Perubahan Hidup Selama Pandemi

Bukan hanya bagaimana saya bekerja yang berubah; tetapi juga dimensi-dimensi lain dalam hidup. Dan bagaimana mengumpulkan keping-keping hikmah dari sana.

Kantor “merumahkan” separuh dari kami selama sepekan. Dan separuh lainnya di pekan berikutnya. Dan begitu seterusnya entah sampai kapan. Sampai pandemi ini berakhir, tentu saja. Tapi kapan itu? Belum ada yang tahu.

Satu yang saya yakini dari work-from-home adalah produktifitas kita tidak akan sama dengan berada di kantor. Bukan sekedar perbedaan ruang, namun juga suasana saling mendorong untuk produktif itulah yang ada di kantor. Di sanalah kita wajib menjawab tantangan bagaimana supaya tingkat performansi kita tetap sama.

Saya selalu mandi pagi sebelum bekerja. Mandi pagi adalah “ritual”. Bekerja sebelum mandi, rasanya bekerja kurang mantap. Sambil mandi, “merapal” apa-apa saja yang mau dikerjakan. Sembari me-review juga yang sudah dilakukan kemarin. Bagaimana melanjutkan pekerjaan kemarin dengan pekerjaan hari ini.

Yang jelas, tidak ada lagi ritual “melihat jalan raya” dalam perjalanan ke kantor. Percaya atau tidak, itulah yang membuat saya lebih betah di kantor daripada di rumah. Karena bekerja di rumah, sooner or later, akan membosankan.

Aktifkan tethering di HP, lalu membuka laptop harus diiringi dengan kesadaran “saya tidak bekerja sendiri”. Seseorang, atau beberapa orang rekan di kantor, sedang menunggu hasil dari yang saya kerjakan. Atau sebaliknya, saya menunggu seseorang menyerahkan sesuatu kepada saya untuk kemudian saya tindak-lanjuti. Karena saya tidak bekerja sendirian. Sama seperti di kantor, membuka youtube atau aplikasi hiburan yang lain tidak boleh lama-lama. Penulis seperti saya, malah lebih sering “terjebak” di blog-blog instead of socmed video-audio tersebut.

Anak-anak di rumah belum sekolah. Belum merasakan rutinitas belajar bersama guru di ruang kelas. Belum paham rasanya punya teman. Praktis, di rumah saya tidak terbebani untuk jadi guru sementara sebagaimana banyak orang tua yang lain. Banyak yang mengeluhkan, karena baru menyadari, bahwasanya menjadi guru itu berat ternyata. Seorang teman sampai bernyanyi, “hormati gurumu, sayangi temanmu” dst sembari mengajar anaknya di rumah. Yang baru paham setelah mempraktikkan betapa rumitnya menjadi seorang guru.

Tapi, berhubung mereka seumuran, mereka jadi teman satu sama lain. Sesekali, menjadi “musuh” bagi saudaranya. Terutama ketika jenuh melanda. Pelampiasannya ke hape tersebut di atas. Yang sedang dipakai tethering. Tidak jarang, hape dibawa pergi menjauh dari laptop sang pekerja. Sinyal menghilang, tiba-tiba luring (luar jaringan), alias offline. Usut punya usut. “pencuri” hape ternyata asyik-masyuk menikmati youtube pahlawan kesayangan yang sedang battle. Tidak lama, entah sebab yang mana -ada terlalu banyak sebab- tiba-tiba mereka “battle” sendiri. Tentu si pekerja harus meninggalkan layar, berubah peran menjadi pelerai.

Di momen lain yang tidak terjadi sekali dua kali, tiba-tiba si laptop offline. Setelah penelusuran oleh tim investigasi, ternyata hape kehabisan daya di tangan-tangan dua orang penonton (youtube). Jadilah hape di-charge. Sembari diberikan informasi, “jangan dicabut ya dari charger-nya”. Tidak lama kemudian (lagi), offline lagi. Ditengoklah ke charger. Hah?! Hapenya sudah tidak ada. Rupanya dua tersangka membawa pergi device youtube-nya “mereka”. Menonton (lagi) sampai habis daya (lagi).

Pandemi ini mengubah separuh pola makan saya. Yang sesekali jajan di warung, menjadi tidak jajan sama sekali. Harus menu rumahan. Pokoknya mengubah isi kulkas menjadi masakan aja. Sarapan nasi kuning atau kupat tahu petis terpaksa di-hold dulu. Jajan-jajan gorengan distop sama sekali. Waspada saja. Barangkali kang gorengannya termasuk OTG (orang tanpa gejala).

Belanja ke pasar ga boleh rame-rame. Cukup seorang saja. Dan perbanyak protein. Biar kuat menghadapi virus. Terpaksa merogoh kocek lebih dalam. Padahal koceknya saja enggak dalam-dalam amat. Sedapatnya saja. Sering pula belanja tahu di kang yang lewat. Kalau bukan untuk dimakan sendiri, setidaknya untuk snack dan lauk maksi-nya pak-pak tukang renov. Minimal, kami berniat supaya beliau berdua tidak ikut sakit juga. Repot kalau kami ketularan, atau mereka yang ditulari kami.

Sekian ratus menit terhemat akibat pandemi ini. Hidup jadi lebih efisien. Karena tidak menghabiskan sekian menit pergi-pulang kantor. Ambil minum beberapa langkah; bukan puluhan langkah. Meeting online, tidak di ruang meeting atau ke meja rekan. Sepatutnya jadi jalan memperbanyak amal ibadah yang ringan seperti membaca Al-Quran.

Seperti sempat saya singgung di atas, stay-at-home dan work-at-home itu membosankan. Bahkan membuat stress. Namun, ini worth it untuk dijalani dan it shall pass, too. Justru di momentum seperti inilah passion rebahan kita sedang diuji. Dunia membutuhkan kepahlawanan kita! Yaitu bagaimana kita bisa konsisten stay-at-home selama berhari-hari dan berminggu-minggu (mudah-mudahan tidak lebih dari dua bulan, ya) bersama dengan passion rebahan kita.

Hiburan saya di sabtu dan minggu malam. Kini tiada lagi. Mudah-mudahan sementara saja. Lebih baik bermain tanpa penonton di stadion di tanah-tanah Britania demi hadirnya konten sepakbola berkualitas di (layar-layar kaca) di tanah air. Sebenarnya, mereka sendiri juga tidak kuat menjalani keadaan demikian. Karena pengeluaran gaji, perawatan stadion, dan sebagainya juga jalan terus. Bisa bangkrut kalau tidak segera dijadwalkan dan dimainkan kembali partai-partai yang terhutang tersebut. Mungkin tidak semua jadwal pertandingan bisa direalisasikan, tapi setidaknya berilah kesempatan kepada para fans Liverpool untuk melihat timnya juara. Yeeaaahhhhh!!!!! (ikut lebay karena tidak juara selama 30 tahun).

Selalu ada hikmah di balik krisis. Pandemi ini memutar-balikkan kebiasaan-kebiasaan “jahiliyah” kita sebelumnya. Kumpul-kumpul yang tidak perlu. (padahal tidak ada wajah baru dalam perkumpulan tersebut. Tidak juga membicarakan proyek baru). Minum-minum gula yang berlebih via kopi dan teh di kafe. (padahal sudah minum satu di antara keduanya di rumah. Gulanya dua sdm, pula!). Ambil makanan atau pegang sesuatu tanpa cuci tangan (kini jadi lebih sering cuci tangan menggunakan sabun sampai ke punggung tangan yang dialiri air mengalir selama dua puluh detik).

Sebagai homo sapiens dan umat Nabi Muhammad, hendaknya kita menjadi manusia-manusia yang berpikir ya. Merenungi dan meresapi hikmah dari semua ini. Sulit memang membuktikan kaitan pandemi ini dengan kegagalan-kegagalan kita menjadi khalifah di muka bumi. Tapi setidaknya kita men-tafakkur-i dan berdiskusi dengan rekan maupun keluarga perihal hikmah-hikmah tersebut. Bukan mem-forward terus-terusan narasi yang sulit dibuktikan tersebut ke grup-grup WA kita. Justru, di sanalah yang membedakan kaum-kaum yang berpikir dengan yang tidak.

Sudah Siapkah Kita Untuk Work From Home (WFH)?

Seiring dengan pandemi Covid-19, istilah WFH mengemuka dan trending. Ada tiga karakteristik WFH yang perlu kita pahami dan siasati.

Tanpa perlu saya beberkan fakta-faktanya, nyatanya negara kita Indonesia sedang menuju puncak pandemi Covid-19. Dalam pada itu, beberapa langkah (dan kampanye) pencegahan dilakukan. Di antaranya ada kampanye #dirumah aja. Lalu ada himbauan dari pemerintah (baik pusat maupun daerah) untuk melaksanakan social distancing (menjaga jarak dengan orang lain) serta Work From Home (WFH).

Sebenarnya setelah tahun 1998, profesi pengusaha sangat mendominasi. Dalam ukuran jumlah penduduk, besarannya kira-kira 60%-65%. Ini melingkupi semua skala usaha ya. Termasuk pedagang kaki lima (yang produksi dan berjualan seorang diri), sampai dengan freelancer seperti kamu. Iya, kamu.

Persoalan pertama dengan WFH adalah (tentu saja) tidak semua pekerjaan bisa dikerjakan di rumah. Ada aktifitas bisnis yang terkait dengan marketing and sales semisal menemui klien untuk presentasi (karena kirim company profile atau portfolio saja lewat email masih kurang), mengirimkan produk yang sudah dipesan, melakukan penagihan, dan lain sebagainya. Dan karena dominasi profesi pengusaha di negara kita, tentu saja aktifitas terkait dengan klien tidak bisa di-WFH-kan begitu saja.

Kedua, tidak semua orang atau rumah memiliki akses internet yang memadai untuk bekerja. Yang minimal sama baiknya dengan yang ada di kantor. Bukan hanya dari sisi kualitas dan kecepatan jaringan juga. Tetapi sampai ke kuota yang diberikan. Penulis tidak perlu banyak kuota. Saya sendiri kira-kira maksimal 1GB per hari. Tapi UI Designer mengirim sebuah image saja bisa 200 MB sendiri. Rekan BE developer pernah ada yang tethering sampai belasan GB hanya dalam sehari.

Ketiga, kita belum siap WFH ketika kita (baik pribadi maupun perusahaan) belum membiasakan WFH itu sendiri. Karena WFH sebenarnya bukan sekedar memindahkan kegiatan di kantor ke rumah. Namun, bagaimana membudayakan fleksibilitas (sebagai prinsip dasar WFH) itu sendiri berikut dengan turunan-turunannya.

Salah satu di antaranya yaitu focus to deliverable, instead of process. Iya, proses kerja penting. Tapi trust (rasa percaya) sudah harus ada dari perusahaan (yang diwakili oleh atasan langsung) lebih dulu. Sehingga bisa memprioritaskan deliverable dulu baru ke proses-nya. Omong-omong soal trust, masih banyak atasan, terutama di generasi X –yang sudah sangat senior dan berpengalaman di kantor—yang hanya percaya bahwa subordinatnya bekerja jika diawasi secara langsung oleh kedua matanya.

Sebagaimana semua pekerjaan dan lokasi kerja ada risikonya, maka risiko-risiko WFH harus diketahui, dipahami, kemudian dimitigasi. Risiko paling dasar dari WFH, menurut saya adalah produktifitasnya tidak persis sama. Sebab di rumah, ada distraksi yang tidak bisa diabaikan. Di artikel tirto ini, dibahas tentang hujan dan banjir yang sempat menunda pekerjaan. Masih di artikel yang sama, ketidakpahaman orang tua terhadap jenis-jenis pekerjaan zaman now turut meminta pemakluman kita sebagai pelaku WFH.

Contoh lain dari bukan sekedar memindahkan pekerjaan di kantor ke rumah (yang notabene luar kantor) adalah terkait jenis aplikasi yang digunakan. Kalau bekerja di kantor dengan internet, Ms PowerPoint dan Gmail sudah cukup, maka bekerja di luar kantor (salah satunya dari rumah) sudah sepatutnya menggunakan aplikasi yang concurrent collaboration yaitu Google Slides. Jadi, suatu deliverable tidak dikerjakan, diedit, dan dikirim berkali-kali. Tapi cukup “dikeroyok online” dalam suatu file.

Perihal aplikasi digital yang bisa memfasilitasi belajar dari rumah (yang dialami oleh guru berikut para siswanya) untuk kelas online. Berikut ini saya kutip pendapat seorang senior,

Kelihatannya kelas online tersebut kagetan. Staff sekolah nggak pernah diajari tentang itu. Seperti di sini, sekolahnya via whatsapp group dan heboh. Pengajar share materi via Google Drive langsung ke file pptx tapi gak bisa dibuka, gak ada suaranya, harus pakai ms powerpoint tapi ada yg gak punya softwarenya.

Mereka belum tahu ada aplikasi online learning untuk itu seperti moodle dan edmodo. Mereka adalah aplikasi platform, seperti tokopedia. Jadi orang tinggal buka lapaknya aja, input barang dll.

Edmodo juga, teacher tinggal buat akun, create class, invite emailnya students, upload file materi, upload quiz, buat pengumuman, etc

Okay, mari kita tuntaskan pembahasan ini dengan aplikasi-aplikasi apa saja yang bisa menunjang WFH: Google Drive (berikut turunannya seperti Google Docs, Google Sheet, dsb), Trello (untuk manajemen proyek bersama dengan anggota tim yang lain), Google Hangout (untuk berkomunikasi via chat maupun video call).

Zoom bisa untuk video konferensi, jadi bisa dipakai juga untuk kelas/kuliah online. Tapi berhubung saya pakai Hangout, jadi belum pernah pakai Zoom.

Di Indonesia, WhatsApp (WA) dipakai untuk komunikasi biasa dan komunikasi berbelanja. Tidak aneh ketika WA termasuk yang dipakai juga untuk komunikasi bisnis. Persoalan budaya dan keamanan dari WA adalah WA kurang aman karena teknologinya tidak mengenkripsi. Di sisi budaya, masih banyak yang mengirimkan dokumen-dokumen yang bersifat rahasia (dalam format PDF, XLS, dsb) via WA. Kalau ingin aman, lagi-lagi saya merekomendasikan kelompoknya Google.

Sekolah/Kuliah: Microsoft Team atau Google Classroom.  

Jenis-jenis Aplikasi WFH

Talking to Strangers

Buku baru Om Malcolm Gladwell menginspirasi saya untuk berbagi kisah-kisah dengan si orang asing.

Mungkin kita, atau lebih tepatnya saya sendiri doank, berangkat dari asumsi bahwa orang asing adalah orang yang baik. Minimal, dia jujur.

Jelas sulit kalau kita memulai relationship dengan seseorang –bahkan hanya untuk sekedar mengobrol dengan orang asing di angkutan kota, ya—dengan negative thinking terus. Saya biasanya memberikan trust dulu. Bahwa ada harapan yang tidak terpenuhi –atau, pengkhianatan yang lebih ekstrim—itu lain hal dan itu urusan kemudian.

Asumsi tersebut di atas adalah yang dibawa pertama kali oleh Malcolm Gladwell di buku terbarunya: Talking to Strangers. So, not only me, tapi menurut penuturannya, kebanyakan orang memulai dengan menitipkan keyakinannya dulu. Namanya barang titipan ya kan, tentu bisa diambil kembali suatu waktu nanti.

Tampak bukan masalah besar, memang. Namun di sanalah kehebatan seorang penulis seperti Gladwell. Sebuah gagasan sederhana bisa diramu dan dikemas sedemikian rupa untuk membuktikan bahwa tidak semua asumsi terwujud seperti yang diasumsikan, atau bahkan hal-hal besar dan buruk –seperti Perang Dunia II—bisa terjadi. Beberapa pejabat tinggi Inggris pada masa tersebut, setidaknya dua kali berbicara langsung dengan Der Fuhrer Hitler. Keduanya merasa disambut baik dan hangat sembari menduga bahwa Jerman tidak akan memulai perang yang maha besar. Kenyataan pahitnya, kita sesekali salah dalam menilai orang asing dan itu bisa berakibat fatal.

==

Dalam hal trust, mungkin saya berbanding terbalik dengan ayah saya. Saya mudah menitipkan kepercayaan, sedang beliau tidak. Beliau cenderung periksa, periksa, dan periksa. Beliau mantan orang finance, memang. Sudah puluhan tahun berkarya di bidang tersebut. Di masa pensiunnya, tabiat periksa, periksa, dan periksa lagi masih terus dipelihara. Bukan sesuatu yang buruk, kok. Tapi tidak semua orang nyaman ditelepon atau dikunjungi tiba-tiba, kemudian ditanyakan/dikonfirmasi mengenai perkembangan suatu pekerjaan/proyek. Dari sudut pandang yang diberi pekerjaan, mereka menduga tidak-bisa-dipercaya. Dari sisi yang sama, ada ketidaknyamanan bila sidak dilakukan.

Mencoba mengenali lebih dalam, kita berhak mendukung dan melihat ayah saya sebagai pribadi dengan standard tinggi. Tidak hanya high-standard, tetapi juga menjaga dan mempertahankan standard tersebut. Demikian lah bila kita melihat semata dari hubungan transaksional saja. Pada kenyataannya manusia itu kompleks; terdiri dari beberapa peran sekaligus; bukan hanya peran ekonomi saja. Di luar peran-peran tersebut, homo sapiens ingin diperlakukan secara manusiawi; lewat tutur kata yang baik dan sopan adalah salah satunya saja.

Beberapa tahun lalu, kala Go-Car dan Grab-Car belum menjadi arus utama apalagi kekinian, saya berkendara dengan taksi bersama beliau. Cukup heran rupanya beliau itu. Karena, saya mengobrol dengan pak supir. Tatkala sudah sampai tujuan, beliau bertanya, “Kamu biasa kah ngobrol sama supir taksi kayak begitu?”. Saya tanggapi dengan santuy, “Biasa aja. Tidak ada masalah.”. Jelas, sopir taksi adalah orang asing bagi beliau. Dan mungkin persoalan dengan orang asing adalah kita tidak mudah berbagi informasi. Tapi jelas itu persoalannya. Ayah saya tidak ingin terjebak dengan tidak sengaja memberikan informasi yang bisa berakibat fatal.

Sebagaimana supir taksi, driver ojek online, baik sepeda motor ataupun mobil, adalah orang asing, ‘kan? Namun, itu tidak menghalangi kita untuk mendiskusikan sesuatu. Tapi, bukan berarti tidak ada rules-nya ya. Meski mengobrol, baik duluan memulai atau sebaliknya, saya cenderung tidak membuka informasi diri. Apa yang saya kerjakan sebagai penghidupan, saya berasal dari mana, dan seterusnya. Topik-topik saya biasanya hanya seputar driver ini tinggal di kelurahan/kecamatan mana, dan apakah hari ini (sabtu/minggu) beliau merasakan macet atau tidak. Di kota kami yang turut mengandalkan pariwisata, sabtu-minggu cenderung macet dengan tamu-tamu dari luar kota.  

Antara kita selaku penumpang dan para driver ada komitmen transaksi kan yah. Kita diantar sampai tujuan dengan selamat, dan kita membayar. Pihak ketiga seperti Go-Jek dan Grab sudah sangat membantu pelaksanaan transaksi tersebut. So, kedua pihak bermuamalah hanya sebatas transaksi tersebut. Di luar itu, kita harus berhati-hati. Karena kita adalah orang asing bagi satu sama lain. Bukan hanya kita penumpang bersikap waspada seperti yang saya ilustrasikan di paragraf sebelumnya. Namun juga bagaimana driver bertindak dan berkomunikasi dengan waspada pula kepada para customer-nya. Bukan tidak pernah lho driver dicelakai akibat ulah customer. Kita semua harus hati-hati karena kita Talking to Strangers.

Di antara kelahiran travel-travel Jakarta-Bandung pp dan trio Go-Jek, Grab, Uber ada usaha-usaha nebeng antara daerah di Jabodetabek, atau Jakarta-Bandung yang komunikasinya dibantu oleh Twitter. Nebengers, namanya. Nebengers mensyaratkan, semua komunikasi harus lewat twit, serta menyebut akun @nebengers dan/atau tag #nebengers sebagai manajemen risiko guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Namanya lewat twitter ya, komunikasi terbatas 140 karakter. Tidak heran muncul istilah semisal “share bentol” alias uang bensin dan uang tol dibebankan kepada semua.

Sekedar berbagi pengalaman pribadi, dalam suatu per-nebeng-an dari ibukota ke ibukota, kami dibebankan Rp50ribu/kepala. Di row kedua dan ketiga, peserta nebeng sengaja ditambah dua orang hingga melebihi kapasitas si roda empat. Untungnya, saya duduk di samping supir yang ternyata sedang dalam rangka ngapel ke perempuannya dan butuh modal. In total, dia mendapat “modal” sebesar Rp350ribu untuk pacaran. Hahaha.

Kini, nebengers sudah menggunakan mobile app tersendiri. Tentu harus sign-up untuk mendaftar, dan login tiap kali menggunakan. Identitas yang jelas antara pemberi dan penerima tebengan, memperkecil kecurigaan serta meningkatkan kepercayaan di antara kedua pihak.

Demikianlah kisah-kisah saya seputar berinteraksi dengan orang asing. Apakah kamu ada pengalaman serupa? Boleh share di kolom komentar, ya!

Double Espresso

Kami sudah lama tidak bertemu. Seorang anak SD bahkan bisa menamatkan SMA selama kami tidak bercengkrama sama sekali. Di suatu sore yang mendung ini, kami bersepakat “reuni” lagi. Kurang pas disebut reuni. Karena hanya berdua, di tempat yang itu-itu lagi. Sebuah toko buku yang merangkap kafe kecil.

Ku hampir kuyup tatkala tiba di sana. Untung hanya gerimis. Deras sedikit, dan lebih lama sedikit, maka jalan besar itu pasti banjir. Dan warga kota akan memaki-maki sang gubernurnya.

Kupikir, aku yang akan menunggu. Seperti biasa, seperti dulu. Di luar dugaan, dia duluan sampai. Bahkan sudah bosan, katanya. Ku terkejut. Cukup waktu untuk menghabiskan double espresso rupanya jarak kedatangan kami. Kuputuskan nanti sajalah melihat buku-buku di rak best seller di toko tersebut. Barangkali dia bahkan sudah bosan menunggu.

“Kau tak melihat-lihat ke dalam?”, tanyanya. Ku menggeleng. Tersenyum.

“Baru pekan lalu aku ke sini”, balasku. “Tentu koleksi best seller-nya tidak berubah banyak. Kau? Apa yang kau beli?”

“Tidak ada. Bosan aku dengan novel. Padahal ku ingin cerita baru”, Dia membalas sambil menghela nafas.

“Kau ingat penulis best seller yang karakter prianya akan dibuat taman itu? Yang karakter perempuannya baru difilmkan. Dia menulis roman yang baru, lho”.

“Ku ingin membaca cerita. Tidak mau roman. Tidak cinta yang dimurah-murahkan.”, Dia menjelaskan.

“Kau berubah. Mengapa? Dulu tergila-gila dengan teenlit dan chicklit. Rak bukumu lebih penuh keduanya daripada buku pelajaran”.

“Pada suatu waktu lalu, ku tersadar. Untuk apa kita menikmati cerita orang lain? Padahal kita sangat berhak menulis cerita kita sendiri”.

“Maksudmu?”

“Ku tidak ingin seperti beberapa orang teman sekolah kita. Berprasangka dirinya lah yang dikisahkan dalam novel-novel tersebut. Merasa dirinya sama dengan karakter dalam fiksi. Padahal, huh, itu kan hanya kebetulan semata.”

“Iya juga, sih. Tapi… Itu kan hanya cerita. Kita bisa memilih jadi penikmat sekaligus korban, atau sekedar membaca, kemudian merancang romansa kita sendiri.”

“Persoalannya adalah, aku menjadi terbawa seperti karakter perempuan dalam fiksi-fiksi itu. Dan itu bukan sesuatu yang kuinginkan.”

Keramahan pelayan kafe membuyarkan lamunanku, “Mau pesan apa?”

Ku terkesiap. Terkejut. Membuyarkan lamunanku. kemudian ku terdiam dan merenung lama setelah dia berkata begitu. Ah, jangan sampai kami hanya mengobrol di sini tanpa membayar barang sedikit.

“Saya Latte saja, mas. Pakai gula merah ya. No sugar. Kau?”

“Double espresso saja, Mas”.

“Pesananmu tidak berubah ya, timpalku. Tambahlah menu yang lain.”

“Dia menggeleng. Nanti dulu”, katanya.

Pelayan kafe menuliskan pesanan. Setelah mengulang pesanan, dia memohon menunggu, lalu segera beringsut dari hadapan.

Ku membuka topik yang baru. “Jadi, sesaat setelah kejadian itu, apa yang kau lakukan?”

Ku menyebut “itu” tanpa spesifik menyebutkan. Mestinya dia langsung paham arah pertanyaanku.

“Kau tahu, ku mencarimu. Tapi kau menghilang”. Dia memulai cerita.

“Maafkan, aku sedang sibuk dengan masalahku sendiri saat itu”. Kuharap dia mengerti.

“Tidak apa. Kemudian, ku berbagi kesedihan. Dengan seseorang. Yang lebih punya waktu daripada kamu. Singkat cerita, aku sudah move on dari kejadian itu.”

“Ku percaya, waktu akan menyembuhkan segalanya. Kamu akan melanjutkan hidupmu. Dan sedikit demi sedikit, kamu akan lupa pernah mengenal dirinya.”

“Tapi… bukan itu masalahnya.”

Permisi, ini pesanannya sudah datang. Pelayan kafe menginterupsi. Untungnya bukan di bagian yang paling tidak boleh tersebar. Apalagi sampai viral. “Satu latte with brown sugar ya. Sama satu lagi double espresso.” Pasca meletakkan minuman, dia beranjak pergi.

Huft…, pikirku. Untung si pelayan itu tidak sempat mendengarnya. “Tapi apa?” Ku mendesak.

“Dia.. dia datang lagi.”

“Hah? Sejak kapan?”

“Sudah beberapa minggu ini dia menghubungi. Awalnya tidak ingin kujawab. Tapi dia bersikeras.”

“Begitu ya. Mengapa? Mau apa lagi? Dia sudah menikah.”  

“Iya, tapi ternyata mereka berpisah. Aku jadi bingung harus bagaimana.”

Ku terdiam. Pelik juga ya, pikirku.

“Ku pikir, setelah kamu move on itu, kamu tidak pernah mengingatnya lagi.”

“Memang. Itu dia masalahnya. Ku sudah memberi jarak. Pikiran dan perasaanku tidak lagi ke dia.”, Dia terdiam sejenak. “Tapi, ku belum pernah dekat lagi dengan siapapun sejak dengannya. Ku kira, bertemu denganmu bisa sedikit menemukan pencerahan”.

“Rumit”, tanggapku cepat.

Dia diam sesaat. “Ku cukup yakin punya opsi untuk melanjutkan yang dulu; dengannya”, lanjutnya. Kemudian dia diam lagi sekian detik.

“Tapi apa? Pasti ada tapinya, ‘kan?”, ku mengejar.

“Bagaimana jika harus berpisah lagi? Dulu, dia yang pergi. Ku takkan tahan jika dia memilih pergi lagi. Lagipula, ku belum tahu mengapa Dia dan istrinya berpisah.”, setengah terisak Dia menjelaskan.

“Kau tidak perlu sedih. Apalagi sampai menangis. Apa yang memang untukmu, tidak akan pergi darimu. Dan yang bukan untukmu, tidak akan sampai padamu. Bukan begitu?”

“Iya, tetapi..”

“Mungkin kamu hanya butuh waktu.”

“Aku tidak tahu apa aku punya cukup waktu”.

“Maka berilah waktu.”

“Berapa banyak waktuku harus kuhabiskan lagi? Ku sudah menghabiskan bertahun-tahun menunggunya. Cukup untuk menyelesaikan cicilan motor dilanjut cicilan mobil.”

“Entahlah. Pikirkan kemungkinan bahwa, kalau kamu terburu-buru, maka kamu tidak sempat mengetahui apa kalian benar-benar pasangan yang tepat atau tidak.”

“Maksudmu?”

“Mungkin kalian cocok, tetapi kalian berada di waktu yang salah.”

Dia segera menenggak double espresso-nya yang sangat pahit itu. Tanpa diguyur segelas air putih yang menyertai pesanannya. Kupikir, itu lebih terasa manis baginya. Daripada kalimat terakhirku barusan.

Mengapa Millennial Memilih Bekerja di Startup?

Nyata sekali millennial cenderung bekerja di startup. Tulisan kali ini coba otak-atik gathuk menjawab fenomena tersebut.

Saya termasuk millennial. Meski bukan core of the core-nya, tapi termasuk angkatan-angkatan awal. Sebagai angkatan awal, saya pernah lho nyoba warnet di mall. Saking belum menjadi magnet independen, warnet nya masih numpang di mall, lho. Itu juga banyak gagalnya buka web AC Milan. Lebih lama nunggunya daripada bacanya. Sempat juga merasakan internet di rumah sendiri. Tapi kalau internet menyala, telepon rumah gak bisa dihubungi. Dan habisnya bisa Rp500ribu per bulan. Pastinya angka segitu lebih bernilai daripada angka segitu saat ini. Wkwkwk.

Di tahun-tahun saya kuliah, internet sudah lebih terjangkau. Belum sampai di hape, memang. Tetapi warnet sudah banyak, harganya lebih ramah di kantong. Cuma, kontributor di internet yang belum banyak. Jadi mau cari apapun, banyak yang belum ada. Pernah punya akun Friendster, tapi saya lebih aktif di facebook (padahal lebih baru tapi lebih cool) karena mainnya lebih enak. Akhirnya saya juga lebih banyak “bersembunyi” di blog. Facebook maupun Twitter, terasa terlalu hingar-bingar.

Too much information, kayaknya. Oke, back to topic.

Instant dan Tidak Sabar.

Alasan pertama, Millennial itu suka yang instant. Teknologi digital menyebabkan user-nya tidak bisa sabar dan selalu ingin mendapat response cepat — seperti menerima response setelah melakukan satu kali klik beberapa milisecond yang lalu. Demikian pula dengan target-target dalam hidup—termasuk karir. Millennial ingin target karirnya segera terwujud. Tidak sabar menaiki tangga korporasi. Memilih bergabung dengan perusahaan yang masih kecil. Atau, mendirikan usaha sendiri. Kita tahu, kedua macamnya bisa disebut sebagai startup, ‘kan?

Social media berperan besar dalam hal ini. Kita millennial takut untuk ketinggalan. Ya ketinggalan mengkonsumsi/menikmati, maupun terlibat dalam ikut membuatnya. Sebutannya FOMO (Fear of Missing Out). Takut untuk tidak perform, tidak deliver dan membuat impact. Startup memberikan kemungkinan untuk mengelola banyak hal, menciptakan pertumbuhan, dan membuat impact yang bisa dipamerkan di social media.

Yang jelas, social media harus disikapi secara bijak. Segala konten dan cerita di dalamnya, mungkin memang terlihat bagus, baik, positif dan seterusnya. Namun kita harus terus mengingatkan diri kita bahwa everybody has their own struggle. Yang kita lihat di social media nya tentu yang indah-indah ya. Pastinya, dia juga punya perjuangannya sendiri.

Optimis

Mungkin, millennial merasa hebat? Yang jelas, millennial itu optimis. Pekerja tertua millennial sekalipun mungkin baru 20 tahun berkarya, ya. Sudah banyak yang experienced, tapi ada juga yang baru 2 tahun experienced (Millennial terakhir lahir tahun 1996).

Di era digital seperti sekarang, data, angka, dan fakta ada di semua lini kehidupan (dan bisa diakses, tentunya). Tidak seperti dulu, tidak semua orang tahu, karena tidak semua dibuka, disebar dan bisa diakses.

Sekarang, dua-tiga titik dalam grafik kecil sekalipun sudah memberikan informasi. Lebih banyak data malah sudah jadi insight. Data à Informasi à Insight. Millennial sudah bisa memilih untuk mau optimis di data-data yang sebelah mana.

Generasi sebelumnya, lebih mengandalkan insting dan lebih sabar menunggu. Mungkin, millennial tidak punya waktu untuk menunggu. Hehehe.

Flexibility

Wujudnya bermacam-macam. Jam masuk (dan jam pulang) yang bisa diplih, model kerja yang full-time atau part-time, kebolehan bekerja remote (ini memang priviledge yang tidak bisa disediakan oleh semua industri). Semuanya berkat kemudahan jaringan internet untuk mengirim dokumen, teknologi email dan cloud computing. Tinggal security-nya saja diatur.

Di sisi lain, memang sudah zamannya untuk bekerja berdasar deliverable. Empat puluh jam bekerja di kantor selama sepekan memang masih ada dan beberapa perusahaan/industri sulit untuk menghilangkan faktor tersebut (tidak harus dihilangkan sih, karena beberapa industri seperti manufaktur memang harus demikian). Deliverable adalah output dari aktifitas/proses yang dilakukan oleh si karyawan. Which is, sudah didefinisikan ‘kan dalam proses bisnisnya perusahaan. Millennial memang makin pintar kok memahami alur bisnis. Mereka sudah tahu mana yang jadi deliverable langsung (sehingga bisa jadi key performance indicator) maupun yang tidak langsung.

But, Milennial-Style Office is Overrated

Ini yang keempat. Kalau kata Samuel Amarta, seorang konsultan HR, interior maupun fasilitas kantor yang memenuhi selera millennial itu overrated. Permintaannya kan memang dari pekerja milennial. Namun, dari sisi HR yang aktifitasnya seputar recruitment, retention dan growing para karyawan, sebenarnya hal-hal tersebut tidak berpengaruh banyak. Retention rate-nya belum tentu jadi rendah. 

Malah banyak millennial yang berpikiran, mumpung masih single, berpindah sesering mungkin demi mendapat experience sebanyak-banyaknya. YOLO (You Only live Once) adalah mantra dalam berpindah-pindah perusahaan dan industri.

Menanggapi hal tersebut, saya, sebagai seorang millennial yang sudah berkeluarga dan memiliki anak, malah berorientasi pada benefit-benefit karyawan semisal BPJS, asuransi swasta, dan sebagainya yang memberikan manfaat pada keluarga kecil saya. Ada lebih banyak faktor yang harus dipertimbangkan oleh orang seperti saya sebelum memutuskan pindah perusahaan. Seiring dengan menuanya pekerja milennial kita, benefits tersebut terbukti valid. 

Lantas, bagaimana perusahaan-perusahaan yang bukan IT Startup seharusnya menanggapi fenomena tersebut?

Terlalu permukaan apabila sekedar mengikuti interior ruang kerja perusahaan IT Startup. Masih di tingkat permukaan juga apabila, sekedar memberikan fleksibilitas waktu dan tempat bekerja. Baik dalam bentuk remote working, part-time, masuk kantor boleh lebih siang, dan sebagainya. Sementara, terlalu fleksibel malah sedikit-banyak –tergantung orangnya– menurunkan produktifitas bahkan memperlemah koordinasi dan komunikasi antar anggota tim.

Inovasi

Menurut saya, di dunia yang semakin hypercompetitive dan menuntut kita untuk bergerak lincah ini, yang patut ditiru dari para startup IT adalah budaya inovasinya. Budaya untuk terus-menerus meriset, mencoba (trial), implementasi, solve new problem from that implementation, dan seterusnya.

Knowledge Management

Inovasi sendiri tidak bisa dipisahkan dari knowledge management, menurut saya. Kita tidak bisa mencoba inovasi baru, kalau kita tidak mengakses dokumen knowledge internal. Seseorang, secepatnya, sebelumnya harus sudah menulisnya untuk bisa kita akses hari ini. Jadi kebiasaan untuk mengelola data, informasi, dan insight secara tertulis ini juga makin penting untuk dibudayakan.

Mengapa semua ini penting untuk, setidaknya, kita pikirkan?

Sebab, generasi-generasi kita sedikit demi sedikit mulai berganti. Customer, supplier, vendor perlahan tapi pasti mulai regenerasi. Tidak ada salahnya memberikan posisi-posisi strategis kepada para millennial di perusahaan. Karena customer, supplier, vendor kita juga semakin diisi oleh para millennial.

Remembering My Time in Consulting

Habis baca consulting worklife, tiba-tiba teringat dengan masa saya jadi konsultan dulu.

Belum konsultan asli, karena masih analyst. Masih 2-3 level senioritas lagi untuk jadi konsultan sebenarnya. Saya dulu tiga tahun di kantor konsultan tersebut. Yang saya dapatkan lebih dari cukup. Meski saya mendapat berlebih, tapi mungkin saya tidak mau mengulanginya lagi. Mungkin lho, ya. Because I am raising my family now.

Sebagaimana dahulu saya belajar di SMA berasrama. Experience-nya luar biasa. Segala pengalaman buruk atau sedih, tergantikan dengan yang indah-indah. Ingin diulang? Tentu tidak. Dikurung mengajarkan saya arti kebebasan.

Baik, masuk ke topik utama. Ada tiga hal yang saya dapat di konsultan: pembelajaran, (sedikit) jejaring, dan jalan-jalan.

Pembelajaran (Learning)

Meski hanya di belakang layar laptop, bukan di hadapan audiens –ini peran bos saya yang sudah 15 tahun consulting ketika itu–, yang jabatannya bervariasi – mulai dari level direktur sampai salesman lapangan, tapi consulting memberikan pelajaran yang luar biasa banyak untuk saya. Karena yang saya pikirkan bukan lingkup pekerjaan yang se-kroco saya. Tapi masalah di tingkat perusahaan yang jadi beban pemikirannya direktur. Kita akan belajar untuk tidak memberikan solusi yang receh; alias solusi yang tidak kita pikirkan matang-matang plus dan minusnya.

Malah kita fokus memberikan solusi yang out of the box – ada dua alasannya sebenarnya: menjawab masalah klien sekaligus cari aman, hehe. Referensinya darimana? Ya dari buku-buku yang really deep thoughtful lha. Ditulis dalam bahasa Inggris oleh orang-orang bule Amerika. Ditambah utak-atik gathuk terhadap hasil searching di internet, hehe.

Karena saya konsultan di bidang strategic marketing, maka saya jadi cepat belajar tentang organisasi marketing and sales di beberapa perusahaan dan industri sekaligus. Pengetahuan ini membangun imajinasi saya tentang bagaimana proses bisnis yang mereka –seharusnya—lakukan, siapa target market mereka, siapa saja perusahaan kompetitornya, dan lain sebagainya.

Berjejaring (networking)

As former analyst in consulting office, I already know what is fun and how to be a fun person. Theoretically, at least. Tanpa menghilangkan karakter asli yang berhati-hati (baca: berpikir dua kali) sebelum berpendapat, alias thoughtful, saya sudah lebih “cair” dibanding sebelumnya. FYI, tidak mungkin donk kalau meminta data ke klien itu straight to the point. Kita butuh basa-basi dulu. Pembukaan yang fun and interesting ini juga perlu sebelum mewawancara orang lain. Harus bisa “menjual” diri. Sebagaimana teknik salesman yang paling kuno: cari kesamaan dengan lawan bicara, lalu mulailah perbincangan dari sana.

At that time, kantor tersebut juga membangun komunitasnya sendiri. Komunitas para pengusaha. Kecil-kecilan. Biar punya “massa” kalau bikin acara sendiri. Acara untuk meng-entertain para existing client yang lagi proyek sama kita. Plus, untuk menangkap “ikan-ikan” yang lebih baru. Nah, “massa” pendukung ini kita jadikan tamu-tamu dalam acara tersebut.

Traveling

Kantor konsultan tersebut tidak besar. Belum regional Asia Tenggara. Tapi cukup membuka kesempatan bagi saya untuk terbang –dengan alasan pekerjaan dan dibiayai oleh klien—ke beberapa kota di Indonesia. Palembang, Medan, Makassar, Surabaya, Yogyakarta. Pergi pagi pulang sore ke Jakarta. Kalau acara dua hari, berarti ada kesempatan kuliner malamnya.

Bukan hanya soal terbang. Namun jam kerja konsultan cukup fleksibel. Bukan berarti santai karena bekerja >40 jam seminggu. Masuk bisa lebih siang, tapi mungkin kamu akan pulang malam –bahkan menginap—dan tanpa uang lembur. Buat saya yang waktu itu belum lama menikah dan anak-anak sudah berusia beberapa bulan, tampaknya saya butuh rehat. I was burnout at that time. Di kantor konsultan yang lebih besar, duitnya lebih dari cukup untuk “mengobati” burnout-nya. Jadinya mereka bisa bekerja lagi; mencari uang untuk mengobati burnout sebelumnya. Hehehe.

See? Tidak semua orang cocok menjadi konsultan.

Takeaways

Mengalami roller-coaster kehidupan ala konsultan sangat menarik lho. Experienced and memorable. Saya sarankan kamu mencobanya. Tidak wajib lama. Cukup 2-3 tahun saja. Lebih awal mencobanya, lebih baik. Tapi seperti saya katakan di atas, ada tiga thread-off nya. Learning, networking, and travelling.

  • Tidak semua orang cocok menjadi learner ala konsultan di sepanjang hidup mereka. “Belajar” dari direktur, membaca dan membedah buku atau kasus-kasus bisnis, menulis di koran membangun personal brand, dan seterusnya.
  • Network itu ibarat buah. Selama masih di pohon, dia belum bermanfaat. “Menabung” network tapi tidak mengupayakan “memetik”-nya, rasanya kurang tepat juga. Ingat, semakin senior seorang konsultan, kerjanya hanya membangun relationship di sana-sini sebelum mengekstraknya sebagai proyek. At least, I know how to be fun and interesting person/friend when meeting someone new.
  • Travelling quite a lot itu prasyarat menjadi konsultan. Dalam kota, maupun antar kota antar provinsi (AKAP donk!). Dalam hal ini, kamu tidak akan menjadi ayah yang reguler. Pulang setelah anak kelelahan bermain seharian. Atau masih sibuk dengan pekerjaan tatkala mereka meminta weekend-mu untuk bermain bersama.

Jadi, apakah ini berarti saya benar-benar berhenti dari being a consultant? Maybe yes, maybe no. Kalau saya tidak bertemu dengan pekerjaan tetap yang sukses memaksa saya bertahan di situ, mungkin saya akan pindah. Dan satu-satunya jalan mungkin hanya konsultan.

Itu ceritaku. Apa kamu ada cerita tentang bekerja sebagai konsultan atau agensi? Kalau ada, mohon bagikan ceritamu di kolom komentar ya.

Tulis Judul atau Konten Duluan?

Dalam membuat tulisan, ada kalanya kita bingung mulai dari judul atau isi. Tulisan kali ini akan membahas bagaimana memaksimalkan kelebihan yang satu, guna menekan kelamahan yang lain.

Konten duluan.

Konten duluan sampai pada titik di mana, tidak tahu lagi harus menambah apa. Seperti kampanye #mulaiajadulu. Kebanyakan dipikir (baca: diriset) ya tidak akan membawa ke mana-mana. Kata Dee Lestari (tidak sama persis ya), fitrah sebuah ide adalah di alam bebas. Di alam bebas, dia akan menemui beragam dukungan, bantahan, kritik, saran, dan sebagainya. Dengan kata lain, hakikat gagasan bukan sekadar bertahan di alam pikiran semata.

Sutradara kenamaan macam Ernest Prakasa, juga menyarankan hal yang senada. Jadi, beliau memisahkan proses menulis dengan proses perbaikan (revisi). Sepanjang masih punya ide cerita, dan belum memasuki fase perbaikan (salah satu alasannya adalah deadline belum mepet), maka menulis lha terus.

Tugas kita sebagai penulis adalah “mematangkan” gagasan tersebut. Ibarat sungai, di sinilah pentingnya hulu dan hilir sebuah tulisan. Hulu, proses di mana kita mengumpulkan premis-premisnya. Berupa aktifitas riset (mengumpulkan bahan, membaca, menganalisis, membuat hipotesis), mengingat dan menyelami peristiwa-peristiwa yang berlalu dalam hidup kita sendiri (maupun orang lain), sampai dengan mengingat pikiran-pikiran kita di masa lampau tentang apa yang ingin kita tuangkan. Jadi, ada tiga macam klasifikasi untuk hulu.

That’s why kita perlu beberapa medium untuk menulis. Karena menulis adalah praktik melepas gagasan ke alam di luar pikiran, maka saya kira kita tetap perlu membedakan mana alam yang benar-benar jauh dan tidak bisa kita kendalikan, dan mana alam yang masih terjangkau serta menjaga rahasia-rahasia kita dengan baik.

Di medium-medium seperti buku yang dicetak penerbit, artikel media massa, kita tidak bisa mengendalikan keliaran pendapat khalayak umum. Dalam bahasa internet seperti sekarang, yaitu kata netizen. Namun kita masih bisa menjaga rahasia sekaligus mencatat ide dan ilmu di medium personal. Sebut saja jurnal, buku diary, rencana dan evaluasi aktifitas, dan lainnya. ide-ide yang kita tuangkan di format terakhir, adalah aset yang bisa kita tengok kembali dan aplikasikan di suatu ruang dalam tulisan.

Bagi saya, menulis adalah berpikir. Mengapa demikian? Sebab sebelum menuangkan sebuah kalimat, kita akan berpikir 2-3 kalimat ke depan. Bagaimana kita membahasakan sebuah gagasan berukuran mikro, bergantung pada bagaimana kita melihat kalimat tersebut dalam sebuah paragraf. Lebih jauh, peran sebuah paragraf dalam artikel keseluruhan, fungsi sebuah bab atau bagian terhadap isi buku secara umum.

Nah, kelebihan memulai tulisan dengan judul adalah kita sudah memberikan batasan yang relatif tegas terhadap isi tulisan. Namanya relatif, bisa dilanggar. Baik menjadi lebih luas (atau general), atau menyempit (alias fokus pada bahasan tertentu). Yang jelas, judul adalah acuan dalam perjalanan menulis guna menyadari garis finish (batas selesai). Kalau sudah selesai, boleh lha kita menengok sang judul kembali. Sudah tepat kah, sudah merepresentasikan isi kah, sudah memancing pembaca untuk membaca kah, dan lain sebagainya.

Fungsi Editing dan Peran Editor

Hilir, yaitu pentingnya fungsi editing dan peran editor.

Sebelumnya, saya sebutkan bahwa tulis apapun yang muncul di kepala untuk ditulis. Mumpung masih ada dan belum mampet (stuck). Sebab, masa-masa untuk perbaikan, revisi atau sejenisnya akan datang dengan sendirinya. Itulah yang disebut editing. Editing pertama dari diri sendiri. Alokasikan waktu untuk melakukan proses edit. Misalnya, hanya 5% dari total waktu untuk menulis. Di sinilah kita dapat berperan sebagai pembaca, dan menjaga jarak dengan diri kita sebagai penulis. Keluaran yang diharapkan adalah objektifitas dalam memandang karya tulisan tersebut.

Tentu diri ini sebagai pembaca, dapat kita belah menjadi dua. Baik sebagai pembaca yang berharap kualitas tulisan dari sisi bahasa. Maupun pembaca yang merepresentasikan konsumen tulisan secara umum.

Profesi editor, sebagai lapis kedua (namun utama), juga menjalankan kedua peran tersebut di atas. Alias berperan sebagai pemeriksa (checker) yang menjamin mutu (quality assurance) dalam tata bahasa, serta mewakili pembaca yang punya ekspektasi dan harapan tertentu terhadap isi maupun alur (flow) tulisan.

Tidak hanya keduanya, di beberapa penerbit editor pun berperan di hulu. Yakni memberikan pandangan (visi) dan saran kepada para penulis, tentang selera pasar yang sedang tren (dan yang sedang turun pula).

Reflection on my 2019 site analytics

Tahun 2019 adalah tahun pertama men-swasta-kan domain dan hosting. Tadinya masih negeri; alias menumpang ‘host’ di server gratis milik WordPress. Setelah setahun ini, ada sedikit angka, data, dan statistik lain yang bisa direfleksikan barang sejenak. Kita mulai ya.

Sepanjang tahun 2019 ada 44 post. Meningkat 7 post saja (19%, lumayan) dari tahun sebelumnya. Namun average words per post-nya menurun dari 927 ke 711 kata. Turun sebesar 23%. Signifikan juga ya. Namun, tidak terlalu masalah. target saya kalau menulis adalah minimal 800 kata. Saya bukan tipe yang mentarget minimal 1500 atau 2500 kata. Masih termaafkan lha ya kalau sekitar 700-an saja. 

Pernah rasanya saya share di suatu tempat di blog ini bahwa 300 kata, meski sudah layak secara SEO, namun terlampau pendek untuk menyajikan cerita. Di sisi lain, 2500 kata sudah oke banget untuk SEO. Tapi lebih baik dibelah saja untuk artikel di pekan berikutnya; ini menurut saya lho ya. 

Tahun 2019 itu ada 7,453 page views dari 4,677 visitors. Artinya, satu visitor melakukan 1,59 page views. Artinya tiap pengunjung rerata hanya melihat 1-2 post. Sumber traffic terbanyak dari search engine, yaitu sebesar 3,707 pageviews. Sementara yang datang dari facebook dan Instagram sebesar 195 dan 128 page views. Dapat disimpulkan, lebih banyak dari mesin pencari daripada followers-nya social media saya. Sepintas tadi menengok setting page, tampaknya ada error di social share-nya –share via facebook & linkedin. 

Dari list yang sudah menyetor tulisan di komunitas 1m1c, hanya ada 41 page views. Lumayan juga, karena keanggotaannya hanya sekitar 100 members. Dari komunitas yang sama –tetapi sumber link berbeda– ada 3 (tiga) tulisan saya yang sempat di-klik dari sana:

Di antara 10 tulisan dengan page view terbanyak, hanya ada dua yang ditulis di tahun 2019. Yaitu: Review Buku Filosofi Teras (441 views) dan Menyelami Filosofi Rumah Panggung Suku Bugis (120 views).

Tiga-puluh-tujuh (37) post di tahun 2018 sebenarnya copy paste dari blog saya yang lama: http://ikhwanalim.wordpress.com. Seingat saya, tidak banyak yang saya tuliskan di tahun tersebut. Sebab lebih sibuk migrasi konten daripada menulis baru. Alhamdulillah di tahun 2019 cukup banyak tulisan yang benar-benar baru. Bahkan, ada kategori personal journal dan blogging/writing yang cukup banyak saya tulis. Selain itu, ada sedikit dari kategori marriage/parenting/fathering.

Khittah-nya blog ini seharusnya membahas topik sales/marketing. Eh tapi kategorinya malah ke mana-mana, yah. Dilema ini sudah bertahun-tahun saya rasakan — selama 12 tahun nge-blog. Ragu untuk memilih fokus menulis ide yang muncul di pikiran, atau mau fokus di kategori tertentu yang kita kehendaki sebagai positioning/niche-nya kita.

At the end, I took my decision to not overthinking the branding part. Jadi, saya tuliskan saja pengalaman, pikiran dan gagasan yang ingin saya bagikan. Tanpa harus feeling guilty karena si blog ini entah mau dibawa ke mana (if you sing, then you lose). Hehehe.

Tahun 2019 tampak belum ada postingan juara yang view-nya tinggi. Karena yang tinggi berasal dari tahun sebelumnya: Posisi Kerja di Dealer Mobil. Post ini view-nya tinggi karena post sejenis sedikit sekali di jagat internet. Sementara di Indonesia, konsumen kendaraan bermotor seperti mobil dan sepeda motor tinggi sekali. Tidak heran lowongan kerjanya pun cukup melimpah, sehingga pertanyaan seputar posisi-posisi pekerjaan di dealer juga banyak:

  • jabatan di dealer mobil 
  • jabatan-jabatan kerja di diler mobil 
  • cara kerja dealer kendaraan
  • tugas marketing di dealer mobil honda 

Rencana 2020

Bagaimana dengan tahun 2020? Rencana saya adalah berusaha seproduktif mungkin dalam nge-blog. Kalau satu tahun ada 52 minggu, maka idealnya ada 52 post kali ya. Tahun 2019 sudah terwujud 85%-nya.

Mau produktif menulis topik/kategori apa? Seperti saya ceritakan tentang dilema di atas, maka topiknya akan bebas. Sebagai ortu, mungkin postingan seputar topik parenting akan hadir pula. Mengingat, yang bersangkutan mulai sekolah di tahun ini. Tentang strategic marketing, mungkin topik seputar milennial dan leisure bisa dieksplorasi lebih mendalam. Personal journal jangan ditanyakan lha, ya. Itu topik paling tidak terencana, tapi paling sering ditulis karena experience dan personal story-nya.

Itu sedikit refleksi dari saya seputar hikmah-hikmah yang bisa diambil dari analytic machine di situs blog ini. Bagaimana dengan refleksi dan rencana blogging kamu? Saya tunggu pendapatmu di kolom komentar, ya 🙂

Artisan Brand. Leisure Economy.

Kembali ke khittah dulu ya. Kembali ke topik marketing.

Blog ini tajuknya “Authentic Marketing”, tapi sudah lama tidak bahas marketing, ya 😀 Tentang Marketing, terakhir mengulas soal pindah profesi dari Sales ke Marketing. Soal Sales, terakhir menganalisis bagaimana mengajari anak berdagang.

Sejak setengah tahun yang lalu, malah membahas yang lain-lain, semisal topik tentang blogging/writing, fathering, marriage, dan personal journal.

So, let’s start it.

Dari topik branding, yang kekinian adalah lahirnya brand-brand artisan. Paling menonjol adalah branding tidak lagi ranahnya pemain-pemain bermodal besar. Hanya dengan modal finansial yang kecil sekalipun, sudah bisa memulai branding. Tapi cara bermainnya sangat jauh berbeda. Tidak jorjoran membayar media televisi, media cetak, billboard, dan media-media lainnya.

Yang khas sekarang itu adalah menawarkan misi-misi problem solving lewat storytelling guna mengumpulkan fans—bukan lagi pelanggan (customer), apalagi pembeli (buyer). Jadi si co-founder –atau si orang branding–kudu sharing (berbagi) tentang problem apa yang mereka temui di masyarakat, dan usaha-usaha apa yang mereka sedang lakukan guna menyelesaikan masalah tersebut. Sharing is Branding. Namanya juga fans ya, mereka bukan lagi sekedar menikmati hasil saja, melainkan ingin terlibat banyak dalam usaha-usaha tersebut.

That’s why Mas Handoko Hendroyono lewat bukunya “Brand Artisan” merekomendasikan untuk membangun public spaces (ruang-ruang publik). Tidak harus ada fisik bangunan atau lokasi tertentu, namun bisa dimulai dengan mengembangkan komunitas. Jadi, fans di sini identik juga dengan komunitas. Bersama fans –dan institusi atau komunitas lain—si brand berkolaborasi membangun story. Narasi-narasi yang dibangun bersama ini yang kemudian dibagikan ke khalayak lain. Istilah kekiniannya adalah di-viral-keun. So, nowadayas, branding is done through sharing.

Berhubung social media juga sudah menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari, maka semuanya bisa dimulai dari kecil. Bahkan dari personal story kita sendiri. Ya, personal branding is matter now. Saling menguatkan juga dengan brand itu sendiri. Brand-nya “dijual” oleh si personnel. Di sisi lain, personal brand-nya juga ikut dikenal seiring meluasnya si brand tadi.

Bicara Start-Up, co-founder macam Fajrin Rasyid bersama Bukalapak berkampanye ke mana-mana seputar misi membangkitkan ekonomi para UMKM melalui teknologi digital.

Leontinus Alpha Edison, co-founder Tokopedia berkisah tentang minimnya kesempatan berusaha di kota asalnya dahulu, Pontianak, sehingga corporate mission Tokopedia adalah memberikan kesempatan “berdaya” bagi pemuda-pemudi di kota-kota, terutama di luar Pulau Jawa.

Marchella FP, biasa berdiskusi dan berbagi dalam tajuk Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (NKCTHI). Bukunya ada dan laku sampai 150ribu eksmplar. Filmnya juga belum lama ini dirilis di bioskop. Komunitas fans NKCTHI dibangun lewat dialog intens di akun instagram. Kemasannya itu lho yang mengena banget bagi generasi milennial.

Startup AirBnB membantu fans-nya menemukan penginapan di seluruh penjuru dunia. Semangat berbagi dan memberdayakan para pemilik rumah maupun apartemen. Kemajuannya memberi dampak ekonomi dan kesejahteraan.

Dalam bukunya, Mas Handoko juga menyebut KlinikKopi. Personnel-nya adalah Pepeng. Namanya klinik, tiap pengunjung adalah “pasien” yang wajib di-“diagnosa” secara personal, satu-persatu. Lewat percakapan intens, Pepeng menceritakan dan menawarkan kopi racikannya. Sesuai hasil diagnosa.

Kalau PasarPapringan adalah event pasar dua-mingguan dari founder RadioMagno, Singgih Kartono. Awalnya pasar, namun kini telah menjadi public space juga. Bahkan tujuan pariwisata yang ramai dikunjungi wisatawan lokal maupun mancanegara. Oiya, beliau si founder ini juga membesut brand Spedagi—sebuah sepeda bambu. Memang, di pinggiran daerah Temanggung ini ada banyak sekali kebun bambu sebagai material dominan radio dan sepeda.

Kalau saya pribadi, saya adalah fans-nya Upnormal. Bukan komunitas tertentu, memang. Namun mereka menyajikan “spaces” yang lokasinya dekat dari mana-mana. Dan dengan brand-nya, saya meyakini ada standard yang sama di setiap titiknya. Semangat yang diusung, menurut saya, adalah semangat freelancer yang “bisa bekerja di mana saja dan kapan saja”. Suatu titik Upnormal bahkan mengkampanyekan ketersediaan “100 colokan” alias stop kontak. Supaya betah berlama-lama dan selalu menyesap es-kopi-susu-gulmer itu.

Selain mengamati dan memformulasikan semua ide dan konsep di atas, Mas Handoko sendiri mengeksekusi gagasan Filosofi Kopi. Yang kini bukan sekedar coffee shop. Melainkan sudah jadi intellectual property (IP) dalam wujud film, merchandise, dan bentuk-bentuk lainnya.

Setidaknya ada tiga coffee shop saya sebut di atas ya. Belakangan, kategori coffee shop ini juga menyasar para milennial “galau”. Brand-brand seperti Janji Jiwa, Kopi Kenangan, dan beberapa lainnya berbagi cerita tentang kegalauan masing-masing.

Selain lahirnya brand-brand artisan, ekonomi dari leisure juga sedang tumbuh berkembang.

Leisure Disruption

Meningkatnya kemakmuran dan kualitas hidup konsumen Indonesia mendorong mereka untuk mulai mengonsumsi produk dan layanan yang menciptakan kesejahteraan (well-being) dan kebahagiaan (happiness) untuk mewujudkan kualitas hidup yang lebih baik.

Itu sebabnya konsumsi leiser seperti berlibur, nongkrong dan berkulineran, menonton konser musik, berolahraga, hingga kegiatan mindfulness seperti yoga tumbuh pesat.

Leisure disruption adalah perubahan pola konsumsi konsumen dari konsumsi berbasis barang (goods-based consumption) menjadi pengalaman (experience-based consumption).

Di sektor ritel, department store, hypermarket/supermarket hingga trade center mulai berguguran. Namun di sisi lain minimarket, online shopping, artisan shop/store, digital POS, hingga leisure retail justru tumbuh pesat.

Sementara di sektor pariwisata perilaku millennial travellers juga mulai bergeser. Biro perjalanan konvensional, tour guide tradisional, losmen, hingga group tour mulai ditinggalkan. Sebaliknya staycation, instagramable destination, hotel butik, nomad tourism, hingga akomodasi berbasis apps seperti Airy atau OYO kian menjamur.

(yang berwarna merah dari blog Mas Siwo). Saya lihatnya ya, tidak hanya milennial yang suka travelling. Bahkan generasi ortu saya pun juga semakin rajin travelling.

Demikian fenomena dan strategi marketing dari praktisi dan pengamat kita. Bagaimana menurut kamu? Silakan ikut berkomentar di bawah, ya!

Referensi:

How to treat writer’s block

Saya merasakan, dua kali menunda menulis dan nge-post tulisan, maka selanjutnya akan lebih malas lagi. That’s why ada blog yang berdebu dan bersarang laba-laba kan? (Lebay banget).

Simpel. Karena sekali tidak nge-post, maka ghiroh untuk menulis juga menghilang. Perasaan excited setelah sudah posting, ikut menghilang. Seakan kita “lupa” rasanya, “lupa” pula jalan untuk kembali ke sana. Kalau mengaku sebagai penulis, sudah sepatutnya tahu cara untuk kembali ke sana dan merasakannya lagi.

Itu dari sisi “feeling” ya. Beda lagi dari sisi “konten”. Ada topik-topik tertentu, yang kita dengan mudah menuangkannya dalam bentuk tulisan. Dalam hal ini, perencanaan dan proses produksinya bisa sekali jalan. Katakanlah, hanya butuh Lead. Itu adalah sebuah kalimat atau paragraf pertama yang menjadi pancingan, dan entah bagaimana menunjukkan (to show) kepada kita akan “cara” untuk mencapai akhir (finish) dari tulisan. Seiring dengan terbiasa menulis, maka cara-cara tersebut akan semakin familiar.

Bagaimana dengan content planning? Ini adalah teknik lain ya untuk tetap produktif. Ada yang merencanakan kontennya di jurnal masing-masing secara offline ya. Ada juga yang tanpa rencana, langsung mengembangkan draft di blog masing-masing. Jangan heran kalau ada blogger yang punya puluhan draft tanpa deadline rilis yang pasti. Kalau saya, first draft-nya saya buat di Trello, sebuah mobile app, lalu saya pindahkan dan kembangkan lebih lanjut di Ms Word. Versi finalnya harus dalam bentuk Ms Word. Sekalian jaga-jaga ya kan, kalau harus migrasi blog (lagi).

Kelebihan dari planning the content adalah kita jadi punya kesempatan untuk melakukan riset lebih mendalam. Mencari, memperbanyak, dan menuangkan lebih lanjut beberapa perspektif terhadap suatu topik. Kita juga bisa menambahkan beberapa detil, angka, atau contoh yang memperkuat argumen atau gagasan kita. Kelemahannya jelas: riset itu tidak pernah mudah dan selalu memakan waktu. Banyak tidaknya waktu yang dihabiskan, tergantung seberapa panjang dan kokoh konten yang kita targetkan. Apakah sekedar artikel, atau bahkan dalam wujud buku.

Ikut komunitas

Yang saya rasakan, memulai untuk menulis lagi terasa lebih berat ketika kita terakhir melakukannya berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan yang lalu.

How to treat this type of writer’s block? Cara lainnya adalah dengan ikut komunitas. Di komunitas 1Minggu1Cerita (1M1C), grouping-nya ada dua. Di WhatsApp Group (WAG) dan di web www.1minggu1cerita.id. Kita akan di-kick secara otomatis dari web kalau tidak “melapor” atau “setor” (dalam bahasa anggota komunitas tersebut) pranala (link) artikel terbaru di blog, selama 6 (enam) minggu berturut-turut. Kalau sudah demikian, tinggal tunggu saya di-remove oleh admin dari WAG. Btw, saya salah satu adminnya. Tapi bukan saya yang nge-kick. Itu terlalu tega bagiku. Huhuhuhu 😀

Where to post my thought?

Untuk tulisan curhat (curahan hati, untuk yang belum tahu) yang biasanya bersifat “internal” saja, saya tidak post ke blog. Melainkan sekedar merangkai kata dan kalimat di Ms Word, lalu disimpan di laptop. Atau, dengan menuangkannya di personal journal saya. Jurnal tersebut tidak sebatas curhatan ya, berbagai rencana dan evaluasi juga saya tuangkan di sana. Dengan melakukan semua ini, saya seakan-akan sedang “berpikir, berbicara, dan berdiskusi” dengan diri saya sendiri. Sesuatu yang selalu dilakukan oleh seorang introvert.

Mengapa demikian? Saya kira tiap manusia punya dua dimensi ya. Dalam dan luar. Internal dan eksternal. Tidak semuanya bisa secara sembarangan ditempatkan. Ada yang bisa, ada yang tidak. Salah satu teknik yang mem-bisa-kan adalah dengan membagi tulisan tersebut ke dalam dua bagian. Pertama, bagian “curhat”-nya. Bagian kedua, tips and trick menangani situasi dan kondisi yang demikian. Sesuatu yang sebenarnya tidak selalu saya lakukan. Tapi bisa dilakukan kalau hatimu butuh wadah untuk menuangkan. Di sisi lain, tidak ingin memalukan diri sendiri. Bahkan, malah fight back dengan memberikan tips and trick mengatasi hal tersebut.

So, each of my thought has its own channel to publish. I hope you, too.

As for myself, saya melihat segala “eksternal” dan “luar” yang saya sebut di atas, sebagai suatu saluran yang seharusnya mem-branding diri kita. Untuk terlihat smart, cool, atau berbagai atribut keren lainnya. Yang mungkin ujung-ujungnya, tanpa bermaksud naif atau munafik, ternyata adalah “jualan”. Baik itu jualan produk, promosi event, atau semacamnya. Di sisi lain, saluran-saluran eksternal ini bisa juga kita optimalkan untuk hal yang sesederhana “berbagi kebaikan”.

Salah satu tantangan dalam ber-blogging ria, menurut saya adalah, bagaimana memisahkan ranah privat dengan ranah publik. Ada lho, blogger yang “dituduh” kelewat mengumbar kehidupan rumah tangganya. Sesuatu topik yang bagi blogger-blogger lain, tidak perlu diceritakan di medium blog. Topik-topik yang sekalipun kamu ingin sekali menuangkannya, tapi kamu tidak perlu merilisnya. Biarlah itu ditulis dan disimpan untuk dirimu sendiri.

Meskipun, harus diakui bahwa, sebagaimana saya katakan di awal, rutin menulis itu nyaris wajib hukumnya (hehehe), namun rutin nge-posting? Mungkin harus dilihat lagi ya. Mana yang bisa diposting di internet dan dibiarkan abadi berada di dalam sana. Dan mana yang didokumentasikan untuk dikonsumsi oleh diri sendiri, lagi, di suatu waktu nanti. Mohon maaf post ini tidak persis sama dengan judulnya. Tapi itu pendapat saya. Barangkali kamu punya pikiran lain? Silakan share di kolom komentar, ya.