Alasan Memilih Olahraga Lari

Dari menyukai futsal, tidak pernah berolahraga, hingga jatuh cinta pada olahraga lari.

Malas lari pas masih sekolah, jiwa sosial masih tinggi. Anti-anti individualis. Olahraganya sepak bola. Sama teman sekelas aja. Mainnya di lapangan punya perusahaan.

Sebelah sekolah ada tiga lapangan besar. Macam alun-alun kota gitu, lha. Dipakai upacara bendera sama pemerintah kota (pemkot) pas 17-an. Tapi main di sana engga enak. Namanya lapangan bersama ya, kan. Kudu saling permisi dan tahu “garis maya” antar tim yang lagi main. Tentu, siapa yang duluan datang bisa “atur” luas lapangan yang mereka pakai sebesar apa. Info lebih lengkap, cari #lapanganmerdeka di Instagram ya. Sekarang ramainya dari pagi sampai sore kalau Hari Minggu.

Meskipun kami anak kampung sekolah sini, tetap harus “kulo nuwun” donk. Kan lapangan bersama warga kota. Jadilah kami cari lapangan yang lebih privat.

Olahraga Anak Rantau

Pas merantau demi sekolah lagi, kebetulan ada fasilitas komplit. Lapangan bola ada, track lari juga ada. Rajinnya pas kelas 1-2 aja. Olahraga lari pagi wajib tiap hari Rabu dan Sabtu. Yang setelah sarapan, seringnya malah tidur di kelas. Kelelahan dan kekenyangan. Kelas tiga sudah malas lari pagi/sore. Rajinnya malah main bola di antara Asrama 2 dan Asrama 3. Sampai dimarahi pamong Matematika. Beliau ya ekspektasinya kita rajin belajar pagi-siang-sore-malam. Al Fatihah untuk beliau.

“Kewajiban” olahraga pas kuliah, hanya dua semester. Di semeter pertama (masih per kelas) dan semester kedua olahraga pilihan. Saya pilih renang saja. Yang saya ingat, sebagian besar gaya bebas. Saya hanya mampu gaya katak. Sisanya? Engga pernah olahraga lagi, kecuali 2 (dua) kali main futsal pas semester 8 dan 9.

Sepanjang tahun 2010-2012, ada sekelompok teman kuliah yang biasa main futsal. Itulah olahraga saya selama 2 (dua) tahun tersebut.

Bisa dikatakan, tiga tahun sejak 2012 tersebut, saya hampir enggak pernah olahraga sama sekali.

BACA JUGA:  Lebaran ala Covid-19

Healthy Month

Mulai tahun 2015 kalau tidak salah, alumni SMA mulai bikin kontes lari selama sebulan. Larinya masing-masing, tapi harus menyalakan aplikasi onde mande Endomondo. Jadi datanya tersimpan. Kompetisinya antar angkatan. Jadi masing-masing angkatan mengakumulasi mileage (jarak lari) sebanyak-banyaknya.

https://ikhwanalim.wordpress.com/2015/05/04/ikastarun-challenge/

Namanya tahun pertama, ada yang “memaksakan” diri hingga 500-600 km kumulatif selama sebulan. Jelas overtraining. Tidak sedikit yang cedera. Akhirnya di tahun kedua, mulai diatur mileage maksimal per orang. Maksimal per minggu 100 km, maksimal selama kontes adalah 400 km. Semakin ke sini, aturan juga semakin ketat. Misalnya tidak boleh FM (Full Marathon, 42 km) lebih dari sekali dalam seminggu.

Di tahun pertama, saya tembus 100 km lebih saja selama bulan tersebut. Dan itu tidak pernah tercapai lagi di tahun-tahun berikutnya. Lebih karena malas, persiapan (peregangan) dan istirahat yang tidak kalah pentingnya dari lari itu sendiri.

Paling heran sama mereka yang bisa tembus 400km selama sebulan. Jadwalnya sebenarnya tidak yang terlalu gimana-gimana gitu. Habis shalat subuh, langsung cus 7-10 km. Pulang kerja dengan jarak yang kurang lebih sama. Dapatkan HM dan FM masing-masing sekali setiap pekan. Mudah, bukan? Hahahahahahaha (tertawa miris).

Kalau boleh disimpulkan, di tahun 2015 itu lha saya mulai fokus dengan olahraga lari ya.

Alasan Memilih Olahraga Lari

Cukup, cukup. Preambule-nya sudah kebanyakan. Jadi langsung saja ke beberapa alasan memilih olahraga lari:

  • Olahraga yang paling mudah dilakukan. Karena tempat olahraganya cukup di jalan raya atau track lari di pusat kota. Dari kita sendiri, pakaian relatif mudah. Paling gampang, pakai kaos + celana kargo saja. Mau rumit sedikit, kaos lari yang bahannya ringan dan berpori-pori itu. Sehingga keringat cepat menguap dan tidak menambah beban saat berlari. Teman? Tidak harus ada temannya. Dengan teman, malah wajib bikin waktu dan tempat bertemu – bisa sebelum untuk lari bersama atau sesudah lari guna carbo loading bareng.
  • Lari itu sama kayak nge-blog: stress-releasing. Bahasa kerennya: runner’s high. Ini ketika hormon endorfin sudah sedemikian banyak pasca berlari sekian kilometer atau sekian puluh menit, kita akan merasakan “kelegaan” yang luar biasa enak dan nyaman.
  • Menguatkan Jantung. Jantung tuh tidak pernah berhenti bekerja sejak kita lahir hingga meninggal nanti. That’s why dia perlu diberikan latihan secara teratur dan terukur. Teratur artinya rutin. Tidak ada manfaatnya kalau hanya sesekali. Terukur artinya ada target minimal dan maksimal yang harus dicapai mengikuti hasil latihan sebelumnya.
  • Running is lonely sport. Dari preambule sebelumnya, saya belum cerita ya kenapa saya bisa dibilang stop main futsal? Because it is a team sport. Sama seperti basket, sepak bola dan olahraga tim lainnya. Kamu tidak boleh berhenti berlari karena teman kamu satu tim, butuh kamu untuk berlari. Di sepak bola, bukan hanya yang mendribel bola yang berlari, tetapi yang tidak sedang memegang bola bahkan wajib bergerak lebih cepat dan lebih jauh. Istilah populernya off-the-ball movement.
  • Me-time. Sebagai pekerja kantoran, ayah dan suami, I almost have no time. Jadi salah satu me-time saya itu ya berlari ini. Pikiran saya bisa bebas berkeliaran tanpa perlu memikirkan, menganalisis atau memutuskan sesuatu, ya ketika berlari ini.
BACA JUGA:  Talking to Strangers

Event Lari

Begitulah teori-teori mengapa memilih olahraga lagi. Tapi saya juga belum sekonsisten itu meski sudah sejak lima tahun lalu. Buktinya saja, setelah PSBM 2019 yang HM itu, saya belum pernah lari lagi hingga Sanlex Mewarnai yang 10 km. Padahal jaraknya kurang lebih 5-6 bulan. Sudah untung bisa finish (tanpa pernah latihan) di event lari akhir tahun tersebut. Saya sudah janji ke Anak Dua, untuk gak memaksa diri dan pulang dengan selamat. Bukan dipulangkan dengan diangkut.

Tahun 2018 sempat ikutan Ultra Marathon. Total sekitar 200 km tapi dibagi ke 16 peserta. Saya kebagian hampir 10 km dari Rajamandala di Kabupaten Bandung Barat (KBB) menuju kota Bandung. Entah apa yang saya pikirkan untuk ikut event tersebut. Sudah bayar sekitar 200ribu-300ribu, larinya malam (saya kebagian ba’da magrib) di jalan raya besar yang lampu jalannya saja belum ada, tanpa ada pengawalan, berikut probabilitas dibegal dan lain sebagainya.

Menyesal sih, tapi belum tentu ditolak kalau diajak lagi. Hehehe. Qadarullah, saya sakit pas hari-h di tahun 2019-nya. Sehingga tidak ikut tim manapun. Tahun ini event tersebut juga terancam tidak jadi karena wabah Covid-19 ini.

Biaya Olahraga Lari

Olahraga lari relatif murah. Tapi kalau sudah jadi hobi, kayak ngeblog, sangat bisa menjadi olahraga mahal. Sepatu untuk olahraga, Rp100ribu pun dapat. Tapi kalau mau sepatu yang proper, bisa di angka Rp400ribu. Itu bukan yang paling mahal ya. Masih bisa berjuta-juta rupiah untuk sepasang sepatu lari. Sepatu untuk lari di kota, tidak akan memberikan kinerja lari yang maksimal kalau dipakai untuk trail run, alias lari-lari di perbukitan, gunung, yang alamnya naik-turun dan tanahnya bervariasi dari pasir sampai batu.

BACA JUGA:  Perubahan Hidup Selama Pandemi

Belum termasuk “kecandungan” event lari. Pocari Sweat Bandung Marathon (PSBM) menghargai Half-Marathon, 21 km sekitar Rp500ribu. Itu baru event City Marathon ya. Yang katakanlah, masih di sekitar tempat tinggal. Bayangkan kalau larinya di Bali (Maybank Bali Marathon, MBM) atau BorMar (Borobudur Marathon) yang harus naik pesawat ke Jogja, cari penginapan, dan lain sebagainya. Belum termasuk Marathon di negara lain ya.

Dengan kata lain, tidak ada batas harga untuk perlengkapan dan event lari. Sky is the limit.

Ibarat event lari, sejak awal saya menulis post ini saya mencoba “bergerak” terus tanpa henti. Pokoknya gak boleh diam. Harus bergerak terus, minimal jalan. Kalau ada sedikit energi atau semangat, harus dipaksa berlari lagi. Dan dengan demikian, sooner or later, garis finish akan tiba di hadapan dan siap kita rengkuh.

Demikian pengalaman saya soal lari, kalau kamu ada pengalaman menarik juga soal berlari, mohon dibagikan di kolom komentar di bawah, ya!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *