedapatnya saja. Sering pula belanja tahu di kang yang lewat. Kalau bukan untuk dimakan sendiri, setidaknya untuk snack dan lauk maksi-nya pak-pak tukang renov. Minimal, kami berniat supaya beliau berdua tidak ikut sakit juga. Repot kalau kami ketularan, atau mereka yang ditulari kami.

Sekian ratus menit terhemat akibat pandemi ini. Hidup jadi lebih efisien. Karena tidak menghabiskan sekian menit pergi-pulang kantor. Ambil minum beberapa langkah; bukan puluhan langkah. Meeting online, tidak di ruang meeting atau ke meja rekan. Sepatutnya jadi jalan memperbanyak amal ibadah yang ringan seperti membaca Al-Quran.

Seperti sempat saya singgung di atas, stay-at-home dan work-at-home itu membosankan. Bahkan membuat stress. Namun, ini worth it untuk dijalani dan it shall pass, too. Justru di momentum seperti inilah passion rebahan kita sedang diuji. Dunia membutuhkan kepahlawanan kita! Yaitu bagaimana kita bisa konsisten stay-at-home selama berhari-hari dan berminggu-minggu (mudah-mudahan tidak lebih dari dua bulan, ya) bersama dengan passion rebahan kita.

Hiburan saya di sabtu dan minggu malam. Kini tiada lagi. Mudah-mudahan sementara saja. Lebih baik bermain tanpa penonton di stadion di tanah-tanah Britania demi hadirnya konten sepakbola berkualitas di (layar-layar kaca) di tanah air. Sebenarnya, mereka sendiri juga tidak kuat menjalani keadaan demikian. Karena pengeluaran gaji, perawatan stadion, dan sebagainya juga jalan terus. Bisa bangkrut kalau tidak segera dijadwalkan dan dimainkan kembali partai-partai yang terhutang tersebut. Mungkin tidak semua jadwal pertandingan bisa direalisasikan, tapi setidaknya berilah kesempatan kepada para fans Liverpool untuk melihat timnya juara. Yeeaaahhhhh!!!!! (ikut lebay karena tidak juara selama 30 tahun).

Selalu ada hikmah di balik krisis. Pandemi ini memutar-balikkan kebiasaan-kebiasaan “jahiliyah” kita sebelumnya. Kumpul-kumpul yang tidak perlu. (padahal tidak ada wajah baru dalam perkumpulan tersebut. Tidak juga membicarakan proyek baru). Minum-minum gula yang berlebih via kopi dan teh di kafe. (padahal sudah minum satu di antara keduanya di rumah. Gulanya dua sdm, pula!). Ambil makanan atau pegang sesuatu tanpa cuci tangan (kini jadi lebih sering cuci tangan menggunakan sabun sampai ke punggung tangan yang dialiri air mengalir selama dua puluh detik).

Sebagai homo sapiens dan umat Nabi Muhammad, hendaknya kita menjadi manusia-manusia yang berpikir ya. Merenungi dan meresapi hikmah dari semua ini. Sulit memang membuktikan kaitan pandemi ini dengan kegagalan-kegagalan kita menjadi khalifah di muka bumi. Tapi setidaknya kita men-tafakkur-i dan berdiskusi dengan rekan maupun keluarga perihal hikmah-hikmah tersebut. Bukan mem-forward terus-terusan narasi yang sulit dibuktikan tersebut ke grup-grup WA kita. Justru, di sanalah yang membedakan kaum-kaum yang berpikir dengan yang tidak.