Mendudukkan Sekolah dan Homeschooling Pada Kursinya Masing-Masing

Belajar di sekolah dengan di rumah seharusnya saling melengkapi. Dengan mengenali kelemahan sekolah, kita akan tahu harus mengharapkan apa dari sekolah.

Di suatu grup whatsapp yang rajin sekali berdiskusi, ada seorang rekan bertanya, pendidikan di rumah tuh, harusnya gimana sih? Yang bertanya tampak serius sekali mempersiapkan masa depannya. Padahal doi masih jomblo ngenes.

Kemudian ada yang menanggapi, Ibu sebagai guru dan bapak sebagai kepala sekolah.

Dibalas dengan kocak donk, jadi kalau ibu guru salah, maka tugas kepala sekolah untuk menghukum donk. Wakaka. Jadi lucu juga kalau dipikir.

Padahal, di mana salahnya? Sebab hal ini sejalan dengan apa yang diajarkan sering kita dengar, “Ibu adalah madrasah pertama bagi anak”. Kalimat ini kemudian diperjelas lagi oleh Ustadz Bendri Jaisyurrahman, “Dengan ayahnya sebagai kepala sekolahnya”.

Sekolah vs Homeschooling
Mendudukkan Sekolah dan Homeschooling Pada Kursinya Masing-Masing

Sekolah yang bagus adalah yang cocok untuk anaknya dan kemampuan keluarganya. Apa gunanya kalau anak sekolah di sekolah yang mahal tapi dia jadi stressed, misalnya. Men-terapi “kegilaan”-nya memaksa ortu merogoh kocek lebih dalam.

Atau malah orang tuanya yang terbebani membiayai sekolahnya. Ada lho temen SMA saya, sepertiga gaji ortunya kala itu, untuk membiayai si putra sulung ini. Padahal sekolahnya aja masih relatif murah. Duh mesakke.

Belum lagi berhadapan dengan gaya hidup orang-orang yang level ekonominya lebih tinggi. Kasian anaknya kan kalau dianggap “gak gaul” sama temannya -hanya- karena game atawa gadget-nya beda kelas.

Saya berpandangan bahwa biaya sekolah doank tuh gak cukup untuk membesarkan anak. Biaya sekolah tuh mungkin idealnya 50%-70% dari total biaya pendidikannya kali ya. ‘kan anak juga butuh di-kursus-kan ini itu. Basic life skill semacam berenang, menyetir mobil (ini tanggung jawab ortu, menurut saya), mengaji al-qur’an, dan semacamnya.

Belum termasuk biaya peralatan, perlengkapan, maupun kursus yang menunjang bakat alamiahnya dia. Misalnnya Anak Dua di rumah secara rutin kami sediakan perlengkapan dan peralatan menggambar: buku gambar size A3, dan pensil warna. Kalau sudah jenuh, mereka mengisi waktu dengan menyusun balok menjadi suatu karya berupa bangunan, atau superhero andalan mereka: Ultraman. Saya sampai khawatir lho, mereka akan menjadi penggila tokusatsu beneran.

Teori Kecerdasan Majemuk

Howard Gardner, mengusulkan ada 8 kecerdasan majemuk (multiple intelligence), yang kata saya mah ya, perlu banget dipupuk oleh ortunya. Ada apa aja?

  • Linguistik
  • Logika matematika
  • Visual-spasial
  • Musik
  • Interpersonal
  • Intrapersonal
  • Kinestetik
  • Naturalis

Meskipun, ada yang menyanggah bahwa, dilihat dari infrastruktur maupun proses pembelajaran di sekolah, memandanganya berdasar 8 kecerdasan majemuk ini – tidak tepat.

Di sekolah-sekolah kita, ada beberapa jenis kecerdasan yang dinilai superior dan mendapat tempat lebih utama, yaitu kecerdasan matematika-logika dan kecerdasan berbahasa.

Anak-anak yang memiliki jenis kecerdasan tersebut biasanya menjadi juara kelas. Sementara itu, anak-anak yang memiliki jenis kecerdasan berbeda cenderung dilabeli dengan sebutan nakal atau bodoh.

Padahal, anak yang sering disebut nakal atau bodoh itu ternyata banyak berhasil berkarya di masyarakat dan menjadi orang yang sukses saat dewasa.

Nakal dan Bodoh

Kenakalan anak pada dasarnya adalah ekspresi pemberontakan yang dilakukannya ketika mereka merasa bosan/jenuh atau tidak nyaman dengan keadaan yang dialaminya. Ekspresi ini beragam pada setiap anak, sesuai dengan kecenderungan natural yang paling mencolok dalam dirinya.

Ada anak yang mengekspresikan pemberontakannya dengan asyik mengobrol dengan temannya (interpersonal), ada yang berlari-lari (fisik-kinestetis), ada yang mencoret-coret, ada yang melamun dan berkhayal, dan sebagainya.

Cara kedua untuk mengenali jenis kecerdasan anak adalah dengan mengamati bagaimana anak-anak mengisi waktu luang mereka. Ketika anak bosan dan tidak diperintah siapapun, apa yang mereka lakukan? Ketika anak diberi kebebasan untuk melakukan sesuatu tanpa sebuah perintah/tekanan, apa pilihan yang mereka lakukan?

Ada anak-anak yang mengisi waktu luang dengan mendengarkan musik, membaca, menulis, olahraga, jalan-jalan, dan sebagainya.

Itulah cermin dari hal-hal yang disukai dan menjadi minat alamiah anak. Dan dimungkinkan, itu merupakan salah satu jenis kecerdasan yang menonjol pada anak.

Harapan Kepada Sekolah

Namanya teori, tentu Kecerdasan Majemuk tidak lepas dari kelemahan-kelemahan. Ada apa saja?

  • Kontroversi terutama dalam pandangan ahli psikologi tradisional, antara lain mencampuradukkan pengertian kecerdasan, ketrampilan dan bakat.
  • Lebih bersifat personal/individual sehingga teori ini lebih efektif digunakan untuk mengembangkan pembelajaran orang per orang daripada mengembangkan pembelajaran massa/klasikal.
  • Membutuhkan fasilitas yang lengkap sehingga membutuhkan biaya besaruntuk operasional klasikal atau massal,
  • Tenaga kependidikan di Indonesia belum sepenuhnya siap melaksanakan teori ini dalam praktek di dalam kelas K‐12 ataupun juga pembelajaran yang melibat‐kan pembelajar dewasa, karena sudut pandang kebanyakan orang masih sudut pandang tradisional

Apabila dikomparasi dengan sekolah kekinian yang kita kenal, atau masih dalam pemahaman saya sebagaimana saya sekolah dahulu, maka mengharapkan sekolah akan memupuk dan menumbuhkembangkan anak-anak kita semua berdasar pada kecerdasannya masing-masing adalah hil yang mustahal.

Kita butuh reformasi pendidikan yang masif, bila memang itu yang kita mau lakukan. Tapi ini butuh energi yang besar dan cenderung high cost. Berikut rinciannya:

  1. pembelajar dijadikan subjek pendidikan dan pusat proses pembelajaran;
  2. teori aktivitas diri dan aktif‐positif merupakan dasar dari proses belajar;
  3. tujuan pendidikan dirumuskan berkaitan dengan pertumbuhan dan perkembangansi pembelajar daripada tekanan pada penguasaan materi pembelajaran;
  4. kurikulum sekolah disusun dalam kerangka kegiatan bersama atau kegiatan yang bersifat “proyek”;
  5. perlunya secara rutin kontrol informal di kelas dan sosialisasi mengajar dan belajar atau kegiatan bersama di tengah‐tengah arus deras individualisme;
  6. hendaknya banyak diterapkan keaktifan berpikir dan berargumentasi daripada sekedar menghafal atau mengingat‐ingat saja;
  7. pendidikan hendaknya mengembangkankreativitas siswa

Berat sekali PR kita kalau mau mereformasi pendidikan di sekolah, bukan?

Nah, maka dari itu, untuk saat ini, secara pragmatis, saya kira ada dua hal yang bisa kita lakukan:

  1. Berikan ekspektasi yang wajar saja kepada sekolah; mengingat sekolah adalah institusi pendidikan yang fokus di kecerdasan logika-matematika dan kecerdasan berbahasa,
  2. Mari fokus mengenali dan menumbuh-kembangkan anak-anak kita di rumah, berdasar pada pengamatan kita mengenai ciri-ciri kecerdasan yang menonjol dari mereka

Referensi:

Homeschooling sebagai Alternatif Pendidikan

Bedah singkat potensi homeschooling sebagai alternatif pendidikan.

Para orang tua kini sedang menimbang opsi homeschooling (HS), termasuk kami. Kalau tidak ada pandemi ini, seharusnya Anak Dua masuk TK. Sehingga dua tahun lagi bisa masuk SD. Namun, kami jadinya menghitung dan menimbang ulang kemungkinan untuk homsechooling dulu dan baru masuk TK di semester berikutnya.

homeschooling

FAQ Homeschooling

Beberapa pertanyaan yang sering diajukan mengenai HS adalah:

  • Adakah HS di kota saya? Di mana saya bisa mendaftar homeschooling?
  • Berapa biaya HS yang harus saya bayar?
  • Bagaimana ijazah anak HS? Apakah anak HS bisa melanjutkan ke Perguruan Tinggi?
  • Bagaimana sosialisasi anak HS?
  • Sejak usia berapa anak bisa HS?
  • Bagaimana standar dan kurikulum HS?
  • Apakah saya bisa melaksanakan HS sambil bekerja?
  • Bagaimana cara memulai HS?

Jawabannya ada di laman berikut: FAQ soal Homeschooling

Fyi, FAQ tersebut disusun oleh Rumah Inspirasi. Suatu komunitas HS yang mendokumentasi dan membagikan panduan dan pengalaman ber-HS. Format output-nya cukup lengkap, kok. Ada IG, email berlangganan, webminar, buku-buku, dan sebagainya.

Bukunya ada 2:

  • 55 Prinsip dan Gagasan Homeschooling
  • Pembelajar Mandiri (putra pertama keluarga Sumardiono)

Dapat dikatakan, Rumah Inspirasi bukanlah sekolah. Para orang tua praktisi HS berkumpul di sana. Saling berbagi online dan offline tentang apa masalah yang dihadapi, serta bagaimana solusinya. Untungnya, dokumentasi yang dibuat sudah ditata-ulang sedemikian rupa sehingga nyaman bagi kita mengkonsumsinya.

Konsumen Jasa Pendidikan

Dalam 5 tahun terakhir memang ada kenaikan pencarian search term atau topic HS. Artinya, banyak orang tua yang membutuhkan informasinya. Namun, apakah semua pencari tersebut mendapatkan informasi yang dibutuhkan, atau mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang dimiliki?

Tanpa bermaksud mengurangi upaya untuk mencari tahu, sejauh ini Rumah Inspirasi sepertinya yang paling konsisten dalam membagikan masalah dan solusi dalam HS.

Saya sendiri bersama istri, masih belum menemukan framework yang tepat untuk merumuskan jawaban apakah homeschooling merupakan alternatif yang benar-benar cocok untuk keluarga kami. Mengapa demikian?

Karena selama empat belas tahun bersekolah dari TK hingga SMA, ada dua hal yang tampaknya membuat kita, mewajibkan diri menjadi “konsumen” institusi pendidikan yang bernama sekolah:

  • Kita belum menemukan solusi lain atas kebutuhan bersosialisasi dan keinginan untuk berjejaring di usia sekolah
  • Bila tidak belajar di sekolah, maka kita tidak/belum mengikuti trend dunia soal “belajar di mana”

Sebagai konsumen jasa pendidikan, sekaligus orang tua yang (berusaha) responsible, tentu kita ingin donk mengetahui needs and wants-nya kita, lalu menetapkan ekspektasi kita terhadap jasa pendidikan yang akan diterima oleh anak-anak kita sebagai peserta didik.

Hal tersebut mendesak untuk kita pahami, demi mengoptimalkan best value dari pendidikan oleh guru di sekolah dan pendidikan oleh ortu di rumah.

Responsible, Accountable, and Consulted

Sejak menjadi orang tua, saya menginsyafi bahwa tanggung jawab (responsibilities) pendidikan –terutama karakter– berada di tangan dan pundak orang tua. Dalam hal ini, ortu bisa mengalihdayakan (to oursource) ke pihak-pihak lain:

  • Sekolah formal
  • Lembaga kursus
  • Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA),
  • Pengajar privat, dll

Keempatnya maupun sejenisnya, merupakan lembaga-lembaga yang bisa diandalkan (accountable) dalam melaksanakan kebutuhan si peserta didik.

Ada pula pribadi maupun lembaga yang bisa dijadikan rujukan atau tempat berkonsultasi mengenai pendidikan anak-anak. Sebutan umumnya Psikolog Pendidikan. Butuh berkonsultasi? Silakan tanya mbah Google, misalnya dengan format “Psikolog Pendidikan” + nama kotamu.

Untuk pendidikan strata satu maupun yang lebih tinggi, ada lembaga Konsultan Pendidikan. Perannya lebih kepada menghubungkan kampus di luar negeri dengan calon pesertanya.

Dengan keberadaan kedua jenis lembaga tersebut, kita sebagai orang tua sekaligus konsumen jasa pendidikan, sebenarnya bisa berkonsultasi mengenai pendidikan yang tepat untuk putra-putri kita.

Mengingat, tanggung jawab kita bukan sekedar menyediakan pendidikan. Tetapi juga meramu dengan cermat jasa-jasa pendidikan tersebut, agar anak-anak dapat menemukan fitrahnya.

Kalau kita benar akan menerapkan HS, bagaimana mengevaluasinya? Sebagaimana jasa-jasa pendidikan dari eksternal pun turut melakukan evaluasi.

Evaluasi Homeschooling

Evaluasi HS juga mengacu pada Standard Nasional Pendidikan.

Bila kita ingin mengacu kepada standard pendidikan di masyarakat, pertanyaan para ortu adalah, kalau tidak belajar di sekolah, lantas bagaimana mengevaluasi proses belajarnya? Via sekolah atau bukan sekolah, tentunya adalah standard minimal yang idealnya bisa dipenuhi para peserta didik, dong?

Jawabannya sudah tersedia di Ujian Paket. Ada tiga macam: Ujian Paket A (setara SD), Ujian Paket B (setara SMP), dan Ujian Paket C (setara SMA). Ujian-ujian ini melengkapi Kejar (Kelompok belajar) untuk masing-masing paket. Modul-modul Kejar bisa diakses di sini.

Apakah peserta kejar (kelompok belajar) paket C tidak ada yang kuliah di kampus ternama? Subjek di buku “Pembelajar Mandiri” di atas, kuliahnya di Universitas Indonesia (UI), kok. Ada juga rekan saya tahun 2004 lalu, kuliah di ITB sampai lulus. Beliau juga lulus dari paket C. Jadi, bukan berarti peserta kejar paket tidak bisa menempuh pendidikan tinggi.

Okay, kembali ke konteks pandemi yang membuat kita mempertimbangkan ulang pendidikan anak-anak di paruh kedua tahun 2020 ini. Yang mana, kita sudah 2-3 bulan terakhir melaksanakan secara jarak jauh (remote) dengan bantuan berbagai aplikasi online.

Tren Online Education

Pandemi Covid-19 ini mendorong kita pada percepatan 4.0 yang memungkinkan segala aktifitas kehidupan bisa dilakukan serba online. Termasuk pendidikan, berikut beberapa bentuknya yang sudah new normal:

  • Sebelum memulai kelas, pengajar bisa berbagi materi bacaan terlebih dahulu. Format bisa docs, pdf, slides, dsb. Peserta sebaiknya mempelajarinya dahulu sebelum mendengarkan penjelasannya.
  • Segala bentuk ceramah, presentasi, penjelasan, dsb. bisa direkam dan diunggah di Youtube, atau podcast. Peserta pendidikan tinggal mendengarkan/menonton.
  • Diskusi atau tanya jawab seputar topik yang dipresentasikan, bisa diselenggarakan di WhatApp Group (WAG), Zoom, atau Google Meet. Bukan sekedar ada siswa bertanya kemudian dijawab oleh guru. Yang tidak kalah pentingnya adalah keberadaan siswa lain dalam tanya-jawab tersebut. Fungsinya, untuk memaksimalkan tanya-jawab guna memahamkan siswa-siswa yang tidak bertanya, serta mengefisienkan peran guru agar tidak menjawab yang sama berkali-kali atas pertanyaan yang sama. Intensitas tertinggi dari interaksi antara guru dan siswa, idealnya terjadi di fase ini.
  • Evaluasi pengajaran kekinian pun sudah bisa dilakukan secara online, lho. Guru bisa menggunakan Google Form, atau sekolah bisa berlangganan aplikasi ujian semisal Edubox.

Penutup.

Pada awalnya, saya bimbang terhadap potensi HS sebagai alternatif pendidikan. Saya yakin, pendidikan bukan hanya untuk anak sebagai peserta didik saja. Pendidikan juga untuk orang tua si peserta. Dan poin terakhir ini yang menghadirkan keraguan saya terhadap konsep HS. Karena waktu orang tua sudah tersita untuk bekerja maupun aktifitas lainya.

Seiring berjalannya saya meriset dan menulis artikel ini, saya menemukan bahwa HS bukan sekedar alternatif biasa, setidaknya untuk saya. Yaitu, HS memang sangat mungkin untuk menggantikan peran sekolah sebagai institusi pendidikan.

The devil is in detail. Tinggal bagaimana menemukan dan meramu eksekusi/pelaksanaan HS yang memang tepat dengan situasi dan kondisi si orang tua, sekaligus bentuk dan metode pendidikan yang mengarahkan si anak (sebagai peserta) untuk menemukan fitrahnya.

Tiga Sejarah yang Perlu Kita Ketahui terkait Sistem Per-Sekolah-an

Perihal sejarah sistem per-sekolah-an, yaitu playground, tes IQ dan homeschooling

PlayGroup (PG) atau lazimnya disebut Kelompok Bermain (KB)

Menurut sejarah, memasukkan anak ke playgroup adalah pilihan keterpaksaan daripada anak diasuh oleh pengasuh yang tidak berpengalaman dan terlatih. Latar belakangnya begini: Tahun 1960-an, Alvin Toffler pernah meramalkan bahwa nanti di Amerika akan terjadi Future Shock! Para ibu yang sebelumnya memiliki waktu untuk  mengasuh anak di rumah, akan menjadi ibu-ibu bekerja (Working Mom) seingga anak-anak tidak lagi ada yang mengasuh di rumah.

Oleh sebab itu, (mungkin kejadiannya di Amerika Serikat sana), perlu dibuat (dan diregulasikan) suatu institusi yang bisa “menggantikan” peran ibu – terutama ketika si ibu sedang bekerja. Jika tidak, akan terjadi generasi yang hilang (Lost Generation) karena perubahan gaya hidup di tingkat masyarakat tersebut. Pemerintah kemudian bereaksi. Dibuatlah sekolah untuk anak-anak batita (bawah tiga tahun, atau toddler). Yang tujuan utamanya sebagai langkah antisipasi agar tidak terjadi Lost Generation karena masa batita dan balita (bawah lima tahun) adalah masa emas pertumbuhan otak anak.

Komentar saya: mungkin fenomena ibu bekerja dan playgroup ini baru beberapa tahun terakhir masif terjadi di Indonesia secara umum, ya (kalau Jakarta jelas sudah lebih lama). Bermunculanlah banyak playgroup, termasuk yang franchise dari luar negeri. Kembali ke sejarah tersebut, jadi sesungguhnya playgroup hanyalah sebuah alternatif saja. Bukan keharusan di mana stay-at-home mom juga harus menitipkan putra-putrinya di Playground. Rekan-rekan saya yang pasutri bekerja pun menitipkan putra/putrinya di PG karena belum trust dengan ART/pengasuh mereka. Saya setuju dengan ustadz Bendri Jaisyurrahman yang menyatakan bahwa ibu adalah guru pertama bagi anak-anaknya dengan ayahnya sebagai kepala sekolahnya.

Tes IQ untuk penerimaan siswa sekolah.

Menurut sejarah, pada saat terjadi Perang Dunia I, Alfred Binet seorang psikolog berkebangsaan Prancis, diminta oleh pemerintahnya membuat tes untuk proses rekrutmen calon tentara. Tes ini memberikan legitimasi atau alasan siapa yang diterima dan tidak diterima sebagai calon prajurit.

Pada masa itu, belum ada riset mengenai otak dan cara kerja otak. Basis dalam mengukur kecerdasan bukan didasarkan pada cara otak manusia bekerja, melainkan data/fakta “Bell Curve”, alias kurva lonceng. Bahwa dengan tes IQ tersebut dan hasil kurva loncengnya, maka dapat dijadikan dasar memisahkan atau mengklasifikasikan kegagalan atau keberhasilan seseorang yang asumsinya akan turut menentukan kesuksesan karir seseorang. Put simply, kalau IQ-nya tinggi maka dia akan sukses sebagai tentara. Hhmmm, kayaknya gak gitu juga deh, ya? 🙂

Tes IQ untuk rekrutmen calon tentara tersebut dirasa berhasil (padahal mungkin belum ada tes pembanding yang sepadan dalam hal mengukur cara kerja otak), sehingga perlahan-lahan diujicobakan untuk penerimaan karyawan di dekade-dekade berikutnya. Tidak hanya di ketentaraan, maupun kepegawaian secara umum, namun juga mindset kurva lonceng tersebut juga terinstalasi di sekolah-sekolah kita.

Komentar saya: mereka yang mengalami proses pendidikan dan pencerahan pikiran lewat sekolah (termasuk saya) menyadari dan mengakui bahwasanya sekolah bukanlah tempat berkompetisi. Dalam kisah mengenai tes IQ di atas, bahkan “kompetisi” tersebut sudah dimulai sebelum masuk sekolah. Pasca proses pembelajaran berlangsung, hasil evaluasi kumulatifnya para siswa dengan nilai terbaik (biasanya tiga besar) diurutkan di antara 30-an siswa di kelasnya. Makin kental lah unsur kompetisi di sekolah. Padahal minat, bakat, serta cara kerja otak antara siswa yang satu dengan siswa lainnya bisa jadi sangat berbeda. Kita mengkompetisikan mereka pada bidang yang start-nya saja tidak sama, bagaimana bisa? Menurut Howard Gardner, ada 9 tipe kecerdasan. Dan siswa-siswa kita, sebagaimana kita semua, memiliki dua atau tiga kecerdasan di antaranya yang berkembang jauh lebih baik dibandingkan dengan kecerdasan-kecerdasan lainnya. Fokus pendidikan kita via sistem sekolah, (mungkin) seharusnya didasarkan pada dua atau tiga kecerdasan utama tersebut.

Homeschooling.

Awalnya, homeschooling lahir di Eropa, sekitar tahun 1980-an, ketika sebagian orangtua di Inggris kecewa dengan sistem sekolah yang ada. Menurut mereka, sistem pendidikan yang ada tidak mengakomodasikan keunikan masing-masing anak. Tidak semua pandai Matematika atau Fisika. Ada yang berminat dan berbakat di bidang menulis, menggambar, musik, menari atau lainnya.

Kalau sistem sekolah masih mengagungkan anak-anak yang pandai Matematika, Fisika, dan sejenisnya itu, bagaimana nasib anak-anak lain? Apakah mereka akan terpinggirkan atau dianggap gagal?

Dari sana, muncullah ide membuat sekolah di rumah (school at home) yang diajarkan oleh orangtua sendiri. Jadi, di Eropa, homeschooling justru dipelopori oleh kaum intelektual yang sudah berpengalaman di sekolah, memiliki waktu luang cukup banyak, mampu secara keuangan, tetapi kurang percaya dengan sistem sekolah yang ada.

Dipengaruhi Revolusi Mesin Cetak

Sebelum mesin cetak ditemukan, pendidikan adalah privilige dan keberadaannya eksklusif. Sebab, ruang kelas tidak mudah multiplikasi. Bahan ajar sulit diduplikasi — karena harus ditulis satu demi satu. Sehingga, siswa yang lulus, kemudian menjadi guru juga tidak banyak jumlahnya.

Semua berubah ketika negara api menyerang mesin cetak datang. Memperbanyak bahan ajar menjadi lebih mudah. Lebih banyak yang bisa mengajar, lebih banyak yang bisa jadi siswa. Ruang kelas –yang kita sebut sekolah– adalah institusi pendidikan yang lahir dan berkembang sebagai tren baru.

Sekolah kemudian menjadi “kewajiban” sebelum memasuki dunia kerja. Yang bersekolah adalah yang disebut “anak-anak”. Tadinya, klasifikasi anak-dewasa tidak ada. Semua berjuang bersama. Ya berperang, bekerja, berdagang, dsb. Model pengajaran kepada manusia muda –sebelum disebut anak-anak sejak ada sekolah– lewat otodidak, magang, on-job training (OJT), you name it. Intinya belajar sambil bekerja. Semua bentuk komunikasi, termasuk pengajaran, dilakukan secara lisan — sebelum ada meisn cetak.

Bagaimana di tahun 2020? Kalau sebelum ada mesin cetak (dan kemudian radio-televisi) tadinya ilmu pengetahuan dan guru bersifat eksklusif, kini informasi bisa diakses anak maupun dewasa berkat keberadaan internet. Mesin cetak, radio, televisi, dan internet sebenarnya adalah teknologi yang relatif sama, ‘kan. Bagaimana teknologi ini merevolusi cara berkomunikasi, manfaat dan mudhorot-nya itu yang perlu kita kaji bersama bagaimana penggunaan dan perlakuannya.

Referensi: https://kurangpiknik.tumblr.com/post/161809708267/menyerahkan-anak-anak-kepada-dunia

Flash Back

Kami ada putra-putra usia 4,5 tahun di rumah. Bila dibandingkan yang seusia dengan mereka, ada yang sudah sekolah sejak PG, ada yang baru memulai sekolah dengan TK di tahun ini, ada pula yang seperti mereka–masih belum sekolah.

Beberapa bulan lalu, kami galau soal kapan sebaiknya menyekolahkan mereka ke TK. Sempat kami merencanakan untuk tahun ini memulai TK-nya. Pada akhirnya, dengan berbagai pertimbangan kami menetapkan bahwa TK-nya tahun depan saja. Dalam beberapa bulan ini memang kami jadi semakin memahami dan mengakui aspek-aspek perkembangan mental dan sosial mereka serta kapan dan bagaimana seharusnya pihak eksternal seperti sekolah harus mulai dilibatkan dalam proses pendidikan yang akan mereka jalani.

Yeah, dalam pada itu, diskursus seputar playground (PG, alias Kelompok Bermain, atau KB), 9 kecerdasan ala Howard Gardner, dan Homeschooling (sebagaimana sudah disebut-sebut dan dijelaskan di atas) menjadi ranah riset, diskusi dan perdebatan kami selaku orang tua.

Apalagi beberapa desas-desus menyatakan bahwa sekolah dasar (SD) negeri wajib menerima siswa di atas 7 tahun. Kalau kami menyekolah TK-kan sekarang, maka nanti TK B nya perlu diulang lagi sembari menunggu 7 tahun. Di sisi lain, seseorang (yah, banyak dari kita mengalami) yang mulai sekolah, tidak akan berhenti –atau rehat sejenak– dari sekolah sampai dengan lulus kuliah.