TikTok Marketing

Mobile app terbanyak ke-2 yang diunduh selama 2019. Dan no.1 untuk Juli 2020. Sudah waktunya menimbang kapan mulai melakukan TikTok Marketing.

Sewaktu mengumpulkan bahan untuk rilisan ini, saya cukup kaget. Rupanya, Indonesia adalah negara pengguna TikTok terbesar keempat di dunia. Persisnya, terdapat sekitar 30,7 juta pengguna TikTok di Indonesia.

Menurut pendirinya, TikTok dikembangkan untuk merekam dan menyajikan kreativitas serta momen berharga dari seluruh penjuru dunia melalui ponsel. TikTok memungkinkan setiap orang untuk menjadi kreator dan mendorong pengguna untuk membagikan ekspresi kreatif melalui video berdurasi 15 detik.

TikTok sendiri memosisikan dirinya lebih sebagai content distribution network, daripada sebuah platform social media. Instead of menyampaikan konten milik user kepada para followers-nya, algoritma TikTok justru menyebarkan konten yang relevan dengan riwayat engagement si user.

TikTok Marketing adalah bagaimana memanfaatkan medium TikTok untuk melakukan pemasaran digital. Meliputi branding, edukasi konsumen, kampanye kesadaran, dll.

Fakta TikTok Indonesia

  • Rata-rata durasi penggunaan 29 menit/hari
  • Rata-rata konten yang ditonton 100 video/hari
  • Variasi konten di TikTok: komedi, beauty, fashion, food, dll.(wartakota.tribunnews). Yang paling sering dikonsumsi adalah konten komedi.
  • Pendapatan TikTok didasarkan pada pembelian dalam aplikasi pengguna, seperti hadiah digital dan emoji.
  • 66% pengguna berusia di bawah 30 tahun (seluruh dunia); 14-24 tahun di Indonesia. Konten-konten semacam quarter-life crises, maupun lamaran kerja (tips pembuatan CV/resume, interview) kayaknya ya akan cocok untuk rentang usia tersebut.
  • TikTok telah menjadi kata kerja (verb). Contohnya: Yuk TikTok-an dulu. Artinya, TikTok telah populer sedemikian rupa.

Tiktok Marketing Strategy

  • Melihat rentang usia para penggunanya yang didominasi oleh Gen Z, platform ini sangat tepat untuk brand-brand yang menyasar/mengedukasi Gen Z.
  • Gunakan hashtag yang representatif
    • Popular hashtag utk dapat jangkauan luas
    • Niche hashtag utk tampil beda
  • Gunakan hashtag yang challenging untuk kampanye merek
  • Libatkan influencer (sebagaimana socmed pada umumnya). Ketatnya kompetisi menyebabkan tumbuh organik semakin sulit.
  • Berikan deskripsi singkat yang ‘menggigit’ (short snappy description)
  • Gunakan fitur filter agar menjadi penampil yang unik di antara kerumunan TikTok: Trending, New, Interactive, Editing, Beauty, Funny, World, and Animal categories.
  • Ada lagi fitur green screen effect, untuk mengganti warna/motif latar belakang konten. Sebagaimana yang biasa kita lihat di behind-the-scene produksi film layar lebar.
  • Konten TikTok berdurasi hingga 1 menit. Manfaatkan kesempatan yang sempit tersebut untuk menyampaikan pesan kita.
  • 8 dari 10 pengguna TikTok mengunakan app ini beberapa kali dalam sehari. Kontras dengan 75% apps yang diunduh, dipakai sekali, lalu dilupakan.
  • Omni Traffic: organic traffic, paid (ads) traffic, traffic from influencer, etc.
  • Traffic berbayar sendiri bisa diarahkan ke tujuan-tujuan berikut:
    • Kunjungan ke situs web
    • Penginstalan aplikasi
    • Penjualan online

Studi Kasus

Setidaknya, saya akan membahas bagaimana sebuah toko ponsel dan seorang HR Vlogger memanfaatkan TikTok dan melaksanakan TikTok Marketing.

GoodPonsel

GoodPonsel adalah sebuah toko ponsel di Gianyar, Bali.

Hits karena kreasi rilisnya berupa ekspresi dan gerakan tari kreatif. Tidak hanya di TikTok, konten yang sama juga dirilis di Instagram (Post dan Stories).

Reshare oleh IG user lain di story masing-masing, menyebabkan peningkatan follower dan engagement di IG, YouTube dan tentunya TikTok milik GoodPonsel.

Eksekusinya bagaimana? Saya perhatikan di antara sekian video GoodPonsel, ada satu karyawati yang selalu tampil. Rekan-rekannya bisa berganti, tapi dia selalu hadir. Saya kira, dialah yang berperan sebagai koreografer.

Eza Hazami

Eza saat ini sudah ada di YouTube, Instagram, dan Twitter.

Saya amati, strategi Eza sebenarnya hanya menambah channel baru via TikTok. Gak tahu ya, apakah benar-benar ada user baru di TikTok ini. Kan bisa jadi, mereka sudah punya Twitter/IG/YouTube duluan.

Konsep kontennya juga tidak berbeda. Materi yang sama, masih masuk kok, ketika dirilis di ketiga jenis socmed yang lebih dulu ada. Dengan kata lain, tidak menambah rumit proses produksi.

Tantangan TikTok

TikTok ini menambah pusing tim yang berkutat dengan manajemen produk/brand. Kerepotan mengelola social media yang sudah ada, ditambah lagi dengan platform yang baru ini.

Adaptasi terhadap platform yang baru, membutuhkan waktu, sumberdaya, dan energi untuk mempelajari dan menguasainya.

Ada plus-minus ya, antara benar-benar digarap sendiri, atau diserahkan kepada vendor.

Digarap sendiri butuh waktu untuk mencapai kompetensi. Realisasi sukses yang instant, jelas semakin berat. Sebagai tambahan, temuan dari riset/pengalaman masih sangat terbatas.

Bagaimana jika diserahkan kepada vendor? Bedanya adalah studi kasus dan pengalaman mereka akan memudahkan kita untuk mengelola dan membangun followers di platform yang baru ini. Tentunya ada modal yang wajib dikeluarkan atas proses yang lebih ‘instant’ tersebut.

Referensi:

  • https://autotekno.sindonews.com/berita/1523692/207/pengguna-tiktok-di-indonesia-didominasi-generasi-z-dan-y
  • https://katadata.co.id/ariayudhistira/infografik/5e9a495b18002/demam-tiktok-melanda-dunia
  • https://wartakota.tribunnews.com/2020/03/09/update-perwakilan-tiktok-indonesia-umur-di-bawah-14-tahun-dilarang-main-tiktok?page=all
  • https://yooreka.id/levelup/instagram-vs-tiktok/
  • https://id.oberlo.com/blog/tiktok-statistics

Baca juga tulisan lain saya soal STRATEGIC MARKETING ya.