Tauhid – Dari Dulu Sampai Sekarang

Semua bermula dari rasa penasaran saya.

How come manusia bisa menyembah sesuatu melalui sebuah tanda, sementara tanda tersebut telah digunakan sebelumnya sebagai alat penyiksaan selama ratusan tahun?

Di tengah-tengah ke-tidak-masuk-akal-an yang ada, how come server sebelah bisa berusia hingga 2000 tahun (hingga hari ini)? Kegelisahan saya yang lain: bagaimana bisa seseorang yang sudah puluhan tahun memeluk Islam, masih ada yang belum memahami the very basic things in being a moslem.

(Di antara) jawabannya adalah karena kita BEGITU SAJA mewarisi keyakinan dari kedua orang tua kita. Why? Simply karena kita tidak ditanya waktu lahir dulu tentang mau ikut keyakinan/agama yang mana.

Pilihan kita ketika itu juga bias karena lebih banyak dipengaruhi oleh bagaimana kita melihat sebuah umat agama itu berperilaku, alih-alih bagaimana ajarannya sebenarnya — yang bisa kita pelajari dan simpulkan dari kitab sucinya dan referensi-referensi pendukungnya.

Server sebelah itu di mata saya, mengakui beberapa tuhan. Jadi, saya expand research saya jauh ke belakang lagi: polytheism dan ke belakangnya lagi: animism.

FYI saja ya, saya melakukan riset dan observasi ini karena yang saya rasakan adalah, dengan saya memahami other religions, saya MENJADI lebih mensyukuri keyakinan saya saat ini.

Animisme

Rupanya, sebelum manusia menyembah (to worship) kepada banyak dewa/tuhan, manusia lebih dulu menyembah benda-benda. Baik itu benda langit (matahari, bulan, bintang, dll), maupun benda-benda di sekitarnya (misal: pohon paling besar di sebuah hutan).

Ini terutama terjadi di masa-masa berburu dan meramu, yang seiring berkembangnya peradaban, animisme mulai luntur dengan sendirinya.

Politeisme

Politeisme berkembang pesat saat manusia mulai menetap dan membangun peradaban. Setelah sebelumnya sekadar hidup melalui aktivitas berburu dan meramu.

Dengan tidak lagi berpindah-pindah tempat tinggal, kemudian mengandalkan sumber daya seperti air sungai untuk bercocok tanam, mengandalkan rasi bintang untuk mengenali musim yang baik untuk pertanian, berlayar ke laut, dan seterusnya, maka manusia mulai menyembah kekuatan-kekuatan supranatural yang mempengaruhi hidup mereka, seperti dewa pertanian, dewa air/sungai, dll.

Sebagai makhluk yang hidup berkelompok, manusia kemudian membangun asumsi bahwa, para dewa/tuhan (god) pun membangun struktur sosial di antara mereka. Ada raja/ratu para dewa, dewa-dewa yang sering bentrok satu sama lain, dst. yang –seperti manusia– sama-sama hidup bermasyarakat. Masyarakat Yunani kuno meyakini bahwa para dewa tinggal di Gunung Olympus.

Di antara mereka, terjadi juga spesialisasi peran: ada dewa perang, dewa pertanian, dewa laut, dewa kebijaksanaan, dewa perdagangan, dan lain sebagainya.

Bagaimana Politeisme Berkembang

Di pelajaran sejarah di sekolah dulu, kita diajarkan bahwa masyarakat pertanian –yang kemudian berkembang jadi peradaban besar– itu lahir dari tepi-tepi sungai, seperti Sungai Tigris-Efrat (Peradaban Mesopotamia), Sungai Nil (Mesir Kuno), Sungai Indus (India Kuno), dan Sungai Kuning/Huang-He (Tiongkok Kuno).

Mesopotamia

Politeisme di Mesopotamia menyatu dengan sistem negara, di mana Raja Namrud (Nimrod) dianggap sebagai dewa atau wakil dewa. Situasi ini sama dengan di Romawi, di mana para raja diyakini merupakan titisan dewa.

Penyaliban pertama kali dipraktikkan oleh bangsa-bangsa kuno seperti Asyur, Fenisia, dan Persia pada milenium pertama SM (sekitar abad ke-6 SM) sebagai hukuman mati publik.

Yunani

Rupanya tidak hanya peradaban air tawar –seperti yang disebut di atas– namun ada juga peradaban air laut seperti Romawi dan Yunani kuno. Apakah air tawar atau air laut, yang manapun peradabannya, semua menyembah ke lebih dari satu dewa — tergantung sedang ada urusan apa.

Yunani kuno itu “kehabisan bensin” dan melemah setelah perang sesamanya: Sparta vs Athena. Setelahnya mereka di bawah pengaruh Romawi. Meski dikuasai oleh Romawi, namun bangsa Romawi juga “tunduk pada hellenisme”, yang di antaranya adalah mengadopsi hampir seluruh dewa Yunani dengan mengganti namanya (seperti Zeus menjadi Jupiter, Hera menjadi Juno, dst). Lalu ditambah dengan dewa-dewa mereka sendiri sebelumnya.

Hellenisme

Warisan Yunani kuno tidak hanya demokrasi. Namun juga filsafat, yang di antara paling populer adalah Stoikisme yang menekankan kebajikan, rasionalitas, dan penerimaan takdir. Belakangan konsep tersebut viral kembali di negeri kita lewat buku “Filosofi Teras”.

Romawi

Surah Ar-Rum adalah salah satu surah dalam Al-Qur’an yang secara eksplisit menyinggung peristiwa politik besar yang melibatkan Kekaisaran Romawi Timur (Bizantium) pada masa Nabi Muhammad shallalahu alaihi wassalam.

Ayat yang paling relevan dan terkenal adalah ayat 2 sampai 5. Ayat-ayat ini merupakan salah satu mukjizat nubuat (prophecy) Al-Qur’an karena memprediksi kemenangan Romawi (vs Persia) di saat mereka sedang berada di titik terendah.

Perang yang berlangsung selama 26 tahun ini membuat kedua kekaisaran tersebut sangat lemah secara ekonomi dan militer.

Hanya beberapa tahun setelah kemenangan besar Heraklius di Nineveh (Persia), muncul kekuatan baru dari Jazirah Arab yang mengusung moneteisme yang lalu menaklukkan kedua kekaisaran yang sudah kelelahan tersebut.

Kristen

Romawi (kekuasaan di negara karena raja adalah titisan dewa) vs Kristen (kekuasaan di tangan gereja). FYI, situasi tersebut baru berakhir di Westphalia pada tahun1648.

Kerajaan Romawi menjadikan trinitas sebagai wujud kompromi mereka antara hellenisme dengan ajaran monoteisme. Kristen ini kan pertama kali dikenalkan oleh Paulus, yang merupakan seorang agen romawi yang memanfaatkan momentum viral-nya Nabi Isa alahissalam. Nabi Yesus Alaihissalam mendakwahkan monoteisme untuk Bani Israel, sementara Paulus mengkampanyekan monoteisme untuk SELAIN Bani Israil.

Ingat kenapa Nabi Isa perlu turun lagi ke dunia, nanti? Karena banyak sekali fitnah yang harus beliau bereskan. Di antaranya soal penyaliban yesus, matinya Yesus, dan bangkit kembali dalam tiga hari tersebut.

Monoteisme Menantang

Henoteisme (Tahap Transisi)

Sebelum monoteisme murni muncul, ada fase di mana orang percaya banyak dewa ada, tetapi mereka hanya menyembah satu dewa yang dianggap paling kuat atau dewa nasional/kebangsaan mereka. Pertentangan terhadap politeisme muncul karena mereka mempertanyakan mengapa para dewa yang bertentangan satu sama lain.

Revolusi Akhenaten (Mesir, Abad ke-14 SM)

Salah satu catatan sejarah tertua mengenai perlawanan terhadap politeisme terjadi di Mesir. Firaun Akhenaten melarang pemujaan terhadap banyak dewa Mesir yang dipimpin oleh Amun-Ra, dan memaksa rakyatnya hanya menyembah Aten (cakram matahari). Namun, gerakan ini runtuh setelah ia wafat.

Tantangan Abraham

Kehadiran Nabi Ibrahim alaihissalam menjadi titik krusial. Dalam narasi agama samawi, Ibrahim alaihissalam menantang politeisme Babilonia dengan argumen logika—bahwa benda-benda langit yang terbenam dan patung yang tidak bisa bicara tidak layak disembah.

Ingat pertanyaan retoris Nabi Ibrahim alaihissalam, “Kenapa tidak kamu tanya saja berhala yang paling besar itu?” Tatkala berhala-berhala yang lebih kecil telah hancur berantakan. (QS. Al-Anbiya:63)

Beliau merupakan menjadi teladan iman, nenek moyang spiritual, dan tokoh pusat dalam agama Abrahamik (Yahudi, Kristen, Islam) yang perkembangan “dakwah” pada masa itu, memang ditakdirkan tidak sampai ke wilayah Yunani dan Romawi.

Monoteisme yang Absolut

Monoteisme yang “tunggal” tersebut seringkali membawa konsekuensi yang absolut. Penghapusan banyak dewa sering kali berarti penghapusan kekuasaan para pendeta kuil setempat yang memiliki pengaruh ekonomi besar.

Contohnya pada Amr bin Hisyam bin Mughirah alias Abu Hakam alias Abu Jahal). Jahal = masa bodoh, tidak acuh = bandel. Beliau ini bandel karena monoteisme berarti bisnis spiritual tourism ke Mekah dan belanja berhala-berhala oleh pilgrimage akan terganggu.

Ingat konteks raja abrahah menyerang Makkah? Raja Abrahah itu seorang kristen yang berasal dari Yaman, tapi pusatnya di Ethiopia. Sampai sekarang pun, Ethiopia tetap didominasi Kristen. Pusat keagamaan ini yang ingin dilindungi kekuatan politik dan ekonominya oleh para penguasa setempat. Jadi, “Gubernur” Abrahah ingin menghancurkan Ka’bah supaya Kota Aksum lebih ramai dikunjungi oleh para peziarah.

Hal ini pun masih terjadi hingga sekarang. Crowd –> Market –> Bigger Crowd –> Bigger market. Ingatlah bahwa Raja Saudi hari ini (MBS) pun menargetkan untuk menampung hingga 5 juta jamaah haji per tahun pada tahun 2030.

Tantangan Tauhid di Era Digital

Meskipun dunia kita sudah semakin logis, yang diindikasikan dengan berbagai digitalisasi, namun justru “tuhan-tuhan” malah berwujud digital, misalnya menjadikan jumlah followers, likes, atau opini publik yang viral sebagai standar kebenaran dan tujuan hidup utama, yang menggeser niat lillahi ta’ala.

Nyatanya teknologi digital semakin maju, bentuk-bentuk kesyirikan tradisional seringkali hanya berganti baju, seperti pembacaan garis tangan melalui aplikasi AI.

Materialisme dan Hedonisme Ekstrem

Ketertarikan pada dunia yang semakin intens dapat membuat hati malah lebih “terikat” pada benda, alih-alih pada Tuhan Yang Maha Esa, di antara sebagai berikut:

  • Hubbud Dunya: Mencintai harta dan kedudukan secara berlebihan hingga mengabaikan batasan halal dan haram.
  • Pemujaan Terhadap Diri Sendiri (self-worship) yang berlebihan: Tren-tren yang terlalu mendewakan ego, keinginan pribadi, dan kenyamanan fisik di atas perintah agama, sehingga hawa nafsu menjadi “tuhan” yang ditaati. Sebagai contoh: Passion, Ikigai, princess treatment, patriarki negatif, etc.
  • Kepercayaan pada zodiak maupun ramalan-ramalan masa depan yang dipercayai sebagai kepastian.
  • Kaburnya standard amalan/ibadah. Riset Alvara pada tahun 2019 memotret fenomena tersebut: Rutin 5 waktu (38.9%), Sering (33,8%), Kadang-kadang (26,8%), Tidak pernah (0,4%).

Referensi Terkait

Nabi Ibrahim Alaihis Salam

  • Pencarian Tuhan dan Pembuktian Logika (QS. Al-An’am: 76-79)
  • Menantang Penyembahan Berhala (QS. Al-Anbiya: 52-54 & 62-63)

Politeisme

  • Larangan Menyembah >1 Tuhan (QS. An-Nahl: 51, QS. Al-Ikhlas: 1-4)

Bahaya Syirik

Dari Abu Bakrah r.a., beliau berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Maukah aku beritahukan kepadamu dosa besar yang paling besar?” Beliau mengulanginya tiga kali. Mereka (para sahabat) menjawab: “Tentu, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda: “Menyekutukan Allah (Syirik) dan durhaka kepada kedua orang tua.“ (HR. Bukhari & Muslim)

Tentang mengikuti agama nenek moyang

  • •QS. Al-Ahzaab: 66-68
  • • QS. Al-Maidah: 104
  • •QS. Al-Baqarah: 170

Dondy Tan, seorang mualaf dan pengkaji Kristologi, menekankan konsep ketuhanan monoteisme murni (Tauhid) yang serupa dengan ajaran Yahudi-Islam, yang menolak konsep Trinitas — di mana Yesus dinyatakan setara dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Ia menyoroti konsep pengampunan melalui pertobatan langsung kepada Tuhan, bukan melalui penebusan dosa oleh pihak ketiga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.