Mengenal Kecerdasan Spiritual dan Cara Meningkatkannya

Pernah dan mungkin masih ada training bertemakan Kecerdasan Spiritual. Kalau mengajarkan yang bertentangan dengan tauhid, bisa-bisa malah akan mengancam akidah.

Tulisan ini saya bagi dua. Yang pertama adalah mengenali tanda-tanda yang ditunjukkan oleh pribadi yang sedang memiliki kecerdasan spiritual. Namun ini bukan tanpa cela. Karena ada situasi-situasi yang memicu kita untuk menjadi ‘tidak cerdas secara spiritual’. Bagian kedua berisi tentang bagaimana meningkatkan kecerdasan spiritual tersebut.

Ciri-Ciri Cerdas Spiritual

Orang yang cerdas secara emosional biasanya ditandai dengan sudah mampu memahami dan berempati terhadap apa yang sedang dialami oleh orang. Dengan pemaknaan yang kurang lebih sama, maka cerdas secara spiritual dapat diartikan sudah mampu menemukan makna-makna kehidupan di balik suatu peristiwa. Baik pada peristiwa yang dialami sendiri, maupun dari peristiwa yang dialami oleh orang lain.

Keterhubungan Vertikal

Cerdas secara spiritual juga berarti merasa memiliki ‘keterhubungan’ dengan sesuatu dzat yang lebih besar dari dirinya, dan menyadari bahwa sesuatu dzat tersebut memberikan pengaruh besar pada kehidupannya. Hal ini akan mempengaruhi bagaimana dia mengenali dan mengelola emosi-emosinya dengan baik.

‘Keterhubungan’ yang dimaksud di atas tidak dalam wujud yang horizontal alias terhubung karena memiliki suatu kesamaan. Melainkan keterhubungan yang bersifat kausalitas, yaitu sebab-akibat. Bahwa yang dialami oleh dirinya merupakan AKIBAT yang disebabkan oleh sesuatu dzat.

Pada level kecerdasan yang lebih tinggi, keterhubungan yang sifatnya kausalitas –atau bisa diterjemahkan sebagai vertikal– tersebut, dicirikan dengan mengkaitkan SEGALA SESUATU yang diterima dalam hidupnya sebagai pemberian dari dzat yang the one and only. Jadi, bukan keterhubungan yang bisa dipilah dan dipilih. Melainkan mempengaruhi seluruh aspek kehidupan yang dimilikinya.

Kaitan dengan Kecerdasan Emosional

Sadar bahwa seluruh aspek kehidupan ada yang mengatur, maka manusia yang spiritualnya cerdas kemudian akan mengelola keinginan maupun harapannya. Menginsyafi bahwa tidak semua keinginan atau harapan itu harus diwujudkan oleh Sang Maha Pemberi, menjadikan manusia ini pun mampu untuk mengelola perasaannya sendiri manakala menerima atau kehilangan sesuatu.

Pada tingkatan yang lebih advanced, manusia ini pun ikut bisa memahami situasi emosi orang lain, khususnya ketika terdapat perbedaan antara apa yang dicita-citakan (yaitu kehendak manusia) dengan apa yang diterima –yang merupakan kehendak dari dzat yang satu-satunya tersebut.

Baca Juga: Metode Bermain Peran untuk Meningkatkan Kecerdasan Spiritual.

Bagaimana Cara Mengembangkan Kecerdasan Spiritual?

Praktik ibadah yang bukan sekedar rutinitas. Artinya, diikuti dengan kesadaran kepada siapa ibadah dilakukan. Dalam pada ini, pelaku ibadah mempertanyakan kepada siapa ibadah ditujukan; apakah kepada dirinya sendiri atau kepada dzat Maha Tunggal yang sudah disebutkan di atas.

Di saat yang sama, kecerdasan spiritual bisa berkembang manakala manusia merefleksikan diri berbagai penerimaan kepada dirinya, yaitu menelaah mana masukan yang merupakan hasil usahanya sendiri, atau mana yang diterima tanpa melakukan apapun –karena memang sudah ditetapkan untuknya. Refleksi-refleksi ini tidak semata melalui perasaan semata, tetapi juga lewat pikiran-pikiran di kepala.

Kecerdasan spiritual terlihat ketika kombinasi perasaan-pikiran dan praktik tersebut mendorong terjadinya refleksi atau pemaknaan pada suatu peristiwa.

Mindfulness

Dalam situasi tersebut, tidak dapat dipungkiri bahwa mungkin saja kecerdasan spiritual itu menjadi tumpul. Terutama ketika pemicu-pemicunya diabaikan. Triggers tersebut di atas sangat mungkin terabaikan ketika manusia lupa atau tidak sempat bersikap mindful. Padatnya aktifitas maupun masifnya tujuan yang dikejar, sangat mungkin menyebabkan manusia melupakan konsep mindfulness, yaitu sikap mental untuk terus dan tetap bertindak dengan kesadaran diri (self-awareness) secara penuh.

Misalnya, sambil menyantap hidangan, menyadari betul bahwa apa yang dikonsumsi merupakan pemberian dari dzat yang Maha Pengasih. Bahwasanya di saat yang sama, masih ada yang berkekurangan atau belum beruntung untuk memperoleh makan dan minum.

Makna Hidup

Makna hidup bukan sebuah awal dari meningkatkan kecerdasan spiritual, melainkan sebuah ‘akhir’. Pada mereka yang menginsyafi transendensi atau keterhubungan vertikal dengan Dzat Maha Pencipta serta rutin bersikap mindful, maka akan sampai pada garis finish, yaitu menemukan makna dari ‘untuk apa kita diciptakan’.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.