Betapa tidak pentingnya nge-blog itu ya, gaez

merefleksikan pertentangan blogging vs kirim artikel ke media

Target rilis satu post setiap pekan kadang jadi beban juga ya. Karena sudah dijadikan target, terasa penting dan mendesak untuk konsisten dilakukan.

Namun, berbagai dinamika dalam kehidupan yang multidimensi ini, yang menghendaki segala sesuatu dilakukan serba cepat, beberapa hal (selain blogging) terasa lebih mendesak dan (tentu saja) lebih menuntut.

Padahal nge-post yang bermanfaat dengan kemasan yang menarik ya butuh waktu dan persiapan, tho? Gak bisa hanya buka laptop, ketak-ketik sebentar lalu langsung jadi post yang berkualitas. Satu pekan kadang-kadang gak cukup.

Beberapa pekan terakhir saya memang lagi bertanya-tanya (wondering) mengenai hal ini.

Premisnya adalah blogging memang tidak pernah akan mati, namun bagaimana kita -dengan segala keterbatasan sumberdaya- bisa menempatkan blog -sebagai sebuah personal media- yang tepat sasaran (efektif) tapi juga dengan energi minimal (efisien).

Curiosity saya ini didorong dari situasi dan kondisi dalam pelatihan yang sedang saya ikuti. Yakni training menulis esai, yang menariknya, sebagian kecil dari para peserta, ternyata secara signifikan mempengaruhi anggota kelas keseluruhan untuk mengirimkan naskah esai sesering mungkin ke media massa. Baik yang lawas semisal Kompas, maupun media kekinian seperti detik, tirto, mojok, rahma.id, qureta, dan lain sebagainya.

Oh, oke. Jangan emosi dulu. Mungkin beberapa di antara Anda masih gak setuju kalau Detik saya klasifikasikan sebagai media kekinian. Hehehe.

BACA JUGA:  Effective Proofreading

Selain gengsi ketika esainya dimuat di media-media tersebut, mereka juga mempertimbangkan “uang jajan” yang mungkin diperoleh. Makin menggiurkan angkanya, seleksi dari redaktur juga semakin berat. Dengan kata lain, ujiannya juga semakin berat untuk menembus media tersebut.

Perkara “uang jajan” ini memang gampang susah-susah. Dibilang uangnya gak seberapa ya benar juga. Toh, bagi banyak orang menulis itu gratis, kok. Idenya gratis. Aktifitasnya juga bukan menguras energi yang banyak. Alias nyaris tanpa modal.

Namun, kalau mau lebih serius dan tampil, menulis itu kudu berbayar. Nge-blog aja, ya. Misalnya dengan blog yang TLD (Top Level Domain). Berlangganan domain dan hosting yang dibayar setiap tahun yang nilainya bisa ratusan ribu.

Mau jago menulis secara otodidak ya jelas bisa. Tapi kalau mau lebih cepat, bisa diungkit lewat pelatihan. Alias modal lagi untuk membangun kompetensi diri.

Modal yang paling fundamental tentu membaca ya. Which is, buku harus masuk ke dalam anggaran pengeluaran rutin. Hukum membeli buku turun dari “wajib” menjadi “sunnah” kalau kita bisa meluangkan waktu dan tempat untuk pergi ke perpustakaan.

Yang mau saya bilang, pada akhirnya menulis adalah hobi yang pada akhirnya menyedot duit juga. Meskipun gak bisa disandingkan dengan hobi lari, atau hobi sepeda ya.

Hobi lari kan ikut event race-nya aja hampir menyamai biaya hosting+domain dalam setahun. Belum lagi harga sepatu, baju dry fit, aksesori smartwatch, dan lain sebagainya.

BACA JUGA:  Majalah, Riwayatmu Kini

Sepeda ya sami mawon. Helm, sarung jok, botol minum + holder, yang ditotal-total ya lumayan juga harganya. Tapi itu gak seberapa juga dibanding dengan harga sepeda yang pada kualitas tertentu lebih tahan tabrakan daripada mobil kaleng-kaleng.

Balik sedikit ke soal menulis esai untuk media massa. Dari kursus daring tersebut, saya seperti tertampar-tampar bahwa menulis esai untuk media itu “a whole different thing” daripada blogging. Selama bergahul-ria dengan sahabat-sahabat blogger, masih banyak di antara kami yang kelewat PD. Mengaku blogger lha, bisa menulis – padahal masih banyak copas, secara berlebihan menganggap ini profesi, dst.

Maksud saya, kualitas dan pembacanya beda banget gitu, lho. Ada relevansi ide (timeless atau recency sama-sama bisa jadi faktor pertimbangan), cara mengungkapkan dalam wujud tulisan, dan lain sebagainya. Di sisi pembaca, kelas dan kuantitasnya sudah jelas lebih dulu ada daripada visitor blog yang angin-anginan. Pendek kata, menulis untuk khalayak ramai yang notabene bukan friend, fans, follower kita sangat tidak mudah.

Rekan-rekan blogger, kecuali saya, tampaknya hidup berkecukupan dari adsense, giveaway, dan kompetisi blog. Da saya mah ga paham monetisasi begituan… kumaha atuh?? Saya ngertinya ya proyek tulisan. Jadi kalau sukses post tulisan di blog, mengindikasikan kalau saya lagi sepi gawe…. hahaha… Padahal setahun sekali kita kedatangan tagihan domain+hosting yang wajib dibayar.

BACA JUGA:  Cara Mendapatkan Buku yang Bagus

Jadi yang mau saya katakan itu adalah, betapa ada variasi yang demikian lebar di antara para blogger sekalian. Ada yang blognya demikian bagus hingga bisa menghidupi tidak hanya domain+hosting, tetapi juga sang empunya blog. Ada juga yang masih wanna-be-but-already-started.

Jauh di lubuk hati, kita semua meyakini bahwa nge-blog itu sama dengan nge-journal. Menuangkan refleksi, catatan, atau dokumentasi ke wujud tulisan. Di mana, satu di antaranya bersifat self-healing. Menyembuhkan luka-luka lama. Memaafkan tanpa melupakan kenangan. Menulis untuk diri sendiri.

Tentu saja kita semua sedang berproses, ya.

2 thoughts on “Betapa tidak pentingnya nge-blog itu ya, gaez”

  1. Kalo saya, ngirim ke media itu sih nyambi, sukur-sukur terpilih dan dapet pundi-pundi.
    Kalo ngeblog juga nyambi sih, tapi lebih prioritas, setidaknya harus bisa nulis 1 setiap harinya.
    Jadi blognya tetep hidup. Dan adsense nya tetep jalan #ups :))

  2. Saya sedang dititik ini juga, Mas. Kadang pengen banget bisa ngirim kemana-mana, mau nulis blog lalu keidean buat nulisin ke web lain aja. Emang persiapannya beda, belajarnya juga lebih banyak, dan kudu ati2 banget pemilihan diksinya. Mesi ribet, tapi emang da ada upahnya.

    Tapi, tetep paling enak emang ngeblog. Belum ada kemauan utk monetisasi jg karena keribetan yg muncul. Heuheu

    thanks for sharingnya.

Leave a Reply