Anxiety of Technical Writer

Setiap pekerjaan tentu saja ada dinamikanya ya. Naik dan turunnya. Plus dan minusnya. Keuntungan dan kerugian yang harus ditelan mentah-mentah. Dengan mengetahui hal-hal tersebut, akan membantu kita mengelola harapan (setting expectation). Sehingga kita bisa lebih legowo dalam menerima peran dan fungsi profesi masing-masing serta bisa memberikan karya yang terbaik.

Demikian pula dengan profesi Technical Writer (TW) yang tidak luput dari advantages maupun disadvantages.

Reality Check from User Experience

Sebagai technical writer, saya ada perasaan bahwa dokumentasi teknis (technical document) yang saya buat itu tidak sepenuhnya dibaca oleh pengguna (user).

Apalagi seiring dengan berkembangnya ilmu dan praktik User Experience (UX) ya. Manual-manual penggunaan yang dulu dibaca oleh pengguna kini sudah “diatasi” lebih dulu oleh desain yang user-friendly. Dapat dikatakan UX ini “mencegah” user membaca manual yang saya buat.

Unik ya, hehe. Karena kita menuliskan sesuatu yang wajib ada, tetapi tidak dibaca oleh penggunanya. Hehe.

Jadi, instead of menjadi petunjuk/manual penggunaan, maka arah dokumentasi yang saya buat lebih kepada menyelesaikan masalah (problem) yang andaikata terjadi tatkala aplikasi digital tersebut digunakan. Misalnya lewat halaman Help dan Frequently Asked Questions (FAQ).

Sebenarnya, UX tidak seburuk yang saya ilustrasikan di atas. Justru menjadi bidang baru yang perlu kita kuasai juga. Minimal untuk mengklasifikan mana yang masuk ranah UX design sehingga mengarahkan desain yang kita berikan kepada user. Maupun memberikan petunjuk (clue) kepada kita mana saja dokumen pemecah masalah yang akan berperan seperti Help dan FAQ.

BACA JUGA:  Betapa tidak pentingnya nge-blog itu ya, gaez

Articulating User Requirement

Di samping itu, pekerjaan saya adalah menuangkan kebutuhan pengguna (user requirement). Baik yang bersifat fungsional maupun teknikal menjadi Requirement Specification (Spesifikasi Kebutuhan) dan Technical Specification (Spesifikasi Teknikal). Yang kedua ini biasa juga disebut sebagai Design Specification atau Technical Design Specification.

Selain yang sudah disebut di atas, ada juga dokumen-dokumen terkait Manajemen Proyek/Produk. Product Management kalau perusahaannya lebih banyak mengandalkan produk untuk melayani penggunanya dan Project Management kalau layanannya didominasi mengerjakan proyek milik klien.

Kenyataannya, dokumen-dokumen tersebut memang bagian dari deliverables yang harus kami sediakan mengiringi aplikasi digital itu sendiri. Dan memang sudah satu paket dengan proses yang perusahaan janjikan sebelumnya. Benar adanya bahwa kami dibayar atas aktifitas dan barang jadi tersebut.

Kembali ke kenyataan pahit di atas. Dokumennya wajib ada, tetapi belum tentu akan dibaca.

Real Conflict

Konflik yang saya rasakan adalah itu semua “hanya”-lah pekerjaan. Bekerja demi menyambung nyawa. Atau, istilah zaman now “demi segenggam berlian”. Sehinnga pekerjaan di kantor bukan suatu aktifitas yang “menyenangkan”.

TW harus bisa memberikan batas ya. Bukan karena suka dan bisa menulis, lantas semua harus dituangkan ke dalam dokumen. Kapan harus meriset (dan berhenti meriset), kapan waktunya menulis, kapan waktunya untuk menyunting (dan membuang kata-kalimat-paragraf yang hanya membuat penuh sesak).

Blogging

Kontras bagi saya, yang menyenangkan adalah kegiatan yang memupuk rasa ingin tahu (curiosity) dan memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan (questions) tersebut. Semisal ya aktifitas blogging ini.

BACA JUGA:  Menyoal Minat Baca Kita Yang (Katanya) Rendah Itu

Yeah, harus diakui kenyataannya bahwa apa yang saya ingin tahu belum tentu sama dengan apa yang ingin pembaca tahu dari blog ini. Apalagi dengan aspirasi dari warganet (netizen) yang tercermin di mesin pencari seperti Google lewat queries dari “people also search” atau Latent Semantic Indexing (LSI).

Sebagai blogger kita harus bisa membaca maksud (intention) para pembaca. Apakah sekedar mendapat informasi, mencari perbandingan antara para penyedia, maupun user intention yang lain.

Jadi, mencari jawaban dari segala pertanyaan sudah menyenangkan bagi saya. Apalagi setelah menuangkannya ke dalam blog ini. Hal tersebut kadang-kadang berimbas kepada Pageview (PV) yang tinggi. Seringkali juga tidak.

Tiga Tipe Artikel yang Harus Ada di Blog Kamu.

Bagaimanapun juga, dalam blogging yang utama adalah menuliskannya, bukan? Instead of melihat PV-nya tinggi atau tidak.

Kacamata lain yang bisa kita gunakan adalah “dokumentasi”. Layak atau tidak, penting atau tidak untuk didokumentasikan.

Dokumentasi

Always Benchmark-ing

Pekerjaan saya di kantor terkait dengan mendokumentasikan proyek-proyek milik perusahaan yang sifatnya eksternal maupun proyek-proyek internal.

Keduanya ibarat dua roda berbeda yang saling terhubung lewat suatu rantai yang penggerak utamanya adalah roda “internal”. Jadi bagaimana menggerakkan roda internal (dengan usaha seminimum mungkin) agar roda eksternal ikut bergerak membawa kita mencapai tujuan. Dalam proses tersebut, roda eksternal wajib memberikan umpan balik (feedback) kepada roda internal mengenai masalah, hambatan atau tantangan yang dihadapi. Sehingga, roda internal bisa menyesuaikan diri. Misalnya dengan menyediakan cetakan (template), membuat standard, atau aktifitas lainnya.

BACA JUGA:  Menulis Untuk Diri Sendiri

Dapat disimpulkan bahwa dokumentasi di perusahaan tuh sifatnya harus terus diperbaharui, khususnya dengan cara benchmarking ke praktik terbaik (best practices).

Make it Romantic

Hal yang sama juga saya lakukan sebagai blogger: merekam (to record) apa-apa yang saya pikirkan, lakukan, dan rasakan sendiri untuk dibaca oleh orang lain sebagai sesuatu yang bermanfaat.

Pun tatkala saya membaca tulisan saya sendiri akan berarti sebagai nostalgia bahwa oh ternyata saya pernah memikirkan hal-hal receh ini, oh ternyata pernah melakukan ini.

Sekedar perbandingan dengan khalayak kebanyakan, banyak juga lho yang menitipkan memori visualnya di Instagram (IG).

Karena penitipan memori baik berupa visual maupun teks di medium seperti IG maupun blog itu sifatnya seringkali personal dan privat serta minim maksud bisnis, maka tolok ukur (benchmark) ke luar seringkali salah sasaran.

Sama sederhananya dengan fakta bahwa perjalanan hidup tiap orang tidak sama dan tidak layak untuk membandingkan serta menentukan mana yang hidupnya lebih baik daripada orang lain.

Merekam dan memutarkembali memori kehidupan itu kan sifatnya manusia yang punya kepekaan ya. Alias romantisasi tersebut lebih karena manusia itu peka dan punya perasaan.

Idratherbewriting: Avoiding Burnout as Technical Writer

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.