3 Jenis EBT untuk Perkuat Bauran Energi Kita

Kita coba mengenali 3 jenis energi baru dan terbarukan yang penting untuk meningkatkan transisi kita ke jenis energi yang lebih hijau.

Kalau di marketing, kita tidak bisa mengharapkan satu (atau bahkan semua) marketing channel menjalankan semua fase dalam funnel, ya ‘kan? Yang ada kita memilah dan memilih mana channel yang mendatangkan traffic, di mana channel yang memberikan konversi, dan seterusnya. Makanya ada konsep yang disebut dengan Kalau di Bauran Pemasaran (Marketing Mix).

Demikian pula dengan manajemen energi (energy management) kita. Dalam konteks sourcing-nya saja, energi ada yang mudah diperoleh, ada yang mahal –karena harus eksplorasi dulu. Dalam hal dampak ke lingkungan, energi ada yang ramah, ada pula yang merusak lingkungan. Dan berbagai perspektif tersebut bisa digunakan dalam memandang suatu jenis energi dan karakteristiknya, sehingga mau-tidak-mau kita harus mengkombinasikan jenis-jenis tersebut ke dalam suatu bauran — yang kita sebut sebagai bauran energi.

Nah, ada Persetujuan Paris (Paris Agreement) di mana kita setengah wajib dalam menurunkan emisi global — yang disebabkan oleh energi yang kurang “bersih”. Dalam pada itu, kita perlu memperbaiki bauran energi kita. Khususnya dalam mereduksi energi yang lebih merusak serta menggantinya dengan yang lebih sustainable.

Target Bauran Energi

Target 76% (69,5 GW) dari total tambahan kapasitas pada periode 2025-2034 berasal dari energi baru terbarukan (EBT) dan storage atau sistem penyimpanan energi. Berikut ini rinciannya

  • Pembangkit EBT sebesar 42,6 GW (61%),
  • Ptorage termasuk Battery Energy Storage System (BESS) dan PLTA Pumped Storage sebesar 10,3 GW (15%), dan
  • Pembangkit fosil sebesar 16,6 GW (sisanya sebesar 24%).

Jenis pembangkit EBT yang akan dikembangkan yaitu surya (17,1 GW), air (11,7 GW), angin (7,2 GW), panas bumi (5,2 GW), nuklir (0,5 GW), sampah (0,4 GW), biomassa (0,4 GW), arus laut (0,04 GW), dan biogas (0,03 GW).

Kita lihat bahwa surya, air, dan angin adalah 3 besar jenis pembangkit EBT yang akan dikembangkan. Mari ulas ketiganya sebagai berikut:

Tenaga Air

Pembangkit listrik yang bekerja dengan tenaga air jelas lebih bersih daripada yang ditenagai oleh batubara. Masalahnya, tenaga air hanya terjadi pada aliran air, terutama pada air terjun. Either air terjunnya sudah terbentuk secara alami, atau harus dibuat mengalami “terjun”, itulah energi potensialnya yang kemudian dikonversi menjadi energi listrik setelah melewati turbin.

Berdasarkan daya listrik yang dihasilkan, pembangkit listrik tenaga air dibedakan menjadi: 

  1. pico hydro yang menghasilkan 5 kW;
  2. micro hydro yang menghasilkan 5-100 kW;
  3. mini hydroyang menghasilkan daya di atas 100 kW, namun tetap di bawah 1 MW; dan
  4. large hydrobendungan/dam dengan daya yang dihasilkan sebesar lebih dari 100 MW.

Tenaga Surya

Komponen utama Pembagkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) adalah panel surya yang digunakan sebagai media konversi tenaga surya menjadi tenaga listrik dan inverter sebagai alat perubah arus dari panel surya yang berupa arus searah (DC-Direct Current) menjadi arus bolak-balik (AC-Alternating Current).

PLTS sendiri terbagi menjadi 3 jenis:

  • Sistem off-grid merupakan PLTS yang mandiri karena tidak terhubung oleh pembangkit listrik lain, sehingga pada sistem ini membutuhkan baterai sebagai alat penyimpan energi. PLTS Atap termasuk kategori off-grid.
  • Sistem on-grid adalah sistem yang paling umum digunakan oleh pelanggan PLN karena pada sistem ini PLTS terhubung dengan pembangkit listrik lain sebagai back-up.
  • Sedangkan sistem hybrid adalah sistem perpaduan antara sistem on-grid dan off-grid.

Tenaga Bayu (Angin)

Sulawesi Selatan memiliki dua Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) utama: PLTB Sidrap (75 MW, terbesar di Indonesia) di Kabupaten Sidenreng Rappang, dan PLTB Tolo I (72 MW) di Kabupaten Jeneponto, keduanya menjadi tulang punggung energi terbarukan dengan total kapasitas sekitar 147 MW untuk memasok listrik bersih ke sistem Sulawesi Selatan dan sekitarnya. PLTB Sidrap adalah yang pertama dan terbesar di Asia Tenggara, sementara PLTB Tolo I merupakan PLTB terbesar kedua.

Referensi:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.