Dudin Abdurrahman

Tempatnya berkarya sebelum sekarang, rupanya kehilangan dirinya. Sebab, pemahamannya terhadap teknik-teknik produksi produk kriya (craft) berarti cukup mumpuni. Buktinya, tiga penghargaan kompetisi pernah dia raih.

Terbaru, adalah desain wastafel + tempat wudhu. Inspirasinya, berasal dari buku Gen M karya Shelina Janmohamed. Kontemplasinya terhadap naskah tersebut menyimpulkan satu kata: fleksibilitas. Menjadi seorang yang taat pada agama, tetapi harus beradaptasi pada modernitas dunia mendesak para muslim untuk bisa bersikap fleksibel di belahan dunia manapun. Tidak terkecuali di ruang kecil seperti kamar mandi (atau toilet). Demikianlah tantangan menjadi muslim zaman now.

(foto wudhu-wastafel https://www.behance.net/gallery/68333689/Wudhu-Wastafel)

Dudin berharap, suatu waktu nanti karyanya bisa diimplementasikan di negara-negara minoritas muslim yang menghormati perbedaan dan bersikap toleran terhadap muslim. Dudin merasakan betul dan berempati sekali terhadap para muslim yang minoritas di negara selain Indonesia.

Sebelum karya yang terakhir ini, adalah kemenangan yang membawanya ke Jepang. Berkat sayembara desain produk pula. Desainnya mengekspresikan kedaun-tehan suatu wadah berisi 10 kantong teh celup. Kita tahu betapa dekatnya Negeri Sakura dengan daun teh. Tea packaging buatannya “bercerita” bahwa teh bukan minuman biasa. Prosesnya rumit. Dari memetik ujung daun teh, sampai dengan pengemasan (packing), total ada 8 tahap wajib dilalui dengan tabah.

(foto produk tea packaging: https://www.behance.net/gallery/50949999/godong-tea-packaging)

Sebelumnya, Dudin ke Hongkong. Karya pemenangnya adalah jam tangan terbuat dari material kayu dengan teknik pembuatan ala wayang kulit. Disebut teknik tatah sungging, Dudin menyajikan storytelling yang mengangkat nilai tambah sebuah jam tangan. Dari sekedar penunjuk waktu, menjadi penentu kelas sosial-ekonomi seseorang. Di dua negara tersebut, Dudin merasakan betul sulitnya berwudhu di fasilitas (seperti wastafel) yang tidak dikehendaki untuk basah.

(foto jam tangan matoa kalanata https://www.behance.net/gallery/50949791/MATOA-Kalanata)

Seorang desainer produk biasanya lebih piawai mendesain dalam diam, lalu menampilkannya di pameran karya, sembari mempresentasikannya dengan gaya yang bertolak belakang daripada para penjaja (salesman) pada umumnya. Di situlah perbedaan seorang Dudin. Dia juga piawai dalam meramu kata guna menyajikan plot kisah pengembangan produknya. Mulai dari latar belakang masalah, pain point yang dialami user, hingga penyajian solusinya. Pendek kata, Dudin adalah desainer yang juga pandai menulis. Pergulatan pemikirannya bisa disimak di blog Dudin yang bisa diklasifikasikan ke dalam dua kategori besar berikut.

Empat tahun sebelumnya Dudin menghabiskan waktu di bangku kuliah di kota yang dinginnya tidak seperti dulu lagi. Dari sana, dia menginsyafi bahwa menjadi kreatif (being creative) tidak bisa dipisahkan dari seluruh dimensi kemanusiaan itu sendiri. Bahwa menjadi manusia, berarti menjadi kreatif. Begitupun sebaliknya.

Sehingga, berkarya adalah berarti memikirkan, merenungkan, hingga memahami proses-proses berpikir manusia itu sendiri. Bila sudah mencapai titik terhebat (ultimate) ini, berkarya bukan lagi menjalankan profesi seniman, desainer, atau apapun. Namun berkarya sebagai seorang manusia.

Enam tahun sebelum Dudin menentukan pertanyaan, bertanya, merenung dan berimajinasi soal desain, dia beruntung berkesempatan belajar tentang beriman terlebih dahulu. Di sebuah pondok pesantren pria paling populer di negeri. Selepas dari sana dia mengambil kesimpulan. Bahwa baginya, beriman bukanlah tanda berhentinya nalar dan akal di hadapan samudera pertanyaan hidup. Justru beriman adalah pangkal dari merumuskan pertanyaan-pertanyaan selanjutnya dalam hidup dan mendesain.

Perjalanan hidup seorang Dudin tersebut pada akhirnya menjadi “kacamata”-nya dalam memandang segala sesuatu. Bagaimana empatinya terhadap sesama muslim yang notabene minoritas di negeri orang –pada akhirnya menjadi inspirasi sebuah wastafel-wudhu–, kemudian bagaimana dirinya merenungkan bentuk visual dan fisik sebuah kotak amal di suatu masjid –yang mengkomunikasikan transendentalitas sebagai sesuatu yang justru bersifat mengingatkan secara halus, alih-alih menyeramkan bin menakutkan.

Selain sebagai muslim, seorang Dudin menyadari dirinya masih terus berproses sebagai desainer (designer in-process). Simpulannya sementara ini adalah, desainer harus cukup cerdik untuk dapat menghantarkan (to deliver) desain produk yang mengakumulasi berbagai faktor pertimbangan konsumen di pasar, serta melihat dan menemukan celah di mana produk tersebut mampu tampil dan konsisten hadir di tengah-tengah persaingan fungsionalitas, estetik dan kedalaman kantong konsumen.

Apalagi di tengah-tengah arus informasi yang sedemikian cepatnya seperti saat ini, produk kita (berikut desainnya) cenderung sulit untuk “tersangkut” pada satu momentum ruang dan waktu. Kebudayaan kita sudah sedemikian “licin”-nya. Meski demikian, tetap kita sebagai desainer, menurut Dudin, tidak boleh berpikir dan bersikap pragmatis. Harus tetap idealis meski itu sulit. Kuncinya ya, harus dicoba terus.

Apalagi dunia desain di Indonesia baru bangkit kembali belakangan ini. Desain, yang notebene merupakan anak kandung industrialisasi, di Indonesia justru kurang terserap –sekaligus kurang terdistribusikan—oleh industri-industri besar. Kurang lebih 10 tahun terakhir, desain produk menggeliat. Yang diidentikkan dengan peran para UX (user experience) designer di startup-startup kita. Tokopedia (menuju 11 tahun), Traveloka (8), Go-Jek (10), dan Bukalapak (10).

Fenomena tersebut memang masuk akal. Digital lahir dan besar nyaris bersama para milennial itu sendiri –baik sebagai produsen maupun penggunanya. Berbeda dengan teknik-teknik tradisional seperti teknik pembuatan wayang –yang diaplikasikan oleh Dudin dalam produk jam tangan—yang membutuhkan waktu lebih lama untuk penguasaannya –sekaligus dipengaruhi permintaan pasar yang tidak setinggi dahulu.

Akhir kata, congratulations to Dudin. Kita semua selalu menunggu cerita dan karya darimu.

Remembering My Time in Consulting

Habis baca consulting worklife, tiba-tiba teringat dengan masa saya jadi konsultan dulu.

Belum konsultan asli, karena masih analyst. Masih 2-3 level senioritas lagi untuk jadi konsultan sebenarnya. Saya dulu tiga tahun di kantor konsultan tersebut. Yang saya dapatkan lebih dari cukup. Meski saya mendapat berlebih, tapi mungkin saya tidak mau mengulanginya lagi. Mungkin lho, ya. Because I am raising my family now.

Sebagaimana dahulu saya belajar di SMA berasrama. Experience-nya luar biasa. Segala pengalaman buruk atau sedih, tergantikan dengan yang indah-indah. Ingin diulang? Tentu tidak. Dikurung mengajarkan saya arti kebebasan.

Baik, masuk ke topik utama. Ada tiga hal yang saya dapat di konsultan: pembelajaran, (sedikit) jejaring, dan jalan-jalan.

Pembelajaran (Learning)

Meski hanya di belakang layar laptop, bukan di hadapan audiens –ini peran bos saya yang sudah 15 tahun consulting ketika itu–, yang jabatannya bervariasi – mulai dari level direktur sampai salesman lapangan, tapi consulting memberikan pelajaran yang luar biasa banyak untuk saya. Karena yang saya pikirkan bukan lingkup pekerjaan yang se-kroco saya. Tapi masalah di tingkat perusahaan yang jadi beban pemikirannya direktur. Kita akan belajar untuk tidak memberikan solusi yang receh; alias solusi yang tidak kita pikirkan matang-matang plus dan minusnya.

Malah kita fokus memberikan solusi yang out of the box – ada dua alasannya sebenarnya: menjawab masalah klien sekaligus cari aman, hehe. Referensinya darimana? Ya dari buku-buku yang really deep thoughtful lha. Ditulis dalam bahasa Inggris oleh orang-orang bule Amerika. Ditambah utak-atik gathuk terhadap hasil searching di internet, hehe.

Karena saya konsultan di bidang strategic marketing, maka saya jadi cepat belajar tentang organisasi marketing and sales di beberapa perusahaan dan industri sekaligus. Pengetahuan ini membangun imajinasi saya tentang bagaimana proses bisnis yang mereka –seharusnya—lakukan, siapa target market mereka, siapa saja perusahaan kompetitornya, dan lain sebagainya.

Berjejaring (networking)

As former analyst in consulting office, I already know what is fun and how to be a fun person. Theoretically, at least. Tanpa menghilangkan karakter asli yang berhati-hati (baca: berpikir dua kali) sebelum berpendapat, alias thoughtful, saya sudah lebih “cair” dibanding sebelumnya. FYI, tidak mungkin donk kalau meminta data ke klien itu straight to the point. Kita butuh basa-basi dulu. Pembukaan yang fun and interesting ini juga perlu sebelum mewawancara orang lain. Harus bisa “menjual” diri. Sebagaimana teknik salesman yang paling kuno: cari kesamaan dengan lawan bicara, lalu mulailah perbincangan dari sana.

At that time, kantor tersebut juga membangun komunitasnya sendiri. Komunitas para pengusaha. Kecil-kecilan. Biar punya “massa” kalau bikin acara sendiri. Acara untuk meng-entertain para existing client yang lagi proyek sama kita. Plus, untuk menangkap “ikan-ikan” yang lebih baru. Nah, “massa” pendukung ini kita jadikan tamu-tamu dalam acara tersebut.

Traveling

Kantor konsultan tersebut tidak besar. Belum regional Asia Tenggara. Tapi cukup membuka kesempatan bagi saya untuk terbang –dengan alasan pekerjaan dan dibiayai oleh klien—ke beberapa kota di Indonesia. Palembang, Medan, Makassar, Surabaya, Yogyakarta. Pergi pagi pulang sore ke Jakarta. Kalau acara dua hari, berarti ada kesempatan kuliner malamnya.

Bukan hanya soal terbang. Namun jam kerja konsultan cukup fleksibel. Bukan berarti santai karena bekerja >40 jam seminggu. Masuk bisa lebih siang, tapi mungkin kamu akan pulang malam –bahkan menginap—dan tanpa uang lembur. Buat saya yang waktu itu belum lama menikah dan anak-anak sudah berusia beberapa bulan, tampaknya saya butuh rehat. I was burnout at that time. Di kantor konsultan yang lebih besar, duitnya lebih dari cukup untuk “mengobati” burnout-nya. Jadinya mereka bisa bekerja lagi; mencari uang untuk mengobati burnout sebelumnya. Hehehe.

See? Tidak semua orang cocok menjadi konsultan.

Takeaways

Mengalami roller-coaster kehidupan ala konsultan sangat menarik lho. Experienced and memorable. Saya sarankan kamu mencobanya. Tidak wajib lama. Cukup 2-3 tahun saja. Lebih awal mencobanya, lebih baik. Tapi seperti saya katakan di atas, ada tiga thread-off nya. Learning, networking, and travelling.

  • Tidak semua orang cocok menjadi learner ala konsultan di sepanjang hidup mereka. “Belajar” dari direktur, membaca dan membedah buku atau kasus-kasus bisnis, menulis di koran membangun personal brand, dan seterusnya.
  • Network itu ibarat buah. Selama masih di pohon, dia belum bermanfaat. “Menabung” network tapi tidak mengupayakan “memetik”-nya, rasanya kurang tepat juga. Ingat, semakin senior seorang konsultan, kerjanya hanya membangun relationship di sana-sini sebelum mengekstraknya sebagai proyek. At least, I know how to be fun and interesting person/friend when meeting someone new.
  • Travelling quite a lot itu prasyarat menjadi konsultan. Dalam kota, maupun antar kota antar provinsi (AKAP donk!). Dalam hal ini, kamu tidak akan menjadi ayah yang reguler. Pulang setelah anak kelelahan bermain seharian. Atau masih sibuk dengan pekerjaan tatkala mereka meminta weekend-mu untuk bermain bersama.

Jadi, apakah ini berarti saya benar-benar berhenti dari being a consultant? Maybe yes, maybe no. Kalau saya tidak bertemu dengan pekerjaan tetap yang sukses memaksa saya bertahan di situ, mungkin saya akan pindah. Dan satu-satunya jalan mungkin hanya konsultan.

Itu ceritaku. Apa kamu ada cerita tentang bekerja sebagai konsultan atau agensi? Kalau ada, mohon bagikan ceritamu di kolom komentar ya.

Reflection on my 2019 site analytics

Tahun 2019 adalah tahun pertama men-swasta-kan domain dan hosting. Tadinya masih negeri; alias menumpang ‘host’ di server gratis milik WordPress. Setelah setahun ini, ada sedikit angka, data, dan statistik lain yang bisa direfleksikan barang sejenak. Kita mulai ya.

Sepanjang tahun 2019 ada 44 post. Meningkat 7 post saja (19%, lumayan) dari tahun sebelumnya. Namun average words per post-nya menurun dari 927 ke 711 kata. Turun sebesar 23%. Signifikan juga ya. Namun, tidak terlalu masalah. target saya kalau menulis adalah minimal 800 kata. Saya bukan tipe yang mentarget minimal 1500 atau 2500 kata. Masih termaafkan lha ya kalau sekitar 700-an saja. 

Pernah rasanya saya share di suatu tempat di blog ini bahwa 300 kata, meski sudah layak secara SEO, namun terlampau pendek untuk menyajikan cerita. Di sisi lain, 2500 kata sudah oke banget untuk SEO. Tapi lebih baik dibelah saja untuk artikel di pekan berikutnya; ini menurut saya lho ya. 

Tahun 2019 itu ada 7,453 page views dari 4,677 visitors. Artinya, satu visitor melakukan 1,59 page views. Artinya tiap pengunjung rerata hanya melihat 1-2 post. Sumber traffic terbanyak dari search engine, yaitu sebesar 3,707 pageviews. Sementara yang datang dari facebook dan Instagram sebesar 195 dan 128 page views. Dapat disimpulkan, lebih banyak dari mesin pencari daripada followers-nya social media saya. Sepintas tadi menengok setting page, tampaknya ada error di social share-nya –share via facebook & linkedin. 

Dari list yang sudah menyetor tulisan di komunitas 1m1c, hanya ada 41 page views. Lumayan juga, karena keanggotaannya hanya sekitar 100 members. Dari komunitas yang sama –tetapi sumber link berbeda– ada 3 (tiga) tulisan saya yang sempat di-klik dari sana:

Di antara 10 tulisan dengan page view terbanyak, hanya ada dua yang ditulis di tahun 2019. Yaitu: Review Buku Filosofi Teras (441 views) dan Menyelami Filosofi Rumah Panggung Suku Bugis (120 views).

Tiga-puluh-tujuh (37) post di tahun 2018 sebenarnya copy paste dari blog saya yang lama: http://ikhwanalim.wordpress.com. Seingat saya, tidak banyak yang saya tuliskan di tahun tersebut. Sebab lebih sibuk migrasi konten daripada menulis baru. Alhamdulillah di tahun 2019 cukup banyak tulisan yang benar-benar baru. Bahkan, ada kategori personal journal dan blogging/writing yang cukup banyak saya tulis. Selain itu, ada sedikit dari kategori marriage/parenting/fathering.

Khittah-nya blog ini seharusnya membahas topik sales/marketing. Eh tapi kategorinya malah ke mana-mana, yah. Dilema ini sudah bertahun-tahun saya rasakan — selama 12 tahun nge-blog. Ragu untuk memilih fokus menulis ide yang muncul di pikiran, atau mau fokus di kategori tertentu yang kita kehendaki sebagai positioning/niche-nya kita.

At the end, I took my decision to not overthinking the branding part. Jadi, saya tuliskan saja pengalaman, pikiran dan gagasan yang ingin saya bagikan. Tanpa harus feeling guilty karena si blog ini entah mau dibawa ke mana (if you sing, then you lose). Hehehe.

Tahun 2019 tampak belum ada postingan juara yang view-nya tinggi. Karena yang tinggi berasal dari tahun sebelumnya: Posisi Kerja di Dealer Mobil. Post ini view-nya tinggi karena post sejenis sedikit sekali di jagat internet. Sementara di Indonesia, konsumen kendaraan bermotor seperti mobil dan sepeda motor tinggi sekali. Tidak heran lowongan kerjanya pun cukup melimpah, sehingga pertanyaan seputar posisi-posisi pekerjaan di dealer juga banyak:

  • jabatan di dealer mobil 
  • jabatan-jabatan kerja di diler mobil 
  • cara kerja dealer kendaraan
  • tugas marketing di dealer mobil honda 

Rencana 2020

Bagaimana dengan tahun 2020? Rencana saya adalah berusaha seproduktif mungkin dalam nge-blog. Kalau satu tahun ada 52 minggu, maka idealnya ada 52 post kali ya. Tahun 2019 sudah terwujud 85%-nya.

Mau produktif menulis topik/kategori apa? Seperti saya ceritakan tentang dilema di atas, maka topiknya akan bebas. Sebagai ortu, mungkin postingan seputar topik parenting akan hadir pula. Mengingat, yang bersangkutan mulai sekolah di tahun ini. Tentang strategic marketing, mungkin topik seputar milennial dan leisure bisa dieksplorasi lebih mendalam. Personal journal jangan ditanyakan lha, ya. Itu topik paling tidak terencana, tapi paling sering ditulis karena experience dan personal story-nya.

Itu sedikit refleksi dari saya seputar hikmah-hikmah yang bisa diambil dari analytic machine di situs blog ini. Bagaimana dengan refleksi dan rencana blogging kamu? Saya tunggu pendapatmu di kolom komentar, ya 🙂

Artisan Brand. Leisure Economy.

Kembali ke khittah dulu ya. Kembali ke topik marketing.

Blog ini tajuknya “Authentic Marketing”, tapi sudah lama tidak bahas marketing, ya 😀 Tentang Marketing, terakhir mengulas soal pindah profesi dari Sales ke Marketing. Soal Sales, terakhir menganalisis bagaimana mengajari anak berdagang.

Sejak setengah tahun yang lalu, malah membahas yang lain-lain, semisal topik tentang blogging/writing, fathering, marriage, dan personal journal.

So, let’s start it.

Dari topik branding, yang kekinian adalah lahirnya brand-brand artisan. Paling menonjol adalah branding tidak lagi ranahnya pemain-pemain bermodal besar. Hanya dengan modal finansial yang kecil sekalipun, sudah bisa memulai branding. Tapi cara bermainnya sangat jauh berbeda. Tidak jorjoran membayar media televisi, media cetak, billboard, dan media-media lainnya.

Yang khas sekarang itu adalah menawarkan misi-misi problem solving lewat storytelling guna mengumpulkan fans—bukan lagi pelanggan (customer), apalagi pembeli (buyer). Jadi si co-founder –atau si orang branding–kudu sharing (berbagi) tentang problem apa yang mereka temui di masyarakat, dan usaha-usaha apa yang mereka sedang lakukan guna menyelesaikan masalah tersebut. Sharing is Branding. Namanya juga fans ya, mereka bukan lagi sekedar menikmati hasil saja, melainkan ingin terlibat banyak dalam usaha-usaha tersebut.

That’s why Mas Handoko Hendroyono lewat bukunya “Brand Artisan” merekomendasikan untuk membangun public spaces (ruang-ruang publik). Tidak harus ada fisik bangunan atau lokasi tertentu, namun bisa dimulai dengan mengembangkan komunitas. Jadi, fans di sini identik juga dengan komunitas. Bersama fans –dan institusi atau komunitas lain—si brand berkolaborasi membangun story. Narasi-narasi yang dibangun bersama ini yang kemudian dibagikan ke khalayak lain. Istilah kekiniannya adalah di-viral-keun. So, nowadayas, branding is done through sharing.

Berhubung social media juga sudah menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari, maka semuanya bisa dimulai dari kecil. Bahkan dari personal story kita sendiri. Ya, personal branding is matter now. Saling menguatkan juga dengan brand itu sendiri. Brand-nya “dijual” oleh si personnel. Di sisi lain, personal brand-nya juga ikut dikenal seiring meluasnya si brand tadi.

Bicara Start-Up, co-founder macam Fajrin Rasyid bersama Bukalapak berkampanye ke mana-mana seputar misi membangkitkan ekonomi para UMKM melalui teknologi digital.

Leontinus Alpha Edison, co-founder Tokopedia berkisah tentang minimnya kesempatan berusaha di kota asalnya dahulu, Pontianak, sehingga corporate mission Tokopedia adalah memberikan kesempatan “berdaya” bagi pemuda-pemudi di kota-kota, terutama di luar Pulau Jawa.

Marchella FP, biasa berdiskusi dan berbagi dalam tajuk Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (NKCTHI). Bukunya ada dan laku sampai 150ribu eksmplar. Filmnya juga belum lama ini dirilis di bioskop. Komunitas fans NKCTHI dibangun lewat dialog intens di akun instagram. Kemasannya itu lho yang mengena banget bagi generasi milennial.

Startup AirBnB membantu fans-nya menemukan penginapan di seluruh penjuru dunia. Semangat berbagi dan memberdayakan para pemilik rumah maupun apartemen. Kemajuannya memberi dampak ekonomi dan kesejahteraan.

Dalam bukunya, Mas Handoko juga menyebut KlinikKopi. Personnel-nya adalah Pepeng. Namanya klinik, tiap pengunjung adalah “pasien” yang wajib di-“diagnosa” secara personal, satu-persatu. Lewat percakapan intens, Pepeng menceritakan dan menawarkan kopi racikannya. Sesuai hasil diagnosa.

Kalau PasarPapringan adalah event pasar dua-mingguan dari founder RadioMagno, Singgih Kartono. Awalnya pasar, namun kini telah menjadi public space juga. Bahkan tujuan pariwisata yang ramai dikunjungi wisatawan lokal maupun mancanegara. Oiya, beliau si founder ini juga membesut brand Spedagi—sebuah sepeda bambu. Memang, di pinggiran daerah Temanggung ini ada banyak sekali kebun bambu sebagai material dominan radio dan sepeda.

Kalau saya pribadi, saya adalah fans-nya Upnormal. Bukan komunitas tertentu, memang. Namun mereka menyajikan “spaces” yang lokasinya dekat dari mana-mana. Dan dengan brand-nya, saya meyakini ada standard yang sama di setiap titiknya. Semangat yang diusung, menurut saya, adalah semangat freelancer yang “bisa bekerja di mana saja dan kapan saja”. Suatu titik Upnormal bahkan mengkampanyekan ketersediaan “100 colokan” alias stop kontak. Supaya betah berlama-lama dan selalu menyesap es-kopi-susu-gulmer itu.

Selain mengamati dan memformulasikan semua ide dan konsep di atas, Mas Handoko sendiri mengeksekusi gagasan Filosofi Kopi. Yang kini bukan sekedar coffee shop. Melainkan sudah jadi intellectual property (IP) dalam wujud film, merchandise, dan bentuk-bentuk lainnya.

Setidaknya ada tiga coffee shop saya sebut di atas ya. Belakangan, kategori coffee shop ini juga menyasar para milennial “galau”. Brand-brand seperti Janji Jiwa, Kopi Kenangan, dan beberapa lainnya berbagi cerita tentang kegalauan masing-masing.

Selain lahirnya brand-brand artisan, ekonomi dari leisure juga sedang tumbuh berkembang.

Leisure Disruption

Meningkatnya kemakmuran dan kualitas hidup konsumen Indonesia mendorong mereka untuk mulai mengonsumsi produk dan layanan yang menciptakan kesejahteraan (well-being) dan kebahagiaan (happiness) untuk mewujudkan kualitas hidup yang lebih baik.

Itu sebabnya konsumsi leiser seperti berlibur, nongkrong dan berkulineran, menonton konser musik, berolahraga, hingga kegiatan mindfulness seperti yoga tumbuh pesat.

Leisure disruption adalah perubahan pola konsumsi konsumen dari konsumsi berbasis barang (goods-based consumption) menjadi pengalaman (experience-based consumption).

Di sektor ritel, department store, hypermarket/supermarket hingga trade center mulai berguguran. Namun di sisi lain minimarket, online shopping, artisan shop/store, digital POS, hingga leisure retail justru tumbuh pesat.

Sementara di sektor pariwisata perilaku millennial travellers juga mulai bergeser. Biro perjalanan konvensional, tour guide tradisional, losmen, hingga group tour mulai ditinggalkan. Sebaliknya staycation, instagramable destination, hotel butik, nomad tourism, hingga akomodasi berbasis apps seperti Airy atau OYO kian menjamur.

(yang berwarna merah dari blog Mas Siwo). Saya lihatnya ya, tidak hanya milennial yang suka travelling. Bahkan generasi ortu saya pun juga semakin rajin travelling.

Demikian fenomena dan strategi marketing dari praktisi dan pengamat kita. Bagaimana menurut kamu? Silakan ikut berkomentar di bawah, ya!

Referensi:

How to treat writer’s block

Saya merasakan, dua kali menunda menulis dan nge-post tulisan, maka selanjutnya akan lebih malas lagi. That’s why ada blog yang berdebu dan bersarang laba-laba kan? (Lebay banget).

Simpel. Karena sekali tidak nge-post, maka ghiroh untuk menulis juga menghilang. Perasaan excited setelah sudah posting, ikut menghilang. Seakan kita “lupa” rasanya, “lupa” pula jalan untuk kembali ke sana. Kalau mengaku sebagai penulis, sudah sepatutnya tahu cara untuk kembali ke sana dan merasakannya lagi.

Itu dari sisi “feeling” ya. Beda lagi dari sisi “konten”. Ada topik-topik tertentu, yang kita dengan mudah menuangkannya dalam bentuk tulisan. Dalam hal ini, perencanaan dan proses produksinya bisa sekali jalan. Katakanlah, hanya butuh Lead. Itu adalah sebuah kalimat atau paragraf pertama yang menjadi pancingan, dan entah bagaimana menunjukkan (to show) kepada kita akan “cara” untuk mencapai akhir (finish) dari tulisan. Seiring dengan terbiasa menulis, maka cara-cara tersebut akan semakin familiar.

Bagaimana dengan content planning? Ini adalah teknik lain ya untuk tetap produktif. Ada yang merencanakan kontennya di jurnal masing-masing secara offline ya. Ada juga yang tanpa rencana, langsung mengembangkan draft di blog masing-masing. Jangan heran kalau ada blogger yang punya puluhan draft tanpa deadline rilis yang pasti. Kalau saya, first draft-nya saya buat di Trello, sebuah mobile app, lalu saya pindahkan dan kembangkan lebih lanjut di Ms Word. Versi finalnya harus dalam bentuk Ms Word. Sekalian jaga-jaga ya kan, kalau harus migrasi blog (lagi).

Kelebihan dari planning the content adalah kita jadi punya kesempatan untuk melakukan riset lebih mendalam. Mencari, memperbanyak, dan menuangkan lebih lanjut beberapa perspektif terhadap suatu topik. Kita juga bisa menambahkan beberapa detil, angka, atau contoh yang memperkuat argumen atau gagasan kita. Kelemahannya jelas: riset itu tidak pernah mudah dan selalu memakan waktu. Banyak tidaknya waktu yang dihabiskan, tergantung seberapa panjang dan kokoh konten yang kita targetkan. Apakah sekedar artikel, atau bahkan dalam wujud buku.

Ikut komunitas

Yang saya rasakan, memulai untuk menulis lagi terasa lebih berat ketika kita terakhir melakukannya berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan yang lalu.

How to treat this type of writer’s block? Cara lainnya adalah dengan ikut komunitas. Di komunitas 1Minggu1Cerita (1M1C), grouping-nya ada dua. Di WhatsApp Group (WAG) dan di web www.1minggu1cerita.id. Kita akan di-kick secara otomatis dari web kalau tidak “melapor” atau “setor” (dalam bahasa anggota komunitas tersebut) pranala (link) artikel terbaru di blog, selama 6 (enam) minggu berturut-turut. Kalau sudah demikian, tinggal tunggu saya di-remove oleh admin dari WAG. Btw, saya salah satu adminnya. Tapi bukan saya yang nge-kick. Itu terlalu tega bagiku. Huhuhuhu 😀

Where to post my thought?

Untuk tulisan curhat (curahan hati, untuk yang belum tahu) yang biasanya bersifat “internal” saja, saya tidak post ke blog. Melainkan sekedar merangkai kata dan kalimat di Ms Word, lalu disimpan di laptop. Atau, dengan menuangkannya di personal journal saya. Jurnal tersebut tidak sebatas curhatan ya, berbagai rencana dan evaluasi juga saya tuangkan di sana. Dengan melakukan semua ini, saya seakan-akan sedang “berpikir, berbicara, dan berdiskusi” dengan diri saya sendiri. Sesuatu yang selalu dilakukan oleh seorang introvert.

Mengapa demikian? Saya kira tiap manusia punya dua dimensi ya. Dalam dan luar. Internal dan eksternal. Tidak semuanya bisa secara sembarangan ditempatkan. Ada yang bisa, ada yang tidak. Salah satu teknik yang mem-bisa-kan adalah dengan membagi tulisan tersebut ke dalam dua bagian. Pertama, bagian “curhat”-nya. Bagian kedua, tips and trick menangani situasi dan kondisi yang demikian. Sesuatu yang sebenarnya tidak selalu saya lakukan. Tapi bisa dilakukan kalau hatimu butuh wadah untuk menuangkan. Di sisi lain, tidak ingin memalukan diri sendiri. Bahkan, malah fight back dengan memberikan tips and trick mengatasi hal tersebut.

So, each of my thought has its own channel to publish. I hope you, too.

As for myself, saya melihat segala “eksternal” dan “luar” yang saya sebut di atas, sebagai suatu saluran yang seharusnya mem-branding diri kita. Untuk terlihat smart, cool, atau berbagai atribut keren lainnya. Yang mungkin ujung-ujungnya, tanpa bermaksud naif atau munafik, ternyata adalah “jualan”. Baik itu jualan produk, promosi event, atau semacamnya. Di sisi lain, saluran-saluran eksternal ini bisa juga kita optimalkan untuk hal yang sesederhana “berbagi kebaikan”.

Salah satu tantangan dalam ber-blogging ria, menurut saya adalah, bagaimana memisahkan ranah privat dengan ranah publik. Ada lho, blogger yang “dituduh” kelewat mengumbar kehidupan rumah tangganya. Sesuatu topik yang bagi blogger-blogger lain, tidak perlu diceritakan di medium blog. Topik-topik yang sekalipun kamu ingin sekali menuangkannya, tapi kamu tidak perlu merilisnya. Biarlah itu ditulis dan disimpan untuk dirimu sendiri.

Meskipun, harus diakui bahwa, sebagaimana saya katakan di awal, rutin menulis itu nyaris wajib hukumnya (hehehe), namun rutin nge-posting? Mungkin harus dilihat lagi ya. Mana yang bisa diposting di internet dan dibiarkan abadi berada di dalam sana. Dan mana yang didokumentasikan untuk dikonsumsi oleh diri sendiri, lagi, di suatu waktu nanti. Mohon maaf post ini tidak persis sama dengan judulnya. Tapi itu pendapat saya. Barangkali kamu punya pikiran lain? Silakan share di kolom komentar, ya.

Stay Away from Toxic Person

I used to be a toxic person. But I have been healed from it. Even more, I have takeaways for you.

Toxic people make relationship jadi toxic. Pastinya ada banyak sebab kali ya. Salah satunya adalah “belum selesai sama diri sendiri”. I am still wondering itu istilah yang tepat atau tidak. Singkat kata, yang bersangkutan (karena belum selesai dengan dirinya atau masa lalunya) berpotensi being negative person untuk orang lain. Misalnya, curhat atau mengeluh terus-menerus mengenai masalah yang sama. At first, orang mau berempati dan mendengar. Second time, orang mulai memberi saran solusi. Third time, orang mulai terganggu bila dikeluhi hal yang sama terus-menerus.

Nah, when we are being negative person for others, most likely kita akan merusak hubungan dengan orang tersebut. The relationship become toxic. That’s why se-galau, se-gundah, se-gulana apapun juga, we should control it, we should drive ourself. Mulai dari ekspresi, perkataan yang keluar dari lisan, postingan di socmed, dst. The positivity shall start from ourselves.

Kembali ke “belum selesai sama diri sendiri”. Yeah, ini term yang luas banget, tapi yang bisa kita kelompokkan ke dalam sini, adalah mereka yang belum menerima masa lalunya atau masih tidak mengenal dirinya sendiri. Terhadap hal-hal yang terjadi dalam hidupnya, cenderung menyalahkan (blaming) bahkan menghendaki supaya orang lain bertanggung jawab (be responsible). Bila perlu orang lain tersebut ikut mengatasi masalahnya (to solve problem).

Kalau kita cuma teman kan mudah saja ya? Cukup tinggalkan teman-teman yang seperti itu. Tapi bagaimana bila si toxic relationship ini terjadi di hubungan internal peers / genk-genk-an? Atau statusnya masih sama-sama pacar? Belum jadi pasangan resmi saja sudah toxic, apa jadinya kalau beneran jadi pasangan seumur hidup?

Let’s explore further. Bagaimana bila si toxic person adalah saudara/keluarga sendiri, bahkan suami/istri sendiri? Tentu jadi repot banget kan. Karena hubungan kita dengannya malah jadi toxic beneran.

Btw, ada juga atasan-atasan di kantor yang tidak capable dalam kepemimpinan dan manajerialnya. Kuncinya sama sih. Manipulatif, menyalahkan kita sebagai bawahan / anggota tim, menghendaki tanggung jawab lebih (padahal dia yang seharusnya paling bertanggung jawab), menuntut sumber daya kita secara berlebih untuk terlibat mengatasi masalah. Yeah, sabar aja ya. Di luar sana memang ada atasan-atasan yang belum waktunya menjadi atasan 😊. Healthy relationship at work shall makes us feel secure, happy, cared (by HR), respected for our capabilities, and free to be ourselves in doing our work.

Bayangkan apabila dia memanipulasi fakta yang ada. Membohongi kita. Mengelabui kita. Menganggap kita bertanggung jawab atas hidupnya (kalau anak mungkin masih bergantung ya, tapi mestinya berbeda dengan orang dewasa). Bahkan lebih buruk: kita yang harus menyelesaikan masalah-masalah yang terjadi atas perbuatannya sendiri.

Indeed, I do reflect so much when I am the one who act as toxic person.

Later on, saya sebagai pribadi dewasa mulai memberikan batasan pada keluarga dan pasangan. Artinya, ada peran dan aktifitas riil terkait dengan batasan-batasan tersebut. Dari saya, maupun dari mereka. Karena mereka keluarga, saya merasa wajib untuk berbagi dan berkonsultasi dengan keluarga dekat tersebut. Saya meminta dan mendengar pendapat mereka. Barangkali ada pengalaman terkait, atau perspektif berbeda. Namun demikian, bagaimanapun juga, saya sendiri yang akan mengambil keputusan dan merasakan dampak dari keputusan tersebut. At the end, I become more responsible for my life.

Di kemudian hari, saya mendengar Om Manampiring mengulas konsep stoic dalam bukunya. Saya merasa ada kesamaan frekuensi antara bagaimana para filsuf stoa memandang kejadian-kejadian dalam hidup (sebagai mana diulas Om Piring) dengan beberapa peristiwa dalam hidup saya yang sungguh saya tidak punya kekuatan untuk memaksakan perubahan sesuai kehendak saya.

Skenario kedua. Bagaimana jika, sumber toksisitas bukan diri kita, melainkan the other side of the relationship? Yang jelas, semua relationship menghadapi tantangan. Tapi, toxic relationship tidak akan berhasil melalui tantangan-tantangan tersebut. Saya kira, ada dua hal yang bisa kita lakukan, ya:

  • Cegah lack of communication. Selalu ceritakan apa yang kita kehendaki. Di saat yang sama, cobalah untuk memahami apa yang dia inginkan. Cari jalan tengah di antara keduanya. As we already know, relationship itu dua arah: saling memberi dan menerima. Hanya memberi akan membuatmu kehabisan energi dalam menjalani hubungan tersebut.
  • Timbal-balik secara seimbang. Segala jenis hubungan yang menghabiskan energi kita tanpa meninggalkan timbal-balik di kita, hanya akan menyisakan negativity. Untuk mencegahnya, pastikan kita selalu “membalas” perlakuan si dia.

Take away (kayak makanan aja ya 😊) dari saya ada tiga:

1. Stop become a toxic person. Those who do manipulation, lying, blaming others, asking other responsibilities and problem solving.

2. Be more responsible for your life. You plan, design, take decision but you are the only person who get those output, outcome, and impact.

3. Tidak semua peristiwa dalam hidup bisa kita atur. Manusia berencana, tuhan menentukan. Dalam agama saya, percaya kepada takdir juga salah satu rukun keimanan. So, apapun takdir tersebut, bila sudah kejadian (pasca kita berikhtiar keras), maka kita hanya perlu menerimanya dengan ikhlas dan lapang dada. Yang terakhir ini, lebih mudah diucapkan daripada dilakukan.

Sementara itu dulu ulasan dari saya. Apakah teman-teman pernah mengalami toxic relationship? Boleh banget kalau sharing pengalamannya di kolom komentar di bawah.

Quarter-Life Crisis

QLC itu masa-masa di persimpangan pilihan-pilihan kehidupan. Yang mengalami biasanya berada di rentang usia dua puluh-an sampai tiga puluh-an.

Kalau saya dulu, mengalami sejak usia lulus S1 kali ya. Belum tahu mau aktif dan fokus di bidang apa. Bukannya belum tahu sama sekali, tetapi saya jelas berminat dengan bidang marketing. Yeah, karena masih bingung, jadinya ambil S2 dulu. Rencana bergelar master jelas ada. Tapi berhubung life plan (rencana hidup) masih kacau, jadilah S2 disegerakan pasca lulus S1.

Belakangan saya baru menyadari, mahasiswa S2 kekinian itu makin muda. Alias belum lama lulus dari S1-nya. Bahkan banyak yang langsung S2 setelah lulus S1. Salah satu sebabnya menempuh pendidikan master adalah karena belum tahu apa yang mau dilakukan dalam hidup. Sad, but it’s true.

S2 kelar, tapi sadar jiwa ini butuh otoritas tinggi, jadinya ngotot gak mau di big company yang team, culture and business process-nya jelas-jelas sudah established selama puluhan tahun. That’s why kemudian saya bergabung dengan sebuah strategic marketing consultant (paham ‘kan ya mengapa memilih marketing) yang baru berdiri satu tahun oleh seorang yang berpengalaman lebih dari lima belas tahun.

Lega sudah untuk urusan pekerjaan; meskipun masa depan karirnya belum jelas benar. Berisiko banget memang saat itu. Karena kalau company-nya tumbuh, maka saya mungkin akan jadi satu di antara para “Dewa”-nya (meski bukan founder).

Urusan kerjaan udah fixed (dengan gaji gak sebesar multinational company tentu saja) namun urusan pernikahan dan berkeluarga malah kacau alias mundur. Yang ditargetkan menjadi pasangan ternyata bukan yang ditakdirkan.

Ketemu dengan calon yang sekarang jadi istri, akhirnya kami menikah dengan pekerjaan saya yang gak stabil-stabil amat, career path gak jelas, pendapatan juga masih pas-pasan, QLC belum berakhir juga. Faktanya, kami masih LDM. Bagaimana tidak dag-dig-dug terus setiap hari.

Alhamdulillah akhirnya “kembali” ke karir yang dicari-cari. Hidup berumah-tangga juga semakin baik: peran sebagai suami dan ayah semakin bisa dijalankan. Waktu habis tidak hanya untuk pekerjaan utama. Alhamdulillah bisa menabung dengan lumayan.

Intinya, semakin menua umur ini dan semakin bijaknya diri ini, maka semakin mampu menyadari dan mensyukuri apa-apa yang dimiliki. Tanpa harus iri atas apa yang tidak menjadi milik sendiri. Syukur bila punya, tidak mengapa bila tak berpunya. Coba baca juga tentang filosofi Stoic.

Maaf, curhatnya kebablasan. Back to topic.

Biasanya quarter-life crisis dipicu permasalahan finansial, relasi, karier, serta nilai-nilai yang diyakini (salah satu nilai-nilai ini seputar religiusitas/spiritualitas). Intinya adalah anxiety (kegelisahan) yang bisa disebut berlebihan. Bawaannya galau terus. Banyak topik sekaligus yang menjadi sumber kegalauan. Yang mana, tiap topik malah terkait dan bersifat sebab-akibat dengan topik-topik lainnya.

Saya seorang milenial. Kalau kamu juga milenial, kemungkinan, QLC kamu disebabkan satu di antara dua yang berikut:

  • Aneka fasilitas dan pilihan kemungkinan yang tersedia menyebabkan orang justru stagnan. Jika dibandingkan generasi-generasi terdahulu, milenial dan generasi setelahnya tergolong beruntung karena dapat mengecap beragam kemudahan atau akses yang membuat hidup lebih baik: dari segi peluang kerja, pendidikan, akses kesehatan, keamanan, dan sebagainya.
  • Soal pekerjaan, seperti ditulis Forbes, generasi terdahulu boleh jadi memandang tujuan bekerja utamanya adalah untuk mendapat uang semata, sementara sebagian milenial merasa pekerjaan adalah sesuatu yang mesti memenuhi kebutuhan aktualisasinya, harus terkait hal yang disuka atau bisa mewujudkan mimpi-mimpinya. https://tirto.id/quarter-life-crisis-kehidupan-dewasa-datang-krisis-pun-menghadang-dkvU

Lalu, apa saja persoalan yang khas dengan Quarter-Life Crisis?

  • [KARIR] Galau soal personal development. Mau ambil S2 atau kursus di mana? Termasuk soal biayanya dari mana dan kapan sebaiknya S2.
  • [RELASI] Nikah sama siapa, dan kapan nikahnya. Nikah sama teman yang sudah kenal lama ya gimana gitu ya, tapi nikah lewat cara ta’aruf ya gimana juga gitu. Masing-masing ada plus-minusnya. Kita yang biasanya kelamaan pilih-memilihnya sehingga jadi galau sendiri.
  • [KARIR] Kerja kantoran atau jalani passion? Boro-boro memilih ya, seringkali apa passion juga belum tahu since Passion is Overrated. Topik ini termasuk gaya hidup dan pendapatan. Passion erat dengan freelance yang awal-awal dijalani terasa berat dan feel lonely gitu. Kalo cari duit besar, ya kerja di kantor besar, meski belum tentu happy dengan peran yang didapatkan.
  • [FINANSIAL] Teman sekolah atau kuliah sudah memiliki (setidaknya masih mencicil) tempat tinggal (rumah, apartemen, dll) atau kendaraan (mobil, motor). Sudah travelling ke sana kemari, dalam dan luar negeri.

Terus, apa yang bisa saya sarankan?

  • [RELIGI] Jalani hidup dengan syukur dan sabar. Syukur kalau sudah punya, sabar kalau belum kesampaian.
  • [KARIR] Miliki rencana. Apa targetnya, dan kapan dicapainya. Tapi jangan kelewat baper, kalau melenceng sedikit, hatimu (bukan hatinya) yang akan sakit. Plan for the best, Prepare for the worst, Be ready for surprise. Saran lain: Don’t overmanage your career.
  • [RELASI] Kendalikan eksposur dari konten-konten socmed yang ambis(ius). Setir dan kendalikan hidupmu sendiri. Jangan biarkan konten socmed yang menyetirmu.
  • [RELASI] Perbanyak silaturahmi. Bukan dengan geng kantor, keluarga, atau tetangga. Salah satu target silaturahmi adalah mereka yang sekitar 10 tahun lebih tua. Mungkin mereka punya pendapat/nasihat untuk dibagikan denganmu. Supaya sehat psikismu.
  • [FINANSIAL] Miliki rencana keuangan (finansial plan). Utamakan menabung, lalu investasi. Tidak semua orang butuh travelling. Introvert seperti saya, malah lebih happy di rumah daripada keliling-keliling di weekend atau hari libur.
  • Jangan biarkan orang lain mengambil keputusan untuk Anda. Tentu kita harus mengambil referensi seluas-luasnya, meminta pertimbangan sebanyak-banyaknya. Namun keputusan harus kita yang ambil. Karena hanya kita yang merasakan akibatnya sendiri (atau sendirian).

Demikian, sedikit yang bisa saya bagikan ttg Quarter-Life Crisis. Apa kamu ada cerita juga? Yuk, berbagi lewat kolom komentar di bawah ini ya.

Being a Husband

Being a husband is not only to work and bring money to your home for your wife and children (if any). But other than working, what else?

Being a husband is not only to work and bring money to your home for your wife and children (if any).

But also to be the head of family (Kepala Keluarga). Meaning, as the leader of the family. You know, being leader is know the way, show the way, but also goes the way. So as the head, we should have stated our goal and direction. Many times, just a small steps into the right direction means more than big step but direct to wrong/bad goal.

From men-women literature, men tends to be more logic (rational) and consistent in his behavior. That’s why men being the family head. But not lower the role of women in family, we need kindness and other positive emotions from women. Which is, women are the more expressive one than men.

In financial dimension, men are the salesman. The one who search and find more money, revenue, or even profit. At the same time, men needs to understand a bit about the bookeeping and budgeting. For last two topics, I thought women are more appropriate in the administrative role. So, men as the salesman and women as the accountant.

Last discussion with my wife, we conclude the significant role of liabilities in form of payable (hutang) and receiveable (piutang). In either side you may lies at the particular time, both of them representing the unstability of cashflow and revenue/spending. This needs to be managed and controlled. The one we often missing in financial management for family is: do spending with current money while thinking that we must receive the exact amount of money from our receiveables. In reality, it is not happen as our wants right? The money we need may not come at the expected time and amount.

So, there are three (2) roles of a husband, at least: (1) head of family (2) salesman (3) father (if has any children).

According to ustadz Bendri, there are several hats should be father’s hat each time he face his children:

  • Father must engage and make bonding with children’s heart
  • Always provide time (quantitatively and qualitatively) for children. Every morning before go to work or every night before sleep for daily engagement and for certain occasions, such as week end, or something that last once in a month, or others.
  • Father has to execute his role as “charger” for his children. Like a low-battery smartphone need to be charged, then a child also need to be charged or enlightened by his/her father.
  • Father needs to be an entertainer for his children. Make them laugh.
  • Father not only push children to learn, study, or work hard. But also to play (harder) together. By the end of life, I guess children will remember more about happy things such as playing together rather than things as studying with father as teacher.
  • Father must tell stories to children. Stories means there is a premis that consist of three things: character, goal, and obstacle. These three (3) things will generate the plot (flow of the story).
  • Father must seems as a knowledgeable person. Not only to answer his/her child question, but also to deep dive and explore the curiosity of the respective child.
  • Every child activities/project/initiative must need a “booster” in form of donation. It must not a money, but as important as time, support, spirit, etc. So, father comes as first donatur for every child needs.
  • Father must “promote” each child of his own. Because there lies the strength and weakness of each child. And our assignment is to promote the strength of our children.

I conclude three (3) important things from every life of being a husband. They are:

  • Husband as “Salesman” of the family. To get adequate resources in fulfiling the needs of passanger.
  • Husband as head of the family. Husband set the direction where the family want to fo. What their’s core values to be followed and implemented.
  • Husband becomes father when having child to be raised. Not only take the happiness from “making a family” activities, but also to provide responsibility in handling the further consequence of that “making a family” things.

Membawa Anak Ke Kantor

Hari kemarin, anak-anak ikut ke kantor ayahnya. Kebetulan ibunya sedang butuh me-time sekalian bertemu teman lamanya. Bagaimana seharusnya perihal ajak-mengajak anak ke kantor ini?

Sewaktu kecil, saya yang belum lama sekolah, bertanya ke Ayah saya, “Ayah di kantor mengerjakan apa? Tugas dari bosnya ayah, ya?”. Beliau tidak menjawab, seingat saya. Atau mungkin, jawabannya tidak saya pahami.

Saya bertanya demikian, karena di sekolah saya merasakan, bahwasanya menjadi siswa itu mengerjakan tugas-tugas yang diperintahkan oleh guru. Atau, guru memberikan PR (Pekerjaan Rumah) kepada siswa untuk dikerjakan di rumah.

Tidak mungkin rasanya, seorang atasan mengajari pekerjanya (sebagaimana guru mengajari murid), atau atasan memberikan PR kepada stafnya untuk dikerjakan di rumah. Setidaknya, tidak dengan ayah saya. Belakangan saya baru tahu itu namanya lembur atau in English: Over Time (OT).

Sepertinya banyak anak juga curious dengan apa yang dikerjakan oleh orang tuanya di kantor. Tidak hanya saya seorang. Bahkan di usia 23-24, waktu saya tanya rekan yang seusia, dia juga bahkan tidak tahu apa yang dikerjakan oleh ayahnya di sebuah perusahaan consumer goods pada saat itu.

Kalau dari sisi keuangan perusahaan, punya karyawan kan berarti biaya ya. Sepanjang karyawan tersebut berkontribusi terhadap pendapatan perusahaan, tidak masalah donk punya karyawan di posisi-posisi tersebut. Sampai dengan suatu hari saya menyadari bahwa ada konsep dan analisis proses bisnis dahulu sebelum menetapkan suatu posisi pekerjaan berikut dengan deskripsi pekerjaannya (position & job description).

Dari sisi employment, mempertahankan karyawan juga tidak mudah. Kaitan dengan keluarga (pasangan & anak) karyawan, manfaat-manfaat (benefits) juga harus diberikan oleh perusahaan. Kantor sendiri. memfasilitasi kebutuhan keluarga karyawan dalam wujud program seperti asuransi (termasuk BPJS & BPJSTK), family outing, dan lain sebagainya yang berupaya menyenangkan keluarga karyawan.

Sebuah contoh dari Maybank Indonesia ajak karyawan bawa anak ke kantor ketika pra dan pasca lebaran di tahun 2018 sekaligus mengenalkan kepada anak-anak karyawan perihal apa-apa yang dikerjakan oleh orang tuanya selama berada di kantor.

Irvandi Ferizal, Direktur Human Capital Maybank Indonesia mengatakan, melalui inisiatif ini, perseroan mewujudkan kepedulian kepada karyawan beserta keluarga dengan ikut hadir di tengah keluarga karyawan, termasuk menekan beban biaya yang timbul dari pelaksanaan daycare dengan memberikan solusi yang dapat langsung membantu karyawan dalam menangani anak-anak, yang terkena dampak libur Hari Raya, terutama karena ditinggal mudik asisten rumah tangga.

Lewat pergulatan pemikiran tatkala pillow talks (..ceilah..) saya dan istri tampak bersepakat bahwa penting bagi anak-anak untuk tahu dan engage dengan apa yang dikerjakan oleh orang tuanya. Ini bagian dari parenting/fathering juga.

Bukan sekadar menjawab curiosity nya anak-anak semata, tetapi juga menunjukkan bagaimana sebenarnya hidup itu dijalankan (..berat euy!..). Maksudnya begini, di usia-usia sebelum balita ‘kan mulai ada yang bertanya tuh, “Ayah kerja nggak hari ini?”, atau “Ayah pergi ke kantor jam berapa?”. Kita bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut sembari menceritakan kepada anak-anak bahwa pergi bekerja ke kantor di hari senin-jumat itu berkorelasi dengan apa-apa yang mereka belanjakan. Baik di minimarket, pasar tradisional, toko buku, mall, dan beberapa lokasi lainnya.

Intensitas pengajaran dari kami masih seputar topik-topik tersebut. Belum masuk ke bagaimana mengajarkan soal keuangan kepada anak-anak. Celengan untuk belajar menabung sudah ada, tapi belum rutin mengisinya. Apalagi sampai merencanakan isi tabungan akan dipakai untuk berbelanja apa di masa depan.

Sebelum menjalani yang berat-berat, kami mulai menunjukkan kepada anak-anak apa yang dilakukan oleh orang tuanya di kantor. Mereka melihat bagaimana dalamnya kantor yang dipenuhi para pekerja itu. Sebelumnya mereka sudah berkunjung pula ketika weekend. Di kunjungan pertama, tentu hanya bisa menemui bapak-bapak security.

Ikut “kerja” ke kantor. Bekalnya mainan, HVS + crayon. Ikut jumatan, ngisi kotak amal, jajan ke “Si Merah”, order jejepangan food, tegur sapa dengan beberapa om dan tante. Sempat nyari si ibu, end up exhausted, but happy. From 10 AM to 5 PM.

Selanjutnya banyak bertegur sapa dengan para pekerja lain yang relatif satu usia dengan ortunya. Ketika di rumah, sudah dikasih briefing bahwa kalau bertemu orang dewasa di kantor untuk di-“salim”, penggunaan kamar mandi mungkin ada antrian, dan hal-hal lainnya yang jelas berbeda dengan di rumah.

Sebagai kesimpulan, anak-anak tidak perlu diproteksi sedemikian rupa. Misalnya secara sengaja, “Anak-anak di rumah saja. Gak perlu ikut ke kantor”. Padahal sesekali ke kantor ya tidak apa. Namanya juga membersamai anak-anak, ‘kan? Demikian pendapat saya.

Bagaimana, apakah ada teman-teman pembaca yang membawa anak ke tempat bekerja? Ditunggu komentarnya di bawah, ya.

Meramal Masa Depan Pengasuhan Kita

Bagaimana dunia digital dan dunia kerja kekinian akan mempengaruhi pengasuhan kita di masa datang?

Saya meyakini bahwa pendidikan anak-anak kita adalah tanggung jawab kita, yakni para orang tua. Maksud saya, tanggung jawab tersebut di masa sekarang ini (tahun 2019 dan seterusnya) lebih berat pada orang tua daripada 20-30 tahun yang lalu.

Saya sendiri termasuk produk pendidikan ala orang tua yang meyakini bahwa sekolah adalah pihak ketiga dalam proses pendidikan anak, di mana apa yang dilakukan atau diberikan oleh sekolah pada anak semata wewenang dan ruang lingkup sekolah yang tidak perlu dicampur-tangani oleh orang tua. Saya ingat di suatu masa, ayah saya bilang malah senang kalau guru menghukum saya. Maksud beliau, saya pernah salah dan hukuman tersebut akan membuat saya mengenali kesalahan tersebut untuk tidak terulang.

Alhamdulillah, pada masa-masa sekolah tersebut, saya dimasukkan di tempat-tempat yang baik. Secara proses pendidikan maupun sosio-kultural masyarakat sekolah tersebut.

Namun belakangan ini, kesadaran dan perhatian orang tua akan ‘parenting’ terasa semakin nyata. By language structuring, parenting kan proses mem-parent-kan si anak-anak secara terus-menerus (continous). Alias proses pengasuhan itu sendiri. Institusi sekolah di mata para orang tua, bukan lagi pihak ketiga di mana para orang tua menitipkan anak-anak, lalu membebaskan proses pendidikan pada si sekolah tersebut – tentu ada proses ‘pengambilan keputusan pembelian’ di awal di mana orang tua menyeleksi sekolah berdasar fitur-fitur yang ditawarkan. Misalnya kurikulum tambahan yang digunakan, materi-materi lain yang diajarkan selain yang diwabijkan, makan siang atau snack, antar jemput anak, dan lain sebagainya.

Pendek kata, kesadaran orang tua akan pengasuhan semakin meninggi, ditunjang oleh berbagai konten digital dari berita, website maupun media sosial dalam topik-topik #parenting. Sehingga sekolah kekinian berperan sebagai partner bagi orang tua dalam proses pendidikan dan pengasuhan yang keterlibatannya sudah dalam orde harian atau mingguan; bukan lagi pelaporan kuartal.

Mari lihat dunia kerja kita sekarang ini.

Digitalisasi dan Robotisasi

Karena dunia kita tidak lagi sama seperti dulu, 20-30 tahun yang lalu atau lebih ke belakang lagi. Sekarang eranya 4.0 Semakin ke sini, hidup kita akan semakin otonom (autonomous). Simply karena sekarang dan ke depan, adalah era digitalisasi dan robotisasi. Kalau bisa digital, ya digital saja. Pangkas jarak dan waktu. Termasuk mengurangi penggunaan kertas. Kalau bisa dilakukan oleh robot (dengan segala terminologi apa itu robot), ya dilakukan saja oleh robot (alias bukan oleh manusia).

Terus di mana peran manusia? Saya berpendapat, manusia akan menjadi semakin manusia – setelah peran-peran yang bisa dijalankan secara digital oleh robot mulai diambil alih oleh mereka. Dan mulai dari sanalah pendidikan kita secara perlahan-lahan mulai harus berubah—atau diubah.

Sebab, tantangan kehidupan dan pekerjaan anak manusia ke depan, akan berjalan sedemikian cepatnya yang bahkan belum pernah terjadi dalam sejarah manusia itu sendiri. Manusia akan merancang (to design) sistem yang cepat atau lambat akan bisa dijalankan secara digital oleh manusia, yang selanjutnya akan dieksekusi oleh robot secara otomatis – selanjutnya, manusia hanya diberikan peran sebagai pengawasnya. Bahkan, pengawas dari pengawas robot.

Tantangan demi tantangan berubah sedemikian cepatnya, sehingga anak-anak manusia yang akan bertahan (to survive) adalah mereka yang mampu bergerak lincah (agile) dari sistem ke sistem dalam peran sebagai designer (termasuk engineer) maupun controller.

Agility

Siklus lama dalam proses pendidikan adalah belajar, lalu ujian. Bahkan begitu seriusnya ujian sebagai mekanisme pengujian, hingga semua pemangku kepentingan (stakeholder) pendidikan, baik orang tua maupun guru, mewajibkan para siswa untuk belajar menjelang ujian. Hingga ujian menjadi momok yang sedemikian menakutkan bagi para siswa: (sebagai contoh) bahwa gagal Ujian Nasional (UN) maka hidup akan terasa hampa. Tidak lulus SBMPTN untuk memasuki Perguruan Tinggi Negeri (PTN) berarti musnah sudah separuh jalan hidup. Di masa saya Ujian Nasional (UN) SMA, ancaman tidak lulus membayangi sedemikian rupa. Karena, harus mengulangi ujian via Paket C bila gagal lulus UN.

Padahal di era baru, yang semakin ditengok adalah portfolio and pengalaman (experience). Bukan lagi ijazah atau asal sekolah. Beberapa perusahaan multinasional mulai memandang rekrutmen karyawan baru (yang fresh graduate) dalam perspektif seperti ini. Meskipun fresh graduate dari SMA/SMK/PT, experience semakin dipertimbangkan. Di sisi lain, begitu diperhatikannya pengalaman (dalam waktu tertentu) oleh dunia kerja yang baru, sehingga stuck terlalu lama di suatu perusahaan, bisa dipersepsi kurang lincah (less agile) oleh para rekruter dalam mencari karyawan berpengalaman.

Demikian pula dengan portfolio. Sebagai akumulasi karya, portfolio menunjukkan how well you perform as an artist. Baik secara kualitas, maupun produktifitas. Di era digitalisasi dan robotisasi, yang tidak tersentuh oleh keduanya adalah manusia sebagai seniman (human as an artist).

Jadi sejak masa sekarang, kita harus melihat setiap pekerjaan kita sebagai sebuah karya. Karya yang seperti apa? Karya yang tidak berulang (atau tidak akan terulang). Mengapa demikian? Karena segala yang akan dan bisa berulang, cepat atau lambat, akan diotomatisasi secara digital oleh para robot. Setuju atau tidak?

Education for Being an Artist

Dari beberapa uraian di atas, semakin tampak bahwa kita umat manusia semakin menjauhi yang namanya industrialisasi, revolusi industri, dan berbagai tetek-bengek manufakturisasi lainnya. Bukan akan hilang sama sekali, namun peran dan posisi manusia di dalamnya akan semakin berkurang. Sebagaimana pabrik yang semakin banyak dioperasikan oleh mesin dan robot, instead of manusia. Atau proyek-proyek konstruksi yang tenaga-tenaga buruh bangunannya semakin berkurang seiring dengan penggunaan material-material siap pakai semisal beton-beton precast.

Maka pendidikan di masa depan, adalah pendidikan yang membawa anak-anak kita menjadi seniman. Atau minimal memandang setiap pekerjaannya dalam perspektif karya yang customised (sesuai kebutuhan pengguna) dan sophisticated (kerumitannya juga mengikuti keperluan pengguna).  

Untuk mudahnya, saya tuliskan dalam format bullet point yang mudah dipahami, dieksekusi dan diukur sebagai berikut:

  • Jangan berpatokan sama ujian. Apalagi ujian yang harus belajar dulu baru ujian. Karena ujian itu tidak autentik. Yang autentik itu adalah karya.
  • Tidak belajar dan berkarya sendirian. Kenyataannya, di dunia kekinian, karya tidak dibuat sendirian. Ada proses usaha atau proses yang mengiringi pembuatan sebuah karya. Baik di fase sebelumnya maupun sesudahnya. Berkawanlah dengan mereka yang bisa berperan sebagai ‘hulu’ atau ‘hilir’ dari karyamu.
  • Perbanyak kolaborasi sejak kecil. Bukan dengan yang sejenis, melainkan yang berbeda jenis (profesi, hobi, kompetensi, dll). Ini adalah kelanjutan dari poin dua. Program-program magang untuk anak SMP/SMA itu termasuk kolaborasi, lho.
  • Ajarkan anak mengenai proyek. Judulnya ya manajemen proyek. Mulai dari perencanaan (termasuk desain), pelaksanaan, kontrol/kendali, sampai evaluasi. Karena segala karya akan dikerjakan dalam perspektif manajemen proyek. Sampaikan dengan bahasa anak-anak, ya.

Sementara demikian dahulu renungan ini. Mudah-mudahan memberi manfaat.

Kalau kamu ada pendapat lain, boleh share di kolom komentar, ya 🙂