Kesulitan Kerja Remote

Blogpost ini diinspirasi dari blogpost Pak BR tempo hari. Linknya di sini. Habis ngasi komen di sana, langsung kepikiran untuk bikin blogpost sejenis.

So, kesulitan kerja remote tersebut masih ada hubungannya dengan produktivitas. Kapan hari sempat saya ulas di sini juga. Produktifitas juga ada hubungannya dengan punya teman-teman yang sepemikiran dan punya kesamaan minat.

Scale-of-remote-working-2

Disiplin

Setuju banget dengan perihal disiplin ini, Pak. Sebagai pemberi kerja, maupun pekerja, saya gak sepenuhnya yakin 100% dengan konsep remote working ini.

Salah satu yang melatarbelakanginya adalah kenyataan bahwa budaya kita dikenal sebagai low-trust society. Simply put, kita belum bisa meletakkan trust kepada orang lain sebelum kontrak tertulis atau uang muka proyek, dan bentuk-bentuk sejenisnya. Bukan sekedar si pemberi kerja belum percaya kepada pekerja, tapi juga sebaliknya: si pekerja belum yakin si pemberi kerja akan komitmen terhadap janji-janjinya. Termasuk di antaranya adalah pembayaran yang on-time.

Sebagai pekerja tatkala melakukan kerja remote, saya sudah yakin gak bisa sepenuhnya tidak diawasi atau tidak dikontrol oleh atasan. Baik berupa keikutsertaan di meeting, laporan yang ontime, maupun deliverables pekerjaan yang tidak melebihi deadline. Belum lagi, tatkala jenuh kita orang Indonesia cenderung buka social media (facebook, instagram, twitter, dlsb).

Remote dari rumah jelas menurun produktifitasnya. Istilah kerja 8 jam, mungkin efektif 7 jam. Ambil minum lha, chat sebentar sama ortu lha, dst. Belum termasuk ketidakpercayaan generasi ortu terhadap kita, yang tatkala ketak-ketik di laptop, disangka malah main game. Yang demikian jelas duduk nyaman di kursi dan komputer di atas meja saja menurun produktifitasnya, apalagi yang duduk bekerja sekenanya di karpet.

Coworking Space

Di sinilah coworking space jadi bermanfaat. Sewa ruang kerja dengan harga Rp50-100ribu per hari dijamin lebih produktif. At least, karena sesama rekan juga bekerja, maka kecenderungan ngobrol dengan juga akan berkurang. Apalagi kalo bisa berkolaborasi sesama desainer-fotografer-penulis-developer, dlsb.

BACA JUGA:  Seluk-Beluk Freelance Marketing

Riset dari https://www.visualcapitalist.com/visualizing-rise-co-working-spaces/ bilang bahwa:

  • 25% responden menyatakan coworking space menghasilkan kolaborasi spontan (apalagi kalo ada orang sales yang mau jualan, makin mantap)
  • 22% memberikan networking/personal growth.
  • 18% menyatakan soal lingkugnan kerja yang lebih produktif.

Tidak heran pertumbuhannya coworking space-nya juga ada. Di UK (United Kingdom) saja sekitar 10% growth-nya per tahun lalu.

Tulisan dari Mas Zulkaida Akbar di bawah akan menceritakan betapa tidak efisiennya si Indonesia. Sebab di antara sekian jam kerja yang seharusnya dipakai bekerja, juga ada untuk YouTube-an maupun Facebook-an. Tidak heran orang Indonesia, seperti saya, masih juga membuka laptop dan bekerja di akhir pekan. Looks hard work, but actually not that efficient. Kalau sudah hard work plus efficient, kita pasti bisa rock the world juga, mestinya.

Balik lagi ke kerjaan remote. Kalau saya memberikan pekerjaan kepada orang lain, sebisa mungkin saya memberikan kepada yang saya tahu betul track-recordnya.

Atau, rekomendasi orang yang saya percayai. Terkadang, yg terakhir ini pun gak selalu berhasil. Atau minimal, saya bisa bertemu dengannya. Jadi, bisa kita rencanakan atau evaluasi bersama lewat offline meeting.

Berikut saya kutipkan status facebook dari seorang rekan, Zulkaida Akbar. Masih seputar fokus dan produktivitas. Sekarang menjalani profesi peneliti (fisikawan) di sebuah kampus di Amerika Serikat. Yang bisa saya ceritakan tentang beliau adalah, beliau orangnya fokus. Kebetulan, sudah menggeluti fisika sejak jadi peserta Olimpiade Fisika. Kemudian dibimbing Prof Yohanes Surya, lalu berlomba fisika (lagi) hingga tingkat internasional. Sempat menjadi aktivis kampus, tapi kembali lagi ke core-nya dia sendiri, yaitu Fisika. Sudah master, sudah pula doktoral. Sekarang menjadi fisikawan.

Fokus

Namanya Kathrina, seorang Jerman yang sempat singgah di Florida selama satu bulan untuk riset dibawah bimbingan Prof. Saya (yang juga seorang Jerman.)

Kathrina selalu datang jam 8 pagi, lantas menghidupkan komputernya dan mulai bekerja. Yang istimewa adalah detik mulai Ia bekerja, kepalanya seakan terpatri kuat pada layar monitor, jarang sekali terlihat menengok ke kanan dan ke kiri. Seluruh perhatiannya tersedot untuk pekerjaannya.

Kawan-kawan di kantor pun jadi segan untuk menyapanya.

Kathrina memang berbeda dengan kawan-kawan sekantor saya atau kolega satu group. Brad sering kedapatan membuka Channel olahraga saat bekerja. Chris si Veteran Iraq menyelingi pekerjaanya dengan me”Like” berita-berita republikan, atau berdebat tentang Israel-Palestina dengan Hussein. Sementara Hiram si Puertoriqan selalu terlihat tidur di sudut kantor.

Bagaimana dengan Si Indonesian? Mudah diterka, karena  bisa dipastikan tab Facebook dan Youtube-nya selalu terbuka. Terkadang ia juga menyempatkan untuk bergosip dengan kawan-kawannya di group WA.

Jam 12 teng Kathrina beranjak menuju Microwave, kemudian menghangatkan makan siangnya. Selepas santap siang, dia akan bekerja hingga jam 5 teng, lalu pulang.

Beberapa saat kemudian, ketika kami sama-sama menghadiri suatu pesta, baru saya sadari bahwa Kathrina ternyata manusia “normal” juga. Bagi dia, jamnya kerja ya harus kerja. Jamnya pesta ya pesta. Merupakan sebuah aib bagi dia jika Ia melakukan hal Non-kerja saat jamnya bekerja atau sebaliknya ; bekerja ketika jamnya untuk berpesta.
…………..

Sebut saja namanya H, si Tukang mabok tapi papernya bejibun ini mendapat gelar masternya di Stratsbourg (perbatasan Jerman-Prancis). Dia berangkat kerja di waktu normal, pulang juga di waktu normal.

Namun yang menarik adalah meskipun H perokok berat, tapi H tidak pernah membawa rokoknya ke Kantor, melainkan menggantinya dengan permen Nikotin. Alasannya sederhana, H tidak ingin membuang waktu kerjanya sekedar untuk keluar ruangan dan merokok. Sama seperti Kathrina, bagi H jam kerja ya harus dilalui dengan Full bekerja.

Bagaimana dengan Si Indonesian? Dia sering bekerja siang dan malam, belasan jam perhari. Weekday juga weekend. Ketika si Indonesian bertemu dengan H, dengan penuh kekaguman H berkata :”If I can work as hard as you, I will rock the world.” Si Indonesian kemudian menjawab :”If I can work as efficient as you, I  will also rock the world.”

Mengapa Si Indonesian menjawab demikian? Karena si Indonesian ini sadar, bahwa diantara belasan jam yang ia “klaim”, terdapat sekian jam untuk FaceBookan, Youtubean dan an an yang lainnya.

Apakah efek akhirnya sama dengan si Jerman?

Nyatanya tidak. Karena si Indonesian ini meski sudah 3 tahun ngaji kepada Prof. Jerman, tetap belum bisa memenuhi standar beliau : paling lambat satu minggu sebelum conference, slide sudah siap (juga sudah berlatih). Hampir 1 tahun sebelum menyelenggarakan konferensi, web sudah dibikin, lantas kami dminta untuk mengirim email dan abstrak hanya untuk memastikan bahwa sistem web berjalan. Juga printilan2 lain seperti Tas, map dll. Semuanya betul2 dipersiapkan sejak dini.

Saya yang terbiasa dengan kepanitiaan raksasa saat dikampus (OSKM=2000 panitia) terkejut bahwa satu gawe konferensi internasional yg diselenggarakan FSU nyatanya bisa dimanage dengan baik hanya oleh seuprit orang.

Kata2 Favorit Prof. Saya : Check List, prioritas, Be Carefull with your promise! Give me reasonable time estimation!

Diantara Negara2 dgn GDP terbesar seperti US, China; Orang Jerman paling sedikit jam kerjanya. Namun mereka sangat efisien dan terukur. Semua serba well organized. Weekend bagi Prof. Saya adalah family time, saat email tidak disentuh dan saat berlatih irish trap dance bersama istri dan anaknya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *