Kelemahan Buku sebagai Sumber Pengetahuan

Saya melihat buku tidak lagi memiliki peran sebagai source of knowledge yang sama seperti di era pra-internet. Sekarang ini, buku mengisi ceruk sumber pengetahuan yang lebih sempit dikarenakan masifnya artikel, twit, video, dll yang berbentuk online.

Pasca lulus SMA yang berasrama itu, saya sangat kagum dengan perpustakaan dan toko buku. Saya masih dalam sihir bahwa “buku adalah gudang ilmu” atau “buku adalah jendela dunia”. Pada saat itu, sihir tersebut masih berlaku hingga saya memahami bagaimana internet bekerja. Meskipun saya ini seorang penulis buku, tetapi kepercayaan saya terhadap buku sudah “menurun”. Lebih tepatnya, “tidak seperti dulu lagi”.

Sekedar flash back, internet tidak serta-merta ada dan berperilaku seperti sekarang. Pada masa awal internet booming, kurang lebih 10-15 tahun lalu, buku masih menjadi “satu-satunya” sumber pengetahuan.

Kontras dengan keadaan saat ini di mana internet adalah jejaring pengetahuan dengan struktur yang mudah ditelusuri oleh mesin pencari. Sebab seiring dengan berjalannya waktu, penyedia konten dan mesin pencari saling berkolaborasi bagaimana menyajikan informasi yang terstruktur, mudah dicari, sehingga mudah disediakan kepada pengguna.

Interkonektifitas antar konten (yang pada tingkatan tertentu merupakan ilmu) ini yang terasa lebih kuat daripada buku. Buku, sebagai long-form konten, tidak sepenuhnya salah lalu kalah. Kita saja yang sebagai pengguna, sudah sepatutnya menempatkan short-form dan long-form konten secara proporsional.

Analisis: Kelemahan Buku

Yuk kita bahas “kelemahan” buku sebagai sumber pengetahuan:

  • Buku adalah kemasan/bentukan yang dulu selalu menjadi orientasi kita tentang volume sebuah pengetahuan. Karena pengetahuan dikumpulkan dan disusun dalam waktu relatif lama sehingga menjadi buku, maka persepsi tentang “cara menyusun” dan “bentuk/kemasan pengetahuan” ya harus seperti buku itu. Di lembaga-lembaga pendidikan kita, termasuk sekolah, ini mungkin/bisa/sudah menjadi masalah ketika mindset-nya adalah buku sebagai satu-satunya sumber pengetahuan yang paling kredibel; which is not.
  • Ketika kita menulis buku, maka kita menyiapkan seperangkat counter-argument untuk menanggapi bantahan-bantahan, yang sebenarnya, belum ada. Ketika menulis buku, yang kita lakukan adalah mengumpulkan beberapa, puluhan, bahkan ratusan counter-argument menjadi satu untuk menanggapi pendapat orang yang mungkin sebenarnya belum membaca buku kita dan membuat bantahan atas buku tersebut. Padahal di internet, argumen yang menyerang kita sudah dalam bentuk paling riil: ada akunnya, jelas pendapat (twitter/post) yang ditanggapi, ada foto profil dari penanggap, dsb.
  • Buku itu berinteraksi dalam ruang hampa atau “synchronous”. Segala komentar, persetujuan, umpan balik, dst tidak terjadi saat itu juga dan tidak terdokumentasikan di link yang terjangkau. Sementara kolom komentar atau reply seringkali lebih menarik untuk disimak karena memperkaya artikel atau konten orisinalnya.
  • Dampaknya adalah, opini, komentar, replies, persetujuan dan sebagainya “kurang terasa” di per-buku-an. Sementara retweet dan likes sangat bisa menggambarkan persetujuan/penolakan massa netizen terhadap suatu artikel/konten orisinilnya. Makin cepat disetujui/ditolak, makin terasa dampak lanjutannya. Makin massive persetujuan/penolakannya, maka semakin intens diskursusnya.
  • Seringkali buku disusun sangat terstruktur ya. Latar belakang, analisis, kesimpulan, dll tersusun sangat sistematis sehingga buku, pada umumnya ya, harus dibaca dari depan ke belakang. Hal ini berbeda dengan konten di jejaring yang relasinya tidak se-linear buku. Bentuknya bisa induktif-deduktif bahkan hubungannya bisa di kesamaan hashtag, categories, bahkan tags.
  • Dalam sekali rilis, buku yang dicetak itu, menghabiskan biaya cetakan (template) yang besar. Therefore, ada penerbit yang declare di depan, “kita minimal cetak 3.000 eksmplar”. Laku belum tentu dicetak ulang, apalagi kalau tidak laku. Ini menjadi salah satu alasan mengapa revisi atau pembaharuan suatu buku tidak bisa instan; bahkan butuh bertahun-tahun. Kalau artikel asli di blog atau media massa online, kan bisa disunting kapan saja dengan pemberitahuan apa yang berubah serta kapan perubahan tersebut dilakukan.
  • Sebuah buku menyajikan ilusi bahwa buku tersebut sudah menyelesaikan tugasnya dalam mengumpulkan, menyusun, dan menyajikan pengetahuan. Pada kenyataan di internet, pengetahuan itu mengalami dinamika dalam perkembangan dan pertumbuhannya; dan proses tersebut sebenarnya tidak pernah selesai.
  • Saya berkali-kali menyebut “menyusun” dalam penulisan buku, karena memang pengetahuan yang disajikan di buku sifatnya sudah “disesuaikan dengan pesanan”. Alias tidak hanya data/fakta aslinya saja tetapi yang paling utama adalah “interpretasi”-nya. Sementara di jejaring internet, bahkan sampai siapa yang pertama posting atau data/fakta aslinya dapat ditemukan dan accessible.
  • Meskipun buku online mulai marak diterbitkan dan dibaca, buku masih identik dengan buku fisik ya. Fisiknya buku ini meminta ruang fisik yang besar pula. Andaikata kita pindah tempat tinggal, maka buku-buku yang harus diangkut pun ada banyak. Berbeda dengan buku atau knowledge lain dalam bentuk digital yang lebih mudah dicari dan ditemukan. Dengan kata lain, buku fisik itu mudah “hilang” dan sulit untuk ditemukan. Kontras sekali dengan online knowledge.
  • Buku itu mendorong kita untuk menulis panjang. Tapi apa yang sebenarnya ditulis dalam long-form content tersebut? Tidak lain dan tidak bukan adalah ide-ide yang merupakan konstruksi atas imajinasi si penulis. Dan dalam hal ini, menurut saya, menulis panjang tentang suatu topik tertentu, tidak ada bedanya dengan menulis pendek-pendek (short form content) secara konsisten untuk topik tertentu.

Kesimpulan

Di antara banyak opini saya di atas, bukan berarti bahwa buku tidak relevan lagi dan tergantikan oleh long-tail artikel daring. Tidak ada yang menang maupun yang kalah di sini. Buku (dan berbagai long-form content) dan banyak jenis short-form content (artikel, twit, short video, reels IG, story WA/FB) sebenarnya saling mengisi satu sama lain di era jaringan global yang bernama internet ini.

Inspirasi: https://idratherbewriting.com/2012/12/12/knowledge-has-a-new-shape-and-its-not-the-book/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Verified by MonsterInsights