Balance in Remote Work Life

Masih soal remote working. Atau kerja jarak jauh. Apa sih, bedanya? Jelas beda donk. Remote working is in english. Kalo kerja jarak jauh itu bahasa Indonesia. Ok? Sip 😀

Bekerja di luar kantor pada umumnya, memang bisa meningkatkan produktifitas. As you know, di kantor kita sering terhambat hal-hal yang belum tentu penting. Semisal, meeting. Membahas sesuatu yang kita (biasanya) belum siap. Belum baca materi meeting, belum searching soal keyword tersebut, belum cari referensi atau benchmark. Sehingga kita biasanya juga kurang mantap saat ambil keputusan.

Kalau kerja remote dari rumah, kafe, atau coworking space gitu biasanya jadi lebih produktif. Karena sudah tahu apa yang mau dikerjakan (sudah ditetapkan), dan sudah biasa mengerjakan (bukan newbie, sudah berpengalaman).Selain soal produktifitas, kampanye kerja remote biasanya diikuti soal kebebasan berpakaian. Ya pakai celana pendek lha, bisa kaos t-shirt instead of kemeja lha, dst. Ekstrimnya, bisa pakai piyama.

Tapi semua itu tidak akan membuat karir (ciyeh, karir!) remote working akan bertahan lama. let’s say 3 tahun, minimal. Simply karena selain manusia pekerja, kita adalah makhluk sosial dan makhluk anti-kebosanan.

Kita masih butuh kok, kena angin jalanan (kalo hilir-mudik momotoran). Atau melihat warna aspal (jalan ini kok lebih gelap daripada jalan yg itu ya?), dsb. Yang paling utama adalah kita masih butuh bersosialiasi sama manusia lainnya. Yang hidup, sama-sama makan nasi, dan juga menyeruput kopi. Kita masih butuh lho qoempoel (baca: kumpul) sama komunitas yang se-hobi.

Iya sih, kalo kerja dari rumah bisa kerja semau-mau gw. Mau kerja sampai subuh, lanjut sholat subuh (dua rakaat sebelum subuh jangan dilupa, kawan!), lalu tidur. Atau kerja sampai 12 jam sehari (alasannya ngejar deadline, padahal hobi ngulik kata, kode atau desain aja).

Padahal, bagaimanapun juga, kerja ‘kan hanya salah satu aspek dalam hidup. Cari uang demi segenggam beras dan sebutir berlian sih, iya. Tapi ada dimensi-dimensi lain ‘kan yg harus kita penuhi. Sebut saja, anggota keluarga yg berhak atas diri kita. Adik yg butuh kakaknya utk dijahili, ortu yg butuh anaknya makan bareng di meja makan, sampai anak-anak yg butuh PR-nya dikerjain ortunya (eh!). 😀

Nah, ini ada beberapa hal yang bisa dikerjain supaya remote working tetap produktif, mengasyikkan namun tetap jadi kerjaan yang rewarding utk kita pribadi, namun jadi kerjaan jangka panjang. (Banyak dan rumit ya syaratnya).

As simple as, rencanain aja besok mau pakai baju apa. Gak mungkin kan pakai t-shirt belel yg itu-itu aja. Ceritanya sih gak mau ambil pusing ala-ala Abang Mark Zuckerberg atau almarhum Steve Jobs. Padahal ya, biar lebih proper aja. Saya sih suka yg ada kerahnya, jadi lebih serius gitu kesannya kalo mau kerja (meski masih di rumah, sih). Another point sih, dengan merencanakan hal-hal yang remeh-temeh begini, kita jadi gak terlalu kaku, bahkan jadi kreatif soal kerjaan yg menuntut produktif.

Tentu poin ini gak terbatas soal fesyen aja. Tapi juga makan siang apa, di mana. Yang penting gak kelewat ribet mikirinnya. Take it easy aja. Kayak di office beneran. Kalau kita nyaman dengan pakaian kita, lalu cukup kenyang via lunch and snack, kan kita sendiri yg merasakan nikmatnya kerja.

Bikin aktivitas rutin setelah bangun tidur, yang menyenangkan. Misalnya jalan/lari pagi habis subuh, belanja ke pasar, mengisi jurnal, atau lainnya. Isi jurnal memang dikerjain di dalam rumah, sih. Tapi kalau dua sebelumnya kan aktivitas luar rumah. Believe it or not, pamer diri ke luar rumah, menunjukkan diri kita itu masih ada dan eksis (agak lebay sih) itu gak kalah pentingnya untuk kesehatan mental. Kalau hati sudah senang, kita bisa mulai kerja dengan happy.

Nonton TV atau bioskop (tadinya saya mau re-mind soal nyanyi Indonesia Raya sebelum film diputar, tapi naga-naganya peraturannya ditunda). TV? Biasanya sih TV dinyalakan sambil ngobrol keluarga — Jadi TV-nya muter apa, kitanya bicara apa 😀 . What I really mean is, ekspos diri kita dengan story yg baru atau berbeda. Bisa dari film TV/bioskop, serial yang baru, buku novel, dsb.

Terakhir, adalah punya komunitas. Maksudnya sekelompok orang yang kita saling kenal dan punya topik pembicaraan yg sama. Not really new people (kalo ini namanya networking). FYI, butuh 40 jam interaksi untuk merasa casual friend dan 90 jam untuk being real friends.

Remote working memang memberi kita kebebasan soal fleksibilitas, waktu, dan produktifitas. Belum termasuk ruang berkreasi untuk diri dan karya kita. Mari ambil keuntungan yang terbaik dari remote working, dan kembangkan kebiasaan-kebiasaan (seperti beberapa sudah saya sebut di atas) yang worth it dan menghargai diri sendiri.

Referensi: https://blog.trello.com/hermit-habits-remote-work

Aplikasi USBK Pinisi Edubox

Aplikasi Ujian Sekolah Berbasis Komputer (USBK) adalah aplikasi yang memungkinkan anda (sebagai guru) atau sekolah anda untuk menyelenggarakan ujian secara online.

Pinisi Edubox adalah perangkat server berukuran mini dengan performansi optimal untuk kebutuhan komputasi anda yang akan memberikan pengalaman mengajar (sekaligus ujian) yang tidak akan pernah dilupakan oleh siswa.

Pinisi Edubox terdiri dari sebuah aplikasi USBK dan perangkat fisik berupa jaringan yang dapat disambungkan dengan lab komputer atau jaringan komputer (computer network) di sekolah. Perangkat keras yang sama dapat digunakan secara intranet di dalam kelas.

Aplikasi USBK dalam perangkat Pinisi Edubox, tidak hanya dapat digunakan untuk ujian saja, yaitu ujian semester, ujian mata pelajaran, atau ujian sekolah. Perangkat ini juga dapat membantu guru dalam proses belajar-mengajar itu sendiri. Karena konten pembelajaran dapat disimpan di server atau cloud milik Pinisi, yang kemudian dapat diunduh oleh para siswa melalui perangkat laptop, smartphone, atau komputer masing-masing.

Ada dua produk dari Pinisi yang menyertakan aplikasi ujian berbasis komputer di dalamnya:

  • Edubox Smart Router, dan
  • Edubox Mini Server

Tentu saja aplikasi ini bukan aplikasi Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK). Namun aplikasi Pinisi ini dapat digunakan sebagai media latihan dalam menghadapi UNBK.

Bagaimana menggunakan aplikasi USBK Pinisi? Berikut adalah panduan langkah demi langkahnya:

Set Up Awal Aplikasi USBK Pinisi .

Set Up Awal. https://www.youtube.com/watch?v=JLG73-KYmJw

Anda dapat mengisi Nama Sekolah, Alamat Sekolah, dan nama Kepala Sekolah. Lalu kita isi kurikulum yang digunakan. Bisa kurikulum 2006 atau 2013. Pada awalnya hanya terdapat satu user. Dari sini, kita bisa menambahkan user-user yang lainnya. Tahun ajaran bisa kita pilih sendiri. Dengan format 2017/18, 2018/19, dan seterusnya.

Cara mendaftarkan kelas dimulai dari Jenjang Kelas. Aplikasi ini menyediakan pilihan jenjang kelas dari tingkat I sampai tingkat XII. Sedangkan ruang kelas adalah posisi ataupun urutan kelas, contohnya kelas X-1, X-2, X-A, X-B. Terakhir, kita bisa memasukkan nama wali kelas ke dalam masing-masing kategori kelas.

Guru dapat mengunggah data ke dalam sistem menggunakan file dengan format Excel. Tenang saja, kami sudah menyediakan cetakan (template) yang dapat digunakan dengan mudah. Sehingga pengisian data ke dalam cetakan tidak memakan waktu lama. Manfaatnya adalah proses unggahan (uploading) dapat dilakukan tanpa menghabiskan waktu dengan percuma.

Admin dapat memasukkan (input) soal ujian atau mengunggah (upload) dari cetakan format Excel yang sudah disediakan berdasarkan nama guru, jenjang kelas dan mata pelajaran yang diampu.

Untuk menampilkan hasil ujian, aplikasi USBK Pinisi dapat memperlihatkan nilai siswa berdasar semester, menurut kelas, atau per mata pelajaran dan memungkinkan untuk di-eksport ke format PDF, Excel maupun langsung dicetak (print) di atas kertas.

Pada menu ini juga guru dapat membuat soal atau melakukan impor soal (lagi-lagi dari cetakan berformat Excel) per mata pelajaran dan per jenis ujian.

Cara Membuat Ujian Baru di Aplikasi USBK Pinisi.

Anda dapat memulai pembuatan ujian baru di aplikasi USBK Pinisi ini dengan meng-klik tombol “Tambah Ujian”. Kemudian akan muncul form “Ujian Baru”. Silakan isikan nama ujian pada ujian anda yang baru. Pilih juga mata pelajarannya. Dalam contoh, adalah mata pelajaran Bahasa Indonesia. Cukup isi “Lama Ujian” dengan angka saja. Karena sudah diformat dalam satuan menit. Misalnya diisi 120 yang menandakan ujian akan berlangsung selama 120 menit.

Ada beberapa tipe ujian yang dapat dipilih dari menu Jenis Ujian. Guru dapat membuat jenis ujian seperti ujian harian, ujian tengah semester (UTS), atau ujian akhir semester (UAS).

Sebagai guru, Anda dapat melakukan pengacakan pada soal (melalui fitur “Acak Soal”) maupun pada jawaban (fitur “Acak Jawaban”). Mengenai nilai, bahkan dapat ditampilkan langsung segera setelah ujian selesai dilaksanakan; lewat fitur “Tampil Nilai Setelah Ujian”. Anda juga dapat memilih dan menentukan, apakah ujian tersebut akan direkap masuk ke dalam nilai (fitur “Masuk Rekap Nilai”). Apabila sudah selesai, silakan klik tombol “Buat Ujian”. Maka ujian Anda sudah jadi. Cukup mudah membuat ujian di aplikasi USBK Pinisi, bukan?  

Untuk mencegah ujian tidak tersebar sebelum atau sesudah waktu yang diinginkan, kami menyediakan tombol switch untuk mengaktifkan ujian.

Cara Membuat Soal di Aplikasi USBK Pinisi

Sekarang, kita sudah punya ujian. Nah, bagaimana mengisinya dengan soal-soal?

Cara Menambahkan User Baru di Aplikasi USBK Pinisi

User Baru yang dimaksud di sini adalah mereka yang berperan dan bertugas sebagai: Guru, Kepala Sekolah, atau Wali Kelas.

Pertama-tama, kita lihat ada menu utama di sebelah kiri. Menu ini seringkali muncul; karena itu kami menyebutnya menu utama. Terdapat beberapa menu sebagai berikut: Beranda, Pengguna, Pelajaran, Tugas, dan Ujian. Untuk menambahkan user baru, silakan klik tab “Pengguna”. Maka akan tampak “Daftar Pengguna” di halaman besar. Di sisi kanan atas, kita bisa melihat tombol “Unduh Data” dan “Tambah Pengguna”. Dengan mengklik  tombol terakhir, maka kita akan dapat menambahkan data dari user terbaru.

Apa saja kolom yang harus diisi sebagai data dari user terbaru? Berikut adalah data penting yang harus dimasukkan: NIK/NIP/NIS/NISN, Nama Lengkap, E-Mail, Role (bisa dipilih antara “Guru”, “Kepala Sekolah” atau “Wali Kelas”), dan Foto. Password wajib dimasukkan dua kali sebagai cara verifikasi. Klik “Buat Pengguna” untuk menyimpan data user yang baru. Kemudian profil user yang baru akan disimpan dan diperlihatkan di halaman selanjutnya. Di halaman inilah kita bisa melakukan “Sunting Pengguna” dan “Ganti Password”.

Cara Memberikan Penilaian di Aplikasi USBK Pinisi

Membuat Penilaian Offline https://www.youtube.com/watch?v=XVFt1d48LHI

Ujian untuk perbaikan nilai dan jenis-jenis ujian yang lain. Untuk menghadapi ujian tertentu (ujian nasional) maka guru juga dapat membuat jenis ujian latihan dari menu Jenis Ujian.

Bentuk penilaian: tugas, ulangan, praktik (offline), atau keterampilan. Pilih praktik (offline). Langkah 1: judul. Klik berikutnya. 2. Pilih kelas. 3. Isi tugas dan lampiran.

Cara Mengunduh Data Siswa per Kelas di Aplikasi USBK Pinisi

Untuk mengunduh data pengguna, yang harus dilakukan pertama adalah mencari kelompok data yang ingin diunduh melalui kolom pencarian. Apakah menurut NIK/NIP, Nama, Email atau Kelas. Misalkan kita ingin mengambil basis data (database) kelas XI MIPA 2, maka kita pilih Kelas. Dari database yang ditampilkan, kita lakukan copy pada “XI MIPA 2” lalu kita paste di kolom pencarian, kemudian tekan Enter. Maka aplikasi akan memilah dan menyajikan database siswa dari kelas XI MIPA 2.

Untuk memperoleh database tersebut dalam format Excel, silakan klik tombol “Unduh Data” untuk mengunduh database tersebut.

Termasuk di antaranya adalah hasil ujian. Tidak hanya hasil ulangan saja, tetapi juga mengkompilasi hasil-hasil ujian sebelumnya, sehingga para guru tinggal mengunduh rapor pendidikan para siswa saja. 

Mudah sekali melaksanakan ujian sekolah berbasis komputer, bukan? Sebab, segala proses ujian dapat kita lakukan dengan demikian mudah, otomatis, dan cepat.

Pinisi Edubox untuk Kegiatan Belajar-Mengajar (KBM)

Aplikasi USBK Pinisi berada di dalam perangkat yang kami sebut sebagai Pinisi Edubox. Selain menyimpan aplikasi USBK, di dalam Pinisi Edubox juga terdapat mini server. Komputer mini ini tidak hanya dapat digunakan untuk ujian saja, tetapi juga dapat digunakan sebagai alat bantu pengajaran di sekolah. Karena memiliki memori penyimpan sendiri, anda selaku guru dapat menyimpan materi pelajaran secara digital di dalam komputer server yang berukuran mini ini.

Untuk keperluan KBM yang melibatkan lebih banyak materi dan siswa, sudah ada komputasi awan (cloud computing) yang juga disediakan oleh tim Pinisi. Hal ini untuk mengatasi kelemahan mini server yang memang memiliki keterbatasan kapasitas.

Membuat Mata Pelajaran (Lesson) untuk Kelas di Aplikasi USBK Pinisi

Dari menu utama di sisi kiri, di mana terdapat beberapa pilihan menu: Beranda, Pengguna, Pelajaran, Ujian dan Tugas, maka pilih dan klik tab Pelajaran untuk “Membuat Pelajaran” (Lesson). Caranya adalah sebagai berikut:

  • Pilih mata pelajaran dari menu drop down yang muncul.
  • Kemudian, pilih kelas untuk pelajaran tersebut.
  • Centang lintas minat apabila pelajan dan kelas tersebut memang memenuhi syarat tersebut.
  • Pada kolom Guru Mata Pelajaran, ketikkan satu atau beberapa huruf pertama dari nama guru, sehingga muncul pilihan drop down yang memuat satu atau beberapa nama guru mata pelajaran. Tentukan nama guru.
  • Klik tombol Buat Pelajaran.

Maka akan muncul halaman mata pelajaran untuk kelas yang baru dengan menu yang terdiri dari:

Menambahkan Siswa ke Dalam Pelajaran

Ada dua cara untuk menambahkan siswa ke dalam mata pelajaran. Pertama adalah menambahkan nama dan NIS siswa secara manual. Kedua melalui daftar siswa yang sudah dibuat sebelumnya dan telah tersedia di dalam sistem.

Mulai dengan meng-klik menu pelajaran. Lalu pilih mata pelajaran yang akan ditambahkan siswanya. Sebagai contoh ada mata pelajaran bahasa indonesia. Mari coba cara manual dahulu. Yaitu menambahkan siswa dari data excel. Bisa kita copy-paste. Untuk format, sudah tersedia. Dari row selanjutnya, kita isikan nomor induk siswa lalu nama siswanya. Apabila semua list sudah masuk, anda bisa salin dengan sorot lalu klik kanan, lalu klik salin/copy kembali ke halaman data siswa, kita tempel (paste). Menekan tombol tambah. Apabila sudah selesai dengan data yang dimasukkan, bisa tekan simpan. Secara otomatis, maka siswa akan

Atau dari daftar siswa. Dari siswa terdaftar.

Kita juga bisa menambah atau memperpanjang daftar siswa. Jadi, siswa yang belum terdaftar, bisa kita masukkan ke dalam daftar siswa.

Menilai Tugas

Simpan Konten Pembelajaran

Penutup/Conclusion

Pinisi Edubox adalah aplikasi ujian sekolah berbasis komputer (USBK) dengan perangkat fisik yang dapat disambungkan ke jaringan komputer. Aplikasi Pinisi dapat digunakan untuk ujian, maupun proses belajar-mengajar.

Dengan demikian, pekerjaan administratif para guru tetap terselesaikan, namun dalam waktu sekejap mata saja. Diharapkan, keadaan ini akan memberikan kesempatan dan waktu yang lebih luang bagi guru untuk dapat meningkatkan kualitas pengajaran yang dapat dia berikan di depan kelas.

Open reseller

Kami mencari mitra reseller di seluruh Indonesia. Agar kita dapat menyelenggarakan ujian sekolah berbasis komputer di seluruh nusantara. Berminat? Silakan masukkan alamat email anda.

From Marketer to UX Designer



Produk yang bagus itu, salah satu kriterianya adalah tidak perlu dipasarkan. Tidak perlu di-branding oleh tim marketer, enggak perlu di-push sedemikian rupa oleh orang-orang sales. Gak butuh diskon yang sedemikian rupa juga, supaya calon pembeli mau mengambil, membayar lalu menggunakannya.

Simpel saja, karena produk yang bagus itu “menjual” dirinya sendiri. Tokoh yang paling berjasa adalah perancangnya. Bagaimana si desainer (atau tim desainer) merancang fisik maupun fitur tersebut, sehingga berhasil memenuhi kebutuhan atau keinginan si calon pemakai yang ditargetkan.

Tentunya gagasan soal fitur tidak turun dari langit. Perancang produk wajib hukumnya memahami lingkup urusan/masalah yang dihadapi, mengobservasi user lalu berdasar dua sumber informasi tersebut, melakukan analisis lanjutan.

Namanya juga merancang solusi dari suatu masalah, maka ukuran “sukses” dari solusi tersebut harus benar-benar nyata/kongkrit. Dari sisi pengguna, “pain point”-nya harus dirasakan banget oleh si perancang. Makanya, desainer itu harus empatik dan “mampu untuk ikut mengalami apa yang dirasakan oleh pengguna”.

Fase eksplorasi adalah soal mengidentifikasi kebutuhan (identifying needs). Pada dasarnya, ada dua kelompok kebutuhan. Dari penyedia produk/fitur, dan dari penggunanya. Pertanyaan pertama yang harus dijawab dalam fase perdana ini adalah “Bagaimana ukuran sukses dari solusi ini?”. Wawancara mendalam (in-depth interview) terhadap product/brand manager/owner saja akan cukup menjawab pertanyaan tersebut.

Fase kedua adalah momen kolaborasi menciptakan solusi dengan berbagai wawasan dan referensi yang berhasil dikumpulkan. Sederhananya, produk/fitur/layanan dibuatkan beberapa sketsa yang dipresentasikan bersama, lalu “dihajar” dengan berbagai kritik dan masukan, sehingga berbagai masukan tersebut bisa dielaborasi menghasilkan produk/fitur/layanan yang komprehensif.

Inilah yang kemudian divalidasi (fase ketiga) dengan metodologi dan mekanisme riset yang lebih tepat. Satu yang cukup sering digunakan adalah focus group discussion (FGD), yaitu diskusi dalam grup membahas suatu produk/fitur secara spesifik. Peserta FGD diutamakan mereka yang benar-benar menjadi pengguna produknya. Wawasan (insight) dari pengguna pastinya lebih tajam daripada mereka yang hanya mengobservasi alias pengamat.

Ada juga A/B Testing, yang membandingkan respon pengguna antara perlakuan A dengan perlakuan B.

Jadi, marketer jaman now tidak hanya harus menguasai branding, melainkan juga menjadi perancang atas produk/fitur/layanan yang dia tawarkan. Sehingga, rancangannya dapat memberikan UX alias pengalaman pengguna yang solutif sekaligus melegakan (relieving).

Tidak hanya membutuhkan UX Designer, yang meriset respon dan interaksi pengguna terhadap elemen-elemen visual seperti bentuk maupun warna. Lama-kelamaan dibutuhkan pula posisi pekerjaan (terutama di industri teknologi digital) yang lebih fokus pada pengalaman pengguna (user experience) tatkala berinteraksi dengan kata atau kalimat. Label ini yang semakin umum dipakai pula adalah UX Writer.



Remote Working from Coffee Shop

Rutinitas pekerjaan di kantor kadang membuat suntuk. Pekerjaan yang itu-itu saja menuntut kebaruan. Padahal target tidak pernah surut, deadline pantang mundur menghindari kita. Demi selesainya pekerjaan dan target, satu “pelarian” kita adalah coffee shop terdekat. Kafe Upnormal, misalnya. Singkat cerita, pergi kerja ke coffee shop adalah suatu bentuk menuntut kebaruan. Ini topik yang coba kita bahas kali ini ya.

Konon, menuntut kebaruan itu ternyata memang karakteristiknya si Homo Sapiens. Ya yang kayak kita-kita ini 😀 Basically, Homo Sapien itu senang banget beremigrasi. Merantau. Ada harapan bahwa akan menemukan yang lebih baik di tanah rantau. Misalnya jodoh yang lebih ganteng/cantik, atau kehidupan ekonomi yang lebih baik, atau belajar di kampus ternama demi harapan menemukan calon mertua yang luar biasa pula, atau lainnya. Meskipun di sisi lain merantau itu sebenarnya penuh dengan risiko. Kegagalan menumbuhkan ekonomi pribadi/keluarga. Ancaman, tantangan, hambatan, dan gangguan (ATHG) yang lebih berat dan di luar zona nyaman ketimbang di tempat-tempat sebelum beremigrasi.

Homo sapiens were the only group of early hominids to emigrate over the entire world, which entailed great risk, so I think humans as a species are characterized by novelty, and intensity-seeking,” explains psychologist, Marvin Zuckerman, Ph.D.

Jadi, memang manusia itu pada hakikatnya menuntut pembaharuan. Apa nih, kreasi terbaru dari desainer fesyen ternama yang menjadi idola aku? Ada inovasi apa nih dari produk Apple yang baru saja dirilis? Di kantor, ada gosip terbaru apa? Eh film yang heboh banget di Instagram itu, bener sebagus itu gak aslinya? Dan seterusnya.

Pembaharuan itu seperti kecanduan narkoba, nge-game, rokok, atau zat aditif lainnya. Sekali jejak kimiawinya sudah terjejak di otak, kita manusia berusaha meraihnya kembali. Lagi, dan lagi. Jejak kimiawi ini mendatangkan perasaan berbahagia, soalnya. Namanya dopamin.

Studi terbaru justru menyatakan bahwa dopamin adalah motivasi meraih reward-nya. Bukan reward (penghargaan) itu sendiri. Sejatinya, sesuatu yang membangkitkan dopamin dalam otak kita, hendaknya menggerakkan kita untuk mengejar suatu reward/acknowledgement/prize. Ini smeua part penting dalam gamification. Makanya, konsep gamifikasi sekarang ini diimplementasikan tidak cuma di industri game saja, tetapi juga di industri pendidikan misalnya. Kapan-kapan kita bahas ini ya.

Back to topic.

Dalam uraian di bawah, kerja remote dari coffee shop itu bukan karena kafenya cozy atau kopinya enak. Tapi memang karena intrinsic motivation (motivasi dari dalam diri kita).

Secara spesifik, kebaruan apa saja yang dituntut dalam rutinitas bekerja?

Lokasi yang berbeda, misalnya. Baik sekedar pindah meja untuk menghilangkan kebosanan. Pindah ke ruang rumput yang kekinian ala-ala di kantor para milennial, atau bekerja di ruang terbuka seperti di balkon maupun halaman belakang.

Atau bahkan pergi ke coffee shop demi secangkir cappucinno panas atau segelas cafe latte dingin berikut dengan Wi-Fi gratisnya. Lokasi yang baru, pada dasarnya mirip sebuah kanvas kosong untuk produktivitas kita. Lingkungan yang baru dan segar (fresh) sehingga memampukan kita untuk menyelesaikan segala tugas dan pekerjaan di hadapan.

Mekanismenya enggak rumit-rumit amat, kok. Kita menjadi lebih produktif (dan lebih efisien) di lokasi yang relatif baru, simply karena otak kita melihat tugas-pekerjaan di hadapan dengan “sumber cahaya” yang berbeda. Dengan berpindah-pindah lokasi bekerja, kita sebenarnya sedang mengaktivasi kemampuan otak kita untuk berpikir dengan sudut pandang yang baru (atau berbeda).

Beberapa paragraf terakhir di atas bukan menyarankan kita harus selalu berpindah tempat demi menemukan semangat atau gairah baru dalam bekerja. Yang tidak boleh kita lupakan adalah, otak kita bisa mengatur dan menyetel (eh, ini bahasa Indonesia yang benar, atau tidak? hahaha) produktifitas bergantung pada tanda-tanda spesifik atau spesial yang sudah kita rancang. Misalnya, bekerja dengan meja dan kursi yang aerodinamis sehingga kita merasa nyaman dan fokus. Foto keluarga yang memberi alasan mengapa kita beqerja qeras bagai quda (titik tekan pada setiap huruf Q, hehe). Atau hal sederhana semacam to do list untuk hari atau pekan tersebut.

Put simply, just move out when the crisis (or deadline) is facing you.

Lagian, ini semua bukan tentang kafe atau coffee shop, atau bahkan jenis kopi yang kita minum, kok. Bukan single origin darimana, espresso atau cold brew, banyak atau dikit milk and foam-nya. Semua ini soal intensi kita untuk menyelesaikan pekerjaan atau menaikkan kecepatan kerja kita yang tiba-tiba sedang slowing down itu. Yang ternyata semua penaikkan motivasi itu dimulai bahkan sejak kita berniat untuk pindah tempat.

https://blog.trello.com/coffee-shop-effect-boosts-productivity

Cara Menjadi Blogger Profesional dan Menjadi Bos Diri Sendiri

Kayaknya kedengaran keren ya kalau jadi professional blogger. Sudah keren, dibayar pula. Namun, menjadi blogger profesional itu tidak gampang dan tidak akan pernah mudah.

Alasan pertama adalah, mendapatkan uang dari blog tidak semudah dulu lagi. Sebabnya adalah kompetisi semakin ketat. Konten berwujud blog tidak lagi menjadi satu-satunya konten. Social media selain blog seperti Twitter, Facebook, Instagram (IG), dll justru menggerogoti pangsa pasar pembaca blog. 

Contohnya sebagai berikut. Di waktu yang bersamaan sekarang ini, sedang ada gerakan #30haribercerita di IG. Mirip nge-blog, tapi di caption IG. Dari judul, jelas setidaknya satu cerita per hari selama 30 hari. Dan gerakan ini begitu diterima oleh netizen. Konon, ada enam ribuan tagar #30haribercerita masuk setiap harinya. Bisa dikatakan sebagai blog tetapi di platform IG. Ini “penggerogotan” dari sisi pembuat konten.  

Dari sisi pembayar konten, mereka lebih memilih untuk mendistribusikan anggarannya ke beberapa tipe social media. Sekian untuk blog, berapa untuk IG, sejumlah uang untuk facebook, dan seterusnya. Sebab masing-masing social media punya pengguna setia. 

Balik lagi ke topik professional blogger. 

Saya lihat sih, kebanyakan teman-teman blogger mengambil segmen dari 3F-nya dulu, yaitu friends/fans/followers dari akun social media. As u may already know, caranya adalah dengan membagikan link artikel blog (terutama yang baru saja dirilis) ke berbagai jenis sosial media yang dimiliki. Seiring waktu dan konsistensi nge-blog, lingkaran 3F kita akan semakin membesar. Kita bisa memulai profesi blogger dengan cara ini. 

Dan ini sama seperti pekerjaan pada umumnya: harus ditekuni dengan serius, supaya menghasilkan dan makin terpercaya (trusted).

Berikut ini beberapa hal yang saya kira, perlu diperhatikan supaya blog kita bisa menghasilkan income terus-menerus.

Niche Content 

Namun, professional blogger berbeda. Harus menunjukkan area of expertise-nya. Kalau sudah memulai dengan 3F, berarti harus mulai fokus dengan konten di niche-niche tertentu. Namanya juga professional. Berasal dari bahasa latin, yaitu proficio. Yang artinya, kira-kira adalah to make/to advance. Kita kan gak bisa jadi advanced di semua topik blog. Jadi harus memilih niche konten kita sendiri. 

Dua niche content dengan penghasilan paling lumayan, setahu saya adalah food blogging dan travel blogging.  

Bagaimana dengan penempatan konten; di mana konten tersebut dipasang? Placement tidak harus di blog sendiri ya. Blog sendiri itu jadi etalase (showcase) saja. Proyeknya bisa dari mana saja. Baik perorangan, institusi non-profit, atau korporat. Placement kontennya tidak harus di web institusinya, bisa saja ada media lain. Saya sendiri berperan sebagai content manager untuk satu institusi non-profit dan satu produk elektronik untuk pendidikan.

Mempromosikan Konten 

Menulis konten sesuai niche yang dipilih saja tidak cukup. Professional blogger harus smart dalam memasarkan kontennya. Alias promosi. Mindset yang seringkali salah adalah melakukan promosi hanya sekali di awal rilis konten. Cara paling sederhana ya share di social media masing-masing. Namun demikian, promosi konten sebaiknya dilakukan beberapa kali untuk sebuah konten. Tidak ada salahnya memasang iklan (facebook ads, google adwords) bagi si konten agar terekspos ke pembaca yang lebih banyak. 

Ikut Community 

Bangun kehadiran anda secara online. Karena kita pembuat konten ini tidak hidup dalam ruang hampa. Alias ruang angkasa galaksi lain seperti Bekasi. Apa sih. Gagasan  itu sudah seharusnya dinamis dan berinteraksi dengan ide-ide dari orang lain. Meminjam kata Dewi ‘Dee’ Lestari, “Hakikat sebuah gagasan adalah hidup di alam bebas” atau quote lain, “Tulisan yang sempurna adalah tulisan yang tidak dipublikasikan”. Mungkin tidak sama persis, tapi intinya gagasan itu ditumbuh-kembangkan via komunitas. 

Semakin intens kita menghadirkan diri, berarti semakin kuat pula personal branding yang kita bangun di sana. 

Kalau niche content kita itu serieus banget nget semisal soal pekerjaan kantor, cocok tuh kalo ikut community di LinkedIn. Saya sendiri masih ngulik ya, bagaimana supaya bisa sukses di sana. Tapi saya yakin pasti ada caranya. 

Cari Proyek 

Tidak sepanjang waktu proyek berjalan terus. Adakalanya klien sedang sepi, sehingga kita harus mencari proyek yang baru. Bisa menghubungi atau menemui klien lama, atau bertanya-tanya di network yang sudah terjalin (ini pentingnya ikut komunitas!). Di sinilah pentingnya belajar menulis proposal dan menjual/menawarkan pekerjaan. 

Tunjukkan Nilai Tambah 

Professional blogger harus membuat konten yang bermanfaat tapi tidak usang bagi pembacanya. Di samping itu, dia harus terlihat atau dikenal berwawasan di topik tersebut. Demonstrasikan bahwa dengan merekrut anda, atau memberikan anda sebuah proyek lepas (dahulu), maka anda akan memberikan nilai tambah pada keseluruhan pekerjaan klien. 

Be Professional. 

Jadi profesional (saja). Buktikan dengan memiliki kualitas (berupa nilai tambah untuk klien) dan tepat memenuhi tenggat waktu. Manajemen pekerjaan/proyek dan waktu. Latihan dan berkarya terus untuk melatih kualitas pekerjaan kita. Salah satu ukuran penulis profesional juga bisa dilihat dari penggunaan tanda baca. Apakah dia teliti terhadap penggunaan tanda baca seperti titik, koma, titik koma, garis miring, dan lain sebagainya. 

Konklusinya adalah professional blogger itu berat jadi biar aku saja. Tapi kalau personal brand dan niche content-nya sudah dapat, maka semua upaya, latihan, uang dan waktu yang dilakukan akan terbayar lunas. 

Demand Executive

Image result for demand planning

Posisi Demand Executive ini ada di perusahaan Grab. Posisi ini bukan di kantor pusat. Artinya, tiap daerah/wilayah/kantor cabang mengelola “demand” nya masing-masing. Berarti bekerja sama untuk memasarkan aplikasi mobile Grab agar permintaan (demand) penggunannya semakin meningkat. Berarti juga mengumpulkan, mengelola, mengkategorisasikan, menganalisis lalu mengirim insight-nya ke kantor pusat. Kalau ada di wilayah, tentu saja juga ada di HQ.

Di industri IT (karena kasus Demand Executive di sebuah IT company), produk tidak hanya berfungsi sebagai product/service. Tetapi juga medium pemasaran itu sendiri. That’s why ilmu UX semakin berkembang. Karena produk tersebut harus bisa menjalankan peran self-marketing. Alias “menawarkan dirinya sendiri”.

Tidak hanya Demand Executive.

Tapi secara tim ada juga yang seperti “Demand Planning & Marketing Strategy”. Terutama di perusahaan manufaktur yang B2C (terutama FMCG atau pharmaceutical). Di tim ini, selain ada para staff atau operation atau executive-nya, tentu ada Manager/Lead, Assistant Manager/Lead.

Demand Planning.

Melakukan forecasting dari sisi pasar (alias pelanggan) dan sisi internal (product/service). Yang dianalisis dan diprediksi dari sisi pelanggan misalnya, tingkat pertumbuhan permintaan (demand) dari pasar, eksposur brand kepada pelanggan (ini datanya sudah ada dari tim marketing tetapi memerlukan analisis lebih lanjut), tingkat penjualan, inventory atau penagihan dari tim sales. Termasuk data-data yang diperoleh dari eksternal, semisal BPS (Biro Pusat Statistik) atau konsultan riset (AC Nielsen, contohnya).

Keterampilan yang paling utama adalah pemodelan forecasting. Punya keahlian statistik akan sangat mendukung di bidang pekerjaan ini. Tidak hanya itu saja. Kreatifitas dalam memberikan perspektif baru atau berbeda terhadap berbagai data dan analisis yang ada akan membuat kamu tampil beda di pekerjaan.

Analysis.

Hasil analisis seharusnya bisa dijadikan pancingan (lead) untuk memulai diskusi antara orang-orang Product Management dengan teman-teman dari Marketing and Sales. Salah satu analisis yang penting untuk terus ditekuni, direnungkan, dikembangkan terus-menerus adalah driver of demand.

Apa yang kira-kira menjadi pengendali/penentu naik atau turunnya demand tersebut?

Forecast

Forecast sebagai deliverables dari posisi/pekerjaan Demand Planner ini bisa sangat beragam.

  • Karena forecast bisa dikembangkan berdasar produk atau kategori produk tertentu.
  • Bisa pula di-cross-tab dengan time horizon yang diinginkan: 3 bulan (quarterly), 6 bulan (per semester), tahunan, maupun 3 tahunan, atau bahkan lebih dari itu.

Tentu saja pemodelan forecast tidak boleh begitu-begitu saja. Sekedar mengikuti apa yang dilakukan di tahun-tahun sebelumnya. Tetapi harus dikembangkan terus. Indikator-indikatornya semakin diperbanyak. Pemurnian metode juga perlu dilakukan supaya forecast-nya semakin mendekati realisasi yang dilakukan.

Bicara realisasi, menggunakan harga x kuantitas bisa jadi tidak merepresentasikan nilai penjualan yang sebenarnya. Nilai riil penjualan baru benar-benar nyata berdasar realisasi penagihan piutang. AFAIK, company Danone di Indonesia sudah menghitung penjualan berdasar realisasi penagihan piutang.

Forecast menyediakan insight (wawasan) yang bisa diberikan kepada teman-teman di tim Supply Planning. Kalau di perusahaan farmasi, lazim diberikan kepada tim Production Planning and Inventory Control (PPIC).

Omong-omong soal supply ke pasar, ada company yang tidak lagi berada pada level availability (ketersediaan). Alias, barang tersedia di rak ketika konsumen membutuhkan. Mereka sudah mengangkat strategi dan brand-nya sampai pada level visibility (bisa terlihat). Artinya, suplai produk di rak sudah lebih besar daripada demand itu sendiri. Ini supaya konsumen merasa secure (aman) bahwa kebutuhannya akan selalu terpenuhi.

Ilustrasinya begini, misal ada 10 orang konsumen yang membutuhkan 1 pcs produk, maka harus disediakan (be available) 10 pcs produk kan? Berbeda dengan visibility. Even hanya ada 10 pcs produk yang jelas akan dibeli, namun supaya terlihat bahwa produk tersebut tidak hanya brand-nya saja yang ada, tetapi juga produknya benar-benar nyata terlihat (be visible) dan tersedia banyak atau lebih dari cukup di mata konsumen. Satu company yang sudah melakukan ini di antaranya adalah Mayora dan Indofood.

Sebenarnya forecast ini tidak lagi menggunakan software statistik biasa (semisal SPSS). Software khusus untuk demand planning sudah tersedia di pasar dan siap digunakan.

Membuat forecast:

  • Mengumpulkan, menganalisis dan memvalidasi data-data yang telah diperoleh
  • Mengoperasikan perangkat lunak demand planning
  • Mengevaluasi hasil pemodelan forecas
  • Menyelesaikan error, positif palsu, atau negatif palsu yang terjadi sehingga dapat memperbaiki forecast
  • Mengagregasikan berbagai forecast, baik yang product-based, maupun time-based

In the longer period, keberadaan Demand Planning & Strategy akan mengembangkan budaya perusahaan knowledge sharing dan konsensus forecast yang semakin optimal. Mengapa? Simply karena dan tim dan organisasi ini menjembatani Sales and Marketing dengan Product Management.

Di perusahaan yang supply produknya sudah lebih besar daripada demand –tentu ini jarang sekali kasusnya– timnya bisa saja ditutup. Seperti misalnya rasio elektrifikasi yang sudah di atas 95% di Indonesia, alias jaringan PLN sudah hampir mencakup seluruh wilayah nusantara, maka bisa saja divisi tersebut ditutup dan SDM di dalamnya didistribusikan ke tim-tim yang lain.

Proyek Freelance Pertama Saya

Saya hampir lupa proyek freelance pertama saya. Sebab saya ketika kuliah memang beberapa kali mendapat -ehm- penghasilan. Mulai dari menang lomba menulis essay ketika tingkat dua. Investasi (alias main duit untuk mendapat duit) ke teman GAMAIS yang sedang bikin proyek buku soal dan jaket untuk tingkat satu. Termasuk dapat duit dari mengajar les kecil-kecilan.

Tapi yang disebut freelance kan berarti lepas-an. Yang dikerjakan itu adalah pekerjaan yang jelas output/deliverables-nya.

Ketika itu kebetulan saya antara masih atau sudah turun/selesai dari aktivitas kemahasiswaan. Kebetulan, bidang yang saya pertanggungjawabkan adalah edukasi mengenai kewirausahaan kepada teman-teman mahasiswa.

Saat itu, itu enterpreneurship belum isu yang se-wah sekarang. Teman-teman mahasiswa, kalau mau buka bisnis, pikirannya hanyalah modal berapa, jadi bahan baku dan peralatan/perlengkapan, terus omzet berapa. Modalnya pinjam sana-sini terus dikembalikan secara bertahap kepada si kreditur. Atau boleh juga jadi pemilik dengan menyumbang nilai tertentu dari modal. Secara periodik, ada hasil yang bisa dibagikan (bagi hasil).

Berbeda dengan sekarang yang sudah lebih kapitalis. Main modal jadi sesuatu yang lazim sekarang. Seiring dengan berkembangnya ilmu manajemen risiko (terhadap si modal tersebut). Beberapa contohnya adalah daripada pakai uang sendiri, lebih baik pakai uang beberapa orang. Daripada investasi ke satu bisnis saja, lebih baik dibagi ke 10 bisnis sekaligus. Satu di antara sepuluh yang berhasil, bisa tumbuh setidaknya 20 kali lipat dari yang pertama.

Sebagai ilustrasi, ada namanya East Venture. Venture Capital (VC) ini hanya fokus bermain/berinvestasi di bisnis-bisnis baru yang bahkan kebanyakan orang belum tahu. Selain memantapkan diri di sana, ini juga untuk mengelola risiko mereka. Seperti saya bilang di atas, satu di antara sepuluh atau belasan, tentu ada yang bisa grow menjadi puluhan, ratusan bahkan ribuan (atau lebih!) kali lipat dari skala awalnya kan.

Nah, itu sepenggal cerita pengantar.

Intinya, dari understanding sedikit tentang entrepreneurship tersebut, proyek freelance pertama saya adalah kontributor buku tentang kewirausahaan. Selain saya yang mewakili perspektif mahasiswa, ada juga pandangan dari seorang dosen yang hari-harinya juga bergeluti di inovasi teknologi untuk bisnis. Kontributornya hanya dua orang. Proyek penulisan buku ini milik lembaga inkubator bisnis di kampus. Mereka yang merilis fee penulisan dan pencetakan bukunya.

Kurang lebih dua tahun kemudian, saya bergabung dengan sebuah kantor konsultan kecil. Lumayan, belajar mengelola proyek dan bisa berkarya kecil-kecilan. Lakukan riset pendahuluan, bikin proposal, pitching/presentasi, sampai sukses dapat proyek. Diikuti dengan kejar-kejaran sama deadline, setelah berwaktu-waktu bingung dengan, “Ini proyek dikerjainnya gimana yah?”. Namun sejak itulah, kalau boleh dibilang, personal brand saya yang kecil-kecilan juga terbangun. Orang mulai mengenal saya lewat pekerjaan dan apa-apa yang saya kerjakan. Saya kurang pede menyebutnya sebagai karya.

Kesimpulan sementara ini adalah ada beberapa skill yang cukup penting untuk memulai karir freelance. Di antaranya adalah skill membangun dan mempertahankan network. Baik teman-teman yang baru, maupun mempertahankan network di institusi kita yang sebelumnya.

Di sini kita bukan sebagai teman saja. Tapi juga harus bisa ber-ide dan “menjual” ide tersebut. Ide ini at least direalisasikan dalam wujud proposal. Jadi, harus bisa menulis proposal juga. Namanya menjual ya berarti mampu menawarkan manfaat dan bisa mengkonversinya dengan nilai tertentu.

Tentu saja, aspek teknis dari pekerjaan freelance tidak kalah penting. Memotret untuk fotografer, menulis dari penulis, mendesain dari desainer, dst. Selain terkait ke kualitas pekerjaan, ini juga menggambarkan positioning dan harga kita selaku freelance. Apakah kita ini pemula dengan skill seadanya dengan harga murah-murahan. Atau sudah mulai naik kelas ke middle-up dengan nilai proyek yang lumayan, karena kita sudah punya skillnya.

Strategi Marketing Instagram 2019

Instagram (IG) makin mantap menempati posisinya sebagai social media yang paling engaging, menurut saya. Hootsuite menyatakan 1 milyar orang di dunia memiliki akun IG. Lima ratus juta di antaranya menggunakan IG setiap hari. Bagaimana dengan Indonesia? Pengguna aktifnya ada 59 juta orang, per Oktober 2018. 72% dari pengguna menyatakan pernah membeli produk yang mereka lihat di IG. No more statistics ya. Too much analysis only give brain paralysis.

Istri saya, disamping main di IG pribadinya, juga mengelola akun bisnis. Makanya tidak bisa lepas dari IG. Mulai dari riset, strategi dan perencanaan detil konten, sampai eksekusi posting.

Saya juga melakukan hal yang sama, actually. Di kantor dan untuk beberapa klien. As you may guess, gak semua orang sanggup pegang akun social media — di luar akun personal dia. Salah satunya adalah, beda jenis social media, maka treatment-nya juga berbeda. Gak mengejutkan, because social media is social. It is really human things.

Salah satu contohnya, teknik mendapat likes-nya jadi bermacam-macam. Di kantor, makin banyak wajah yang nongol di post IG kantor, maka likes-nya juga akan makin tinggi.

Tantangan lainnya adalah mengelola konten. Ada banyak aspek. Perencanaan, pengorganisasian (termasuk penyimpanan), riset terus-menerus, sampai dengan penerbitan (publishing), dan pasca-penerbitan. Tidak semua orang bisa menekuni ini. Kuncinya adalah harus selalu bisa come up with new insight(s).

Bijak Menggunakan Hashtag

Banyak pakai hashtag kurang tepat, sih. Seperlunya saja. Yang penting asli relevan dan “kena” sama konteksnya. Bila perlu, lakukan riset tentang hashtag baru apa saja yang bisa ditambahkan. Simply karena selalu ada orang yang search dari kolom explore. Dan dia cari berdasar hashtag.

Hanya memakai hashtag yang follower-nya tinggi? Benar saja. Tapi, tentu saja kompetisinya juga tinggi. Beda dengan hashtag follower rendah. Kita ibarat berenang di Blue Ocean. Positifnya adalah, kompetitornya masih minim.

Seorang rekan di kantor sekarang sempat cerita bahwa misinya perusahaan IG adalah membuat kita user agar tidak tidur. Daripada tidur, mereka berkehendak kita main IG terus.

Alasan pertama dan paling utama menggunakan IG adalah: sekarang hampir semua orang menggunakan IG. Jadi, bisnis dan brand kita juga harus masuk ke sana.

Alasan kedua, IG sebagai part of facebook, memiliki keunggulan dalam hal beriklan. Dengan melakukan pengaturan facebook ads, iklan kita juga bisa ditampilkan di IG. Baik dalam bentuk post, maupun story.

Konsisten Posting

Makin banyak follower, makin wajib berbagi update. Lewat story atau post. Follower kamu masih sedikit? Ayo lebih sering posting. Intinya apa? The point is keep posting consistently.

Biar apa? Membangun ekspektasi dari para follower. Branding is building and deliver expectation (or promise).

Timing posting juga penting. Makin kontekstual si timing ini dengan follower, makin oke. Ada yang oke di jam 12-13 Senin sampai Jumat. Ada juga yang akan optimal di antara jam 6-7 malam.

Filter IG yang paling banyak digunakan adalah Clarendon.

Bisa dicek di sini untuk statistik lebih lengkap mengenai IG yang telah dihimpun dan diringkas oleh SproutSocial.

A note to myself.

Saya membatasi main personal IG.

Yang biasanya saya lakukan: mengecek apa-apa yang dilakukan oleh orang-orang yang saya follow. Konten siapa yang di-like, siapa yang mereka follow. Kategori baru yang belakangan jadi interest saya adalah seputar bullet journal. Saya perhatikan juga tuh, ada post apa perihal BuJo yang baru di-like atau siapa yang baru di-follow, sehingga saya bisa lihat feed-nya. Apakah worth untuk saya follow atau tidak.

Kemudian, saya cek explore. Biasanya mendatangi akun yang bagi saya paling penting: Chelsea FC. Ada post baru apa, ada story baru apa. Intensitasnya cenderung meningkat di hari pertandingan sih. Sabtu/Minggu untuk Premier League, atau Selasa/Rabu di Champions/Europe League. Itu yang resmi dari klub. Informasinya sebatas yang resmi saja. Kalau gosip soal transfer, pemain muda dalam tim, pemain senior yang akan pensiun, banyaknya di akun-akun (tidak resmi) terkait Chelsea.

Habis itu, baru lihat story dari teman-teman yang di-follow. Dilanjutkan dengan post-post di feed. Simpulannya, selalu penasaran, tapi dari story atau post yang dilihat, ternyata tidak juga mengobati rasa penasaran. Daripada menghabiskan sepanjang malam dengan begadang bersama IG –dan tentu saja 5 hari dalam 7 besok adalah hari kerja — lebih baik saya beranjak saja menuju “pulau impian”.

Mari Bicara Sastra Kontemporer

Raditya Dika

Novel Kambing Jantan. Sebuah Catatan Harian Pelajar Bodoh. Sesuai tagline-nya, sebenarnya ini hanyalah kehidupan anak sekolah biasa. Yang luar biasa adalah, bagaimana penceritaan oleh penulis sehinggal lucu, konyol, dan kocak.

Awalnya Kambing Jantan adalah sebuah blog yang kemudian dibukukan menjadi novel. Tahun 2009, novelnya diadaptasi menjadi film.

Sama pula dengan Manusia Setengah Salmon. Dari novel kemudian menjadi film berjudul sama yang dirilis pada tahun 2013. Dan tidak berhenti sampai di sana, masih ada:

  • Marmut Merah Jambu
  • Cinta Brontosaurus
  • Koala Kumal

Dari judul-judul tersebut, terlihat kan selling point Raditya Dika? Dia selalu menggunakan jenis-jenis binatang (kambing, marmut, brontosaurus, koala) yang kemudian diasosiakan dengan sifat-sifat manusia (kumal, perasaan cinta, warna merah jambu). Pengibaratan karakter yang diceritakan dalam novel dan filmnya, diasosiakan dengan binatang yang punya sifat tersebut.

Proses marketing dan selling sebuah film agak unik, memang. Ibarat menjual sesuatu yang hanya ada sekali itu saja. Risikonya tinggi. Kalau gagal, bisa rugi banyak. Kalau untung, juga bisa banyak. Ciri khas marketing and sales dari film sebagai sebuah produk:

  • Hanya sekali. Ini kaitannya dengan kelangkaan (scarcity). Makin langka, makin diburu. Tidak langka, kan bisa dicari di lain waktu dan kesempatan. Ibarat nasi, tidak makan hari ini gak apa-apa. Besok masih banyak warung nasi yang buka. Jadilah nasi (secara umum) sebagai komoditi yang tidak bisa diberikan bandrol price yang cukup tinggi.

Berawal dari blog, kemudian ke novel, video (youtube), kemudian ke layar lebar. Seiring dengan transformasi konten tersebut, Raditya Dika turut bertransformasi dari penulis, pemeran, penulis skenario, bahkan hingga menjadi sutradara.

Blog –> Novel –> Video –> Film

Serial Malam Minggu Miko termasuk film mockumentary. Adalah singkatan dari mock (pura-pura) dan documentary (dokumenter), jadi film mockumentary adalah film fiksi yang mirip dengan dokumenter. Menggunakan kamera atau handycam sebagai medianya, jadi seakan-akan penontonlah yang menjadi cameramannya. Karena proses recording-nya demikian, tidak heran Raditya Dika dan rekan-rekan mengawali promosinya di YouTube.

Stand Up Comedy

Sesuai judul, akhirnya memang jadi komedi. Karena kontennya komedi, Raditya Dika turut terjun dalam medium/format yang berbeda. Yaitu story telling secara tunggal (perorangan) yang tujuannya adalah memancing tawa penonton. Berikut adalah beberapa istilah terkait:

  • set up : pengkondisian penonton, sebelum diberi punchline
  • punchline : ‘kalimat pemukul’ yang memancing tawa penonton
  • callback : mengingatkan penonton terhadap set up yang sudah dibuat sebelumnya
  • riffing : mendapatkan perhatian penonton. biasanya terpaksa dibuat karena penonton gak fokus ke si comic.

Bakat dan kompetensi Raditya Dika dalam menulis dan membawakan materi-materi komedi, jadi kunci kesuksesannya di dunia Stand Up Comedy.

Komedi

Tentu tidak semuanya jujur. Meskipun banyak sekali mengangkat kisah-kisah dari keluarga Raditya Dika sendiri. Yang benar nyatanya adalah bahwa semuanya dilakukan demi memancing tawa penikmat komedi.

Kehidupan percintaan yang mengenaskan menjadi materi komedi yang dieksploitasi oleh Raditya Dika.

komedi jadi barang dagangan. Paling lucu, paling mahal harga jualnya.

Tantangan perkomedian memang di orisinalitasnya.

Raditya Dika vs Adhitya Mulya

Tidak terlalu tepat untuk dibandingkan kesastraan di antara keduanya. Sebab, masing-masing ada segmennya. Bagi Raditya Dika, komedi adalah barang dagangannya yang paling utama. Dia fokus di materi/konten ini.

Berbeda dengan Adhitya Mulya, yang karya sastranya berkembang seiring dengan pengalaman hidupnya.

Dimulai dari novel Jomblo, yang kemudian sama-sama difilmkan dengan judul yang sama, sesungguhnya merupakan awal dari topik yang belakangan menjadi laris ditulis-dikomentari-dibicarakan-berkembang sendiri di mana-mana.

Saya sendiri membahas fenomena jomblo ini dalam sudut pandang ekonomi bisnis dalam singlenomics. Selain jomblo, topik-topik satir ini antara lain adalah “mantan”. Kenapa ya “mantan” itu menyakitkan sekali?

Sabtu Bersama Bapak. Yang tidak lama lagi akan difilmkan. Biasanya kalau sudah difilmkan, akan ikut mendongkrak kembali penjualan novelnya. Jadi novel mengalami dua kali periode laris.

Nah, kesastraan dari abang Adhitya Mulya ini memang sesuai perjalanan hidupnya. Pasti dia pernah jomblo (alias single), ‘kan? Novel Jomblo adalah potret hidupnya. Semua pernah jomblo siy, tapi tidak semua jomblo melukiskan ke-jomblo-annya dengan baik dan menghasilkan karya komersil, ya.

Sabtu Bersama Bapak itu mendeskripsikan potretnya selaku Ayah dan Anak. Sebagai yang menjalani kedua peran tersebut, tentu saya juga belajar banyak dari perspektif bang Adhit ini. Pada dasarnya, peran sebagai Ayah justru mengingatkan kembali bahwa sebagian besar di antara kita semua, sesungguhnya masih anak dari ayah kita sendiri. Dan tanggung jawab kita belum selesai pasca kita menikah. Ringan di omongan, tapi berat di pelaksanaan.

eka kurniawan

seperti dendam, rindu harus dibayar tuntas

Dewi ‘Dee’ Lestari

Materinya sangat bervariasi.

science fiction.

Filosofi Kopi (filkop). Saya paling suka yang ini. Ada story-nya, ada film-nya, ada kafe-nya, dan seterusnya. Kafe-nya Filkop benar-benar ada.

Rectoverso. Tentang lima kisah cinta. Diberi nama rectoverso lebih karena dua format yang seiring sejalan antara lagu dan cerita. Masing-masing lirik lagu, ada ceritanya. Rectoverso adalah “hibrida” antara buku (cerita) dan musik (lagu). Setengah buku, setengah musik.

Handoko Hendroyono

Penulis brand gardener. Basic-nya beliau adalah advertising. Beliau ini melayani klien untuk mengkomunikasikan brand mereka kepada target audience. Which is tantangan saat ini adalah medium komunikasi semakin beragam. tidak melulu TVC. Apalagi untuk di medium 24/7 seperti social media (yang juga menantang karena formatnya yang beranekaragam: teks, foto, gambar, video).

Beliau juga menekankan pentingnya story telling. Nah, feeling saya kok kita harus kembali ke sastra, ya. Maka dari itu, story yang kuat (tokoh yang berkarakter, alur yang mengusik pikiran, dsb) banyak terdapat pada novel-novel. Tidak heran, ‘kan novel-novel tersebut menjadi film? Di mana, film sebagai sebuah karya adalah sebuah model bisnis. Juga, film sebagai sebuah medium merupakan model bisnis. Karena kemampuannya dalam menyedot para pengiklan.

http://pride.co.id/2015/09/belajar-strategi-bisnis-dari-sosok-handoko-hendroyono/

gotham and story telling

AADC

10 Bulan Sejak Rilis AADC?2

Sudah 10 bulan sejak AADC 2 dirilis. Dan saya masih terlalu takut untuk menonton AADC?2. Sebab saya terlalu takut untuk kecewa. Karena segala tentang film ini sudah melekat di benak dan perasaan saya. Mulai dari karakter Rangga yang cuek, introvert, tapi tetap cool. Owh jadi cowok keren di mata cewek-cewek itu begitu tho. Sampai dengan dialog-dialog yang tidak terlupakan.

Basi! madingnya udah siap terbit!”

atau,

“Barusan saya ngelempar pulpen ke orang gara-gara ada yang berisik di ruangan ini. Saya gak mau itu pulpen balik ke muka saya gara-gara saya berisik sama kamu.”

atau,

Salah gw? Salah temen-temen gw?

Yang saya rasakan, adalah brand AADC? itu seperti itu, dan sudah seharusnya tetap seperti itu. Saya tidak mau brand ini berubah menjadi sesuatu yang berbeda, atau tidak sesuai dengan ekspektasi saya. Jadi, saya sangat berkeberatan untuk menonton film ini, apalagi sampai menerima ajakan teman-teman. Lebih baik saya menutup mata dan telinga dari segala pembicaraan tentang AADC? Apalagi review-review tentang film AADC 2.

Oke, mungkin saya berlebihan. Lebih baik kita lanjutkan saja tulisannya.

Arti AADC? yang Sesungguhnya

Ada Apa Dengan Cinta? (AADC?) adalah salah satu peristiwa bersejarah dalam hidup saya dan remaja-remaja generasi saya. Dulu, kami kelas 3 SMP sewaktu film tersebut rilis perdana di bioskop. Emosi kami betul-betul teraduk-aduk akibat film tersebut. Produser dan Sutradaranya betul-betul memahami gejolak perasaan anak-anak muda Indonesia saat itu.

Masalah yang seberat-beratnya masa SMA saat itu mungkin adalah pilihan antara teman atau pacar, atau persaingan si populer dengan si penyendiri (seperti Cinta vs Rangga sebelum saling mengenal), atau mungkin kompetisi untuk menjadi yang paling eksis di sekolah –salah satunya melalui status sangat terhormat sebagai anak paskibraka, misalnya–, dst.

Mudahnya, film ini adalah “kita” banget. Namun demikian, mari lompat sedikit tentang situasi dan kondisi di seputar rilisnya brand film ini.

Lingkungan industri perfilman Indonesia saat itu memang sedang lesu pula. Film yang dirilis lebih banyak bertemakan horor yang (anehnya?) malah menyerempet paha-dada paha-dada (ini bukan tentang ayam goreng tepung dengan sekian belas bumbu rahasia ya) perempuan demi kelarisan film itu sendiri. Which is the problem is, film-film tersebut miskin dengan alur cerita dan karakteristik para tokoh-tokoh di dalamnya. Bahkan peran yang diberikan tidak sulit dan rumit hingga tidak menantang aktor dan aktris kita untuk memainkan film-film horor yang tidak menyeramkan tersebut.

Pendek kata, film-film tersebut hanya mengejar laba dan marjin keuntungan, namun lupa untuk memberikan kesan yang mendalam. Alih-alih pesan yang bermanfaat.

Bersama dengan Petualangan Sherina (1999), AADC menjadi tonggak sejarah perfilman Indonesia yang mulai bangkit kembali lewat alur cerita yang berkualitas dan tokoh-tokoh yang berkarakter kuat. Apa yang akan terjadi apabila si mantan datang kembali ke kehidupan kita salah satu film bersejarah seperti AADC dirilis kembali?

Yang dihadapi oleh Sekuel AADC2

Tantangan besar dihadapi oleh duet maut Riri Riza dan Mira Lesmana. As a product (and as a business, too) sekuel AADC pastinya harus memuaskan existing customer. Ya itu tadi, remaja-remaja tanggung sekitar tahun 2002-an. Para “pencinta” AADC ini tentu sudah punya experience terhadap tokoh-tokoh AADC: Rangga yang pendiam tetapi tajam di setiap dialognya, Cinta yang memiliki kepribadian penuh percaya diri, serta grup remaja perempuan dengan Cinta sebagai center of attention-nya.

Pastinya, menggarap sekuel penuh dengan tantangan dari penonton yang menuntut kepuasan lebih. Kudu lebih memuaskan dari prekuel-nya. Kalau lebih jelek? Ya yang jelek itu yang lebih akan diingat sama penonton.

Nah, sebagaimana seharusnya, persoalan yang diangkat di AADC 2 jadi lebih mendalam, yaitu pilihan antara berkutat di masa lalu atau melangkah ke apa yang disebut kehidupan mapan. Wajar, setelah 14 tahun, dengan para karakter yang sekarang diperkirakan berusia 30-32 tahun. Bukan masanya lagi untuk menye-menye, atau mempertimbangkan sekolah maupun pekerjaan. Melainkan menjalani kehidupan yang mapan lewat karir bersama dengan partner hidup.

AADC 2, harus diakui, adalah film nostalgia. Deskripsi, narasi, dan musik yang dikemas sedemikian rupa untuk mengingatkan kita kembali tentang AADC itu sendiri. Mira Lesmana dan Riri Riza sadar betul bahwa mereka ingin mempersembahkan film AADC 2 ini kepada penonton AADC 1. Musik yang konsisten bersama Melly dan Anto Hoed, serta pemain inti yang nyaris tidak berganti adalah penanda itu. Eksplorasi kedekatan brand dengan existing customer ini yang menjadi amunisi utama Miles Film dalam mengolah sekuel ini.

Btw, pernah dengar Galih & Ratna?

Rangga & Cinta ini analog dengan Galih & Ratna. Filmnya berjudul Gita Cinta dari SMA yang dirilis pada tahun 1979. Pemain utamanya adalah Rano Karno, (cagub Banten 2017) dan Yessi Gusman. Kedua karakter ini analog banget dengan Rangga & Cinta: (1)mewakili aspirasi remaja saat itu mengenai kehidupan romansa yang mereka idam-idamkan, sekaligus (2)menjadi ikon yang tersimpan erat di memori masing-masing generasi.

Soft Promotion

Sponsorship ini komponen penting untuk menambah omzet. Berat kalau hanya mengandalkan jumlah penonton di bioskop. Berikut beberapa adegan yang (menurut saya) berhasil mempromosikan brand-nya tidak secara hard selling.

  • Hape kebanting.
  • Minum air putih yang banyak.
  • Bingung dandan dengan kosmetik apa.

Yang (Masih) Mengganjal dari AADC?2

However, saya yang tidak ingin kehilangan sosok Rangga dan Cinta dalam benak dan kalbu (halah!) pada akhirnya ‘memaksakan’ diri saya untuk tetap menyaksikan film tersebut. Meski bukan di layar lebar, melainkan di layar televisi. Dan saya sangat mengagumi eksekusi pembuatan film ini. Namun, bagaimana pun juga ada jiwa sastrawan abal-abal yang menggelora dan menggelegak ingin mengkritik film ini.

Karakter Trian, kurang kuat diceritakan dalam film ini. Siapa sih Trian itu, yang berhasil ‘masuk’ ke dalam kehidupan Cinta, menjalin hubungan dengan Cinta, bahkan telah bertunangan dengan Cinta? Apa perbedaan sekaligus kelebihan karakter ini sehingga bisa membuat Cinta ‘melupakan’ Rangga? Si Trian ini kurang banyak dieksplorasinya.

Memang sih, pada akhirnya, semua sesuai dengan ekspektasi existing customer: Cinta kembali pada Rangga.

Tentu saja Cinta mengernyitkan dahi kita semua (mungkin saya aja, sih) dong bila dia meninggalkan Trian yang mapan, sang pengusaha muda dengan masa depan cerah. Trian yang tajir, gak suka seni, dan enggak puitis seperti Rangga. Memangnya puisi bisa dimakan? Makan tuh puisi! 😀 

Di sisi Cinta, tentulah karakter ini seharusnya mengalami konflik wanita modern. Cinta bukan lagi anak SMA. Dia adalah wanita dewasa usia 30-an awal yang sudah mempunyai pekerjaan tetap. Aspirasinya adalah berkontribusi terhadap bidang yang digelutinya, yaitu seni. Apalagi pekerjaannya selaku pemilik galeri seni udah menunjang banget. Duit dapat, passion juga dapat kalau kata anak sekarang.

Dalam dimensi lain kehidupannya, dia juga sudah bertunangan. Bayangkan kalau sudah bayar uang muka ke beberapa vendor pernikahan? Udah icip-icip menu prasmanan di beberapa pernikahan yang ditunjuk sama vendor? Apalagi kalau sudah kirim-mengirim undangan ke banyak teman, kolega, dan sanak-saudara? Terus pertunangannya batal? Anak-anak (dan orang tuanya) zaman sekarang mungkin akan berpikir seperti,

“Apa kata dunia?”

Ini yang saya gak suka dari jadi mantan. Harus mengirim undangan ke mantan. Daripada jadi mantan, lebih baik kita jadi alumni aja deh. Siapa yang tahu kalau kita bisa reuni.

Sebagai sebuah brand (yang seharusnya memang memprioritaskan existing customer, instead of new customers), saya kira AADC2 tidak mengkhianati kedekatan yang sudah terbangun dengan para penontonnya, mungkin malah justru makin merekatkannya. Di poin ini, produser dan sutradara sudah sangat berhasil. Apalagi brand ini berhasil mendatangkan banyak sponsor dari brand-brand ternama.

Bagaimana dengan new customer?

Ternyata, film ini juga berhasil menggaet para penggemar AADC yang baru.

Customer yang menyaksikan film ini tidak sepenuhnya yang 14 tahun lalu adalah remaja-remaja tanggung. Tidak sedikit para penonton yang baru. Ada juga yang saat ini sudah menjadi bapak-bapak dan ibu-ibu, kira-kira usia pertengahan 40-an, yang turut menjadi saksi sejarah romantisme Cinta dan Rangga.

======

related post:

referensi: