Solusi Air Bersih untuk Perumahan

Krisis air bersih ada beberapa sebab, tapi solusi-solusi yang dibahas di tulisan ini bukan atas sebab kurangnya air baku.

Di kota Balikpapan, saya melihat kawan saya menangkap air hujan di lingkungannya (ada toko, rumah, dapur, warehouse, dll) dan mengalirkannya ke dalam satu bak besar. Tentu saja, air tersebut digunakan untuk kebutuhan mereka sendiri.

Beberapa waktu kemudian, kawan saya yang lain menceritakan bahwa perumahan tempatnya tinggal menggunakan sistem WTP untuk para warga di perumahan tersebut. Apa itu WTP? Yaitu ada air baku yang diandalkan kuantitas dan debitnya, namun perlu ditangani lebih lanjut karena air tersebut kotor.

Pada situasi di mana di mana air baku memang ada tapi kurang bersih, proses penjernihannya tidak scalable untuk dilakukan sendiri di masing-masing rumah tangga. Solusi yang scalable untuk perumahan adalah Water Treatment Plant (WTP). Sementara solusi yang masuk akal untuk skala rumah tangga adalah penangkapan air hujan.

Kita bahas dari WTP dulu.

Water Treatment Plant

Di kota-kota Kalimantan, di mana tanah-tanah di pulau tersebut didominasi oleh tiga jenis tanah utama: tanah gambut (histosol) di daerah rawa, tanah podsolik merah kuning (podsol) yang bersifat asam, serta tanah aluvial di dataran rendah, air “minum” seringkali harus melalui special treatment dulu sebelum digunakan.

Penyaringan Awal (Screening)

Memisahkan kotoran berukuran besar seperti sampah dan ranting agar tidak merusak pompa. Di sinilah biasanya filter digunakan. Filter perlu dicuci secara berkala untuk menghilangkan kotoran yang tertinggal. Biasanya tinggal dilewatkan air dari arah yang berlawanan.

Koagulasi dan Flokulasi

Penambahan bahan kimia khusus untuk mengikat kotoran halus dan partikel kecil agar menggumpal. Tawas adalah bahan penjernih air yang ekonomis, efektif, dan sudah digunakan sejak lama untuk menghilangkan kekeruhan pada air.

Beda Koagulan dengan Flokulan

Koagulan menetralkan muatan partikel untuk membentuk gumpalan kecil, sementara flokulan mempercepat penggabungan gumpalan menjadi flok besar.

Pengendapan (Sedimentasi)

Gumpalan kotoran akan dibiarkan mengendap ke dasar tangki, sementara air bersih dialirkan ke proses selanjutnya. Keberadaan koagulan dan flokulan akan mempercepat terjadinya pengendapan. Sehingga tidak perlu lama untuk mengalirkan air bersih ke proses filtrasi.

Kelebihan lumpur (sludge blowdown) perlu dibuang secara berkala. Hal ini memastikan ruang pengendapan tetap optimal dan mencegah lumpur membusuk yang dapat mengganggu kualitas air.

Penyaringan (Filtrasi)

Air disaring menggunakan media seperti pasir silika atau karbon aktif untuk menghilangkan bau, rasa, dan warna. Kotoran yang dibawa oleh air yang melewati celah-celah antar butiran pasir silika akan tertahan. Sementara karbon aktif bekerja melalui proses adsorpsi, di mana pori-porinya secara kimiawi dan elektrostatik menarik serta mengikat bau, warna, klorin, dan senyawa organik dari air.

Pembasmian Kuman (Disinfeksi)

Penambahan klorin atau penyinaran dengan ultraviolet untuk membunuh bakteri, virus, dan mikroorganisme berbahaya yang tersisa. Kalau pernah mendengar bahan yang dinamakan kaporit, itu fungsinya sebagai disinfektan untuk membunuh bakteri, bukan sebagai pengikat kotoran. Sifat bahan menentukan perannya dalam alur kerja water treatment.

Pengembangan WTP untuk perumahan tentu bukan urusan asal jadi. Ada kok perusahaan-perusahaan yang fokus bisnisnya adalah mendesain dan membangun WTP untuk kawasan hunian. Saya sediakan slot di sini untuk perusahaan WTP yang mau menanam backlink ya.

Selanjutnya kita bahas bagaimana menangkap air hujan untuk rumah tangga.

Pemanfaatan Air Hujan untuk Kebutuhan Rumah Tangga

Air hujan dapat dimanfaatkan sebagai air rumah tangga –misalnya mencuci piring atau pakaian– jika diproses dengan benar.

Penangkapannya Bersih

Pastikan atap dan talang air terbuat dari material yang aman (non-toksik, hindari cat mengandung timbal). Secara rutin, bersihkan atap dan talang air supayabebas dari lumut atau kotoran. https://bpbd.bogorkab.go.id/berita/Seputar-OPD/air-hujan-untuk-air-minum-2

Untuk bisa menangkap air hujan dalam jumlah besar, tentu pemipaan (piping) dari atap dan talang harus didesain sedemikian rupa agar seluruh air berkumpul di satu penampungan air (bak, drum, dll). Tantangan dalam menampung air adalah mencegahnya menjadi tempat berkembang-biaknya nyamuk (jentik-jentik) dengan cara menutupnya, misal dengan papan kayu. Tinggal diatur celah sedemikian rupa supaya tetap dapat diambil airnya.

Sedimentasi

Gunakan penampungan air berukuran tinggi –misalnya drum bertinggi 1 meter– untuk memaksimalkan sedimentasi. Menurut saya, di rumah tangga tidak perlu penambahan koagulan atau flokulan untuk mempercepat terbentuknya sedimen. Namun, drum pun perlu dibersihkan secara rutin agar sedimennya tidak terlalu tinggi yang bisa kembali mengotori air.

Penyaringan (Filtrasi)

Alirkan air ke dalam tangki penampungan melalui penyaring bertingkat. Anda bisa menggunakan teknologi pemisah air hujan atau filter khusus yang menyaring partikel mikro dan mencegah serangga masuk. https://um.ac.id/inovasi-airum-solusi-air-minum-sehat-dan-ramah-lingkungan-dari-hujan/

Disinfeksi

Cara termudah untuk melakukannya di skala rumah tangga adalah dengan pemberian kaporit.

Titik lemah dari penangkapan air hujan di rumah tangga adalah volumenya tidak bisa dikendalikan. Jika sering hujan, maka penampungan akan penuh; sebaliknya jika sedang musim kering (kemarau). Oleh sebab itu, tetap perlu mengandalkan sumber air yang lebih konsisten seperti misalnya PDAM atau air sumur.

Lihat juga: (tag) Ramah Lingkungan di blog ini.

Demikian tulisan ini yang berawal dari pengamatan terhadap situasi coverage dan kualitas air PDAM, berlanjut ke pemanfaatan air hujan untuk rumah tangga, dan terakhir adalah WTP untuk perumahan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.