How to Control and Drive Your Introvertness?

Contents: 1. Do your own meditation 2. It’s oke to not climbing the corporate ladder 3. Never Eat Alone.

Sewaktu istri dan adik perempuan saya dengar dari saya sendiri bahwa saya seorang introvert, mereka kaget. Awalnya, mereka duga saya adalah seorang ekstrovert. Tapi saya tidak mau bertanya lebih lanjut, saat itu.

Ada dua kemungkinan memang. Pertama, spektrum introvert-ekstrovert yang mereka kenal, mungkin berbeda dengan yang saya ketahui. Kemungkinan lainnya adalah saya sudah berubah menjadi lebih ekstrovert daripada yang bahkan saya pernah duga.

Saya mau bahas topik ini, simply karena ternyata banyak introvert ini merasa tidak nyaman dengan weakness yang secara umum disematkan kepada para introvert. Misalnya, karakter seperti pendiam, tidak mau bergaul, dan sebagainya.

Saya mengakui saya cukup pendiam, memilih-milih dengan siapa saya berinteraksi, mencari inspirasi dari dalam diri saya sendiri, dst. Beberapa menilai saya “lemah” karena demikian.

Padahal, namanya juga karakter kan, ada strength dan weakness-nya. Demikian juga dalam karakter introvert. Pasti ada keduanya. Tidak mungkin cuma punya strength. Pasti ada wekness-nya juga. Oleh sebab itu, dengan bijak saya pikir dan simpulkan, jangan bahas weakness-nya seseorang saja. Itu tidak nyaman dan sesungguhnya tidak sopan.

Lihat yang saya temukan di quora. Pertanyaannya berbunyi, “Mengapa introvert sering dipandang rendah?” Hal ini tentu mengindikasikan temuan-temuan di lapangan yang notabene memang demikian adanya.

Daripada bertanya demikian, menurut hemat saya, lebih baik pikirkan tentang strength orang tersebut dan apa yang bisa kamu lakukan bersama dengannya. Jadi, berikut ini tanggapan saya terhadap pertanyaan tersebut.

Menurut saya, karena lingkungan kita terlalu mengidolakan para extrovert.

Padahal, kita sebagai individu maupun kelompok, membutuhkan keduanya secara seimbang. Berikut beberapa kasusnya:

Orang-orang ekstrovert jago menjual apa saja. Bahkan untuk hal sederhana seperti makan di mana, pergi ke mana. Kita introvert tidak harus seperti itu. Namun, harap diingat kewajiban kita juga: kita wajib bisa “menjual” gagasan, produk, bahkan karya kita.

Orang-orang ekstrovert tampak berteman dengan semua orang. Untuk introvert, kita cuma harus melakukan filter lalu berhubungan dengan orang-orang yang tepat: para pengambil keputusan, orang berkantong tebal, dll.

Lingkungan kita juga kelewat memberi penilaian lebih pada leadership dan team work. Padahal, hal-hal semacam fokus, konsistensi, perhatian pada detil juga tidak kalah penting.

Introvert dipandang rendah karena tidak bisa memimpin. Terhadap perspektif tersebut, menurut saya, ada dua hal yg bisa dilakukan oleh intovert:

Jadi anggota tim yg baik. Tidak membebani tim, supportif dan melakukan coaching kepada anggota tim yg lain, proaktif terhadap pekerjaan, dst. Jangan lupa sesekali ikut makan siang bareng atau ngopi sore/malam bersama anggota tim yang lain.

Be the best in your area of specialist area. Jadilah yg terbaik, sampai mereka sangat berharap pada anda. Seperti sebuah judul buku, “Be so good, They Can’t Ignore You“.

Dalam dunia kerja, kerja tim (team work) dan kepemimpinan (leadership) adalah dua aspek kepribadian yang dipantau, dinilai dan dianggap signifikan dalam perjalanan perusahaan sebagai sebuah institusi bisnis. Baik sebagai subordinat (bawahan) atau superordinat (atasan).

Ambil contoh resign-nya seorang karyawan. Dari sisi HR (Human Resources) hal tersebut dapat dijadikan sebagai umpan balik (feedback) perihal compensation and benefit. Dari sisi leadership, hal tersebut bisa jadi karena karyawan yang bersangkutan merasa tidak nyaman dalam bekerja. Dalam hal memberikan situasi dan kondisi yang optimal terhadap masing-masing karyawan, memang merupakan seni tersendiri. Seni kepemimpinan. Since, leadership is an art.

Tapi, persoalannya adalah tidak semua introvert mampu memberikan lingkungan yang kondusif bagi tiap pribadi yang menjadi bawahannya, bukan?

Bagaimana kita sebagai introvert memandang hal ini?

Menurut saya, strength-nya introvert itu terletak pada fokus, konsistensi, dan perhatian pada detil. Tentu ini sekilas menurut pandangan saya semata. Sebagaimana tersampaikan dalam jawaban Quora di atas.

Kaitan dengan hubungan terhadap orang lain, introvert secara umum tidak menyerap ide, inspirasi, aspirasi dari orang lain. Introvert malah menemukan ketiganya dari dalam diri sendiri. Tidak heran, introvert yang lelah berada di keramaian kemudian harus memberikan “penawar” yang seimbang berupa meditasi/perenungan/refleksi di kesendirian kepada dirinya,

Leadership and team work seakan domainnya para ekstrovert. Tidak heran hampir seluruh perusahaan menuntut keduanya dari tiap karyawannya. Yang secara tidak langsung menuntut mereka semua berperan dan berkarakter sebagai ekstrovert di perusahaan.

Padahal, dalam tiap pekerjaan masing-masing, terutama yang berkaitan dengan teknis (technique), seni (art), karya (craft) harus diberikan porsi ke-introvert-an (introvertness) yang cukup. Sehingga kita terus-menerus melakukan perbaikan berkelanjutan (continous improvement) pada pekerjaan kita.

Tidak semua pekerja harus naik ke level manajemen. Sebagian karyawan harus didorong untuk menjadi professional yang paling expert di bidangnya masin-masing. Dan sebagai introvert, boleh lho kita memilih untuk masuk ke kategori kedua.

Kaitan dengan pertemanan, ada sebuah buku dengan judul yang sangat provokatif “Never Eat Alone”. Awalnya tidak percaya. Tapi lama-lama terasa benar dan saya selalu berusaha mempraktikkan di setiap waktu. Itu baru satu tips dalam buku tersebut (yang kemudian menjadi judul bukunya, yah). Tapi tips-tips sejenis dari buku tersebut juga sangat bermanfaat dan applicable untuk dipraktikkan.

Demikian renungan hari ini.

The secret recipe of being successful introvert

Nothing’s new. Sudah banyak artikel, jurnal, buku yang membahas seputar introvert. Kalau mau versi pendek, silakan baca post ini saja. One part talk about how we should behave to our self. Another part show how to extract the best from extrovert.

Kadang-kadang, blogger nge-blog karena ingin eksis. Ya, gak? Jadi latah aja mengikuti topik yang lagi trending. Berharap bisa menunggangi ke-viral-annya. Haha.

Padahal, beberapa orang (spesifiknya blogger) sudah merencanakan dan mempersiapkan topik-topik tertentu untuk di-post. Sudah diriset segala. Draft juga sudah dibikin. Tapi enggak jadi published, simply karena too personal. Won’t too viral. Haha. Bisa jadi itu saya doang. Mungkin memang saya sedang halu.

Anyway, being popular is not that comfortable for the introverts. Yeah, bukan gimana-gimana. Mungkin belum biasa saja. Atau, bagi introvert yang sudah biasa, jelas mereka sudah mengalokasikan waktu untuk menyendiri lagi, alias “masuk ke dalam gua; ruang privatnya”. Artis-artis yang populer itu, tentu banyak juga yang beneran seniman dan aslinya introvert.

Soal demikian itu, sudah jadi karakter, ya. Artinya, itulah kelebihan sekaligus kekurangannya para introvert. Kelebihan; karena di tengah-tengah semedinya itu, di sanalah power-nya terkumpul. Inspirasinya datang. Kreatifitasnya malah muncul. Di sisi lain, jadi kekurangan karena dunia saat ini kelewat menuntut ekstrovert dengan level tinggi (high-level extrovert).

That’s why beberapa orang malah tidak nyaman dengan social media. Lihat tuh, post IG-nya sedikit (eh ternyata lebih suka main story; kan dalam 24 jam hilang ditelan bumi). Follower-nya berapa sih; sedikit doang. Gitu lha kalo saya diibaratkan orang lain tipe extrovert yang menggunjing si introvert. Padahal punya followers banyak kan capek juga ya. Mesti menuntut perhatian lebih dari kitany. Ya, padahal socmed adalah sarana marketing-branding-selling diri, lho. Ok, ini mulai out-of-topic.

Tante Susan Cain di bukunya “Quiet” sendiri menyatakan hal yang sama. Haha. Sebenarnya saya mengutip dari beliau, sih. Bahwasanya dunia yang sudah kelewat extrovert ini akhirnya kelewat berkehendak akan popularitas: kamu kudu populer, harus kekinian, update socmed, bisa bicara beberapa bahasa (ngapak, planet bekasi, kota jaksel, and so on, and so on). Kalo loe gak memenuhi kriteria itu, maka loe gak gawl, atau apalah semacamnya.

Padahal ya, dunia harus memberi ruang pada mereka-mereka yang introvert dan pada pekerjaan-pekerjaan yang introvert. Banyak lho, pekerjaan yang butuh ketelitian, keheningan, kecermatan, deep thinking, etc. Contohnya: Developer, writer, designer, accountant, pengrajin, dsb. Mereka ini gak butuh popularitas. But believe me, the world needs their work. Karena merekalah yang dengan their emphaty and curiosity berkarya: merancang produk yang digunakan oleh banyak orang. Note: tanpa bermaksud menjelekkan, para developer itu akrab dalam tim kecil dan temannya di luaran relatif tidak banyak.

Lihat Jony Ive, dari Apple, yang selalu bertanya-tanya, mengapa (desainnya) begini, mengapa harus begitu, what will they think when facing this product, would this product transform their lives, and so on, and so on.

Because, as technical writer, saya juga begitu. Oiya, aku mengakui bahwa saya adalah seorang introvert. I do spend my time to read more and analyse further how to improve my writing and increase reader experience. Saya merenungkan dan berkontemplasi, apakah dokumen teknis ini cukup sederhana untuk dipahami oleh para user? Apakah saya menyampaikan informasi teknis ini dengan benar? Akankah mereka terganggu dengan tebal/banyaknya dokumen ini, lalu bisakah saya menyusunnya seringkas mungkin?

Ekstrovert

Dari perspektif yang lain, keterampilan public speaking adalah salah satu keterampilan yang semakin diperlukan. Tidak usah malu. Justru harus dilatih. Dan sebagai peserta latihan, introvert lha jagonya. Makin tahu di mana kelemahannya, dan bagaimana cara memperbaikinya.

Being salesman tidak harus ekstrovert dan pandai bergaul, lho. Dalam pengalaman saya berjualan proyek, keterampilan paling utama justru adalah mendengar dan berempati. Karena pembeli ingin membeli dari seorang teman yang mereka percayai (trusted). Bukan belanja dari seorang penjual yang bicara berbusa-busa yang memaksa banget closing-nya demi mengejar target semata.

Oke, introvert tidak suka pesta. Ekstrovert lha yang menyukainya. Namun demikian; pesta, arisan, reunian, kumpul keluarga, dan sejenisnya bukan lagi sesuatu yang buruk dan harus dihindari. Cukup lakukan yang harus dikerjakan: (1) make sure you have introduce yourself –kalau memang kesempatannya ada– dan (2) cukup ngobrol intense aja dengan orang-orang yang posisinya terdekat denganmu. Kamu tidak harus menjadi bintang –di mana kamu bicara paling banyak dan menjadi yang paling dikenal– di acara kumpul-kumpul tersebut.

Akhir kata, introvert vs ekstrovert ini bukan untuk dibanding-bandingkan. Bukan juga sekedar diketahui dan diamalkan. Melainkan, menurut saya, kelebihan sisi yang sebelah sana (yakni ekstrovert) juga harus kita pelajari dan kuasai.

Cara Menjadi Blogger Profesional dan Menjadi Bos Diri Sendiri

Kayaknya kedengaran keren ya kalau jadi professional blogger. Sudah keren, dibayar pula. Namun, menjadi blogger profesional itu tidak gampang dan tidak akan pernah mudah.

Alasan pertama adalah, mendapatkan uang dari blog tidak semudah dulu lagi. Sebabnya adalah kompetisi semakin ketat. Konten berwujud blog tidak lagi menjadi satu-satunya konten. Social media selain blog seperti Twitter, Facebook, Instagram (IG), dll justru menggerogoti pangsa pasar pembaca blog. 

Contohnya sebagai berikut. Di waktu yang bersamaan sekarang ini, sedang ada gerakan #30haribercerita di IG. Mirip nge-blog, tapi di caption IG. Dari judul, jelas setidaknya satu cerita per hari selama 30 hari. Dan gerakan ini begitu diterima oleh netizen. Konon, ada enam ribuan tagar #30haribercerita masuk setiap harinya. Bisa dikatakan sebagai blog tetapi di platform IG. Ini “penggerogotan” dari sisi pembuat konten.  

Dari sisi pembayar konten, mereka lebih memilih untuk mendistribusikan anggarannya ke beberapa tipe social media. Sekian untuk blog, berapa untuk IG, sejumlah uang untuk facebook, dan seterusnya. Sebab masing-masing social media punya pengguna setia. 

Balik lagi ke topik professional blogger. 

Saya lihat sih, kebanyakan teman-teman blogger mengambil segmen dari 3F-nya dulu, yaitu friends/fans/followers dari akun social media. As u may already know, caranya adalah dengan membagikan link artikel blog (terutama yang baru saja dirilis) ke berbagai jenis sosial media yang dimiliki. Seiring waktu dan konsistensi nge-blog, lingkaran 3F kita akan semakin membesar. Kita bisa memulai profesi blogger dengan cara ini. 

Dan ini sama seperti pekerjaan pada umumnya: harus ditekuni dengan serius, supaya menghasilkan dan makin terpercaya (trusted).

Berikut ini beberapa hal yang saya kira, perlu diperhatikan supaya blog kita bisa menghasilkan income terus-menerus.

Niche Content 

Namun, professional blogger berbeda. Harus menunjukkan area of expertise-nya. Kalau sudah memulai dengan 3F, berarti harus mulai fokus dengan konten di niche-niche tertentu. Namanya juga professional. Berasal dari bahasa latin, yaitu proficio. Yang artinya, kira-kira adalah to make/to advance. Kita kan gak bisa jadi advanced di semua topik blog. Jadi harus memilih niche konten kita sendiri. 

Dua niche content dengan penghasilan paling lumayan, setahu saya adalah food blogging dan travel blogging.  

Bagaimana dengan penempatan konten; di mana konten tersebut dipasang? Placement tidak harus di blog sendiri ya. Blog sendiri itu jadi etalase (showcase) saja. Proyeknya bisa dari mana saja. Baik perorangan, institusi non-profit, atau korporat. Placement kontennya tidak harus di web institusinya, bisa saja ada media lain. Saya sendiri berperan sebagai content manager untuk satu institusi non-profit dan satu produk elektronik untuk pendidikan.

Mempromosikan Konten 

Menulis konten sesuai niche yang dipilih saja tidak cukup. Professional blogger harus smart dalam memasarkan kontennya. Alias promosi. Mindset yang seringkali salah adalah melakukan promosi hanya sekali di awal rilis konten. Cara paling sederhana ya share di social media masing-masing. Namun demikian, promosi konten sebaiknya dilakukan beberapa kali untuk sebuah konten. Tidak ada salahnya memasang iklan (facebook ads, google adwords) bagi si konten agar terekspos ke pembaca yang lebih banyak. 

Ikut Community 

Bangun kehadiran anda secara online. Karena kita pembuat konten ini tidak hidup dalam ruang hampa. Alias ruang angkasa galaksi lain seperti Bekasi. Apa sih. Gagasan  itu sudah seharusnya dinamis dan berinteraksi dengan ide-ide dari orang lain. Meminjam kata Dewi ‘Dee’ Lestari, “Hakikat sebuah gagasan adalah hidup di alam bebas” atau quote lain, “Tulisan yang sempurna adalah tulisan yang tidak dipublikasikan”. Mungkin tidak sama persis, tapi intinya gagasan itu ditumbuh-kembangkan via komunitas. 

Semakin intens kita menghadirkan diri, berarti semakin kuat pula personal branding yang kita bangun di sana. 

Kalau niche content kita itu serieus banget nget semisal soal pekerjaan kantor, cocok tuh kalo ikut community di LinkedIn. Saya sendiri masih ngulik ya, bagaimana supaya bisa sukses di sana. Tapi saya yakin pasti ada caranya. 

Cari Proyek 

Tidak sepanjang waktu proyek berjalan terus. Adakalanya klien sedang sepi, sehingga kita harus mencari proyek yang baru. Bisa menghubungi atau menemui klien lama, atau bertanya-tanya di network yang sudah terjalin (ini pentingnya ikut komunitas!). Di sinilah pentingnya belajar menulis proposal dan menjual/menawarkan pekerjaan. 

Tunjukkan Nilai Tambah 

Professional blogger harus membuat konten yang bermanfaat tapi tidak usang bagi pembacanya. Di samping itu, dia harus terlihat atau dikenal berwawasan di topik tersebut. Demonstrasikan bahwa dengan merekrut anda, atau memberikan anda sebuah proyek lepas (dahulu), maka anda akan memberikan nilai tambah pada keseluruhan pekerjaan klien. 

Be Professional. 

Jadi profesional (saja). Buktikan dengan memiliki kualitas (berupa nilai tambah untuk klien) dan tepat memenuhi tenggat waktu. Manajemen pekerjaan/proyek dan waktu. Latihan dan berkarya terus untuk melatih kualitas pekerjaan kita. Salah satu ukuran penulis profesional juga bisa dilihat dari penggunaan tanda baca. Apakah dia teliti terhadap penggunaan tanda baca seperti titik, koma, titik koma, garis miring, dan lain sebagainya. 

Konklusinya adalah professional blogger itu berat jadi biar aku saja. Tapi kalau personal brand dan niche content-nya sudah dapat, maka semua upaya, latihan, uang dan waktu yang dilakukan akan terbayar lunas.