Jelang Penutupan TPA Sarimukti, Saya Mulai Memilah Sampah di Rumah

TPA (Tempat Pembuangan Akhir) bukan tempat yang sering muncul dalam percakapan sehari-hari. Kebanyakan orang hanya melihat sampah sampai di depan rumah: kantong plastik diikat, lalu diangkut petugas kebersihan. Setelah itu, urusannya seperti selesai. Padahal, di ujung sana, ada gunungan sampah yang terus bertambah setiap hari.

Di kawasan Bandung Raya (Kota Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Bandung, Kota Cimahi), nama TPA Sarimukti menjadi pengingat bahwa sampah rumah tangga sebenarnya tidak pernah benar-benar “hilang”. Tempat pembuangan akhir itu menerima kiriman sampah dari berbagai wilayah setiap hari. Ketika kapasitas menipis, dampaknya bukan hanya soal bau atau pemandangan yang tidak nyaman, tetapi juga menyangkut risiko lingkungan, kesehatan, hingga terganggunya sistem pengangkutan sampah di kota.

Hal itu membuat saya mulai memperhatikan satu pertanyaan sederhana: sebenarnya sebanyak apa sampah yang saya hasilkan sendiri di rumah?

Mengingat saya tidak hanya menghasilkan sampah dari rumah tangga sendiri, namun anak-anak kost juga memproduksi sampah.

Awalnya saya mengira pemilahan sampah hanya aktivitas kecil yang tidak terlalu berpengaruh. Tetapi setelah dicoba beberapa minggu, hasilnya cukup mengejutkan. Sampah rumah tangga yang biasanya langsung dibuang ke satu kantong besar ternyata bisa berkurang hampir setengah volumenya ketika dipilah.

Caranya sederhana. Saya mulai memisahkan sampah menjadi tiga kelompok:

  • sampah organik,
  • botol dan gelas plastik,
  • serta sampah anorganik lainnya.

Dari situ terlihat bahwa sebagian besar volume tempat sampah ternyata berasal dari benda-benda yang ringan tetapi memakan ruang: botol air mineral, gelas plastik, dan kemasan makanan. Botol dan gelas plastik dipisahkan lalu digantung di depan pagar untuk diambil oleh pemulung.

Sampah organik juga memberi kejutan tersendiri. Sisa-sisa makanan ternyata cepat menumpuk jika dicampur dengan sampah lain.

Jumlah sampah saya sebenarnya tidak berkurang signifikan. Hanya saja, dipilah berdasar tiga kategori tersebut, sampah menjadi lebih mudah dimampatkan alias volumenya berkurang.

Saya baru sadar bahwa masalah sampah sering kali bukan hanya soal “berapa banyak” yang kita buang, tetapi juga soal “bagaimana” kita membuangnya. Itu tadi, di antara caranya adalah bagaimana botol dan gelas plastik bisa masuk ke dalam daur reproduksi.

Di level kota, isu sampah memang terlihat besar dan rumit. Ada TPA, truk pengangkut, para pemulung (yg berbeda-beda tergantung material apa yang mereka incar), hingga kebijakan pemerintah.

Tetapi di level rumah tangga, ternyata ada langkah kecil yang cukup terasa dampaknya. Bukan langkah yang langsung menyelesaikan persoalan TPA Sarimukti, tentu saja. Namun setidaknya, ada pengurangan volume sampah yang dikirim dari rumah setiap harinya.

Dan mungkin memang perubahan besar sering dimulai dari hal seperti itu: satu kantong sampah yang isinya tidak lagi bercampur semuanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.