“Kopi itu seharusnya diminum selagi panas.”, begitu kata Raka.
Bukan karena dia seorang penikmat kopi. Justru sebaliknya. Raka minum espresso karena menurutnya kopi itu seperti program: semakin sederhana, semakin sedikit kemungkinan error.
Satu shot espresso. Tanpa gula. Tanpa susu. Tanpa kompromi.
Sayangnya, urusan perempuan tidak sesederhana itu. Terutama kalau perempuan itu bernama Naya.
Raka pertama kali bertemu Naya di sebuah kedai kopi kecil dekat kantor. Kedai kopi kecil yang biasa jadi tempat WFC kalo kali stuck di kubikel gedung kantor.
Naya duduk sendirian di pojok, mengetik sesuatu di laptop, sambil sesekali mengintip bukunya, lalu kembali mengetik.
Raka sebenarnya sudah memperhatikannya selama hampir tiga minggu. Tiga minggu. Bukan observasi yang sebentar.
Ia tahu minuman yang selalu Naya pesan: pokoknya espresso-based dengan tambahan susu. Bisa Cappuccino, mungkin Cafe Latte, hari lain Flat White, sesekali Cafe Mocca. Naya tidak suka dengan yang monoton. Variasi itu penting buat dia.
Sejauh dia mengamati, Naya biasanya datang pukul 17.45. Naya selalu memilih meja dekat jendela. Sambil membawa pulpen warna biru.
Tapi Raka tidak tahu bagaimana cara mengatakan, “Hai, boleh kenalan?”
Bagi Raka, itu lebih sulit daripada debugging aplikasi di production –ini sebenarnya praktik yang salah, namun klien memaksa tindakan tersebut– pukul dua pagi.
Maka ia melakukan pendekatan dengan cara yang menurutnya paling rasional. Ia duduk di meja sebelah meja Naya. Niatnya ingin menyapa duluan.
Awalnya, Raka diam. Berharap keberanian datang tiba-tiba.
Lima belas menit berlalu. Kemudian menit ke-dua puluh juga berlalu. Keberanian yang ditunggu tidak kunjung datang
Naya akhirnya menoleh duluan, bertanya, “”Mas sering di sini?”
Raka menghela nafas. Dalam hatinya, Raka mengucap syukur. Kemudian mengangguk, “Iya.”
“Kerja dekat sini?”
“Iya.”
“Oh…”
Hening. Raka mulai panik. Otaknya mencari bahan percakapan. Loading… Loading…Timeout.
Akhirnya Raka berkata, “Di sini Wi-Fi-nya bagus.”
Naya terdiam. Lalu tertawa, “Serius?”
Raka mengangguk, “Ping-nya rendah.”
Naya tertawa semakin keras.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidup Raka, sebuah lelucon yang tidak ia maksudkan sebagai lelucon berhasil membuat seseorang tertawa.
Sejak hari itu, mereka mulai sering bertemu. Kadang memang janjian di hari sebelumnya. Kadang pura-pura tidak sengaja.
Raka tetap menjadi Raka. Ia tidak pandai menggoda. Tidak pandai memberikan gombalan. Dan sama sekali tidak tahu kapan harus tertawa ketika Naya bercanda.
Suatu malam Naya berkata, “Kamu tuh kalau bercanda mukanya serius banget.”
“Memang aku serius.”
“Nah, itu masalahnya.”
Raka berpikir sebentar, “Lalu harus bagaimana?”
“Ya… ketawa.”
Raka mencoba, “Hahaha.”
Naya menatapnya, “Itu malah kayak orang habis lihat error log.”
Raka menghela napas, “Berarti aku gagal.”
Naya tersenyum, “Enggak. Kamu cuma… unik.”
Raka menyimpan kalimat itu di kepalanya. Seperti menyimpan password. Bedanya, password bisa diganti. Kalimat dari Naya tidak.
Beberapa bulan berlalu. Hubungan mereka menjadi sesuatu yang tidak pernah mereka definisikan. Mereka makan bersama. Raka duluan yang mengajak. Lalu, nonton film bersama. Naya yang memancing duluan. Berlanjut dengan berbagi nomor whatsapp, kemudian saling mengirim pesan.
Dan sesekali bertengkar karena Raka terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Seperti pada suatu malam, Naya bertanya, “Rak, kamu itu sebenarnya suka sama aku atau enggak?”
Raka kaget lalu terdiam.
Ia bisa menjelaskan arsitektur sistem selama satu jam. Bisa menjelaskan kenapa aplikasi mengalami memory leak. Bisa menjelaskan mengapa sebuah bug hanya muncul di production.
Tetapi untuk menjawab pertanyaan sederhana itu… Otaknya kosong.
“Kenapa diam?”
“Aku sedang mencari jawaban yang tepat.”
Naya tersenyum getir.
“Perasaan itu bukan coding, Rak.”
“Aku tahu.”
“Terus?”
Raka menatapnya, “Aku suka kamu.”
Naya diam, “Tapi aku nggak tahu cara menunjukkannya.”
Untuk beberapa detik, hanya suara mesin espresso yang terdengar dari balik meja bar.
Naya akhirnya tersenyum.
“Ya sudah. Belajar.”
Malam itu mereka duduk berdua. Di depan mereka ada dua cangkir. Kali ini, Naya dengan cappuccino. Raka dengan espresso.
Raka menatap cangkirnya, lalu berkata, “Nay.”
“Hm?”
“Kalau suatu hari aku bilang sesuatu yang romantis, jangan berharap terlalu tinggi.”
“Kenapa?”
“Karena kemungkinan besar terdengar seperti dokumentasi API.”
Naya tertawa.
“Nah, itu baru lucu.”
Raka tersenyum kecil.
“Berarti aku berhasil?”
“Sedikit.”
Raka mengangguk puas.
Seolah baru saja berhasil deploy tanpa rollback.
Mereka kembali diam.
Beberapa menit kemudian, espresso Raka mulai dingin.
Naya menunjuk cangkir itu.
“Kopimu dingin.”
Raka melihatnya.
Kemudian melihat Naya.
“Enggak apa-apa.”
“Kenapa?”
Raka tersenyum.
“Karena ada hal yang lebih penting dari kopi.”
“Apa?”
Raka menatapnya cukup lama.
“Kamu.”
Naya terdiam.
Lalu tertawa.
“Rak…”
“Hm?”
“Itu gombalan paling kaku yang pernah aku dengar.”
Raka ikut tertawa.
“Aku sudah bilang.”
“Apa?”
“Aku memang nggak pandai bercanda.”
Naya menggeleng.
“Bukan.”
Ia mengambil cangkir espresso Raka, lalu menyerahkannya kembali.
“Kamu cuma butuh waktu.”
“Untuk apa?”
“Untuk belajar bahwa nggak semua hal harus sempurna.”
Raka menatap kopi yang sudah mulai kehilangan panasnya.
Lalu menatap perempuan di depannya.
Mungkin memang begitu. Ada hal-hal yang tidak perlu diselesaikan seperti bug. Tidak perlu dicari algoritmanya. Tidak perlu dibuatkan diagram alurnya. Kadang cukup dijalani.
Sebelum terlambat. Sebelum kesempatan pergi. Dan sebelum…
Kopimu menjadi dingin.