Memilih Olahraga yang Tepat

Berolahraga jelas baik. Namun, memilih olahraga yang tepat adalah seni. Bisa berdasar usia, bisa juga berdasar faktor lain.

Berolahraga jelas baik. Itu tidak perlu dijelaskan di post ini. Namun, memilih olahraga yang tepat adalah seni. Bisa berdasar usia, bisa juga berdasar faktor lain. Mengapa usia jadi penentu? Karena kondisi tubuh pun berubah dari masa ke masa.

Yang perlu diwaspadai, olahraga yang tidak tepat malah bisa menyebabkan badan sakit, kelelahan, atau cedera.

Di suatu post, saya mengulas mengapa saya memilih olahraga lari.

Usia Anak dan Remaja

Usia anak dan remaja adalah waktu untuk bermain dan belajar berkolaborasi. Olahraga yang tepat adalah olahraga tim. Contohnya futsal dan basket. Di rentang usia ini, menanamkan kesadaran asyiknya berolahraga juga tidak kalah penting.

Anak remaja juga disarankan untuk melakukan olahraga yang bisa memaksimalkan tinggi badan seperti berenang, lompat tali, atau bermain basket.

Ada anak yang tidak suka olahraga yang bersifat kompetitif seperti bulu tangkis atau basket. Pasalnya, anak merasa tertekan harus menang.

Usia 30-an

Usia 30-an lebih pas disebut menjaga aset fisik, yaitu tubuh. Supaya enggak renta-renta amat ketika pasca pensiun nanti. Di antaranya olahraga kardiovaskular seperti berlari atau bersepeda. Perlu diingat, remaja 30-an tidak sama dengan remaja 20-an. Hehe.

Mulai rentang usia ini, ada yang menghindari olahraga tim karena kewajibannya untuk mengikuti irama permainan. Seperti di futsal, basket atau sepakbola. Daripada merasa tertekan karena harus cepat berada di posisi tertentu di lapangan permainan, lebih memilih olahraga individual yang kapan saja bisa mengatur kecepatan dengan nyaman.

BACA JUGA:  How I've learned to be better Writer

Usia 40-an

Usia 40-an tubuh makin rendah kecepatan metabolisme-nya. Lemak makin terakumulasi sementara massa otot menurun. Latihan beban dan ketahanan malah semakin relevan di kelompok usia ini.

Yang perlu diingat, usia 30-an dan 40-an, adalah masa emas dalam bekerja atau melakukan kegiatan produktif. Kita akan cenderung sangat sibuk dan menghabiskan waktu bekerja di balik meja dengan postur tubuh yang buruk. Atau sebaliknya, terlalu banyak meeting di luar rumah dengan mengkonsumsi gula berlebihan.

Usia Pasca Pensiun

Masalah dengan usian 60-an atau mungkin dimulai sejak pensiun, adalah aktifitas fisik semakin berkurang. Tidak ada paksaan ke luar rumah (misal setiap hari ke kantor) malah mengunci kita di rumah. Jadi harus memaksakan diri untuk olahraga jalan pagi minimal 30 menit.

Jalan sendirian itu engga enak dan menurunkan motivasi. Maka, temukan teman jalan bersama. Supaya aktifitas ini tidak membosankan dan lebih tahan lama.

Di kelompok usia ini, manusia rentan kehilangan fungsi kognitifnya. Aliran darah yang lancar dan bergizi menuju otak akan mencegah kerusakan sel otak. Jadi penting juga untuk tetap bergerak dan bersosialisasi. Yang sering saya lihat di film Barat, adalah komunitas menari para lansia. Saya belum pernah tahu ya kalau di Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.