Jangan Fokus

Saya tidak antitesis dengan fokus ya. Bukunya Daniel Goleman saja belum dibaca. But, I have my own understanding about focus itself. It is: to not focus.

Dalam sejarah hidup saya yang pastinya pendek ini, rasanya gak pernah tuh saya fokus. Yaitu, hanya nge-spotlight hal yang itu-itu aja. Seakan targeting yang itu-itu aja adalah boring. Jadinya saya melakukan beberapa aktifitas sekaligus. Not in one time, ya. Tapi dalam time range yang lebih panjang, saya coba achieve beberapa hal. That’s why I told my self to jangan fokus. Karena kalau fokus beneran, mungkin hanya dapat 1-2 target dalam setahun.

Doing several categories itu kayak jadi kebutuhan (needs). Bukan lagi keinginan (wants). Karena many times ‘kan kita butuh perspektif baru ya. Untuk memahami atau mengeksekusi hal baru. Ibarat marketer yang butuh benchmark ke industri lain, seperti itulah yang saya lakukan. Habis mengobservasi bagaimana cara mereka melakukan, di situlah saya bertanya ke diri sendiri, bisa gak ya metode mereka tersebut diterapkan di sini?

Ke-tidak-fokus-an itu kemudian jadi cara menemukan referensi. Bahwa dalam dimensi lain kehidupan (dan pekerjaan), ada lho teknik/metode/taktik lain menyelesaikan sesuatu atau solving the problem. Tentu tidak pernah persis sama, ya. Tapi di situlah kita dapat menemukan persamaan dan perbedaannya. As u already know, persamaan dan perbedaan ‘kan hanya salah dua tools aja untuk mengklasifikasikan sesuatu relatif terhadp sesuatu yang lainnya.

Apalagi tatkala saya mengenakan “topi” technical writer, memahami persamaan (sekaligus perbedaan) antar topik/kategori, malah memudahkan saya untuk menyampaikan hal-hal teknikal dengan lebih sederhana. Baik lewat definisi, maupun lewat analogi.

BACA JUGA:  Hierarki Pengelolaan Keuangan

Sebagai editor, tatkala melihat materi/konten, kita malah bisa “melihat” ada part-part yang seharusnya ada lho, tetapi ternyata belum tersedia. Nah, di situlah kita bisa menambahkan atau ask the respective writer untuk melengkapi “kekosongan” tersebut.

Atau, referensi-referensi tersebut bisa kita lihat hubungannya satu sama lain dalam perspektif upstream (hulu) dan downstream (hilir). Dalam konteks usaha, yang hulu kaitannya dengan produksi/manufaktur/rantai suplai, dll. Hilir berarti dekat dengan konsumen, buyer, brand, channel (outlet), dll.

Lebih lanjut, ke-tidak-fokus-an malah memberi ide pada terjadinya inovasi bisnis. Inovasi-inovasi baru dalam bisnis ‘kan sebenarnya banyak terjadi dengan metode ATM (amati-tiru-modifikasi) yang melakukan copy-paste-edit dari industri lain. Contohnya apa, ya? Haha. Sebenarnya ada banyak banget.

Contohnya inovasi gojek yang instead of mengakuisisi dan menguasai segala aset fisik yang mungkin mereka miliki, yang dilakukan adalah membangun ekosistem bisnis berbasis layanan sepeda motor yang menjadi inisiatif perdana mereka. Tidak hanya go-ride, ekosistem tersebut kini terdiri dari go-food, go-car, dan go-life (go-massage, go-clean, dsb).

Perusahaan Apple, di periode kedua leadership-nya almarhum om Steve Jobs, juga tidak fokus. Setuju, ‘kan? Instead of fokus di satu produk, beliau mengarahkan untuk fokus mengeksplorasi brand Apple nya itu sendiri yang nyata-nyata bermain di market yang high-end. Yakni pasar dengan spesifikasi tercanggih, dengan harga tertinggi. Fokusnya pada brand, tidak fokus pada variasi produk. Justru produknya sangat bervariasi mulai dari smartphone, laptop, desktop, hingga ritel berupa toko.

BACA JUGA:  Padi Reborn, Piyu, dan Jualan Musik Jaman Now

Balik ke gagasan awal tulisan ini. Actually, saya gak meng-antitesis-kan ide Focus-nya pakdhe Daniel Goleman. Writer yang ini, judul buku terbarunya adalah Focus: Hidden Driver of Excellence. Saya belum pernah memahami basic gagasannya beliau. Bisa jadi saya menentang atau malah sepaham dengan beliau.

Yang pernah saya baca, salah satunya adalah The Power of Habit dari Charles Duhigg. Dia berargumen bahwa segala fokus kita harus terealisasi ke dalam suatu kebiasaan (habit). Jadi, fokusnya bukan semata soal thinking or to concentrate. Tapi fokus harus dibawa dan diangkat hingga menjadi kebiasaan.

Buku tentang focus yang lain ada Deep Work dari Cal Newport. Belum pernah saya baca. Tapi beliau thinker and writer yang oke. Karyanya yang bagus itu So Good; They Can’t Ignore You. So, Deep Work mestinya termasuk kategori must-read juga.

Ah iya, satu lagi judul yang popularitasnya nyaris sepanjang masa, Flow: The Psychology of Optimal Experience. Dari Mikhaly Csikzentmihalyi. Fokus yang beliau maksud, dideskripsikan dengan kenikmatan bekerja yang tidak kenal waktu. Ibarat pagi-pagi datang kantor, eh tahu-tahu sudah malam saja. Mengindikasikan kita sudah sedemikian “tenggelam” dalam pekerjaan. Ke-tenggelam-an tersebut adalah indikasi fokus.

Kalau fokus dan tidak fokus ini kita lakukan pemodelan ke dalam model spesialisasi–dengan satu ujung adalah being generalist dan ujung satunya adalah being specialist–maka tidak fokus berarti menjadi seorang generalis. Dan fokus berarti being specialist in something-specific profession. Yeah, masing-masing ada plus-minusnya, sih.

BACA JUGA:  How to Control and Drive Your Introvertness?

Menjadi full-stack (sebagaimana terdeskripsikan oleh posisi full-stack developer) alias generalis berarti punya kemampuan serba bisa yang tentu saja sepaket dengan tidak memiliki kemampuan yang difokuskan. Instead of mencari pihak ketiga yang bisa membantu (masalah harga dan ketersediaan biasanya), ada masanya korporat senang dengan karyawan yang tipe full-stack ini. Tapi seorang generalis kan tidak fokus, ya?

Being specialist (alias fokus) juga ada plus-minusnya. Plusnya adalah branding/positioning kita akan kuat. For certain period of time, kita akan menjadi yang pertama diingat –dan diberi pekerjaan–untuk kategori tersebut. Minus yang sepaket dengan plus tersebut adalah, tidak semua pekerjaan/proyek/bisnis bisa kita garap.

Pertanyaan seputar generalist-specialist ini tidak ada habisnya. Sebagaimana labilnya manusia pada umumnya, ada masanya ingin jadi spesialis; ada pula saat lain ingin menjadi generalis. Naiknya posisi pekerjaan ke tangga manajemen, berarti mengindikasikan kita menjadi generalis. Actually, tidak semua orang mempersepsikan karirnya seperti itu. Ada juga yang memilih untuk menjadi lebih spesifik di bidang pekerjaannya sekarang ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *