Lebaran ala Covid-19

Setelah Ramadhan combo covid-19, kali ini bagaimana Lebaran di pandemi yg sama?

Sejak semalam, yakni di malam lebaran (notabene sudah 1 Syawal), sudah gelisah duluan. Kudu nge-briefing and coaching si Anak Dua. Apa 30 hari yang sudah lewat, dan apa yang akan kita lakukan di pagi harinya (Shalat Ied). Coaching-nya meliputi 8 kali takbir di rakaat pertama (termasuk takbir pertama banget), 6 kali takbir (include setelah bangun dari sujud) di rakaat kedua, dan apa yang dibaca (subhanallah, wa alhamdulillah, wa laa ilaha illahu, allahu akbar).

Kalau bukan Lebaran Covid-19 ini, saya juga gak belajar bahwa ada sunnahnya untuk membaca Al A’la (Sabbihisma rabbikal a’la) di rakaat pertama dan Al Ghashiyah (Hal ‘ataka haditsul ghasiyah) di rakaat kedua.

Masjid RW di RT saya sebenarnya menyelenggarakan Shalat Ied, bahkan sejak beberapa malam terakhir mengadakan tarawih — harap maklum ya, banyak pensiunannya, tampaknya kehilangan pertemanan sekali kalau tidak ‘bermain’ di masjid.

Namun, kami memilih untuk ‘Ied di rumah saja. That’s why saya belajar jadi imam.

Rindu Ramadhan

Jadi, sejak magrib kemarin sampai sholat tadi masih galaw-galaw gitu. Phhysically, Ramadhan memang tidak nyaman ya. Bangun sebelum subuh, masak, makan sahur, harus ditahan sampai beres subuh-an. Bahkan jangan tidur sampai matahari terbit, deh. Bangunnya gak akan enak kalau tidurnya di jam-jam tersebut.

Di sisi lain, bulan Ramadhan adalah satu-satunya momentum dan medium untuk melatih kita meningkatkan intensitas ibadah. Ya lewat tarawih, tilawah Al Quran, iktikaf, dll.

Jelas berat untuk meraih semuanya dalam satu Ramadhan. Setidaknya, kita bisa meningkatkan satu aspek di satu Ramadhan, kemudian aspek lainnya di Ramadhan.

Makanya kita diajarkan untuk berdoa agar tetap dipertemukan dengan Ramadhan tahun depan, ‘kan? Simply karena Ramadhan bisa membantu meningkatkan amal ibadah.

Physical Distancing

Ramadhan + Lebaran di musim pandemi begini memang sangat berbeda rasanya. Sebagai negara bangsa dengan kebiasaan guyub, alias apa-apa kudu bareng, ‘mengekor’ ke satu informal leader tertentu, lebih ramai lebih enak/nyaman, dst-nya, lebaran kali ini terasa sekali sepinya. Dalam skala tertentu, sepi = sedih.

Kalau selama Ramadhan, loneliness untuk introvert seperti saya malah membuat produktif lho. Ngajinya jadi lebih banyak, tarawih gak harus di masjid, dsb.

Tapi beda sekali dengan tahun-tahun sebelumnya di mana kita bisa mudik, puasa, tarawih, dan lebaran bareng dengan keluarga. Crowd attract happiness indeed. But physical distancing keep us apart and make us feel lonely. Buat apa mudik kalau malah menyebarkan virus. Jadinya hanya bisa mengirim doa (and hampers!) dari sini.

Lebaran ini unik di tiap negara. Kalau Indonesia unik dengan crowd dan keguyubannya, maka di negara-negara Arab malah sepi di tanggal 1 Syawalnya. Bahkan, tanggal 2 Syawal langsung menggeber puasa Syawal sepanjang 6 hari berturut-turut. Link Kumparan berikut ini mengulasnya.

Pasca Lebaran

Di New Normal, saya singgung bahwa banyak hal sedang bergeser (shifting). Begitu kuatnya hingga menjadi sesuatu yang biasa/normal.

WFH akan kita jalani dengan fisik yang lebih nyaman. Kapanpun lapar/hausnya bisa makan/minum. Tidak menunggu adzan magrib.

Anak Dua yang mestinya Juli ini mulai sekolah, kayaknya perlu kami tunda dulu. Setidaknya satu semester. Kita kurang paham dampak Covid-19 ke anak-anak ini sebenarnya gimana. Only conservative thinking applied.

Frozen food makin eksis juga. Bagian dari New Normal yang apabila menunggu vaksin saja, paling cepat sedikitnya 2-3 tahun.

Pendapatan yang lebih rendah bagi masyarakat kita, setidaknya juga berlangsung 2-3 tahun ke depan. Implementasi protokol-protokol kesehatan pasti berdampak pada perekonomian. New Normal-nya adalah, membiasakan diri untuk lebih ketat mengelola keuangan.

FYI, perputaran ekonomi dari yang didorong oleh THR untuk mudik, belanja baju lebaran, kirim hampers, adalah perputaran yang sesaat sifatnya. Di sisi lain, sedihanya adalah crowds tersebut akan menjadi bibit-bibit cluster covid-19 yang baru.

Show atau entertainment macam sepakbola di musim yang baru, belum tentu akan dilanjutkan. English Premier League (EPL) sebagai yang paling bergengsi, juga masih bimbang. Makin ke sini, perkembangan antara negara semakin berbeda-beda. Liga Jerman (Bundesliga) termasuk yang beruntung karena tampaknya berjalan baik. Hari ini sudah pekan kedua berjalan pasca pandemi.

Selamat merayakan hari raya idulfitri 114 Hijriyah. Mohon maaf lahir dan batin. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala menerima amal ibadah kita di bulan Ramadhan yang lalu, dan semoga kita dipertemukan kembali dengan Ramadhan tahun depan. Aamiin.

NB: Pre-Order buku terbaru saya, “Freelance 101” telah dibuka. Buku ini memperkenalkan topik-topik umum seputar pekerjaan lepas (freelancing):

  1. Ada peluang apa saja untuk menjadi pekerja lepas
  2. Bagaimana cara memulai freelancing
  3. Bagaiaman para freelance beroperasi sehari-hari
  4. Mengatasi tantang freelance banyak sekali
  5. Meningkatkan produktifitas
  6. Kerja jarak jauh

Untuk ikut memesan, silakan tombol di bawah ini:

Hilangnya Sepak bola selama pandemi

Why I love football so much and lost them even more during this pandemic.

Di masa pandemi begini, weekend kita diisi tanpa hiburan. Biasanya hiburan saya seputar sepak bola. Baca preview/prediksi, nonton live, mengulangi highlight, baca review, dst. Ampun-ampun deh kalau sudah jadi fans bola, tuh. Begini ya, Jumat baca prediksi, Sabtu-Minggu nonton, Senin baca review + ulang highlight, Selasa baca prediksi liga internasional, Rabu + Kamis nonton liga tengah pekan, Kamis + Jumat menikmati review liga tengah pekan. Eh tiba-tiba sudah jumat lagi. Siklus berulang demikian rupa sampai dengan pandemi covid-19 datang.

Dan banyak di antara kita merasa kehilangan.

But, why I love football so much?

sepak bola

Pas kapan waktu, gak sengaja main ke mantan blog lama, ketemu beberapa tulisan soal sepak bola. Sedikitnya ada 6 tulisan. Jangan malu-malu untuk klik dan baca ya, hehe. Bukan terlalu sedikit untuk dibilang have no interest. I must admit that I have loved football for almost 20 years.

Awalnya, suka pada umumnya fans bola, lha. Ada pemain dan klub favorit, skill individu, dan lain-lain yang lebih pada aspek teknis invidualnya.

Seiring waktu berjalan, tidak hanya pada tersebut di atas yang menjadi concern dan berlanjut menjadi objek observasi saya. Tapi lebih pada aspek-aspek team play dan bisnis (strategi dan keuangan). Keenam tulisan di atas merefleksikan ke mana interest saya, sebenarnya.

Team Play

Okay, team play salah satu yang menarik. Meskipun gak terlihat di keenam link di atas, ya. Haha.

Football itu mainnya 11 orang di lapangan. Tugas-tugas individu dan tim, hanya dua: bertahan dan menyerang. Mencetak gol ke gawang lawan lebih banyak daripada lawan menjebol jala kita.

Teorinya bertahan itu gampang, kamu dan tim tidak boleh bergerak sedikit pun, jarak di antara kalian harus cukup sempit supaya lawan dan bolanya tidak bisa menembus. Baik dari bawah, maupun atas.

Sebaliknya, menyerang itu mudah dipahami: sebagai kumpulan individu, kalian harus bergerak sedinamis (dynamicity) dan secair (fluidity) mungkin. Supaya pertahanan lawan kebingungan dan mudah ditembus.

Dua teori di atas tampak mudah. Namun begitu dikombinasikan, alternatif dan variasinya sangat beragam:

  • Back (belakang) bisa 3-4 orang.
  • Gelandang (tengah) dari 3-5 orang
  • Penyerang (depan) 1-3 orang.
  • totalnya harus 10 (exclude kiper)

Ketiganya, menuntut klub memiliki pemain dengan spesifikasi posisi tertentu:

  • Tiga orang di belakang, menuntut 2-4 orang bisa bermain sebagai wing back (namanya back, tapi posisinya di tengah/gelandang). Di kanan dan di kiri.
  • Tengah menuntut beberapa jenis posisi: regista (playmaker tapi dari belakang), mezzala (gelandang, tapi bisa jadi sayap, punya power dan pace), trequartista (playmaker yang lebih menyerang), holding midfielder (gelandang bertahan), hingga box-to-box. Saya sebut 5 jenis posisi, padahal kebutuhannya hanya 3-5 orang, dengan total pemain masih 11 orang (termasuk kiper). Jadi berapa orang untuk belakang dan depan?
  • Depan yang butuh 1-3 orang bisa diisi posisi: centre forward, false nine, inside forward, penyerang sayap. Yang disebut ada 4 peran, tapi maksimal hanya 3 orang. Gimana tuh?
  • Btw, posisi-posisi yang mengernyitkan dahi di atas, in total ada 12 posisi. Fyi, tim senior biasanya beranggotakan 33 pemain. Tiga di antaranya sudah menjadi jatah kiper.

Supaya bisa kompak, padat, dan jarak antar pemain sangat pendek, maka garis belakang bisa dinaik-turunkan. Ada yang memilih high defensive line (menuntut taktik semacam tiki-taka jadinya). Ada juga yang memilih direct football plus counter attacking, tapi suka kehabisan tenaga dan konsentrasi jelang akhir pertandingan.

Pilihan yang rumit, bagi pelatih. Tapi merupakan masalah stratejik bagi klub. Mengapa? Kita bahas di berikutnya.

Bisnis

Ada sekitar 33 pemain di tim utama. Sekilas, tampak cukup untuk memenuhi alternatif dan variasi taktik yang sudah disebut di atas. Kenyataannya, pengeluaran perusahaan (klub) untuk mereka semua berkisar 60%-75% dari pendapatan tahunan.

Yes, gaji dan benefit lain dalam kontrak antara klub dengan pemain, sebenarnya sangat-sangat besar pengaruhnya terhadap keuangan perusahaan.

Ingin punya marjin laba yang besar –tersirat di atas, marjin laba sekitar 25%-40%–? Mudah saja, tidak usah punya pemain bintang. Gajinya kecil, kok.

Tapi pemain bukan bintang, tidak signifikan perannya terhadap performa tim. Dia gak cukup populer juga untuk mendatangkan para penonton ke stadion –dan televisi. Hanya stadion yang penuh dan siaran televisi yang mengundang sponsor untuk memberi pemasukan pada klub.

Dari sisi usia, semakin tua seorang pemain, power dan pace-nya semakin menurun. Tapi pemain senior tetap signifikan perannya, meski tidak di lapangan, tetapi di ruang ganti dan tim di internal. In terms of leadership and example/modelling. He must be a role model, as well.

Pemain muda jelas dibutuhkan. Masih kuat, masih cepat. Tapi minim pengalaman. Bukan soal mainnya doang, tapi juga soal mental. Dari sisi usia, kita wajib mengkombinasikan pemain muda dan tua. Tim dengan average age di 28 tahun, sudah ideal banget. Persoalannya, klub gak bisa ideal di sepanjang waktu.

Sebab, sisa kontrak masing-masing pemain berbeda-beda. Ada yang tengah tahun ini habis dan bisa pindah ke klub lain tanpa klub sekarang dapat sepeserpun. Ada yang masih sisa satu tahun dan harus dijual secepatnya dengan harga terbaik. Sisa dua tahun masih menyisakan ketenangan: antara perpanjang (kalau dia main bagus) atau jual (sebelum harganya lebih turun lagi). Di sisi lain, ada yang baru 1 tahun masuk (menyisakan kontrak 3-4 tahun lagi), tetapi belum memberikan performa yang diharapkan.

Technical Director

That’s why butuh direktur teknik (Technical Director). Atau semacamnya. Yang tugasnya menjembatani pelatih yang mengurusi day-to-day tim di tempat latihan dan pertandingan, dengan klub yang menangani scouting, rekrutmen, dan pelatihan pemain muda dalam horison menengah (3-5 tahun). Sponsorship juga stratejik lho.

Di Chelsea, jabatan Petr Cech adalah Technical and Performance Advisor. Tugasnya mirip: menilai dan menganalisis pemain-pemain sekarang (individu dan tim) di mana kelebihan dan kekurangannya serta mengusulkan nama-nama yang potensial untuk direkrut. Baik mengisi celah yang lemah, maupun menggantikan pemain yang pensiun –tidak sampai mencarikan ya; jadi dari database yang ada saja.

Pendapat saya siy, tugas pelatih hanya menentukan siapa yang akan main di lapangan pas weekend atau tengah pekan. Wewenangnya terhadap 33 pemain, sebaiknya dia hanya memberikan saran saja. Kekuasaan harus dibagi-bagi. Supaya tidak terjadi kasus semacam Manchester United pasca ditinggal Sir Alex.

Sponsorship

Sponsorship juga stratejik lho. Sebagian besar kontrak sponsor tuh berdurasi 3 tahun. istilahnya, sekali teken kontrak hari ini, pendapatan klub aman untuk tiga tahun ke depan. Bagaimana dengan tahun ke empat dari hari ini? Itulah tugasnya Commercial Director mencari dan menemukan sponsor di tahun depan. Supaya pemasukan klub bisa meningkat dan stabil pemasukannya.

Bagaimana menjual klub supaya sponsor pada berdatangan dan antri? Permainan harus menarik ditonton, dong. Dan harus sering menang. Kadang, menang aja enggak cukup. Harus bisa juara. Dan yang begini ‘kan, horisonnya tahunan, ya. Menjadi tanggung jawab pelatih dan pemain untuk bermain cantik, menang, dan mempersembahkan trofi. Semua itu untuk apa? ya supaya bisa dijual ke sponsor, donk.

Eksposur klub secara geografis juga menentukan, lho. Kalau cuma bisa main di satu negara, tentu beda dengan yang main di level benua. Makin luas eksposurnya, makin bisa ditawarkan ke sponsor tertinggi.

Komersialisasi sepak bola itu menguntungkan klub. Posisi tawar ada di mereka. Sebab lebih sedikit klub untuk disponsori daripada jumlah sponsornya.

Mudah-mudahan pandemi ini segera berakhir. Kasihan klub, pemain, sponsor dan penonton –yang kehabisan hiburan– seperti saya. FYI, Bundesliga start lagi per tanggal 16 Mei.

Anyway, this is a bit too much. If you have any experience, analysis, or others please provide in the following comments ya! Thank you

New Normal

Akibat Covid-19, banyak hal di sekitar kita berubah dengan sangat cepat. Jangan cengeng, jangan lupa bersyukur. Mari beradaptasi dengan kenormalan yang baru ini.

Lagi pengen ngomongin #dirumahaja #stayathome

Kenapa? Because it shall pass, too. Sebagaimana proyek-proyek kehidupan pada umumnya. And I would like to document it here.

Yang sedikit-namun-membedakan, proyek ini agak jangka panjang. Dan memunculkan beberapa ke-new-normal-an yang baru. Jadi, bagi saya ini cukup penting untuk saya rekam di blog ini. Biasanya, akan ditengok kembali suatu waktu nanti.

Covid-19 + Ramadhan

Yang paling baru banget terasa adalah kombinasi covid-19 plus ramadhan ini. Kita masyarakat Indonesia ‘kan in many aspects, butuh berkumpul. Karena dengan berkumpul, kita semakin niat dan enjoy melakukan sesuatu. Sahur bersama keluarga, Ngabuburit, BukBer/BuBar, hingga pengalaman Tarawih bareng di Masjid. Yang terakhir ini experience yang dominan anak-anak saja, tetapi juga para orang tua.

Yang terjadi saat ini, detik ini, di bulan ini adalah everything must be done at home. Sahur ya di rumah, tak bisa ke restoran yang 24hours. Work From Home / School From Home, sudah sejak 4-5 minggu terakhir. Semakin ‘New Normal’ lha aktifitas kerja dan belajar di rumah – Iya sih, tidak semua industri dan pekerjaan bisa demikian. Buka puasa tidak lagi bisa di masjid, kafe, restoran, mall, dan sebagainya. Harus di rumah. Kemudian ‘terpaksa’ muncul imam-imam tarawih yang baru di rumah-rumah. Bapak-bapak, maupun anak lelaki di rumah ‘dipaksa’ membuka kembali Juz 30 untuk me-refresh kembali hafalan suratnya. At least, 13 surat berbeda wajib diulang setiap malam. Untung ada ketiga ‘Qul’ sangat membantu. Bukan hanya sang imam yang menarik nafas lega, demikian pula para makmum.

This is hard and hurting. But, life must go on.

Saya cuma bisa bilang ke diri sendiri, “Jangan cengeng. Dan jangan lupa bersyukur”.

Jangan Cengeng, Jangan Lupa Bersyukur

Jangan cengeng ketika hidup memaksamu berubah. Makin besar company-nya, makin dahsyat goncangannya. Restoran dine-in berubah jadi take away + delivery frozen food atau menu siap masak. Beberapa kurir yang biasa berhubungan dengan kami, mulai “menambah” portfolio dagangannya: hape, rumah, susu segar, telur, dll. Rekan yang di-layoff dari konsultan lingkungan, pindah haluan jadi take order + delivery bahan baku masakan.

Sudah kesekian kali WA saya berdering dan salah satu isi yang cukup berulang adalah ketiadaan empati kepada para pengusaha. Pekan ini harus bayar gaji. Satu-dua pekan lagi bayar THR. Dua pekan berikutnya bayar gaji lagi. Padahal usaha sedang morat-marit. Inventory menumpuk. Piutang ditunda bayar oleh customer. Padahal tagihan dari bank masih tetap berdatangan.

Ada lawyer sekaligus pengusaha hotel yang tetap bayar gaji karyawan hotelnya. Padahal kita tahu pariwisata sedang sepi. Alhamdulillah dia punya pemasukan berlebih ya. Suatu kelebihan yang tidak banyak dimiliki oleh masyarakat kita. Mungkin dia termasuk yang rajin bersyukur. Sehingga tatkala diberikan ujian kemelimpahan, tetap mampu melaluinya.

New Normal

Mereka yang merawat para ortu berusia kepala 7 ikut ambil pusing. Musababnya, “pertemanan” para ortu mereka mulai “menghilang”. Tadinya beliau-beliau para kakek-nenek ini happy dengan aktifitas pengajian beserta pada member di dalamnya. Sejak Corona datang, pertemuan offline tersebut berubah jadi zoom meeting. Which is, tidak semua orang mampu. Yang aktif bekerja seperti kita saja merasa zoom lebih melelahkan daripada bekerja biasa, apalagi di usia yang sulit adaptasi dengan teknologi, ya.

Ada yang mengajari saja terasa berat bagi mereka. Bayangkan kalau mereka seorang diri. Tinggal sendiri di rumah (masih lumayan kalau ada ART), jauh dari anak dan cucu, berteman hanya dengan tetangga yang juga masih seusia, dan seterusnya. I realized this. At least, dua teman sekolah, ternyata orang tuanya tinggal satu dan memilih hidup seorang diri saja.

But, It depends, sebenarnya. Artinya, pertemanannya masih ada, kok. Hanya saja, berubah wujud. Ke wujud yang tidak semua orang merasa nyaman dengannya. This is something new and becomes normal: New Normal. Mungkin, kita hanya harus “get used to it” alias mencoba membiasakan diri sejak sekarang agar “merasa” terbiasa nantinya.

Apa yang dialami kakek-nenek tersebut hanya salah satu contoh saja. Di segala tingkat usia, wilayah tempat tinggal, jenis industri, jenis pekerjaan, semua orang sedang mengalami perubahan-perubahan menuju kenormalan yang baru.

Kita bisa mengeluh sih dengan paksaan-paksaan untuk berubah tersebut. Tapi kita juga punya pilihan lain. Yaitu untuk tidak mengeluh dan beradaptasi secepat mungkin. Ingat, wabah ini tidak akan sebentar. Secara ekonomi, dampaknya terasa sampai 2-3 tahun akan datang.

Lebih baik berubah sekarang. Mumpung semua juga sedang berusaha berubah. By the time kita baru mau berubah, sementara dunia jauh berubah, maka kita hanya akan menjadi orang yang tertinggal dan ketinggalan.

Akhir kata, hanya mau bilang, “Jangan cengeng. Jangan lupa bersyukur”. Itu nasihat paling utama untuk diri saya sendiri.

Kalau ada kisah-kisah lain, boleh dibagikan di kolom komentar, ya. Saya janji, akan saya masukkan ke post ini juga.

Strategi Omnilytics selama Pandemi Covid-19

Omnilytics adalah platform data ritel, yang menggerakkan bisnis pengambilan keputusan dengan wawasan yang mendalam dan dapat ditindaklanjuti.

Introduksi

Omnilytics: Peritel busana di seluruh dunia sedang berebut bertahan.  Perdana Menteri Italia Giuseppe Conte mengumumkan pada 21 Maret bahwa manufaktur untuk barang mewah harus dihentikan, sehingga mengganggu industri senilai $ 107,9 miliar dolar ini. Pada saat laporan ini dibuat oleh Omnilytics, pandemi ini telah menyebar di 167 negara, dengan kasus yang dilaporkan meningkat secara eksponensial di negara-negara seperti Italia, Iran dan Amerika Serikat (termasuk Cina, negara di mana pekerjaan alih daya –outsourcing—banyak diterima). Merek-merek seperti seperti Prada dan Ferragamo menurunkan skala produksi untuk mengurangi risiko. Di sisi sebaliknya, penjualan digital Nike mengalahkan prediksi, yaitu terjadi peningkatan sebesar 36%.

Dengan cepat, Zara -pemilik Inditex- mengumumkan turunnya penjualan sebesar 24%. Dikhawatirkan, ini baru puncak gunung es. Dengan pembatalan Musim NBA, penundaan Copa Amerika, dan toko-toko yang dipaksa-tutup di Kanada dan AS, para ahli memprediksi penjualan Under Armor dan Adidas akan suram. Karena kekurangan bahan baku bahan dari Cina, pabrik garmen di Bangladesh, Kamboja dan Vietnam telah ditutup – secara efektif menyisakan jutaan pekerja tanpa sumber penghasilan.

Menurut sebuah survei oleh komite desain Altagamma, perusahaan konsultan BCG dan firma manajemen aset Bernstein, merek-merek mewah akan kehilangan laba sebesar € 10 miliar. Dalam beberapa minggu terakhir, pasar produk-produk mewah telah merasakan dampak dari terlalu mengandalkan konsumen Cina. Rumah mode mewah Prada baru-baru ini mengumumkan bahwa wabah telah “menghentikan lintasan pertumbuhannya”.

Secara global, Cina mewakili 33% konsumen untuk pembelian barang mewah, dan menurut laporan Bain & Company,  proyek pertumbuhan 20% untuk barang-barang mewah di tahun 2018 dan 2019 di Cina. “Orang Cina telah menjadi pembalap tunggal terbesar dalam kemewahan dan mode dalam 10 tahun terakhir, ”kata Pauline Brown, mantan ketua LVMH regional Amerika Utara.

Pasar barang mewah kini harus memikirkan ulang strateginya. Layanan sangat personal –yang menjadi ciri khas– sekarang menjadi lapuk. Dalam pandemi, prioritas berubah. Pauline Brown menambahkan bahwa para konsumen kini semakin fokus pada kesehatan, dan mengurangi belanja barang mewah.

Untuk saat ini, pemain barang mewah mengambil tindakan pencegahan dalam rantai pasokan mereka. Louis Vuitton, Prada dan Ferragamo dilaporkan telah mengurangi produksi guna mengurangi dampak.

Ada 5 (lima) strategi besar dari Omnilytics dalam rangka menyelamatkan usaha, staf, dan pelanggan melewati pandemi Covid-19 yang berat ini:

  • Penstabilan Penjualan dan Pengurangan Inventori
  • Mitigasi Kejutan Suplai
  • Penguatan Operasional
  • Navigasi Pergeseran Pelanggan
  • Peninjuan Kembali Pemasaran

Penstabilan Penjualan dan Penurunan Inventori

Omnilytics:

  • Memaksimalkan peningkatan pengeluaran untuk aktifitas online. Karena toko ditutup atau boleh beroperasi untuk jam yang terbatas, sebagian besar konsumen beralih ke belanja online. Pengecer harus memanfaatkan peluang online ini untuk mengimbangi kemerosotan ritel fisik.
  • Uji distribusi omnichannel secara maksimal. Gunakan periode percobaan ini pada berbagai distribusi saluran. Tetap gesit, memastikan visibilitas penuh pada kinerja penjualan dan secara konstan memonitor penjualan. Tambah atau kurangi biaya pemasaran berdasarkan penjualan yang dihasilkan.
  • Stabilkan inventaris yang mudah berubah level. Banyak pengecer berisiko kekurangan stok karena gangguan rantai pasokan. Dalam situasi ini, pengecer harus menerapkan perlindungan terhadap persediaan yang semakin menipis.
  • Bersikap fleksibel dengan margin keuntungan. Penurunan harga mungkin diperlukan untuk mendorong selera konsumen dan belanja awal.
  • Amankan stok tambahan atau stok strategis melalui pemasok yang baru. Mempertahankan arus kas sangat penting saat ini. Tingkatkan persediaan pada produk-produk inti –seperti t-shirt dan jeans– yang dapat dengan mudah direproduksi bersama pemasok lain.

Mitigasi Kejutan Suplai

Di sisi sebaliknya, baju santai (loungewear) akan menjadi kategori yang potensial sejak mayoritas populasi diperintahkan untuk tinggal rumah. Hal yang sama berlaku untuk pakaian olahraga (active wear). Merek yang bermain di kategori ini, kemungkinan besar invetarisnya akan rendah karena orang akan cenderung berolahraga di rumah.

  • Analisis implikasi jangka pendek dan panjang. Kemungkinan jangka pendek implikasinya termasuk tenggat waktu yang terlewat, tingkat produk yang tidak memadai untuk meluncurkan tantangan baru atau logistik. Implikasi jangka panjang bisa berdampak pada biaya atau masalah dalam perencanaan permintaan. Nilai semua pro dan kontra sebelum mengambil keputusan.
  • Nilai polis asuransi untuk memastikan perlindungan keterlambatan produksi. Ini dapat menghilangkan biaya tambahan terjadi karena logistik dan tarif yang dialihkan.
  • Jelajahi peluang pemasok atau manufaktur yang berlokasi dekat pantai. Meskipun strategi ini dapat berisiko peningkatan HPP, produksi lokal memungkinkan respon yang lebih cepat.

Penguatan Operasional

Dengan masalah saat ini, pengecer akan menghadapi masalah understocking dan overstocking. “Penguatan Operasional” berupaya mengejar posisi di tengah-tengah kedua ekstrim tersebut.

  • Mempersiapkan rantai pasok dan merencanakan “Plan B” yang tepat.
  • Perluas saluran e-commerce segera. Pada saat ini, sumber daya harus diarahkan memperluas kemampuan e-commerce, memastikan platform e-commerce berfungsi penuh, stabil dan dilengkapi dengan alat dan pelacakan yang diperlukan untuk pemantauan kinerja.
  • Mengurangi jam operasi dan menutup toko di daerah pejalan kaki yang kurang ramai.

Navigasi Pergeseran Pelanggan

Pengecer, tergantung pada level mereka melakukan digitalisasi, masing-masing akan memiliki satu set tantangan untuk dipecahkan. Untuk toko pinggir-jalan tradisional, mereka akan memasuki pasar online; untuk pengecer omnichannel, berupaya untuk tetap kompetitif secara online. Merek-merek E-commerce, di sisi lain, akan menghadapi masuknya pesaing lama di lanskap digital.

Acara-acara Run Way banyak yang dibatalkan atau ditunda, sehingga para pemain kehilangan peluang penjualan. Di Asia Tenggara dan Timur Tengah, penyebaran Virus mengganggu Idul Fitri, sebuah pesta yang meriah dirayakan oleh umat Islam di wilayah tersebut. Di Indonesia, para pemain mempersiapkan idul Fitri bahkan sejak setahun sebelumnya.

  • Antisipasi bagaimana konsumen akan bereaksi selama dan sesudah krisis ini. Krisis ini kemungkinan akan menyebabkan resesi global. Sehingga para pemain harus melakukan penilaian ulang terhadap motivasi pelanggan, menyelaraskan diri dengan nilai-nilai pelanggan yang baru, serta membangun ulang loyalitas pelanggan.
  • Antisipasi perubahan nilai. Penelitian dari pemulihan di Cina menunjukkan kesehatan sekarang menjadi prioritas utama. Ini menunjukkan penjualan kelas atas (barang mewah) akan menurun. Sebagaimana fokus akan bergeser ke kesehatan dan kebugaran, maka  kategori active wear adalah peluang paling cemerlang.

Pertimbangkan Ulang Pemasaran

Perubahan yang paling jelas adalah konsentrasi pada digitalisasi, karena semua orang ada di dunia kini bekerja, berbelanja, beraktifitas seputar kesehatan dan kebugaran dengan bantuan online.

Masalah yang lebih besar lagi adalah terbaharuinya selera konsumen. Jika situasi ini bertambah buruk, maka ritel fesyen mungkin tidak lagi menjadi yang paling penting. Terutama untuk individu dan keluarga yang kekurangan uang; mereka akan lebih memprioritaskan pada barang-barang yang lebih esensial untuk bertahan hidup.

Bertahun-tahun ini, kategori barang mewah telah menjadi yang paling lambat mengadopsi e-commerce. Masalah paling mudah ditemukan di dunia online adalah barang palsu dari merek-merek mewah tersebut. Pemain barang mewah kini dilema; sebab berjualan secara online malah menginspirasi peniruan dan produksi barang palsu.

  • Menemukan cara baru untuk terhubung dengan audiens. Bukan hanya harus mereka memperhatikan pergeseran pelanggan dalam cara mereka berbelanja, tetapi juga bagaimana mereka mengkonsumsi konten. Sebagaimana kita ketahui, Run Way sedang minim sekali diselenggarakan.
  • Tampil berbeda di dunia online. Karena mayoritas populasi –dan kompetitor– akan menjadi online, maka tampil dan memberikan penglaman berbeda menjadi sangat penting saat ini.
  • Mengevaluasi anggaran pemasaran dan pengeluaran media. Hentikan pemasaran yang belum mendesak di saat pandemi ini, seperti kampanye dan acara offline.
  • Aktifkan strategi media sosial. Karena sosial distancing dan remote working “mengunci” orang-orang di rumah, maka meningkatkan aktifitas di media sosial menjadi penting. Investasikan kembali anggaran pemasaran offline ke upaya-upaya pemasaran digital.

Mengelola tenaga kerja

  • Kunci untuk selamat dari krisis ini adalah kelincahan dan fleksibilitas dalam organisasi perusahaan
  • Menerapkan kerja jarak jauh dan menghentikan perjalanan bisnis sesuai dengan kaidah-kidah physical distancing.
  • Tunjuk penanggung jawab untuk memberikan informasi dan menjawab pertanyaan staf. Salah satunya dengan membangun komunikasi dua arah langsung antara manajemen dan staf untuk menghindari kepanikan dan kebingungan di antara staf.
  • Temukan cara untuk meningkatkan moral staf. Pastikan kepentingan dan kesehatan karyawan adalah prioritas utama.

Demikian 5 (lima) strategi dari Omnilytics guna menghadapi dan melalui pandemi dan krisis global ini. Omnilytics adalah platform data ritel, yang menggerakkan bisnis pengambilan keputusan dengan wawasan yang mendalam dan dapat ditindaklanjuti.

Perubahan Hidup Selama Pandemi

Bukan hanya bagaimana saya bekerja yang berubah; tetapi juga dimensi-dimensi lain dalam hidup. Dan bagaimana mengumpulkan keping-keping hikmah dari sana.

Kantor “merumahkan” separuh dari kami selama sepekan. Dan separuh lainnya di pekan berikutnya. Dan begitu seterusnya entah sampai kapan. Sampai pandemi ini berakhir, tentu saja. Tapi kapan itu? Belum ada yang tahu.

Satu yang saya yakini dari work-from-home adalah produktifitas kita tidak akan sama dengan berada di kantor. Bukan sekedar perbedaan ruang, namun juga suasana saling mendorong untuk produktif itulah yang ada di kantor. Di sanalah kita wajib menjawab tantangan bagaimana supaya tingkat performansi kita tetap sama.

Saya selalu mandi pagi sebelum bekerja. Mandi pagi adalah “ritual”. Bekerja sebelum mandi, rasanya bekerja kurang mantap. Sambil mandi, “merapal” apa-apa saja yang mau dikerjakan. Sembari me-review juga yang sudah dilakukan kemarin. Bagaimana melanjutkan pekerjaan kemarin dengan pekerjaan hari ini.

Yang jelas, tidak ada lagi ritual “melihat jalan raya” dalam perjalanan ke kantor. Percaya atau tidak, itulah yang membuat saya lebih betah di kantor daripada di rumah. Karena bekerja di rumah, sooner or later, akan membosankan.

Aktifkan tethering di HP, lalu membuka laptop harus diiringi dengan kesadaran “saya tidak bekerja sendiri”. Seseorang, atau beberapa orang rekan di kantor, sedang menunggu hasil dari yang saya kerjakan. Atau sebaliknya, saya menunggu seseorang menyerahkan sesuatu kepada saya untuk kemudian saya tindak-lanjuti. Karena saya tidak bekerja sendirian. Sama seperti di kantor, membuka youtube atau aplikasi hiburan yang lain tidak boleh lama-lama. Penulis seperti saya, malah lebih sering “terjebak” di blog-blog instead of socmed video-audio tersebut.

Anak-anak di rumah belum sekolah. Belum merasakan rutinitas belajar bersama guru di ruang kelas. Belum paham rasanya punya teman. Praktis, di rumah saya tidak terbebani untuk jadi guru sementara sebagaimana banyak orang tua yang lain. Banyak yang mengeluhkan, karena baru menyadari, bahwasanya menjadi guru itu berat ternyata. Seorang teman sampai bernyanyi, “hormati gurumu, sayangi temanmu” dst sembari mengajar anaknya di rumah. Yang baru paham setelah mempraktikkan betapa rumitnya menjadi seorang guru.

Tapi, berhubung mereka seumuran, mereka jadi teman satu sama lain. Sesekali, menjadi “musuh” bagi saudaranya. Terutama ketika jenuh melanda. Pelampiasannya ke hape tersebut di atas. Yang sedang dipakai tethering. Tidak jarang, hape dibawa pergi menjauh dari laptop sang pekerja. Sinyal menghilang, tiba-tiba luring (luar jaringan), alias offline. Usut punya usut. “pencuri” hape ternyata asyik-masyuk menikmati youtube pahlawan kesayangan yang sedang battle. Tidak lama, entah sebab yang mana -ada terlalu banyak sebab- tiba-tiba mereka “battle” sendiri. Tentu si pekerja harus meninggalkan layar, berubah peran menjadi pelerai.

Di momen lain yang tidak terjadi sekali dua kali, tiba-tiba si laptop offline. Setelah penelusuran oleh tim investigasi, ternyata hape kehabisan daya di tangan-tangan dua orang penonton (youtube). Jadilah hape di-charge. Sembari diberikan informasi, “jangan dicabut ya dari charger-nya”. Tidak lama kemudian (lagi), offline lagi. Ditengoklah ke charger. Hah?! Hapenya sudah tidak ada. Rupanya dua tersangka membawa pergi device youtube-nya “mereka”. Menonton (lagi) sampai habis daya (lagi).

Pandemi ini mengubah separuh pola makan saya. Yang sesekali jajan di warung, menjadi tidak jajan sama sekali. Harus menu rumahan. Pokoknya mengubah isi kulkas menjadi masakan aja. Sarapan nasi kuning atau kupat tahu petis terpaksa di-hold dulu. Jajan-jajan gorengan distop sama sekali. Waspada saja. Barangkali kang gorengannya termasuk OTG (orang tanpa gejala).

Belanja ke pasar ga boleh rame-rame. Cukup seorang saja. Dan perbanyak protein. Biar kuat menghadapi virus. Terpaksa merogoh kocek lebih dalam. Padahal koceknya saja enggak dalam-dalam amat. Sedapatnya saja. Sering pula belanja tahu di kang yang lewat. Kalau bukan untuk dimakan sendiri, setidaknya untuk snack dan lauk maksi-nya pak-pak tukang renov. Minimal, kami berniat supaya beliau berdua tidak ikut sakit juga. Repot kalau kami ketularan, atau mereka yang ditulari kami.

Sekian ratus menit terhemat akibat pandemi ini. Hidup jadi lebih efisien. Karena tidak menghabiskan sekian menit pergi-pulang kantor. Ambil minum beberapa langkah; bukan puluhan langkah. Meeting online, tidak di ruang meeting atau ke meja rekan. Sepatutnya jadi jalan memperbanyak amal ibadah yang ringan seperti membaca Al-Quran.

Seperti sempat saya singgung di atas, stay-at-home dan work-at-home itu membosankan. Bahkan membuat stress. Namun, ini worth it untuk dijalani dan it shall pass, too. Justru di momentum seperti inilah passion rebahan kita sedang diuji. Dunia membutuhkan kepahlawanan kita! Yaitu bagaimana kita bisa konsisten stay-at-home selama berhari-hari dan berminggu-minggu (mudah-mudahan tidak lebih dari dua bulan, ya) bersama dengan passion rebahan kita.

Hiburan saya di sabtu dan minggu malam. Kini tiada lagi. Mudah-mudahan sementara saja. Lebih baik bermain tanpa penonton di stadion di tanah-tanah Britania demi hadirnya konten sepakbola berkualitas di (layar-layar kaca) di tanah air. Sebenarnya, mereka sendiri juga tidak kuat menjalani keadaan demikian. Karena pengeluaran gaji, perawatan stadion, dan sebagainya juga jalan terus. Bisa bangkrut kalau tidak segera dijadwalkan dan dimainkan kembali partai-partai yang terhutang tersebut. Mungkin tidak semua jadwal pertandingan bisa direalisasikan, tapi setidaknya berilah kesempatan kepada para fans Liverpool untuk melihat timnya juara. Yeeaaahhhhh!!!!! (ikut lebay karena tidak juara selama 30 tahun).

Selalu ada hikmah di balik krisis. Pandemi ini memutar-balikkan kebiasaan-kebiasaan “jahiliyah” kita sebelumnya. Kumpul-kumpul yang tidak perlu. (padahal tidak ada wajah baru dalam perkumpulan tersebut. Tidak juga membicarakan proyek baru). Minum-minum gula yang berlebih via kopi dan teh di kafe. (padahal sudah minum satu di antara keduanya di rumah. Gulanya dua sdm, pula!). Ambil makanan atau pegang sesuatu tanpa cuci tangan (kini jadi lebih sering cuci tangan menggunakan sabun sampai ke punggung tangan yang dialiri air mengalir selama dua puluh detik).

Sebagai homo sapiens dan umat Nabi Muhammad, hendaknya kita menjadi manusia-manusia yang berpikir ya. Merenungi dan meresapi hikmah dari semua ini. Sulit memang membuktikan kaitan pandemi ini dengan kegagalan-kegagalan kita menjadi khalifah di muka bumi. Tapi setidaknya kita men-tafakkur-i dan berdiskusi dengan rekan maupun keluarga perihal hikmah-hikmah tersebut. Bukan mem-forward terus-terusan narasi yang sulit dibuktikan tersebut ke grup-grup WA kita. Justru, di sanalah yang membedakan kaum-kaum yang berpikir dengan yang tidak.