Dunia Berubah Setiap 30 Tahun, Lalu Apa Yang Harus Dilakukan?

Tiga puluh tahun yang lalu jelas berbeda dengan yang sekarang. Yang sekarang pun, jelas akan berbeda dengan yang terjadi 30 tahun lagi. Bagaimana menyikapinya?

Waktu kecil dahulu, saya jarang ke luar kota. Keluar kota pertama yang benar-benar saya ingat adalah ikut lomba matematika mewakili sekolah. Ke Samarinda. Ikut lomba, kalah, menangis, jalan-sore-makan-malam-kembali-ke-asrama. Esoknya pulang tanpa memahami bahwa si Samarinda ini (demikian pula dengan Balikpapan) sebenarnya hidup dari mana. Lebih tepatnya, hidup dari industri apa.

Long-story short, saya end-up dengan memahami bahwa tidak semua orang/keluarga/kota memiliki keberuntungan ekonomi. Saya pikir, semua kota itu seperti Bontang. Dibangun oleh perusahaan instead of penduduknya. FYI, Bontang itu menghasilkan gas alam. So, pemerintah kita bangun industri pupuk berbahan baku si gas alam tersebut. Jadi keramaian penduduknya, maupun ekonominya, termasuk fasilitas umum di kota tersebut ya dibangun oleh si dua perusahaan tersebut.

Actually, seumur-umur mungkin hanya 1-2 kali saya ke Bontang. Tapi berhubung pernah sepedaan di kompleksnya Petrokimia Gresik, kebayang lha, seperti apa kotanya. Industrinya sedemikian besar sehingga pabrik, kantor, perumahan semua berada dalam satu kawasan besar.

Kembali ke Balikpapan, di tahun di mana Donald Trump dilantik dan bersamaan dengan Pilkada DKI, satu di antara tiga perusahaan asing sudah habis kontraknya dengan negara. Jadi, lapangan minyaknya dikembalikan ke negara (via Pertamina), tentu saja. Setahun kemudian, satu big company lagi menyusul. Simply karena kontrak berdurasi 30 tahun tersebut sudah habis.

Kata rekan-rekan sekolah, ekonomi turun signifikan. Apalagi 1-2 tahun sebelumnya harga batu bara demikian rendahnya. FYI, ada titik harga tertentu pada batubara, yang sedemikian tingginya sehingga kamu bisa menyekop sendiri batu bara, memasukkan ke dalam karung, lalu menjualnya.

BACA JUGA:  Why Join Community

Pasca harga batu bara kembali membaik, hanya mereka company yang punya backup politik dan kemampuan modal yang mampu melanjutkan operasinya: mengupas kulit bumi dan “menyekop” batubara.

Sekarang, di Balikpapan praktis mengandalkan “sisa-sisa” perusahaan minyak tersebut, industri batubara, serta ritel yang semakin berkembang. Alfamidi mendominasi di sana. Setidaknya, ada dua brand lokal dengan beberapa cabang. Lalu, sebagai kota yang disinggahi untuk menuju daerah Kaltim lainnya, Balikpapan punya industri MICE yang lumayan.

Yang Sekarang Berkembang

As you know, sekarang industri yang berkembang adalah yang terkait IT startup. Kota yang “beruntung” tentu jakarta. Hampir semua berawal di sana dan masih bermarkas besar di sana. Sebagian kecil mulai memasuki Bandung sebagai R&D Center. Lalu, mulai buka kantor cabang operasional di kota-kota besar di Indonesia. Gojek sudah di 167 kota dan kabupaten. Konon, Tokopedia akan ekspansi berupa warehouse di sedikit kota besar di Indonesia. Mereka yang berjualan dengan Go-Food akan naik 150% dibanding yang hanya buka offline saja. Mereka yang pakai MokaPos akan dapat insight terkait bisnis yang mereka geluti.

Intinya adalah dunia terus berubah. Perubahan tidak bisa dilawan, tapi bisa diajak berkawan. Memang ini lagi zamannya IT, maka memasuki IT-related industry mestinya sudah pilihan yang tepat. Tapi bagaimana dengan 30 tahun lagi? Seiring berjalannya waktu, tentu kita harus terus mengobservasi, melakukan beberapa testing, sembari menyimak apa kata konsultan.

BACA JUGA:  Alasan Memilih (Program) Manajemen, Bagi Kamu yang Bingung Mau Kuliah Apa

Simpulan

Kita tidak bisa menjamin bahwa anak-anak kita akan menjalani industri yang sama dengan kita hari ini. Namun, kita perlu menanamkan kepada mereka bahwasanya dunia terus berubah dan mereka wajib mempersiapkan diri dengan apa yang akan terjadi 30 tahun dari sekarang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *