Beberapa faktor membuat rumah tumbuh semakin dilirik:
- Harga tanah dan material bangunan yang tinggi → rumah expandable menjadi pilihan logis.
- Gaya hidup yang berubah cepat → home office, ruang bela.jar, ruang usaha rumahan.
- Keluarga modern yang dinamis → rumah (tag) harus mampu “bertumbuh” seperti penghuninya.
- Tren arsitektur berkelanjutan → pembangunan bertahap mengurangi pemborosan material.
Konsep rumah tumbuh semakin populer dalam beberapa tahun terakhir, terutama di tengah kebutuhan hunian yang supply-nya lebih sedikit daripada demand-nya. Tidak lagi dipandang sebagai “rumah setengah jadi,” rumah tumbuh justru menjadi bentuk inovasi: sebuah hunian yang dirancang untuk berkembang seiring waktu, mengikuti kemampuan finansial, kebutuhan ruang, dan dinamika keluarga penghuninya.
Menariknya, konsep rumah tumbuh tidak berdiri sendiri. Ia memiliki hubungan yang kuat dengan beberapa pendekatan desain hunian modern, seperti modular (expandable) house dan adaptable house. Semuanya mengusung prinsip serupa: fleksibilitas dan efisien.
Daftar Isi
Modular House
Modular house merujuk pada rumah yang dibangun dari unit-unit modul prefabrikasi, biasanya dibuat di pabrik lalu dirakit di lokasi. Setiap modul bisa berdiri sendiri atau digabungkan, sehingga mempercepat proses konstruksi sekaligus mempermudah ekspansi di kemudian hari.
Makanya disebut juga expandable ya. Jadi penambahan-penambahan ruangnya per modul demi modul juga.
Tidak berkembang di seluruh kota atau negara, supply-nya sendiri hadir di beberapa kota dan negara tertentu seperti China, Jakarta, Bali, Philippines, Batam, dll.
Modular-nya sendiri bisa berupa prefabricated, bisa pula yang berbasis container.
Adaptable House
Menurut Elissa Yunita, di beberapa negara di Eropa, Amerika Serikat, Kanada dan Australia muncul sebuah gagasan yang turut bertujuan untuk mengatasi masalah ini. Gagasan itu biasa disebut dengan istilah Adaptable House.
Kriteria yang terdapat di dalamnya bahkan menjangkau isu yang lebih luas lagi yaitu isu desain bagi penderita keterbatasan fisik (disabilitas).
Pada negara – negara tertentu istilah Adaptable House ini tidak populer namun sebagai gantinya, muncul konteks – konteks sejenis yang dikenal dengan istilah berbeda seperti Universal Design, Life Cycle House dan sebagainya.
Beberapa bentuk adaptasi yang sering dijumpai:
- Penambahan unit ruang untuk usaha rumahan (home business)
- Pengubahan ruang untuk orang tua lanjut usia
- Fleksibilitas fungsi ruang (multi-purpose room)
Sebagai referensi untuk brainstorming, lihat designing adaptable house dari pemerintah New Zealand.
Core dan Incremental
Di atas kita sudah bicara tentang dua tren kekinian: modular house dan adaptable house. Mari kembali ke rumah tumbuh.
Pada prinsipnya, rumah tumbuh adalah core + incremental. Konsep core house mengusulkan pembangunan “inti” rumah terlebih dahulu—area penting yang tidak mudah berubah, seperti:
- Struktur utama (pondasi, tulangan, dll)
- Instalasi listrik, air bersih, air kotor –> sanitasi (kamar mandi), washtank, washtafel, dapur, dan sebagainya.
Intinya rumah sudah kokoh dan layak huni, sehingga penghuni bisa menempati rumah sejak tahap awal pembangunan.
Selanjutnya, bagian rumah lain bisa ditambahkan secara modular (ruang demi ruang) atau secara incremental, sesuai kebutuhan keluarga (anggota keluarga bertambah, perubahan fungsi karena sudah ada lansia) dan ketersediaan budget.
Pendekatan tersebut membantu mengoptimalkan anggaran tanpa mengorbankan kualitas bangunan.
Konsep rumah tumbuh bukan sekadar membangun rumah sedikit demi sedikit. Ini adalah strategi desain yang menggabungkan pondasi inti yang kokoh, fleksibilitas modular, dan pertumbuhan bertahap.
Dengan pendekatan ini, hunian tidak lagi menjadi beban finansial yang besar di awal, tetapi investasi jangka panjang yang dapat berkembang mengikuti kehidupan penghuninya.