My Life My Adventures

Apakah suatu petualangan itu benar-benar adventurous rupanya kembali ke masing-masing ya.

Bos saya dulu, kerjanya bolak-balik Indonesia-India dan Indonesia-Cina. Kantornya yang utama membuat pabrik di kedua negara tersebut. Saya pikir itu pekerjaan dan petualangan yang menyenangkan. Masakan India yang lebih banyak memakai rempah daripada menu masakan Padang di kita. Atau segarnya sajian kuliner khas Chinese Food. Rupanya tidak. Berjam-jam terbang itu membosankan dan melelahkan, katanya.

Meskipun bukan anak pantai (son of a beach, 🤣) dan bukan anak gunung, saya menilai keduanya bukan petualangan, lho. Dua kali naik gunung bukan perjalanan yang asli menyenangkan dan saya ingin ulangi. Soal pantai, tiap kali pulang kampung ke kota minyak, selalu ke pantai. Jadi pantai itu B aja, sebenarnya.

Saya malah benar merasa bertualang itu kalau main ke kota lain setidaknya selama beberapa hari. Ikut menginap di rumah orang adalah best choice. Tentu pilihan ini tidak selalu tersedia ya kalau kita bersama anak dan pasangan. Lalu menikmati dan menyesapi kuliner lokal.

Saya pernah ada pengalaman “buruk”. Pergi ke Batam tetapi menu lunch-nya ala-ala Sunda gitu. Lauk yang diungkep bumbu kuning, kemudian digoreng. Lengkap bersama lalapan + teh tawarnya. Rasa makanannya terasa masih seputaran Bandung+Garut.

Jadi petualangannya bukan di daerah wisatanya. Melainkan ketika mengobrol dan berinteraksi dengan warga yang memang tinggal di sana. Menyelami bagaimana mereka hidup: berekonomi dan makan.

BACA JUGA:  Pamer

Itu saran pertama saya, ya. Kalau mau “bertualang” sekalian, maka merantaulah. Pindah kota, gitu. Pasti lebih sedap daripada sekadar beberapa hari main ke kota lain.

Benar lho. Daripada ke mall yang dari kota ke kota isinya itu-itu saja. No wonder, mayoritas mall kan dimiliki sese-grup usaha yah. Saya lebih pilih ke pasar tradisionalnya. Apa komoditi yang ada, atau lebih banyak daripada pasar-pasar tradisional di kota lain. Brambang (bawang merah) yang lebih besar dan umbi-umbiannya gak bergerombol. Ikan-ikan yang unik khas daerah tersebut, dan lain sebagainya.

Saran kedua: pindah kerja. Bila perlu, pindah industri sekalian.

Ada yang bilang, pekerjaan kan begitu-gitu saja. Menurut saya, tidak. Dalam pekerjaan kan ada interaksi antar manusia pekerja ya. Beda manusia, maka terasa beda di pekerjaannya.

Beda perusahaan saja terasa beda corporate culture-nya. Apalagi kalau sudah pindah industri. Industri seperti konsultasi, atau craftmanship-based seperti IT, menuntut kreatifitas. Sementara, bila bertualang di manufaktur, ke-kaku-annya bakal kerasa banget.

Lebih asyik lagi kalo bertualang jadi expert ke luar negeri. Atau sekolah di LN dengan beasiswa juga bisa. Sudah bertualang di pekerjaan/sekolah, bertualang juga soal kuliner, kebiasaan dan ekonomi warga setempat.

Status sebagai pasangan dan orang tua juga petualangan, lho. Bagaimana kita juggling dengan mengasuh anak-anak yang berbeda usia. Yang masih bayi butuh banget diurusi fisiknya, sementara kakak-kakaknya butuh treatment yang berbeda.

BACA JUGA:  Sebelum Pindah Kerja

Di sisi saya sebagai pribadi, menonton film sekaligus browsing data-fakta menarik seputar sejarah (history) juga tidak membosankan. Pasca menamatkan dua “The End”-nya Rurouni Kenshin, saya tidak henti-hentinya curious tentang masa-masa sebelum restorasi Meiji yang terkenal itu. Sembari membayangkan bagaimana jika saya hidup pada masa itu: kebahagiaan dan penderitaan macam apa yang akan saya alami juga. Saya end up with another movie named “Samurai Marathon” to watch.

Jadi meski saya ini di rumah aja, tetap “travelling” ke mana-mana, kok. Email-email dari Online Travel Agent (OTA) seringkali saya cuhkan bahkan saya hapus. Karena kok masih lebih menarik “petualangan” saya di rumah ya.

Kembali ke pernyataan saya di awal.

Adventurous-nya suatu petualangan itu balik lagi ke perasaan masing-masing. Yang dialami bisa sama, tetapi how high or how low yang dirasakan itu berbeda-beda.

One thought on “My Life My Adventures”

  1. Setuju kaaaakk.
    Keluar kota, keluar negeri, kl cm tur, cm wisata, cm sekedar lewat IMO ngga seruuuu.
    Yg terasa seru justru interaksi di dalamnya. Pengalaman dan ilmu baru juga. Setuju banget lah kaak!
    Dan sy sendiri tipe yg suka feeling adventurous meskipun ga bisa kemana2. Krn feeling adventurous ngga ditentukan lokasi.
    I should’ve written about this! Terimakasih buat tulisan yg inspiring kak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.