Di-Mudah-Kan

Dimudahkan: kata sederhana yang rupa-rupanya memiliki makna yang mendalam.

Awalnya, dimudahkan tuh kesannya seperti ada bantuan orang paling kuat se-negeri ber-flower seperti kita ini: orang dalam.

Tapi kemudian, dalam perjalanan pulang dari mengambil hasil RT-PCR tadi malam, saya jadi memaknai kembali apa itu “dimudahkan”.

Beberapa jam sebelumnya, istri mengingatkan tentang apa yg dimaksud “dimudahkan” itu. Karena gak ada yg benar-benar mudah ‘kan.

Malah dalam Alqur’an dinyatakan bahwa kesulitan itu seiring sejalan dengan kemudahan. “Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan”.

Reinterpretasi saya di atas kendaraan tadi malam, menjadi “Bersama tantangan ada ‘dimudahkan’ “.

Tantangan memang gak pernah habis ya. Karena hidup itu kan selalu dinamis. Terjadinya dinamika baik karena hidup yg berjalan terus ke fase-fase berikutnya, maupun faktor eksternal yg datang menghampiri dan memberikan hambatan maupun gangguan.

Baca Juga: My Life, My Adventure

Dalam pada itulah, kita perlu banget mengecek kembali “dukungan” Allah kepada kita. Adakah Tuhan sang pencipta, lewat semesta raya menunjukkan kemudahan (yaitu “kemudahan” yg disebut dalam ayat alquran di atas). Misalnya lewat proses yang lebih cepat, rintangan yg lebih sedikit, bala bantuan yg tiada henti, dan sebagainya.

Yang saya rasakan sendiri misalnya, 7 tahun lalu. Hanya kenal dengan seseorang selama 8 bulan, tahu-tahu sudah menjadi istri.

Peristiwa terbaru yang terjadi di hadapan adalah, betapa singkat dan “dimudahkan”-nya almarhum ayah kami menjalani sakaratul maut-nya. Hanya dua hari sejak masuk RS, beliau sudah berpulang ke Rahmatullah.

BACA JUGA:  Fakultas Ambil Hikmahnya

Beberapa pekan sebelumnya, beliau malah aktif banget berbagi ke rekan-rekan pensiunan dan para cucu. Ada sekian belas sajadah bulu tebal agar sholat semakin dimudahkan, dilancarkan, dan diperbanyak. Para cucu ada yg dihadiahi qurban, dibantu biaya lahiran, disponsori aqiqah, dan lain-lain.

Kami menginterpretasikan, mungkin beliau sudah menyadari waktunya yang semakin dekat. Ini adalah experience yg mungkin tidak bisa dialami oleh kita-kita yg masih hidup ya.

Di mana, kita banyak menyesali apa-apa yg tidak kita lakukan utk menyelamatkan beliau. Padahal di sisi almarhum, proses sakaratul maut yang tidak memakan waktu berminggu-minggu apalagi berbulan-bulan itu yg dinanti-nantikan oleh para muslim/muslimah seperti kita.

Akhir kata, perjalanan “pulang” menuju kampung akhirat bukanlah perjalanan sesaat. Melainkan persinggahan di dunia fana inilah yang seharusnya menjadi tempat kita mengumpulkan bekal sebanyak-banyaknya. Sebagaimana almarhum ayah saya yang selalu bersemangat dalam mencari nafkah, sholat ke masjid, mengaji Alqur’an di rumah, menyambung silaturahmi dengan keluarga besar maupun rekan seprofesi, hingga keringanan utk berbagi lewat sedekah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.