Design Thinking

Beberapa pekan ini saya lagi berkutat dengan design thinking. Kerangka berpikir ini cocok banget untuk mendesain produk, layanan, atau apapun yang banyak digunakan oleh manusia.

design thinking

Design Thinking adalah upaya menyelesaikan suatu masalah dengan pendekatan ala orang desain (designer). As we know, dari sejarah pendidikan maupun profesinya, yang kita kenal sebagai designer adalah desainer produk, desainer komunikasi visual, arsitek, dan profesi lain yang sejenis.

Profesi-profesi tersebut mendesain solusi atas suatu masalah dengan pendekatan yang sistematis. Bidang masalah-masalah yang tersebut di atas, biasanya dialami oleh pengguna langsungnya, yaitu manusia itu sendiri. Jadi, pemecahan masalah yang sistematis, dilakukan dengan mengajak direct user berpartisipasi sebanyak mungkin.

Meskipun user adalah “sumber masalah sekaligus sumber solusi”, dalam pelaksanaannya, pelibatan user tidak bisa sembarangan. Namanya sumber daya, harus digunakan secara tepat supaya tidak mubazir dan tidak menghabiskan waktu juga.

Sebagai contoh kasar, bila butuh data kuantitatif kita bisa melakukan survey. Yang bila pemilihan sampelnya tepat, 400 orang saja sudah cukup. Bila butuh insight yang lebih kualitatif, kita bisa melakukan in-depth interview maupun focus group discussion (FGD). Masing-masing responden biasanya diberikan hadiah yang menarik. Semua aktifitas tersebut, berikut dengan gift-nya, adalah biaya. Dan cost-benefit dalam pengumpulan data tersebut harus benar-benar dipertimbangkan dan dioptimalkan.

Nah, design thinking yang dilakukan oleh para desainer, kemudian dipopulerkan oleh IDEO (sebuah konsultan desain) untuk menyelesaikan masalah yang lebih luas dan lebih beragam. Jadi, design tidak lagi terbatas pada term “produk”-nya profesi product designer, ataupun “bangunan”-nya arsitek.

BACA JUGA:  Quarter-Life Crisis

Selain mengumpulkan data dan fakta seputar masalah dari para pemangku kepentingan, maka kita juga bisa mengajak user berpartisipasi dan berkolaborasi dalam pemecahan masalah. Bahasa populernya co-creation (ko-kreasi).

Design Thinking Process

Pelaksanaan Design Thinking terdiri dari 5 (lima) proses:

Emphatise.

Berempati terhadap masalah yang dialami oleh pengguna. Semacam “memakai sepatu yang dipakai oleh orang lain”. Mencoba merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain. Dan lain sebagainya.

Define (the problem)

Berusaha mendefinisikan masalah yang dialami oleh pengguna tanpa berempati lebih dahulu terhadap pengguna tersebut, hanya akan membuat kita nyasar dalam defining the problem. Problem statement merupakan hasil yang harus dikejar dari proses ini.

Ideate

Fase berpikir kreatif “think outside the box” guna mengidentifikasi apa saja solusi-solusi yang mungkin atas problem statement yang sudah ada. Sebagai contoh saja, brainstorming dan cocreation termasuk dalam definisi ideation ini.

Prototype

Fase ini bersifat lebih eksperimental daripada fase sebelumnya. Di fase ini, kita merealisasikan ide/solusi yang sudah diidentifikasi, ke dalam bentuk yang lebih riil, dengan berbagai macam batasannya. Baik ukuran, jumlah, dan determinan lain-lainnya. Bisa jadi, ada beberapa prototipe yang dihasilkan dari fase ini.

Test

Segala prototipe yang sudah tersedia, diujikan atau di-test-kan kepada para pengguna. Faktor-faktor apa saja yang harus diujikan, perlu direncanakan sebelum pengguna menguji-cobakan semua prototipe tersebut.

BACA JUGA:  How to Becomes a Digital Talent?

Perlu diingat bahwa proses-proses tersebut tidak harus berjalan secara linear (berurutan). Design Thinking berjalan secara natural dengan ke-tidak-linier-annya. Jadi dalam iterasinya, bisa saja kita melompati suatu proses, menambah proses yang sama, atau bahkan mengulangi proses yang sudah dilakukan sebelumnya.

Sticky Notes

Sticky notes, adalah alat yang sering dipakai dalam design thinking. Baik untuk menemukan masalah, serta merumuskan solusinya.

https://thuyt.com/visa-co-creation/

Dalam workshop yang bisa dihadiri sampai dengan belasan orang itu, masing-masing peserta mengungkapkan isi kepalanya dengan menuangkan di sticky notes.

Setelah semua keluhan, kegelisahan, ide solusi dan lain sebagainya sudah tertuang, selanjutnya bersama peserta melakukan klasifikasi dan menerapkan skala prioritas. Mana yang mirip-mirip, masuk dalam satu klaster. Setelah beberapa klaster terkumpul, diurutkan dari yang paling prioritas (atau penting) ke yang kurang prioritas (mungkin kurang signifikan).

Design Thinking terdengar mudah dan murah ya. Tinggal kumpulkan user/stakeholder, lalu lakukan workshop dengan sticky notes.

Kenyataannya tidak semudah itu. Design Thinking yang sukses, ditentukan oleh ketepatan kita dalam menggunakan cetakan (template). Makanya profesi konsultan Design Thinking itu ada karena keahlian dan pengalaman mereka dalam menentukan dan menggunakan template yang tepat.

Contoh Penggunaan

Sekedar contoh bagaimana template yang tepat membantu kita merumuskan solusi-desain.

Bapak Alexander Oster Walder punya dua cetakan yang bisa kita pakai, yaitu business model canvas dan value proposition design.

Yang pertama untuk menemukan model operasi yang kita ingin lakukan. Ini cocok kalau kita ingin memulai usaha yang baru.

BACA JUGA:  Perubahan Hidup Selama Pandemi

Yang kedua adalah merumuskan nilai/manfaat apa yang kita ingin deliver kepada customer. Lagi-lagi, ini kalau kita ingin merilis produk/layanan yang baru.

Validasi

Persoalan dari konsep adalah, harus divalidasi dengan penggunanya.

Validasi pertama bisa dengan user testing. Alias kita mengumpulan beberapa user untuk menguji coba sendiri produk/layanan tersebut, sesuai dengan brief problem yang diberikan. Apakah user berhasil atau tidak dalam menyelesaikan masalahnya dengan prototipe solusi yang diberikan.

Kalau yang pertama lebih kepada kuantitas, maka validasi kedua berkaitan dengan jumlah pengguna. Apa benar, dari 100% pengguna, semuanya benar-benar berhasil menyelesaikan masalahnya. Jangan-jangan sekian persen di antaranya baru bisa menggunakan solusi tersebut, apabila dilakukan perubahan lebih dulu.


Demikian sekilas tentang Design Thinking. Apa ada pengalaman menarik dengan Design Thinking? Boleh ya, dibagikan di kolom komentar.

Referensi:

  • https://www.interaction-design.org/literature/article/5-stages-in-the-design-thinking-process

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.