Tulis Judul atau Konten Duluan?

Dalam membuat tulisan, ada kalanya kita bingung mulai dari judul atau isi. Tulisan kali ini akan membahas bagaimana memaksimalkan kelebihan yang satu, guna menekan kelamahan yang lain.

Konten duluan.

Konten duluan sampai pada titik di mana, tidak tahu lagi harus menambah apa. Seperti kampanye #mulaiajadulu. Kebanyakan dipikir (baca: diriset) ya tidak akan membawa ke mana-mana. Kata Dee Lestari (tidak sama persis ya), fitrah sebuah ide adalah di alam bebas. Di alam bebas, dia akan menemui beragam dukungan, bantahan, kritik, saran, dan sebagainya. Dengan kata lain, hakikat gagasan bukan sekadar bertahan di alam pikiran semata.

Sutradara kenamaan macam Ernest Prakasa, juga menyarankan hal yang senada. Jadi, beliau memisahkan proses menulis dengan proses perbaikan (revisi). Sepanjang masih punya ide cerita, dan belum memasuki fase perbaikan (salah satu alasannya adalah deadline belum mepet), maka menulis lha terus.

Tugas kita sebagai penulis adalah “mematangkan” gagasan tersebut. Ibarat sungai, di sinilah pentingnya hulu dan hilir sebuah tulisan. Hulu, proses di mana kita mengumpulkan premis-premisnya. Berupa aktifitas riset (mengumpulkan bahan, membaca, menganalisis, membuat hipotesis), mengingat dan menyelami peristiwa-peristiwa yang berlalu dalam hidup kita sendiri (maupun orang lain), sampai dengan mengingat pikiran-pikiran kita di masa lampau tentang apa yang ingin kita tuangkan. Jadi, ada tiga macam klasifikasi untuk hulu.

That’s why kita perlu beberapa medium untuk menulis. Karena menulis adalah praktik melepas gagasan ke alam di luar pikiran, maka saya kira kita tetap perlu membedakan mana alam yang benar-benar jauh dan tidak bisa kita kendalikan, dan mana alam yang masih terjangkau serta menjaga rahasia-rahasia kita dengan baik.

Di medium-medium seperti buku yang dicetak penerbit, artikel media massa, kita tidak bisa mengendalikan keliaran pendapat khalayak umum. Dalam bahasa internet seperti sekarang, yaitu kata netizen. Namun kita masih bisa menjaga rahasia sekaligus mencatat ide dan ilmu di medium personal. Sebut saja jurnal, buku diary, rencana dan evaluasi aktifitas, dan lainnya. ide-ide yang kita tuangkan di format terakhir, adalah aset yang bisa kita tengok kembali dan aplikasikan di suatu ruang dalam tulisan.

Bagi saya, menulis adalah berpikir. Mengapa demikian? Sebab sebelum menuangkan sebuah kalimat, kita akan berpikir 2-3 kalimat ke depan. Bagaimana kita membahasakan sebuah gagasan berukuran mikro, bergantung pada bagaimana kita melihat kalimat tersebut dalam sebuah paragraf. Lebih jauh, peran sebuah paragraf dalam artikel keseluruhan, fungsi sebuah bab atau bagian terhadap isi buku secara umum.

Nah, kelebihan memulai tulisan dengan judul adalah kita sudah memberikan batasan yang relatif tegas terhadap isi tulisan. Namanya relatif, bisa dilanggar. Baik menjadi lebih luas (atau general), atau menyempit (alias fokus pada bahasan tertentu). Yang jelas, judul adalah acuan dalam perjalanan menulis guna menyadari garis finish (batas selesai). Kalau sudah selesai, boleh lha kita menengok sang judul kembali. Sudah tepat kah, sudah merepresentasikan isi kah, sudah memancing pembaca untuk membaca kah, dan lain sebagainya.

Fungsi Editing dan Peran Editor

Hilir, yaitu pentingnya fungsi editing dan peran editor.

Sebelumnya, saya sebutkan bahwa tulis apapun yang muncul di kepala untuk ditulis. Mumpung masih ada dan belum mampet (stuck). Sebab, masa-masa untuk perbaikan, revisi atau sejenisnya akan datang dengan sendirinya. Itulah yang disebut editing. Editing pertama dari diri sendiri. Alokasikan waktu untuk melakukan proses edit. Misalnya, hanya 5% dari total waktu untuk menulis. Di sinilah kita dapat berperan sebagai pembaca, dan menjaga jarak dengan diri kita sebagai penulis. Keluaran yang diharapkan adalah objektifitas dalam memandang karya tulisan tersebut.

Tentu diri ini sebagai pembaca, dapat kita belah menjadi dua. Baik sebagai pembaca yang berharap kualitas tulisan dari sisi bahasa. Maupun pembaca yang merepresentasikan konsumen tulisan secara umum.

Profesi editor, sebagai lapis kedua (namun utama), juga menjalankan kedua peran tersebut di atas. Alias berperan sebagai pemeriksa (checker) yang menjamin mutu (quality assurance) dalam tata bahasa, serta mewakili pembaca yang punya ekspektasi dan harapan tertentu terhadap isi maupun alur (flow) tulisan.

Tidak hanya keduanya, di beberapa penerbit editor pun berperan di hulu. Yakni memberikan pandangan (visi) dan saran kepada para penulis, tentang selera pasar yang sedang tren (dan yang sedang turun pula).

How to treat writer’s block

Saya merasakan, dua kali menunda menulis dan nge-post tulisan, maka selanjutnya akan lebih malas lagi. That’s why ada blog yang berdebu dan bersarang laba-laba kan? (Lebay banget).

Simpel. Karena sekali tidak nge-post, maka ghiroh untuk menulis juga menghilang. Perasaan excited setelah sudah posting, ikut menghilang. Seakan kita “lupa” rasanya, “lupa” pula jalan untuk kembali ke sana. Kalau mengaku sebagai penulis, sudah sepatutnya tahu cara untuk kembali ke sana dan merasakannya lagi.

Itu dari sisi “feeling” ya. Beda lagi dari sisi “konten”. Ada topik-topik tertentu, yang kita dengan mudah menuangkannya dalam bentuk tulisan. Dalam hal ini, perencanaan dan proses produksinya bisa sekali jalan. Katakanlah, hanya butuh Lead. Itu adalah sebuah kalimat atau paragraf pertama yang menjadi pancingan, dan entah bagaimana menunjukkan (to show) kepada kita akan “cara” untuk mencapai akhir (finish) dari tulisan. Seiring dengan terbiasa menulis, maka cara-cara tersebut akan semakin familiar.

Bagaimana dengan content planning? Ini adalah teknik lain ya untuk tetap produktif. Ada yang merencanakan kontennya di jurnal masing-masing secara offline ya. Ada juga yang tanpa rencana, langsung mengembangkan draft di blog masing-masing. Jangan heran kalau ada blogger yang punya puluhan draft tanpa deadline rilis yang pasti. Kalau saya, first draft-nya saya buat di Trello, sebuah mobile app, lalu saya pindahkan dan kembangkan lebih lanjut di Ms Word. Versi finalnya harus dalam bentuk Ms Word. Sekalian jaga-jaga ya kan, kalau harus migrasi blog (lagi).

Kelebihan dari planning the content adalah kita jadi punya kesempatan untuk melakukan riset lebih mendalam. Mencari, memperbanyak, dan menuangkan lebih lanjut beberapa perspektif terhadap suatu topik. Kita juga bisa menambahkan beberapa detil, angka, atau contoh yang memperkuat argumen atau gagasan kita. Kelemahannya jelas: riset itu tidak pernah mudah dan selalu memakan waktu. Banyak tidaknya waktu yang dihabiskan, tergantung seberapa panjang dan kokoh konten yang kita targetkan. Apakah sekedar artikel, atau bahkan dalam wujud buku.

Ikut komunitas

Yang saya rasakan, memulai untuk menulis lagi terasa lebih berat ketika kita terakhir melakukannya berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan yang lalu.

How to treat this type of writer’s block? Cara lainnya adalah dengan ikut komunitas. Di komunitas 1Minggu1Cerita (1M1C), grouping-nya ada dua. Di WhatsApp Group (WAG) dan di web www.1minggu1cerita.id. Kita akan di-kick secara otomatis dari web kalau tidak “melapor” atau “setor” (dalam bahasa anggota komunitas tersebut) pranala (link) artikel terbaru di blog, selama 6 (enam) minggu berturut-turut. Kalau sudah demikian, tinggal tunggu saya di-remove oleh admin dari WAG. Btw, saya salah satu adminnya. Tapi bukan saya yang nge-kick. Itu terlalu tega bagiku. Huhuhuhu 😀

Where to post my thought?

Untuk tulisan curhat (curahan hati, untuk yang belum tahu) yang biasanya bersifat “internal” saja, saya tidak post ke blog. Melainkan sekedar merangkai kata dan kalimat di Ms Word, lalu disimpan di laptop. Atau, dengan menuangkannya di personal journal saya. Jurnal tersebut tidak sebatas curhatan ya, berbagai rencana dan evaluasi juga saya tuangkan di sana. Dengan melakukan semua ini, saya seakan-akan sedang “berpikir, berbicara, dan berdiskusi” dengan diri saya sendiri. Sesuatu yang selalu dilakukan oleh seorang introvert.

Mengapa demikian? Saya kira tiap manusia punya dua dimensi ya. Dalam dan luar. Internal dan eksternal. Tidak semuanya bisa secara sembarangan ditempatkan. Ada yang bisa, ada yang tidak. Salah satu teknik yang mem-bisa-kan adalah dengan membagi tulisan tersebut ke dalam dua bagian. Pertama, bagian “curhat”-nya. Bagian kedua, tips and trick menangani situasi dan kondisi yang demikian. Sesuatu yang sebenarnya tidak selalu saya lakukan. Tapi bisa dilakukan kalau hatimu butuh wadah untuk menuangkan. Di sisi lain, tidak ingin memalukan diri sendiri. Bahkan, malah fight back dengan memberikan tips and trick mengatasi hal tersebut.

So, each of my thought has its own channel to publish. I hope you, too.

As for myself, saya melihat segala “eksternal” dan “luar” yang saya sebut di atas, sebagai suatu saluran yang seharusnya mem-branding diri kita. Untuk terlihat smart, cool, atau berbagai atribut keren lainnya. Yang mungkin ujung-ujungnya, tanpa bermaksud naif atau munafik, ternyata adalah “jualan”. Baik itu jualan produk, promosi event, atau semacamnya. Di sisi lain, saluran-saluran eksternal ini bisa juga kita optimalkan untuk hal yang sesederhana “berbagi kebaikan”.

Salah satu tantangan dalam ber-blogging ria, menurut saya adalah, bagaimana memisahkan ranah privat dengan ranah publik. Ada lho, blogger yang “dituduh” kelewat mengumbar kehidupan rumah tangganya. Sesuatu topik yang bagi blogger-blogger lain, tidak perlu diceritakan di medium blog. Topik-topik yang sekalipun kamu ingin sekali menuangkannya, tapi kamu tidak perlu merilisnya. Biarlah itu ditulis dan disimpan untuk dirimu sendiri.

Meskipun, harus diakui bahwa, sebagaimana saya katakan di awal, rutin menulis itu nyaris wajib hukumnya (hehehe), namun rutin nge-posting? Mungkin harus dilihat lagi ya. Mana yang bisa diposting di internet dan dibiarkan abadi berada di dalam sana. Dan mana yang didokumentasikan untuk dikonsumsi oleh diri sendiri, lagi, di suatu waktu nanti. Mohon maaf post ini tidak persis sama dengan judulnya. Tapi itu pendapat saya. Barangkali kamu punya pikiran lain? Silakan share di kolom komentar, ya.

Netiquette dan Cyberbullying

Netiquette berarti internet+etiquette. etiket (dari kata etiquette) adalah peraturan/norma yang mengatur apa yang secara sosial dapat diterima. Ini memang tergantung nilai-nilai yang dianut oleh kelompok sosial tersebut. sekarang, di dunia internet kita berbicara dengan manusia ‘kan? maka, apakah kamu akan mengatakan hal yang sama kepada lawan bicara? seharusnya iya. Terutama yang baik-baik.

Maka ikutilah standar perilaku yang sama dengan di dunia nyata. Karena, etika di cyberspace tidak lebih rendah daripada etika di dunia nyata. bukan karena tidak bertemu muka, maka standar menjadi lebih rendah. Bukan karena usia tidak lagi menjadi persoalan penting di awal percakapan, maka etika tidak lagi penting. Tapi etika dunia internet akan sama tingginya dengan etika di dunia nyata.

Netiket di dunia internet relatif sama. Tetapi secara teknis, netiket di berbagai komunitas justru berbeda-beda. Kenali bahasa yang mereka gunakan. pakailah kata-kata yang memang biasa digunakan di komunitas tersebut. Ikuti aturan yang dibuat admin. Siap-siap diberikan sangsi bila anda melanggarnya. Be sensitive secara online.

Jangan sok artis. Hormati follower/friend kamu. Hormati waktu dan bandwidth orang lain. Kamu bukan satu-satunya pemilik dan pengguna dunia maya. kita semua adalah pengguna, dan kita memiliki kesetaraan yang sama. Remember, you are not the center of cyberspace. Tetapi, tetaplah berusaha tampil menarik saat online. ambil keuntungan secukupnya dari anonimitas. Berikan nasihat yang baik. Bersedia untuk diajak berdiskusi. Kamu akan dinilai dari apa yang kamu tulis/bagi. Dan jangan takut untuk berbagi apa yang kamu tahu.

Hormati privasi orang lain. jangan karena kedekatan, tetapi tanpa izin, lalu kamu membaca email pacar kamu. Untuk admin, sekalipun sudah menjadi admin, jangan bersikap sewenang-wenang. maafkan kesalahan orang lain. Jangan arogan dan jangan sok suci. Admin juga manusia, bisa benar bisa salah. Yang penting terus belajar dan bantu mengarahkan komunitas ke arah yang lebih baik.

Sedangkan cyberbullying maksudnya, menggunakan teknologi komunikasi seperti email, handphone, chat rooms, instant messaging,  blog atau personal website fitnah untuk mengirimkan dan memposting, sengaja dan berulang kali, teks atau gambar yang kejam dan merusak (shek, 2004; belsey ,www.cyberbullying.ca)

Bagaimana berjaga-jaga terhadap ancaman cyberbully:

  • Jangan membagi-bagikan informasi/gambar/video yang dapat digunakan orang lain
  • Jaga privasi, kamu tidak bisa mengontrol materi yang sudah berada di internet
  • Introspeksi diri, bagaimana cara kamu berkomunikasi di internet

Jangan memberi kepuasan pada bullies:

  • Tenang, dan jangan membuat bullies lebih senang untuk mem-bully kamu terus-terusan
  • Tidak ada yang sebenarnya melihat reaksi awal kamu. Tetap tenang dan jangan emosional
  • Tidak perlu langsung merespon, tidak perlu buru-buru, pikirkan baik-baik
  • Jangan membalas! Jangan menjadi bully!

Yang perlu dilakukan:

  • Selalu kumpulkan bukti-bukti. Screenshots, save emails, save chatting log
  • Perlu melibatkan orang lain?
  • Katakan STOP!
  • Jangan pedulikan
  • Orang tua?
  • Keluhan pada penyedia layanan internet
  • Hubungi sekolah/universitas
  • Hubungi pengacara/polisi
  • Bantu korban lain dengan speak up!

*) artikel ini adalah versi tulisan dari presentasi kang Enda Nasution di Aula Fasilkom UI pada 3 Mei 2008

cek juga artikel ini.

6 cara konsisten nge-blog

Di bawah ini ada 6 cara supaya sukses konsisten nge-blog. Cara (1), (2) dan (3) udah jadi saran yang banyak banget. Dan itu tetap “koentji” utama supaya bisa konsisten nge-blog. Saya coba tambahkan 3 cara yang lain ya di cara (4), (5), dan (6).

(1) Nge-blog terkait hobi. Karena hobi, maka langsung/tidak langsung akan melakukan pencarian bahan (riset) terkait tema tersebut. Hasil riset merupakan sumber bahan yang kuat dalam nge-blog.

(2) Topik gado-gado. Biasanya berasal dari pengalaman pribadi blogger. Kelebihannya adalah bahan yang luas untuk dijadikan artikel. Tapi kelemahannya adalah jadi kurang konsisten pada suatu topik tertentu.

(3) Tekad yang kuat. Pastinya harus ada niat dan tekad yang kuat untuk terus-menerus menulis dan mem-posting tulisan. Minimal niat semacam “biar gak kelamaan gak update”. Atau “kan udah bikin target satu minggu satu tulisan”, dst.

Nge-blog dalam suatu waktu itu ibarat lari –dalam suatu waktu tertentu–, menurut saya. Harus dimulai, dan harus sampai finish. Dalam bahasa saya, finish itu adalah mencapai jumlah kata tertentu. Contohnya ya 500-an kata tadi.

Kalau sedang ada ide, tapi tidak di depan komputer? Lebih baik ditulis dulu di smartphone kesayangan kamu –cie, yang ditengokin tiap saat selama 24 jam penuh, dari bangun pagi sampai tidur lagi, hehe–. Bisa di aplikasi notes biasa, atau yang siap synchronize kapan saja ketika ketemu internet –semisal Evernote atau Google Keep.

Minimal poin-poinnya dulu. Pengembangan lebih lanjut sebagai draft bisa pas sudah bertemu dengan wordpress.

(4) Kumpulan postingan. Bahas semua postingan kamu sebelumnya dalam sebuah artikel. Contohnya bisa dilihat di postingan saya yang (short) story of my life. Atau di new year resolution marketing. Keduanya coba merangkum beberapa postingan terkait dalam satu judul artikel.

(5) Pengembangan kata kunci. Cari inspirasi dari keyword apa yang pernah dicari oleh pengguna internet, sehingga dia kemudian menemukan blog anda. Nah tentu ada keyword yang ternyata sering muncul di suatu pekan, atau bulan tertentu.

Saya lihat postingan tentang nikah atau S2 ini banyak yang menyimak. Jadi saya dapat ide postingan lain yang masih terkait dengan postingan tersebut. Hasilnya adalah Kuliah S2 sambil Kerja dan Cara Menabung untuk S2.

Gunakan keyword tersebut untuk mengembangkan tulisan serta mengejar panjang tulisan. IMHO (Ini Mah Hanya Opini), artikel blog bisa kuat menyampaikan gagasannya jika disampaikan dalam minimal 500-an kata.

Di sisi lain, suatu tulisan bisa jadi pilar sebuah blog, konon ketika panjang tulisannya mencapai minimal 1000-an kata. Ini masih tantangan bagi saya dalam memenuhi target volume kata tersebut.

Untuk mengejar target, seringkali saya kaitkan dengan hal-hal lain. Seperti misal dalam postingan Sedikit tentang Sales dan Gap Komunikasi Pemasaran.

(6) Content planning. Nge-blog yang konsisten itu berarti nge-blog yang serius. Mungkin kontennya tidak serius, banyak fun, lucu dan penuh canda. Tapi ternyata blogger tersebut melakukan perencanaan konten.

Inilah nge-blog yang serius. Jadi di samping serius menulis, punya rencana penulisan juga. Setelah membuat rencana penulisan, yang harus dicicil berikutnya adalah draft tulisan. Kebetulan wordpress sangat membantu sekali dengan tombol “save draft”.

Jadi begitu ada ide, bisa dituliskan dulu sebagian. Minimal sebagai draft, syukur bila memang ada waktu dan bisa langsung klik tombol “publish”.

Nge-blog yang pakai content planning itu udah mirip organisasi media beneran. Mereka pasti tetap berusaha aktual ya. Ada peristiwa apa yang baru terjadi, dan berusaha diliput lengkap, detil, berikut analisisnya.

Akan tetapi, supaya bisa survive perusahaan media harus punya content plan. Semua media massa (majalah, koran, TV, dll) punya rencana materi dalam beberapa edisi ke depan. Minimal ada content plan (dan draft) sebagai pegangan dulu. Rilis materi bisa mengikuti wants (keinginan) audience saat itu.

Sudah ada 6 cara supaya bisa konsisten nge-blog. Mungkin dari kamu ada tambahan yang lain? Silakan komentar di bawah ya 🙂