Pengalaman Sidang Penetapan Ahli Waris

Meskipun tidak sebanyak sidang perceraian, tetapi saya coba bagikan pengalaman saya menjalani sidang penetapan ahli waris.

Di Pengadilan Agama (PA) ada beberapa jenis sidang, tiga di antaranya adalah sidang perceraian (cerai), sidang hak asuh anak, dan sidang penetapan ahli waris.

Dua yang pertama, ada “lawan”-nya. Sementara yang terakhir saya sebut, bisa jadi “tanpa lawan” ketika semua ahli waris bersepakat untuk menyelesaikannya secara kekeluargaan/damai alias tanpa sengketa.

Ilustrasinya pakai timbangan dan palu. Kita mengharapkan ketetapan sidang yang seadil-adilnya menurut ajaran Agama Islam.

Pengadilan Agama yang berlokasi di tingkat kota/kabupaten, hanya menangani perkara-perkara dalam lingkup Agama Islam saja. Di luar itu, dilakukan di Pengadilan Negeri (PN).

Secara umum, proses sidang penetapan ahli waris hanya terbagi 3 tahap:

  1. Pendaftaran/Pengajuan Sidang
  2. Sidang Pertama
  3. Sidang Kedua (bersama saksi) sekaligus pembacaan ketetapan.

Jadi, keluaran (output) dari suatu sidang adalah dokumen tertulis yang selanjutnya kita sebut “ketetapan”.

1 Pendaftaran Sidang

Pada prinsipnya, sebelum berkas dinyatakan “diterima” oleh pihak PA, kita lengkapi sedetil-detilnya berkas yang dibutuhkan yang di antaranya adalah:

  • Akta kematian dari kelurahan-kecamatan. Surat ini dibuat berdasar surat kematian dari rumah sakit atau lembaga yang berwenang.
  • Identitas terakhir dari almarhum(ah), yaitu Kartu Keluarga (KK) dan Kartu Tanda Penduduk (KTP).
  • Akta Kelahiran almarhum(ah).
  • Bila almarhum(ah) meninggal dalam keadaan menikah, maka buktikan dengan Buku Nikah. Sebaliknya dalam keadaan sudah cerai, dibuktikan dengan Akta Perceraian.
  • Fotokopi KTP dan KK dari para ahli waris. Ingat, ahli waris belum tentu anak-anak dari yang meninggal saja ya. Bisa saja ada saudara kandung dari almarhum(ah) yang ternyata merupakan ahli waris.
  • Kalau almarhum(ah) sebelumnya pernah menikah (alias menikah dua kali atau lebih), maka lampirkan juga Buku Nikah dan Akta Cerai atas pernikahan-pernikahan yang sebelumnya. Kalau mantan pasangannya sudah meninggal juga, dibuktikan dengan Akta Kematian dari mantan pasangan tersebut.
  • Banyak materai Rp10.000,-

Biaya sidang ditentukan dari jarak pemanggilan oleh PA kepada para ahli waris. Jika Ahli Waris ada sepuluh orang, maka ada 10 pemanggilan/undangan. Lalu ditambah biaya administrasi. Bisa gunakan alamat surat-menyurat bila alamat domisili merepotkan dan menyebabkan pembengkakan biaya sidang.

Di PA Balikpapan, ada kok lembar yang memuat apa saja komponen biaya sidang itu (termasuk berapa biaya pemanggilan yang dibagi tiga menurut radius jaraknya). Lembar tersebut ‘kan ibarat “daftar menu” kalau di restoran. Terus terang, berkat lembar ini kami tidak ada mengeluarkan “dana siluman” yang se-ikhlas-nya itu sepeserpun. Malah, karena sidang hanya dua kali, ada sebagian dana yang dikembalikan. Kami mengambilnya di loket kasir.

2 Sidang Pertama

Sidang pertama berisi pengecekan oleh majelis hakim, yang terdiri dari dua hakim, satu panitera, dan dipimpin oleh hakim ketua mengenai data dan informasi yang diberikan secara tertulis maupun tanya-jawab secara lisan.

Yang perlu saya garis bawahi adalah adanya pertanyaan-pertanyaan seputar orang tua dari almarhum. Standard saja: nama, masih ada atau tidak, kalau sudah meninggal, tahun berapa meninggalnya. Informasi ini tentu diperiksa kesesuaiannya dengan Akta Kelahiran almarhum.

Apakah semua ahli waris harus hadir? Secara teori, iya. Tetapi pada praktiknya tidak mudah ‘kan. Di era internet ini, apalagi dalam situasi pandemi, sangat mungkin ahli waris “dihadirkan” via whatsapp atau zoom. Makanya, cantumkan alamat surat-menyurat saja, jangan alamat sesuai KTP. Sehingga di hari-h sidang, apabila diperlukan, bisa video call saja dengan ahli waris yang nun jauh di sana.

Pada prinsipnya, persiapkan diri saja apabila majelis hakim ingin mendalami lewat pertanyaan-pertanyaan yang lebih detil. Namun, mengingat terbatasnya waktu (di sidang kedua kami, ada 31 sidang yang harus diselesaikan oleh majelis hakim di hari tersebut), sangat mungkin majelis hakim melewati hal-hal yang dirasa tidak perlu tetapi kita sudah siapkan dokumennya.

3 Sidang Kedua

Secara konten, sidang kedua sama dengan sidang pertama.

Hanya saja kesesuaian dokumen tertulis dan pernyataan lisan di sidang pertama, diperiksakan kepada 2 (dua) orang saksi yang sudah dihadirkan oleh para ahli waris. Majelis hakim menghendaki sebisa mungkin, kedua saksi tersebut merupakan keluarga dan satu generasi dengan almarhum(ah). Tentu saja syarat tersebut tidak wajib. Dan pastinya, saksi disumpah terlebih dahulu –secara agama islam– sebelum memberikan kesaksian.

Saran: lakukan briefing kepada para saksi sebelum sidang kedua. Terkait dengan kebenaran data dan informasi yang dikumpulkan secara tertulis maupun lisan. Tidak ada salahnya menyiapkan sedikit corat-coret untuk memudahkan para saksi mengingat tahun-tahun penting. Iya, sidang ini sedikit mirip dengan ujian.

4 Ketetapan Sidang

Sidang pertama hanya berjarak 1-2 pekan dari pengumpulan berkas. Kami sempat bolak-balik tiga kali perihal menanyakan kelengkapan berkas. Di kesempatan keempat, baru kami berhasil mengumpulkan sesuai persyaratan.

Sidang kedua berjarak satu pekan saja dari sidang pertama. Kedua sidang sama-sama di hari kami.

Kami mengambil ketetapan sidang (yang sudah dibacakan dan diketuk palu di sidang kedua), pada hari Senin berikutnya.


Demikian sharing dari saya perihal Sidang Penetapan Ahli Waris. Seperti saya bilang, kalau tidak ada “lawan”-nya maka dua kali sidang sudah cukup.

Tetapi berbeda jika pihak “lawan” tidak menghendaki alias menolak tuntutan dari penuntut. Semisal sidang gugatan cerai, atau perebutan hak asuh anak yang sangat mungkin berbuntut panjang. Di hari kami sidang kedua tersebut, ada satu sidang talak yang akan bersidang untuk ke-8 kalinya.

Mudah-mudahan artikel ini bermanfaat. Bila ada pertanyaan atau hal lain ingin dibagikan, boleh banget mengisi kolom komentar.

Pengalaman Mendaftar Haji Tahun 2020 di Bandung

Proses pendaftaran haji tidak ribet. Cukup siapkan dana Rp25 juta per calon jamaah untuk tabungan haji dan beberapa dokumen saja. Lengkapnya ada di artikel berikut ini.

Ayah dan Ibu saya naik haji di usia sekitar 37 dan 35 tahun. Sementara saya dan istri, in shaa Allah akan berangkat di usia hampir 50 tahun. Tidak heran karena semakin tahun, pendaftar haji semakin banyak. Sementara kuotanya hanya sekitar 1% dari jumlah penduduk setiap negara.

Pendaftaran haji itu berarti kita mendaftar untuk mendapat kursi. Nah, kursi ini bisa didapat dengan memiliki tabungan haji senilai Rp25juta/nasabah. Jadi, harus membuat tabungan haji dulu, lalu diisi hingga tercapai nominal tersebut.

Saya dan istri membuka tabungan haji di Bank Syariah Mandiri (BSM) cabang Dago, Bandung. Kebetulan bank tersebut sudah merger dengan bank-bank syariah negara lainnya dan berganti nama menjadi Bank Syariah Indonesia (BSI).

Syarat di Bank

  1. KTP dan NPWP (bagi yang memiliki).
  2. Setoran awal buka rekening Tabungan Mabrur sebesar Rp100.000.
  3. Setoran awal BPIH sebesar Rp25.000.000.
  4. Meterai Rp10.000 sebanyak 3 lembar.
  5. Pas foto haji dengan latar belakang putih (ukuran 3×4 6 lembar dan ukuran 4×6 3 lembar).

Ketentuan Pas Foto untuk Pendaftaran Haji

Pas foto untuk haji ternyata sedikit berbeda dari pas foto biasa. Dari lembar info yang dikasih BSI, ketentuan pas foto untuk haji yaitu:

  • Warna baju/kerudung harus kontras dengan latar belakang.
  • Tidak memakai pakaian dinas.
  • Tidak menggunakan kacamata.
  • Tampak wajah minimal 80%.
  • Bagi jamaah haji wanita menggunakan busana muslim.

Memiliki Tabungan Haji

Setidaknya, ada dua keuntungan dengan memiliki tabungan haji:

Dari bank, selanjutnya kita akan mendaftar di Kemenag dengan membawa dokumen-dokumen berikut yang diberikan oleh pihak bank:

  1. Surat Kuasa/Wakalah, isinya pemberian kuasa dari kita kepada Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) untuk mengelola seluruh dana BPIH yang kita setorkan.
  2. Surat Pernyataan Calon Jamaah Haji, isinya pernyataan bahwa sudah memenuhi persyaratan haji, dkk.
  3. Tanda Bukti Setoran Awal Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji, isinya bukti bahwa bank sudah menerima setoran kita, dan di situ juga tertera nomor validasi.

Pendaftaran di Kemenag Kota Bandung

Di Kemenag Kota Bandung yang berlokasi di Jalan Soekarno-Hatta No.498, Kelurahan Batununggal, Kecamatan Bandung Kidul, Kota Bandung, Jawa Barat 40212.

  • Berusia minimal 12 tahun pada saat mendaftar.
  • KTP yang masih berlaku sesuai domisili.
  • Kartu Keluarga.
  • Akta Kelahiran atau Surat Kenal Lahir atau Kutipan Akta Nikah atau Ijazah (salah satu).
  • Buku Tabungan Mabrur atas nama jamaah yang bersangkutan.
  • Nomor Validasi Pembayaran Setoran Awal BPIH.

Seingat saya, ada kekurangan dalam jumlah pas foto. Jadilah di salah satu kios di Kemenag tersebut, yaitu kios untuk print dan fotocopy, saya cetak beberapa lembar pas foto lagi.

Kios satu lagi adalah warung makan, hehe. Kami makan soto di sana. Hahaha.

Biaya Naik Haji

Uang Rp25juta yang menjadi syarat, bukanlah nilai akhir Ongkos Naik Haji (ONH) yang berbeda-beda di tiap embarkasi. Embarkasi adalah istilah untuk pelatihan bagi calon jamaah haji yang sekaligus menjadi titik keberangkatan/penerbangan dari Indonesia.

Kota Bandung, sepertinya akan berangkat dari Jakarta (Rp34.772.602,-) untuk tahun 2021. Jadi kekurangan inilah yang harus dilunasi menjelang keberangkatan ke tanah suci.

Beberapa Catatan:

  • Ada perasaan menyesal karena baru mendaftar haji. Antara 17-19 tahun kami harus menunggu. Tapi ya memang sudah begitulah jalan ceritanya. Karena menikah dulu baru memutuskan daftar haji, ‘kan. Haha. Gak seru kali ya kalau masih single sudah mendaftar haji
  • Karena haji bersifat “wajib bagi yang mampu” dan antrean haji itu panjang serta lama, maka saya sarankan daftar haji dulu saja. Nanti kalau ada rezeki, baru berangkat Umroh. Kisaran Rp30 juta bisa dapat akomodasi yang cukup. Yes, nilai segitu relatif mirip lha ya sama minimal isi tabungan untuk mendapat porsi haji.
  • Semua proses pendaftaran di bank dan kemenag sebenarnya bisa selesai dalam satu hari. Namun, saya kemarin bolak-balik ke bank. Karena miskomunikasi perihal pasfoto yang 80% berisi wajah tersebut.

Demikian singkat cerita saya tentang mendaftar haji di Kota Bandung. Barangkali ada pertanyaan atau tanggapan, silakan berbagi di kolom komentar ya.

Pengalaman Menempuh Tol Trans Jawa

Disclaimer: saya gak menempuh seluruh tolnya, kok. Hanya mulai dari Kertajati sampai Tambak Sumur saja.

Preliminary

Kami sangat suka naik kereta untuk perjalanan antarkota. Namun, karena akan membawa bayi dan situasi kondisi masih pandemi, kami tidak yakin untuk menggunakan moda transportasi yang satu itu.

Alasan mudik kali ini adalah sudah hampir 2 tahun tidak pulang. Apalagi kami mau memperkenalkan anggota baru kepada eyang kakung dan eyang putri, hehe. Jadi mumpung kasus sedang turun, diiringi dengan kewaspadaan, kami memilih moda transportasi yang lebih private. Instead of public transportation.

Awalnya, kami berencana menggunakan mobil tipe innova. Namun, mengingat kapasitas barang bawaan yang banyak, kami memutuskan mengganti dengan Hi-Ace. Sesama Toyota juga, hehehe.

Tentu saja harga sewanya berbeda. Siap-siap deh merogoh kocek lebih dalam. Namun, biaya BBM menjadi lebih ringan karena tidak menggunakan bensin Pertamax, melainkan pakai solar. Soal rincian biaya, saya terangkan di bagian akhir tulisan ini ya.

Kami tidak menggunakan tol pasteur ketika start dari Bandung. Karena alasan biaya. Hehe. Baru start menggunakan tol sejak di Kertajati. Itu lho, yang dekat dengan Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB). FYI, bandara ini sudah tersambung dengan tol ke arah timur Pulau Jawa. Tetapi belum tersambung ke arah barat. Pembebasan lahan masih berlangsung untuk tol Cisumdawu (Cileunyi – Sumedang – Dawuan).

Adventure Starts Here

Mulai berangkat jam 6.30 WIB ke arah timur, yaitu ke Jatinangor (salah satu kecamatan di Sumedang) via jalan AH. Nasution. Lanjut ke timur lagi ke pusat kota Sumedang. Kami terkejut karena rupanya jalur tersebut menanjak dan berkelok-kelok melebihi jalur ke Garut bagian selatan.

Sampai di dataran yang agak luas. Disangka sudah sampai di pusat kota Sumedang, ternyata itu adalah kecamatan Tanjungsari. You know lha, biasanya kecamatan-kecamatan yang “berdiri sendiri” ini punya ciri khas pasar tradisional yang terintegrasi dengan terminal. Mirip-mirip di kecamatan Lembang gitu.

Meninggalkan kecamatan Tanjungsari, kami “turun gunung” alias menuruni perbukitan dengan jalan yang berkelok-kelok lagi. Kalau tadi naik, sekarang turun. Dari sinilah baru menemukan pusat Kabupaten Sumedang. Lanjut lagi dengan perasaan yang sudah tidak tertarik karena cenderung membosankan. Apalagi karena menggunakan “supir tembak” kami harus terus mengingatkan beliau supaya tidak ngebut hingga 120km/jam.

Masuk gerbang tol di Kertajati. Mengalami kombinasi jalan aspal dan jalan semen. FYI, yang baik untuk ban kendaraan darat sebenarnya adalah jalan aspal, tetapi dengan anggaran pembuatan jalan raya yang sama, bisa diperoleh jarak jalan semen yang lebi jauh.

Total kami menggunakan rest area hingga 4 kali. Tidak semuanya rest area yang besar. Yang masih segar dalam ingatan adalah rest area km 166 di Cipali. Di sini, ada masjid yang disponsori oleh Bank Mandiri Syariah (sekarang BSI, ya).

Rest area berikutnya adalah km 429 Tol Ungaran – Bawen. Rest area ini penuh sekali. Berhubung kapasitasnya memang mumpuni, jadi segala kebutuhan makan, minum, istirahat dan sholat dhuhur tetap terpenuhi. Kami sempat membeli oleh-oleh Lumpia Semarang dan Kue Moci yang khas Semarang juga. Jangan tanya soal harga ya. Pastinya jauh lebih mahal daripada yang biasa. Karena ‘kan diposisikan sebagai “panganan oleh-oleh”.

tol trans jawa
Berhubung ini perjalanan bersama keluarga yang sudah jelas merepotkan, jadi ambil gambar cukup sekali ya. Sebagai bukti saya benar-benar menjalani adventure ini. Hahaha.

Dari rest area ini, tidak lama kami memasuki kota Solo. Di kota ini, sekilas saya lihat ada 4 gerbang tol. Salah satu di antaranya menuju Bandara Adi Soemarmo. Yang menggembirakan sekaligus melegakan adalah kami melihat plang hijau bertuliskan “Surabaya” yang berwarna putih. Artinya, tidak lama lagi akan sampai di Surabaya. Setelah lihat gmaps, rupanya kisaran 3 jam saja.

Selanjutnya, di jalur tol praktis tidak ada yang menarik. Kami sudah lelah dan bosan. Meski excited karena tidak lama lagi perjalanan akan berakhir, namun jalurnya relatif sepi kendaraan. Tidak heran, para mobil “pesaing” memacu gasnya hingga 140 km/jam. Lagi-lagi, kami selalu mengingatkan pak driver untuk tidak terpancing dengan “ajakan balapan” tersebut.

Kami tiba di kecamatan Rungkut, kota Surabaya jam 18.30 WIB. Jadi lama waktu perjalanan total mencapai 12 jam. Akan lebih cepat bila menggunakan jalur tol ya, tentu saja.

Feeling

Berhubung ini pengalaman pertama, jadilah ini experience yang sangat seru dan menarik. Lelah? Iya. Apakah ingin mencoba lagi? Tentu saja tidak, hehehe.

Sebagai penumpang kendaraan jalur darat dan volume kecil (Hi-Ace hanya memuat 8 orang, menjadi 9 dengan supir), kami sangat mengkhawatirkan keamanan dan keselamatan. Asal tahu saja, persentase kecelakaan tertinggi kan adanya di jalur darat seperti tol ya, bukan di jalur high-tech seperti terbang dengan pesawat. Dengan kata lain, meski perjalanan ini sangat menarik, tetapi kami harus terus waspada perihal kecepatan dan keselamatan perjalanan.

Cost

Berhubung ini bukan public transport yang pergi dari kota A menuju kota B, dengan asumsi akan mendapat penumpang di kota B, maka harga yang diberikan kepada kami merupakan harga yang dianggarkan untuk bolak-balik. Berikut adalah rinciannya:

Mobil 1.400K
BBM 1.600K
Driver 1.000K
Tol 1.500K
Uang makan driver balik 100K
Total 5.600K

Pengalaman Mengurus Akta Kematian di Kelurahan Sungai Nangka Kota Balikpapan

Dokumen terkait yang dibutuhkan dalam mengurus pembuatan Akta Kematian, serta manfaat dokumen Akta Kematian.

Setelah bermenye-menye tentang almarhum, meski masih terkenang dengan segala kebaikan beliau, dan tentu tidak ingin move on ya, maka izinkan saya menuliskan proses dan deliverable dalam menyiapkan dokumen Akta Kematian ya.

Pada dasarnya, Akta Kematian adalah dokumen dari negara yang menyatakan bahwa seseorang sudah meninggal dunia.

Ibarat kata, untuk urusan kenegaraan semisal waris, tanah/properti, kendaraan mobil/motor, maka harus didasarkan pada dokumen negara juga. Apakah seseorang yang sudah dinyatakan meninggal dunia oleh dokter di rumah sakit, lantas juga MD menurut negara? Belum tentu. Oleh sebab itulah kita wajib mengurus Akta Kematian ini.

Yang merilis Akta Kematian adalah kelurahan.

Namun, karena proses administrasi di negara kita ini berbasis kewilayahan, maka harus dimulai dari RT/RW tempat kita tinggal terlebih dahulu. Idealnya, segala yang terjadi di wilayah non-formal tersebut diketahui oleh RT/RW (lahir, meninggal, dsb). No wonder, harus “diantar” dengan Surat Pengantar dulu dari RT/RW ke Kelurahan, yaitu wilayah formal terkecil menurut negara.

Salah satu yang diantarkan adalah “Surat Keterangan Meninggal Dunia” yang bisa dikeluarkan oleh dokter di Rumah Sakit. Itu kalau MD di RS. Bagaimana jika MD ketika berkendara di jalan raya? Yang bisa merilis surat sejenis adalah kepolisian (mungkin Polantas, ya). Jika tidak keduanya, setidaknya ada surat sejenis dari wilayah tempat tinggal. Representasi negara dalam hal ini adalah Puskesmas. Jadi, dokter di Puskesmas perlu melakukan visum dan merilis surat tersebut. Saya kira, ini dilakukan kalau almarhum meninggal di rumah dan tidak dibawa ke rumah sakit.

Persyaratan Dokumen

Dokumen terkait yang dibutuhkan:

  • Surat Keterangan Meninggal Dunia
  • Kartu Keluarga (KK) almarhum
  • KTP almarhum
  • Form permohonan yang sudah diisi pemohon berikut fotokopi KTP pemohon
  • Pemohon juga membuat Surat Pernyataan bahwa sebelumnya, almarhum tidak pernah dibuatkan Akta Kematian
  • Dua saksi (nama dan tandatangan) berikut fotokopi KTP-nya

Syukur alhamdulillah, pengurusan tersebut semakin dimudahkan karena bisa dilakukan secara digital. Cukup dengan mengambil gambar (memfoto) dokumen-dokumen tersebut lalu mengunggahnya (upload) ke laman capil.balikpapan.go.id/layanan.

Manfaat Akta Kematian

Memangnya, dokumen Akta Kematian bisa dipakai untuk apa saja?