Blog sebagai Media Pembelajaran – Perspektif Ortusis

Blog sebagai media pembelajaran di sekolah.

Pertanyaan tentang blog.

Sebagai orang yang tumbuh besar dari blog (ceilah bahasanya 😂), saya setuju blog dijadikan sebagai media pembelajaran oleh guru di sekolah.

Yang saya dapatkan dari blogging dalam beberapa tahun terakhir:

  • Berpikir sistematis. Artinya mengurutkan ide-ide dalam susunan yang terstruktur.
  • Ekspresi ide. Belajar mengungkapkan isi kepala atau perasaan agar orang lain memahami maksud saya. Hal ini berujung pada percaya diri terhadap gagasan yang berkembang dalam pikiran (dan tulisan) sendiri.
  • Dokumentasi. Namanya dokumentasi, berarti kita mengarsipkan pengalaman atau insight yang kita lalui atau dapatkan. Kita membuat sejarah kita sendiri. Batas antara sejarah dengan pra-sejarah ‘kan adalah adanya tulisan. Dengan menulis, maka kita membuat sejarah.
  • Searchable. Sebagai sebuah dokumen, keunggulan blog adalah searchable. Baik lewat judul, isi, categories, tag, maupun komponen lain dari artikel blog itu sendiri. Ini yang membedakan dengan konten socmed seperti twitter atau instagram yang kita belum tentu menemukan apa yang dicari lewat hashtag.

Baca Juga: Pertanyaan Umum tentang Blog.

Kembali ke media internet untuk pembelajaran di sekolah.

Sebenarnya kita bisa pakai socmed apapun, ‘kan? YouTube yang unggul audio-video. Instagram yang fokusnya ke visual. Blog juga bisa.

Nah, menurut saya, dari 4 bullet points yang saya sebut sebagai manfaat ngeblog di atas, socmed baru bisa mengkaver 3 poin pertama.

BACA JUGA:  Jangan Mencari Bahagia

Di sinilah kenapa guru dan sekolah wajib menggunakan blog. Karena kapasitas blog dalam menyediakan hasil pencarian.

Socmed yang lain bukannya tidak bisa digunakan untuk mengakses memori-memori lama. Ada caranya, tetapi bukan lewat mesin pencari. Yaitu si content creator itu sendiri yang mesti meng-archive lalu membagikan archive tersebut ketika ada yang menanyakan. Bukan si penanya yang mencari, mengakses, dan mendapatkannya secara mandiri.

Kalau di Instagram, hal ini bisa dilakukan lewat fitur highlight. Post biasa juga bisa, tetapi bayangkan scrolling down-nya ketika post-nya sudah ribuan.

Di Twitter juga demikian. Konten disistematiskan via thread yang kemudian di-archive-kan. Kalau ada yang tanya, archive thread tersebut yang kita sajikan sebagai reply dari pertanyaan.

User Intent

Bicara searchable, berarti berusaha menyelami pikiran para user. Kira-kira user akan mencari dengan keyword apa ya?

Baik terpisah ataupun di dalam konten artikel, siswa sebagai penulis blog, akan berupaya untuk mengimplementasikan keyword tersebut. Sehingga dapat memenuhi user intent, yaitu maksud user mencari informasi perihal sesuatu keyword. Apakah sekedar mencari definisi, cara melakukan sesuatu (how to), atau lainnya.

Berusaha memahami user intent ini adalah pembentukan pola pikir yang memang seharusnya menjadi materi dalam pendidikan ‘kan. Jadi dengan mendudukkan mindset yang tepat oleh guru dan dengan dukungan para ortusis, maka proses pembelajara melalui teknologi sebagai medianya, dapat berlangsung secara maksimal.

BACA JUGA:  Dunia Terasa Berbeda Setiap 30 Tahun Sekali

Mungkin di antara kamu pembaca artikel ini ada yang berprofesi sebagai guru, atau berperan sebagai ortusis, atau mungkin adalah siswa itu sendiri, yang punya opini soal ini? Boleh juga dibagikan di kolom komentar di bawah.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.