Kewajiban Muslim yang bukan Kewajiban Muslimah

Menjadi seorang ayah dari 3 anak laki-laki (saja, tanpa anak perempuan) tiba-tiba membuat saya merefleksikan diri tentang bagaimana saya dulu sebagai anak. Dampaknya di antaranya adalah saya perlu paham mana yang kewajiban untuk seluruh pemeluk dienul Islam, dan mana kewajiban yang untuk (pria) muslim saja. Berikut ini daftarnya:

  • Menafkahi dan menanggung keluarga: Pria memiliki kewajiban utama untuk menafkahi istri dan anak-anaknya. Namun demikian kembali pada keikhlasan dan keridhoan istri dalam menerima besaran nafkah yang diberikan oleh suami. Sebagai orang tua, saya perlu mengajarkan apa itu nafkah, bagaimana mencari nafkah, dan menunjukkan sikap-sikap pencari nafkah.
  • Peran sebagai imam (pemimpin): Pria dalam rumah tangga berperan sebagai pemimpin dan pengambil keputusan. Pemimpin artinya pemberi atau penunjuk arah. Simpelnya ya arahkan keluarga untuk menuju surga. Caranya dengan mencontoh apa-apa yang dilakukan oleh rasulullah. Hal-hal lain rasanya bisa didiskusikan dengan pasangan maupun dengan anak-anak.
  • Kewajiban militer (jihad): Dalam konsep bela negara, kewajiban ini umumnya dibebankan kepada laki-laki. Di Indonesia, wajib militer memang tidak ada. Di negara seperti Singapura dan Korea Selatan, ada wajib militer.
  • Khitan. Lihat juga review klinik khitan.
  • Menundukkan pandangan. Supaya menjaga pandangan dari hal-hal yang diharamkan dan menjaga diri dari perbuatan dosa.

Kewajiban yang Sama-Sama Berlaku untuk Muslim dan Muslimah:

  • Di aspek iman, atau keyakinan, ada 6 ya seperti di Rukun Iman: kepada Allah subhanahu wa ta’ala, para Malaikat, para Nabi (tidak hanya Muhammad Shallahu Alaihi Wassalam), kitab-kitab (tidak hanya Al-Qur’an), hari kiamat, dan Takdir.
  • Di aspek ibadah, hanya 5 ya, sesuai Rukun Islam: syahadat, shalat, zakat (fitrah), puasa (Ramadhan), dan haji.
  • Menjaga kehormatan diri: Berbuat baik dan menjaga kehormatan diri. Di antara menjaga kehormatan diri adalah dengan tetap memiliki rasa malu. Rasa malu ini akan menjaga kita dari hal-hal yang menurunkan kehormatan diri.
  • Berbakti kepada orang tua: Menghormati dan berbakti kedua kepada orang tua. Konon katanya selalu ada pada setiap hubungan anak laki-laki dengan ayahnya, masa-masa di mana si anak membenci ayahnya. Namun demikian, tetaplah menghormati dan berbakti kepada ayah.
  • Bersikap baik kepada tetangga: Memperlakukan tetangga dengan baik. Pada mereka yang merantau jauh dari keluarga, maka tetangga adalah “keluarga” terdekat yang bisa menolong kita. Bersikap baik kepada tetangga wajib dilakukan terlebih dahulu, agar mereka pun segan untuk berbuat yang tidak-tidak terhadap kita.

Demikian kewajiban (pria) muslim yang bukan merupakan kewajiban (wanita) muslimah. Semoga bermanfaat.

2 Comments

    • Ada kewajiban yang sifatnya individual (fardu ‘ain), ada pula yg sifatnya komunal (fardu kifayah). Yang kedua ini merupakan kewajiban bersama yang akan gugur kewajibannya pada tiap individu, jika sudah ada yang melakukan.

      Misal: harus ada yang berperan sebagai dokter di suatu masyarakat. Jika sudah ada satu atau beberapa orang (sesuai kebutuhan masyarakatnya), maka kewajiban tersebut sudah gugur alias tidak perlu semua orang harus menjadi dokter.

      Demikian pula dengan militer sebagai alat pertahanan dan keamanan negara. Ketika sudah ada sekian orang yang menjadi militer, maka tidak perlu semuanya yang menjadi militer.

      Di negara seperti Singapura maupun Korsel, wamil merupakan “persiapan” dalam postur pertahanan-keamanan mereka. Yang bisa difungsikan sebagai komando tentara cadangan (di Indonesia disebutnya demikian).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.