Rumah Bugis (Bagian 2)

Setelah ketemu buku lawas terbitan tahun 1971 dari begawan Prof Dr Koentjaraningrat (nama beliau ini sering disebut guru Sosiologi saya dulu) , saya izin melanjutkan informasi mengenai rumah tradisional suku bugis ya.

Berikut ini kutipan dari buku tersebut:

Tiga Bagian Rumah Bugis

Rumah di dalam kebudayaan Bugis-Makassar, dibangun di atas tiang dan terdiri dari tiga bagian yang masing-masing mempunyai fungsinya yang khusus ialah;

Rakkeang

(a) Rakkeang dalam bahasa Bugis atau pammakkang dalam bahasa Makassar, adalah bagian atas rumah di bawah atap, yang dipakai untuk menyimpan padi dan lain persediaan pangan dan juga untuk menyimpan benda-benda pusaka;

Ale Bola

(b) Ale-bola* dalam bahasa Bugis atau kalle-balla dalam bahasa Makassar, adalah ruang-ruang di mana orang tinggal, yang terbagi-bagi ke dalam ruang-ruang khusus, untuk menerima tamu, untuk tidur, untuk makan dan untuk dapur;

Awasao

(c) Awasao dalam bahasa Bugis atau *passiringang dalam bahasa Makassar, adalah bagian di bawah lantai panggung, yang dipakai untuk menyimpan alat-alat pertanian dan untuk kandang ayam, kambing dan sebagainya. Pada zaman sekarang, bagian di bawah rumah ini sering ditutup dengan dinding, dan sering dipakai untuk tempat tinggal manusia pula.

Rumah Bugis Menurut Lapisan Sosial

Rumah orang Bugis-Makassar juga digolong-golongkan menurut lapisan sosial dari penghuninya. Berdasarkan hal itu, maka ada tiga macam rumah ialah:

Sao-raja

(a) *Sao-raja dalam bahasa Bugis atau balla lompo dalam bahasa Makassar, adalah rumah besar yang didiami oleh keluarga kaum bangsawan. Rumah-rumah ini biasanya mempunyai tangga dengan alas bertingkat di bagian bawah dan dengan atap di atasnya (*sapana), dan mempunyai bubungan yang bersusun tiga atau lebih;

Sao-piti

(b) *Sao-piti’ dalam bahasa Bugis, atau tarata’ dalam bahasa Makassar, bentuknya lebih kecil, tanpa sapana dan mempunyai bubungan yang bersusun dua;

Bola

(c) Bola dalam bahasa Bugis, atau *balla’ dalam bahasa Makassar, merupakan rumah buat rakyat pada umumnya.

Semua rumah Bugis-Makassar yang berbentuk adat, mempunyai suatu panggung di depan pintu masih di bagian atas dari tangga. Panggung itu yang disebut tamping, adalah tempat bagi para tamu untuk menunggu sebelum dipersilahkan oleh tuan rumah untuk masuk ke dalam ruang tamu.

Pada permulaan membangun rumah seorang ahli adat dalam hal membangun rumah (panrita-bola), menentukan tanah tempat rumah itu akan didirikan. Beberapa macam ramuan diletakkan pada tempat tiang tengah akan didirikan. Kadang-kadang ditanam kepala kerbau di tempat itu. Setelah kerangka rumah didirikan, maka di bagian atas dari tiang tengah digantungkan juga ramuan-ramuan dan sajian-sajian untuk menolak malapetaka yang mungkin dapat menimpa rumah itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.