Zoom Out

Jangan hanya fokus zoom-in doank. Iya, siy bikin fokus dan beres. Sesekali, lakukan juga zoom-out guna menggali makna dan kisah tersembunyi.

Teknik yang sering kali saya lakukan sebagai perenung, pemikir, penulis sekaligus pelaku kehidupan.

Zoom Out dalam Penulisan.

Ada zoom out, ada zoom in. Zoom in itu seperti seorang jurnalis membuat berita: ada 5W 1H. Ada kalanya terasa “receh” kalau menulis berita. Ah gitu doank. Titik tekan berita pada 5W1H menjadikan berita sebagai informasi yang cukup tahu saja. Bukan salah berita. Memang di sanalah peran yang kita harapkan: aktual, tajam, terpercaya. Hehehe. Seperti slogan sebuah kantor berita ya.

Berbeda dengan zoom out. Ada peran dan tujuan yang berbeda ketika kita melakukan zoom out pada suatu berita. Kita mencari berita-berita yang sejenis. Bila beruntung, kita akan menemukan suatu fenomena yang memiliki kesamaan pola-pola tertentu. Di sinilah terjadinya suatu ‘Aha!’ moment.

Momentum Aha! adalah modal menulis dengan perspektif yang akan di-zoom-out-kan. Rasanya akan indah sekali karena kita akan bercerita (storytelling) dengan plot yang lebih baik kepada audiens. Selain narasi yang lebih menyentuh, tulisan feature juga menyajikan analisis mendalam. Analisis tidak berarti harus berat ya; bisa juga menghibur atau bahkan memancing tawa.

Coba simak 4 Elemen tulisan feature versi Tempo Institute.

Lebih obyektif dalam memandang hidup

Kalau sedang merasakan masalah, saya cenderung memberi ‘jarak’.

Saya bilang ‘merasakan’, karena masalah ‘kan selalu ada ya. Datang tanpa henti. Soal perasaan, kembali ke kita masing-masing. I choose to filter and select which problem is the real problem.

Kembali ke soal ‘jarak’. Bisa jadi benar-benar berupa jarak secara fisik, bisa jadi juga saya berikan waktu yang cukup untuk memikirkannya. Itulah ‘zoom out‘ versi saya.

BACA JUGA:  Week-End

Zoom out juga bisa berupa tindakan kita untuk curhat. Ekstrimnya, ke orang yang tidak mengenal kita –keluarga, teman kantor, teman main, dan sebagainya. Misalnya curhat berbayar ke psikolog.

Saya gak bilang jangan curhat sama sekali ke keluarga atau teman. Poinnya adalah, curhat bukan sekedar meluapkan perasaan, namun juga merekonstruksi kembali isi pikiran (termasuk melihat memori/kenangan dari sisi yang lain).

Salah satunya adalah curhat dengan mereka-mereka yang bisa memberikan sudut pandang berbeda atas masalah kita. Sehingga kita bisa lebih jernih memandang.

Kalau ada anggota keluarga atau sahabat yang bisa demikian, that’s good for you.


Sebagai kesimpulan dari berbagai dimensi dan perspektif yang sudah disebut di atas, manfaat nge-zoom-out adalah menemukan konteks dan menghubungkannya satu sama lain. Dengan begitu, kita akan ‘meng-angkasa’ dan dapat melihat dari jauh dengan helicopter view yang kita miliki.

Ada pengalaman pribadi soal zoom-out? Boleh banget share di kolom komentar, ya 🙂

Baca juga tulisan JOURNAL saya yang lain, ya.

Leave a Reply