Menjauhi Sikap dan Tindakan Ortu Toksik

Bertahun-tahun menganalisis dalam diam, saya berkesimpulan bahwa saya adalah anak dalam hubungan ortu-anak yang tidak sehat. Menyadari hal tersebut (dan sebagai bagian dari self-relief), saya coba tuangkan dalam tulisan ini.

Tidak semua hubungan keluarga yang tampak baik di permukaan, benar-benar baik, lho. Anak yang sabar dan penurut. Anak yang menjalani kehidupan apa-adanya; mengalir saja ibarat air dari mata air melalui sungai menuju laut. Contoh anak-anak seperti itu, belum tentu hubungannya baik-baik saja dengan orang tuanya. 

Bisa jadi, di balik “yang baik-baik saja” tersebut ada racun yang diam-diam melumpuhkan. Pelan tapi pasti menjalar dan berakibat buruk ke hubungan-hubungan di luar rumah. Lebih dari itu, ternyata menghambat perkembangan emosional si anak. Yang tertanam semasa kecil, mulai tampak di usia remaja, dan fatal akibatnya baru tampak sesudah menjadi dewasa. 

Kita perlu memberi jarak terhadap anggota keluarga yang rentan memberi pengaruh buruk. Tatkala masih anak-anak, kita jelas kesulitan menegaskan batas-batas tersebut. Namun, seiring bertambahnya usia dan kedewasaan, kita semakin memiliki kekuatan untuk, setidaknya, menghindarinya. Sebagai buktinya, saya yang pernah ber-SMA di asrama yang jauh dari orang tua ini, menemukan bahwasanya salah satu alasan kami-kami ini memilih sekolah tersebut adalah, untuk menghindari interaksi yang intens dengan orang tua yang –sebut saja– toksik. . 

“Kengototan” yang mulai tampak di usia remaja tersebut, tiba di persimpangan jalan ketika usia benar-benar tiba di gerbang kedewasaan. Apakah memilih terjebak dengan masa lalu? Alias memilih menyalahkan masa lalu atas apa yang terjadi sekarang. Atau, memilih berkehendak untuk memutus mata rantai toksik dari generasi ke generasi tersebut? 

Saya yakin kita semua orang baik. Apabila ditanya, tentu kita menjawab dengan mantap akan memilih yang kedua. 

Jadi, bagaimana mencegah diri kita menjadi ortu yang toksik? Kita bisa memulai dengan bersikap awas terhadap hubungan antara kita sebagai orang tua (baik ayah maupun ibu) dengan anak. Jelas lebih mudah mengatakannya daripada melakukan. Sebab, orang-orang lain di luar keluarga kecil kita, semisal tetangga, kolega, maupun para guru di sekolah yang melihat dari permukaan, sangat mungkin tidak menemukan “racun” yang dimaksud. 

Sebab, toksik bukan sesuatu yang terlihat kasat mata. Sudah terpendam sejak lama; bahkan mungkin puluhan tahun dari keluarga kecil kita yang dulu. Dalam kondisi kebutuhan fisik (pangan, sandang, papan) telah terpenuhi dan berbagai materi yang kita peroleh, jelas kita menyangkal dan tidak menyadaari bahwa kita telah dilecehkan secara emosional. Tumbuh dalam pengasuhan yang tidak sebagaimana mestinya, kita mungkin tidak mengenali dan menyadarinya. Rasanya akrab dan normal. 

Berikut ini, saya menguraikan pendapat saya tentang hubungan ortu yang bersifat toksik terhadap anak. Refleksi ini penting bagi saya, karena saya sendiri juga seorang ayah. 

Pertama adalah, tidak menghormati (to respect) anak sebagai pribadi. Baik ketika anak masih kecil, maupun sudah dewasa. Tentunya bentuk respek kita kepada anak kecil maupun orang dewasa, berbeda ya. Kepada anak kecil, kita bisa berdiskusi sambil memberikan arah. Seiring menuanya usia mereka, anak mulai membuat target sendiri, ‘kan. Diskusi kita fokuskan pada realistis atau tidaknya target-target tersebut. Tentu saja, seninya adalah bagaimana mengarahhkan diskusi tersebut sesuai dengan usia maupun tingkat pendidikannya.

Kedua, tidak berkompromi dengan anak. Seiring waktu berjalan, anak mulai berkehendak. Mengikuti seluruhnya jelas tidak tepat, tidak dituruti juga berdampak kurang baik. Berkompromi adalah jalan tengahnya. 

Ketiga, tidak menyadari bahwa tiap tindakan akan menjadi contoh yang dilihat oleh anak. Berangkat dari ketidaktahuan anak, semua yang mereka lihat pada dasarnya dianggap boleh. Dalam pikirannya, anak menggumam, “Ortuku melakukan A, berarti A bukan hal buruk, aku pun boleh melakukannya”.

Keempat, tidak bereaksi secara berlebihan atau bertindak terlampau cepat. Menanggapi anak tentu suatu kewajiban ya. Hanya saja, kita perlu melihat dalam horizon yang lebih panjang. Beberapa hal perlu kita pertimbangkan sebelum menanggapi anak: apakah saya akan konsisten? Apakah ini berdampak kecil atau besar? Dan pertimbangan sejenis yang bersifat strategis. 

Kelima, tidak membandingkan anak dengan orang lain. Baik dengan saudara kandungnya, sepupunya, tetangganya, atau teman sekolahnya. Membandingkan anakhanya boleh dilakukan  secara proporsional. Misalnya dengan tujuan memotivasi dia. Sebab setiap anak manusia pasti unik. Penanganannya juga disesuaikan (be customised) dengan karakternya. Keunikan (dan kecerdasan) anak manusia itu berbeda-beda. Howard Gardner saja berhipotesis bahwa ada 8 jenis kecerdasan majemuk. 

Keenam, mengharap anak menjadi dewasa begitu saja dalam berpikir dan bertindak. Orang tua seharusnya menginisiasi kasih sayang, memberi maaf, atau sikap-sikap positif lainnya dalam hubungan ortu-anak. Mengapa kita mengharap dari ayah lebih dulu? Sebab sang ayah adalah individu yang lebih dewasa dan stabil sementara sang putra/putri masih mencari tahu apa yang berhasil dan apa yang tidak ada dalam hubungan tersebut.

Ketujuh, hanya menghendaki kesempurnaan dari diri sang anak. Ortu sepatutnya mengakui kelemahan dan berbagi atas kelemahan tersebut. Bahwasanya manusia menjadi dewasa dengan mengalami naik turunnya kehidupan. Baik dalam pekerjaan, hubungan percintaan, ekonomi, dan lain sebagainya. Membagikan hal-hal tersebut kepada anak akan membuatnya lebih bijaksana dalam mempertimbangkan berbagai alternatif dalam kehidupan. 

Terakhir, hanya memberi dukungan pada anak apabila sesuai dengan ego kita. Selayaknya ortu mendukung berbagai pilihan yang dia ambil. Idealnya, sebelum dia mengambil pilihan-pilihan tersebut, kita sudah mendiskusikan hasil potensial yang mungkin dia raih. Apapun pilihan tersebut, dan bagaimanapun berseberangan dengan kita, hendaknya kita tetap mendukungnya.

Demikian beberapa pergulatan ide dalam pikiran saya. Ekstrak dari bacaan maupun pengalaman.

Stay Away from Toxic People

I used to be a toxic person. But I have been healed from it. Even more, I have takeaways for you.

Toxic people make relationship jadi toxic. Pastinya ada banyak sebab kali ya. Salah satunya adalah “belum selesai sama diri sendiri”. I am still wondering itu istilah yang tepat atau tidak. Singkat kata, yang bersangkutan (karena belum selesai dengan dirinya atau masa lalunya) berpotensi being negative person untuk orang lain. Misalnya, curhat atau mengeluh terus-menerus mengenai masalah yang sama. At first, orang mau berempati dan mendengar. Second time, orang mulai memberi saran solusi. Third time, orang mulai terganggu bila dikeluhi hal yang sama terus-menerus.

Nah, when we are being negative person for others, most likely kita akan merusak hubungan dengan orang tersebut. The relationship become toxic. That’s why se-galau, se-gundah, se-gulana apapun juga, we should control it, we should drive ourself. Mulai dari ekspresi, perkataan yang keluar dari lisan, postingan di socmed, dst. The positivity shall start from ourselves.

Belum Selesai dengan Diri Sendiri

Kembali ke “belum selesai sama diri sendiri”. Yeah, ini term yang luas banget, tapi yang bisa kita kelompokkan ke dalam sini, adalah mereka yang belum menerima masa lalunya atau masih tidak mengenal dirinya sendiri. Terhadap hal-hal yang terjadi dalam hidupnya, cenderung menyalahkan (blaming) bahkan menghendaki supaya orang lain bertanggung jawab (be responsible). Bila perlu orang lain tersebut ikut mengatasi masalahnya (to solve problem).

Kalau kita cuma teman kan mudah saja ya? Cukup tinggalkan teman-teman yang seperti itu. Tapi bagaimana bila si toxic relationship ini terjadi di hubungan internal peers / genk-genk-an? Atau statusnya masih sama-sama pacar? Belum jadi pasangan resmi saja sudah toxic, apa jadinya kalau beneran jadi pasangan seumur hidup?

Let’s explore further. Bagaimana bila si toxic person adalah saudara/keluarga sendiri, bahkan suami/istri sendiri? Tentu jadi repot banget kan. Karena hubungan kita dengannya malah jadi toxic beneran.

Btw, ada juga atasan-atasan di kantor yang tidak capable dalam kepemimpinan dan manajerialnya. Kuncinya sama sih. Manipulatif, menyalahkan kita sebagai bawahan / anggota tim, menghendaki tanggung jawab lebih (padahal dia yang seharusnya paling bertanggung jawab), menuntut sumber daya kita secara berlebih untuk terlibat mengatasi masalah. Yeah, sabar aja ya. Di luar sana memang ada atasan-atasan yang belum waktunya menjadi atasan 😊. Healthy relationship at work shall makes us feel secure, happy, cared (by HR), respected for our capabilities, and free to be ourselves in doing our work.

Bayangkan apabila dia memanipulasi fakta yang ada. Membohongi kita. Mengelabui kita. Menganggap kita bertanggung jawab atas hidupnya (kalau anak mungkin masih bergantung ya, tapi mestinya berbeda dengan orang dewasa). Bahkan lebih buruk: kita yang harus menyelesaikan masalah-masalah yang terjadi atas perbuatannya sendiri.

Indeed, I do reflect so much when I am the one who act as toxic person.

Be Responsible

Later on, saya sebagai pribadi dewasa mulai memberikan batasan pada keluarga dan pasangan. Artinya, ada peran dan aktifitas riil terkait dengan batasan-batasan tersebut. Dari saya, maupun dari mereka. Karena mereka keluarga, saya merasa wajib untuk berbagi dan berkonsultasi dengan keluarga dekat tersebut. Saya meminta dan mendengar pendapat mereka. Barangkali ada pengalaman terkait, atau perspektif berbeda. Namun demikian, bagaimanapun juga, saya sendiri yang akan mengambil keputusan dan merasakan dampak dari keputusan tersebut. At the end, I become more responsible for my life.

Di kemudian hari, saya mendengar Om Manampiring mengulas konsep stoic dalam bukunya. Saya merasa ada kesamaan frekuensi antara bagaimana para filsuf stoa memandang kejadian-kejadian dalam hidup (sebagai mana diulas Om Piring) dengan beberapa peristiwa dalam hidup saya yang sungguh saya tidak punya kekuatan untuk memaksakan perubahan sesuai kehendak saya.

What should we do?

Skenario kedua. Bagaimana jika, sumber toksisitas bukan diri kita, melainkan the other side of the relationship? Yang jelas, semua relationship menghadapi tantangan. Tapi, toxic relationship tidak akan berhasil melalui tantangan-tantangan tersebut. Saya kira, ada dua hal yang bisa kita lakukan, ya:

  • Cegah lack of communication. Selalu ceritakan apa yang kita kehendaki. Di saat yang sama, cobalah untuk memahami apa yang dia inginkan. Cari jalan tengah di antara keduanya. As we already know, relationship itu dua arah: saling memberi dan menerima. Hanya memberi akan membuatmu kehabisan energi dalam menjalani hubungan tersebut.
  • Timbal-balik secara seimbang. Segala jenis hubungan yang menghabiskan energi kita tanpa meninggalkan timbal-balik di kita, hanya akan menyisakan negativity. Untuk mencegahnya, pastikan kita selalu “membalas” perlakuan si dia.

Take away (kayak makanan aja ya 😊) dari saya ada tiga:

1. Stop become a toxic person. Those who do manipulation, lying, blaming others, asking other responsibilities and problem solving.

2. Be more responsible for your life. You plan, design, take decision but you are the only person who get those output, outcome, and impact.

3. Tidak semua peristiwa dalam hidup bisa kita atur. Manusia berencana, tuhan menentukan. Dalam agama saya, percaya kepada takdir juga salah satu rukun keimanan. So, apapun takdir tersebut, bila sudah kejadian (pasca kita berikhtiar keras), maka kita hanya perlu menerimanya dengan ikhlas dan lapang dada. Yang terakhir ini, lebih mudah diucapkan daripada dilakukan.

Sementara itu dulu ulasan dari saya. Apakah teman-teman pernah mengalami toxic relationship? Boleh banget kalau sharing pengalamannya di kolom komentar di bawah.