Menyoal Bunuh Diri di Kalangan Muda

Dari risetnya Benny Prawira Siauw, 34,5% mahasiswa di Jakarta yang berusia 18-24 tahun, ingin bunuh diri. Jumlah respondennya 284 orang. Disebutkan di artikel tirto.id di sini: skripsi, depresi, dan bunuh diri: everybody hurts 

Saya sudah beberapa bulan terakhir melihat fenomena ini. Kapan hari, teman desainer di kantor kami di Bandung, sempat ikut konseling psikolog gitu. Hanya ada lima orang. Tapi tiga di antaranya adalah mahasiswa.

Baru beberapa hari lalu, ada lagi mahasiswa Unpad suicide. Ternyata dalam 81 hari terakhir, ada tiga kejadian yang sama. Ini link beritanya di detik.

Menurut Benny, diwawancara oleh tirto, tren depresi di kalangan muda tidak hanya terjadi di Indonesia. Tapi memang telah terjadi di banyak negara. Contohnya Inggris, Amerika Serikat, Jepang dan Australia.

Setidaknya ada 95 mahasiswa di kampus Inggris yang memilih bunuh diri sepanjang 2016-2017. Di Jepang, ada 250 anak dan remaja yang tewas sepanjang rentang tahun yang sama.

Di Indonesia, sejak Mei 2016 sampai Desember 2018 saja, riset Tirto dari beragam pemberitaan online mencatat ada 20 kasus bunuh diri mahasiswa. Sebagian besar diduga karena tugas dan skripsi.

Dari infografisnya tirto, ada lima hal yang berkaitan dengan pemikiran suicidal. Salah satunya adalah masalah akademis.

Saya sudah lama enggak jadi mahasiswa. Jadi gak bisa merasakan langsung apa yang mereka alami. Tentu saya turut berempati.

Saya dulu juga bukan contoh mahasiswa yang baik. Diawali dengan ketidaksukaan dan ketidakcocokan dengan jurusan tersebut. Akibatnya, saya tidak berkembang di sana. Tapi saya kira, lebih mencari pelarian dengan organisasi mahasiswa saja. Yang kemudian menjadi penting, hanyalah asal lulus saja mata kuliahnya. Yang penting jadi sarjana.

Terus terang, saya gak mengejar nilai. IPK itu sesuatu yang “bisa diusahakan, tapi kadang juga gak bisa diapa-apakan lagi”. Belajar keras, bikin tim belajar, latihan soal akan memperbaiki nilai kita. Tapi ada titik di mana semua upaya itu mentok untuk mengejar nilai. Alias IPK mentok gak bisa dikatrol lagi. Kalau sudah mentok begitu, diambil pusing malah bikin jiwa kita tertekan. Kita akan stres sendiri. Karena pasti akan melakukan komparasi dengan teman-teman. Terutama mereka yang nilainya lebih bagus.

Dari pengalaman saya, kita memang harus menjaga “kewarasan” jiwa, sih. Salah satu yang selalu berhasil, untuk saya pribadi adalah dengan shalat lima waktu. Kurang satu aja, rasanya uring-uringan. Bukan tipe merasa bersalah atau berdosa, ya. Dulu sih kalau ada sholat yang terlupa, memang merasa bersalah/berdosa.

Jiwa yang uring-uringan ini indikasi kecil bahwa jiwa saya sedang tidak sehat. Solusi yang tokcer buat saya (dan mungkin untuk teman-teman pembaca) adalah kembali ke agama dan keyakinan dulu.

Dipicu Gadget dan Social Media

Gadget dan social media ternyata jadi pemicu bagi remaja juga. Universitas Gajah Mada (UGM) ternyata pernah membahas hal ini juga di sini. Satu poin yang dimunculkan adalah kemampuan menyeleksi dan menyaring (filtering) oleh remaja ternyata berbeda-beda. Gagal filtering yang negatif, jadi sebab eksposur negatif pada remaja kita.

Tentang hal ini, saya dan istri sempat berdiskusi panjang tentang kapan anak-anak sudah pantas memiliki akun socmed sendiri. Saya bikin akun facebook di usia 21 tahun. Sejak itu saya aktif main fesbuk. Istri di usia 18 tahun. Saya curious soal ini karena melihat fenomena sedari kecil sudah punya akun socmed. Bahkan beberapa ortu sudah membuat akun Instagram (IG) untuk anaknya. No problem sih, selama masih diamankan oleh ortunya. Tapi poin saya adalah, sooner or later anak-anak akan memegang socmed. Tapi seberapa cepat mereka diperbolehkan membuat akun tersebut? Pada usia berapa boleh memiliki akun sendiri?

Sebab, di IG banyak sekali visualisasi tentang gambaran ideal. Tubuh ideal, wajah ideal, pakaian bagus, tujuan wisata luar negeri, dlsb. Which is, gagal filtering bisa menyebabkan kita (terutama para remaja) gagal memprioritaskan things in life. Worst case nya di situ. Kalau tanda -tanda lain yang mengindikasikan depresi, ada semisal turunnya rasa percaya diri dan adanya kesulitan untuk berkonsentrasi. Sebagaimana disampaikan Prof. Sofia Retnowati dalam acara di UGM tersebut.

Pemberitaan Mengedepankan Humanisme

Bagi awak media, suicide perlu diberitakan. Bad news is a good news. Namun demikian, hendaknya perlu diberitakan secara positif, mengedepankan humanisme, serta membangun harapan. Sehingga lebih mengedukasi dan bersifat preventif terhadap tindakan suicidal itu sendiri. Ini link berita di mana Aliansi Jurnalis Independen (AJI) mengajak media massa untuk mengedepankan humanisme dalam pemberitaan suicidal.

Saya pribadi, sebagai yang pernah mendiagnosis diri sendiri pernah mengalami tekanan kejiwaan, merasakan kesedihan yang sama tatkala mendengar pemberitaan bunuh diri di media massa. Pasalnya, pemberitaan tersebut belum diiringi ajakan untuk menghubungi dan berdiskusi dengan pihak terkait seperti psikolog, psikiater, maupun klinik kesehatan jiwa.

Cara Menetapkan Tarif Freelance

Mungkin topik tarif freelance ini paling ditunggu-tunggu, ya. Haha.

Saya pribadi, as penjual dan pembeli juga memberi bobot tinggi sama pricing ini. Sebagai konsumen, mau cocoknya kayak apa juga, kalo gak sesuai budget bisa batal beli. As penjual, saya juga gak mau dibayar murah. Apalagi dianggap murahan. Makanya topik ini penting banget untuk saya share.

Pertama-tama, bisa dimulai dengan tarif mandays dulu sewaktu masih kerja kantoran. Itu kalau anda pernah kerja kantoran. Misal dulu gaji Rp4,4juta. Berarti mandays anda Rp200ribu. Karena sebulan kerja itu sekitar 21-22 hari. Dengan catatan anda kerja senin-jumat. Kalau kerjanya senin-sabtu bergaji Rp2,5juta maka per harinya sekitar Rp100ribu. Tapi yang terakhir ini gak yakin ada deh. Itu cuma permisalan aja untuk menghitung tarif harian.

Bisa juga mulai dari harga di pasar freelance. Seperti di sribulancer.com, freelancer.co.id, dan sejenisnya. Harus diingat bahwa yang menyodorkan jasa pertama kali di sana, memulainya dengan angka yang menyedihkan. Misalnya, desain logo Rp50ribu. Penulisan artikel Rp20ribu. Lucunya, ada saja yang berani membayar. Tapi bagaimana lagi, demikian kan hukum supply-demand bekerja.

Harga supply-demand sebenarnya harga berdasar pada produk/layanannya. Ini kategori kedua.

Kalau sukses mulai dari pasar freelance, bisa lha menaikkan harga sedikit demi sedikit. Intinya, naikkan harga setelah dapat trust (kepercayaan) dari klien yang sama. Jangan mudah pindah klien. Lebih susah dapat klien daripada mengerjakan proyek baru dari klien lama. Jadi lebih baik sama klien lama, dengan harga yang dia tawar sedikit, dan pembayaran lancar. Daripada harus cari klien baru terus. Bukannya melarang sama sekali, ya. Tapi ada kombinasi sehat yang mesti kita pelihara. Misal 4-5 klien lama + 1 klien baru.

Bicara soal content, untuk klien lama atau baru sebenarnya jelas banget bedanya. Ini kaitan sama kerjaan fotografi, desain, menulis, dsb ya. Makin lama kita bareng dia, maka makin kenal juga kita sama mereka. Makin dalam pula pemahaman (understanding) kita terhadap mereka. Pastinya ini memudahkan kita untuk menemukan deep insight (wawasan mendalam) tentang konsumen/user/reader mereka. Dari sisi mereka, makin betah mereka sama kita, berarti semakin minim upaya mereka untuk mengurus kita dari waktu ke waktu. Simply karena mereka sudah engage banget sama kita.

Harga bisa lebih tinggi, kalau kita menawarkan proses kerja yang sistematis, jelas dan mudah dimengerti. Contoh, freelance yang mantan jurnalis biasanya jelas banget tuh cara kerjanya. Turun ke lapangan ambil data, atau cari referensi sekunder dari buku, artikel (termasuk googling), dsb. Baru menyusun tulisan, editing, review sampai proses rilis. Jadi, temukan metodologi kerja kita, sempurnakan (alias buktikan) dengan latihan dan proyek terus-menerus. Kemudian jadikan metodologi tersebut sebagai nilai jual kita. Sehingga kita bisa memasang tarif yang lebih tinggi dari sekitar kita.

Faktor ke sekian, perhatikan isi kantong calon pembayar. Kalau kantongnya dalam, maka bisa lha kita kalikan 2-3 kali lipat. Saya perhatikan, ini orang tertentu saja. Kebanyakan klien saya, gak di kategori seperti ini. Mungkin ini merefleksikan pasar besarnya ya. Bahwa hanya 5%-10% aja yang bisa membayar lebih.

Pendekatan mandays itu satu hal. Semua yang disebut di atas itu manhour/mandays/manmonths. Karena sudah ada proses yang jelas, berikut dengan waktu (dan proposinya) yang kita upayakan. Sementara itu, pendekatan dari produk/service-nya sendiri itu lain pendekatan. Nah, dari kedua kategori harga tersebut, saya ambil harga tengahnya. Demikian pengalaman saya.

Terakhir, jangan lupa sediakan ruang untuk negosiasi. Kalau saya, dialokasikan sampai 30% untuk dinego. Jangan terlalu rapat ruang negonya. Bahkan dari harga yang saya kehendaki, itulah yang saya naikkan sampai 30%. Sambil berharap, akan deal di harga sekitar 85%-90%. Hehe. Misal, kita harap deal di Rp700ribu. Maka sebut harga pertama di Rp1juta.

Hahaha. At the end, saya gak akan mengeluarkan angka, ya. Balik lagi ke anda pribadi. Mau merilis di nilai berapa. Intinya, hati-hati dalam memasang harga. Harga yang ketinggian masih bisa diturunkan. Harga yang udah kelewat rendah, susah dikatrol naik.

Netiquette dan Cyberbullying

Netiquette berarti internet+etiquette. etiket (dari kata etiquette) adalah peraturan/norma yang mengatur apa yang secara sosial dapat diterima. Ini memang tergantung nilai-nilai yang dianut oleh kelompok sosial tersebut. sekarang, di dunia internet kita berbicara dengan manusia ‘kan? maka, apakah kamu akan mengatakan hal yang sama kepada lawan bicara? seharusnya iya. Terutama yang baik-baik.

Maka ikutilah standar perilaku yang sama dengan di dunia nyata. Karena, etika di cyberspace tidak lebih rendah daripada etika di dunia nyata. bukan karena tidak bertemu muka, maka standar menjadi lebih rendah. Bukan karena usia tidak lagi menjadi persoalan penting di awal percakapan, maka etika tidak lagi penting. Tapi etika dunia internet akan sama tingginya dengan etika di dunia nyata.

Netiket di dunia internet relatif sama. Tetapi secara teknis, netiket di berbagai komunitas justru berbeda-beda. Kenali bahasa yang mereka gunakan. pakailah kata-kata yang memang biasa digunakan di komunitas tersebut. Ikuti aturan yang dibuat admin. Siap-siap diberikan sangsi bila anda melanggarnya. Be sensitive secara online.

Jangan sok artis. Hormati follower/friend kamu. Hormati waktu dan bandwidth orang lain. Kamu bukan satu-satunya pemilik dan pengguna dunia maya. kita semua adalah pengguna, dan kita memiliki kesetaraan yang sama. Remember, you are not the center of cyberspace. Tetapi, tetaplah berusaha tampil menarik saat online. ambil keuntungan secukupnya dari anonimitas. Berikan nasihat yang baik. Bersedia untuk diajak berdiskusi. Kamu akan dinilai dari apa yang kamu tulis/bagi. Dan jangan takut untuk berbagi apa yang kamu tahu.

Hormati privasi orang lain. jangan karena kedekatan, tetapi tanpa izin, lalu kamu membaca email pacar kamu. Untuk admin, sekalipun sudah menjadi admin, jangan bersikap sewenang-wenang. maafkan kesalahan orang lain. Jangan arogan dan jangan sok suci. Admin juga manusia, bisa benar bisa salah. Yang penting terus belajar dan bantu mengarahkan komunitas ke arah yang lebih baik.

Sedangkan cyberbullying maksudnya, menggunakan teknologi komunikasi seperti email, handphone, chat rooms, instant messaging,  blog atau personal website fitnah untuk mengirimkan dan memposting, sengaja dan berulang kali, teks atau gambar yang kejam dan merusak (shek, 2004; belsey ,www.cyberbullying.ca)

Bagaimana berjaga-jaga terhadap ancaman cyberbully:

  • Jangan membagi-bagikan informasi/gambar/video yang dapat digunakan orang lain
  • Jaga privasi, kamu tidak bisa mengontrol materi yang sudah berada di internet
  • Introspeksi diri, bagaimana cara kamu berkomunikasi di internet

Jangan memberi kepuasan pada bullies:

  • Tenang, dan jangan membuat bullies lebih senang untuk mem-bully kamu terus-terusan
  • Tidak ada yang sebenarnya melihat reaksi awal kamu. Tetap tenang dan jangan emosional
  • Tidak perlu langsung merespon, tidak perlu buru-buru, pikirkan baik-baik
  • Jangan membalas! Jangan menjadi bully!

Yang perlu dilakukan:

  • Selalu kumpulkan bukti-bukti. Screenshots, save emails, save chatting log
  • Perlu melibatkan orang lain?
  • Katakan STOP!
  • Jangan pedulikan
  • Orang tua?
  • Keluhan pada penyedia layanan internet
  • Hubungi sekolah/universitas
  • Hubungi pengacara/polisi
  • Bantu korban lain dengan speak up!

*) artikel ini adalah versi tulisan dari presentasi kang Enda Nasution di Aula Fasilkom UI pada 3 Mei 2008

cek juga artikel ini.

Review Blog Anak Dagang

Selain menjadi blogger professional, ada cara lain lho untuk mengembangkan blog kamu. Kalau yang saya ulas sebelumnya berfokus ke niche tertentu, maka cara lain yang akan kita bahas kali ini yaitu dengan merambah topik-topik lainnya. Alias, scope blog-nya meluas menjadi seakan-akan sebuah portal berita.

Di post kali ini, saya coba review sebuah blog yang memosisikan dirinya sebagai “anak dagang”. Pada mulanya, blog ini fokus membahas hal-hal seputar peluang bisnis. Baik peluang bisnis online, maupun offline. As we know, online itu ada lewat social media (instagram, facebook). Kalo offline misalnya peluang bisnis dari buka toko ritel di pinggir jalan, usaha workshop yang fokus memproduksi barang, dan jenis-jenis peluang bisnis lainnya.

Nah, setelah fokus membedakan diri dengan blog-blog lainnya, serta memberikan manfaat pada para pembacanya, blog ini memiliki positioning yang mantap sebagai blog untuk para pencari peluang usaha. Targeting-nya jelas, yaitu pembaca yang sedang mencari-cari peluang usaha. Jadi butuh usaha mikro (modal kecil) yang relatif tidak sulit dimulai.

Tidak puas dengan positioning tersebut, blog ini melakukan ekspansi konten ke kategori-kategori lain. Yaitu, gadget/aplikasi, SEO (Search Engine Optimisation), dan blogging. Ya, namanya topik seputar peluang bisnis online lewat social media, tentu tidak sulit untuk masuk ke blogging ya. Kan blog juga satu bentuk social media. As its name, social media adalah media untuk bersosialisasi.

Dan di era yang semakin mobile ini –meninggalkan personal computer berbentuk desktop dan laptop, maka dekat juga donk kalau mau bahas gadget mobile berupa smartphone atau tablet. Gak kelewat jauh juga untuk membahas mobile application / aplikasi.

Optimasi mesin pencari (SEO), ini peluang-peluang bisnisnya agak berbeda dibanding yang melalui social media. Karena basis bisnisnya adalah sebanyak apa orang mencari barang tersebut. Serta kecenderungan user setelah mendapat informasi tersebut. Apakah sekedar untuk tahu, atau bahkan mungkin melakukan pembelian.

Untuk diketahui teman-teman blogger sekalian, si Anak Dagang ini bukan dari Jakarta, lho. Melainkan Penajam Paser Utara (PPU) di Kalimantan Timur. Membuka mata kita bahwa internet sesungguhnya sudah menghubungkan dengan lokasi-lokasi terpencil (PPU gak terpencil banget, cuma naik kapal ferry dari Balikpapan). Dan peluang-peluang bisnis tidak melulu hanya ada di Jakarta atau Pulau Jawa pada umumnya. Tetapi di seluruh dunia, selama sudah ada listrik dan internet yang terhubung ke sana.

Demikian review blog kali ini. Semoga bermanfaat.

Kapan Sebaiknya Kuliah S2?

(artikel ini saya sharing berdasar cerita kawan-kawan saya ketika mengambil program s2)

Lulus S1, bekerja, kuliah S2 reguler. Bosan dengan pekerjaan, jadi salah satu alasan para early jobber mengambil program s2. Alasan lain adalah kangen kembali ke kampus dan pergi belajar. Dan beberapa alasan lainnya. Yang intinya adalah, saat bekerja malah ingin belajar. Padahal ketika belajar malah ingin bekerja alias cari duit. Yang harus diperhatikan adalah syarat umur ketika lulus S2 dan ingin berkarir kembali. Beberapa perusahaan, terutama untuk program Management Trainee (MT) mensyaratkan maksimal usia adalah 28 tahun. Sudah sedikit sekali yang mensyaratkan 30 tahun.

Lulus S1, langsung S2. Untuk mereka yang belum bosan belajar, boleh mengambil cara ini. Keunggulannya adalah hemat waktu. Istilahnya, serba sekalian. Sekalian jadi Master, sekalian memperdalam bidang ilmu yang dulu ditekuni, sekalian meneruskan kost-kostan. Cara ini  kurang cocok untuk mereka yang langsung dianggap mandiri oleh ‘investor kuliah’ atau mungkin orang tua. Hehehe  Alias kurang cocok untuk mereka yang harus bekerja dulu beberapa waktu menikmati gaji serta harus menabung sendiri untuk biaya S2.

Sambil bekerja, mengambil S2 di akhir pekan. Menurut pengamatan, cara ini melelahkan. Kuliah tapi kok ya engga fokus belajar. Kerja tapi koq engga bisa menikmati liburan di akhir pekan. Mereka yang kuliah di akhir pekan ternyata jarang menyentuh buku di malam-malam weekdays. Alasannya sederhana: CAPEK!! Giliran harus kerja kelompok, baru bisa di hari jumat atau sabtu. Jelas tidak optimal. Baik membaca maupun mengerjakan tugasnya. Dan cenderung minta dosen mempercepat pulang ketika kuliah di weekend. Hehehe 

Nikah dulu baru S2, apa S2 dulu baru nikah? Hehehe  Sebenarnya sama-sama engga masalah, selama duitnya ada. Tah, eta tah! Justru di sini ternyata masalahnya. Bingung dengan duit yang belum banyak, mau mendahulukan yang mana  Saran saya siy, kalau sudah ada calon dan sudah ada dana ya dahulukan saja menikah. Toh, menikah adalah ibadah. Ya kan? Kalau pun keburu ada tanggungan anak, tinggal mencari beasiswa saja. In shaa Allah, Maha Pemberi Rezeki akan mencukupkan kebutuhan hamba-hamba-Nya yang senantiasa berdoa memohon rezeki yang melimpah (Aamiin!!). Mau mengundur kuliah padahal satu semester sudah berjalan? Ya tidak apa, tho S2 bisa dilakukan kapan saja kan. Bagaimana dengan kasus sebaliknya? Jelas, dahulukan S2 dong daripada mau  menikah tapi belum ada calon #ehh. Disclaimer: tidak bermaksud menyindir oknum-oknum tertentu.

Pesan paling penting: jangan kuliah, karena mengejar gelar. jangan pula kuliah untuk menaikkan karir. Meski gelar pendidikan adalah syarat naik jabatan. Tapi bagaimanapun, berkuliahlah untuk belajar. Karena belajar adalah cara kita untuk menjadi lebih baik dari waktu ke waktu

Beda Marketing di Banking vs FMCG



Dalam 7 hari terakhir ternyata ada yang mampir ke blog ini karena mencari tahu tentang “perbedaan marketing perbankan dan FMCG”. Fast Moving Consumer Goods. Kita coba ulas sedikit ya 🙂

62bstrategi2bmarketing2busaha

Marketing Perbankan

Di perbankan, pelanggan (nasabah) dibagi menjadi nasabah perorangan/ritel dan nasabah bisnis (UMKM, Commercial, dan Corporate). Nasabah ritel sendiri ada yang masuk kategori biasa, ada juga yang masuk kelompok “Luar Biasa”. Yang luar biasa tabungannya ini, punya sebutan macam-macam tergantung bank itu sendiri. Ada yang kasih nama Affluent, ada juga High-End Worth, atau lainnya. Intinya yang minimal saldo tabungannya di kisaran ratusan juta atau miliar. Jangan heran juga kalau bank bikin kategori nasabah dengan kekayaan di atas angka tersebut.

Nah, untuk nasabah perorangan kategori biasa, dilayani dengan berbagai produk di kantor cabang. Which is, hampir setiap produk tersebut ada product owner / product manager-nya di kantor pusat. Kalau di kantor cabang utama (KCU) / kantor cabang pembantu (KCP) / kantor wilayah (kanwil) biasanya hanya sebagai penyaluran/penjualan produk tabungan (tabungan biasa, kartu debit, tabungan anak, dll), pinjaman (kredit tanpa agunan, KPR, KKB), atau lainnya (internet banking, dll).

Untuk nasabah UMKM, Commercial, dan Corporate, tentu saja ada produk-produk lain yang ditawarkan. Tugas product owner/manager nya adalah:

  • melakukan riset needs and wants-nya si nasabah,
  • mengembangkan fitur-fitur sesuai kebutuhan/keinginan nasabah,
  • membuat dan melaksanakan program untuk menambah nasabah baru, atau menambah penggunaan oleh nasabah lama.

Tupoksinya relatif sama dengan product owner di nasabah ritel. Pengelompokan produknya juga sama: simpanan, pinjaman, atau lainnya yang tidak termasuk keduanya (ada yang menyebut dengan istilah FBI, Fee-Based Income). Dalam pendekatan penjualannya, hanya satu perbedaanya dengan nasabah ritel (terutama kepada nasabah korporat), yaitu bisa dilakukan kustomisasi khusus. Misalnya bunga yang lebih rendah, rentang pinjaman lebih panjang, kartu debit khusus karyawan korporat tersebut, dlsb.

Di mana produk-produk UMKM, Commercial, dan Corporate tersebut dijual? Tentu saja di kantor cabang – kantor cabang. Which is, kita tahu sendiri di Indonesia, pusat bisnis adalah di Jakarta. Sehingga produk korporat mostly “berkantor” di kantor pusat. Dengan salesman-nya harus mendatangi calon nasabah satu demi satu. Kalau commercial atau UMKM bisa “nebeng” di kantor cabang. Misalnya, produk pinjaman perbankan untuk industri shipping maka dijualnya di kantor cabang yang beroperasi di kota-kota pelabuhan: Makassar, Surabaya, Balikpapan, dlsb.

Kalau UMKM kan jelas ada di setiap kota kan ya. PR-nya bank adalah mendesain sistem distribusi produk tersebut yang paling efisien:

  • apakah harus ada kantor cabang khusus UMKM, atau
  • bisa “nebeng” buka kantor juga di KCU, atau
  • cukup menempatkan salesman khusus produk tersebut di KCU, atau
  • ternyata produk tersebut harus dititip ke general salesman yang jualannya palugada, dst.

Marketing FMCG

Tupoksi Product manager / product owner / brand manager di FMCG relatif sama dengan di perbankan. Mungkin tambahannya adalah harus pintar-pintar melakukan kerja sama. Tujuan kerja samanya ada dua. Secara umum adalah menurunkan biaya promosi atau supaya konsumen akhir (end consumer) tidak bosan. Misalnya lewat product bundling, atau co-branding product, atau co-promotion product.

Selain itu adalah bekerja sama dengan agensi periklanan (TVC, Radio, koran, online, event organiser, dlsb) dan perusahaan riset komunikasi (paling besar di Indonesia itu AC Nielsen).

Jadi di kantor pusat FMCG, selain yang sudah disebut di bagian perbankan di atas, adalah juga mengurusi komunikasi, promosi, dan branding merek-merek yang dikelola. Tentu saja berurusan dengan uang: membuat rencana kerja berikut anggarannya, dan mengevaluasi pelaksanaan di lapangan. Dinamika kompetitor dan consumer behavior (terdiri dari media behavior dan buying habit) turut mempengaruhi dan menentukan bagaimana seharusnya anggaran dihabiskan. Omzet ideal yang ditarget adalah 20 kali lipat dari biaya komunikasi yang dikeluarkan. Insight lain yang saya dapat di tahun 2015 adalah bahwa tingkat keberhasilan produk baru untuk bertahan di pasar hanya 16%.

Lalu, siapa yang menjual? Ada bagian penjualan tersendiri di FMCG. Untuk diketahui, target market di FMCG bukanlah konsumen akhir. Melainkan toko-toko di mana end consumer tersebut berbelanja. Berikut distributornya. Oleh sebab itu, perusahaan harus berkomunikasi langsung dengan end consumer. Baik lewat ATL, BTL, Online, bahkan via packaging!. Sehingga ada demand dari consumer untuk berbelanja produk/merek tersebut di channel langganan: minimarket, toko kelontong, supermarket, hypermarket, dlsb.

Jadi bagian penjualan ini menjual kepada perusahaan distributor. Tidak boleh menjadi distributor langsung. Minimal dengan badan hukum PT yang berbeda (meskipun mungkin dari grup usaha yang sama). Brand owner biasa memberi diskon kepada distributor. Distributor pun ada diskon tersendiri kepada channel.

Penjualan di minimarket franchise seperti si biru atau si merah, mungkin saja dilakukan langsung oleh si PT FMCG ini. Usaha ritel si merah dan biru punya warehouse (semacam gudang raksasa) sendiri. Jadi tinggal deal dan kirim barang ke gudang mereka.

Sementara demikian dulu. Mudah-mudahan bermanfaat, ya. Pertanyan bisa ke ihwanul.alim@gmail.com

Surabaya, 2 Juni 2018.



Tugas Staff Administrator IT di Sekolah

Ada tiga bidang yang harus dikuasai oleh admin IT di sekolah. Yaitu software, hardware, dan network.

Software berarti perangkat lunak yang biasa diinstal di hampir semua komputer di sekolah. Termasuk komputer-komputer di lab komputer atau lab UNBK (Ujian Nasional Berbasis Komputer). Paling utama adalah Microsoft Office atau sejenisnya. Misalnya ada Open Office dari Linux yang sifatnya opensource (terbuka untuk dikembangkan dan didistribusikan oleh siapa saja).

Sedangkan hardware, adalah perangkat-perangkat keras yang di antaranya meliputi CPU (Central Processing Unit, alias otaknya si komputer), monitor dan keyboard. Untuk keperluan sekolah, tidak diperlukan komputer yang canggih-canggih amat. Untuk Lab UNBK saja, cukup komputer dengan teknologi dual-core.

Satu lagi adalah jaringan (network). Yaitu jejaring yang menghubungkan antar komputer di sekolah. Lab UNBK maupun lab komputer biasa, butuh untuk terhubung satu sama lain dengan sebuah komputer server berperan sebagai sentral/pusat/induk dari komputer-komputer yang lain. Setidaknya, mendistribusikan data atau file menjadi lebih mudah karena cukup satu kali melalui komputer server tersebut. Tidak perlu satu demi satu melalui flash disc atau semacamnya. Bahkan di era serba Google ini, pengiriman file dapat dilakukan melalui email.

Peran sebagai troubleshooter

Ada kalanya software di komputer-komputer lab komputer kurang berfungsi dengan baik. Staf admin IT di sekolah dapat berperan sebagai lapisan pertama dalam menangani masalah (trouble shooting) tersebut. Misalnya sekedar instal ulang, me-recovery file yang hilang, dan sebagainya.

Di saat yang lain, hardware komputer ada yang tidak berfungsi dengan baik. Sehingga perlu ditukar dengan perangkat yang lain. Misalnya, keyboard yang rusak harus diganti dengan keyboard cadangan. Nah, selain melakukan penukaran tersebut, staff admin IT perlu mempersiapkan cadangan perangkat juga. Dengan cara melakukan pengajuan pengadaan perangkat komputer (CPU, monitor, keyboard) kepada kepala sekolah atau fungsi lain yang melaksanakan pengadaan barang dan jasa di sekolah.

Terkait jaringan komputer di lab komputer. Jaringan tidak selalu mulus menghubungkan satu komputer dengan komputer yang lain. Untuk masalah jaringan yang cukup berat, perlu mengundang vendor untuk melakukan troubleshooting. Namun, tatkala terjadi problem ringan staff admin IT perlu mengetahui troubleshooting ringan apa saja yang bisa dilakukan. Misalnya ketika jaringan internet sedang down (turun kecepatan dan kapasitasnya), apa saja yang bisa dilakukan oleh staff admin IT. Misalnya ketika loading sedang lambat, apa solusi yang mungkin disediakan oleh staff admin IT.

Jaringan di lab komputer maupun lab UNBK pada dasarnya bersifat intranet. Jadi tidak terhubung dengan dunia luar (baca: internet). Ini akan menyulitkan apabila menggunakan suatu referensi langsung dari internet untuk didistribusikan ke 30-40 komputer sekaligus di lab komputer / lab UNBK.

Untuk mengatasi hal ini, sudah ada aplikasi dan hardware bernama Pinisi Edubox. Aplikasinya akan membantu pelaksanaan pengajaran maupun ujian. Staff admin IT dapat mengajarkan kepada guru bagaimana cara membuat soal di aplikasi Pinisi. Termasuk juga cara menyimpan dan menggunakan konten pembelajaran yang disimpan di dalam perangkat Pinisi. Hardware Pinisi (baik Smart Router, maupun Mini Server) dapat membantu guru dalam melaksanakan pengajaran maupun ujian.

Bahkan untuk lab UNBK, Mini Server dapat difungsikan bersama dengan komputer server. Sehingga distribusi materi pengajaran atau soal ujian dapat dilakukan dengan mudah. Tanpa mengalami server down atau tidak bisa ter-connect.

Demikian uraian mengenai tugas staff admin IT di sekolah. Semoga mencerahkan.

Freelance: Rasanya Kehilangan Klien

Tulisan ini seharusnya dirilis dan di-congkak-kan (baca: dipamerkan) pekan lalu. Di saat komunitas 1M1C sedang sibuk dengan minggu tema “kehilangan”. Ada yang menuliskan momen-momen kehilangan masa santay-nya karena datang masa sibuk-nya yang warbiyasak pasca melahirkan. Alhamdulillah ya, dapat amanah baru lagi as ortu dari seorang bayi. Yah, I feel that kok, Sist. Bukannya gak punya empati atas sebuah rasa kehilangan. Been there done that. Cuma gak pengen mellow marshmellow di blog aja. Biar sendu-sendunya disimpan sendiri aja en dibuang di pojok kamar. Ceilah.

Cukup introduksi ala-alanya. Jadi kembali ke laptop. Gimana rasanya?

Actually, biasa aja sih. Gak usah melibatkan perasaan. Nanti jadi ba-per. Namanya klien stop ngasi kerjaan ke kita kan bukan sesuatu yang gimana tho. Cuma aliran uang yang berhenti aja. Mirip-mirip kayak lagi mati air gitu lha. Stop mengucurnya. Tapi ini bukan akhir dunia. Toh matahari masih terbit dari timur. Mungkin kita ketahui alasannya ya. Mungkin juga tidak. Tapi bisa jadi dia memang sudah tidak butuh deliverables dari kita. Semisal foto, tulisan, image as deliverables kita yang nge-freelance as photographer, writer, and visual designer. Or other deliverables.

Mungkin juga hasil kolaborasi en coba-coba (baca: eksperimen) dia bareng kita udah mulai menampakkan hasil. Atau minimal wawasan (insight) mulai kelihatan lha. Bahwa deliverables kita kurang cocok (belum tentu kurang bagus ya) sama tipe bisnisnya dia. Kalau soal selera, kudunya udah cocok dari awal lha. Kan dia udah ngelihat portfolio kita. Jadi think positive aja. Not that worst, pokoknya.

Bisa jadi juga dia udah chemistry banget sama karya kita. Tapi sayang, satu dan lain hal, dia juga mengecil aliran “keran”nya. Omzetnya mengecil lha, atau ada piutang tak tertagih lha. Atau lainnya. Efeknya kudu stop sama kita. Dia sih pengen lanjut sama kita. Tapi apa iya kita mau pro bono gitu sambil banting tulang memeras darah? Ya enggak kan.

OK, pesannya udah ditangkap ya? Intinya jangan ba-per. Kalau segitunya dibawa ke hati, terus gak bisa move on ‘kan repot ujung-ujungya. Padahal klien ya kudu diburu terus. Hahaha. Gak ding. Yang bener memburu pekerjaan, kalau sudah dapat ya dikerjakan sebaik-baiknya. Habis itu baru penagihan sampai pelunasan. Wkwkwk.

Lagian, kalo personal brand kita udah kuat, calon klien datang sendiri, kok. Memang, kerjaan freelance itu lebih mirip B2B daripada B2C. Alias klien yang datang sebenarnya sedikit. Tapi kalau berhasil maintain, ya bisa awet juga. Gak harus berburu kecil-kecilan terus. Kayak ular viper warna ijo aja yang makan katak hijau di pohon. Sekali telan bisa berhari-hari gak cari makan lagi. Eh analoginya masuk gak ya? Hahaha. Intinya dapat kan?

However, seperti seseorang (teman, keluarga) atau sebuah barang (kunci kendaraan, kunci rumah), ada kalanya klien dan transfer-annya baru terasa ketika “hilang”. Padahal pas kerjaannya ada, susah dan dikejar deadline kita lupa bersyukur masih punya gawe-an. Di luar sana banyak lho yang cari gawe-an tapi gak nemu-nemu.

In terms of financial management, di situlah gunanya menabung. Alias tatkala sedang sepi pekerjaan, masih ada yang bisa diicip-icip sebelum brace yourself, new project is coming.

Kalau saya, berhubung hobi dagang barang juga, jadinya masih bisa jajan dari situ. Nah ini jadi “bemper” juga pas proyek lagi sepi. Intinya jangan menaruh telur di satu keranjang lha. Kalau perlu simpanlah beberapa jenis protein di beberapa kulkas. Eh, kejauhan ya? Haha. Pokoknya, creme de la creme nya gitu deh. Udah ngerti kaannnn……… namanya manajemen risiko (risk management).

Analisis aja, mana aliran omzet yang bisa rutin ngasi pemasukan (meskipun kecil nilainya). Mana pula yang nilainya besar (meski hanya sesekali). Pengennya sih semuanya dapat ya? Hahaha, tapi habis itu menyesal karena enggak ada waktu ngerjain. ((((ketawa miris))))

Kuncinya, treatment aja ini-itu kerjaan freelance as BAU (business as usual). As I ever wrote before somewhere in this blog. Bahwa sambil ada yang dikerjain, tetap aja fungsi penagihan harus berjalan terus. Demikian pula dengan fungsi jalan-jalan bertemu dengan orang baru. Ya mosok satu dari lima puluh orang kenalan baru enggak ada yang nyangkut ye kan….. hehehe

Konklusinya adalah, urusan duit jangan dibawa ke hati. Sebagaimana sebuah hadits yang sampai kepada saya, supaya dunia itu di tangan dan pikiran aja tapi tidak di hati. Tatkala klien memutuskan stop berlangganan jasa kita, kitanya gak baper parah dan aliran fulus juga enggak mampet-mampet banget.

Lagian, kalau indikatornya cuma si lembar yang bikin mata jadi ijo, kurang tepat juga. Makin banyak indikator sebenarnya makin baik. Tambahkan target dan ukuran semisal: jumlah orang baru yang ditemui, keahlian baru yang didapat dan kemudian bisa ditawarkan, dst. Segini aja dulu ya. Semoga bermanfaat.

Related post(s):

Pinisi Mobile App, simulasi ujian nasional berbasis android

Browser adalah penemuan teknologi informasi (information technology, IT) yang sangat mencengangkan sekaligus memudahkan para penggunanya. Bersama browser, kita tidak bergantung sepenuhnya kepada aplikasi-aplikasi berbasis perangkat. Baik perangkat komputer pribadi (personal computer, PC) maupun telepon genggam (handphone). Lewat browser, kita bisa mengakses dan menggunakan banyak sekali aplikasi berbasis website (web-based) tanpa harus memiliki atau mempertahankannya di perangkat kita. Penggunaanya hanya ketika kita membutuhkannya. Tinggal buka browser, kemudian kita akses dan gunakan. Bila sudah selesai, tab browsernya tinggal kita tutup. Demikianlah aplikasi berbasis web memberikan kemudahan pada kita hanya ketika kita membutuhkannya.

Ujian berbasis komputer (computer-based test, CBT) semakin mudah dan luas penggunaannya tatkala dipertemukan dengan teknologi IT berbasis browser. Tadinya, CBT menggunakan aplikasi-aplikasi berbasis komputer pribadi. Sehingga aplikasi tersebut harus diinstal dan terus berada di dalam PC tersebut meskipun tidak sedang digunakan. Dengan browser sebagai medium akses, teknologi IT yang web-based mempersilahkan kita sebagai pengembang perangkat lunak (software developer) untuk merancang dan mengembangkan perangkat lunak untuk ujian. Pintu masuknya adalah sebuah alamat situs (yang lazim kita sebut URL) yang kita masukkan di dalam tab browser kita.

Sebagai software developer, Pinisi telah mantap menetapkan URL http://edubox.pinisi.io sebagai cara untuk memasuki aplikasi ujian berbasis android yang bisa pula digunakan untuk simulasi ujian nasional berbasis android. Tidak hanya aplikasi ujian berbasis android di web, tetapi tim Pinisi juga telah mengembangkan mobile application (lazim disebut mobile app) yang juga berbasis Android. Mobile app ini gratis alias tidak dipungut bayaran. Screenshot-nya berikut ini, agar anda tidak salah dalam mencari, menemukan, dan mengunduh mobile app Pinisi yang dikembangkan oleh software developer Pinisi Dev Team.

Sedangkan URL http://pinisi.io adalah landing page di mana anda bisa melakukan pemesanan sekaligus transaksi untuk produk Edubox Mini Server. Kami juga sedang mencari para reseller yang berkenan untuk turut mendistribusikan produk ini ke seluruh penjuru nusantara.

Mengapa harus android?

Tingkat kepemilikan siswa terhadap perangkat (gadget) dengan sistem operasi (operation system, OS) android jauh lebih tinggi daripada laptop. Smartphone android bahkan tersedia pada harga yang relatif terjangkau dengan kualitas yang bisa diandalkan. Berbeda dengan kompetitornya, yaitu iOS dari perusahaan Apple yang perangkat-perangkatnya berharga mahal. Dengan menggunakan perangkat dan aplikasi berbasis android, sekolah maupun para guru relatif tidak menemui hambatan tatkala meminta para siswa untuk membawa perangkat yang bisa digunakan untuk ujian berbasis android. Berbeda dengan laptop yang tidak semua keluarga memilikinya. Apabila sekolah menugaskan masing-masing siswa untuk membawa laptop, tentu tidak akan mudah. Malah sebaliknya, membebani siswa dan keluarganya.

Android juga mudah digunakan. Seiring dengan perkembangan wawasan (insight) para developer dalam merancang mobile app yang “mengerti” kebutuhan para pengguna (user). Pengalaman pengguna (user experience, UX) adalah prioritas pengembang. Dalam proses pengembangan mobile app, user tidak perlu lagi membaca petunjuk manual (manual guidance) yang biasanya berisi cara-cara bagaimana menggunakan suatu aplikasi. Berkat wawasan pengembangan UX, user akan mendapati betapa mudahnya menggunakan mobile app yang memang khusus dirancang untuknya.

Dalam hal ini, Pinisi Dev Team melakukan riset khusus berupa wawancara mendalam (in-depth interview) dan diskusi grup (focused-grups discussion) guna mengetahui pain points (suatu kebutuhan dari user, yang terasa “menyakitkan” bila tidak terpenuhi oleh aplikasi atau perangkat yang dia gunakan) dari para user. Dalam hal ini, para user adalah guru (selaku pembuat soal dan pelaksana ujian) dan siswa (selaku user yang mengerjakan soal).

Kami mendapati para guru terbebani dengan proses-proses administratif yang menyertai pelaksanaan ujian. Terutama bila ujian dilakukan menggunakan kertas. Mulai dari menyiasati kemungkinan siswa berbagi jawaban, memperbanyak lembar soal dan lembar jawaban lewat mesin photocopy, memeriksa jawaban para siswa di puluhan –bahkan ratusan– lembar jawaban, memasukkan nilai ke dalam buku raport, dan lain sebaginya. Yang cenderung menjemukan –sehingga mungkin menghilangkan konsentrasi guru—dan menghabiskan waktu. Seringkali, para guru harus menggunakan waktunya di luar jam kerja maupun jam sekolah. Yang nyata-nyata merenggut waktu untuk keluarga, maupun waktu untuk aktifitas pribadi lainnya.

Dengan aplikasi ujian berbasis android seperti Pinisi, yang bisa pula digunakan sebagai aplikasi simulasi ujian nasional berbasis android, maka para guru tidak lagi merasakan pain points tersebut.   Jadi, kemajuan teknologi digital telah membawa angin segar yang sangat berarti bagi pendidikan kita di Indonesia. Tidak hanya di perkotaan, namun juga pedesaan maupun daerah-daerah terpencil. Di mana kita sudah bisa menyelenggarakan ujian dengan lebih mudah, lebih cepat bahkan dengan biaya yang relatif terjangkau. Ya, ujian nasional berbasis android memang memberikan beberapa kemudahan bila dibandingkan dengan CBT biasa, apalagi bila dikomparasi dengan ujian berbasis kertas (paper-based test) biasa.

Balance in Remote Work Life

Masih soal remote working. Atau kerja jarak jauh. Apa sih, bedanya? Jelas beda donk. Remote working is in english. Kalo kerja jarak jauh itu bahasa Indonesia. Ok? Sip 😀

Bekerja di luar kantor pada umumnya, memang bisa meningkatkan produktifitas. As you know, di kantor kita sering terhambat hal-hal yang belum tentu penting. Semisal, meeting. Membahas sesuatu yang kita (biasanya) belum siap. Belum baca materi meeting, belum searching soal keyword tersebut, belum cari referensi atau benchmark. Sehingga kita biasanya juga kurang mantap saat ambil keputusan.

Kalau kerja remote dari rumah, kafe, atau coworking space gitu biasanya jadi lebih produktif. Karena sudah tahu apa yang mau dikerjakan (sudah ditetapkan), dan sudah biasa mengerjakan (bukan newbie, sudah berpengalaman).Selain soal produktifitas, kampanye kerja remote biasanya diikuti soal kebebasan berpakaian. Ya pakai celana pendek lha, bisa kaos t-shirt instead of kemeja lha, dst. Ekstrimnya, bisa pakai piyama.

Tapi semua itu tidak akan membuat karir (ciyeh, karir!) remote working akan bertahan lama. let’s say 3 tahun, minimal. Simply karena selain manusia pekerja, kita adalah makhluk sosial dan makhluk anti-kebosanan.

Kita masih butuh kok, kena angin jalanan (kalo hilir-mudik momotoran). Atau melihat warna aspal (jalan ini kok lebih gelap daripada jalan yg itu ya?), dsb. Yang paling utama adalah kita masih butuh bersosialiasi sama manusia lainnya. Yang hidup, sama-sama makan nasi, dan juga menyeruput kopi. Kita masih butuh lho qoempoel (baca: kumpul) sama komunitas yang se-hobi.

Iya sih, kalo kerja dari rumah bisa kerja semau-mau gw. Mau kerja sampai subuh, lanjut sholat subuh (dua rakaat sebelum subuh jangan dilupa, kawan!), lalu tidur. Atau kerja sampai 12 jam sehari (alasannya ngejar deadline, padahal hobi ngulik kata, kode atau desain aja).

Padahal, bagaimanapun juga, kerja ‘kan hanya salah satu aspek dalam hidup. Cari uang demi segenggam beras dan sebutir berlian sih, iya. Tapi ada dimensi-dimensi lain ‘kan yg harus kita penuhi. Sebut saja, anggota keluarga yg berhak atas diri kita. Adik yg butuh kakaknya utk dijahili, ortu yg butuh anaknya makan bareng di meja makan, sampai anak-anak yg butuh PR-nya dikerjain ortunya (eh!). 😀

Nah, ini ada beberapa hal yang bisa dikerjain supaya remote working tetap produktif, mengasyikkan namun tetap jadi kerjaan yang rewarding utk kita pribadi, namun jadi kerjaan jangka panjang. (Banyak dan rumit ya syaratnya).

As simple as, rencanain aja besok mau pakai baju apa. Gak mungkin kan pakai t-shirt belel yg itu-itu aja. Ceritanya sih gak mau ambil pusing ala-ala Abang Mark Zuckerberg atau almarhum Steve Jobs. Padahal ya, biar lebih proper aja. Saya sih suka yg ada kerahnya, jadi lebih serius gitu kesannya kalo mau kerja (meski masih di rumah, sih). Another point sih, dengan merencanakan hal-hal yang remeh-temeh begini, kita jadi gak terlalu kaku, bahkan jadi kreatif soal kerjaan yg menuntut produktif.

Tentu poin ini gak terbatas soal fesyen aja. Tapi juga makan siang apa, di mana. Yang penting gak kelewat ribet mikirinnya. Take it easy aja. Kayak di office beneran. Kalau kita nyaman dengan pakaian kita, lalu cukup kenyang via lunch and snack, kan kita sendiri yg merasakan nikmatnya kerja.

Bikin aktivitas rutin setelah bangun tidur, yang menyenangkan. Misalnya jalan/lari pagi habis subuh, belanja ke pasar, mengisi jurnal, atau lainnya. Isi jurnal memang dikerjain di dalam rumah, sih. Tapi kalau dua sebelumnya kan aktivitas luar rumah. Believe it or not, pamer diri ke luar rumah, menunjukkan diri kita itu masih ada dan eksis (agak lebay sih) itu gak kalah pentingnya untuk kesehatan mental. Kalau hati sudah senang, kita bisa mulai kerja dengan happy.

Nonton TV atau bioskop (tadinya saya mau re-mind soal nyanyi Indonesia Raya sebelum film diputar, tapi naga-naganya peraturannya ditunda). TV? Biasanya sih TV dinyalakan sambil ngobrol keluarga — Jadi TV-nya muter apa, kitanya bicara apa 😀 . What I really mean is, ekspos diri kita dengan story yg baru atau berbeda. Bisa dari film TV/bioskop, serial yang baru, buku novel, dsb.

Terakhir, adalah punya komunitas. Maksudnya sekelompok orang yang kita saling kenal dan punya topik pembicaraan yg sama. Not really new people (kalo ini namanya networking). FYI, butuh 40 jam interaksi untuk merasa casual friend dan 90 jam untuk being real friends.

Remote working memang memberi kita kebebasan soal fleksibilitas, waktu, dan produktifitas. Belum termasuk ruang berkreasi untuk diri dan karya kita. Mari ambil keuntungan yang terbaik dari remote working, dan kembangkan kebiasaan-kebiasaan (seperti beberapa sudah saya sebut di atas) yang worth it dan menghargai diri sendiri.

Referensi: https://blog.trello.com/hermit-habits-remote-work

Related Post(s):