Review Buku Filosofi Teras

Buku ini bagus banget untuk dibaca. Sudah cetak ulang 5-6 kali hanya dalam beberapa bulan sejak terbit perdana. Karena buku ini mengulas prinsip-prinsip sederhana perihal Filosofi Teras alias filosofi stoic.

Ada dua alasan saya tertarik sama buku ini. Pertama adalah Henry Manampiring-nya sendiri. Beliau suka nge-twit di @newsplatter. Tapi pertama saya tahu beliau dari blognya “The Laughing Phoenix“. Entah ya kenapa blognya dikasi nama demikian. As we know, Phoenix itu kan burung yang bangkit hidup kembali dari api kematian. Paradox karena si Phoenix ini tertawa (laughing). Yang membuat saya mampir pertama kali ke blog tersebut adalah survey dan hasil surveynya yang insightful (penuh wawasan), lucu, namun ya miris juga. Sebab, surveynya seputar LDR (Long-Distance Relationship), ke-jomblo-an, dan hal-hal sejenisnya.

Oiya, Om Piring ini lulus kuliahnya dari Akuntansi Unpad. Tapi sekitar dua puluh tahun karirnya dihabiskan di industri periklanan. Peran dia, as strategic planner. Which is, memahami target audience dari suatu brand (ya secara demografi, psikografi, dan perilaku) sampai dengan objective dari kampanye si brand itu sendiri. Nah, keluar-an dari pekerjaan dan peran dia adalah rencana penggunaan budget si brand terhadap media-media yang sudah dipetakan sebelumnya. Tentu tidak hanya plan-nya doang, donk. Tetapi juga laporan-nya, analisisnya, insight-nya, dan seterusnya.

Yang kedua, adalah dari rasa prihatin saya –sebagaimana sudah saya tuangkan di artikel sebelumnya di sini— mengenai tingginya angka bunuh diri generasi muda kita saat ini. Eling, yang kebetulan saya gak sengaja ketemu dia pas bedah buku Filosofi Teras ini Gramedia Bandung –yang jalan Merdeka, bukan yang baru di Jalan Supratman–berpendapat bahwa, generasi kami dulu ya tough aja sama ujian-ujian hidup semacam putus cinta dan skripsi yang tak kunjung usai.

Ok, masuk ke review buku ya.

Om Piring ini banyak mengutip pendapat filsuf-filsuf stoic kenamaan yang quote-nya sudah sedjak dua ribu-an tahun lalu, kemudian memberikan interpretasi kekinian terhadap pendapat-pendapat filsuf tersebut. Which is, namanya umat manusia, ya. Biar kata era internet nya juga sudah 4G, industrialisasi juga sampai 4.0, social media yang sudah sedemikian rupa ini, ternyata masalah-masalah hidup dan takdir manusia ya masih ada juga.

Interpretasi perdana yang saya kutip di sini perihal bahwasanya tidak semua hal dalam hidup bisa kita atur. Iya sih, ada yang bisa kita atur, tetapi banyak juga yang tidak. Termasuk dengan fakta-fakta seperti mantan beserta dengan kenangan masa lalu kita bersamanya. Yang bisa kita atur itu hal-hal semacam masa depan yang masih kita bisa rencanakan, perilaku dan persepsi pribadi yang masih bisa kita kendalikan, dan hal-hal semacamnya.

Nilai kuliah dan IP, di semester-semester berikutnya masih bisa kita ikhtiarkan. Kita masih bisa memperbaiki dan merencanakan ulang perkuliahan kita di semester depan. Tapi ikhtiar ada batasnya juga, yaitu takdir. Hal-hal semacam dosen killer, kebagian asisten praktikum yang tidak mengenal kompromi, termasuk hal-hal yang tidak bisa kita atur seenak djidat. Menurut para filsuf stoic, hal-hal terlingkupi takdir ini tidak usah terlalu dipikirkan. Toh kita juga tidak bisa berbuat apa-apa terhadapnya.

Misalnya, hal-hal semacam lahir tahun berapa –apakah masuk generasi baby boomers, X, Y, Milennial, atau Z–, lahir dari orang tua seperti apa –berbakat secara akademik atau punya warisan aset-aset perusahaan atau keturunan ningrat, dst– adalah termasuk kepada hal-hal yang tidak bisa kita atur. Oleh sebab itu, jangan sampai yang demikian ini malah ikut menentukan perasaan-perasaan kita sendiri. Yang wujudnya bisa berupa: tidak bahagia, sikap menyalahkan orang lain, dst.

Perihal hal-hal yang bisa kita kendalikan ini, memang menancap banget di saya. Karena memang, baru beberapa minggu lalu mendiskusikan hal ini dengan istri. Dan kesimpulan diskusi kami adalah –persis sama dengan buku Filosofi Teras ini– bahwasanya jangan sampai hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan justru mengontrol ketat pikiran dan persepsi kita terhadap sesuatu. Mari fokus saja pada apa yang bisa kita kendalikan.

Somehow, pesan-pesan dari para filsuf stoic –yang dirangkum dengan sangat baik oleh Om Piring dalam buku ini–sangat beririsan dengan pesan-pesan dari kepercayaan yang saya anut.

  • Misalnya, bahwa manusia itu kendalinya pada ikhtiar, sisanya diserahkan kepada alam (atau kepada Sang Pencipta–kalau kita meyakini teori penciptaan).
  • Contoh lain, bahwasanya masa lalu adalah sesuatu yang sangat jauh. Begitu jauh hingga dia tidak pernah kembali (silakan koreksi ya, kalau tidak salah ini adalah hadist).
  • Hidup ini bukannya tidak pernah berakhir. Masih ada kehidupan setelah kematian. Tidak perlu terlalu ditakuti atau dikhawatirkan. Justru karena hidup ini ada batasnya, maka kita wajib menjalani peran kita selaku manusia, yaitu berupaya maksimal memaksimalkan hidup yang terbatas ini.
  • Harta kekayaan orang lain. Tidak perlu dibanding-bandingkan dengan milik pribadi. Cuxtaw (cukup tahu saja) ya. Saya berpandangan demikian –dan diafirmasi oleh buku ini– karena toh kita juga gak lihat balance sheet-nya; kita gak tahu sebanyak apa laba dia tahun lalu, apakah mobilnya sudah selesai dicicil atau belum, dst. Apalagi, di ujung hidup kita dan dia, ternyata kita akan sama-sama menggunakan bilik kecil berukuran 2x2x1 meter.

Filosofi Teras juga membahas terkait parenting, lho. Parenting ini memang isu yang semakin seksi, ya. Semakin dibahas dimana-mana. Para orang tua juga semakin peduli, mencari tahu dan belajar mengenai parenting. Di sisi lain, para penggiat-nya –dan termasuk public speaker-nya– juga semakin banyak. Tidak heran, Om Piring juga mengkaitkan dengan topik parenting tersebut. Daaann, prinsipnya relatif sama bila dihubungkan ke kita selaku orang tua: do the best, let god do the rest. Serta, jangan ambil pusing, terhadap hal-hal yang memang di luar kendali kita selaku orang tua.

Overall, saya kira memang dua itu inti dari Filosofi Teras, yang sudah beberapa tahun terakhir saya pribadi coba terapkan.

Ulas sedikit soal bedah buku yang lalu, ya. Kita sebagai generasi Y atau Milenial yang beda tipis-tipis sama generasi yang sedikit di bawah kita –mungkin masih termasuk milenial juga– perlu untuk memahami dan berempati terhadap kesusahan-kesusahan yang mereka alami. Buktinya, dalam sesi Q&A, lebih banyak curhatan ketimbang diskusi ilmiah mengenai buku Filosofi Teras-nya. Curhatan semisal pekerjaan yang berbeda dengan jurusan sewaktu kuliah. Baru dua bulan kerja sudah ingin resign –padahal probation tiga bulan; tinggal gak usah lanjut setelah probation, kan? Dan banyak contoh lainnya yang saya yakin jumlahnya tidak sedikit.

Cara Mendapatkan Buku yang Bagus

Sedari pertama saya saya mengenal dan suka membaca buku, saya sering tertipu dengan judul buku. Saya kira bukunya tentang A, ternyata isinya tentang B. Padahal di Indonesia, tidak pernah ada yang namanya garansi uang kembali.

Ada buku yang judulnya –katanya– bisa membantu kita membeli properti secara tidak kontan sama sekali. Benar saja sih hal tersebut memang bisa dilakukan. Namun ternyata tidak bisa dilakukan secara berulang kali. Ada faktor keberuntungan untuk menemukan rumah dengan keadaan pembayaran seperti sudah disebutkan. Beli buku tentang properti ini biasanya dapat bonus diskon seminar. Harga seminar aslinya jutaan rupiah. Setelah diskon pun ternyata masih ratusan ribu rupiah. Selidik punya selidik, ternyata sang pembicara memang jualan seminar bukan jualan properti.

Sejak itu, saya beberapa kali gagal mendapatkan buku yang berkualitas. Antara tertipu isi dengan judul, atau isi yang kurang lengkap, atau paling parah adalah isi yang tidak menjawab kebutuhan saya yang sebenarnya. Di mana, ketertarikan SESAAT saya saja yang mendorong dan memaksa saya untuk mengambil buku tersebut dari rak toko lalu membayarnya di kasir. Toko buku ‘kan ambience-nya memang mendorong kita untuk mengambil buku sebanyak-banyaknya, sembari berambisi bahwa semuanya akan berhasil kita baca di rumah, lalu pergi ke kasir.

Seiring waktu, hingga belasan tahun sejak pertama kali saya membeli buku, kini saya merasa dan menilai diri saya, bahwasanya saya sudah mampu memilih, mendapatkan, dan memiliki buku yang benar-benar punya kualitas. Tidak mudah tertipu lagi dengan ambience toko buku, judul dan kaver buku, diskon seminar, dan tetek-bengek lainnya. Saya membeli buku karena memang saya tahu saya membutuhkan materi tersebut, dan saya tahu persis buku tersebut mampu memenuhi kebutuhan saya. Saya coba sharing sedikit di blog ini ya.

Ada dua untuk memilih dan mendapatkan buku yang berkualitas. Yaitu dengan mengenali penulisnya, serta memahami daftar isinya.

Cari Tahu Siapa Penulisnya.

Ada dua cara mengetahui apakah penulis judul tersebut, merupakan penulis yang baik.

  • Perhatikan seberapa sering dia menulis buku. Kenali apa saja bukunya. Kredibilitasnya bisa kita lihat dari seberapa konsisten tema yang dia bahas. Kalau dia bisa menulis macam-macam bukan karena dia jago di semua bidang tersebut, kemungkinan dia adalah penulis profesional.
  • Cari tahu brand dia selain lewat buku yang dia tulis. Ada dua kemungkinan mengapa dia adalah expert di bidang tersebut.
    • Beliau memang seorang pelaku di bidang tersebut. Atau,
    • Beliau adalah konsultan/trainer di bidang yang dia tulis.

Saya mengkoleksi semua buku dari Pak Frans M. Royan karena beliau adalah konsultan di bidang distribusi dan ritel. Semua bukunya tentang ritel (minimarket, wholesale, dsb) dan distribusi (cara mengelola kantor cabang, cara mengelola piutang, dst).

Para expert mungkin jago mengeksekusi, atau berbicara tentang bidangnya, tapi belum tentu dia jago menulis. Banyak di antara kita yang bisa bicara tapi tidak bisa menulis. Atau sebaliknya, bisa menulis tapi tidak bisa men-deliver speech. Beliau ini adalah salah satu yang lulus dan lolos dari seleksi alam terhadap penulis.

Penyeleksian buku untuk kita beli dan baca semakin tidak mudah. Mengapa? Sebab menulis kini semakin mudah. Ada banyak informasi digital di internet, khususnya dalam format blog, yang mudah dikutip. Namun sayangnya, cek & ricek (periksa & periksa ulang) terutama mengenai sumber kutipan kurang dilakukan secara mendalam oleh penulis dan editornya.

Untuk topik yang sama, pastinya ada beberapa judul buku dari beberapa penerbit. Lihat saja dalam ranah spiritual Islam, topik shalat dhuha dikerubuti puluhan penerbit. Lebih umum lagi yang ngetren sekarang topik bisnis ‘bermain’ saham dikerubuti begitu banyak penerbit atau soal ‘otak tengah’.

Mulai penerbit gurem (small publisher), penerbit menengah (medium publisher), dan penerbit besar turut mengeroyoki topik-topik tersebut. Mereka makin atraktif menampangkan judul-judul buku mereka masing-masing di rak-rak toko buku, terkadang satu topik dikerubuti oleh lebih dari 10 judul.

Belum lama ini saya mencari buku tentang cara menulis fiksi. Kebetulan, saya menemukan buku yang ditulis oleh Hermawan Aksan. Saya lupa di mana pertama kali membaca namanya. Tapi saya ingat bahwa nama tersebut memang sejatinya adalah seorang penulis. Yang menjadi pemantik utama dalam pembelian saya atas buku tersebut adalah bahwa beliau merupakan ediotr yang sering diajak berdiskusi oleh Dewi ‘Dee’ Lestari.

Dari bukunya, saya berkesimpulan bahwa proses menulis fiksi dan non-fiksi itu sama persis. Tadinya saya pikir cara menulis fiksi itu benar-benar berbeda dari non-fiksi. Yang pertama penuh dengan imajinasi dan kata/kalimat filler (pengisi), yang kedua penuh dengan riset dan kepadatan makna. Ternyata, yang benar adalah fiksi juga sarat dengan riset dan harus ditulis dengan bernas (padat makna).

Alasan bahwa saya mengetahui kompetensi dan pengalaman penulis di bidang yang mereka geluti, juga menjadi alasan mengapa saya membeli buku Pak Bambang Trim, yang berjudul Menulispedia: Panduan Menulis untuk Mereka yang Insaf Menulis.

Untuk fiksi, ada penulis Adhitya Mulya. Jomblo, Sabtu Bersama Bapak, Traveler’s Tale, Gege Mengejar Cinta adalah novel-novel yang pernah dia tulis. Kelebihan penulis satu ini adalah karena tidak hanya menulis satu genre saja (yaitu komedi). Sabtu Bersama Bapak menunjukkan kedewasaannya sebagai seorang suami dan bapak. Dari sisi kepengarangan, ada pergeseran dan penambahan peran dalam hidup beliau yang turut mempengaruhi karya-karyanya. Sepola dengan Dee yang juga menulis tentang romansa (Rectoverso), kumpulan puisi dan cerpen (Filosofi Kopi), fiksi ilmiah (Supernova).

Bandingkan Daftar Isi-nya.

Saran saya, yang paling layak dikoleksi adalah yang paling lengkap isinya (berdasar penelusuran dan perbandingan terhadap daftar isi).

Kadang-kadang ada topik tertentu yang buku-bukunya tidak perlu dikoleksi. Semisal tentang bisnis internet. Perkembangan via blog, notes facebook, webminar, dan format yang lain lebih cepat perkembangannya daripada dalam format buku. Bahkan ada buku yang terang-terangan menunjukkan cara membuka browser dari Windows. Ini kan hanya mengejar ketebalan buku saja.

Kompas pernah merilis hasil survey tahun 2010 bahwa minat membaca masyarakat di perkotaan mulai tumbuh signifikan. Ada yang unik hasil survey Kompas bahwa pembaca Indonesia tidak terlalu memedulikan ‘penerbit’ dan ‘penulis’. Saya agak berseberangan dalam hal ini. Saya kira, kualitas buku juga dipengaruhi oleh track record penerbit dan penulisnya. Berikut ini saya kutip langsung pendapat Pak Bambang Trim mengenai fenomena ini.

Nah loh, ini patut menjadi perhatian karena ‘nama besar’ penerbit bukan menjadi jaminan best seller-nya sebuah produk. Penerbit gurem atau penerbit ‘kemarin sore’ tiba-tiba bukunya mampu mencuri perhatian dan naik daun seperti ulat bulu–menggelitik rasa ingin tahu.

Penulis pun setali tiga uang. Apa pernah pembaca Indonesia menelisik para penulis yang menyusun buku tentang bisnis rumahan atau bisnis dengan modal di bawah 2 jutaan?–selidik punya selidik terkadang penulisnya sendiri pun tidak punya bisnis! Apalagi buku-buku bertema bagaimana mendapatkan kekayaan dengan berbagai cara, selidik punya selidik lha penulisnya belum kaya.

Referensi:

  • http://manistebu.com/2010/04/pasar-buku-yang-turun-atau-kue-yang-terbagi/