Sang Penghibur

Sang Penghibur: Inspirasi dalam Harmoni. Satu di antara sekian gebrakan pemasaran group band Padi Reborn.

Tiap Jumat malam, kini ada program di .NET TV, Sang Penghibur: Inspirasi dalam Harmoni yang di-host oleh Padi Reborn. Ini konsep baru ya.

Kalau seringnya individu/pasangan musisi yang membawakan program (David Naif di Berpacu dalam Melodi, Vincent-Desta di Tonight Show, dll), baru kali ini host-nya sebuah group band.

Konten program tersebut (selain talkshow) ada tiga: lagu dari Padi Reborn itu sendiri, lagu Padi Reborn yang di-cover oleh musisi tamu, serta lagu dari musisi tamu itu sendiri.

Gebrakan Pemasaran

Program ini, adalah gebrakan pemasaran yang ke-sekian dari Padi, ya. Di antaranya pernah ada: peluncuran (launching) album di lokasi yang unik: McDonald Sarinah (album Save My Soul), KRI Teluk Mandar 514 (album Tak Hanya Diam).

Pernah juga membuat mini series bertajuk “Menanti Sebuah Jawaban” yang tayang di SCTV, film pendek “Menanti Keajaiban” bersama sutradara Angga Dwimas Sasongko, dan lain sebagainya.


Sejak awal, Padi declare bahwa genre-nya adalah Pop-Rock.

Yang saya pribadi tidak suka, industri musik komersil di Indonesia sangat fokus di percintaan yang menye-menye (melankolis, galau, sedih).

Daripada bermain di samudera merah macam begitu, Padi melakukan zoom out pada pasar yang digarap: tidak hanya percintaan, tapi juga persahabatan, perjalanan hidup, dan tema-tema lain yang tidak termasuk arus utama (mainstream).

BACA JUGA:  Menjawab Pertanyaan dari Email

Menurut saya, lagu-lagunya Padi itu menerapkan konsep positioning yang tepat.

Maksudnya, tidak merilis jenis lagu yang banyak dibuat oleh band-band lain. Lagu semacam “Sang Penghibur”, “Sobat”, “Harmoni”, itu lagu-lagu yang jelas jarang atau bahkan tidak pernah dibuat oleh musisi-musisi tanah air.

As you may already know, Sang Penghibur berkisah soal profesi seniman, Sobat soal teman yang menikung kita dan merebut pasangan, hehehe.

Di sisi lain, lagu semacam “Kasih Tak Sampai” tuh sebenarnya banyak banget dirilis oleh musisi tanah air.

Ingat Jikustik? Populer kok, pada masanya. Popularitasnya terutama disebabkan lagu-lagu patah hati.

“Kasih Tak Sampai” yang merupakan judul novel karya Marah Rusli dengan lakon utama Sitti Nurbaya, sebenarnya kisah klasik yang terjadi di mana-mana, ‘kan?

Yang membedakan hanyalah eksekusi dari Mas Piyu dkk memang ciamik.

Dari Padi sendiri, “Kasih Tak Sampai”-nya Padi bisa dianalogikan dengan “Love of My Life”-nya Queen.

Yakni lagu yang diposisikan khusus untuk memberikan ciri yang khas pada band tersebut.

Jualan Dulu, Baru Berkarya

Sedikit lebih beda, lebih baik daripada sedikit lebih baik.

Pandji Pragiwaksono Wongsoyudo

Maksudnya Mas Pandji tuh, sebagai pemasar, tidak harus membuat karya yang lebih baik.

Namun, membuat karya yang sedikit berbeda, akan lebih menolong kita dalam memasarkan sekaligus menjualnya.

Padi tuh setau saya, lebih sering membuat musiknya dulu baru lirik. Konsep musiknya dimatangkan dulu, baru dicarikan lirik yang tepat.

BACA JUGA:  Demand Executive

Seperti peran teks dalam aplikasi digital: flow/experience/message untuk si user harus clear dan dapat konteksnya dulu, baru diberikan teks yang pas dan representatif.

Tanpa teks, terasa bingung tanpa arah.

Dengan teks, menguatkan maksud dan tujuan konsep musik yang sudah dibangun.

Peran Orisinalitas

Musik itu kan salah satu cara berekspresi ya. Menyuarakan hati para penikmat musik, adalah salah satu strategi berkarya para musisi.

Which is, sengaja tidak sengaja, by design or not, arah industri musik komersil kita saat ini seakan-akan hanya pada tema percintaan semata — sempat saya sebutkan di atas.

Di tengah-tengah samudera yang semakin memerah –kompetisi semakin ketat–, tampil beda adalah kewajiban. Dan ini semakin tidak mudah. Sebab, asal beda belum tentu laku.

Akhirnya, satu-satunya jawaban adalah menjadi diri sendiri. Bagaimana mengeksplorasi ke dalam diri untuk menghasilkan karya yang orisinil.

Jadi, daripada sekedar membuat karya musik yang disukai dan dinyanyikan, serta menjadi sarana berekspresi para penikmat musik secara umum dan fans secara khusus, jelas tidak salah menjadi egois dalam berkarya.

Inilah yang tampaknya dilakukan oleh Padi, di album Save My Soul.

Album ketiga tersebut, menjadi “ujian” sekaligus filter bagi mereka yang mentasbihkan diri sebagai “Sobat Padi”. Apakah benar-benar fans, atau sekedar penikmat musik secara umum.

Kenyataannya memang, bagi kebanyakan Label Mayor, album ketiga adalah titik kritis apakah sebuah group band akan terbang tinggi atau tetap biasa-biasa saja.

BACA JUGA:  Beberapa Posisi/Jabatan Pekerjaan Terkait Marketing

Kita semua tahu, Padi Reborn masuk kelompok yang mana.

Tantangan Pasca Vakum

Tujuh tahun waktu yang cukup panjang.

Ibarat terakhir ketemu pas kelas 6 SD, tau-tau sekarang sudah tingkat 1 kuliah saja.

Pasca vakum, ada dua tantangan yang dihadapi oleh Padi Reborn.

Besar atau kecilnya tantangan tersebut tentu relatif, tetapi ada 2 yang jelas signifikan: (1) Pendekatan berkomunikasi dan pemasaran yang serba digital: vlog, IG stories, twitter, dan sebagainya.

Kedua adalah pasar (yang tadinya masih balita, TK, atau SD) menghendaki jenis musik yang lebih “santai” daripada pop-rock Padi yang dulu.

Tantangan kedua ini, setidaknya dihadapi dengan re-aransemen yang lebih akustik dan penggunaan warna string pada musik pada album “Indra Keenam”.


Dari uraian di atas, Sang Penghibur benar-benar mentasbihkan diri sebagai “Sang Penghibur”.

Bukan sekedar bermusik, menunjukkan orisinalitas karya, tetapi juga menghibur (to entertain) dengan konten dan medium yang berbeda-beda.

Baca juga: Padi Reborn, Piyu, dan Jualan Musik Zaman Now.

Leave a Reply