Harapan untuk Ramadhan Tahun Depan

Ramadhan 1441 H yang akan kita kenang sepanjang masa. Combo-nya dengan Covid-19 menghadirkan experience unik ber-Ramadhan-ria.

Tidak setiap tahun saya menulis tentang Ramadhan, rupanya. Masih ada jejak di blog lama tulisan dengan tag tersebut: My Ramadhan Eating. Itu tulisan tahun 2015. Waktu itu, saya sudah menikah, tetapi masih long distance dengan keluarga. Saya di Jakarta, istri dan anak dua (waktu itu baru 2 bulan banget) di Surabaya. Masih jomblo lokal, lha. Ramadhannya masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya.

Hampir gak pernah menulis tentang bulan puasa, mudah-mudahan bisa saya ingat sebagai “berusaha untuk fokus beribadah”, ya. Instead of Ramadhannya tak teringat dan tak berkesan sama sekali.

Ramadhan yang Unik

Ramadhan tahun ini, tentu akan menjadi Ramadhan yang akan kita kenang seumur hidup kita. Betapa tidak, Ramadhan plus pandemi. Atau sebaliknya. Pokoknya, Combo banget.

Terasa banget kontrasnya, karena di Indonesia yang masyarakatnya guyub banget, bulan Syahrul Quran (bulan yang di dalamnya diturunkan permulaan Alquran) adalah momen kumpul-kumpul. Buka bareng sama si alumni ini dan komunitas itu, tarawih di masjid ini, qiyamul lail (QL) (alias iktikaf) di masjid itu, dan sebagainya.

Kontras sekali dengan ramadhan tahun ini. Yang seakan memerdekakan para introvert yang suka menyendiri. Membebaskan dari aktifitas buka bareng yang gak wajib-wajib amat, atau tarawih yang crowded. Atau mudik yang sesak dan melelahkan.

Sudah seharusnya, kita refleksikan ke ibadah Ramadhan ya. Di bulan latihan yang penuh berkah ini, seberapa mampu kita menaikkan frekuensi dan kualitas ibadah. Saya bermaksud bertanya ke diri sendiri, daripada menanyakan hal tersebut ke teman-teman pembaca sekalian. Peluangnya ada di depan mata ya. Kita tidak kemana-mana. ‘Kan kita sedang physical distancing.

Harapan untuk Tahun Depan

Cukup standard. Meskipun masih ada beberapa hari menuju final, doanya masih sama dari tahun-tahun lalu: semoga dipertemukan dengan bulannya Al-Qur’an di tahun depan. Ini yang pertama.

BACA JUGA:  Lebaran ala Covid-19

Kedua, supaya saya dan keluarga lebih khusyuk dan intens beribadah. Mulai dari sekarang dan seterusnya. Untuk semua jenis ibadah.

Bulan suci sebagai “gong” menyediakan momentum yang tepat untuk memotivasi anak dua untuk beribadah. Mulai dari (latihan) wudhu, iqomat, surat pendek (masih seputar tiga qul), bacaan shalat, sahur, puasa dan niatnya, berbuka dan doanya.

Bulan ini hanya sebulan di antara 12 bulan. Masih ada 11 bulan selain bulan ini. Satu bulan ini hanya ‘reminder‘. Perjuangan sebenarnya di sebelas bulan yang lain.

Kalau ada yang salah atau kurang tepat, datangnya dari saya. Sedangkan yang benar hanya dari Allah subhanahu wa ta’ala.

Bandung, hari ke-23 Ramadhan 1441 H. Mei ke-16, 2020 M.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *