Setelah Lebaran, Selanjutnya Apa?

Refleksi Ramadhan tahun ini dan hal-hal yang perlu disyukuri. Mudah-mudahan masih dipanjangkan usia untuk bertemu Ramadhan tahun depan.

Tahun 2021 ini, alias 1442 Hijriyah ini, adalah tahun kedua kita berpuasa Ramadhan dan Lebaran dalam suasana pandemi.

Tahun lalu, perdebatannya adalah mudik vs pulang kampung. Tahun ini, polemiknya adalah mudik dilarang, tapi boleh berwisata.

Pemerintah melarang mudik – meski kemudian menyatakan tidak apa-apa berwisata dalam tingkat aglomerasi kota. Cuti bersama untuk ASN dan karyawan BUMN, hanya berlaku sehari, yaitu H-1 lebaran. Tidak lain untuk mencegah mudik yang massive ya.

Itu perihal mudik ya. Suatu kebiasaan orang kita untuk pulang kampung demi merayakan hari raya bersama keluarga. Rangkaian acaranya meliputi shalat Ied di lapangan, berziarah ke makam para sesepuh keluarga besar, hingga silaturahmi ke tetangga dan anggota keluarga yang lain — silaturahmi ini bisa dari kota ke kota, lho. Berpotensi menyebarkan covid juga, sebenarnya.

Kami sekeluarga tidak mudik dahulu. Selain karena masih pandemi dengan anak-anak kami yang relatif muda, ada agenda besar di akhir Juli nanti. Mudik terpaksa ditunda dulu, menunggu hajatan tersebut tuntas. Lagipula, biasanya juga kami tidak mempedulikan mudik di hari raya atau bukan, ya. Kapan saja soal mudik, mah.

Ramadhan 1442H Bagi Kami

Puasa Ramadhan kali kedua di tengah-tengah pandemi ini yang rasa-rasanya semakin berat dijalani. Kita kan bukan anak kecil yang hanya puasa saja ya. Tetapi sebagai muslim dewasa, kita juga mengejar pahala dari rutinitas ibadah yang lain: tilawah dan tarawih, misalnya.

Untuk saya pribadi, ditambah dengan adanya pergeseran peran di kantor, menyebabkan jam kerja lebih panjang dengan beberapa di antaranya harus lembur (overtime). Kondisi ini yang semakin menantang dan menyulitkan dalam ibadah ramadhan: sahur, puasa, tilawah, tarawih, dll.

Secara hasil, jauh menurun dibandingkan dengan tahun lalu. Satu hari puasa sempat dibatalkan saja karena harus menjalani bedah mulut untuk mengangkat geraham bungsu. Kapan-kapan saya coba share soal ‘operasi geraham bungsu’ ini ya.

However, tidak sedikit hal yang saya syukuri di Ramadhan kali ini.

Begini, tilawah Al-Qur’an itu kan satu hal di antara ‘beriman kepada kitab-kitab Allah’. Sepanjang Ramadhan lalu, saya beberapa kali browsing dan mencari tahu apa itu Taurat, Injil, Perjanjian Lama (Old Testament) dan Perjanjian Baru (New Testament). Ini tidak bisa dipisahkan dari mempelajari sejarah para nabi dan Rasul (Isa Alaihissalam, Daud Alaihissalam, Sulaiman Alaihissalam, dll) – yang topiknya adalah ‘Iman kepada Rasul-rasul Allah’ selain Nabi Muhammad Shallalahu Alaihi Wassalam.

Sampainya saya ke topik-topik tersebut, tidak lain dari mengeksplorasi berita-berita tentang mereka yang baru menjadi muallaf. Rasanya jadi berempati kepada mereka. Maaf, salah. Harusnya kita berempati kepada kita yang muslim sejak lahir ya. Betapa kita seharusnya kagum dan meniru semangat belajar mereka para muallaf yang melakukan pencarian terhadap Tuhan, keyakinan dan Ibadah, karena tidak dibesarkan dalam keadaan Islam.

Di antaranya ada nama-nama, drg.Carissa Grani, Annisa Theresia (dulu penyanyi ‘Awal Yang Indah’ dan anggota DPR), dan Zahra Jasmine (mantan DJ). Kebetulan perempuan semua. Hanny Kristianto, seorang muallaf pria yang belum saya eksplor.

Dari sisi parenting, alhamdulillah Anak Dua bisa shaum hingga 30 dan 28 hari. Ada yang kurang 2 hari karena sempat sakit. Alhamdulillah ibadah sahur juga diikuti terus oleh mereka. Minim drama. Kayaknya karena sudah di-sounding/di-briefing sejak semalam. Pasca tarawih kan kita bareng-bareng berniat puasa, sambil mengingatkan mereka untuk bangun jam 3 pagi.

Pernah juga kami ceritakan peristiwa masa kecil semisal, saya yang ketika itu buka puasa tinggal 30 menit lagi, saya nangis meminta buka puasa. Merengeknya berhenti karena minum air mata, hehe. Kisah lain, tidak sengaja makan pisang tapi karena kelupaan, puasanya lanjut terus. Kisah-kisah ini sebagai penyemangat untuk mereka.

Sedikit banyak, kesuksesan berpuasa Anak Dua tuh karena masing-masing ada partner sekaligus kompetitornya. Hehe. Alhamdulillah. Berkah anak kembar yang kami tidak berhenti mensyukurinya. Mudah-mudahan mereka berusia panjang ya.

Saya dan Ramadhan 1443H

So, Ramadhan sudah usai, terus ‘saya dan Ramadhan’ ini kelanjutannya gimana?

Judul besarnya masih sama ya: Memperdalam Ilmu Agama. Sampai dengan Ramadhan tahun depan, yang realistis adalah mempelajari kitab Azbabun Nuzul (link tokopedia). Realistis karena sudah pasrah dengan target-target lain dalam hidup: target pekerjaan, target pengasuhan, dan seterusnya.

Sebagaimana bidang-bidang lain dalam hidup, saya mulai dengan dan selalu melanjutkan dari yang saya suka atau berminat untuk saya pelajari. Kitab yang saya sebut di atas adalah ‘kelanjutan’ dari belajar Alquran.

Targetnya satu ini aja dulu. Karena belajar agama kan seumur hidup ya. Meski kita gak tahu usia kita sampai di mana, perlu banget mengatur ritme dalam ‘bernafas’. Karena perjuangan ini ‘kan ibarat lari marathon ya. Butuh semangat dan nafas yang panjang.

Demikian pengalaman dari saya mengenai Ramadhan tahun ini. Dari kamu, barangkali ada cerita yang ingin dibagikan? Ditunggu ya ceritanya di kolom komentar.

Harapan untuk Ramadhan Tahun Depan

Ramadhan 1441 H yang akan kita kenang sepanjang masa. Combo-nya dengan Covid-19 menghadirkan experience unik ber-Ramadhan-ria.

Tidak setiap tahun saya menulis tentang Ramadhan, rupanya. Masih ada jejak di blog lama tulisan dengan tag tersebut: My Ramadhan Eating. Itu tulisan tahun 2015. Waktu itu, saya sudah menikah, tetapi masih long distance dengan keluarga. Saya di Jakarta, istri dan anak dua (waktu itu baru 2 bulan banget) di Surabaya. Masih jomblo lokal, lha. Ramadhannya masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya.

Hampir gak pernah menulis tentang bulan puasa, mudah-mudahan bisa saya ingat sebagai “berusaha untuk fokus beribadah”, ya. Instead of Ramadhannya tak teringat dan tak berkesan sama sekali.

Ramadhan yang Unik

Ramadhan tahun ini, tentu akan menjadi Ramadhan yang akan kita kenang seumur hidup kita. Betapa tidak, Ramadhan plus pandemi. Atau sebaliknya. Pokoknya, Combo banget.

Terasa banget kontrasnya, karena di Indonesia yang masyarakatnya guyub banget, bulan Syahrul Quran (bulan yang di dalamnya diturunkan permulaan Alquran) adalah momen kumpul-kumpul. Buka bareng sama si alumni ini dan komunitas itu, tarawih di masjid ini, qiyamul lail (QL) (alias iktikaf) di masjid itu, dan sebagainya.

Kontras sekali dengan ramadhan tahun ini. Yang seakan memerdekakan para introvert yang suka menyendiri. Membebaskan dari aktifitas buka bareng yang gak wajib-wajib amat, atau tarawih yang crowded. Atau mudik yang sesak dan melelahkan.

Sudah seharusnya, kita refleksikan ke ibadah Ramadhan ya. Di bulan latihan yang penuh berkah ini, seberapa mampu kita menaikkan frekuensi dan kualitas ibadah. Saya bermaksud bertanya ke diri sendiri, daripada menanyakan hal tersebut ke teman-teman pembaca sekalian. Peluangnya ada di depan mata ya. Kita tidak kemana-mana. ‘Kan kita sedang physical distancing.

Harapan untuk Tahun Depan

Cukup standard. Meskipun masih ada beberapa hari menuju final, doanya masih sama dari tahun-tahun lalu: semoga dipertemukan dengan bulannya Al-Qur’an di tahun depan. Ini yang pertama.

Kedua, supaya saya dan keluarga lebih khusyuk dan intens beribadah. Mulai dari sekarang dan seterusnya. Untuk semua jenis ibadah.

Bulan suci sebagai “gong” menyediakan momentum yang tepat untuk memotivasi anak dua untuk beribadah. Mulai dari (latihan) wudhu, iqomat, surat pendek (masih seputar tiga qul), bacaan shalat, sahur, puasa dan niatnya, berbuka dan doanya.

Bulan ini hanya sebulan di antara 12 bulan. Masih ada 11 bulan selain bulan ini. Satu bulan ini hanya ‘reminder‘. Perjuangan sebenarnya di sebelas bulan yang lain.

Kalau ada yang salah atau kurang tepat, datangnya dari saya. Sedangkan yang benar hanya dari Allah subhanahu wa ta’ala.

Bandung, hari ke-23 Ramadhan 1441 H. Mei ke-16, 2020 M.