Proyek Freelance Pertama Saya

Saya hampir lupa proyek freelance pertama saya. Sebab saya ketika kuliah memang beberapa kali mendapat -ehm- penghasilan. Mulai dari menang lomba menulis essay ketika tingkat dua. Investasi (alias main duit untuk mendapat duit) ke teman GAMAIS yang sedang bikin proyek buku soal dan jaket untuk tingkat satu. Termasuk dapat duit dari mengajar les kecil-kecilan.

Tapi yang disebut freelance kan berarti lepas-an. Yang dikerjakan itu adalah pekerjaan yang jelas output/deliverables-nya.

Ketika itu kebetulan saya antara masih atau sudah turun/selesai dari aktivitas kemahasiswaan. Kebetulan, bidang yang saya pertanggungjawabkan adalah edukasi mengenai kewirausahaan kepada teman-teman mahasiswa.

Saat itu, itu enterpreneurship belum isu yang se-wah sekarang. Teman-teman mahasiswa, kalau mau buka bisnis, pikirannya hanyalah modal berapa, jadi bahan baku dan peralatan/perlengkapan, terus omzet berapa. Modalnya pinjam sana-sini terus dikembalikan secara bertahap kepada si kreditur. Atau boleh juga jadi pemilik dengan menyumbang nilai tertentu dari modal. Secara periodik, ada hasil yang bisa dibagikan (bagi hasil).

Berbeda dengan sekarang yang sudah lebih kapitalis. Main modal jadi sesuatu yang lazim sekarang. Seiring dengan berkembangnya ilmu manajemen risiko (terhadap si modal tersebut). Beberapa contohnya adalah daripada pakai uang sendiri, lebih baik pakai uang beberapa orang. Daripada investasi ke satu bisnis saja, lebih baik dibagi ke 10 bisnis sekaligus. Satu di antara sepuluh yang berhasil, bisa tumbuh setidaknya 20 kali lipat dari yang pertama.

BACA JUGA:  Seluk-Beluk Freelance Marketing

Sebagai ilustrasi, ada namanya East Venture. Venture Capital (VC) ini hanya fokus bermain/berinvestasi di bisnis-bisnis baru yang bahkan kebanyakan orang belum tahu. Selain memantapkan diri di sana, ini juga untuk mengelola risiko mereka. Seperti saya bilang di atas, satu di antara sepuluh atau belasan, tentu ada yang bisa grow menjadi puluhan, ratusan bahkan ribuan (atau lebih!) kali lipat dari skala awalnya kan.

Nah, itu sepenggal cerita pengantar.

Intinya, dari understanding sedikit tentang entrepreneurship tersebut, proyek freelance pertama saya adalah kontributor buku tentang kewirausahaan. Selain saya yang mewakili perspektif mahasiswa, ada juga pandangan dari seorang dosen yang hari-harinya juga bergeluti di inovasi teknologi untuk bisnis. Kontributornya hanya dua orang. Proyek penulisan buku ini milik lembaga inkubator bisnis di kampus. Mereka yang merilis fee penulisan dan pencetakan bukunya.

Kurang lebih dua tahun kemudian, saya bergabung dengan sebuah kantor konsultan kecil. Lumayan, belajar mengelola proyek dan bisa berkarya kecil-kecilan. Lakukan riset pendahuluan, bikin proposal, pitching/presentasi, sampai sukses dapat proyek. Diikuti dengan kejar-kejaran sama deadline, setelah berwaktu-waktu bingung dengan, “Ini proyek dikerjainnya gimana yah?”. Namun sejak itulah, kalau boleh dibilang, personal brand saya yang kecil-kecilan juga terbangun. Orang mulai mengenal saya lewat pekerjaan dan apa-apa yang saya kerjakan. Saya kurang pede menyebutnya sebagai karya.

BACA JUGA:  Haruskah Pekerjaan Freelance Diteruskan?

Kesimpulan sementara ini adalah ada beberapa skill yang cukup penting untuk memulai karir freelance. Di antaranya adalah skill membangun dan mempertahankan network. Baik teman-teman yang baru, maupun mempertahankan network di institusi kita yang sebelumnya.

Di sini kita bukan sebagai teman saja. Tapi juga harus bisa ber-ide dan “menjual” ide tersebut. Ide ini at least direalisasikan dalam wujud proposal. Jadi, harus bisa menulis proposal juga. Namanya menjual ya berarti mampu menawarkan manfaat dan bisa mengkonversinya dengan nilai tertentu.

Tentu saja, aspek teknis dari pekerjaan freelance tidak kalah penting. Memotret untuk fotografer, menulis dari penulis, mendesain dari desainer, dst. Selain terkait ke kualitas pekerjaan, ini juga menggambarkan positioning dan harga kita selaku freelance. Apakah kita ini pemula dengan skill seadanya dengan harga murah-murahan. Atau sudah mulai naik kelas ke middle-up dengan nilai proyek yang lumayan, karena kita sudah punya skillnya.

One thought on “Proyek Freelance Pertama Saya”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *